Catatan-catatan yang Dibuat Saat Tidak Bekerja



Hari ini tidak seperti biasanya aku cuti tapi tetap ke Jakarta. Biasanya satu-satunya alasanku cuti tanpa sebab adalah karena aku malas ke Jakarta. Tapi hari ini aku punya janji dengan agency untuk urusan yang bukan menyangkut pekerjaan di jam 4 sore dan oleh karena itu aku harus ke Jakarta. Tapi aku tidak mau bekerja, jadi aku cuti.

Saat mengemasi tasku, suamiku bertanya kenapa aku membawa laptop pribadi dan bukan laptop kantor. Kubilang, "Ya kan aku nggak kerja."

"Hah, kenapa nggak kerja?"

"Kenapa nggak?" Aku bertanya balik, jadi percakapan kami soal tidak bekerja itu selesai.

Sebenarnya aku sering bilang ke suamiku, jauh sebelum kita saling mengenal, aku bukan orang yang kayak sekarang. I mean.. I was just different. Aku nggak tahu sejak kapan aku sangat suka kerja; barangkali sejak sadar aku miskin dan bekerja adalah satu-satunya cara untuk lepas dari jerat kemiskinan itu.

Dalam sepuluh tahun terakhir, aku menyingkirkan hal-hal yang kusukai (yang tidak terlalu menghasilkan uang) dan mengejar sesuatu yang seluruhnya berorientasi pada apakah aku akan memperoleh kenyamanan finansial darinya. Misalnya, aku memilih bekerja di tech, yang kupikir 10 tahun lalu adalah sebuah shortcut kalau aku mau cepat dapat gaji tinggi dan karenanya terbebas dari masalah-masalah finansial.

Aku hampir nggak ingat gimana rasanya pacaran di usia yang lebih muda. Seingatku sejak SMA aku tergila-gila dengan seseorang sampai aku kuliah. Lalu di kampus aku juga sempat tertarik dengan satu atau dua orang. Tapi keseluruhannya tidak ada yang benar-benar kuingat sebagai romansa yang menarik --yang worth it untuk diceritakan berulang-ulang. Lalu aku ketemu laki-laki yang sekarang jadi suamiku. Pertemuan kami singkat. Aku nggak ingat kapan kami jadian atau gimana kami pacaran, yang jelas dia membuntutiku terus-menerus selama empat tahun dan akhirnya kami menikah.

Setelah sepuluh tahun hanya sibuk bekerja dan mengesampingkan hal-hal yang sebenarnya aku sukai, belakangan aku mulai merasa, kerja ini nggak ada habisnya. Aku masih kerja dan kurasa aku masih perform dengan baik, tapi sepertinya setelah sepuluh tahun aku merasa ada sesuatu yang lain yang harus lebih sering kulakukan.

Maka dalam beberapa waktu terakhir ini aku memutuskan untuk lebih rajin membaca buku, menonton sinema, dan bertemu dengan orang-orang baru yang dalam hal ini kuputuskan adalah sesama pembaca buku.

Selama ini aku sering bilang aku adalah pembaca buku yang baik. Aku suka membaca buku (buku apa saja kecuali pengembangan diri dan buku psikologi yang tidak ditulis oleh psikolog) dan sejak dulu ingin jadi penulis buku teenlit. WKWK. Jangan tanya bagaimana usahaku agar tulisan teenlitku diterbitkan (yang untungnya tidak pernah terbit itu).

Selama masa transisi dari zaman sekolah dan kuliah yang menyenangkan (meski miskin) hingga hari ketika aku officially pindah ke Jakarta untuk jadi budak korporat, aku masih menikmati hari-hari 'tidak produktif' di Jakarta. Hampir setiap akhir pekan aku mencari event; diskusi buku, nonton bareng, pertunjukan-pertunjukan seni dan pameran. Di masa itu, duduk sendiri di kafe dengan laptop adalah kegiatan paling masuk akal yang menyenangkan. Pada hari-hari yang lain, aku bepergian dengan teman ke kota-kota di sekitar Jakarta dengan moda transportasi umum, lalu makan di pinggir jalan mengganggu pejalan kaki karena trotoarnya dipakai untuk menggelar lapak.

