Melengkapi Fragmen Jakarta

Aku merangkum kembali seluruh ingatanku tentang mengapa aku mau ke tempat ini.

Dalam benakku Jakarta adalah segala hal yang kita butuhkan untuk lupa. Pernah suatu hari aku sakit hati sebegitunya dan Jakarta adalah tempat sempurna untuk pergi, menenggelamkan diri dalam rutinitas padat dan menuntut berpikir ekstra. Aku lalu lupa.

Di satu sisi Jakarta menawarkan hiburan yang meriah; konser murah, jam session gratisan, sampai pameran-pameran seni — dan semuanya bisa kamu nikmati seorang diri. Kamu mungkin tidak butuh orang lain untuk sekadar menikmati kelas-kelas di Bentara Budaya atau menonton konser di TIM.


Ini tahun pertamaku kembali lagi ke tempat ini. Dua tahun lalu ketika aku di sini emosiku melekat pada orang-orang yang kutemui; beberapa dari mereka mempengaruhi perspektifku hingga kini. Aku belajar banyak hal yang kini satu per satu ingin kuulangi.

Seingatku pertama kali aku bekerja secara profesional tahun 2014 dan waktu itu aku masih kuliah. Jadi aku ingat setiap pulang kampus aku ke kantor, menenteng laptop yang segede melon, begitu setiap hari bahkan di akhir pekan.

Karena aku tinggal di Concat, maka sudah pasti aku melewati derita dunia lampu merah Gejayan yang aduhay. Beberapa waktu kemudian aku menemukan sebuah kedai kopi di dekat kantor tempatku akhirnya banyak membaca buku-buku Ayu Utami dan beberapa penulis kenamaan lainnya. Maka aku memutuskan menghabiskan waktu senja di sana, menunggu Maghrib terlewat, bahkan sampai malam, hanya untuk bisa motoran dengan tenang.

Yes. Motoran sendiri. Sebelumnya ketika aktif di persma aku bahkan pulang melewati ringroad utara yang konon banyak klitih-nya seorang diri pukul satu dini hari. Saking seringnya aku pulang pukul satu ini, aku sampai punya sebuah prosa tentang sepasang roh yang berjalan-jalan pukul satu dini hari.

Setelahnya aku tidur dan besoknya kuliah setengah delapan pagi. Begitu setidaknya aku menghabiskan sepanjang tahun perkuliahan hingga awal 2016 aku memutuskan untuk resign untuk fokus KKN, skripsi — dan membuat startup wkwk.

“Aku mau seproduktif dulu sih, tapi dengan vibes Jakarta. Kayaknya asik deh. Soalnya di sini orang gerak serba cepat,” ujarku pada seorang kolega di kantor.
Maka dimulailah rutinitas ke kantor sebelum pukul sembilan.

Aku tetap pulang malam seperti biasa. Tapi paling tidak sekarang tidak pernah dugem atau pulang pagi — sudah setahun ini sepertinya, aku menghindari tempat-tempat beralkohol, dan juga teman-teman perokok.

Satu langkah progresif karena beberapa hari ini aku konsisten dengan tidak tidur pagi.

***

Apa yang membuat seseorang berubah?

Aku tidak tahu. Di pikiranku aku pernah melihat versi lebih baik dari diriku sendiri. Kini aku 20an tahun dan aku mungkin hampir punya segala hal yang menjadi standar apa saja yang harus dimiliki orang seumuranku; aku lulus dari kampus ternama, punya pekerjaan bagus, mandiri secara finansial, karierku progresif dan prospektif dalam beberapa tahun ke depan, teman-temanku baik, keluargaku menyenangkan, dan aku masih bisa ngereceh di Twitter — ini anugerah terbesar dalam hidup.

Satu-satunya yang kupikirkan memburuk adalah belakangan aku merasa aku terlepas dari otoritas akan diriku sendiri. Mungkin akhirnya aku menyadari aku terlalu bergantung pada orang lain.

“Nggak seindependen dulu,” komentar teman yang kukenal sejak SMA.

Akupun mulai berpikir hari-hari di mana aku hanya fokus pada belajar dan bekerja tanpa banyak drama yang bikin ambyarr semuanya.

