Tampilkan postingan dengan label relationship. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label relationship. Tampilkan semua postingan

Yang Tidak Dibicarakan Orang dari Pernikahan

In Buddhism, the lotus symbolizes the journey of enlightenment, with its petals unfolding to represent the path from attachment and desire to clarity and purity.

Seperti halnya jadi orang tua, menjadi pasangan juga aku rasa nggak ada ilmu pastinya. Psikologi pernikahan ada sih, tapi seingetku itu nggak lebih dari nasihat-nasihat normatif mengenai peran suami, peran istri --yang sangat dipengaruhi konstruksi sosial. Beberapa kadang tidak terlalu relevan dan tidak kusetujui, kurasa. Sisanya hanya bualan soal cinta, kedekatan, dan komitmen.

Konon katanya, semua pasangan pernah sangat mencintai, tapi waktu pasti pelan-pelan mengikis rasa cinta itu. Sisanya tinggal kedekatan, dan jika menikah, maka pasangan akan punya komitmen --dan ini yang membedakan mereka yang memutuskan menikah dan tidak menikah.

Aduh, komitmen. Aneh sekali aku mencerna hal yang satu ini.

Kemarin di obrolanku dengan seorang teman sambil makan siang, kubilang, karena sudah memutuskan menikah, aku mau merawat pernikahanku, tapi jujur aja aku nggak punya figur yang benar-benar kudambakan kisah pernikahannya dan kumintai advise soal pernikahan. Bahkan orang tuaku sendiri yang sudah menikah lebih dari tiga puluh tahun. Maksudku, meski mereka bertahan selama itu, dan keluarga kami relatif 'baik-baik aja', tapi aku sendiri nggak mau kalau harus berada di pernikahan seperti orang tuaku. Agak sulit kujelaskan, tapi intinya aku nggak mau aja.

Dalam cerita lain, aku mengenal seorang laki-laki, seorang suami, yang isi kepalanya hanya selangkangan. Laki-laki ini kulabeli 100% bajingan, bukan karena dia menelantarkan anak-istrinya, tapi karena kurasa dia memberiku gambaran yang mengerikan soal pernikahan dan komitmen. Sebagai seorang istri juga, aku sulit percaya kalau istrinya, di rumah, tidak tahu bahwa isi kepala suaminya tidak jauh-jauh dari tetek perempuan lain, atau bahkan terang-terangan berfantasi ingin main bertiga dengan dua kolega perempuannya di kantor.

Kayaknya hampir nggak mungkin sih, istrinya nggak tahu. Aku rasa istrinya tahu. Tapi laki-laki itu adalah suami yang 'berkomitmen' pada pernikahannya. Ia bekerja untuk keluarganya, sayang ke anak-anaknya, bahkan ke istrinya --wow foto profilnya mereka berdua sedang dinner, romantis sekali.

Jadi meskipun tahu otak suaminya ada di kontol, tapi aku rasa istrinya juga sedang berkomitmen pada pernikahan mereka yang mungkin berusia 10 tahunan --seusia anak mereka.

***

Aku kadang-kadang menyalahkan society atas kerancuan pikiranku dan segala skeptisisme soal apapun, termasuk soal pernikahan. Di umurku yang segini dan di usia pernikahanku yang hampir lima tahun ini, aku bahkan belum memutuskan akan punya anak atau enggak, simply karena aku skeptis, bahkan ke diriku sendiri. Kayak.. aku masih bertanya-tanya apakah itu keputusan masuk akal, atau jangan-jangan malah nanti kami semua menyesal, termasuk anakku.

Aku sudah melihat banyak orang di sekitarku, bahkan teman-teman seusiaku yang akhirnya memilih untuk menyudahi pernikahannya. Beberapa di antaranya punya anak, yang kemudian tumbuh tanpa konsep keluarga yang normatif. I don't know what happens to their kids, but they seem to be fine.. Ini kayak sekali lagi ngasih gambaran yang beda banget dari generasi orang terdahulu yang menganggap anak adalah pengunci final dari langgengnya ikatan pernikahan dan bahwa sekali lagi, keberadaan anak nggak menjadi penentu keberadaan pernikahan.

Kalau suatu hari aku punya anak dan dia membaca arsip tulisan ini, percaya deh, kalau kamu sampai bisa baca tulisan ini, kelahiranmu sungguh sebuah hasil pemikiran matang dan cinta yang seluas jagat raya. Kayak kalau kamu sampai ada di dunia yang sedang rusak ini, berarti sebegitunya aku mencintai dan menginginkanmu. Kamu bukan hasil tuntutan society atau karena biar aku bertahan di 'komitmen' pernikahan dengan ayahmu, enggak. 

Kalau kamu sampai ada, artinya aku sebegitunya menginginkanmu.

Aku rasa secara general aku merasa senang dan menikmati 'journey' pernikahanku. Karena bersama suamiku hampir 10 tahun sejak aku mengenalnya, aku merasakan sekali bagaimana kami bertumbuh dan berproses menjadi lebih baik --dalam hal apapun.

Banyak hal yang kami lewati untuk pertama kali dan bahkan setelah hampir sepuluh tahun mengenal satu sama lain, selalu ada yang pertama kali --yang kadang-kadang bikin aku nggak habis pikir ini emang serius ya menikah itu harus kayak gini?

***

Katakanlah aku cukup beruntung dalam hidup ini, aku nggak menampik itu. Tapi, pasti kita juga berpikir, jika keberuntungan datang setepat waktu itu, hal paling nggak masuk akal apa yang bisa terjadi dalam hidup untuk mengimbanginya?

Apakah sepadan, misalnya, keberuntungan dalam bentuk materi berlimpah dibarengi dengan suami yang otaknya di selangkangan? Kalau di kasus orang itu, kayaknya aku nggak sanggup sih. Kayak membayangkannya aja aku nggak sanggup, segimana frustasinya jadi istri yang suaminya sangat terobsesi dengan tetek teman sekantornya.

Tapi ya, bisa juga aku berpikir begini karena aku lahir dan besar dengan nggak punya apa-apa yang harus kupertahankan kecuali harga diri dan diriku sendiri. Jadi kupikir bahwa dalam pernikahan pun aku nggak akan 'mempertahankan' sebegitunya, toh itu cuma pernikahan.

Beda halnya kalau misalnya aku dari keluarga konglomerat yang terhormat, yang padaku melekat segala status, wibawa, dan nama baik, yang hanya akan tetap melekat jika aku bertahan pada nilai-nilai yang dianggap normatif di masyakarat, bahwa perempuan yang baik adalah yang bertahan pada pernikahan, berkorban untuk keluarga, dan menjadi pakaian yang menutup aib suaminya.

Aku dan suamiku kan.. miskin ya, jadi ya, lucu aja ngebayanginnya. WKWK.

Pada akhirnya aku tetap percaya pada teori Sternberg, memang ada tiga fondasi dalam cinta itu; hasrat, kedekatan, dan komitmen. Tapi aku menolak komitmen sebagai hal yang final. Menurutku ketiganya harus tetap ada, harus balance. Pernikahan tanpa komitmen, bukan lagi pernikahan. Pun pernikahan tanpa hasrat dan kedekatan.

Tentu ini cuma berlaku di aku ya. Psikologi kan sangat individual. Dan sekali lagi nggak ada ilmu pasti yang bisa mengajarkannya dengan precise.

Tentang Menikah dan Hal-hal Setelahnya

Ketika gue menulis post ini ada sebuah perubahan besar yang menyeluruh dalam diri gue karena gue sekarang udah menikah. Selama bulan-bulan pertama menikah, tidak seperti kebanyakan pasangan yang menikmati bulan-bulan madu, bagi kami ini adalah bulan-bulan dengan cicilan yang tidak berkesudahan. 

