Dalam Dunia yang Lain


Belakangan ini, dengan privilege yang bertambah, aku memiliki kegemaran baru, yakni mengoleksi buku. Aku menyukai buku sejak kecil dan aku hampir tidak pernah tidak membaca buku dalam hidupku. Tapi menjadi WNI, lahir di keluarga yang tidak kaya-kaya amat, membuat aksesku terhadap bacaan tidak sebagus itu. Orang tuaku tidak membaca buku. Mereka suka-suka aja sih, hanya tidak punya akses pada bacaan dan tidak punya waktu luang. 

Maka tidak heran jika salah satu trauma kemiskinanku adalah hidup dengan buku-buku.

Soal bacaan, jujur aja aku nggak punya selera. Sepertinya aku membaca sesuai umur. Saat kecil, aku membaca buku-buku macam Lupus, Lima Sekawan, dan beberapa buku cerita anak Islami karena pengaruh lingkungan yang agak religius. Lalu aku membaca teenlit saat SMP dan SMA. Di antara buku-buku teenlit itu, aku membaca Laskar Pelangi, Ayat-Ayat Cinta, dan Bumi Manusia sekaligus. 

Oh, tidak ketinggalan aku juga membaca puisi. Aku membaca puisi-puisi Taufik Ismail, Chairil Anwar, dan WS Rendra di perpustakaan sekolah. Saat mengenal internet, aku membaca Omar Khayyam. Aku tidak membaca banyak non-fiksi, kecuali buku-buku pengembangan diri macam Chicken Soup atau buku yang randomly dihadiahkan beberapa teman dan dari acara organisasi pelajar dan pemuda yang rajin kuikuti waktu remaja.

Baru saat kuliah bacaanku agak meluas. Aku mulai membaca buku berbahasa asing lebih sering. Aku mengenal buku-buku filsafat, psikologi, politik, ekonomi, dan dari semua itu aku tetap menyukai buku fiksi. WKWK.

Namun, pembacaanku terhadap fiksi benar-benar berubah seiring dengan meningkatnya usia. Saat pertama kali menemukan Bumi Manusia, waktu itu aku SMP, otakku yang belum terdevelop sempurna tidak mampu membacanya. Namun di umur 30an, aku membaca Bumi Manusia dan buku-buku lanjutannya dengan meradang karena rasanya kita masih hidup di era kolonial. Aku makin benci dengan penguasa.

Pun saat dulu aku bahkan kepikiran ingin ke Mesir dan menikahi anak rohis karena membaca Ayat-Ayat Cinta. Di umur sekarang, aku membacanya sambil marah —marah kenapa dulu aku sampai menabung untuk beli buku ini, bajingan!

***

Dalam lima tahun terakhir, buku-buku yang kubaca sangat mempengaruhi caraku bersikap dan bertindak. Pada level tertentu, aku mempertanyakan keputusan-keputusan besar yang kuambil sebelum aku cukup 'dewasa' menurut ukuranku. Misalnya saja, salah satunya adalah menikah. Like.. kok bisa aku menikah di umur 26 tahun? Ya suamiku umurnya udah 30an saat itu, tapi aku masih muda banget, kan?

Aku sendiri bahkan sekarang bingung.

Am I unhappy with the marriage? I don't think so. Dibilang kecewa enggak, tapi dibilang satisfied banget juga nggak juga. Dalam lima tahun terakhir aku merasa pernikahanku seperti orang pacaran yang divalidasi dengan hukum negara dan diterima secara sosial dan budaya saat kami hidup bersama. Di satu titik, kadang aku memang yakin, menikah itu seserius itu —seperti yang pernah kutulis dalam post Medium-ku. Tapi pada banyak titik yang lain, aku tidak terlalu yakin perasaan itu signifikan dan apakah perasaan itu dialami juga oleh pasanganku.

Aku tidak tahu yang terjadi dalam pernikahan lain, tapi kurasa sampai sekarang pasanganku masih kikuk dengan fakta bahwa dalam pandangan hukum dan sosial, kami adalah pasangan. Maka saat kemarin hotel tempat kami menginap memberikan romantic decoration saat membereskan kamar kami, dia justru bingung.

Pada pasangan normal lainnya, aku rasa orang-orang sampai request dan mau membayar, tapi di pasanganku, itu membingungkan. Soal ini aku bisa membahas panjang dalam post lain, tapi yang kupikirkan adalah dengan segala hal baru yang kuterima dan kupelajari, aku merasa aku menjadi individu baru dengan segala ekspektasi yang berbeda daripada diriku lima tahun lalu.

Tapi, kadang aku juga berpikir, jika segala hal yang kuterima dan kupelajari ini mengubahku menjadi 'individu lain', apakah mungkin jika suamiku juga berpikir dia menikahi orang lain lima tahun lalu? Atau malah sepuluh tahun lalu saat kami saling kenal?

Di kepalaku sendiri, suamiku juga menjadi individu yang berbeda. Aku merasa dia bukan orang yang kunikahi bertahun-tahun lalu. Dan apakah dengan perubahan-perubahaan itu kita masih bisa cocok satu sama lain? Inilah pertanyaan besar soal pernikahan yang dari dulu menghantuiku.

Sebelum aku menikah, sebenarnya aku sudah memikirkan hal ini. Namun, sekarang setelah benar-benar menjalaninya, dengan segala kompleksitas berpikirku akibat bacaan yang bertambah, aku makin berpikir, dan berpikir. Dan saat kompleksitas berpikirku mencapai puncak, aku ingat sebuah kutipan tulisan dari penyair Mahmoud Darwish.

Katanya, "We went too far in our thinking and forgot that our destinies are written."

Demikianlah menjadi pembaca kadang-kadang menyulitkanku. Maka sesekali aku cukup iri dengan orang tidak tahu apa-apa atau simply tidak mau tahu. Berbahagialah mereka yang hidup dalam ketidaktahuan, karena mengetahui sesuatu membuat dia berpikir, dan berpikir membuat dia merasakan sesuatu.