“I have seen you better. Kamu orang yang di kafe sendirian, berjam-jam dengan laptop sama buku, ke mall sendirian, belanja sendirian, kamu blogger receh yang produktif, dan kamu sangat easy going,” katanya.

Ia meneruskan, “Kamu bahkan dicari temenmu pukul satu pagi untuk diajak ke burjo karena dia galau, dan kamu mau! You’re such a good friend! Di tengah vibes Jogja yang serba selo kamu bisa gerak cepet, temenmu cuma kuliah kamu udah milih kerja, temenmu di level LM kamu udah melenggang ke FORMAD. What does happen with you?”

“Hmm nggak tahu.”

***

Di benakku soal Jakarta kemarin-kemarin adalah sebuah upaya untuk lupa, sebuah tempat sempurna untuk hilang ingatan. Namun belakangan aku mulai membuka-buka kembali ingatan tentang mengapa sejak dulu kupikir tempat ini ideal untuk mendidikku ketika aku sudah cukup dewasa — membentukku dalam sebuah pribadi yang utuh.

Jakarta bergerak serba cebat dengan logikanya sendiri. Ia hampir tidak menyisakan ruang untuk semua rasa baper dan hal-hal yang tidak logis atasnya. Aku ingat tentang lelucon lebih baik tinggal di bekas kuburan tapi murah karena di Jakarta lebih serem nggak punya uang daripada ketemu setan.

“Di sini tuh kalau kamu cuma mau cari uang, asalkan kamu mau kerja, kamu akan punya uang — sesederhana itu. Dan kamu, kamu punya privilege untuk lebih dari sekadar punya uang dan kerja, kamu bisa mikir, otakmu encer. Yang penting jangan males!” — Kak Bachtiar dalam sesi habis Maghrib di kantor.
Terlepas dari banyaknya pandangan negatif yang kudengar soal mantan bossku itu — eh, ada banyak sekali hal yang ia katakan sangat relevan untukku pada akhirnya. Jangan males. Jakarta tidak punya ruang untuk orang males. Itu salah satu yang ternyata menarikku ke sini lagi.

Kedua — masih yang ia katakan dalam sesi habis Maghrib — adalah selalu berpikir logis pada apapun yang kita lakukan. Jakartan menerapkan itu dan sesederhana itu sebenarnya untuk menjalani segala hal lebih mudah di sini.

“Kamu di rapat dimaki-maki karena kerjaanmu buruk tapi habis itu makan siang bareng, dan ya udah, profesional kok.”

***

Gerak serba cepat, logis, dan selalu mengedepankan profesionalitas tanpa baper yang berlebih mungkin pada akhirnya menjadi alasan terbesar mengapa dulu aku mau ke sini. Pikirku akhirnya hidup ini adalah sebuah perjalanan panjang untuk bertahan dari segala apapun yang tidak menyenangkan.

Aku hampir punya semua hal yang menyenangkan — bagaimanapun harus disyukuri. Dan menurutku bentuk rasa syukur paling nyata adalah berupaya sebisa-bisanya, sebaik-baiknya untuk tetap menjadi versi terbaik dari diri-sendiri.

Bagiku akhirnya cara melengkapi fragmen Jakarta ini bukan dengan mengutuk kotanya yang kejam atau lalu-lintasnya yang buruk. Tempat ini mendidik orang untuk jadi setangguh mungkin mencapai versi terbaiknya tanpa harus bergantung pada orang lainnya. Kita bertanggung jawab atas diri kita sendiri, atas kebahagiaan, atas semua masalah — yang harus diperjuangkan. Segala hal diperhitungan logis dan tidak banyak baper yang menguras emosi.

I do my thing and you do your thing. I am not in this world to live up to your expectations, and you are not in this world to live up to mine. You are you, and I am I, and if by chance we find each other, it’s beautiful. If not, it can’t be helped. — Gestalt prayer.

Tentang Sekolah Lagi dan Menjadi 'Master'

Seperti halnya semua mahasiswa Psikologi UGM, aku pernah punya cita-cita untuk langsung menempuh pendidikan master segera setelah lulus. Tahun 2018, aku menargetkan ke Belanda atau ke Inggris untuk mengambil master di bidang humanities atau studi psikologi sosial lainnya. Tapi serapi-rapinya matematika kita, tetep tidak akan bisa memprediksi matematika Tuhan yang luar biasa.

