Tampilkan postingan dengan label ervinalutfi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ervinalutfi. Tampilkan semua postingan

Menuju Seperempat Abad


Meski tidak sepenuhnya senang bahwa ternyata saya masih semuda ini, nyatanya saya cukup merasa senang, oh bukan senang, lebih tepatnya merasa cukup rileks. Oh iya, saya masih umur segini, rasa-rasanya perjalanan masih sangat jauh meski siapapun di antara kita tidak ada yang tahu umurnya sampai berapa lama.

Mari menyemogakan semesta masih bersahabat untuk kita hidup lama-lama di bumi tanpa terlalu banyak perasaan susah dan menderita.

Bagi saya yang tahun ini 24 tahun, ya, beberapa bulan lalu lebih tepatnya, ada beberapa hal yang kemudian saya pikirkan lagi sebagai bagian dari perjalanan-perjalanan saya. Pertama adalah keharusan untuk berpikir ulang bahwa selama ini saya terlalu buru-buru. Kedua adalah tentang menikmati apapun proses yang saya alami di waktu-waktu ini. Ketiga adalah tentang keyakinan bahwa Tuhan Maha Baik dan Ia memberikan saya orang-orang terpilih untuk melewati tahun-tahun saya ke depan dan seterusnya.

Mari kita menghela napas dalam-dalam.. dan lepaskan dengan perlahan.

Beberapa hari ini saya sedang disibukkan dengan kegiatan baru, yakni meditasi selepas kerja. Biasanya di kamar kost saya yang atmosfernya asik sekali untuk tidur, saya cuma berbaring. Saya menemukan sebuah aplikasi yang memandu saya melakukan meditasi selain ingatan pada percakapan-percakapan saya dengan teman-teman.

"Kamu kalo salatnya khusyu' juga rasanya sama seperti meditasi," katanya suatu waktu. Aku mengamini, tapi sungguh setan apa yang bercokol di diri saya, bahkan ketika salat pun saya terpikirkan hal-hal buruk.

***

Pada waktu-waktu belakangan ini, saya seringkali dilanda cemas. Saya cemas pada diri saya, pada orang-orang di sekitar saya, pada orang-orang yang mungkin akan hadir di hidup saya, pada setiap kemungkinan dan bayangan-bayangan di kepala saya. Semua hal hadir bergantian dan rasanya semenyeramkan itu.

Seperti laiknya orang depresi, malam hari terasa lama dan panjang sekali. Saya mencoba mencari pertolongan tapi saya pun tidak tahu bagian apa dalam diri saya yang mesti ditolong. Rasanya hanya semuanya kosong, lalu saya kerap berpikir, bagaimana seandainya saya tidak di sini, bagaimana seandainya hal-hal traumatis bertahun lalu dan di tahun-tahun kemarin tidak pernah terjadi di hidup saya? Akankah semua hal baik-baik saja? Apakah saya akan di sini? Apakah saya akan bertemu orang-orang ini?

Saya tidak tahu.

Seseorang bilang pada saya bahwa dalam hidupnya, jika ada satu hal yang ingin sekali diubah dalam hidupnya adalah bagian yang cukup mengacau dalam dirinya, yang bercokol sekian lama sejak ia hadir di dunia hingga saat ini.

Tapi, bagaimana mungkin? Bukankah jika tanpa hal-hal buruk itu, kita tidak bertemu? Apakah hingga sekarang, kamu masih menganggap saya adalah bagian dari mimpi buruk yang masih menghantuimu sampai saat ini? Bagaimana bisa?

***

"Apakah menurutmu kamu setangguh itu?"
"We are."

Lalu ia memberi kecupan manis.

Mengapa saya tidak bisa melihat hidup kita seperti naik wahana ekstrem di Dunia Fantasi; menakutkannya hanya ketika dibayangkan dan disaksikan dari jauh. Ketika kita mulai melangkah dalam antrian, lalu akhirnya terduduk dan diikat sabuk pengaman, kita bisa apa?

Tentu sebagai makhluk beriman saya tidak boleh menyalahkan Tuhan. Paling-paling saya menganggap-Nya suka bercanda.



Dari Mana Datangnya Asmara? — Pertanyaan Kedua


Seperti Sukab, aku potong dini hari ini seukuran kartu pos. Tentu agar kamu melihatnya sendiri tanpa aku harus susah-susah bercerita.




Di Jakarta udara lembab dan sedikit anyir. Tidak ada darah, hanya anyir yang aneh dan menusuk hidung. Dari kejauhan, kulihat geliat orang-orang di balik kaca-kaca jendela apartemen. Sebagian dari mereka bangun untuk bekerja, sebagian lagi bangun dari bekerja. Jakarta memuat banyak hal yang sebelumnya tidak kupahami sebagai realitas. Sebab sebagai anak yang tumbuh dengan sangat normal dan baik-baik saja, aku tidak pernah diajari hal-hal begini.

Di benakku banyak hal asing dari Jakarta yang mengakrabiku baru-baru ini. Banyak hal seperti cerita-cerita tidak tuntas dan banyak episode random perihal ingatan tentang kota yang pernah kusinggahi.

Oh, sejak kemarin aku meringkuk di kamarku yang berantakan. Kutanyai satu-satu; bantal, perabot keramik, selimut tempatku bergulung-gulung, “Dari mana? Dari mana datangnya asmara?”

Tapi seperti semua benda mati, mereka diam.


Bagiku, kamu adalah seorang flâneur.

Berapa kali aku sudah mengatakan itu di depanmu? Aku lupa.

Dulu di abad ke-16, flâneur menunjukkan sebuah kebiasaan orang-orang yang gemar menyusuri jalan. Mereka menikmati udara senja atau pucuk bunga yang mulai merekah di musim panas. Kata ini berkonotasi dengan aktivitas untuk kaum aristokrat yang kebanyakan waktu — nyelo macam orang-orang kaya penuh privilege yang kerap kita nyinyiri di percakapan kita akhir-akhir ini.

Namun, belakangan, kata ini menjadi ambivalen. Ada campuran arti antara cita rasa orang yang melakukan perjalanan untuk memenuhi keingintahuan dan keinginan mempelajari budaya setempat. Hal ini pun kemudian memberikan penafsiran dan makna yang sama sekali berbeda ketika dulu flâneur diartikan sebagai pengelana yang berjalan ke mana saja dan tanpa tujuan. Menyaksikan flâneur seperti melihat gambaran bergerak dari sebuah kehidupan urban.

Perihal ini aku paling suka pandangan Charles Baudelaire. Katanya, bahwa keramaian dalam perjalanan adalah rumah bagi flâneur; seperti ikan dengan airnya. Kegairahan dan pekerjaannya melebur menjadi satu di dalam keramaian.

Seorang flâneur akan terus mencari, dan membangun rumah di dalam aliran dan gerakan perpindahan. Dia merasa telah meninggalkan rumah, tetapi berhasil membangun sebuah rumah di dalam perjalanannya.

Kau adalah seorang flâneur. Dan kau, menolak untuk berumah pada apapun yang kau singgahi hingga hari ini.


Bertahun lalu ketika kau pertama kali menyapaku, bagiku hari itu sangat ganjil. Mengapa Tuhan membuat garis waktu kita bertemu?

Aku perempuan patah hati yang mencari jawaban melalui mimpi. Kamu pengelana yang kehilangan arah dan tidak punya tujuan pun jalan kembali.

Aku tidak ingat apapun selain penolakan, aroma kopi, kepulan asap dari rokok yang kau hisap dengan frustasi atau sesekali tenggakan bir dari dua orang yang sama-sama patah hati.