Sederet PR sudah menghantui kami [atau minimal menghantui gue sih] tentang bagaimana relasi ini akan dipertahankan ke depannya --dengan beban finansial yang ternyata masyaallah banyaknya. Hehe. Tapi tentu saja kami masih berpikir positif ini semua akan baik-baik aja selama gue dan suami masih sehat dan mampu bekerja keras seperti sekarang.

Bagaimanapun kami juga harus banyak bersyukur karena di tengah pandemi ini kami justru berkesempatan mengumpulkan aset berikut dengan keberuntungan-keberuntungan yang datang bertubi-tubi. Misalnya saja beberapa waktu sebelum kami menikah, gue malah dikabarin sales yang kemarin bantuin gue beli mobil kalo gue menang grand prize akhir tahun. It was like.. ya Tuhan, baik bener, mau kawin malah dikadoin mobil baru [lagi]. Selain itu, gue dan suami juga dapat kerja baru dengan gaji baru dan segalanya yang baru, yang lebih baik.

Selama masa-masa membangun fondasi rumah tangga, ada beberapa hal yang menjadi pembelajaran, at least buat gue sendiri, yakni tentang berkompromi. Kompromi, kompromi, dan kompromi. Nggak cuma ke pasangan, tapi juga ke semua orang.

Jika ada satu hal yang paling gue takutin dalam pernikahan sejak dulu [dan mungkin sampai sekarang] adalah tentang keluarga besar. Dan gue rasa ketakutan ini valid, karena nggak cuma gue yang worry, tapi juga suami.

Kita semua adalah menantu yang tidak diidamkan oleh keluarga masing-masing.

Aku selalu berkata pada suami bahwa mungkin dia bukan tipe menantu yang diimpikan oleh orang tuaku. Ya iyalah, semua orang ingin berbesan dengan bangsawan yang punya warisan untuk 7 turunan. "Tapi kan kamu nggak," kataku.

Namun, dia juga bilang kalau sebenarnya ibunya mungkin menginginkan tipikal menantu seperti mantan pacar sepupunya --yang secara karakter dan segalanya bertolak-belakang denganku. Pada beberapa detik setelahnya aku cukup mikir. Wow bahkan ibu mertuaku punya kriteria menantu.. like.. seriously?

Mau tidak mau aku mesti jujur mengatakan bahwa sebaiknya orang tua kita paham ada pre-requisite untuk memiliki requirement pada calon menantunya, yakni, mengutip Ayah Ojak, ngaca dulu kaliikk.

Jauh sebelum aku menikah, aku sudah mewanti-wanti Bapak dan Ibu bahwa suami yang gue butuhkan bukan suami yang orang tuanya kaya raya, tapi suami yang pintar, yang selevel. Ya minimal secara edukasi kita setara, secara pekerjaan kita sebanding, sehingga kita memenuhi syarat 'sekufu' yang sering dibilang orang-orang agamis. Terlalu jauh gapnya, either gap ke atas atau ke bawah, gue rasa nggak baik. Sementara mengenai hal-hal yang di luar dari individu itu sendiri, sebaiknya penilaiannya dibuat sekunder atau bahkan tersier karena tidak penting. 

Pertama, gue rasa sebagai orang tua, mereka nggak punya trade-off untuk itu. Kedua, dan yang paling penting, gue nggak pengen berhubungan terlalu dekat dengan keluarga besar. Baik di sisi gue maupun suami. That's why gue memutuskan tinggal jauh dari siapa-siapa. Bukan tidak rukun, hanya menghindari konflik sebisa mungkin.

Sebagai kaum terpelajar, gue rasa kami (gue dan suami) paham bahwa bekal organisasi yang kokoh adalah independensi. Kami mau seindependen mungkin dalam membangun keluarga, termasuk di dalamnya secara finansial, religi, moral, dan sosial. Semua nilai itu harus atas penentuan kami dan tidak dipengaruhi siapa-siapa.

Akhirnya perjalanan ini dimulai juga. Kata orang, semakin tinggi pohon menjulang, semakin kencang angin berhembus. Kami paham itu. Tapi kami juga yakin, akar yang kokoh akan melindungi pohon dari sekencang apapun badai yang ada.

Lagipula, jauh sebelum ini, kami sudah memutuskan untuk mengikuti ke mana angin akan berhembus, meski di Jakarta sering terjadi badai.

Laki-laki dan Perempuan di Awal Usia 20-an


Mulanya adalah rencana bertemu Tania di sebuah kedai kopi di Jalan Sabang, lalu akhirnya kami berpindah ke foodcourt di Sarinah karena satu dan lain hal; anak kecil si pemilik kedai sungguh berisik dan mereka mengganggu keintiman kami berbicara hal-hal rumit dan dalam.

Sembari menyantap menu hotplate KW-an PepperLunch seharga tiga puluh lima ribu, aku memutuskan perhatianku pada keranjang belanja e-commerce yang siap di-check-out.

"Er, kamu pernah bayangin nggak sih, waktu SMA dulu gitu, kalau ternyata pas umur segini, jam segini, kamu justru lagi nyari buku mewarnai dan pensil warna di e-commerce?"

Aku menengoknya sebentar dan dengan enteng menjawab, "Nggak. Dulu kayaknya aku bayangin di umur segini aku udah menikah dan bahagia dengan anak dan pasanganku."

Aku kembali memusatkan perhatian pada e-commerce.

***

Perihal rencana hidup, seingatku, aku benar-benar memutuskan ingin "menjadi apa" adalah sewaktu kelas 3 SMA. Saat itu kami sedang galau menentukan jurusan apa yang ingin diambil di perguruan tinggi. Di tengah ketidakpastian apakah orang bernilai pas-pasan kayak aku bakal lolos jalur undangan atau tidak, ada orang yang selalu bilang, "Allah knows best, Erv. Kalau kita usaha tuh pasti bisa."

Hmm secinta itu ya sepertinya aku sama laki-laki. Sampai-sampai apapun yang dia katakan aku hampir percaya seolah-olah dia wakil Tuhan yang ditugaskan menyampaikan wahyu untuk kaum tanpa harapan sepertiku.

Maka ketika akhirnya aku benar-benar mendapatkan pilihan pertamaku di jalur undangan masuk perguruan tinggi, nggak ada sedikit pun ragu untuk merasa.. Tuhan, bener ini kayaknya jodohku.

Namun, sepertinya laki-laki memang cenderung memutuskan untuk menyakiti orang yang sungguh-sungguh mencintainya di awal usia 20-an untuk kemudian (mungkin) menyesal. Sementara, perempuan memilih untuk bermuara.
Inilah kenapa aku tidak setuju dengan ide menyukai laki-laki seumuran. Di usia awal 20-an, laki-laki dan perempuan cenderung memiliki pemikiran yang benar-benar berbeda. Aku memvalidasi hal ini dari beberapa orang di sekitarku, termasuk pada Angga.

Di awal usia 20-annya, Angga juga memutuskan untuk cenderung menyakiti orang yang mencintainya dengan memilih pacaran beda agama. Seolah dengan keputusan itu, ia memberi harapan setinggi langit, keyakinan sekuat baja bahwa "sebegininya lho aku mencintaimu" lalu berakhir begitu saja ketika si perempuan memutuskan ingin bermuara.

Begitu juga dengan Tania. Kurasa Tania sebagai perempuan di awal usia 20-an juga mengalami kejadian mengerikan disakiti oleh laki-laki yang berusia di awal 20-an, yang seperti kataku tadi: memiliki kecenderungan untuk menyakiti orang yang benar-benar mencintainya, lalu (mungkin) menyesal.