***

Meski demikian aku tetap memutuskan membaca dan membeli buku. Terlebih buku-buku lama. Buku-buku itu, yang ditulis puluhan dan ratusan tahun lalu, aku sungguh berpikir penulisnya luar biasa. Mereka membawaku tepat pada hari-hari di mana peristiwa itu terjadi. Misalnya saat membaca Anna Karenina, aku sungguh merasa di tengah-tengah pertunjukan teater dan membayangkan pandangan sinis orang-orang menghakimi, ituloh perempuan yang ninggalin anak dan suaminya buat kabur sama laki-laki lain.

Atau misalnya saat membaca No Longer Human, aku benar-benar merasa sedang di Mitaka, berjalan di gang-gang kecil yang di ujungnya ada kedai minuman keras, lalu aku melihat pemuda setengah mabuk sedang berbincang dengan pegawai wanita penjaga kedai.

Saat aku benar-benar berjalan-jalan di Ginza, aku membayangkan di supermarket mana ya, dulu si orang dalam cerita Hantu Ginza itu mati terlilit tali balon udara? Dan beginikah Ginza rupanya? Agak beda dengan Ginza yang kulihat 100 tahun lalu, yang dipenuhi lampu-lampu neon pada malam hari dan gedung-gedung bertingkat yang di atapnya terdapat balon-balon udara untuk promosi.

Buku membawaku pada dunia-dunia yang lain yang tidak ada dalam kehidupanku saat ini. Seperti juga sinema. Hanya jika lewat buku, imajinasiku lebih personal, karena aku memvisualisasikan dalam kepalaku sesuai apa yang kumau, hal-hal yang tidak realistis, hal-hal yang sulit, hal-hal yang dalam kehidupanku saat ini tidak mungkin kutemui.

Aku tidak tahu apakah reinkarnasi benar-benar ada, tapi pun jika tidak ada, buku membantuku masuk dalam dunia yang lain; dunia yang mungkin tidak kumiliki dan tidak perlu kusembuhkan susah-payah sambil berperang melawan trauma pada diri-sendiri karena dilahirkan.

Aku tidak tahu apakah reinkarnasi benar-benar ada, tapi pun jika ada, aku tidak mau lahir lagi. Hidup barangkali menyenangkan, tapi aku setuju, yang paling beruntung adalah yang tidak pernah dilahirkan.

Catatan-catatan yang Dibuat Saat Tidak Bekerja



Hari ini tidak seperti biasanya aku cuti tapi tetap ke Jakarta. Biasanya satu-satunya alasanku cuti tanpa sebab adalah karena aku malas ke Jakarta. Tapi hari ini aku punya janji dengan agency untuk urusan yang bukan menyangkut pekerjaan di jam 4 sore dan oleh karena itu aku harus ke Jakarta. Tapi aku tidak mau bekerja, jadi aku cuti.

Saat mengemasi tasku, suamiku bertanya kenapa aku membawa laptop pribadi dan bukan laptop kantor. Kubilang, "Ya kan aku nggak kerja."

"Hah, kenapa nggak kerja?"

"Kenapa nggak?" Aku bertanya balik, jadi percakapan kami soal tidak bekerja itu selesai.

Sebenarnya aku sering bilang ke suamiku, jauh sebelum kita saling mengenal, aku bukan orang yang kayak sekarang. I mean.. I was just different. Aku nggak tahu sejak kapan aku sangat suka kerja; barangkali sejak sadar aku miskin dan bekerja adalah satu-satunya cara untuk lepas dari jerat kemiskinan itu.

Dalam sepuluh tahun terakhir, aku menyingkirkan hal-hal yang kusukai (yang tidak terlalu menghasilkan uang) dan mengejar sesuatu yang seluruhnya berorientasi pada apakah aku akan memperoleh kenyamanan finansial darinya. Misalnya, aku memilih bekerja di tech, yang kupikir 10 tahun lalu adalah sebuah shortcut kalau aku mau cepat dapat gaji tinggi dan karenanya terbebas dari masalah-masalah finansial.

Aku hampir nggak ingat gimana rasanya pacaran di usia yang lebih muda. Seingatku sejak SMA aku tergila-gila dengan seseorang sampai aku kuliah. Lalu di kampus aku juga sempat tertarik dengan satu atau dua orang. Tapi keseluruhannya tidak ada yang benar-benar kuingat sebagai romansa yang menarik --yang worth it untuk diceritakan berulang-ulang. Lalu aku ketemu laki-laki yang sekarang jadi suamiku. Pertemuan kami singkat. Aku nggak ingat kapan kami jadian atau gimana kami pacaran, yang jelas dia membuntutiku terus-menerus selama empat tahun dan akhirnya kami menikah.

Setelah sepuluh tahun hanya sibuk bekerja dan mengesampingkan hal-hal yang sebenarnya aku sukai, belakangan aku mulai merasa, kerja ini nggak ada habisnya. Aku masih kerja dan kurasa aku masih perform dengan baik, tapi sepertinya setelah sepuluh tahun aku merasa ada sesuatu yang lain yang harus lebih sering kulakukan.

Maka dalam beberapa waktu terakhir ini aku memutuskan untuk lebih rajin membaca buku, menonton sinema, dan bertemu dengan orang-orang baru yang dalam hal ini kuputuskan adalah sesama pembaca buku.

Selama ini aku sering bilang aku adalah pembaca buku yang baik. Aku suka membaca buku (buku apa saja kecuali pengembangan diri dan buku psikologi yang tidak ditulis oleh psikolog) dan sejak dulu ingin jadi penulis buku teenlit. WKWK. Jangan tanya bagaimana usahaku agar tulisan teenlitku diterbitkan (yang untungnya tidak pernah terbit itu).

Selama masa transisi dari zaman sekolah dan kuliah yang menyenangkan (meski miskin) hingga hari ketika aku officially pindah ke Jakarta untuk jadi budak korporat, aku masih menikmati hari-hari 'tidak produktif' di Jakarta. Hampir setiap akhir pekan aku mencari event; diskusi buku, nonton bareng, pertunjukan-pertunjukan seni dan pameran. Di masa itu, duduk sendiri di kafe dengan laptop adalah kegiatan paling masuk akal yang menyenangkan. Pada hari-hari yang lain, aku bepergian dengan teman ke kota-kota di sekitar Jakarta dengan moda transportasi umum, lalu makan di pinggir jalan mengganggu pejalan kaki karena trotoarnya dipakai untuk menggelar lapak.