“Aku tidak mencarimu,” katamu berulang kali.

“Aku juga tidak mau bertemu denganmu.”

Aku kekeuh. Meski di dalam hati aku punya sebuah rahasia kecil yang diam-diam mengantarku pada penyesalan. Sungguh aku memang mencari sesuatu selama ini, dan salahku adalah tidak pernah mempertegas apa yang sesungguhnya aku cari.

Maka ketika akhirnya pencarianku justru bermuara pada dipertemukannya dua orang patah hati ini pada suatu konflik yang chaos, aku cuma menggumam, “Ya Tuhan, aku koreksi, boleh?”


Kau tertawa setiap kali kubilang betapa tidak serasinya kita. Kita adalah dua polar yang saling bertolak belakang namun celakanya, tidak bisa menolak satu sama lain; seperti magnet kutub utara dengan kutub selatan.

Pada hari-hari yang ganjil ketika aku kerap menyesal sekaligus bersyukur pada satu waktu, aku hanya tahu, kita tidak mungkin bertemu untuk sebuah kejanggalan. Pasti ada sesuatu yang mau Ia ceritakan. Pasti ada sesuatu yang mau Ia sentuh dari kisah rumit kita yang bahkan hingga hari ini masih sulit kucerna.

Maka berjalanlah waktu dan episode demi episode akhirnya kita lewati — meski dengan babak-belur.


“Seorang flâneur tidak berumah, kamu tahu, kan?” tanyaku lagi.

“Aku bukan flâneur,” katamu.

“Kalau iya?”

“Kalau iya, aku tidak di sini,” ujarmu lagi, lalu mengecup bibirku. Di lantai sebelas apartemen ini aku kembali mengakrabi aroma tubuh yang dalam dua tahun belakangan ini kucoba untuk lupakan. Barangkali ini keputusan yang berat. Sebab setelah hari ini, aku, kami, tidak akan ke mana-mana lagi.

Laki-laki itu kekeuh tidak mau pergi. Sekali lagi, kedatangannya sangat ganjil sebab ia begitu saja ada dan tiba-tiba.

I’ve been wandering but now I know I’m home
Kata orang, mencintai berarti membersamai untuk apapun yang terjadi di antara mereka. Hidup bersama adalah tentang memiliki tujuan-tujuan serupa. Bertahun-tahun kucari tujuan itu, namun tak juga kutemukan apa. Pertanyaanku masih selalu sama, “Dari mana datangnya asmara?”

Love is talked about frequently, but it’s so hard to define.

Tentang Mengapa Bukan Perokok


Meskipun bukan anggota 9cm, aku selalu berterus-terang pada dunia bahwa aku tidak menyukai perokok dan tidak pernah mentoleransi keberadaan mereka di sekitarku. Bukan aku melarang mereka merokok, tentu itu hak mereka.

Aku hanya melarang mereka ada di sekitarku. Dan, karena menyadari bahwa meminta perokok untuk mengembalikan hakku untuk bebas bau rokok adalah suatu hal yang sia-sia, aku lebih memilih mengontrol diriku sendiri; untuk menjauh, sejauh-jauhnya.

Maka yang kubersihkan pertama kali adalah orang-orang di sekitarku.

Suatu hari, ketika masih kuliah, seorang temanku yang pada waktu itu kebetulan bukan perokok, menanyakan, "Kenapa di Psikologi, setiap orang selesai diminta mengisi kuisioner, selalu diberi hadiah?"

"Itu etika sih," kataku.

"Lalu kalau hadiahnya rokok?"

"Mungkin dia sedang meneliti subjek perokok. Itung-itung ucapan terima kasih, kan?"

"Terus kenapa kamu nggak memberi hadiah rokok?"

Hmm aku berpikir sebentar merangkai kata-kata yang pas.

"Sebenarnya, terlepas dari bagaimana sikapku pada rokok, pada perokok, atau bahkan ideologi para perokok pun, aku cuma belum pernah membeli rokok sih. Jadi aku merasa aneh aja kalau tiba-tiba aku membeli rokok untuk kuberikan pada subjekku."

Rokok adalah sesuatu yang asing karena sejak kecil aku hampir tidak pernah melihat orang di sekitarku merokok. Laki-laki, perempuan, tidak ada yang kulihat mereka merokok di sekitarku.

Meski akhirnya beberapa kali aku mendapati Bapak mencoba-coba rokok, misalnya ketika srawung di hajatan tetangga, aku tidak melihatnya sebagai perokok. Meski begitu, sama sepertiku, Bapak tidak pernah melarang seseorang merokok.

Pernah suatu kali, ia mendapati adik laki-lakinya yang masih SMA merokok. Alih-alih melarang, dia cuma bilang, "Mau merokok ya silakan, tapi jangan pakai uangku."

Cukup adil karena pada waktu itu Bapak yang membiayai sekolahnya dan dari uang yang ia keluarkan itu, dibelikan rokok. Selebihnya tidak ada larangan-larangan secara khusus dan mungkin itu juga yang membentuk kami semua; baik aku maupun adik-adik laki-laki Bapak, akhirnya tidak ada satupun yang menyukai rokok.

Aku pikir Bapakku bukan orang dengan treatment kesehatan khusus yang menyukai gaya hidup sehat sehingga ia tidak merokok. Bapak sangat tidak sehat; malas olahraga, nggak doyan sayuran, jam tidur dan makan tidak teratur. Bapak juga bukan orang yang memiliki ideologi khusus sehingga baginya rokok haram. Ia hanya merasa, sebagai laki-laki, terlalu egois kalau merokok.

Padaku suatu hari ia bilang, "Kalau cari suami jangan yang perokok. Itu aja syaratnya."

"Kenapa?"

"Laki-laki perokok itu kan egois ya. Bayangkan kalau sehari Bapak beli rokok misalnya 15 ribu, rokok itu dihabiskan Bapak sendiri. Dengan uang yang sama, kalau 15 ribu itu diberi ke Ibumu, misal, bisa dibelikan lauk untuk makan orang serumah, sejelek-jeleknya masih dapat tempe, kita semua kenyang. Jadi, jangan mau sama perokok soalnya itu pasti laki-laki egois."

Bapak tidak bisa beretorika karena mungkin bacaannya nggak se-ndakik-ndakik orang sepertiku. Dia mungkin juga bukan feminis karena belum tahu banyak orang menganggap nilai kesetaraan soal siapa yang boleh merokok dan siapa yang memasak di rumah itu bukan perkara laki-laki atau perempuan, tapi dari kesederhanaan pikiran-pikirannya perihal perokok ini, bagaimanapun aku setuju.

***

Ketika aku dewasa, beberapa orang di sekitarku perokok. Tentu sekali lagi pada mereka semua aku tidak pernah memaksa mereka untuk berhenti merokok, tapi kubilang pada mereka, bahwa sepertimu yang berhak merokok, akupun berhak menjaga jarak dengan perokok.

"Jauhi semua orang yang merokok, laki-laki, perempuan, aku cuma nggak suka keberadaan mereka di dalam lingkaranmu yang otomatis berkaitan dengan lingkaranku atau aku yang mengeluarkan dan menjauhkanmu dari lingkaranku."

Hal ini sudah final dan tidak dapat diganggu-gugat.

***

Ketika mendapati seorang teman baikku terkena penyakit yang cukup serius berkaitan dengan paru-parunya, aku cukup kaget. Setauku dia bukan perokok.

"Memang bukan aktif, tapi pasif. Bapak, saudara, teman-temannya," kata temanku menimpali.