Kubilang mungkin, karena aku baru mendapat pengakuan bahwa laki-laki itu menyesal dari mulut Angga. Bukan menyesal karena putus cinta, tetapi menyesal dengan keputusan-keputusan yang dibuatnya; termasuk memacari perempuan berbeda agama. "Padahal kita juga tahu ya, yang namanya pacaran beda agama itu perbuatan menyakiti diri-sendiri aja sih," katanya.

Tapi Angga tidak mengatakan itu pada perempuan yang disakitinya, meski ia mengatakannya padaku. Pun laki-laki yang pernah menyakitiku dulu. Ia juga tidak mengatakan apa-apa, meski aku berharap kepada pasangannya sekarang ia menceritakan hal yang sama seperti Angga bercerita padaku.

Menuju Seperempat Abad


Meski tidak sepenuhnya senang bahwa ternyata saya masih semuda ini, nyatanya saya cukup merasa senang, oh bukan senang, lebih tepatnya merasa cukup rileks. Oh iya, saya masih umur segini, rasa-rasanya perjalanan masih sangat jauh meski siapapun di antara kita tidak ada yang tahu umurnya sampai berapa lama.

Mari menyemogakan semesta masih bersahabat untuk kita hidup lama-lama di bumi tanpa terlalu banyak perasaan susah dan menderita.

Bagi saya yang tahun ini 24 tahun, ya, beberapa bulan lalu lebih tepatnya, ada beberapa hal yang kemudian saya pikirkan lagi sebagai bagian dari perjalanan-perjalanan saya. Pertama adalah keharusan untuk berpikir ulang bahwa selama ini saya terlalu buru-buru. Kedua adalah tentang menikmati apapun proses yang saya alami di waktu-waktu ini. Ketiga adalah tentang keyakinan bahwa Tuhan Maha Baik dan Ia memberikan saya orang-orang terpilih untuk melewati tahun-tahun saya ke depan dan seterusnya.

Mari kita menghela napas dalam-dalam.. dan lepaskan dengan perlahan.

Beberapa hari ini saya sedang disibukkan dengan kegiatan baru, yakni meditasi selepas kerja. Biasanya di kamar kost saya yang atmosfernya asik sekali untuk tidur, saya cuma berbaring. Saya menemukan sebuah aplikasi yang memandu saya melakukan meditasi selain ingatan pada percakapan-percakapan saya dengan teman-teman.

"Kamu kalo salatnya khusyu' juga rasanya sama seperti meditasi," katanya suatu waktu. Aku mengamini, tapi sungguh setan apa yang bercokol di diri saya, bahkan ketika salat pun saya terpikirkan hal-hal buruk.

***

Pada waktu-waktu belakangan ini, saya seringkali dilanda cemas. Saya cemas pada diri saya, pada orang-orang di sekitar saya, pada orang-orang yang mungkin akan hadir di hidup saya, pada setiap kemungkinan dan bayangan-bayangan di kepala saya. Semua hal hadir bergantian dan rasanya semenyeramkan itu.

Seperti laiknya orang depresi, malam hari terasa lama dan panjang sekali. Saya mencoba mencari pertolongan tapi saya pun tidak tahu bagian apa dalam diri saya yang mesti ditolong. Rasanya hanya semuanya kosong, lalu saya kerap berpikir, bagaimana seandainya saya tidak di sini, bagaimana seandainya hal-hal traumatis bertahun lalu dan di tahun-tahun kemarin tidak pernah terjadi di hidup saya? Akankah semua hal baik-baik saja? Apakah saya akan di sini? Apakah saya akan bertemu orang-orang ini?

Saya tidak tahu.

Seseorang bilang pada saya bahwa dalam hidupnya, jika ada satu hal yang ingin sekali diubah dalam hidupnya adalah bagian yang cukup mengacau dalam dirinya, yang bercokol sekian lama sejak ia hadir di dunia hingga saat ini.

Tapi, bagaimana mungkin? Bukankah jika tanpa hal-hal buruk itu, kita tidak bertemu? Apakah hingga sekarang, kamu masih menganggap saya adalah bagian dari mimpi buruk yang masih menghantuimu sampai saat ini? Bagaimana bisa?

***

"Apakah menurutmu kamu setangguh itu?"
"We are."

Lalu ia memberi kecupan manis.

Mengapa saya tidak bisa melihat hidup kita seperti naik wahana ekstrem di Dunia Fantasi; menakutkannya hanya ketika dibayangkan dan disaksikan dari jauh. Ketika kita mulai melangkah dalam antrian, lalu akhirnya terduduk dan diikat sabuk pengaman, kita bisa apa?

Tentu sebagai makhluk beriman saya tidak boleh menyalahkan Tuhan. Paling-paling saya menganggap-Nya suka bercanda.



Dari Mana Datangnya Asmara? — Pertanyaan Kedua


Seperti Sukab, aku potong dini hari ini seukuran kartu pos. Tentu agar kamu melihatnya sendiri tanpa aku harus susah-susah bercerita.




Di Jakarta udara lembab dan sedikit anyir. Tidak ada darah, hanya anyir yang aneh dan menusuk hidung. Dari kejauhan, kulihat geliat orang-orang di balik kaca-kaca jendela apartemen. Sebagian dari mereka bangun untuk bekerja, sebagian lagi bangun dari bekerja. Jakarta memuat banyak hal yang sebelumnya tidak kupahami sebagai realitas. Sebab sebagai anak yang tumbuh dengan sangat normal dan baik-baik saja, aku tidak pernah diajari hal-hal begini.

Di benakku banyak hal asing dari Jakarta yang mengakrabiku baru-baru ini. Banyak hal seperti cerita-cerita tidak tuntas dan banyak episode random perihal ingatan tentang kota yang pernah kusinggahi.

Oh, sejak kemarin aku meringkuk di kamarku yang berantakan. Kutanyai satu-satu; bantal, perabot keramik, selimut tempatku bergulung-gulung, “Dari mana? Dari mana datangnya asmara?”

Tapi seperti semua benda mati, mereka diam.


Bagiku, kamu adalah seorang flâneur.

Berapa kali aku sudah mengatakan itu di depanmu? Aku lupa.

Dulu di abad ke-16, flâneur menunjukkan sebuah kebiasaan orang-orang yang gemar menyusuri jalan. Mereka menikmati udara senja atau pucuk bunga yang mulai merekah di musim panas. Kata ini berkonotasi dengan aktivitas untuk kaum aristokrat yang kebanyakan waktu — nyelo macam orang-orang kaya penuh privilege yang kerap kita nyinyiri di percakapan kita akhir-akhir ini.

Namun, belakangan, kata ini menjadi ambivalen. Ada campuran arti antara cita rasa orang yang melakukan perjalanan untuk memenuhi keingintahuan dan keinginan mempelajari budaya setempat. Hal ini pun kemudian memberikan penafsiran dan makna yang sama sekali berbeda ketika dulu flâneur diartikan sebagai pengelana yang berjalan ke mana saja dan tanpa tujuan. Menyaksikan flâneur seperti melihat gambaran bergerak dari sebuah kehidupan urban.

Perihal ini aku paling suka pandangan Charles Baudelaire. Katanya, bahwa keramaian dalam perjalanan adalah rumah bagi flâneur; seperti ikan dengan airnya. Kegairahan dan pekerjaannya melebur menjadi satu di dalam keramaian.

Seorang flâneur akan terus mencari, dan membangun rumah di dalam aliran dan gerakan perpindahan. Dia merasa telah meninggalkan rumah, tetapi berhasil membangun sebuah rumah di dalam perjalanannya.

Kau adalah seorang flâneur. Dan kau, menolak untuk berumah pada apapun yang kau singgahi hingga hari ini.


Bertahun lalu ketika kau pertama kali menyapaku, bagiku hari itu sangat ganjil. Mengapa Tuhan membuat garis waktu kita bertemu?