At some points, kurasa aku kangen masa-masa itu. Dan kupikir, pemikiran-pemikiran ini tidak eksklusif kurasakan. Sebut saja Tania, yang tiba-tiba mengirimiku pesan Whatsapp, mengungkapkan betapa dia kangen waktu kita ke Kebun Raya Bogor, lalu pulangnya makan bakso di dekat Stasiun Tebet. Atau saat kita ke Bandung dan nongkrong di Wiki dengan hanya modal beli satu dua makanan. Tania bilang, "Aku kangen hal-hal kecil kayak gitu bisa diromantisasi."

Ah, iya lagi. Sepulang dari Wiki itu aku bahkan menulis tulisan pendek berjudul "Patah di Bandung" yang sepertinya masih ada di blog ini.

Masa-masa itu, tanpa terasa, tergerlincir begitu aja. Tahu-tahu sekarang lewat sepuluh tahun lebih sejak kami nonton konser di Sabuga, dan sedihnya hal-hal itu tidak bisa terulang sama persis.

Maka buatku sendiri, berikhtiar untuk melupakan sejenak kerja adalah selemah-lemahnya cara untuk tetap terhubung dengan 'kebahagiaan-kebahagiaan' kecil yang dulu sering kunikmati. Aku punya lebih dari 20 hari cuti, mungkin bahkan sampai 30 hari jika ditambah cuti-cuti pengganti dari kerja-kerja overtime, tapi herannya selama ini aku tidak pernah benar-benar cuti untuk sekadar menikmati waktu di kafe; membaca buku, menulis blog seperti ini, atau ya udah bengong aja.

Dulu aku sempat berpikir, ah menyenangkan kali ya, kalau kita punya duit lebih. Memang poin bahwa di dunia kapitalis ini kita selalu perlu uang, itu benar. Tapi ternyata jauh dari sekadar mencari uang, aku mulai berpikir mencari makna dari kegiatanku sehari-hari yang ternyata cuma bekerja itu.

Benarkah cuti dan tidak bekerja artinya tidak produktif? Apakah cuti hanya digunakan untuk hal yang penting-penting aja? Nggak bisakah aku cuti dan nggak ngapa-ngapain, atau yang lebih nggak bisakah aku cuti untuk napak tilas pada hari-hariku sepuluh tahun lalu, saat hal-hal kecil lebih gampang aku syukuri?

Don't get me wrong. Aku nggak berpikir bahwa hidupku sekarang tidak menyenangkan ya. Kurasa karena bekerja dalam sepuluh tahun terakhir, hidupku sekarang sedikit-sedikit lebih menyenangkan dibandingkan dulu. Sayangnya kesenangan-kesenangan itu sekarang tidak bisa sederhana; nggak bisa cuma bisa duduk sambil ngeblog di kafe atau melamun mikirin plot novel yang tidak pernah jadi novel. Sekarang, seperti yang dibilang Tania, kurasa bahagiaku juga harus lebih kompleks.

Dalam sistem kapitalisme yang jahat ini, mau nggak mau aku akhirnya masuk dalam pusaran itu; tentu saja karena semua hal butuh uang. Bahkan untuk duduk di kafe seharian atau membaca lebih banyak buku, aku perlu uang, kan? Itu benar. Tapi kurasa aku perlu menyeimbangkannya agar aku tetap grounded dan tetap menjadi manusia yang punya makna.

Beberapa orang memaknai hidupnya dengan pekerjaannya; itu nggak salah. Tapi dalam kasusku, aku rasa aku nggak bisa setotalitas itu pada hal yang bernama kerja. Pada akhirnya kerja adalah bagian dari hidup yang kujalani mungkin dalam dua puluh tiga puluh tahun ke depan. Aku masih akan perform dengan baik; di kantor aku seorang AVP sekarang. Aku pekerja cukup senior yang harus jadi mentor untuk beberapa orang di timku. Tapi aku juga adalah Ervina sebagai manusia; aku seorang pembaca buku, menikmati seni yang tidak ada duitnya, dan bercita-cita menulis novel teenlit yang nggak tahu akan laku berapa eksemplar kalau benar-benar diterbitkan. WKWK.

Di hari cutiku yang kutujukan untuk nggak ngapa-ngapain ini, aku mutuskan untuk akhirnya duduk di kafe, membuka blog, dan menulis post ini. Mungkin ini waktu yang tepat untuk aku berpikir lagi secara strategis bagaimana aku bisa benar-benar menulis yang bukan cuma curhat di blog ini. Dengan serius tentu saja.

Yang Tidak Dibicarakan Orang dari Pernikahan

In Buddhism, the lotus symbolizes the journey of enlightenment, with its petals unfolding to represent the path from attachment and desire to clarity and purity.

Seperti halnya jadi orang tua, menjadi pasangan juga aku rasa nggak ada ilmu pastinya. Psikologi pernikahan ada sih, tapi seingetku itu nggak lebih dari nasihat-nasihat normatif mengenai peran suami, peran istri --yang sangat dipengaruhi konstruksi sosial. Beberapa kadang tidak terlalu relevan dan tidak kusetujui, kurasa. Sisanya hanya bualan soal cinta, kedekatan, dan komitmen.

Konon katanya, semua pasangan pernah sangat mencintai, tapi waktu pasti pelan-pelan mengikis rasa cinta itu. Sisanya tinggal kedekatan, dan jika menikah, maka pasangan akan punya komitmen --dan ini yang membedakan mereka yang memutuskan menikah dan tidak menikah.

Aduh, komitmen. Aneh sekali aku mencerna hal yang satu ini.

Kemarin di obrolanku dengan seorang teman sambil makan siang, kubilang, karena sudah memutuskan menikah, aku mau merawat pernikahanku, tapi jujur aja aku nggak punya figur yang benar-benar kudambakan kisah pernikahannya dan kumintai advise soal pernikahan. Bahkan orang tuaku sendiri yang sudah menikah lebih dari tiga puluh tahun. Maksudku, meski mereka bertahan selama itu, dan keluarga kami relatif 'baik-baik aja', tapi aku sendiri nggak mau kalau harus berada di pernikahan seperti orang tuaku. Agak sulit kujelaskan, tapi intinya aku nggak mau aja.