Aku tahu sakit bisa menimpa kapan saja dan siapa saja, bukan masalah apakah dia perokok, dikelilingi perokok, atau apapun itu. Tapi aku selalu berdoa, semoga bapaknya tidak merasa bersalah pada satu-satunya anak perempuannya.

Aku tidak menyukai perokok.

Mari berdoa yang baik untuk semua orang. Sabbe satta bhavantu sukhitatta.


Mengganti Ingatan


Ketika akhirnya aku menggunakan kembali tablet lamaku, aku merasa waktu berlalu sangat cepat. Aku sedang di Jogja; tempat yang akhirnya kutinggali untuk minimal empat tahun menyelesaikan studi dan juga akhirnya kutinggalkan, bersama Catur dan Rizal.

We had such a 'fancy' dinner di salah satu tempat makan yang kutemukan secara tidak sengaja dalam acara.. emm apa ya, kayaknya sih cuma jalan dan suwung aja dengan Angga, yang waktu itu, entah kenapa jadi satu-satunya 'teman main' di Jogja.

Perihal ini, aku sudah memprotes Cicik. Kenapa dia yang notabene masih ada di Jogja, even sampe saat ini, bisa-bisanya membiarkan aku sendirian dengan orang asing yang akhirnya hampir tiap akhir pekan menghabiskan waktunya sama aku?

Aku menyalahkan Cicik dan dia berkilah karena pada waktu itu kita sama-sama sibuk. Ya sih, aku sudah kerja, Cicik pun demikian. Dan kami sama-sama mengerjakan skripsi. Meskipun akhirnya dia lulus duluan, tapi kurang lebih di waktu-waktu itu, ada masa di mana kita memiliki kehidupan terpisah yang bahkan kayak susah banget ketemu padahal kami masih tinggal di seputaran Gejayan.

Anyway, aku akhirnya bertemu gadget lamaku, sebuah tablet Samsung 10 inch. Bertemu dengan barang yang lama sekali tidak kupakai, itu artinya bertemu dengan hal-hal di masa lalu yang entah kenapa untuk beberapa hari setelahnya mampu membawa pikiranku ke banyak yang pernah kualami. Rasanya cukup lucu.

***

Alun-Alun Kidul, 2013.

Untuk pertama kalinya sejak lulus SMA, kami memutuskan main ke Jogja. Aku sudah lama tidak 'main pagi' karena waktu itu aku tinggal di Kalasan yang dengan jarak segitu kayaknya nggak memungkinkan aku untuk main sampai pagi. But that time, teman-temanku anak tongkrongan Kopimiring yang kalau pulang main berani bertaruh dengan begal di wilayah Pamularsih, sedang di Jogja. Kami pun merencanakan banyak hal termasuk menyewa sebuah penginapan yang nanti akan menyelamatkan kami setelah teler main semalaman.

Aku lupa bagaimana kejadian persisnya, tapi singkat cerita, kami kemalingan. Atau lebih tepatnya kami terkena tindak kejahatan hasil kongkalikong orang-orang yang ada di Alun-Alun Kidul pukul 2 dini hari.

Sebuah tas kamera hilang.

***

Bagi kami semua, khususnya aku sih kayaknya karena di antara mereka cuma aku yang kuliah di Jogja, kejadian di Alkid itu cukup traumatis. Bukan cuma karena kerugian materiil, tapi juga rasa percayaku akan orang Jogja yang cukup baik, hilang sudah ketika kejadian tersebut. Ceritanya cukup rumit untuk diceritakan bagaimana usaha kami menemukan tas itu kembali, tapi intinya adalah.. orang Jogja nggak sebaik itu juga, apalagi orang-orang yang bertahan di Alkid sampai pukul 2 pagi.

Mereka nggak sebaik itu terhadap kalian mahasiswa-mahasiswa luar kota brengsek yang menjajah warga lokal dengan standar hidup kalian yang selalu bilang "Jogja apa-apa murah banget" ketika UMR Jogja bahkan cuma sekitar 1,5 juta. Kalian memang patut dibinasakan.

Singkat cerita, dari sekian banyak trauma yang kualami aku belajar beberapa hal:

  1. Jangan bohong sama orang tua kalau kamu mau main sampai pagi karena kebohongan akan membawa kesialan yang nggak terbayarkan.
  2. Jangan beli kamera sebelum gajimu dua digit dan ada fase hidup baru yang worth it untuk diabadikan karena apapun yang berkaitan dengan kamera itu mahal bajengaaan, bahkan tutup lensanya!
  3. Sayangi tablet yang alhamdulillah ditempatin di tas terpisah. Dia jadi satu-satunya yang nggak ilang hikss.
Dan begitu kira-kira kenapa menurutku ketika akhirnya di tahun 2019 aku menggunakan tablet ini kembali, rasanya ada begitu banyak ingatan yang memaksa ruang-ruang kosong di kepalaku untuk muncul lagi seperti film dokumenter yang diputar.

Aku ternyata pernah sangat rajin kuliah.
Paling nggak itu kelihatan dari berbagai slides, ebook, jurnal, dan catatan-catatan kuliah yang tersimpan rapi di tabletku. Aku lalu ingat di awal-awal masa perkuliahanku, aku memang lebih sering menggunakan tablet ini daripada laptop karena subhanallah laptopku bikin nangis kalau mau diingat-ingat performanya kayak apa.

Hal kedua terbanyak adalah perihal ke-Balairung-an.

Yasssh. I was the leader of open recruitment for the biggest Indonesian-made student press in the earth--pada waktu itu. Dan entah kenapa aku menyimpan banyak sekali dokumentasi soal B21; foto, tulisan, dokumen-dokumen penting macam surat-surat ke rektorat.

Sisanya adalah foto kepanitian di kampus pas awal-awal jadi maba rajin ngevent, foto SMA, foto SMA, dan foto SMA lagi.

***

Dari sekian banyak hal yang kutemukan, aku belajar sesuatu tentang memori bahwa melalui ingatan--hal-hal yang membawamu pada kenangan di mana segala hal yang terjadi pada waktu itu tidak kuketahui apa yang terjadi setelahnya-- aku tahu bahwa ternyata tidak semua hal berjalan sesuai rencana dan harapan-harapan kita.

Misalnya saja soal B21. Ternyata nggak lama setelah aku menjadi ketua rekrutmen, yang sejujurnya adalah posisi paling bergengsi dan strategis untuk mendapatkan jabatan struktural di Balairung, justru menjadi titik balik untuk aku muak dan akhirnya pergi dari B21.

Aku juga mengingat banyak rencana yang kutulis seperti kuliah S2 untuk belajar psikologi di Belanda, atau menjadi psikolog, atau aku.. bersama dengan seseorang yang aku tahu sekarang itu semua cuma jadi bagian dari ingatan-ingatan di masa lalu yang tidak relevan, dan masih banyak lagi.

Aku barangkali mengingat terlalu banyak dari hal-hal yang kusimpan ini, entah kenapa. Beberapa dari mereka terasa menyakitkan, namun jauh lebih banyak yang akhirnya membawaku pada sikap bersyukur atas semua hal yang telah terlewati. Bahkan dari perasaan paling sakit hati sekalipun.

***

Ternyata ada banyak hal di luar prediksi kita yang terjadi dengan begitu saja dan tidak terencana. Misalnya sebuah pertemuan di sebuah acara di University Club yang berujung dengan relasi-entah-apa-ini-namanya-but-it-works-for-more-than-two-years.

Jika aku boleh bilang dengan sangat jujur, aku bahkan nggak pernah berpikir ceritaku akan seperti ini.