Aku perempuan patah hati yang mencari jawaban melalui mimpi. Kamu pengelana yang kehilangan arah dan tidak punya tujuan pun jalan kembali.

Aku tidak ingat apapun selain penolakan, aroma kopi, kepulan asap dari rokok yang kau hisap dengan frustasi atau sesekali tenggakan bir dari dua orang yang sama-sama patah hati.

“Aku tidak mencarimu,” katamu berulang kali.

“Aku juga tidak mau bertemu denganmu.”

Aku kekeuh. Meski di dalam hati aku punya sebuah rahasia kecil yang diam-diam mengantarku pada penyesalan. Sungguh aku memang mencari sesuatu selama ini, dan salahku adalah tidak pernah mempertegas apa yang sesungguhnya aku cari.

Maka ketika akhirnya pencarianku justru bermuara pada dipertemukannya dua orang patah hati ini pada suatu konflik yang chaos, aku cuma menggumam, “Ya Tuhan, aku koreksi, boleh?”


Kau tertawa setiap kali kubilang betapa tidak serasinya kita. Kita adalah dua polar yang saling bertolak belakang namun celakanya, tidak bisa menolak satu sama lain; seperti magnet kutub utara dengan kutub selatan.

Pada hari-hari yang ganjil ketika aku kerap menyesal sekaligus bersyukur pada satu waktu, aku hanya tahu, kita tidak mungkin bertemu untuk sebuah kejanggalan. Pasti ada sesuatu yang mau Ia ceritakan. Pasti ada sesuatu yang mau Ia sentuh dari kisah rumit kita yang bahkan hingga hari ini masih sulit kucerna.

Maka berjalanlah waktu dan episode demi episode akhirnya kita lewati — meski dengan babak-belur.


“Seorang flâneur tidak berumah, kamu tahu, kan?” tanyaku lagi.

“Aku bukan flâneur,” katamu.

“Kalau iya?”

“Kalau iya, aku tidak di sini,” ujarmu lagi, lalu mengecup bibirku. Di lantai sebelas apartemen ini aku kembali mengakrabi aroma tubuh yang dalam dua tahun belakangan ini kucoba untuk lupakan. Barangkali ini keputusan yang berat. Sebab setelah hari ini, aku, kami, tidak akan ke mana-mana lagi.

Laki-laki itu kekeuh tidak mau pergi. Sekali lagi, kedatangannya sangat ganjil sebab ia begitu saja ada dan tiba-tiba.

I’ve been wandering but now I know I’m home
Kata orang, mencintai berarti membersamai untuk apapun yang terjadi di antara mereka. Hidup bersama adalah tentang memiliki tujuan-tujuan serupa. Bertahun-tahun kucari tujuan itu, namun tak juga kutemukan apa. Pertanyaanku masih selalu sama, “Dari mana datangnya asmara?”

Love is talked about frequently, but it’s so hard to define.

Proposal di Tahun 2018

Ini menjadi tahun baru kedua di Jakarta. Yang pertama dua tahun lalu, di Tebet, diiringi ceramah dari masjid di sekitar rumah tentang bahaya meniru orang kafir dengan ikut-ikutan meniup terompet dan sebuah tekad kuat untuk lulus kuliah.

Setahun setelahnya aku sungguhan lulus. Masih mengerjakan revisi, tapi setidaknya aku beneran lulus. Aku di Jogja. Lupa apa yang kukerjakan, tapi seingatku aku memang tidak begitu menikmati tahun baru semenjak perayaan menyambut kedatangan Bakuh ke Jogja berbuntut petasan yang mengenai pelipisku. Sejak saat itu aku tidak pernah merayakan tahun baru dengan semarak. Seperlunya aja.


Tahun ini aku tidak menyangka aku memutuskan tinggal di tempat yang kukutuk selama bertahun-tahun hidupku. Mungkin untuk beberapa tahun ke depan hidupku akan di sini; pekerjaanku, masa depan karierku, tinggal itu yang berharga. Di rumah ada keluarga yang paling tidak setahun sekali kukunjungi ketika lebaran dan sebulan sekali mulai 2019, besar kemungkinan aku akan bolak-balik Jakarta-Jogja.

Aku mungkin akan rindu Jogja seperti tahun-tahun di Semarang. Lalu sekelebat pernyataan Mbak Nina tentang Jogja terngiang di kepalaku. Katanya, "Jogja itu cocoknya buat liburan aja. Buat dikangen-kangenin kayak gini. Kalau udah tinggal di sini ya biasa aja."

Aku hampir membenarkan kata-kata Nina, tapi kemudian aku ingat bahwa empat tahunku yang berharga di Jogja ternyata lebih dari sekadar rutinitas kuliah dan menghabiskan hidup sehari-hari. Jogja ternyata seberharga itu, baik ketika ditinggal maupun ditinggali. Karenanya meski akhirnya aku memutuskan tinggal di Jakarta setelah lulus, aku masih punya keinginan suatu hari nanti kembali saja ke Jogja. Pas udah lelah dan mau hidup lebih selo.

***

Tahun 2018 tidak menyisakan banyak kenangan yang membekas selain karena akhirnya aku wisuda. Aku hampir tidak punya cerita pertemanan yang mengesankan karena seingatku ini adalah waktu di mana aku sungguh merasa tidak punya teman di sekitarku.

Maka hari-hari di 2018 lebih banyak tentang beban pekerjaan yang segimanapun aku mencoba santai dan menikmati, ternyata mengurangi berat badanku cukup drastis. I got my 40's weight after years. Tidak pernah sadar sampai satu per satu orang mulai mengomentari aku terlalu kurus dan melihat potret diriku sendiri satu atau dua tahun lalu.

But I am okay as long as aku nggak jatuh sakit. Bagian paling tidak menyenangkan dari hidup seorang diri adalah ketika sedang sakit. Dan karenanya aku tidak suka sakit. Saking aku parno dengan semua bentuk sakit, aku sering mengalami kejadian berlebihan seperti misalnya periksa ke dokter penyakit dalam karena keracunan makanan.

I spent a lot of money for this, tapi paling tidak, perkara sakit-sakit ini harus kuatasi untuk meyakinkan diri sendiri that I don't need someone else to live in Jakarta. Life is tough. Dan beginilah kupikir sikapku. Paling tidak sampai aku menuliskan catatan ini.

***

Selama 23 tahun hidup, aku merasa aku tidak pernah memikirkan orang lain. Aku tidak peduli apa kata mereka, aku tidak pernah punya rasa kasihan atau empati --ini menghancurkan masa depanku sebagai psikolog pada awalnya, dan aku mungkin terlalu egois karena selalu memusatkan dunia ini cuma atas perspektifku.

Pada mulanya adalah keinginan untuk belajar berkompromi dengan orang lain. Berbulan-bulan. Mungkin bertahun-tahun. Namun, paling tidak sampai aku menulis catatan ini, aku merasa kami masih jauh api dari panggang. Jauh dari kata saling berkompromi.

Some people told me, that's because of too much differences between us. Hal-hal yang bertolak-belakang, saling tidak diterima, dan beberapa hal yang tidak dapat ditoleransi. Tapi, bukankah begitu halnya orang berkompromi? Sebab jika semuanya sudah sama, tidak ada gunanya berkompromi?

Hal lain yang mengganggu adalah karena rasa percaya itu ibarat sebuah cermin kaca. Sekali ia dihancurkan, maka sekuat apapun diperbaiki, tetap akan cacat. Dan aku kehilangan banyak kepercayaanku pada orang yang berkali-kali merusak keyakinanku akan sesuatu. Mungkin pada sebuah prinsip, mungkin pada janji yang dibuatnya sendiri, mungkin juga pada rasa welas asih dan kebaikhatian, pada sabar yang makin lama makin tidak ada artinya.

