Dalam Dunia yang Lain


Belakangan ini, dengan privilege yang bertambah, aku memiliki kegemaran baru, yakni mengoleksi buku. Aku menyukai buku sejak kecil dan aku hampir tidak pernah tidak membaca buku dalam hidupku. Tapi menjadi WNI, lahir di keluarga yang tidak kaya-kaya amat, membuat aksesku terhadap bacaan tidak sebagus itu. Orang tuaku tidak membaca buku. Mereka suka-suka aja sih, hanya tidak punya akses pada bacaan dan tidak punya waktu luang. 

Maka tidak heran jika salah satu trauma kemiskinanku adalah hidup dengan buku-buku.

Soal bacaan, jujur aja aku nggak punya selera. Sepertinya aku membaca sesuai umur. Saat kecil, aku membaca buku-buku macam Lupus, Lima Sekawan, dan beberapa buku cerita anak Islami karena pengaruh lingkungan yang agak religius. Lalu aku membaca teenlit saat SMP dan SMA. Di antara buku-buku teenlit itu, aku membaca Laskar Pelangi, Ayat-Ayat Cinta, dan Bumi Manusia sekaligus. 

Oh, tidak ketinggalan aku juga membaca puisi. Aku membaca puisi-puisi Taufik Ismail, Chairil Anwar, dan WS Rendra di perpustakaan sekolah. Saat mengenal internet, aku membaca Omar Khayyam. Aku tidak membaca banyak non-fiksi, kecuali buku-buku pengembangan diri macam Chicken Soup atau buku yang randomly dihadiahkan beberapa teman dan dari acara organisasi pelajar dan pemuda yang rajin kuikuti waktu remaja.

Baru saat kuliah bacaanku agak meluas. Aku mulai membaca buku berbahasa asing lebih sering. Aku mengenal buku-buku filsafat, psikologi, politik, ekonomi, dan dari semua itu aku tetap menyukai buku fiksi. WKWK.

Namun, pembacaanku terhadap fiksi benar-benar berubah seiring dengan meningkatnya usia. Saat pertama kali menemukan Bumi Manusia, waktu itu aku SMP, otakku yang belum terdevelop sempurna tidak mampu membacanya. Namun di umur 30an, aku membaca Bumi Manusia dan buku-buku lanjutannya dengan meradang karena rasanya kita masih hidup di era kolonial. Aku makin benci dengan penguasa.

Pun saat dulu aku bahkan kepikiran ingin ke Mesir dan menikahi anak rohis karena membaca Ayat-Ayat Cinta. Di umur sekarang, aku membacanya sambil marah —marah kenapa dulu aku sampai menabung untuk beli buku ini, bajingan!

***

Dalam lima tahun terakhir, buku-buku yang kubaca sangat mempengaruhi caraku bersikap dan bertindak. Pada level tertentu, aku mempertanyakan keputusan-keputusan besar yang kuambil sebelum aku cukup 'dewasa' menurut ukuranku. Misalnya saja, salah satunya adalah menikah. Like.. kok bisa aku menikah di umur 26 tahun? Ya suamiku umurnya udah 30an saat itu, tapi aku masih muda banget, kan?

Aku sendiri bahkan sekarang bingung.

Am I unhappy with the marriage? I don't think so. Dibilang kecewa enggak, tapi dibilang satisfied banget juga nggak juga. Dalam lima tahun terakhir aku merasa pernikahanku seperti orang pacaran yang divalidasi dengan hukum negara dan diterima secara sosial dan budaya saat kami hidup bersama. Di satu titik, kadang aku memang yakin, menikah itu seserius itu —seperti yang pernah kutulis dalam post Medium-ku. Tapi pada banyak titik yang lain, aku tidak terlalu yakin perasaan itu signifikan dan apakah perasaan itu dialami juga oleh pasanganku.

Aku tidak tahu yang terjadi dalam pernikahan lain, tapi kurasa sampai sekarang pasanganku masih kikuk dengan fakta bahwa dalam pandangan hukum dan sosial, kami adalah pasangan. Maka saat kemarin hotel tempat kami menginap memberikan romantic decoration saat membereskan kamar kami, dia justru bingung.

Pada pasangan normal lainnya, aku rasa orang-orang sampai request dan mau membayar, tapi di pasanganku, itu membingungkan. Soal ini aku bisa membahas panjang dalam post lain, tapi yang kupikirkan adalah dengan segala hal baru yang kuterima dan kupelajari, aku merasa aku menjadi individu baru dengan segala ekspektasi yang berbeda daripada diriku lima tahun lalu.

Tapi, kadang aku juga berpikir, jika segala hal yang kuterima dan kupelajari ini mengubahku menjadi 'individu lain', apakah mungkin jika suamiku juga berpikir dia menikahi orang lain lima tahun lalu? Atau malah sepuluh tahun lalu saat kami saling kenal?