***

"Ini kamu cuy?"
"Iya cuy. Wkwk anjir bisa gitu ya bentukannya."
"Ini jaman kapan cuy?"
"Hmm SMA kayaknya, atau maba ya."
"Wagelaseh ini."

Untuk beberapa hari setelah akhirnya aku berhasil menghidupkan tablet tersebut dan mengupdate softwarenya agar paling tidak versi Jelly Bean ini bisa lebih 'normal' untuk dipakai, anak-anak Core Squad mungkin cukup terganggu dengan aku yang tiba-tiba ketawa sendiri atau cerita ngelantur.

But, well.. the show must go on. Setelah puas membaca, melihat, dan mengingat banyak hal, aku akhirnya harus menghapus sebagian besar dokumen di tablet itu untuk membantu meringankan beban kerja RAMnya yang seuprit agar tetap bisa dipakai nonton Netflix dan YouTube dengan normal.

Aku memutuskan untuk tidak memindahkannya ke Drive, selain karena emailku sekarang sudah sampai di edisi keempat, ternyata hal-hal ini memang waktunya untuk dihapus karena sudah tidak relevan.

Seperti tabletku, berbagai ingatan yang melekat di dalamnya juga akhirnya harus diupdate dengan peristiwa-peristiwa baru yang lebih relevan; lewat foto-foto, tulisan, atau apapun itu.

Tidak semua orang yang kutemui dan menjadi 'teman' ketika aku menggunakan tablet itu di tahun 2013an, sekarang masih ngomong sama aku apalagi menyadari bahwa kita masih 'teman' satu sama lain. Sebaliknya, ada orang-orang yang baru kutemui dalam 2 atau 3 tahun belakangan ini, justru menjadi support system yang menyenangkan setelah melalui proses seleksi ketat sebagai seorang dewasa yang membangun lingkaran pertemanan yang sempit dan selektif.

Karena, in the end, aku baru sadar, aku nggak perlu sekian banyak orang ataupun ingatan yang memenuhi hidupku yang sudah cukup suntuk ini. Aku cuma butuh sedikit yang berkualitas untuk memastikan, sebagai seorang yang sebentar lagi 24 tahun, aku sudah berada di tempat yang tepat, tempat yang seharusnya.



365 Halaman Tentang Sabar

Ibarat sebuah buku, 2019 adalah sekuel dari sebuah roman panjang yang belum tuntas di 2018. Dalam sekuel itu, ada banyak cerita baru yang mungkin tidak ditemukan di 2018. Namun, bisa jadi hal tersebut juga sebagai implikasi dari hal-hal yang telah terjadi sebelumnya.

Ah ya. Aku tidak tahu mengapa, tapi kupikir 2018 menyisakan banyak sekali borok dan luka-luka yang menunggu untuk sembuh.


Masih dengan orang-orang yang sama, kupikir 2019 adalah waktu di mana masa krisis usia 20anku harusnya mulai selesai. Aku akan 24 tahun di tahun ini, which means aku beberapa tingkat lebih dewasa dari yang selama ini kupikir --hmm, aku selalu mikir aku masih 17 tahun.

Di 2019, aku tidak berharap banyak selain perasaan sabar untuk tetap berjuang pada apapun yang masih bisa diperjuangkan.

Tapi sabar itu tidaklah pasif.
Sabar bukan berarti membiarkan apapun menyapu bersih wajahmu sebagai bagian dari "takdir" yang digariskan akan kita semua terima sebagai manusia. Tapi sabar semestinya lebih dari itu.

Sabar adalah berhenti mengeluh. Sabar adalah usaha untuk tetap mampu mengontrol tindakan dan ucapan atas semua hal yang membuatmu babak belur.

Ada 365 halaman buku tentang sabar dan ini baru terbaca secuil tentang pembukaan. Hari masih panjang. Perjalanannya masih sangat jauh.


Tentang Sekolah Lagi dan Menjadi 'Master'

Seperti halnya semua mahasiswa Psikologi UGM, aku pernah punya cita-cita untuk langsung menempuh pendidikan master segera setelah lulus. Tahun 2018, aku menargetkan ke Belanda atau ke Inggris untuk mengambil master di bidang humanities atau studi psikologi sosial lainnya. Tapi serapi-rapinya matematika kita, tetep tidak akan bisa memprediksi matematika Tuhan yang luar biasa.

Di tengah-tengah proses kuliahku yang tadinya baik-baik aja, muncul masalah keluarga yang membuatku terlihat sangat egois kalau mau kekeuh untuk sekolah lagi segera setelah lulus. Pada waktu itu aku bahkan hanya berpikir studiku harus segera selesai, aku bisa punya uang sendiri, bertahan hidup sendiri, dan lain-lain --beberapa hal yang membawaku pada keputusan kerja bahkan sebelum aku lulus.


Pada akhirnya aku tidak pernah menyesali keputusanku untuk bekerja lebih awal pada saat itu. Aku mengubah "road map" dari semua hal yang kususun dengan baik ketika pertama kali aku masuk UGM. Sobat PPSMB pasti paham kan, tentang peta hidup 20 tahun ke depan yang diminta katingmu buat bikin waktu kamu OSPEK? WKWK. Aku juga punya.

Terlalu banyak yang berubah dalam tahun-tahun perkuliahan. Sesuatu yang kini kupahami sebagai dinamika kehidupan mahasiswa. Pada akhirnya kuliah S1 itu adalah sebuah "jeda" untuk berpikir dan menyusun kembali tujuan hidup. Hence, kamu perlu dukungan environment yang tepat agar kamu tidak keliru, atau paling tidak, nggak bingung ketika lulus.

Kembali pada tujuan sekolah lagi.

Biar aku jelaskan bahwa sebagai mantan 'inteleque' muda penghuni B21, aku sangat mengagumi isi pikiran seseorang. Aku melihat senior-seniorku menempuh studi dan menulis dengan sangat berkelas dan heroik. Logikanya tersusun rapi, cerdas, dan aduh pokoknya keren lah.

Jauh dalam pikiranku, ada sebuah ekspektasi yang 'lebih' pada mereka yang bergelar master. Because ya.. they are 'master' kan ya?

Dalam pikiran naifku, bergelar master akan sedikit mengubah perspektifku tentang suatu hal yang selama ini kupahami secara general. Katakanlah aku yang sekarang S.Psi, aku menyukai psikologi sosial, aku menyukai studi gender dan isu-isu seputar perempuan. Mungkin ketika aku studi master soal ini, aku akan sangat 'ndakik-ndakik' bicara ihwal topik tersebut. Bisa karena aku ketemu profesor-profesor baru, buku-buku baru, jurnal-jurnal baru, yang selama ini masih terbatas sebab yeah.. I'm just undergraduate gituh. Otomatis, dengan segala upgrading 'master' tersebut, segala hal yang kumiliki saat ini juga ikut terupgrade; cara berpikir, cara bekerja, kehidupan profesional, gaji?

Tadinya aku berpikir begitu.

"Kau tahu, studi master tidak seistimewa itu. Kalau tidak percaya, tinggallah dan bekerja di Jakarta."
Bagi orang-orang sepertiku, pendidikan adalah privilege. Tidak semua orang mendapatkan kesempatan sekolah yang bagus. Karenanya, orang-orang sepertiku memiliki ekspektasi yang lebih pada mereka yang sekolah lebih tinggi.

Namun, di Jakarta tidak begitu. Di sini banyak orang hidup dengan privilege sejak lahir. Jangankan buat sekolah sampe dapat gelar master ah elaaah, ibaratnya mereka pilek aja bisa kliniknya di Singapore gituh. Sejak kecil, orang-orang yang hidup dengan privilege mendapatkan banyak kemudahan dalam hidupnya, termasuk soal studi. Namun, dari sini, value dari menjadi seorang master itu tiba-tiba tergerus.