Di tengah-tengah proses kuliahku yang tadinya baik-baik aja, muncul masalah keluarga yang membuatku terlihat sangat egois kalau mau kekeuh untuk sekolah lagi segera setelah lulus. Pada waktu itu aku bahkan hanya berpikir studiku harus segera selesai, aku bisa punya uang sendiri, bertahan hidup sendiri, dan lain-lain --beberapa hal yang membawaku pada keputusan kerja bahkan sebelum aku lulus.


Pada akhirnya aku tidak pernah menyesali keputusanku untuk bekerja lebih awal pada saat itu. Aku mengubah "road map" dari semua hal yang kususun dengan baik ketika pertama kali aku masuk UGM. Sobat PPSMB pasti paham kan, tentang peta hidup 20 tahun ke depan yang diminta katingmu buat bikin waktu kamu OSPEK? WKWK. Aku juga punya.

Terlalu banyak yang berubah dalam tahun-tahun perkuliahan. Sesuatu yang kini kupahami sebagai dinamika kehidupan mahasiswa. Pada akhirnya kuliah S1 itu adalah sebuah "jeda" untuk berpikir dan menyusun kembali tujuan hidup. Hence, kamu perlu dukungan environment yang tepat agar kamu tidak keliru, atau paling tidak, nggak bingung ketika lulus.

Kembali pada tujuan sekolah lagi.

Biar aku jelaskan bahwa sebagai mantan 'inteleque' muda penghuni B21, aku sangat mengagumi isi pikiran seseorang. Aku melihat senior-seniorku menempuh studi dan menulis dengan sangat berkelas dan heroik. Logikanya tersusun rapi, cerdas, dan aduh pokoknya keren lah.

Jauh dalam pikiranku, ada sebuah ekspektasi yang 'lebih' pada mereka yang bergelar master. Because ya.. they are 'master' kan ya?

Dalam pikiran naifku, bergelar master akan sedikit mengubah perspektifku tentang suatu hal yang selama ini kupahami secara general. Katakanlah aku yang sekarang S.Psi, aku menyukai psikologi sosial, aku menyukai studi gender dan isu-isu seputar perempuan. Mungkin ketika aku studi master soal ini, aku akan sangat 'ndakik-ndakik' bicara ihwal topik tersebut. Bisa karena aku ketemu profesor-profesor baru, buku-buku baru, jurnal-jurnal baru, yang selama ini masih terbatas sebab yeah.. I'm just undergraduate gituh. Otomatis, dengan segala upgrading 'master' tersebut, segala hal yang kumiliki saat ini juga ikut terupgrade; cara berpikir, cara bekerja, kehidupan profesional, gaji?

Tadinya aku berpikir begitu.

"Kau tahu, studi master tidak seistimewa itu. Kalau tidak percaya, tinggallah dan bekerja di Jakarta."
Bagi orang-orang sepertiku, pendidikan adalah privilege. Tidak semua orang mendapatkan kesempatan sekolah yang bagus. Karenanya, orang-orang sepertiku memiliki ekspektasi yang lebih pada mereka yang sekolah lebih tinggi.

Namun, di Jakarta tidak begitu. Di sini banyak orang hidup dengan privilege sejak lahir. Jangankan buat sekolah sampe dapat gelar master ah elaaah, ibaratnya mereka pilek aja bisa kliniknya di Singapore gituh. Sejak kecil, orang-orang yang hidup dengan privilege mendapatkan banyak kemudahan dalam hidupnya, termasuk soal studi. Namun, dari sini, value dari menjadi seorang master itu tiba-tiba tergerus.

Kalau kamu ketemu orang yang gelarnya master, tapi kayaknya performa kerjanya B aja, banyak.
Kalau kamu ketemu orang yang gelarnya master, tapi logikanya kacau balau, banyak.
Kalau kamu ketemu orang yang gelarnya master, tapi goblok setengah mati, ya ada.