Di kepalaku sendiri, suamiku juga menjadi individu yang berbeda. Aku merasa dia bukan orang yang kunikahi bertahun-tahun lalu. Dan apakah dengan perubahan-perubahaan itu kita masih bisa cocok satu sama lain? Inilah pertanyaan besar soal pernikahan yang dari dulu menghantuiku.

Sebelum aku menikah, sebenarnya aku sudah memikirkan hal ini. Namun, sekarang setelah benar-benar menjalaninya, dengan segala kompleksitas berpikirku akibat bacaan yang bertambah, aku makin berpikir, dan berpikir. Dan saat kompleksitas berpikirku mencapai puncak, aku ingat sebuah kutipan tulisan dari penyair Mahmoud Darwish.

Katanya, "We went too far in our thinking and forgot that our destinies are written."

Demikianlah menjadi pembaca kadang-kadang menyulitkanku. Maka sesekali aku cukup iri dengan orang tidak tahu apa-apa atau simply tidak mau tahu. Berbahagialah mereka yang hidup dalam ketidaktahuan, karena mengetahui sesuatu membuat dia berpikir, dan berpikir membuat dia merasakan sesuatu.

***

Meski demikian aku tetap memutuskan membaca dan membeli buku. Terlebih buku-buku lama. Buku-buku itu, yang ditulis puluhan dan ratusan tahun lalu, aku sungguh berpikir penulisnya luar biasa. Mereka membawaku tepat pada hari-hari di mana peristiwa itu terjadi. Misalnya saat membaca Anna Karenina, aku sungguh merasa di tengah-tengah pertunjukan teater dan membayangkan pandangan sinis orang-orang menghakimi, ituloh perempuan yang ninggalin anak dan suaminya buat kabur sama laki-laki lain.

Atau misalnya saat membaca No Longer Human, aku benar-benar merasa sedang di Mitaka, berjalan di gang-gang kecil yang di ujungnya ada kedai minuman keras, lalu aku melihat pemuda setengah mabuk sedang berbincang dengan pegawai wanita penjaga kedai.

Saat aku benar-benar berjalan-jalan di Ginza, aku membayangkan di supermarket mana ya, dulu si orang dalam cerita Hantu Ginza itu mati terlilit tali balon udara? Dan beginikah Ginza rupanya? Agak beda dengan Ginza yang kulihat 100 tahun lalu, yang dipenuhi lampu-lampu neon pada malam hari dan gedung-gedung bertingkat yang di atapnya terdapat balon-balon udara untuk promosi.

Buku membawaku pada dunia-dunia yang lain yang tidak ada dalam kehidupanku saat ini. Seperti juga sinema. Hanya jika lewat buku, imajinasiku lebih personal, karena aku memvisualisasikan dalam kepalaku sesuai apa yang kumau, hal-hal yang tidak realistis, hal-hal yang sulit, hal-hal yang dalam kehidupanku saat ini tidak mungkin kutemui.

Aku tidak tahu apakah reinkarnasi benar-benar ada, tapi pun jika tidak ada, buku membantuku masuk dalam dunia yang lain; dunia yang mungkin tidak kumiliki dan tidak perlu kusembuhkan susah-payah sambil berperang melawan trauma pada diri-sendiri karena dilahirkan.

Aku tidak tahu apakah reinkarnasi benar-benar ada, tapi pun jika ada, aku tidak mau lahir lagi. Hidup barangkali menyenangkan, tapi aku setuju, yang paling beruntung adalah yang tidak pernah dilahirkan.

Catatan-catatan yang Dibuat Saat Tidak Bekerja



Hari ini tidak seperti biasanya aku cuti tapi tetap ke Jakarta. Biasanya satu-satunya alasanku cuti tanpa sebab adalah karena aku malas ke Jakarta. Tapi hari ini aku punya janji dengan agency untuk urusan yang bukan menyangkut pekerjaan di jam 4 sore dan oleh karena itu aku harus ke Jakarta. Tapi aku tidak mau bekerja, jadi aku cuti.

Saat mengemasi tasku, suamiku bertanya kenapa aku membawa laptop pribadi dan bukan laptop kantor. Kubilang, "Ya kan aku nggak kerja."

"Hah, kenapa nggak kerja?"

"Kenapa nggak?" Aku bertanya balik, jadi percakapan kami soal tidak bekerja itu selesai.

Sebenarnya aku sering bilang ke suamiku, jauh sebelum kita saling mengenal, aku bukan orang yang kayak sekarang. I mean.. I was just different. Aku nggak tahu sejak kapan aku sangat suka kerja; barangkali sejak sadar aku miskin dan bekerja adalah satu-satunya cara untuk lepas dari jerat kemiskinan itu.

Dalam sepuluh tahun terakhir, aku menyingkirkan hal-hal yang kusukai (yang tidak terlalu menghasilkan uang) dan mengejar sesuatu yang seluruhnya berorientasi pada apakah aku akan memperoleh kenyamanan finansial darinya. Misalnya, aku memilih bekerja di tech, yang kupikir 10 tahun lalu adalah sebuah shortcut kalau aku mau cepat dapat gaji tinggi dan karenanya terbebas dari masalah-masalah finansial.