Kalau kamu ketemu orang yang gelarnya master, tapi kayaknya performa kerjanya B aja, banyak.
Kalau kamu ketemu orang yang gelarnya master, tapi logikanya kacau balau, banyak.
Kalau kamu ketemu orang yang gelarnya master, tapi goblok setengah mati, ya ada.

Simply because bagi mereka master ya adalah cuma master. Mau yang dalam negeri, luar negeri, banyak. Makanya ketika di Jakarta, aku lebih suka untuk menanyakan sesuatu dengan lebih detail. Misalnya, si A lulusan luar negeri. Luar negeri mana? Lebih jauh, kampusnya apa? Studi apa di sana? Atau kalau kepo banget aku akan nanya dulu tesisnya apa dan bagaimana metode penelitiannya.

Ada loh orang bergelar master degree dari salah satu universitas di Inggris yang tesisnya pakai metodologi yang bahkan di kampusku S1 ngajuin kayak gitu, buat beberapa dosen yang high level, mereka nggak ngebolehin karena terlalu sederhana dan datanya rawan bias. Ya jangan lah berekspektasi untuk mendapatkan analisis yang mendalam atau publikasi yang ciamik di jurnal internasional, lah level lulusnya aja sebatas yang-penting-lulus gitu.

So, it's not about the degree. Instead, it's all about yourself as an individual.

Aku belajar satu hal yang sangat mahal dari pertemuanku dengan 'orang-orang bergelar master' ini: sebelum sekolah lagi, tetapkan tujuan yang jelas mengapa mau sekolah lagi.

Gaesss. Studi master bukan karena kamu lulus S1 dan jobless berbulan-bulan lalu karena tertekan sama society kamu memilih sekolah lagi. Bukan juga karena kamu kerja tapi kok kayaknya B aja trus berharap dengan sekolah lagi akan membuat kariermu membaik. No, no, no.

"Jadi, lu nggak mau ambil master?" tanya seseorang akhirnya.
"Ya maulah pasti. Gila lu gamau haha. Tapi.."
"Tapi?"
"Tapi ada perhitungannya. Because I am on the right track being professional."

Yeah, I am a junior manager right now and my professional career is still growing. Melihat perhitungan pekerjaanku saat ini, naif kalau aku bilang aku akan melakukan apapun untuk mendapat gelar master.

"Eventho dapet beasiswa?"
"Iya. Unless itu beasiswa dari kantor mungkin, ya. Yang terus abis selesai sekolah gue dapet promosi jabatan gitu ya masuk sih itung-itungannya."
"Hmm ya juga ya."
"Iyalah. Kalau udah capek-capek kuliah, bayar mahal, tapi ujung-ujungnya harus memulai karier dari nol banget ya nyesek dong anjaay. ROI minus."

Return on Investment (ROI) menjadi bahan bercandaan yang paling santer aku dengar di kalangan teman-temanku. Maklum, sobat missqueen kayak kami yang di UGM kuliahnya cukup mengandalkan UKT bersubsidi masih menganggap biaya pendidikan kayak bentuk investasi. Ujung-ujungnya aku (dan mungkin teman-teman sepergaulan missqueenku) nggak menampik kalau tujuan bersekolah tinggi agar kemampuannya tinggi dan kemudian dihargai lebih tinggi.

Somehow aku masih percaya kalau kemampuan berpikir seseorang itu berbanding lurus dengan performa kariernya. Kan nggak lucu juga kalau tukang soto dipaksa jadi seniman mural atau tukang kayu dipaksa menjahit. Semua kemampuan ada porsi dan tempatnya masing-masing.

But again, it's not about the degree. It's about yourself as an individual.

Akhirnya aku percaya bahwa terlepas dari gelar apapun yang dimiliki seseorang, kualitas individu tetap tidak bisa berbohong. Mau nggak ada gelar apapun kalau emang basicnya udah ok ya bakal keliatan ok. Sebaliknya, mau gelarnya sepanjang apapun kalau otaknya B aja ya bakalan B aja dan itu keliatan kok di orang yang sudah dewasa.

"Jadi.. master udah nggak sakral?"
"Masih dong.."
"Lah bentukane 'itu' juga master loh.."

Wqwqwq.

Sekolah lagi masih menjadi keinginanku selain enhancing karier dan menjadi profesional di bidang bisnis digital saat ini. Entah untuk bergelar master, PhD, atau apapun, aku masih mencita-citakan sekolah lagi dan belajar hal baru sebagai sebuah tujuan dan proses sepanjang masa yang harus selalu dikejar dan diupayakan.


Pertemanan Sehat


Kepada adik-adik saya, satu hal yang selalu saya ajarkan sejak mereka kecil dan bergumul dengan peer groupnya adalah kalo punya temen tuh pilih-pilih. Bukan mengajarkan sombong, tetapi lebih kepada kamu memfilter lingkaran sosialmu agar membentuk dirimu seideal mungkin ke depannya.

Saya belajar banyak soal bagaimana lingkaran pertemanan ini berpengaruh sekali, misal pada abang saya di Jogja yang sejak dulu kukagumi lingkaran pertemanannya atau ketika di kerjaan sendiri saya melihat founder mendapatkan berbagai kesempatan bisnis ya dari orang-orang di sekitar, dari teman-temannya, dari circle terdekatnya. Therefore, I believe that #pertemanansehat works dan itu kemudian juga menjadi satu prinsip yang saya yakini sampai sekarang.

Saya bersyukur kuliah di UGM dan tinggal di Jogja selama bertahun-tahun. Bergaul dengan banyak orang yang meskipun "terbatas" namun bisa saya pastikan sangat berkualitas. Saya tidak punya banyak teman dari jurusan. Instead, saya membangun pertemanan saya justru dari anak-anak Fisipol, Hukum, hingga Ilmu Komputer. Dari mereka, tidak hanya kesempatan mengembangkan karier dan belajar hal-hal baru yg saya dapat, namun juga membentuk kepribadian saya untuk jadi orang yang lebih terbuka dan adaptif --dan tentu saja berkembang dari waktu ke waktu.

Saya bertemu orang berumur 27 tahun dan clueless kenapa urusan pertemanan menjadi sepenting ini; mengapa bergaul dengan mereka yg di usia 30an tapi tidak menampakkan peforma karier yang signifikan itu bahaya, atau kenapa bergaul dengan bapak-bapak yg punya anak perempuan peminum alkohol dibiarkan itu tidak baik. Ini soal pola pikir. Berada di suatu environment akan membentuk pola-pikir seseorang. Mungkin tidak disadari secara langsung, tapi pasti terbentuk. Entah dari perspektif melihat sesuatu, atau paradigma berpikir akan suatu fenomena.

Lebih dari itu, pertemanan menentukan pula penilaian orang terhadap kita. Setuju atau tidak, terserah. Pilihan masing-masing. Tapi, paling tidak sekarang paham kan, kenapa dalam setiap konflik yg bergesekan dengan teman-teman, saya mengedepankan mereka?

Karena teman-teman bagi saya adalah aset. Saat ini mungkin mereka hanya sebatas konco suwung ataupun teman yang dicari ketika buntu soal kerjaan atau hal-hal semacamnya. Namun, 10 tahun dari sekarang who knows kita akan punya bisnis bersama? Atau salah satu dari mereka adalah pemegang kebijakan? Atau malah investor yang akan membantu bisnis kita? Nobody knows about future tapi saya percaya pada proyeksi dari hal-hal yang terjadi pada masa kini. Terlebih proyeksi dari bagaimana pola pikir seseorang, bagaimana habit seseorang, dan lain sebagainya.