Simply because bagi mereka master ya adalah cuma master. Mau yang dalam negeri, luar negeri, banyak. Makanya ketika di Jakarta, aku lebih suka untuk menanyakan sesuatu dengan lebih detail. Misalnya, si A lulusan luar negeri. Luar negeri mana? Lebih jauh, kampusnya apa? Studi apa di sana? Atau kalau kepo banget aku akan nanya dulu tesisnya apa dan bagaimana metode penelitiannya.

Ada loh orang bergelar master degree dari salah satu universitas di Inggris yang tesisnya pakai metodologi yang bahkan di kampusku S1 ngajuin kayak gitu, buat beberapa dosen yang high level, mereka nggak ngebolehin karena terlalu sederhana dan datanya rawan bias. Ya jangan lah berekspektasi untuk mendapatkan analisis yang mendalam atau publikasi yang ciamik di jurnal internasional, lah level lulusnya aja sebatas yang-penting-lulus gitu.

So, it's not about the degree. Instead, it's all about yourself as an individual.

Aku belajar satu hal yang sangat mahal dari pertemuanku dengan 'orang-orang bergelar master' ini: sebelum sekolah lagi, tetapkan tujuan yang jelas mengapa mau sekolah lagi.

Gaesss. Studi master bukan karena kamu lulus S1 dan jobless berbulan-bulan lalu karena tertekan sama society kamu memilih sekolah lagi. Bukan juga karena kamu kerja tapi kok kayaknya B aja trus berharap dengan sekolah lagi akan membuat kariermu membaik. No, no, no.

"Jadi, lu nggak mau ambil master?" tanya seseorang akhirnya.
"Ya maulah pasti. Gila lu gamau haha. Tapi.."
"Tapi?"
"Tapi ada perhitungannya. Because I am on the right track being professional."

Yeah, I am a junior manager right now and my professional career is still growing. Melihat perhitungan pekerjaanku saat ini, naif kalau aku bilang aku akan melakukan apapun untuk mendapat gelar master.

"Eventho dapet beasiswa?"
"Iya. Unless itu beasiswa dari kantor mungkin, ya. Yang terus abis selesai sekolah gue dapet promosi jabatan gitu ya masuk sih itung-itungannya."
"Hmm ya juga ya."
"Iyalah. Kalau udah capek-capek kuliah, bayar mahal, tapi ujung-ujungnya harus memulai karier dari nol banget ya nyesek dong anjaay. ROI minus."

Return on Investment (ROI) menjadi bahan bercandaan yang paling santer aku dengar di kalangan teman-temanku. Maklum, sobat missqueen kayak kami yang di UGM kuliahnya cukup mengandalkan UKT bersubsidi masih menganggap biaya pendidikan kayak bentuk investasi. Ujung-ujungnya aku (dan mungkin teman-teman sepergaulan missqueenku) nggak menampik kalau tujuan bersekolah tinggi agar kemampuannya tinggi dan kemudian dihargai lebih tinggi.

Somehow aku masih percaya kalau kemampuan berpikir seseorang itu berbanding lurus dengan performa kariernya. Kan nggak lucu juga kalau tukang soto dipaksa jadi seniman mural atau tukang kayu dipaksa menjahit. Semua kemampuan ada porsi dan tempatnya masing-masing.

But again, it's not about the degree. It's about yourself as an individual.

Akhirnya aku percaya bahwa terlepas dari gelar apapun yang dimiliki seseorang, kualitas individu tetap tidak bisa berbohong. Mau nggak ada gelar apapun kalau emang basicnya udah ok ya bakal keliatan ok. Sebaliknya, mau gelarnya sepanjang apapun kalau otaknya B aja ya bakalan B aja dan itu keliatan kok di orang yang sudah dewasa.

"Jadi.. master udah nggak sakral?"
"Masih dong.."
"Lah bentukane 'itu' juga master loh.."

Wqwqwq.

Sekolah lagi masih menjadi keinginanku selain enhancing karier dan menjadi profesional di bidang bisnis digital saat ini. Entah untuk bergelar master, PhD, atau apapun, aku masih mencita-citakan sekolah lagi dan belajar hal baru sebagai sebuah tujuan dan proses sepanjang masa yang harus selalu dikejar dan diupayakan.