Aku hampir nggak ingat gimana rasanya pacaran di usia yang lebih muda. Seingatku sejak SMA aku tergila-gila dengan seseorang sampai aku kuliah. Lalu di kampus aku juga sempat tertarik dengan satu atau dua orang. Tapi keseluruhannya tidak ada yang benar-benar kuingat sebagai romansa yang menarik --yang worth it untuk diceritakan berulang-ulang. Lalu aku ketemu laki-laki yang sekarang jadi suamiku. Pertemuan kami singkat. Aku nggak ingat kapan kami jadian atau gimana kami pacaran, yang jelas dia membuntutiku terus-menerus selama empat tahun dan akhirnya kami menikah.

Setelah sepuluh tahun hanya sibuk bekerja dan mengesampingkan hal-hal yang sebenarnya aku sukai, belakangan aku mulai merasa, kerja ini nggak ada habisnya. Aku masih kerja dan kurasa aku masih perform dengan baik, tapi sepertinya setelah sepuluh tahun aku merasa ada sesuatu yang lain yang harus lebih sering kulakukan.

Maka dalam beberapa waktu terakhir ini aku memutuskan untuk lebih rajin membaca buku, menonton sinema, dan bertemu dengan orang-orang baru yang dalam hal ini kuputuskan adalah sesama pembaca buku.

Selama ini aku sering bilang aku adalah pembaca buku yang baik. Aku suka membaca buku (buku apa saja kecuali pengembangan diri dan buku psikologi yang tidak ditulis oleh psikolog) dan sejak dulu ingin jadi penulis buku teenlit. WKWK. Jangan tanya bagaimana usahaku agar tulisan teenlitku diterbitkan (yang untungnya tidak pernah terbit itu).

Selama masa transisi dari zaman sekolah dan kuliah yang menyenangkan (meski miskin) hingga hari ketika aku officially pindah ke Jakarta untuk jadi budak korporat, aku masih menikmati hari-hari 'tidak produktif' di Jakarta. Hampir setiap akhir pekan aku mencari event; diskusi buku, nonton bareng, pertunjukan-pertunjukan seni dan pameran. Di masa itu, duduk sendiri di kafe dengan laptop adalah kegiatan paling masuk akal yang menyenangkan. Pada hari-hari yang lain, aku bepergian dengan teman ke kota-kota di sekitar Jakarta dengan moda transportasi umum, lalu makan di pinggir jalan mengganggu pejalan kaki karena trotoarnya dipakai untuk menggelar lapak.

At some points, kurasa aku kangen masa-masa itu. Dan kupikir, pemikiran-pemikiran ini tidak eksklusif kurasakan. Sebut saja Tania, yang tiba-tiba mengirimiku pesan Whatsapp, mengungkapkan betapa dia kangen waktu kita ke Kebun Raya Bogor, lalu pulangnya makan bakso di dekat Stasiun Tebet. Atau saat kita ke Bandung dan nongkrong di Wiki dengan hanya modal beli satu dua makanan. Tania bilang, "Aku kangen hal-hal kecil kayak gitu bisa diromantisasi."

Ah, iya lagi. Sepulang dari Wiki itu aku bahkan menulis tulisan pendek berjudul "Patah di Bandung" yang sepertinya masih ada di blog ini.

Masa-masa itu, tanpa terasa, tergerlincir begitu aja. Tahu-tahu sekarang lewat sepuluh tahun lebih sejak kami nonton konser di Sabuga, dan sedihnya hal-hal itu tidak bisa terulang sama persis.

Maka buatku sendiri, berikhtiar untuk melupakan sejenak kerja adalah selemah-lemahnya cara untuk tetap terhubung dengan 'kebahagiaan-kebahagiaan' kecil yang dulu sering kunikmati. Aku punya lebih dari 20 hari cuti, mungkin bahkan sampai 30 hari jika ditambah cuti-cuti pengganti dari kerja-kerja overtime, tapi herannya selama ini aku tidak pernah benar-benar cuti untuk sekadar menikmati waktu di kafe; membaca buku, menulis blog seperti ini, atau ya udah bengong aja.

Dulu aku sempat berpikir, ah menyenangkan kali ya, kalau kita punya duit lebih. Memang poin bahwa di dunia kapitalis ini kita selalu perlu uang, itu benar. Tapi ternyata jauh dari sekadar mencari uang, aku mulai berpikir mencari makna dari kegiatanku sehari-hari yang ternyata cuma bekerja itu.

Benarkah cuti dan tidak bekerja artinya tidak produktif? Apakah cuti hanya digunakan untuk hal yang penting-penting aja? Nggak bisakah aku cuti dan nggak ngapa-ngapain, atau yang lebih nggak bisakah aku cuti untuk napak tilas pada hari-hariku sepuluh tahun lalu, saat hal-hal kecil lebih gampang aku syukuri?