Dari Mana Datangnya Asmara?


Aku potong dini hari ini seukuran kartu pos. Tentu agar kamu melihatnya sendiri tanpa aku harus susah-susah bercerita.

Oh ya, dari mana datangnya asmara?

Aku bertanya pada langit yang jingga, yang ungu, yang biru, tapi semuanya diam. Dari yang terang hingga gelap gulita. Anginnya sepoi-sepoi membelai tengkuk dan ujung-ujung rambut yang kugelung ke atas. Dingin.

Kamu begitu padaku.

***

Jogjakarta, beberapa tahun silam.

Dari mana datangnya asmara?

Aku kerap bertanya-tanya demikian belakangan. Tentu karena aku sendiri tidak bisa merasakan apa-apa, kecuali bahagia, bahkan saat melihat ujung-ujung rambutmu atau bagaimana caramu tertawa malu-malu.

Kau tahu, aku ingin cerita.

Pada suatu ketika, aku pergi menyusuri bibir sungai yang jernih. Airnya tenang, mengalir dari hulu ke hilir, menyapu batu-batuan. Sesekali kulihat ada ikan. Aku berdiri atas jembatan. Di bawah aku melihat bayang-bayang. Ada diriku sendiri di sana.

Hei, apa yang kau lihat dariku?

Aku tidak menarik, tidak cantik, bukan putri dari seorang ayah yang punya kerajaannya sendiri, tidak pintar, sangat biasa, seperti rata-rata. Apa yang kau lihat dariku? Dan bagaimana kamu melihatku? Katakan, karena aku bukan cenayang yang bisa membaca pikiranmu.

***

"Heh, main-main kamu! Hati-hati! Witing trisno jalaran seko mesakno."

Aku sering dengar pepatah Jawa itu, tapi tidak demikian.

"Eh, kok jadi gitu?"
"Ya iya. Bisa aja. Hehehe."

Anomali Coffee masih ramai. Pukul 10 malam. Cikini basah selepas hujan. Kuhirup kopiku dalam-dalam. Beberapa orang duduk sendiri dengan laptop di depannya, beberapa seperti kami; duduk berdua. Ada yang berdua lalu sibuk dengan laptop masing-masing, ada yang berdua lalu saling bicara. Tapi mereka semua menyukai kopi. Kurasa. Makanya mereka datang ke sini.

Semenjak aku tinggal di Seminyak dulu, Anomali menjadi destinasi favorit. Aku tidak begitu paham kopi seperti beberapa temanku yang lain. Bagiku mencecap kopi cuma agar aku paham betapa masih banyak hal-hal yang tidak nyaman, namun tetap kunikmati dalam hidup. Kopi mungkin salah satunya. Rasanya asam, pahit, dan merusak lambung. Dokter juga berkali-kali mengingatkan agar aku berhenti ngopi setiap kali aku cek kesehatan. Aku sering mengeluh tidak bisa tidur, sakit kepala, dan dokter mengatakan salah satunya mungkin karena aku kebanyakan mengonsumsi kopi.

Namun, suatu hari, sepulangku dari liburan ke Aceh, kuundang dokter kesayanganku itu ke Prapanca, ke apartemenku.

"Jadi, kamu mengundang ke sini, cuma untuk mengajakku ngopi? Udah berapa kali kubilang, kopi itu tidak baik untuk kesehatan."
"Ya ya, aku tahu. Tapi dokter harus coba ini. Ini salah satu kopi yang paling sulit membuatku move on, dok. Dokter harus coba."

Mulanya ia mengira aku mungkin menaruh racun atau sejenisnya di dalam secangkir Kopi Gayo yang kusajikan seperti kejahatan-kejahatan lain yang kerap kulakukan sejak kami SMA.

"Nggak beracun, astaga!" kataku akhirnya. Dia minum seteguk.
"Pahit ya?"
"You don't say!"

Tapi diminum juga akhirnya. Temanku yang dokter ini sungguh baik. Lalu seperti biasanya kami bercerita banyak hal. Mulanya kukatakan bahwa ini adalah salah satu single origin terbaik yang kucoba. Kopinya banyak tumbuh di dataran tinggi Tanah Gayo, Aceh Tengah. Sebab itu dinamakan Kopi Gayo. Menurutku sendiri Kopi Gayo adalah yang paling tidak pahit. Tidak seperti kopi pada umumnya menyisakan rasa pekat di lidah, Kopi Gayo hampir tidak menyisakan rasa apapun. Bahkan beberapa temanku menyebutkan kopi ini mengalahkan citarasa Blue Mountain dari Jamaika.

"So, how's the taste?"
"Hmm menarik-menarik."

Dan sejak saat itu aku tidak perlu susah-susah ke kliniknya dan mencium bau karbol rumah sakit yang menusuk hidung setiap kali ingin bicara banyak. Aku mengajaknya ke kedai kopi yang banyak sekali ada di Jakarta. Beberapa kali kuajak ia ke Kopikina di Tebet, ke Crematology Coffee Roaster di Kebayoran Baru, ke Woodpecker di Melawai, ke Sinou, hingga akhirnya paling sering di Anomali Coffee Menteng. Sebagai sesama orang yang pernah sama-sama menikmati Jogja, Cikini adalah tempat paling 'rumah' di Jakarta. Meski sesekali aku merasa tinggal di Tebet seperti dibawa kembali ke masa-masa kuliahku tinggal di Demangan, atau bahkan ketika ke Kemang aku seperti mengingat masa-masaku jadi mahasiswa baru yang tinggal di Seturan. Di beberapa hal, Jakarta memiliki wajah yang hampir sama dengan Jogja. Tapi, paling tidak, di Jakarta aku bisa melupakan.

"Hati-hati," katanya lagi memecah lamunanku.
"Ya gimana sih, jadi manusia. Simpati pasti ada lah," kataku akhirnya.
"Hati-hati," temanku dokter yang cantik itu cuma bilang begitu berkali-kali.

***

Aku selalu berpikir Jakarta adalah kota melupakan. Ketika aku patah hati, aku memilih ke Jakarta agar aku lupa. Ketika aku sedih, aku memilih ke Jakarta, agar panas dan macetnya lagi-lagi membuat aku lupa kesedihanku sendiri. Pun ketika aku mungkin jatuh cinta, namun aku takut pada perasaanku sendiri, aku memilih ke Jakarta. Agar aku lupa.

Kami telah melewati serangkaian drama selama beberapa waktu terakhir dan aku selalu berpikir ini harus diakhiri. Maka aku memutuskan hidupku sendiri. Aku sungguhan pergi. Kutinggalkan Jogja untuk hal-hal yang aku tidak tahu apa dan kenapa. Tapi sebuah universitas di Swedia menerimaku menjadi mahasiswanya, jadi aku terbang ke Jonkoping. Setahun lamanya aku di sana. Menikmati hidup di salah satu negara dengan musim dingin paling ekstrem. Kota yang cantik dengan danau-danau yang memenuhi sebagian areanya. Aku ke Jonkoping beach, ke museum-museum seperti Vetlanda dan Huskvarna, berkemah di Visingso, dan benar-benar menikmati diriku selama tinggal dan menjadi bagian dari masyarakat di Swedia.