Pertemanan Sehat


Kepada adik-adik saya, satu hal yang selalu saya ajarkan sejak mereka kecil dan bergumul dengan peer groupnya adalah kalo punya temen tuh pilih-pilih. Bukan mengajarkan sombong, tetapi lebih kepada kamu memfilter lingkaran sosialmu agar membentuk dirimu seideal mungkin ke depannya.

Saya belajar banyak soal bagaimana lingkaran pertemanan ini berpengaruh sekali, misal pada abang saya di Jogja yang sejak dulu kukagumi lingkaran pertemanannya atau ketika di kerjaan sendiri saya melihat founder mendapatkan berbagai kesempatan bisnis ya dari orang-orang di sekitar, dari teman-temannya, dari circle terdekatnya. Therefore, I believe that #pertemanansehat works dan itu kemudian juga menjadi satu prinsip yang saya yakini sampai sekarang.

Saya bersyukur kuliah di UGM dan tinggal di Jogja selama bertahun-tahun. Bergaul dengan banyak orang yang meskipun "terbatas" namun bisa saya pastikan sangat berkualitas. Saya tidak punya banyak teman dari jurusan. Instead, saya membangun pertemanan saya justru dari anak-anak Fisipol, Hukum, hingga Ilmu Komputer. Dari mereka, tidak hanya kesempatan mengembangkan karier dan belajar hal-hal baru yg saya dapat, namun juga membentuk kepribadian saya untuk jadi orang yang lebih terbuka dan adaptif --dan tentu saja berkembang dari waktu ke waktu.

Saya bertemu orang berumur 27 tahun dan clueless kenapa urusan pertemanan menjadi sepenting ini; mengapa bergaul dengan mereka yg di usia 30an tapi tidak menampakkan peforma karier yang signifikan itu bahaya, atau kenapa bergaul dengan bapak-bapak yg punya anak perempuan peminum alkohol dibiarkan itu tidak baik. Ini soal pola pikir. Berada di suatu environment akan membentuk pola-pikir seseorang. Mungkin tidak disadari secara langsung, tapi pasti terbentuk. Entah dari perspektif melihat sesuatu, atau paradigma berpikir akan suatu fenomena.

Lebih dari itu, pertemanan menentukan pula penilaian orang terhadap kita. Setuju atau tidak, terserah. Pilihan masing-masing. Tapi, paling tidak sekarang paham kan, kenapa dalam setiap konflik yg bergesekan dengan teman-teman, saya mengedepankan mereka?

Karena teman-teman bagi saya adalah aset. Saat ini mungkin mereka hanya sebatas konco suwung ataupun teman yang dicari ketika buntu soal kerjaan atau hal-hal semacamnya. Namun, 10 tahun dari sekarang who knows kita akan punya bisnis bersama? Atau salah satu dari mereka adalah pemegang kebijakan? Atau malah investor yang akan membantu bisnis kita? Nobody knows about future tapi saya percaya pada proyeksi dari hal-hal yang terjadi pada masa kini. Terlebih proyeksi dari bagaimana pola pikir seseorang, bagaimana habit seseorang, dan lain sebagainya.


Tentang Relasi dan Perempuan yang Gagal Memaknai Hidupnya


Fragmen Pertama

Ketika mendengar selentingan bahwa si Bunga --bukan nama sebenarnya-- memiliki suatu "romantisme" terlarang dengan --sebut saja-- Joko, hari itu aku cuma menganggapnya angin lalu. Meski di depan mataku sendiri, aku pernah menyaksikan "sikap tidak biasa" yang dilakukan oleh dua orang yang sudah sama-sama dewasa. Bagaimanapun, aku perempuan 20an tahun, aku bertahun-tahun kuliah psikologi, dan yang terpenting, aku pernah jatuh cinta dan memiliki suatu relasi intim dan romantis dengan lawan jenis. Aku bisa melihat dengan sangat jelas; ya, mereka memiliki relasi yang tidak biasa. Tapi.. masa sih? Bukannya si Joko sudah beristri dan punya anak?

"Memang gitu sisss!" Si pemilik informasi terlengkap di sana membuka suara. Hari itu kami sedang di jalan untuk makan malam di dekat kampus.
"Kamu serius?" tanyaku. Masih tidak percaya.
"Astaga! Ngapain aku bohong sama kamu tuh buat apa? Faedahnya apa buat aku tuh apa?"