Don't get me wrong. Aku nggak berpikir bahwa hidupku sekarang tidak menyenangkan ya. Kurasa karena bekerja dalam sepuluh tahun terakhir, hidupku sekarang sedikit-sedikit lebih menyenangkan dibandingkan dulu. Sayangnya kesenangan-kesenangan itu sekarang tidak bisa sederhana; nggak bisa cuma bisa duduk sambil ngeblog di kafe atau melamun mikirin plot novel yang tidak pernah jadi novel. Sekarang, seperti yang dibilang Tania, kurasa bahagiaku juga harus lebih kompleks.

Dalam sistem kapitalisme yang jahat ini, mau nggak mau aku akhirnya masuk dalam pusaran itu; tentu saja karena semua hal butuh uang. Bahkan untuk duduk di kafe seharian atau membaca lebih banyak buku, aku perlu uang, kan? Itu benar. Tapi kurasa aku perlu menyeimbangkannya agar aku tetap grounded dan tetap menjadi manusia yang punya makna.

Beberapa orang memaknai hidupnya dengan pekerjaannya; itu nggak salah. Tapi dalam kasusku, aku rasa aku nggak bisa setotalitas itu pada hal yang bernama kerja. Pada akhirnya kerja adalah bagian dari hidup yang kujalani mungkin dalam dua puluh tiga puluh tahun ke depan. Aku masih akan perform dengan baik; di kantor aku seorang AVP sekarang. Aku pekerja cukup senior yang harus jadi mentor untuk beberapa orang di timku. Tapi aku juga adalah Ervina sebagai manusia; aku seorang pembaca buku, menikmati seni yang tidak ada duitnya, dan bercita-cita menulis novel teenlit yang nggak tahu akan laku berapa eksemplar kalau benar-benar diterbitkan. WKWK.

Di hari cutiku yang kutujukan untuk nggak ngapa-ngapain ini, aku mutuskan untuk akhirnya duduk di kafe, membuka blog, dan menulis post ini. Mungkin ini waktu yang tepat untuk aku berpikir lagi secara strategis bagaimana aku bisa benar-benar menulis yang bukan cuma curhat di blog ini. Dengan serius tentu saja.

Yang Tidak Dibicarakan Orang dari Pernikahan

In Buddhism, the lotus symbolizes the journey of enlightenment, with its petals unfolding to represent the path from attachment and desire to clarity and purity.

Seperti halnya jadi orang tua, menjadi pasangan juga aku rasa nggak ada ilmu pastinya. Psikologi pernikahan ada sih, tapi seingetku itu nggak lebih dari nasihat-nasihat normatif mengenai peran suami, peran istri --yang sangat dipengaruhi konstruksi sosial. Beberapa kadang tidak terlalu relevan dan tidak kusetujui, kurasa. Sisanya hanya bualan soal cinta, kedekatan, dan komitmen.

Konon katanya, semua pasangan pernah sangat mencintai, tapi waktu pasti pelan-pelan mengikis rasa cinta itu. Sisanya tinggal kedekatan, dan jika menikah, maka pasangan akan punya komitmen --dan ini yang membedakan mereka yang memutuskan menikah dan tidak menikah.

Aduh, komitmen. Aneh sekali aku mencerna hal yang satu ini.

Kemarin di obrolanku dengan seorang teman sambil makan siang, kubilang, karena sudah memutuskan menikah, aku mau merawat pernikahanku, tapi jujur aja aku nggak punya figur yang benar-benar kudambakan kisah pernikahannya dan kumintai advise soal pernikahan. Bahkan orang tuaku sendiri yang sudah menikah lebih dari tiga puluh tahun. Maksudku, meski mereka bertahan selama itu, dan keluarga kami relatif 'baik-baik aja', tapi aku sendiri nggak mau kalau harus berada di pernikahan seperti orang tuaku. Agak sulit kujelaskan, tapi intinya aku nggak mau aja.

Dalam cerita lain, aku mengenal seorang laki-laki, seorang suami, yang isi kepalanya hanya selangkangan. Laki-laki ini kulabeli 100% bajingan, bukan karena dia menelantarkan anak-istrinya, tapi karena kurasa dia memberiku gambaran yang mengerikan soal pernikahan dan komitmen. Sebagai seorang istri juga, aku sulit percaya kalau istrinya, di rumah, tidak tahu bahwa isi kepala suaminya tidak jauh-jauh dari tetek perempuan lain, atau bahkan terang-terangan berfantasi ingin main bertiga dengan dua kolega perempuannya di kantor.

Kayaknya hampir nggak mungkin sih, istrinya nggak tahu. Aku rasa istrinya tahu. Tapi laki-laki itu adalah suami yang 'berkomitmen' pada pernikahannya. Ia bekerja untuk keluarganya, sayang ke anak-anaknya, bahkan ke istrinya --wow foto profilnya mereka berdua sedang dinner, romantis sekali.