Lalu pada sebuah titik, aku mempertanyakan, "Apakah alasan terbesar orang pergi karena ia punya alasan untuk pergi, atau cukup karena ia tidak punya alasan untuk tetap di sini?"

Ternyata aku tidak ke mana-mana. Tidak beranjak pergi tapi juga tidak memutuskan untuk pulang.

***

Di antara banyak hal yang kukutuk sepanjang tahun aku hidup di Jakarta, nyatanya aku masih bersyukur memiliki beberapa hal lain yang luar biasa. Ingat tentang daftar cita-cita untuk menjadi manager sebelum usia 25 tahun, menjadi PR di perusahaan, menjadi penulis, dsb?

I got all of those above. Literally. And I should be very very grateful for them.

Aku bahkan tidak tahu apa lagi yang mesti aku sedihkan dalam 23 tahun hidupku yang ternyata luar biasa ini selain pada sebuah kompensasi bahwa ini menjauhkanku dari seseorang yang ideal untuk memiliki relasi personal yang manis.

Tuhan adil meski adil tidak selalu artinya sama. "Kamu cuma kurang bersyukur," kata beberapa orang yang akhirnya selalu kubalas dengan senyum getir kayak karet yang direnggangin susah payah.

***

"Lulus udah. Kerja okelah."
"Karier tertata rapi. Aman."
"Masak bisa, tinggal dijalanin. Kurang apa nih?"
"Nikah!"
"Hahahaha!"

Di tengah gempuran gerakan Indonesia Tanpa Pacaran, semua orang seusiaku berseloroh ihwal pernikahan yang sebenarnya kami semua takuti.

Orang tidak akan pernah bisa yakin untuk menikah selama ia masih berpikir dunia harus memahaminya sebab ia begini, begitu, dan seterusnya. Orang tidak akan pernah bisa yakin untuk menikah selama satu-satunya alasan untuk menikah hanya karena menginginkan "pasangan" untuk dirinya sendiri, sementara ia tidak berpikir bahwa orang yang menjadi pasangannya juga menginginkan "pasangan" untuk dirinya sendiri juga.

Dua orang egois tidak akan menikah. Dan tidak seharusnya pula menikah.

Sebab ketika dua orang menikah, akan ada orang ketiga, keempat, dan seterusnya, yang tidak pernah meminta untuk lahir di dunia yang bodoh ini. Apalagi dilahirkan dari dua orang bodoh yang masih berpikir urusan perutnya masing-masing, yang masih tidak rela berbagi makanannya, uangnya, tempat tidurnya. Apalagi berbagi hidup? Membagi hal yang masih bisa dicari saja susah dan harus melalui perdebatan yang panjang untuk mengukur untung ruginya.

It will not work. Hence, I still have no idea of marriage. We don't have any idea of marriage.

***

Ketika aku berumur 18 tahun, yang kupikirkan tentang hari ini adalah studi master di bidang humaniora atau psikologi gender.. dengan suami yang mas-mas enjiner.

Damn.

Aku nggak ngerti kenapa waktu itu pikiranku sesederhana itu. It was like, hidupku semuanya baik-baik saja sampai aku masuk usia 20an dan banyak hal mau tidak mau berubah dari rencana. Aku tidak jadi studi, aku tidak jadi menikah muda, dan orang yang selalu kupikirkan sebagai jodohku, ternyata bukan.

Aku seperti orang yang memegang peta tapi tersesat di hutan belantara penuh rawa-rawa. But yeah, I still survive. Dan kemudian, sampai usiaku segini, aku baru nyadar ini bagian dari semesta yang berkonspirasi. Tidak ada suatu kejadian yang tidak direncanakan. Kalo tidak olehku, paling tidak oleh-Nya.

Ibaratnya, semua hal yang kupikirkan, kuhitung masak-masak, dan kulakukan dengan hati-hati dan penuh pertimbangan adalah segepok proposal untuk hidup yang aku juga tidak tahu kapan akhirnya. Dan seperti halnya proposal; beberapa ditolak, beberapa diterima tanpa revisi, beberapa diterima setelah direvisi berkali-kali.

Akhirnya aku harus bilang terima kasih atas semua perjalanan panjang dan menyenangkan. Jakarta akan menyenangkan, tergantung dari perspektif mana kita melihatnya. Bagiku akhirnya di Jakarta tidak ada lagi hal yang patut kupertanyakan sebab semuanya sudah cukup. Keluarga yang baik, teman-teman yang menyenangkan, pekerjaan yang menjanjikan dengan keyakinan di atas rata-rata, dan semuanya.

It was great of 2018 and I am so thankful.

Terima kasih. Terima kasih.



Tentang Relasi dan Perempuan yang Gagal Memaknai Hidupnya


Fragmen Pertama

Ketika mendengar selentingan bahwa si Bunga --bukan nama sebenarnya-- memiliki suatu "romantisme" terlarang dengan --sebut saja-- Joko, hari itu aku cuma menganggapnya angin lalu. Meski di depan mataku sendiri, aku pernah menyaksikan "sikap tidak biasa" yang dilakukan oleh dua orang yang sudah sama-sama dewasa. Bagaimanapun, aku perempuan 20an tahun, aku bertahun-tahun kuliah psikologi, dan yang terpenting, aku pernah jatuh cinta dan memiliki suatu relasi intim dan romantis dengan lawan jenis. Aku bisa melihat dengan sangat jelas; ya, mereka memiliki relasi yang tidak biasa. Tapi.. masa sih? Bukannya si Joko sudah beristri dan punya anak?

"Memang gitu sisss!" Si pemilik informasi terlengkap di sana membuka suara. Hari itu kami sedang di jalan untuk makan malam di dekat kampus.
"Kamu serius?" tanyaku. Masih tidak percaya.
"Astaga! Ngapain aku bohong sama kamu tuh buat apa? Faedahnya apa buat aku tuh apa?"

Sepanjang makan malam kemudian, topik obrolan kami hanya berisi pertanyaan-pertanyaan yang bahkan sampai sekarang, lebih dari setahun berlalu semenjak hari itu, masih belum terjawab.

Sejujurnya, sebagai perempuan berumur 23 tahun, aku sampai sekarang bertanya-tanya, sebenarnya, bagaimana sih masa depan yang dibayangkan perempuan berumur 20an seperti kami, belum menikah, berpendidikan tinggi, dan memiliki pekerjaan yang membuat kami bisa bertahan hidup sebagai perempuan terhormat, memilih menyukai pria yang sudah berpasangan?

"Kira-kira apa ya, yang dipikirin orang-orang seperti Bunga itu? Jujur aja aku penasaran, karena logikaku sama sekali nggak masuk," ujarku jujur waktu itu.
"Entah."

***

Fragmen Kedua

Sejujurnya aku bersimpati dengan perempuan-perempuan yang menyukai lelaki milik orang. Kau tahu kenapa? Sebab laki-laki tidak mau disalahkan. Baginya, hal-hal yang seperti Bunga-Joko itu tidak akan terjadi kalau si perempuan tidak memulai duluan. Pada beberapa kasus, kadang lelakinya yang bangsat, namun, bahkan pada lelaki paling baik-baik sekalipun, hal itu bisa terjadi.

"Masa sih ceweknya yang mulai duluan?"
"Iya. Orang cowoknya ngebiarin aja kok. Nggak ngerespons."
"Braaay. Paham nggak sih, kalo ngebiarin aja itu berbeda dengan 'melarang dengan tegas' hm? Sekarang pertanyaanku, apakah si cowok sudah dalam usaha melarang dengan tegas?"

Orang di depanku diam saja. Aku tidak habis pikir bagaimana bisa posisi perempuan selalu serba salah seperti ini.