Sepanjang makan malam kemudian, topik obrolan kami hanya berisi pertanyaan-pertanyaan yang bahkan sampai sekarang, lebih dari setahun berlalu semenjak hari itu, masih belum terjawab.

Sejujurnya, sebagai perempuan berumur 23 tahun, aku sampai sekarang bertanya-tanya, sebenarnya, bagaimana sih masa depan yang dibayangkan perempuan berumur 20an seperti kami, belum menikah, berpendidikan tinggi, dan memiliki pekerjaan yang membuat kami bisa bertahan hidup sebagai perempuan terhormat, memilih menyukai pria yang sudah berpasangan?

"Kira-kira apa ya, yang dipikirin orang-orang seperti Bunga itu? Jujur aja aku penasaran, karena logikaku sama sekali nggak masuk," ujarku jujur waktu itu.
"Entah."

***

Fragmen Kedua

Sejujurnya aku bersimpati dengan perempuan-perempuan yang menyukai lelaki milik orang. Kau tahu kenapa? Sebab laki-laki tidak mau disalahkan. Baginya, hal-hal yang seperti Bunga-Joko itu tidak akan terjadi kalau si perempuan tidak memulai duluan. Pada beberapa kasus, kadang lelakinya yang bangsat, namun, bahkan pada lelaki paling baik-baik sekalipun, hal itu bisa terjadi.

"Masa sih ceweknya yang mulai duluan?"
"Iya. Orang cowoknya ngebiarin aja kok. Nggak ngerespons."
"Braaay. Paham nggak sih, kalo ngebiarin aja itu berbeda dengan 'melarang dengan tegas' hm? Sekarang pertanyaanku, apakah si cowok sudah dalam usaha melarang dengan tegas?"

Orang di depanku diam saja. Aku tidak habis pikir bagaimana bisa posisi perempuan selalu serba salah seperti ini.

Dear lelaki, jika sampai kalian membaca tulisan ini, kalian masih tidak paham bagaimana psikologis perempuan seumuran kami. Begini, biar aku jelaskan.

Pertama-tama, kalian sudah bukan remaja. Jadi, itu yang harus kalian pahami. Ketika kalian sudah beranjak dewasa, percayalah relasi-relasi kalian akan semakin menyempit. Maka, sudah tentu kalian memahami dengan betul, bagaimana habit dari masing-masing orang di sekitar kalian.

Ketika kalian dewasa, ada dua jenis lingkaran pertemanan yang kalian punya. Satu jenis teman-teman yang memang sudah terikat waktu saking lamanya kalian berteman. Kedua, adalah teman-teman baru kalian yang kalian temui di tempat kerja. Dan tentu saja kalian tahu ya, relasi kolega itu "semestinya" seperti apa dan relasi pertemanan kalian yang sudah kelewat lama itu "normalnya" seperti apa.

Maka, ketika ada hal-hal yang tidak biasa, tolong jangan naif. Sudah tentu individu tersebut menaruh ekspektasi yang berbeda.

Bicara perihal ekspektasi inilah yang membahayakan. Dengar perdebatanku dengan orang barusan? Dibiarkan.

Sebagian laki-laki cukup baik dengan tidak menggubris hal-hal seperti ini, ketika mereka memiliki pasangan. Namun, demikian, jika tidak ditegaskan, itu artinya, kesempatan masih terbuka.

Ingat loh, ada perbedaan yang sangat besar antara "membiarkan tanpa menggubris" dengan "melarang dengan tegas" yang kemudian ditangkap oleh lawan jenis.

Dalam beberapa perbincanganku dengan teman-temanku, kami sepakat untuk menganggap manusia-manusia seperti ini sama sampahnya.

Bagi Lamia, misalnya, perempuan yang menyukai lelaki milik orang, atau laki-laki yang membiarkan perempuan seperti itu berseliweran di sekitarnya, dua-duanya sama-sama tidak tahu diri dan tidak punya harga diri. Si laki-laki tidak paham komitmen, dan si perempuan gagal memaknai kehidupannya. Menurut kami tentu saja hal yang sama terjadi juga pada laki-laki yang menyukai pasangan orang. Keduanya sama-sama tidak punya harga diri.