Jadi meskipun tahu otak suaminya ada di kontol, tapi aku rasa istrinya juga sedang berkomitmen pada pernikahan mereka yang mungkin berusia 10 tahunan --seusia anak mereka.

***

Aku kadang-kadang menyalahkan society atas kerancuan pikiranku dan segala skeptisisme soal apapun, termasuk soal pernikahan. Di umurku yang segini dan di usia pernikahanku yang hampir lima tahun ini, aku bahkan belum memutuskan akan punya anak atau enggak, simply karena aku skeptis, bahkan ke diriku sendiri. Kayak.. aku masih bertanya-tanya apakah itu keputusan masuk akal, atau jangan-jangan malah nanti kami semua menyesal, termasuk anakku.

Aku sudah melihat banyak orang di sekitarku, bahkan teman-teman seusiaku yang akhirnya memilih untuk menyudahi pernikahannya. Beberapa di antaranya punya anak, yang kemudian tumbuh tanpa konsep keluarga yang normatif. I don't know what happens to their kids, but they seem to be fine.. Ini kayak sekali lagi ngasih gambaran yang beda banget dari generasi orang terdahulu yang menganggap anak adalah pengunci final dari langgengnya ikatan pernikahan dan bahwa sekali lagi, keberadaan anak nggak menjadi penentu keberadaan pernikahan.

Kalau suatu hari aku punya anak dan dia membaca arsip tulisan ini, percaya deh, kalau kamu sampai bisa baca tulisan ini, kelahiranmu sungguh sebuah hasil pemikiran matang dan cinta yang seluas jagat raya. Kayak kalau kamu sampai ada di dunia yang sedang rusak ini, berarti sebegitunya aku mencintai dan menginginkanmu. Kamu bukan hasil tuntutan society atau karena biar aku bertahan di 'komitmen' pernikahan dengan ayahmu, enggak. 

Kalau kamu sampai ada, artinya aku sebegitunya menginginkanmu.

Aku rasa secara general aku merasa senang dan menikmati 'journey' pernikahanku. Karena bersama suamiku hampir 10 tahun sejak aku mengenalnya, aku merasakan sekali bagaimana kami bertumbuh dan berproses menjadi lebih baik --dalam hal apapun.

Banyak hal yang kami lewati untuk pertama kali dan bahkan setelah hampir sepuluh tahun mengenal satu sama lain, selalu ada yang pertama kali --yang kadang-kadang bikin aku nggak habis pikir ini emang serius ya menikah itu harus kayak gini?

***

Katakanlah aku cukup beruntung dalam hidup ini, aku nggak menampik itu. Tapi, pasti kita juga berpikir, jika keberuntungan datang setepat waktu itu, hal paling nggak masuk akal apa yang bisa terjadi dalam hidup untuk mengimbanginya?

Apakah sepadan, misalnya, keberuntungan dalam bentuk materi berlimpah dibarengi dengan suami yang otaknya di selangkangan? Kalau di kasus orang itu, kayaknya aku nggak sanggup sih. Kayak membayangkannya aja aku nggak sanggup, segimana frustasinya jadi istri yang suaminya sangat terobsesi dengan tetek teman sekantornya.

Tapi ya, bisa juga aku berpikir begini karena aku lahir dan besar dengan nggak punya apa-apa yang harus kupertahankan kecuali harga diri dan diriku sendiri. Jadi kupikir bahwa dalam pernikahan pun aku nggak akan 'mempertahankan' sebegitunya, toh itu cuma pernikahan.

Beda halnya kalau misalnya aku dari keluarga konglomerat yang terhormat, yang padaku melekat segala status, wibawa, dan nama baik, yang hanya akan tetap melekat jika aku bertahan pada nilai-nilai yang dianggap normatif di masyakarat, bahwa perempuan yang baik adalah yang bertahan pada pernikahan, berkorban untuk keluarga, dan menjadi pakaian yang menutup aib suaminya.

Aku dan suamiku kan.. miskin ya, jadi ya, lucu aja ngebayanginnya. WKWK.

Pada akhirnya aku tetap percaya pada teori Sternberg, memang ada tiga fondasi dalam cinta itu; hasrat, kedekatan, dan komitmen. Tapi aku menolak komitmen sebagai hal yang final. Menurutku ketiganya harus tetap ada, harus balance. Pernikahan tanpa komitmen, bukan lagi pernikahan. Pun pernikahan tanpa hasrat dan kedekatan.

Tentu ini cuma berlaku di aku ya. Psikologi kan sangat individual. Dan sekali lagi nggak ada ilmu pasti yang bisa mengajarkannya dengan precise.

Tiga Puluh Tahun

Bloom with grace, courage, and resilience, and inspire others to do the same.

Beberapa waktu lalu ketika ke Singapore, aku berkesempatan ketemu dengan mantan atasanku; salah satu orang terpenting yang membentukku secara pribadi dan profesional seperti sekarang. Dalam pertemuan kami yang singkat itu — karena beliau luar biasa sibuk, dia menanyakan kabarku dan kubilang bahwa saat ini aku sedang ‘living the best time of my life’.