Setelah aku lulus dari studi yang hanya kurang lebih setahun, seorang teman yang kukenal sewaktu tinggal di Jogjakarta dulu menawariku sebuah project di Bali. Aku lalu tinggal di sana beberapa waktu, menghabiskan hari-hari di Seminyak selama hampir dua bulan. Lalu memilih untuk tinggal di Ubud, mengelola salah satu coworking space paling terkenal di Indonesia, berkenalan dengan orang-orang yang sangat menikmati Bali, para digital nomad yang telah berkeliling jauh dari negaranya untuk menikmati hidup yang cuma dihabiskan dengan botol-botol alkohol dan aktivitas party serta berselancar di Canggu. Dari sanalah aku bertemu orang yang menjadi bossku sekarang. Dibawanya aku ke Jakarta. Beberapa waktu menghabiskan hidup di Tebet. Lalu ketika kantor kami pindah ke Pejaten, aku mendapatkan sewa apartemen murah di Prapanca. Dan tinggallah aku di sana sampai sekarang.

Aku belum pernah berpikir untuk pindah sampai beberapa minggu lalu, seseorang menghubungiku melalui resepsionis apartemen. Aku tidak membagi alamat tempat tinggalku pada klien, jadi kupikir dia salah satu temanku. Aku turun ke lobby, menemuinya, dan demi apapun itu adalah hal paling kusesali sampai saat ini.

"Hai, long time no see."

***

Aku selalu ingat raut wajahnya, dan terutama matanya, yang kerap menceritakan banyak hal yang tidak pernah sanggup dia katakan padaku. Hampir dua tahun aku tidak bertemu dengan raut wajah itu. Bukan tidak mungkin, hanya karena memang aku tidak ingin.

"Kok tau aku tinggal di sini?"
"Aku selalu tau kamu di mana," katanya. "Masih ada yang tertinggal di sini," katanya lagi. Ia menunjuk dadanya. Aku tersenyum seperti karet yang direnggangkan susah payah.

Gelas-gelas dari kopi yang kami nikmati mulai kosong. Kami duduk di balkon. Di bawah lalu lintas Jakarta terlihat masih ramai meski ini beranjak tengah malam. Ini kedatangan pertamanya di apartemenku dan selama ini aku tidak pernah membawa laki-laki menginap di sini. Bagaimanapun aku harus mengusirnya.

"Pulang sana. Udah malem," kataku.
"Nggak."
"Kok nggak sih?"
"Terakhir kali kamu menyuruhku pulang, aku benar-benar pulang, tapi setelah itu kamu pergi dan bertahun-tahun tidak menghubungiku lagi, sampai hari ini."
"Astagaaa! Ya kondisinya beda!" Kepalaku nyaris meledak berhadapan dengan orang ini. Kami diam beberapa menit. "Ya terus maunya apa?" tanyaku lagi.

Dia tidak menjawab.

"Ya gitu aja terus sampai kiamat."

***

"Kita ini, dok, kan sudah bukan anak-anak lagi ya. Segala hal, harusnya lebih jelas," kataku. Kali ini kami di PIM, berburu parfum, lalu berhenti di Street Gallery. Kami kenyang dan cuma butuh hiburan dari lalu-lalang orang di sini.

"Ya itu aku setuju juga," katanya. "Tapi.. harusnya, semua hal sudah jelas sejak bertahun-tahun lalu. Sejak kita semua masih di Jogja."
"Maksudnya?"
"Ya iya. I mean.. everything was clear, waktu itu."
"Nggak paham."
"Gini.. basa basi adalah suatu tanda orang boleh bertamu, duduk, bahkan dikasih minum. Kalau suka ya, dia akan datang lagi, dan lagi, dan lagi, lagi, lagi, lagi, sampai jadi serumah. Jadi, bukan jadi tamu lagi. Hahaha!"
"Hah?" Aku bengong.
"Aduh, kok kamu jadi bego gini sih." Dia membenarkan letak kacamatanya.
"Kamu ngomongnya gitu sih ah, sok-sokan."
"Aku serius. Maksudku, emm.. kamu tu udah basa-basi waktu itu. Ibaratnya, ada orang bertamu dan kamu mempersilakan masuk, bahkan menyuguhinya minum. Dan lalu dia suka. That's why dia datang lagi, dan lagi. Tapi.. pada kedatangannya yang kesekian, kamu tiba-tiba menutup semua pintu, mengunci pagar, dan bahkan kamu pergi dari rumahmu sendiri. Itu bodoh sih."
"Okay, sekarang gini. Kamu melihat orang di seberang rumahmu dalam kondisi basah kuyup, dan di luar hujan deras sekali, sementara tidak ada tempat berteduh lain. Kamu memintanya masuk agar dia tidak bertambah kuyup dan menawarinya teh, sebagai bentuk etika. Lagipula kamu sudah dikenal sebagai orang yang murah hati. Kamu terbiasa mengajak anak-anak di sekitar rumahmu untuk datang sekadar mencicipi kue atau menonton film terbaru dan bermain di kolam renang ada di belakang rumahmu. Sesederhana itu."
"Nah, ini yang kubilang sebagai.. witing tresno jalaran seko mesakno. Hahaha."
"No, it's totally different."

Aku mengenal ini sebagai transference dalam buku-buku milik Sigmund Freud yang pernah kubaca. Umumnya dialami oleh seseorang yang berlaku sebagai 'klien/pasien' dengan orang yang diekspektasikan akan 'menyembuhkan' masalahnya. Transference muncul karena urusan-urusan di masa lalu yang tidak selesai, kemudian pada orang yang ditemuinya di masa kini, ia berhasil menyalurkan hal-hal tersebut. Ia memproyeksikan perasaan-perasaannya terhadap suatu figur kepada orang ini. Jika ingin menyelesaikan hal-hal tersebut, orang ini adalah medium yang paling tepat. Orang ini akan menjadi semacam jembatan yang menghubungkan ia dengan masa lalunya, untuk diselesaikan. Namun, di titik-titik tertentu, niat baik pada orang ini untuk membantu orang lain, akan menjadi masalah, ketika orang tersebut tidak mampu memberi batas, mana hal-hal yang boleh ia lewati, mana yang tidak.

Dan entah aku atau orang tersebut, atau bahkan kami berdua, sama-sama melanggarnya.

***

"You saved my life," katanya suatu ketika.
"Hm hm ya, makasih."
"Aku yang berterima kasih."
"Oke, sama-sama."

***
Kita tak pernah bosan memikirkan luasnya tata kosmik
Tapi di situlah kau dan aku luput memikirkan jagad diri kita masing-masing
Atau memang tiap dari kita selalu takut berimajinasi mengenai seberapa bergetar hati kita berdua kala meratapi gemintang di satu malam itu
Atau tidakkah detak jantung kita memompa hawa panas pada tiap-tiap berahi kita?

(Sajak milik Muhajir M.A.)

***

Sejak malam itu ada yang benar-benar berbeda di antara kami. Dan buatku sendiri, ada yang berbeda dalam diriku. Semacam ketakutan-ketakutan pada perasaan sendiri. Lalu seperti halnya pengecut, aku memutuskan untuk pergi. Lari entah ke mana, entah dari apa.

Tapi bukankah memang aku sudah terbiasa lari dari apapun yang tidak kuingini ---dan diapun demikian?

Tidak ada yang salah. Hanya kemudian, padanya, jawaban itu mampu ditemukan. Sementara aku bertahun-tahun setelahnya, bahkan masih bertanya-tanya. Dari mana datangnya asmara? Mengapa orang jatuh cinta? Kapan waktu yang tepat untuk orang jatuh cinta dan menjatuhkan pilihannya? Bagaimana cinta bisa melupakan ---dan dilupakan?

Laki-Laki yang Tidak Move On


Aku sering benci kenapa terminologi move on seolah-olah memiliki gender. Seolah-olah move on hanya perkara menye-menye, perkara kebanyakan bawa perasaan, atau perkara ketumpulan rasionalitas ---yang semua ditujukan pada gender feminin. Aku tidak suka.