Dalam cerita lain, aku mengenal seorang laki-laki, seorang suami, yang isi kepalanya hanya selangkangan. Laki-laki ini kulabeli 100% bajingan, bukan karena dia menelantarkan anak-istrinya, tapi karena kurasa dia memberiku gambaran yang mengerikan soal pernikahan dan komitmen. Sebagai seorang istri juga, aku sulit percaya kalau istrinya, di rumah, tidak tahu bahwa isi kepala suaminya tidak jauh-jauh dari tetek perempuan lain, atau bahkan terang-terangan berfantasi ingin main bertiga dengan dua kolega perempuannya di kantor.

Kayaknya hampir nggak mungkin sih, istrinya nggak tahu. Aku rasa istrinya tahu. Tapi laki-laki itu adalah suami yang 'berkomitmen' pada pernikahannya. Ia bekerja untuk keluarganya, sayang ke anak-anaknya, bahkan ke istrinya --wow foto profilnya mereka berdua sedang dinner, romantis sekali.

Jadi meskipun tahu otak suaminya ada di kontol, tapi aku rasa istrinya juga sedang berkomitmen pada pernikahan mereka yang mungkin berusia 10 tahunan --seusia anak mereka.

***

Aku kadang-kadang menyalahkan society atas kerancuan pikiranku dan segala skeptisisme soal apapun, termasuk soal pernikahan. Di umurku yang segini dan di usia pernikahanku yang hampir lima tahun ini, aku bahkan belum memutuskan akan punya anak atau enggak, simply karena aku skeptis, bahkan ke diriku sendiri. Kayak.. aku masih bertanya-tanya apakah itu keputusan masuk akal, atau jangan-jangan malah nanti kami semua menyesal, termasuk anakku.

Aku sudah melihat banyak orang di sekitarku, bahkan teman-teman seusiaku yang akhirnya memilih untuk menyudahi pernikahannya. Beberapa di antaranya punya anak, yang kemudian tumbuh tanpa konsep keluarga yang normatif. I don't know what happens to their kids, but they seem to be fine.. Ini kayak sekali lagi ngasih gambaran yang beda banget dari generasi orang terdahulu yang menganggap anak adalah pengunci final dari langgengnya ikatan pernikahan dan bahwa sekali lagi, keberadaan anak nggak menjadi penentu keberadaan pernikahan.

Kalau suatu hari aku punya anak dan dia membaca arsip tulisan ini, percaya deh, kalau kamu sampai bisa baca tulisan ini, kelahiranmu sungguh sebuah hasil pemikiran matang dan cinta yang seluas jagat raya. Kayak kalau kamu sampai ada di dunia yang sedang rusak ini, berarti sebegitunya aku mencintai dan menginginkanmu. Kamu bukan hasil tuntutan society atau karena biar aku bertahan di 'komitmen' pernikahan dengan ayahmu, enggak. 

Kalau kamu sampai ada, artinya aku sebegitunya menginginkanmu.

Aku rasa secara general aku merasa senang dan menikmati 'journey' pernikahanku. Karena bersama suamiku hampir 10 tahun sejak aku mengenalnya, aku merasakan sekali bagaimana kami bertumbuh dan berproses menjadi lebih baik --dalam hal apapun.

Banyak hal yang kami lewati untuk pertama kali dan bahkan setelah hampir sepuluh tahun mengenal satu sama lain, selalu ada yang pertama kali --yang kadang-kadang bikin aku nggak habis pikir ini emang serius ya menikah itu harus kayak gini?

***

Katakanlah aku cukup beruntung dalam hidup ini, aku nggak menampik itu. Tapi, pasti kita juga berpikir, jika keberuntungan datang setepat waktu itu, hal paling nggak masuk akal apa yang bisa terjadi dalam hidup untuk mengimbanginya?

Apakah sepadan, misalnya, keberuntungan dalam bentuk materi berlimpah dibarengi dengan suami yang otaknya di selangkangan? Kalau di kasus orang itu, kayaknya aku nggak sanggup sih. Kayak membayangkannya aja aku nggak sanggup, segimana frustasinya jadi istri yang suaminya sangat terobsesi dengan tetek teman sekantornya.

Tapi ya, bisa juga aku berpikir begini karena aku lahir dan besar dengan nggak punya apa-apa yang harus kupertahankan kecuali harga diri dan diriku sendiri. Jadi kupikir bahwa dalam pernikahan pun aku nggak akan 'mempertahankan' sebegitunya, toh itu cuma pernikahan.

Beda halnya kalau misalnya aku dari keluarga konglomerat yang terhormat, yang padaku melekat segala status, wibawa, dan nama baik, yang hanya akan tetap melekat jika aku bertahan pada nilai-nilai yang dianggap normatif di masyakarat, bahwa perempuan yang baik adalah yang bertahan pada pernikahan, berkorban untuk keluarga, dan menjadi pakaian yang menutup aib suaminya.

Aku dan suamiku kan.. miskin ya, jadi ya, lucu aja ngebayanginnya. WKWK.

Pada akhirnya aku tetap percaya pada teori Sternberg, memang ada tiga fondasi dalam cinta itu; hasrat, kedekatan, dan komitmen. Tapi aku menolak komitmen sebagai hal yang final. Menurutku ketiganya harus tetap ada, harus balance. Pernikahan tanpa komitmen, bukan lagi pernikahan. Pun pernikahan tanpa hasrat dan kedekatan.

Tentu ini cuma berlaku di aku ya. Psikologi kan sangat individual. Dan sekali lagi nggak ada ilmu pasti yang bisa mengajarkannya dengan precise.

Tiga Puluh Tahun

Bloom with grace, courage, and resilience, and inspire others to do the same.