Dear lelaki, jika sampai kalian membaca tulisan ini, kalian masih tidak paham bagaimana psikologis perempuan seumuran kami. Begini, biar aku jelaskan.

Pertama-tama, kalian sudah bukan remaja. Jadi, itu yang harus kalian pahami. Ketika kalian sudah beranjak dewasa, percayalah relasi-relasi kalian akan semakin menyempit. Maka, sudah tentu kalian memahami dengan betul, bagaimana habit dari masing-masing orang di sekitar kalian.

Ketika kalian dewasa, ada dua jenis lingkaran pertemanan yang kalian punya. Satu jenis teman-teman yang memang sudah terikat waktu saking lamanya kalian berteman. Kedua, adalah teman-teman baru kalian yang kalian temui di tempat kerja. Dan tentu saja kalian tahu ya, relasi kolega itu "semestinya" seperti apa dan relasi pertemanan kalian yang sudah kelewat lama itu "normalnya" seperti apa.

Maka, ketika ada hal-hal yang tidak biasa, tolong jangan naif. Sudah tentu individu tersebut menaruh ekspektasi yang berbeda.

Bicara perihal ekspektasi inilah yang membahayakan. Dengar perdebatanku dengan orang barusan? Dibiarkan.

Sebagian laki-laki cukup baik dengan tidak menggubris hal-hal seperti ini, ketika mereka memiliki pasangan. Namun, demikian, jika tidak ditegaskan, itu artinya, kesempatan masih terbuka.

Ingat loh, ada perbedaan yang sangat besar antara "membiarkan tanpa menggubris" dengan "melarang dengan tegas" yang kemudian ditangkap oleh lawan jenis.

Dalam beberapa perbincanganku dengan teman-temanku, kami sepakat untuk menganggap manusia-manusia seperti ini sama sampahnya.

Bagi Lamia, misalnya, perempuan yang menyukai lelaki milik orang, atau laki-laki yang membiarkan perempuan seperti itu berseliweran di sekitarnya, dua-duanya sama-sama tidak tahu diri dan tidak punya harga diri. Si laki-laki tidak paham komitmen, dan si perempuan gagal memaknai kehidupannya. Menurut kami tentu saja hal yang sama terjadi juga pada laki-laki yang menyukai pasangan orang. Keduanya sama-sama tidak punya harga diri.

"Begitulah kalau tutup botol plastik dikasih nyawa."

Aku tertawa mendengar komentar Lamia, tapi aku setuju. Permasalahannya memang hanya orang-orang seperti kami tidak paham jalan pikiran mereka. Pun aku tidak pernah mengerti motivasi di baliknya. Mungkin tidak seperti mereka, kami masih mampu memaknai kehidupan kami dengan baik.

***

Fragmen Ketiga

Dalam perbincangan menuju ke bandara. Sesaat sebelum kembali ke Jakarta.

"Dalam relasi itu, ada laki-laki dan perempuan. Jika keduanya sudah sepakat untuk memiliki sebuah komitmen, maka keduanya wajib menjaga diri masing-masing, dan juga pasangannya. Nanti kalau kamu sudah dewasa, kamu akan tahu bagaimana caranya mempertahankan apa yang kamu miliki sebab itu hakmu. Percaya deh, sekeren-kerennya kamu menjadi perempuan, menjadi janda itu tetap bukan pilihan. Jadi menikah itu memang bukan sesuatu yang sederhana. Jangan sampai salah orang. Amit-amit."

Hari itu di ufuk timur Bandara Ahmad Yani Semarang yang baru, matahari mulai malu-malu muncul. Lalu-lalang orang mulai memadati bandara sepertiku menunggu pesawat pagi.

Sepanjang perjalanan dari Semarang ke Cengkareng, sampai di Menteng dan kembali ke kamar menyalakan AC dan melanjutkan tidur yang tertunda, aku berpikir keras. Benar juga ya. Menikah memang tidak sesederhana itu. Tetapi menjadi perempuan yang belum menikah juga ternyata tidak semudah itu.

Aku belum menikah. Di pikiranku saat ini, tidak ada sedikit pun terlintas bayangan bahwa aku menyukai lelaki milik orang. Bahkan pada beberapa teman lelakiku, jika pasangannya merasa kurang nyaman dengan pertemanan kami, aku mengalah untuk kebaikan kami semua. Aku bersumpah pada diriku sendiri, sekeren apapun orang itu, jika dia sudah jadi milik orang, maka tidak sedikit pun aku berhak atasnya. Tidak perlu jauh-jauh untuk mencari alasan mengapa harus begitu. Cukup pikirkan, bagaimana jika hal tersebut terjadi di kamu? Milikmu diambil orang, atau diganggu orang?

Alasan lain adalah kupikir sebagai perempuan, aku berhak memiliki kehidupan yang lebih baik dengan tanpa mengganggu atau menyakiti orang lain. Hal-hal yang kemudian bagi perempuan sepertiku, atau bahkan Lamia, diterjemahkan sebagai "pemaknaan atas hidup" kami yang harus diperjuangkan.

Perempuan yang menyukai lelaki milik orang adalah perempuan yang gagal memaknai hidupnya. Dan begitupun laki-laki yang menyukai perempuan milik orang lain. Mungkin akan lebih adil jika kubilang, orang yang menyukai milik orang lain, adalah mereka yang gagal memaknai hidupnya. Sebab mereka terlalu tidak berharga untuk sekadar menjaga harga diri dan kehormatannya, untuk, paling tidak, jangan mengganggu ketenangan dan kebahagiaan orang lain.

Ada Satu Hari


Ada satu hari di Bukit Ciumbuleuit. Waktu itu anginnya sejuk meski matahari terik membakar kulit. Kau dan aku duduk berdua, di bawah pohon rindang yang sesekali kita keluhkan daun-daun gugurnya. Tak jauh di sana, hamparan hijau sejuk dipandang mata. Kan, kubilang juga apa. Bandung jauh lebih menyenangkan daripada Jakarta.

Kau dan aku duduk berdua. Kita diam saja dan tidak tahu mau apa. Tapi kita duduk saja, berdua. Meresapi setiap sajak yang pernah ditulis Sapardi dalam puisi-puisinya.

Kita berdua saja, duduk.
Aku memesan ilalang panjang dan bunga rumput.
Kau entah memesan apa.
Tapi kita berdua saja, duduk.
Memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga. Sampai suatu hari kita lupa untuk apa. "Tapi yang fana adalah waktu, bukan?" tanyamu. Kita abadi.


Tiga Cerita Laki-Laki yang Memilih Perempuannya


"Aku pernah diputusin," kata temanku membuka pembicaraan. Dua orang di depannya menaruh minumannya masing-masing. Tampak wajah kami mulai serius. "Katanya aku perempuan nggak baik," katanya lagi.
"Nggak baik tuh ukurannya apa?" temanku akhirnya tidak tahan untuk tidak membuka mulut.
"Pertanyaan yang sama," jawabku.
"Mungkin karena kamu suka pulang malam," temanku lagi menimpali.
"Like we are doing right now?" tanyanya.

Hahahaha!

Kami serempak tertawa. Mungkin menertawakan dirinya masing-masing. Kisah dengan laki-laki tidak pernah tidak absurd dalam ingatan kami. Setidaknya begitu yang aku tahu sejak pertama kali kami kenal ketika SMA.

Temanku yang pertama.

Aku paham apa yang mencegahnya dari semua hubungan dengan laki-laki yang mencoba mendekat. "Aku suka dengan dia, dan aku mau kita stay kayak gini," ujarnya mantab suatu hari.