"Dibuang sih!"
"Ini tuh berharga. Ini isinya kenangan!"
"Aduh, kenangan apa lagi? Nyampah tau nggak sih. Lo itu di sini sharing tempat sama gue. Lo ngehargain gue dikit lah."
"Ya lo juga harus ngehargain prinsip gue dong!"

Suaraku meninggi dan biasanya jika begitu temanku langsung pergi. Ini bukan kali pertama kami meributkan hal-hal semacam ini; sesederhana aku yang tidak mau membuang lembaran-lembaran lukisan ---yang bahkan tidak bernilai sama sekali, lebih cocok disebut sebagai coretan-coretan absurd. Tapi bagiku, setiap coretan-coretan itu menyimpan kenangan.

***

Orang selalu mengatakan aku ini gagal move on. Aku kurang setuju dengan itu. Aku bukan gagal. Gagal itu jika sudah mencoba lalu tidak ada hasilnya. Sementara aku? Aku memang tidak mencobanya. Tidak akan pernah. Karena bagiku apa yang telah kulalui itu adalah sebuah kenangan, sebuah cerita yang terekam dalam ingatan maupun lembaran-lembaran coretan ini. Maka, aku memutuskan untuk merawatnya, menjaganya baik-baik sampai kapanpun.

Bagiku move on bukan soal perkara feminin atau maskulin, apalagi perempuan atau laki-laki. Move on adalah tentang seseorang yang punya hati, dan itu tidak peduli apakah mau perempuan atau laki-laki.

"Tapi untuk apa? Kamu udah lama lho kayak gini," katanya membuka pembicaraan. Ia perempuan kesekian yang menanyakanku hal demikian.
"Ya memangnya kenapa?"
"Ya nggak kenapa-kenapa. Sayang aja. Umurmu kan jalan terus, ceritamu juga berjalan terus. Tapi kamu memilih stuck dalam kondisi yang absurd."
"Oh ya? Kenapa absurd?"
"Bagaimana nggak absurd, kalau hal yang sangat kebendaan seperti ini kamu pertahankan atas nama kenangan."
"Tapi ini membantuku untuk mengingat, merawat ingatan."
"Kenapa harus diingat?"
"Aku melewati banyak hal bersama lembar-lembar kertas ini."
"Kamu tidak sayang dengan ingatanmu?"
"Maksudmu?"
"Iya. Ingatanmu."

Aku diam.

"Kau tahu? Jika kamu masih percaya Tuhan, sesungguhnya Tuhan ---atau apapun yang kamu percayai itu--- memberi kita ingatan yang terbatas, sebenarnya ia cukup adil. Dia memberi kita ingatan, sekaligus kemampuan untuk melupakan. Agar kita sebagai manusia memilih mana hal-hal yang boleh kita ingat atau tidak sama sekali. Dan, kemudian selalu menyisakan sebuah celah kosong dalam memori untuk memasukkan kenangan-kenangan, ingatan-ingatan baru. Dengan membiarkan ingatan berlarut-larut mengendap di memori kita, sebenarnya kita sedang menyiksanya."

"Bagaimana bisa?"

"Bagaimana tidak? Kemampuannya terbatas. Dan setiap kita melangkah, selalu ada peristiwa baru yang, paling tidak, membutuhkan sedikit celah untuk mengendap, singgah ---entah sementara atau lama. Orang harus melupakan, agar bisa mengingat apa saja yang terjadi setelahnya, karena memori manusia terbatas."

Aku terperangah. Ia mengucapkannya dengan wajah datar seperti biasanya kami kerap berbincang.

"Kamu harus lupa. Paling tidak, membuang segala sesuatu yang membuat ingatanmu tetap terpaku pada peristiwa-peristiwa yang lampau."
"Lalu?"
"Lalu kamu akan mengingat peristiwa-peristiwa baru, yang mungkin akan jauh lebih menyenangkan, berkesan, who knows?"

Aku diam.

"Ini bukan soal move on atau tidak move on. Ini soal bagaimana mengatur ingatan, bagaimana cara kita menyayangi diri sendiri terlebih dulu. Bukankah akan sulit sekali menyayangi orang lain jika pada diri sendiri kita tidak melakukannya?"

Aku diam.

"Atau jangan-jangan kamu masokis?"

Aku tersenyum. Seperti halnya aku tidak setuju perempuan selalu dituduh kurang rasional, pada laki-laki aku juga tidak suka jika selalu dianggap bisa mengungkapkan apa saja. Setidaknya aku, laki-laki, dan aku sulit sekali mengungkap hal ini.

Satu hal saja.

***



Fiksi yang ditulis di sela-sela ingatan pada seorang teman, yang katanya tidak ingin melupakan.

Perempuan yang Menyukai Hujan


Teleponmu baru saja kututup. "Sudah pagi," katamu. Sementara, di sini aku baru saja memulai istirahat makan siangku, sembari mengecek puluhan notifikasi yang mampir ke ponsel pintar. Tidak ada yang aneh dengan percakapan kita. Terlalu biasa, seperti rutinitas.

Dulu sekali ketika aku memutuskan menyetujui ini, aku tidak berpikir perasaan akan sebegininya dalam jarak yang memiliki perbedaan waktu. Kukira, usai mendaratkan ciuman menjelang keberangkatan di bandara, rasa tenang dan hangatnya akan selalu ada sampai nantinya kita bertemu kembali. Tetapi jatuh cinta memang soal rasa hati, dan ia adalah sesuatu yang paling tidak bisa ditangkap oleh panca indera manusia, juga oleh nalar.

Rasa hati seolah-olah adalah diri sendiri. Yang seharusnya dilihat, dianggap sebagai yang melihat. Yang seharusnya dikuasai, justru dianggap berkuasa. Sehingga seperti inilah laku orang jatuh cinta; lemah, terperdaya, tidak bisa apa-apa.

***

Kamu menjulukiku perempuan yang menyukai hujan. Kamu sendiri adalah hujan; datangnya selalu kunanti-nanti dan membuatku berharap-harap cemas setiap kali akan tiba. Meski tak jarang juga membuatku kecewa. Sebab, meskipun ada waktu yang memastikan hujan datang, kadang-kadang ia ingkar janji.

Hujan mengajariku tentangmu bahwa tak setiap waktu kamu bisa dipercaya. Lebih dari itu, ia juga memberitahuku bahwa sebaiknya kita tak setiap saat harus bertemu. Kita butuh sesuatu bernama rindu. Yang karenanya, bisa ada pertanyaan-pertanyaan tak praktis berloncatan dalam isi kepalaku, berkumpul, membludak, lalu tumpah bersama derasnya hujan yang turun lewat ujung goresan pena yang penuh dengan tinta.

Pada hujan, aku sering berpuisi. Sebab, hanya dengan puisi di saat hujan aku bisa merasakan irama di setiap detak jantungmu, cemasmu, juga bahagiamu. Kau adalah hujan itu sendiri. Itu sebabnya aku menyukaimu, menyukai hujan.

Semesta bicara tanpa bersuara
Semesta ia kadang buta aksara
Sepi itu indah, percayalah
Membisu itu anugerah 
Seperti hadirmu di kala gempa
Jujur dan tanpa bersandiwara
Teduhnya seperti hujan di mimpi
Berdua kita berlari 
Semesta bergulir tak kenal aral
Seperti langkah-langkah menuju kaki langit
Seperti genangan akankah bertahan
Atau perlahan menjadi lautan 
---Hujan di Mimpi by Banda Neira