Beberapa waktu lalu ketika ke Singapore, aku berkesempatan ketemu dengan mantan atasanku; salah satu orang terpenting yang membentukku secara pribadi dan profesional seperti sekarang. Dalam pertemuan kami yang singkat itu — karena beliau luar biasa sibuk, dia menanyakan kabarku dan kubilang bahwa saat ini aku sedang ‘living the best time of my life’.

Tentu bukan tanpa alasan aku bicara demikian, karena nampaknya, setelah 30 tahun aku hidup, aku merasa aku baru bisa memaknai hidupku sebaik ini.

Ah, 30 tahun. Angka genap yang sempurna.

Di usia 30 tahun, aku merasa energiku sebaik ketika aku 20 tahun. Namun, di masa ini, psikisku berkembang jauh lebih baik. Aku jadi kalem dengan segala hal, melihat tragedi jadi komedi, dan aku lebih rileks untuk semua hal yang nampaknya tidak bisa kukontrol. Secara penuh pula, aku merasa lebih mencintai diriku — yang seumur hidup kupertanyakan apakah aku cukup baik, apakah cukup layak dicintai, apakah cukup pintar, apakah cukup menarik?

Barangkali karena hal-hal yang dulunya ingin kuvalidasi, sekarang sudah tidak lagi — atau mungkin sudah?

Sesederhana pertanyaan soal pasangan. Dulu di usia 20, aku kerap bertanya-tanya apakah aku sungguhan akan ketemu orang yang dengannya aku bisa menikah dan membangun keluarga? Pada saat itu, di lingkaranku yang terbatas, aku merasa tidak terlalu tertarik dengan laki-laki lebih dari teman. Kalaupun ada satu dua yang membuatku tertarik, itu sebatas rasa penasaran. Artinya, untuk jangka 10–20 tahun pun aku tidak melihat bagaimana jalannya kami bisa bareng.


Hal kedua adalah soal pekerjaan. Di usia 30 ini, aku akhirnya sadar sudah 10 tahun aku bekerja. Memang sih, kerja fulltimeku baru mulai sekitar 8 tahun lalu, tapi secara profesional, sebenarnya aku sudah mulai bekerja sejak 2015 ketika mengambil project-project di kampus ataupun freelance di berbagai tempat.

Sebagai lulusan psikologi yang iseng masuk ke tech company, mengambil role jadi marketer, lalu ke product, aku selalu mempertanyakan ke diriku sendiri apakah bekerja memang sudah seperti ini yang benar?

Kerja itu.. sangat kompleks. Berbeda dengan sekolah atau kuliah yang punya kurikulum jelas, ada batas waktu dan nilai yang jelas, dalam bekerja, itu semua abu-abu. Terlebih aku memilih bekerja di industri yang terhitung baru. Di pekerjaan yang kugeluti sekarang, aku merasa tidak ada orang yang 100% expert. Orang dengan banyak pengalaman, mungkin banyak, namun yang sungguhan expert, kurasa tidak ada.

Pertemuanku dengan mantan bosku di Singapore beberapa waktu lalu menjadi pengingat penting, betapa dulu, ketika aku masih bekerja dengan dia, aku kerap bertanya-tanya, “Kerjaanku kayak gini ini udah bener nggak, sih?” Lalu, dia yang notabene 10 tahun lebih awal bekerja, dengan bijak bilang, “There’s no such an expert in our industry.”

Jawaban seperti itu, somehow, dulu kupandang sebagai kegamangan, membuatku tidak yakin apakah tempat ini sungguh tempat yang benar untuk belajar atau aku cuma sekadar main-main menghabiskan waktu?


Hari ini berarti sekitar 8 tahun sejak aku bingung-bingung menceritakan kecemasanku, mencari validasi dari atasanku, bingung gimana menjelaskan dengan Bahasa Inggris yang terbatas, atau bingung memenuhi ekspektasi dan cara kerjanya yang Singapore banget!

Lucunya aku sekarang masih kerja dengan orang Singapore, di kantor yang culturenya Singapore banget — surprisingly mereka ini kolega yang aku bisa kerja seanteng itu saking nggak adanya drama dan unggah-ungguh bullshit. Aku ternyata sudah bekerja selama itu dan alih-alih merasa expert, aku justru merasa makin ingin belajar lagi dan makin ‘malu’ untuk koar-koar soal keahlian atau pekerjaanku meski produkku digunakan lebih dari 15 juta orang — selain memang kantorku sangat membatasi kami untuk bicara soal pekerjaan wqwq.

Bisa dibilang, soal pekerjaan, aku sudah tidak lagi sibuk memvalidasi. Ini bukan berarti aku sudah puas, ya. Tapi, aku sampai di titik yang merasa bahwa bekerja itu seperti halnya orang marathon, bukan sprint. Mungkin kecepatan tinggi matters, tapi itu bukan yang utama. Karena yang terpenting adalah pace untuk sampai finish yang sangat jauh dan lama. Bayangkan jika aku pensiun di umur 60 tahun, berarti aku masih punya 30 tahun lagi untuk ‘lari’.

Aku mulai mengurangi keteganganku dengan hal-hal yang kurang perlu, terlebih jika menyangkut pekerjaan. Karena, yah, bekerja akan masih sangat lama bagiku. Hal terpenting saat ini adalah tetap membuka diri untuk belajar, stay hungry, stay foolish — untuk ini aku setuju kata-kata orang kaya.


Terakhir, barangkali ini yang paling penting, di umur 30 tahun aku mencintai diriku secara menyeluruh. Aku merayakan semuanya. Aku memastikan tubuhku sehat lahir dan batin. Aku berolahraga rutin, setidaknya seminggu sekali aku yoga, ke gym paling nggak tiap 2 hari sekali. Belakangan bahkan aku ikut kelas renang agar opsi olahraga cardio-ku bertambah setelah aku cedera dan nggak bisa lari.

Seumur hidup tumbuh jadi perempuan Jawa berkulit gelap, aku berada di fase yang se-tidak-masalah itu dengan warna kulit. Tentu bekerja dengan kolega yang 96% Chinese, baik itu Indonesian-Chinese, Malaysian-Chinese, Singaporean-Chinese, ataupun Chinese yang beneran dari Mainland, membuatku sadar, sia-sia belaka mengupayakan kulit terang. HAHAHA.