Hari itu adalah tahun kesekian ia menjalin relasi entah apa itu namanya, dengan seorang laki-laki yang kami kenal dalam suatu pameran di SMA. Laki-laki yang tidak buruk; ia tampan, terlihat cukup kaya, berasal dari keluarga baik-baik, dan diprediksi memiliki masa depan yang cukup bagus, terlebih setelah ia masuk di sebuah sekolah perminyakan milik salah satu BUMN. Temanku, pada saat itu, amatlah yakin, orang ini pantas untuk ditunggu. Dalam bahasa kami; worth it.

Beberapa kali dalam sebulan ia berkunjung ke kota kami. Kisah-kisah manis terjadi setelahnya. Dinner bersama, nonton film favorit, hal-hal yang aku yakin membuat temanku terjebak untuk tidak ke mana-mana, untuk yakin bahwa lelakinya adalah yang paling tepat. Ditepisnya semua jantan yang mendekat. Ia biarkan masa putih abu-abu hingga semester akhir di kampusnya datar tanpa kisah merah jambu khas remaja.

"Tapi, bukannya selama ini dia tidak menyatakan sesuatu?" kataku sanksi.
"Mungkin dia bukan tipikal lelaki yang mengungkapkan?" temanku masih membelanya dengan senang hati.

Aku senang melihat temanku senang. Tapi bagaimanapun, laki-laki baik tidak membiarkan sesuatu tergantung selama bertahun-tahun. Pada suatu hari di musim hujan, ketika kota kami tengah diguyur hujan yang sangat deras, lelaki itu mengatakan pada temanku bahwa ia tidak ingin berhubungan dengan perempuan dulu sebelum ia siap menikah.

It was like.. What? Lah selama ini kamu ngapain?

Apakah temanku patah hati? Tentu saja. Bayangkan jika mungkin dia selama ini memilih satu aja dari sekian banyak jantan yang mencoba mendekat. Mungkin dia sudah menikah, atau berkeluarga, atau dikenalkan keluarganya dan membina hubungan yang serius, atau apalah. Temanku tadi tidak. Ia tidak ke mana-mana. Hatinya ditawan bertahun-tahun untuk kemudian dibuang. Hancur berkeping-keping.

Yang lebih tidak kami semua pahami adalah tidak lama kemudian laki-laki itu menjalin hubungan dengan perempuan lain. Tentu saja, mereka tidak menikah, karena memang kami semua paham, mereka tidak siap untuk itu.

Laki-laki pertama ini, tidak bisa memegang omongannya sendiri. Seharusnya kemarin-kemarin dia cukup bilang bahwa dia bosan. Itu saja sudah cukup.

***

Temanku kedua.

Aku tidak pernah berpikir bahwa temanku bukanlah perempuan baik-baik. Kami semua perempuan baik-baik, kami tidak melakukan tindakan kriminal, kami tidak menyakiti perasaan orang, dan kami hormat pada orang tua. Aku rasa itu sudah cukup. Jika kemudian lingkungan membuat kami gemar nongkrong hingga larut malam, atau berteman dengan banyak lelaki, aku pikir itu tidak bisa jadi patokan bahwa perempuan ini tidak baik.

Temanku adalah yang terpintar dan kami memprediksikan dia yang akan menjadi terbaik. Lelaki yang dipilih dan memilihnya pun tidak asal. Keduanya sudah bersama-sama sejak SMA, saling bahu-membahu sampai kemudian kuliah, dan sekarang bekerja.

Beberapa waktu sebelum keduanya lulus, semua orang dapat memprediksikan bagaimana masa depan karier keduanya; seorang engineer yang sangat terampil dan strategist hebat untuk berbagai masalah bisnis yang kompleks. Dua orang yang gemar berpikir dan mendebat satu sama lain. Hubungan mereka manis hingga tiba-tiba lelaki itu mengatakan relasi itu harus selesai.

Tidak banyak hal yang dikatakan, namun temanku menyimpulkan ia dinilai kurang baik. Alasan yang sangat tidak logis, dan tentu saja tidak beralasan. Temanku menyangkal, tapi logikanya lebih dahulu jalan. "Relasi itu dibentuk dua orang. Kalau salah satu sudah tidak mau, apapun alasannya, ya sudah," katanya.

Lalu ia selesai. Apakah temanku sakit hati? Tentu saja. Berbulan-bulan ia mengurung diri, melewati hari-harinya yang tidak mudah, berusaha melupakan semua hal yang telah disusunnya berdua. Kini dua langkah itu harus berjalan-jalan sendiri, karena lelakinya tidak mau dengan perempuan yang kurang baik.

Yang lucu setahun berselang dan lelaki itu akhirnya telah memilih perempuannya.

"Ini pacarnya?" kataku.
"Iya."
"Kayak gini aja?"
"Iya."
"Hmm ternyata dia nggak nyari perempuan baik-baik."
"Iya. Dia cuma tidak mau disaingi oleh perempuannya. Dia butuh seseorang yang berada di bawahnya, secara akademis, secara pekerjaan, secara apapun; agar dia merasa lebih superior."
"Bagus lah kamu putus."

***

Bagaimana denganku?

Hahaha. Aku hampir tidak bisa berkata apa-apa selain menertawakan diriku sendiri beberapa waktu ini. Aku perempuan 23 tahun, dan percayalah ini bukan cerita cinta pertamaku. Sebelumnya aku pernah dengan laki-laki yang kuputuskan karena memintaku berhubungan seksual bahkan ketika aku belum berusia 17 tahun. Lalu pernah juga aku dengan laki-laki yang menyudahi relasi kami di tengah jalan karena baginya kami telah memilih jalan yang berbeda.

Apapun alasannya, aku hanya berpikir, aku belum bertemu orang yang tepat. Karenanya ketika aku bertemu sekali lagi dengan laki-laki yang ingin menjalin relasi "serius" denganku, kupikir dialah orang yang tepat.

Aku melihat ada banyak hal yang mesti kami usahakan bersama sebab lelakiku ini memiliki jalan hidup yang tidak mudah. Tadinya, aku berpikir bersamanya berarti menata sesuatu dari dasar, membangun pondasi yang kuat, merintis dari nol, dan berusaha sampai titik darah penghabisan.

Sebulan. Dua bulan. Tiga bulan. Semuanya berjalanan sangat manis karena lelakiku adalah yang terbaik dalam hal mengusahakan apapun yang saat ini tidak dimilikinya. Bagiku, yang terpenting laki-laki harus memiliki effort. Apa yang saat ini tidak dimilikinya, kelak akan dipunyai, jika mau menaruh effort yang cukup.

Lelakiku adalah yang paling pandai mem-pukpuk perasaan orang dengan segenap janji manis, mengajakku sekuat hati bertahan dalam kondisi-kondisi kami yang buruk, bersamaku di saat senang dan susah, serta mengusahakan semua hal sebisa-bisanya, sebaik-baiknya.

Dulu.

Setahun berselang dan aku tidak tahu apa yang terjadi di antara kami. Banyak hal yang kami tidak pahami, tetapi lelakiku berubah. Tentu setelah setahun lebih kami bersama, ada banyak hal yang mengubah kami. Kami lebih cerdas, karier kami membaik, kondisi finansial kami membaik, tetapi sikap kami satu sama lain; tidak.

Aku tidak ingin tahu siapa yang salah di antara kami, tetapi yang kulihat lelakiku kehilangan effort. Aku tidak paham apakah baginya "yang segini" sudah cukup, atau seperti lelaki teman pertamaku, ia hanya bosan.

"Itu manusiawi. Orang kan cepat bosan," kata temanku suatu hari, berusaha menengahi dengan bijak.
"Aku tahu. Hanya saja jika kami begini karena bosan, aku tidak berekspektasi cara kami seperti ini untuk menghalau rasa bosan."