Tentu bukan tanpa alasan aku bicara demikian, karena nampaknya, setelah 30 tahun aku hidup, aku merasa aku baru bisa memaknai hidupku sebaik ini.

Ah, 30 tahun. Angka genap yang sempurna.

Di usia 30 tahun, aku merasa energiku sebaik ketika aku 20 tahun. Namun, di masa ini, psikisku berkembang jauh lebih baik. Aku jadi kalem dengan segala hal, melihat tragedi jadi komedi, dan aku lebih rileks untuk semua hal yang nampaknya tidak bisa kukontrol. Secara penuh pula, aku merasa lebih mencintai diriku — yang seumur hidup kupertanyakan apakah aku cukup baik, apakah cukup layak dicintai, apakah cukup pintar, apakah cukup menarik?

Barangkali karena hal-hal yang dulunya ingin kuvalidasi, sekarang sudah tidak lagi — atau mungkin sudah?

Sesederhana pertanyaan soal pasangan. Dulu di usia 20, aku kerap bertanya-tanya apakah aku sungguhan akan ketemu orang yang dengannya aku bisa menikah dan membangun keluarga? Pada saat itu, di lingkaranku yang terbatas, aku merasa tidak terlalu tertarik dengan laki-laki lebih dari teman. Kalaupun ada satu dua yang membuatku tertarik, itu sebatas rasa penasaran. Artinya, untuk jangka 10–20 tahun pun aku tidak melihat bagaimana jalannya kami bisa bareng.


Hal kedua adalah soal pekerjaan. Di usia 30 ini, aku akhirnya sadar sudah 10 tahun aku bekerja. Memang sih, kerja fulltimeku baru mulai sekitar 8 tahun lalu, tapi secara profesional, sebenarnya aku sudah mulai bekerja sejak 2015 ketika mengambil project-project di kampus ataupun freelance di berbagai tempat.

Sebagai lulusan psikologi yang iseng masuk ke tech company, mengambil role jadi marketer, lalu ke product, aku selalu mempertanyakan ke diriku sendiri apakah bekerja memang sudah seperti ini yang benar?

Kerja itu.. sangat kompleks. Berbeda dengan sekolah atau kuliah yang punya kurikulum jelas, ada batas waktu dan nilai yang jelas, dalam bekerja, itu semua abu-abu. Terlebih aku memilih bekerja di industri yang terhitung baru. Di pekerjaan yang kugeluti sekarang, aku merasa tidak ada orang yang 100% expert. Orang dengan banyak pengalaman, mungkin banyak, namun yang sungguhan expert, kurasa tidak ada.

Pertemuanku dengan mantan bosku di Singapore beberapa waktu lalu menjadi pengingat penting, betapa dulu, ketika aku masih bekerja dengan dia, aku kerap bertanya-tanya, “Kerjaanku kayak gini ini udah bener nggak, sih?” Lalu, dia yang notabene 10 tahun lebih awal bekerja, dengan bijak bilang, “There’s no such an expert in our industry.”

Jawaban seperti itu, somehow, dulu kupandang sebagai kegamangan, membuatku tidak yakin apakah tempat ini sungguh tempat yang benar untuk belajar atau aku cuma sekadar main-main menghabiskan waktu?


Hari ini berarti sekitar 8 tahun sejak aku bingung-bingung menceritakan kecemasanku, mencari validasi dari atasanku, bingung gimana menjelaskan dengan Bahasa Inggris yang terbatas, atau bingung memenuhi ekspektasi dan cara kerjanya yang Singapore banget!

Lucunya aku sekarang masih kerja dengan orang Singapore, di kantor yang culturenya Singapore banget — surprisingly mereka ini kolega yang aku bisa kerja seanteng itu saking nggak adanya drama dan unggah-ungguh bullshit. Aku ternyata sudah bekerja selama itu dan alih-alih merasa expert, aku justru merasa makin ingin belajar lagi dan makin ‘malu’ untuk koar-koar soal keahlian atau pekerjaanku meski produkku digunakan lebih dari 15 juta orang — selain memang kantorku sangat membatasi kami untuk bicara soal pekerjaan wqwq.

Bisa dibilang, soal pekerjaan, aku sudah tidak lagi sibuk memvalidasi. Ini bukan berarti aku sudah puas, ya. Tapi, aku sampai di titik yang merasa bahwa bekerja itu seperti halnya orang marathon, bukan sprint. Mungkin kecepatan tinggi matters, tapi itu bukan yang utama. Karena yang terpenting adalah pace untuk sampai finish yang sangat jauh dan lama. Bayangkan jika aku pensiun di umur 60 tahun, berarti aku masih punya 30 tahun lagi untuk ‘lari’.