Ternyata, orang memang tidak menilaiku dari warna kulitku, sukuku, asal rasku, bahkan orang tidak melihatku lulus sekolah dari mana — somehow lulusan kampus Slemat at some point membuatku inferior setengah mati di antara lulusan kampus-kampus Singapore, Aussie, ataupun dari US. Dan hal-hal itu, somehow membuatku lebih bisa menertawakan hal-hal yang dulu kuanggap sebagai tragedi.

Aku kini santai aja membicarakan kedua orang tuaku yang tidak pernah kuliah. Aku bahkan terang-terangan mengatakan kami miskin. Alih-alih menutupi akar, dan berpura-pura datang dari keluarga bangsawan kabupaten, aku lebih ingin menjuntaikan cabang-cabangku semakin jauh, semakin lebar, dan ke mana-mana.

Aku bahkan mulai mencari waktu untuk mengajak kedua orang tuaku ke Singapore agar mereka juga melihat kota yang selama ini kugadang-gadang sebagai tempat yang ideal untuk sekolah anakku kalau suatu hari aku punya anak. Aku mau membagi hal-hal yang sekarang terlihat sederhana bagiku, tetapi bagi orang tuaku mungkin jadi pengalaman luar biasa. Orang tuaku yang nggak pernah kuliah, yang punya paspor pertama kali di umur 50an — itupun cuma kepakai karena pergi haji, yang hidup dan mimpinya sangat sederhana; bisa menghadiri wisuda anaknya di UGM.

Tentu aja mereka nggak akan kepikiran kalau anak dan menantunya kalau kerja sekarang harus full kemenggres dan bahkan anaknya sekarang lagi struggling menghafal hanzi biar kalau tinggal di hotel di Chinatown lagi, lalu ketemu orang yang hanya bisa Bahasa Mandarin, nggak bingung harus ngomong pakai Google Translate. HAHA.

Aku mencintai diriku sepenuhnya dan aku mengupayakan perayaan-perayaan untuk diriku yang mau sabar dan belajar. Tentu saja sangat manusiawi kalau ada satu dua hal yang aku sesali, terutama kenapa aku sangat khawatir Tuhan nggak adil padahal belum pernah sekalipun Ia tidak menjawab permintaanku — meski kadang membingungkan.

Selamat ulang tahun, Ervina. Semoga di umur ini, kamu terus bertumbuh dan tetap bertumbuh.


Tulisan dipublikasikan juga di Medium.

Post di 2024


Tulisan ini mungkin adalah tulisan pertama sekaligus terakhir di blogku tahun ini.

Ah blogku yang kubeli dengan domain atas namaku, yang tiap tahun kuhidupi dan kuperpanjang sewanya, entah kenapa beberapa tahun terakhir ini aku tidak punya energi untuk menulis di sini, meski aku masih cukup produktif di Medium.

Entahlah. Mungkin karena di Medium aku merasa lebih interaktif, aku melihat orang membaca dan mendapatkan sesuatu dari tulisanku. Sementara blog ini relatif sunyi. Komunitas blogger tidak seramai jaman aku SMA dulu --yang bahkan aku jadi bisa berkawan dan mendapatkan teman di dunia nyata berkat tulisan-tulisan random di blog.

Bagaimanapun aku sudah membayar domain atas namaku dan mau tidak mau aku harus menulis. Di akhir tahun 2024 ini, aku menggunakannya untuk refleksi atas apapun yang terjadi dalam setahun terakhir.

Aku sudah lama tidak punya goal tahunan yang spesifik. Seingatku, keinginanku setiap tahun selalu sama: bisa bahagia terus.

Tahun 2024 aku rasa adalah fase 'norming' setelah tahun-tahun sebelumnya aku merasa badai bertubi-tubi datang. Aku masih punya beberapa sesi konseling dengan psikolog meski sekarang relatively stabil. Secara pribadi, di tahun ini aku merasa berkembang. Bukan hanya karena usiaku memang secara default bertambah, tetapi juga karena di tahun ini aku memulai hal-hal baru yang tidak kulakukan sebelumnya.

Di tahun ini untuk pertama kalinya aku rajin olahraga. Memang sih, cuma yoga. Tapi meski cuma yoga, aku merasa lebih fit. Aku jadi lebih sering menggunakan public transportation ke kantor menghindari kesemrawutan Kota Jakarta, menikmati setiap langkah di trotoar jelek negara yang sebentar lagi PPN-nya 12%.

Berjalan kaki (dan menggunakan transportasi umum) at some point jadi terapi sendiri, karena aku jadi belajar untuk rileks namun sekaligus memanage waktu dengan lebih baik. For some context, public transportation yang kupilih dari dan ke kantor punya jadwal spesifik yang harus diikuti karena jumlahnya terbatas --lagi-lagi karena aku tinggal di negara yang sebentar lagi PPN-nya 12%.

***

Di tahun ini, pernikahanku dengan Angga melewati tahun ketiga. Artinya lebih dari 7 tahun kami mengenal satu sama lain. Tentu saja dalam setiap dinamika hubungan, ada fase-fase yang masih sering membuatku syok dan hah-hoh, namun the way we manage the conflict udah jauh lebih baik. Akhirnya kami berdinamika sebagai pasangan yang 'lebih' dewasa and I need to somehow appreciate my husband for his continuous effort to make things better.

Angga just got his 'dream job' in one of the biggest tech companies in the world and it makes this year even wonderful than ever. After years working for global tobacco industry, now he's moving to zio**** corporation. WKWK.

Meski masih sama-sama berstatus kelas pekerja, aku realise dalam beberapa tahun ke belakang ini kehidupan kami jauh membaik, terutama dari segi ekonomi. Dan aku luar biasa bersyukur atas itu. Aku nggak pernah membayangkan sebelumnya bahwa aku bisa melunasi hutang ratusan juta, membayar biaya haji kedua orang tuaku, dan sekarang aku mensupport hidup keponakanku yang ditelantarkan bapaknya yang bajingan.