"Begitulah kalau tutup botol plastik dikasih nyawa."

Aku tertawa mendengar komentar Lamia, tapi aku setuju. Permasalahannya memang hanya orang-orang seperti kami tidak paham jalan pikiran mereka. Pun aku tidak pernah mengerti motivasi di baliknya. Mungkin tidak seperti mereka, kami masih mampu memaknai kehidupan kami dengan baik.

***

Fragmen Ketiga

Dalam perbincangan menuju ke bandara. Sesaat sebelum kembali ke Jakarta.

"Dalam relasi itu, ada laki-laki dan perempuan. Jika keduanya sudah sepakat untuk memiliki sebuah komitmen, maka keduanya wajib menjaga diri masing-masing, dan juga pasangannya. Nanti kalau kamu sudah dewasa, kamu akan tahu bagaimana caranya mempertahankan apa yang kamu miliki sebab itu hakmu. Percaya deh, sekeren-kerennya kamu menjadi perempuan, menjadi janda itu tetap bukan pilihan. Jadi menikah itu memang bukan sesuatu yang sederhana. Jangan sampai salah orang. Amit-amit."

Hari itu di ufuk timur Bandara Ahmad Yani Semarang yang baru, matahari mulai malu-malu muncul. Lalu-lalang orang mulai memadati bandara sepertiku menunggu pesawat pagi.

Sepanjang perjalanan dari Semarang ke Cengkareng, sampai di Menteng dan kembali ke kamar menyalakan AC dan melanjutkan tidur yang tertunda, aku berpikir keras. Benar juga ya. Menikah memang tidak sesederhana itu. Tetapi menjadi perempuan yang belum menikah juga ternyata tidak semudah itu.

Aku belum menikah. Di pikiranku saat ini, tidak ada sedikit pun terlintas bayangan bahwa aku menyukai lelaki milik orang. Bahkan pada beberapa teman lelakiku, jika pasangannya merasa kurang nyaman dengan pertemanan kami, aku mengalah untuk kebaikan kami semua. Aku bersumpah pada diriku sendiri, sekeren apapun orang itu, jika dia sudah jadi milik orang, maka tidak sedikit pun aku berhak atasnya. Tidak perlu jauh-jauh untuk mencari alasan mengapa harus begitu. Cukup pikirkan, bagaimana jika hal tersebut terjadi di kamu? Milikmu diambil orang, atau diganggu orang?

Alasan lain adalah kupikir sebagai perempuan, aku berhak memiliki kehidupan yang lebih baik dengan tanpa mengganggu atau menyakiti orang lain. Hal-hal yang kemudian bagi perempuan sepertiku, atau bahkan Lamia, diterjemahkan sebagai "pemaknaan atas hidup" kami yang harus diperjuangkan.

Perempuan yang menyukai lelaki milik orang adalah perempuan yang gagal memaknai hidupnya. Dan begitupun laki-laki yang menyukai perempuan milik orang lain. Mungkin akan lebih adil jika kubilang, orang yang menyukai milik orang lain, adalah mereka yang gagal memaknai hidupnya. Sebab mereka terlalu tidak berharga untuk sekadar menjaga harga diri dan kehormatannya, untuk, paling tidak, jangan mengganggu ketenangan dan kebahagiaan orang lain.

Ada Satu Hari


Ada satu hari di Bukit Ciumbuleuit. Waktu itu anginnya sejuk meski matahari terik membakar kulit. Kau dan aku duduk berdua, di bawah pohon rindang yang sesekali kita keluhkan daun-daun gugurnya. Tak jauh di sana, hamparan hijau sejuk dipandang mata. Kan, kubilang juga apa. Bandung jauh lebih menyenangkan daripada Jakarta.

Kau dan aku duduk berdua. Kita diam saja dan tidak tahu mau apa. Tapi kita duduk saja, berdua. Meresapi setiap sajak yang pernah ditulis Sapardi dalam puisi-puisinya.

Kita berdua saja, duduk.
Aku memesan ilalang panjang dan bunga rumput.
Kau entah memesan apa.
Tapi kita berdua saja, duduk.
Memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga. Sampai suatu hari kita lupa untuk apa. "Tapi yang fana adalah waktu, bukan?" tanyamu. Kita abadi.