Aku mulai mengurangi keteganganku dengan hal-hal yang kurang perlu, terlebih jika menyangkut pekerjaan. Karena, yah, bekerja akan masih sangat lama bagiku. Hal terpenting saat ini adalah tetap membuka diri untuk belajar, stay hungry, stay foolish — untuk ini aku setuju kata-kata orang kaya.


Terakhir, barangkali ini yang paling penting, di umur 30 tahun aku mencintai diriku secara menyeluruh. Aku merayakan semuanya. Aku memastikan tubuhku sehat lahir dan batin. Aku berolahraga rutin, setidaknya seminggu sekali aku yoga, ke gym paling nggak tiap 2 hari sekali. Belakangan bahkan aku ikut kelas renang agar opsi olahraga cardio-ku bertambah setelah aku cedera dan nggak bisa lari.

Seumur hidup tumbuh jadi perempuan Jawa berkulit gelap, aku berada di fase yang se-tidak-masalah itu dengan warna kulit. Tentu bekerja dengan kolega yang 96% Chinese, baik itu Indonesian-Chinese, Malaysian-Chinese, Singaporean-Chinese, ataupun Chinese yang beneran dari Mainland, membuatku sadar, sia-sia belaka mengupayakan kulit terang. HAHAHA.

Ternyata, orang memang tidak menilaiku dari warna kulitku, sukuku, asal rasku, bahkan orang tidak melihatku lulus sekolah dari mana — somehow lulusan kampus Slemat at some point membuatku inferior setengah mati di antara lulusan kampus-kampus Singapore, Aussie, ataupun dari US. Dan hal-hal itu, somehow membuatku lebih bisa menertawakan hal-hal yang dulu kuanggap sebagai tragedi.

Aku kini santai aja membicarakan kedua orang tuaku yang tidak pernah kuliah. Aku bahkan terang-terangan mengatakan kami miskin. Alih-alih menutupi akar, dan berpura-pura datang dari keluarga bangsawan kabupaten, aku lebih ingin menjuntaikan cabang-cabangku semakin jauh, semakin lebar, dan ke mana-mana.

Aku bahkan mulai mencari waktu untuk mengajak kedua orang tuaku ke Singapore agar mereka juga melihat kota yang selama ini kugadang-gadang sebagai tempat yang ideal untuk sekolah anakku kalau suatu hari aku punya anak. Aku mau membagi hal-hal yang sekarang terlihat sederhana bagiku, tetapi bagi orang tuaku mungkin jadi pengalaman luar biasa. Orang tuaku yang nggak pernah kuliah, yang punya paspor pertama kali di umur 50an — itupun cuma kepakai karena pergi haji, yang hidup dan mimpinya sangat sederhana; bisa menghadiri wisuda anaknya di UGM.

Tentu aja mereka nggak akan kepikiran kalau anak dan menantunya kalau kerja sekarang harus full kemenggres dan bahkan anaknya sekarang lagi struggling menghafal hanzi biar kalau tinggal di hotel di Chinatown lagi, lalu ketemu orang yang hanya bisa Bahasa Mandarin, nggak bingung harus ngomong pakai Google Translate. HAHA.

Aku mencintai diriku sepenuhnya dan aku mengupayakan perayaan-perayaan untuk diriku yang mau sabar dan belajar. Tentu saja sangat manusiawi kalau ada satu dua hal yang aku sesali, terutama kenapa aku sangat khawatir Tuhan nggak adil padahal belum pernah sekalipun Ia tidak menjawab permintaanku — meski kadang membingungkan.

Selamat ulang tahun, Ervina. Semoga di umur ini, kamu terus bertumbuh dan tetap bertumbuh.


Tulisan dipublikasikan juga di Medium.

Post di 2024


Tulisan ini mungkin adalah tulisan pertama sekaligus terakhir di blogku tahun ini.

Ah blogku yang kubeli dengan domain atas namaku, yang tiap tahun kuhidupi dan kuperpanjang sewanya, entah kenapa beberapa tahun terakhir ini aku tidak punya energi untuk menulis di sini, meski aku masih cukup produktif di Medium.

Entahlah. Mungkin karena di Medium aku merasa lebih interaktif, aku melihat orang membaca dan mendapatkan sesuatu dari tulisanku. Sementara blog ini relatif sunyi. Komunitas blogger tidak seramai jaman aku SMA dulu --yang bahkan aku jadi bisa berkawan dan mendapatkan teman di dunia nyata berkat tulisan-tulisan random di blog.

Bagaimanapun aku sudah membayar domain atas namaku dan mau tidak mau aku harus menulis. Di akhir tahun 2024 ini, aku menggunakannya untuk refleksi atas apapun yang terjadi dalam setahun terakhir.

Aku sudah lama tidak punya goal tahunan yang spesifik. Seingatku, keinginanku setiap tahun selalu sama: bisa bahagia terus.