Meski dengan semua pengeluaran yang darderdor dan wasweswos itu, aku tidak merasa kekurangan. Mungkin ini kali ya, yang disebut dengan konsep rezeki. Rasa-rasanya dewasa ini aku bersyukur sekali pada Tuhan untuk semua hal yang sudah terjadi di masa lalu yang membawaku sampai di titik ini. Kayak ini cukup menggambarkan hidup yang dulu-dulu aku cuma membayangkan gimana rasanya, tapi sekarang aku tahu.

***

Selama hidup, aku adalah orang yang selalu yakin pada pilihan yang kuambil. Dan sejauh ini, pilihan-pilihan itu belum pernah mengecewakan. Satu-satunya hal yang kurasa masih gamang adalah keputusan apakah aku akan punya anak atau tidak.

Jujur setelah keponakanku lahir, keraguanku untuk punya anak meningkat beberapa level. Bukan lagi pada alasan-alasan ekonomi seperti mahalnya biaya punya anak, tapi juga ke alasan-alasan yang lebih fundamental seperti, kenapa sih aku harus melahirkan satu manusia lagi ke bumi? Apa urgensinya? Bagaimana kalau suatu hari nanti anakku menanyakan hal semendasar ini?

Meski aku mensyukuri hidupku, namun jauh di dalam pikiranku aku belum menemukan alasan kenapa orang tuaku harus melahirkan aku? Kenapa mereka harus punya anak?

Tentu sebagai orang tua yang tidak tersentuh pendidikan tinggi, mereka nggak akan memberikan jawaban yang memuaskan ketika kutanya. Yang ada aku cuma akan dapat jawaban-jawaban nonsense bahwa anak penting untuk melanjutkan keturunan, untuk menemani di hari tua, dll --hal-hal yang nggak beneficial di sisiku sebagai anak yang dilahirkan dan dituntut struggling sepanjang hidupnya.

Secara umum, aku bahagia dengan hidupku. However aku tidak bisa memastikan jika ada satu manusia lagi yang keberadaannya ada karena pilihanku, ia bisa merasakan hal serupa. Jadi sampai sekarang aku masih bingung.

Suamiku tipe orang yang pasif-agresif, dan aku pikir ia pun tidak memiliki jawaban dan alasan valid kenapa kami harus punya anak.

Pada kondisi seperti ini, aku sedikit bersyukur memiliki orang tua seperti orang tuaku, karena mereka jadi tidak punya hak sedikit pun mengatur hidupku. Semua pilihan ada di tanganku.

***

Well, secara umum kurasa tahun 2024 adalah tahun yang baik untuk melanjutkan hidup. Dan aku berharap di 2025 hal-hal baik juga akan terjadi.

Tentang Menikah dan Hal-hal Setelahnya

Ketika gue menulis post ini ada sebuah perubahan besar yang menyeluruh dalam diri gue karena gue sekarang udah menikah. Selama bulan-bulan pertama menikah, tidak seperti kebanyakan pasangan yang menikmati bulan-bulan madu, bagi kami ini adalah bulan-bulan dengan cicilan yang tidak berkesudahan. 

Sederet PR sudah menghantui kami [atau minimal menghantui gue sih] tentang bagaimana relasi ini akan dipertahankan ke depannya --dengan beban finansial yang ternyata masyaallah banyaknya. Hehe. Tapi tentu saja kami masih berpikir positif ini semua akan baik-baik aja selama gue dan suami masih sehat dan mampu bekerja keras seperti sekarang.

Bagaimanapun kami juga harus banyak bersyukur karena di tengah pandemi ini kami justru berkesempatan mengumpulkan aset berikut dengan keberuntungan-keberuntungan yang datang bertubi-tubi. Misalnya saja beberapa waktu sebelum kami menikah, gue malah dikabarin sales yang kemarin bantuin gue beli mobil kalo gue menang grand prize akhir tahun. It was like.. ya Tuhan, baik bener, mau kawin malah dikadoin mobil baru [lagi]. Selain itu, gue dan suami juga dapat kerja baru dengan gaji baru dan segalanya yang baru, yang lebih baik.

Selama masa-masa membangun fondasi rumah tangga, ada beberapa hal yang menjadi pembelajaran, at least buat gue sendiri, yakni tentang berkompromi. Kompromi, kompromi, dan kompromi. Nggak cuma ke pasangan, tapi juga ke semua orang.

Jika ada satu hal yang paling gue takutin dalam pernikahan sejak dulu [dan mungkin sampai sekarang] adalah tentang keluarga besar. Dan gue rasa ketakutan ini valid, karena nggak cuma gue yang worry, tapi juga suami.

Kita semua adalah menantu yang tidak diidamkan oleh keluarga masing-masing.

Aku selalu berkata pada suami bahwa mungkin dia bukan tipe menantu yang diimpikan oleh orang tuaku. Ya iyalah, semua orang ingin berbesan dengan bangsawan yang punya warisan untuk 7 turunan. "Tapi kan kamu nggak," kataku.

Namun, dia juga bilang kalau sebenarnya ibunya mungkin menginginkan tipikal menantu seperti mantan pacar sepupunya --yang secara karakter dan segalanya bertolak-belakang denganku. Pada beberapa detik setelahnya aku cukup mikir. Wow bahkan ibu mertuaku punya kriteria menantu.. like.. seriously?

Mau tidak mau aku mesti jujur mengatakan bahwa sebaiknya orang tua kita paham ada pre-requisite untuk memiliki requirement pada calon menantunya, yakni, mengutip Ayah Ojak, ngaca dulu kaliikk.

Jauh sebelum aku menikah, aku sudah mewanti-wanti Bapak dan Ibu bahwa suami yang gue butuhkan bukan suami yang orang tuanya kaya raya, tapi suami yang pintar, yang selevel. Ya minimal secara edukasi kita setara, secara pekerjaan kita sebanding, sehingga kita memenuhi syarat 'sekufu' yang sering dibilang orang-orang agamis. Terlalu jauh gapnya, either gap ke atas atau ke bawah, gue rasa nggak baik. Sementara mengenai hal-hal yang di luar dari individu itu sendiri, sebaiknya penilaiannya dibuat sekunder atau bahkan tersier karena tidak penting. 