Banyak hal terjadi beberapa waktu belakangan ini; semua hal yang aku tidak pernah bayangkan bahwa aku akan benar-benar mengalaminya. Aku jatuh bangun seorang diri, susah-susah sendiri, mati-matian bertahan sendiri juga, namun di situlah aku sungguhan sadar, aku benar-benar kuat ternyata; secara fisik, secara mental. Kelak suatu hari aku pasti akan sangat bangga dengan kekuatanku sendiri --yang ternyata ada.

Setelah melewati itu semua, bagiku kini semuanya sudah jelas. Aku berhadapan dengan dua orang yang berbeda. Lelaki itu bukan yang dulu kukenal atau membersamaiku di saat-saat terburuk, bukan yang pernah sekuat hati mengajakku bertahan, bukan. Tempat ini menjadikan dia sosok yang lain, menjadikan kami benar-benar berbeda. Dan aku, telah bersumpah, bahwa aku tidak akan menjadi perempuan yang mengemis-ngemis afeksi, jadi kukatakan padanya, "Aku tidak akan mengusirmu pergi, tapi aku juga tidak akan mengemis untuk memintamu tetap di sini."

Lebih tragis dari cerita dua orang temanku, kini aku berada di titik antara hitam dan putih yang membuatku tidak bisa ke mana-mana, namun juga tidak punya tempat untuk kembali.

"Menurutmu pilihan dia akan jatuh ke perempuan seperti apa?" tanya temanku.
"Mmm nggak tahu. Yang pasti tidak banyak menuntut," kataku.
"Hwaaaa. Apakah harus perempuan baik-baik???"
"Apakah dia hanya tidak mau pacaran kalau belum siap menikah??"

Hahahaha!

Kami tertawa sekali lagi.

***

Bagaimanapun, Jakarta mendidik kami untuk melupakan sesuatu dengan mudah. Pikirkan saja hal-hal yang konkret dan jelas menurut perhitunganmu. Di Jakarta semua hal yang sangat mudah dihitung; bahkan beberapa kali aku akhirnya mempercayai kasih sayang adalah hubungan timbal-balik. Ketika kamu membuat prioritas akan seseorang, ternyata kamu akan memiliki ekspektasi untuk orang tersebut memperlakukanmu serupa.

Patah hati lama-lama semestinya sudah lewat dari fase kami saat ini, sebab kami perempuan 23 tahun dan kami memilih rasional. Tidak boleh ada banyak waktu yang terbuang untuk sesuatu yang percuma.

Jadi malam ini, kami memutuskan untuk mengubur luka-luka itu tanpa sisa.

"Jadi.. menurutmu kita mesti gimana?"
"Hahahaha! Jangan pulang malem yang penting."
"Tapi tempat ini tutup jam 11."
"Yah. Yaudah pindah yang 24 jam gimana? Biar nggak pulang malem; subuh maksudnya! Hahaha."
"Pengen, tapi masih ada kerjaan."
"Sama!"
"Huhu yaudah kapan-kapan aja."

Laki-Laki yang Tidak Move On


Aku sering benci kenapa terminologi move on seolah-olah memiliki gender. Seolah-olah move on hanya perkara menye-menye, perkara kebanyakan bawa perasaan, atau perkara ketumpulan rasionalitas ---yang semua ditujukan pada gender feminin. Aku tidak suka.

"Dibuang sih!"
"Ini tuh berharga. Ini isinya kenangan!"
"Aduh, kenangan apa lagi? Nyampah tau nggak sih. Lo itu di sini sharing tempat sama gue. Lo ngehargain gue dikit lah."
"Ya lo juga harus ngehargain prinsip gue dong!"

Suaraku meninggi dan biasanya jika begitu temanku langsung pergi. Ini bukan kali pertama kami meributkan hal-hal semacam ini; sesederhana aku yang tidak mau membuang lembaran-lembaran lukisan ---yang bahkan tidak bernilai sama sekali, lebih cocok disebut sebagai coretan-coretan absurd. Tapi bagiku, setiap coretan-coretan itu menyimpan kenangan.

***

Orang selalu mengatakan aku ini gagal move on. Aku kurang setuju dengan itu. Aku bukan gagal. Gagal itu jika sudah mencoba lalu tidak ada hasilnya. Sementara aku? Aku memang tidak mencobanya. Tidak akan pernah. Karena bagiku apa yang telah kulalui itu adalah sebuah kenangan, sebuah cerita yang terekam dalam ingatan maupun lembaran-lembaran coretan ini. Maka, aku memutuskan untuk merawatnya, menjaganya baik-baik sampai kapanpun.

Bagiku move on bukan soal perkara feminin atau maskulin, apalagi perempuan atau laki-laki. Move on adalah tentang seseorang yang punya hati, dan itu tidak peduli apakah mau perempuan atau laki-laki.

"Tapi untuk apa? Kamu udah lama lho kayak gini," katanya membuka pembicaraan. Ia perempuan kesekian yang menanyakanku hal demikian.
"Ya memangnya kenapa?"
"Ya nggak kenapa-kenapa. Sayang aja. Umurmu kan jalan terus, ceritamu juga berjalan terus. Tapi kamu memilih stuck dalam kondisi yang absurd."
"Oh ya? Kenapa absurd?"
"Bagaimana nggak absurd, kalau hal yang sangat kebendaan seperti ini kamu pertahankan atas nama kenangan."
"Tapi ini membantuku untuk mengingat, merawat ingatan."
"Kenapa harus diingat?"
"Aku melewati banyak hal bersama lembar-lembar kertas ini."
"Kamu tidak sayang dengan ingatanmu?"
"Maksudmu?"
"Iya. Ingatanmu."

Aku diam.

"Kau tahu? Jika kamu masih percaya Tuhan, sesungguhnya Tuhan ---atau apapun yang kamu percayai itu--- memberi kita ingatan yang terbatas, sebenarnya ia cukup adil. Dia memberi kita ingatan, sekaligus kemampuan untuk melupakan. Agar kita sebagai manusia memilih mana hal-hal yang boleh kita ingat atau tidak sama sekali. Dan, kemudian selalu menyisakan sebuah celah kosong dalam memori untuk memasukkan kenangan-kenangan, ingatan-ingatan baru. Dengan membiarkan ingatan berlarut-larut mengendap di memori kita, sebenarnya kita sedang menyiksanya."

"Bagaimana bisa?"

"Bagaimana tidak? Kemampuannya terbatas. Dan setiap kita melangkah, selalu ada peristiwa baru yang, paling tidak, membutuhkan sedikit celah untuk mengendap, singgah ---entah sementara atau lama. Orang harus melupakan, agar bisa mengingat apa saja yang terjadi setelahnya, karena memori manusia terbatas."

Aku terperangah. Ia mengucapkannya dengan wajah datar seperti biasanya kami kerap berbincang.

"Kamu harus lupa. Paling tidak, membuang segala sesuatu yang membuat ingatanmu tetap terpaku pada peristiwa-peristiwa yang lampau."
"Lalu?"
"Lalu kamu akan mengingat peristiwa-peristiwa baru, yang mungkin akan jauh lebih menyenangkan, berkesan, who knows?"

Aku diam.

"Ini bukan soal move on atau tidak move on. Ini soal bagaimana mengatur ingatan, bagaimana cara kita menyayangi diri sendiri terlebih dulu. Bukankah akan sulit sekali menyayangi orang lain jika pada diri sendiri kita tidak melakukannya?"

Aku diam.

"Atau jangan-jangan kamu masokis?"

Aku tersenyum. Seperti halnya aku tidak setuju perempuan selalu dituduh kurang rasional, pada laki-laki aku juga tidak suka jika selalu dianggap bisa mengungkapkan apa saja. Setidaknya aku, laki-laki, dan aku sulit sekali mengungkap hal ini.

Satu hal saja.

***



Fiksi yang ditulis di sela-sela ingatan pada seorang teman, yang katanya tidak ingin melupakan.