Tahun 2024 aku rasa adalah fase 'norming' setelah tahun-tahun sebelumnya aku merasa badai bertubi-tubi datang. Aku masih punya beberapa sesi konseling dengan psikolog meski sekarang relatively stabil. Secara pribadi, di tahun ini aku merasa berkembang. Bukan hanya karena usiaku memang secara default bertambah, tetapi juga karena di tahun ini aku memulai hal-hal baru yang tidak kulakukan sebelumnya.

Di tahun ini untuk pertama kalinya aku rajin olahraga. Memang sih, cuma yoga. Tapi meski cuma yoga, aku merasa lebih fit. Aku jadi lebih sering menggunakan public transportation ke kantor menghindari kesemrawutan Kota Jakarta, menikmati setiap langkah di trotoar jelek negara yang sebentar lagi PPN-nya 12%.

Berjalan kaki (dan menggunakan transportasi umum) at some point jadi terapi sendiri, karena aku jadi belajar untuk rileks namun sekaligus memanage waktu dengan lebih baik. For some context, public transportation yang kupilih dari dan ke kantor punya jadwal spesifik yang harus diikuti karena jumlahnya terbatas --lagi-lagi karena aku tinggal di negara yang sebentar lagi PPN-nya 12%.

***

Di tahun ini, pernikahanku dengan Angga melewati tahun ketiga. Artinya lebih dari 7 tahun kami mengenal satu sama lain. Tentu saja dalam setiap dinamika hubungan, ada fase-fase yang masih sering membuatku syok dan hah-hoh, namun the way we manage the conflict udah jauh lebih baik. Akhirnya kami berdinamika sebagai pasangan yang 'lebih' dewasa and I need to somehow appreciate my husband for his continuous effort to make things better.

Angga just got his 'dream job' in one of the biggest tech companies in the world and it makes this year even wonderful than ever. After years working for global tobacco industry, now he's moving to zio**** corporation. WKWK.

Meski masih sama-sama berstatus kelas pekerja, aku realise dalam beberapa tahun ke belakang ini kehidupan kami jauh membaik, terutama dari segi ekonomi. Dan aku luar biasa bersyukur atas itu. Aku nggak pernah membayangkan sebelumnya bahwa aku bisa melunasi hutang ratusan juta, membayar biaya haji kedua orang tuaku, dan sekarang aku mensupport hidup keponakanku yang ditelantarkan bapaknya yang bajingan.

Meski dengan semua pengeluaran yang darderdor dan wasweswos itu, aku tidak merasa kekurangan. Mungkin ini kali ya, yang disebut dengan konsep rezeki. Rasa-rasanya dewasa ini aku bersyukur sekali pada Tuhan untuk semua hal yang sudah terjadi di masa lalu yang membawaku sampai di titik ini. Kayak ini cukup menggambarkan hidup yang dulu-dulu aku cuma membayangkan gimana rasanya, tapi sekarang aku tahu.

***

Selama hidup, aku adalah orang yang selalu yakin pada pilihan yang kuambil. Dan sejauh ini, pilihan-pilihan itu belum pernah mengecewakan. Satu-satunya hal yang kurasa masih gamang adalah keputusan apakah aku akan punya anak atau tidak.

Jujur setelah keponakanku lahir, keraguanku untuk punya anak meningkat beberapa level. Bukan lagi pada alasan-alasan ekonomi seperti mahalnya biaya punya anak, tapi juga ke alasan-alasan yang lebih fundamental seperti, kenapa sih aku harus melahirkan satu manusia lagi ke bumi? Apa urgensinya? Bagaimana kalau suatu hari nanti anakku menanyakan hal semendasar ini?

Meski aku mensyukuri hidupku, namun jauh di dalam pikiranku aku belum menemukan alasan kenapa orang tuaku harus melahirkan aku? Kenapa mereka harus punya anak?

Tentu sebagai orang tua yang tidak tersentuh pendidikan tinggi, mereka nggak akan memberikan jawaban yang memuaskan ketika kutanya. Yang ada aku cuma akan dapat jawaban-jawaban nonsense bahwa anak penting untuk melanjutkan keturunan, untuk menemani di hari tua, dll --hal-hal yang nggak beneficial di sisiku sebagai anak yang dilahirkan dan dituntut struggling sepanjang hidupnya.

Secara umum, aku bahagia dengan hidupku. However aku tidak bisa memastikan jika ada satu manusia lagi yang keberadaannya ada karena pilihanku, ia bisa merasakan hal serupa. Jadi sampai sekarang aku masih bingung.

Suamiku tipe orang yang pasif-agresif, dan aku pikir ia pun tidak memiliki jawaban dan alasan valid kenapa kami harus punya anak.

Pada kondisi seperti ini, aku sedikit bersyukur memiliki orang tua seperti orang tuaku, karena mereka jadi tidak punya hak sedikit pun mengatur hidupku. Semua pilihan ada di tanganku.

***

Well, secara umum kurasa tahun 2024 adalah tahun yang baik untuk melanjutkan hidup. Dan aku berharap di 2025 hal-hal baik juga akan terjadi.