Dalam Dunia yang Lain


Belakangan ini, dengan privilege yang bertambah, aku memiliki kegemaran baru, yakni mengoleksi buku. Aku menyukai buku sejak kecil dan aku hampir tidak pernah tidak membaca buku dalam hidupku. Tapi menjadi WNI, lahir di keluarga yang tidak kaya-kaya amat, membuat aksesku terhadap bacaan tidak sebagus itu. Orang tuaku tidak membaca buku. Mereka suka-suka aja sih, hanya tidak punya akses pada bacaan dan tidak punya waktu luang. 

Maka tidak heran jika salah satu trauma kemiskinanku adalah hidup dengan buku-buku.

Soal bacaan, jujur aja aku nggak punya selera. Sepertinya aku membaca sesuai umur. Saat kecil, aku membaca buku-buku macam Lupus, Lima Sekawan, dan beberapa buku cerita anak Islami karena pengaruh lingkungan yang agak religius. Lalu aku membaca teenlit saat SMP dan SMA. Di antara buku-buku teenlit itu, aku membaca Laskar Pelangi, Ayat-Ayat Cinta, dan Bumi Manusia sekaligus. 

Oh, tidak ketinggalan aku juga membaca puisi. Aku membaca puisi-puisi Taufik Ismail, Chairil Anwar, dan WS Rendra di perpustakaan sekolah. Saat mengenal internet, aku membaca Omar Khayyam. Aku tidak membaca banyak non-fiksi, kecuali buku-buku pengembangan diri macam Chicken Soup atau buku yang randomly dihadiahkan beberapa teman dan dari acara organisasi pelajar dan pemuda yang rajin kuikuti waktu remaja.

Baru saat kuliah bacaanku agak meluas. Aku mulai membaca buku berbahasa asing lebih sering. Aku mengenal buku-buku filsafat, psikologi, politik, ekonomi, dan dari semua itu aku tetap menyukai buku fiksi. WKWK.

Namun, pembacaanku terhadap fiksi benar-benar berubah seiring dengan meningkatnya usia. Saat pertama kali menemukan Bumi Manusia, waktu itu aku SMP, otakku yang belum terdevelop sempurna tidak mampu membacanya. Namun di umur 30an, aku membaca Bumi Manusia dan buku-buku lanjutannya dengan meradang karena rasanya kita masih hidup di era kolonial. Aku makin benci dengan penguasa.

Pun saat dulu aku bahkan kepikiran ingin ke Mesir dan menikahi anak rohis karena membaca Ayat-Ayat Cinta. Di umur sekarang, aku membacanya sambil marah —marah kenapa dulu aku sampai menabung untuk beli buku ini, bajingan!

***

Dalam lima tahun terakhir, buku-buku yang kubaca sangat mempengaruhi caraku bersikap dan bertindak. Pada level tertentu, aku mempertanyakan keputusan-keputusan besar yang kuambil sebelum aku cukup 'dewasa' menurut ukuranku. Misalnya saja, salah satunya adalah menikah. Like.. kok bisa aku menikah di umur 26 tahun? Ya suamiku umurnya udah 30an saat itu, tapi aku masih muda banget, kan?

Aku sendiri bahkan sekarang bingung.

Am I unhappy with the marriage? I don't think so. Dibilang kecewa enggak, tapi dibilang satisfied banget juga nggak juga. Dalam lima tahun terakhir aku merasa pernikahanku seperti orang pacaran yang divalidasi dengan hukum negara dan diterima secara sosial dan budaya saat kami hidup bersama. Di satu titik, kadang aku memang yakin, menikah itu seserius itu —seperti yang pernah kutulis dalam post Medium-ku. Tapi pada banyak titik yang lain, aku tidak terlalu yakin perasaan itu signifikan dan apakah perasaan itu dialami juga oleh pasanganku.

Aku tidak tahu yang terjadi dalam pernikahan lain, tapi kurasa sampai sekarang pasanganku masih kikuk dengan fakta bahwa dalam pandangan hukum dan sosial, kami adalah pasangan. Maka saat kemarin hotel tempat kami menginap memberikan romantic decoration saat membereskan kamar kami, dia justru bingung.