At some points, kurasa aku kangen masa-masa itu. Dan kupikir, pemikiran-pemikiran ini tidak eksklusif kurasakan. Sebut saja Tania, yang tiba-tiba mengirimiku pesan Whatsapp, mengungkapkan betapa dia kangen waktu kita ke Kebun Raya Bogor, lalu pulangnya makan bakso di dekat Stasiun Tebet. Atau saat kita ke Bandung dan nongkrong di Wiki dengan hanya modal beli satu dua makanan. Tania bilang, "Aku kangen hal-hal kecil kayak gitu bisa diromantisasi."

Ah, iya lagi. Sepulang dari Wiki itu aku bahkan menulis tulisan pendek berjudul "Patah di Bandung" yang sepertinya masih ada di blog ini.

Masa-masa itu, tanpa terasa, tergerlincir begitu aja. Tahu-tahu sekarang lewat sepuluh tahun lebih sejak kami nonton konser di Sabuga, dan sedihnya hal-hal itu tidak bisa terulang sama persis.

Maka buatku sendiri, berikhtiar untuk melupakan sejenak kerja adalah selemah-lemahnya cara untuk tetap terhubung dengan 'kebahagiaan-kebahagiaan' kecil yang dulu sering kunikmati. Aku punya lebih dari 20 hari cuti, mungkin bahkan sampai 30 hari jika ditambah cuti-cuti pengganti dari kerja-kerja overtime, tapi herannya selama ini aku tidak pernah benar-benar cuti untuk sekadar menikmati waktu di kafe; membaca buku, menulis blog seperti ini, atau ya udah bengong aja.

Dulu aku sempat berpikir, ah menyenangkan kali ya, kalau kita punya duit lebih. Memang poin bahwa di dunia kapitalis ini kita selalu perlu uang, itu benar. Tapi ternyata jauh dari sekadar mencari uang, aku mulai berpikir mencari makna dari kegiatanku sehari-hari yang ternyata cuma bekerja itu.

Benarkah cuti dan tidak bekerja artinya tidak produktif? Apakah cuti hanya digunakan untuk hal yang penting-penting aja? Nggak bisakah aku cuti dan nggak ngapa-ngapain, atau yang lebih nggak bisakah aku cuti untuk napak tilas pada hari-hariku sepuluh tahun lalu, saat hal-hal kecil lebih gampang aku syukuri?

Don't get me wrong. Aku nggak berpikir bahwa hidupku sekarang tidak menyenangkan ya. Kurasa karena bekerja dalam sepuluh tahun terakhir, hidupku sekarang sedikit-sedikit lebih menyenangkan dibandingkan dulu. Sayangnya kesenangan-kesenangan itu sekarang tidak bisa sederhana; nggak bisa cuma bisa duduk sambil ngeblog di kafe atau melamun mikirin plot novel yang tidak pernah jadi novel. Sekarang, seperti yang dibilang Tania, kurasa bahagiaku juga harus lebih kompleks.

Dalam sistem kapitalisme yang jahat ini, mau nggak mau aku akhirnya masuk dalam pusaran itu; tentu saja karena semua hal butuh uang. Bahkan untuk duduk di kafe seharian atau membaca lebih banyak buku, aku perlu uang, kan? Itu benar. Tapi kurasa aku perlu menyeimbangkannya agar aku tetap grounded dan tetap menjadi manusia yang punya makna.

Beberapa orang memaknai hidupnya dengan pekerjaannya; itu nggak salah. Tapi dalam kasusku, aku rasa aku nggak bisa setotalitas itu pada hal yang bernama kerja. Pada akhirnya kerja adalah bagian dari hidup yang kujalani mungkin dalam dua puluh tiga puluh tahun ke depan. Aku masih akan perform dengan baik; di kantor aku seorang AVP sekarang. Aku pekerja cukup senior yang harus jadi mentor untuk beberapa orang di timku. Tapi aku juga adalah Ervina sebagai manusia; aku seorang pembaca buku, menikmati seni yang tidak ada duitnya, dan bercita-cita menulis novel teenlit yang nggak tahu akan laku berapa eksemplar kalau benar-benar diterbitkan. WKWK.

Di hari cutiku yang kutujukan untuk nggak ngapa-ngapain ini, aku mutuskan untuk akhirnya duduk di kafe, membuka blog, dan menulis post ini. Mungkin ini waktu yang tepat untuk aku berpikir lagi secara strategis bagaimana aku bisa benar-benar menulis yang bukan cuma curhat di blog ini. Dengan serius tentu saja.