Pada pasangan normal lainnya, aku rasa orang-orang sampai request dan mau membayar, tapi di pasanganku, itu membingungkan. Soal ini aku bisa membahas panjang dalam post lain, tapi yang kupikirkan adalah dengan segala hal baru yang kuterima dan kupelajari, aku merasa aku menjadi individu baru dengan segala ekspektasi yang berbeda daripada diriku lima tahun lalu.

Tapi, kadang aku juga berpikir, jika segala hal yang kuterima dan kupelajari ini mengubahku menjadi 'individu lain', apakah mungkin jika suamiku juga berpikir dia menikahi orang lain lima tahun lalu? Atau malah sepuluh tahun lalu saat kami saling kenal?

Di kepalaku sendiri, suamiku juga menjadi individu yang berbeda. Aku merasa dia bukan orang yang kunikahi bertahun-tahun lalu. Dan apakah dengan perubahan-perubahaan itu kita masih bisa cocok satu sama lain? Inilah pertanyaan besar soal pernikahan yang dari dulu menghantuiku.

Sebelum aku menikah, sebenarnya aku sudah memikirkan hal ini. Namun, sekarang setelah benar-benar menjalaninya, dengan segala kompleksitas berpikirku akibat bacaan yang bertambah, aku makin berpikir, dan berpikir. Dan saat kompleksitas berpikirku mencapai puncak, aku ingat sebuah kutipan tulisan dari penyair Mahmoud Darwish.

Katanya, "We went too far in our thinking and forgot that our destinies are written."

Demikianlah menjadi pembaca kadang-kadang menyulitkanku. Maka sesekali aku cukup iri dengan orang tidak tahu apa-apa atau simply tidak mau tahu. Berbahagialah mereka yang hidup dalam ketidaktahuan, karena mengetahui sesuatu membuat dia berpikir, dan berpikir membuat dia merasakan sesuatu.

***

Meski demikian aku tetap memutuskan membaca dan membeli buku. Terlebih buku-buku lama. Buku-buku itu, yang ditulis puluhan dan ratusan tahun lalu, aku sungguh berpikir penulisnya luar biasa. Mereka membawaku tepat pada hari-hari di mana peristiwa itu terjadi. Misalnya saat membaca Anna Karenina, aku sungguh merasa di tengah-tengah pertunjukan teater dan membayangkan pandangan sinis orang-orang menghakimi, ituloh perempuan yang ninggalin anak dan suaminya buat kabur sama laki-laki lain.

Atau misalnya saat membaca No Longer Human, aku benar-benar merasa sedang di Mitaka, berjalan di gang-gang kecil yang di ujungnya ada kedai minuman keras, lalu aku melihat pemuda setengah mabuk sedang berbincang dengan pegawai wanita penjaga kedai.

Saat aku benar-benar berjalan-jalan di Ginza, aku membayangkan di supermarket mana ya, dulu si orang dalam cerita Hantu Ginza itu mati terlilit tali balon udara? Dan beginikah Ginza rupanya? Agak beda dengan Ginza yang kulihat 100 tahun lalu, yang dipenuhi lampu-lampu neon pada malam hari dan gedung-gedung bertingkat yang di atapnya terdapat balon-balon udara untuk promosi.

Buku membawaku pada dunia-dunia yang lain yang tidak ada dalam kehidupanku saat ini. Seperti juga sinema. Hanya jika lewat buku, imajinasiku lebih personal, karena aku memvisualisasikan dalam kepalaku sesuai apa yang kumau, hal-hal yang tidak realistis, hal-hal yang sulit, hal-hal yang dalam kehidupanku saat ini tidak mungkin kutemui.

Aku tidak tahu apakah reinkarnasi benar-benar ada, tapi pun jika tidak ada, buku membantuku masuk dalam dunia yang lain; dunia yang mungkin tidak kumiliki dan tidak perlu kusembuhkan susah-payah sambil berperang melawan trauma pada diri-sendiri karena dilahirkan.

Aku tidak tahu apakah reinkarnasi benar-benar ada, tapi pun jika ada, aku tidak mau lahir lagi. Hidup barangkali menyenangkan, tapi aku setuju, yang paling beruntung adalah yang tidak pernah dilahirkan.