Pertama, gue rasa sebagai orang tua, mereka nggak punya trade-off untuk itu. Kedua, dan yang paling penting, gue nggak pengen berhubungan terlalu dekat dengan keluarga besar. Baik di sisi gue maupun suami. That's why gue memutuskan tinggal jauh dari siapa-siapa. Bukan tidak rukun, hanya menghindari konflik sebisa mungkin.

Sebagai kaum terpelajar, gue rasa kami (gue dan suami) paham bahwa bekal organisasi yang kokoh adalah independensi. Kami mau seindependen mungkin dalam membangun keluarga, termasuk di dalamnya secara finansial, religi, moral, dan sosial. Semua nilai itu harus atas penentuan kami dan tidak dipengaruhi siapa-siapa.

Akhirnya perjalanan ini dimulai juga. Kata orang, semakin tinggi pohon menjulang, semakin kencang angin berhembus. Kami paham itu. Tapi kami juga yakin, akar yang kokoh akan melindungi pohon dari sekencang apapun badai yang ada.

Lagipula, jauh sebelum ini, kami sudah memutuskan untuk mengikuti ke mana angin akan berhembus, meski di Jakarta sering terjadi badai.

Ingatan


Aku punya banyak sekali kisah tentang ingatan. Kisah-kisah yang kalau aku ingat-ingat dan ceritakan, kadang-kadang membuat bingung mengapa ada sedemikian banyak hal yang harus disimpan oleh tukang arsip di kepalaku --padahal menurutku itu tidak penting.

Misalnya saja aku masih ingat ketika SD ada seorang teman sekelasku yang aku lupa kenapa tiba-tiba [diam-diam] memukulku dari belakang. Seingatku sebelumnya memang aku bertengkar dan sedikit ribut di kelas, cuma aku pikir yaudah. Dan kenapa dia harus secara diam-diam memukulku? Dari belakang pula. Ohya, dia anak lelaki. Hingga kini aku masih ingat namanya meski aku lupa wajahnya dan aku masih bersumpah kalo suatu hari aku bertatap muka dengannya ingin aku sekali aku bilang sebaiknya dia memotong kemaluannya dan menjadi kasim --meski sepertinya kesempatan ini nggak akan pernah terjadi sih, karena satu-satunya yang kuingat cuma nama panggilan dan nama itu cukup pasaran. Aku lupa rumahnya di mana, siapa orang tuanya, dan aku bahkan lupa dia teman sekelasku di kelas berapa.

Tukang arsip di kepalaku kadang-kadang memang sangat menyebalkan. Pada hal yang aku sangat ingin disimpan, ia justru membakar semua memori itu tidak tersisa, dan pada hal-hal lain yang aku sangat ingin lupakan, diendapkannya potongan-potongan memori itu seperti ketika aku mengingatnya lagi, ada film dokumenter diputar di kepalaku.

Beberapa ingatan sangat mengganggu. Ingatan membuat kita menyalahkan masa lalu. Ingatan membuat kita bersedih atas sesuatu yang sudah terlewat. Ingatan membuat kita lupa pada apa yang sesungguhnya terjadi hari ini.

Namun, bukan tanpa sebab tukang arsip di kepalaku masih menyimpan semua itu. Barangkali melalui potongan-potongan ingatan itu, aku jadi diingatkan untuk selalu berhati-hati --karena semua hal yang buruk dan menyedihkan itu pernah terjadi. Ingatan memberiku kenangan tentang pedihnya kehilangan, sehingga ia menjadi pelajaran untuk lebih menghargai pada apa yang aku miliki pada saat ini.


Hal Kecil

small thing matters

Beberapa waktu lalu aku membuka 'tumpukan' email lama untuk mencari beberapa berkas. Secara tidak sengaja justru aku menemukan beberapa email yang mengawali semua perjalanan karierku hingga saat ini: melamar internship.

"Masa ya aku pernah ditolak intern Ruangguru!" kataku pada Angga.

"Aku juga pernah ditolak jadi Telemarketing di Ruangguru," jawabnya. Hahaha. Sontak aku tertawa. Pasalnya aku nggak ngebayangin gimana bentukan Angga melakukan pekerjaan telemarketing.. untuk Ruangguru pula.

Pada email-email yang lebih baru, aku menemukan surat pengunduran diriku dari kantor yang lama. Kira-kira setahun lalu aku menulisnya untuk manager, mentor, sekaligus teman ngobrol yang menyenangkan di kantor. Ada satu kalimat yang nggak tahu kenapa sangat menyentuhku di saat-saat seperti ini. Bunyinya kurang lebih, "Thank you for creating a climate that makes it a pleasure to work each morning and I think I will miss all of you in the team."

Untuk beberapa menit aku mulai merenungi apa hal-hal yang terjadi sejak hari pertama hingga 2,5 tahun kemudian kuhabiskan di sana.

***

Suatu hari di Jakarta sedang hujan badai. Aku tinggal di Setiabudi dan Angga masih tinggal di Pejaten; meski waktu itu dia udah kerja di Sudirman. Sejak sampai di kamar kosnya dia langsung meneleponku sebagai bagian dari rutinitas, dan nyerocos panjang-lebar tentang perjalanannya pulang kantor yang kurang menyenangkan --naik MRT sampai ke Cipete, tapi lalu nggak ada satupun ojek online yang mau mengambil pesanannya.

"Kenapa nggak naik mobil?"

"Mahal banget, beb!"

"Hmm iya juga sih."

Aku tahu dia sedang kesal, jadi daripada memperpanjang urusan dengan bahasan tukang ojek, aku pun mengalihkan dengan obrolan lain seperti, "Dulu waktu belum ada aku kalo jam segini dan kamu baru pulang gini ngapain?"

"Aku nggak pernah pulang jam segini kan aku belum kerja," jawabnya.

"Oh ya juga ya," kataku. Tapi tiba-tiba aku jadi berpikir soal diriku sendiri. Waktu aku belum punya Angga, kalau jam segini aku ngapain ya?

Sejak dulu aku lebih banyak suwungnya sih memang. Blogging, membaca buku, ngelamun di kedai kopi. Tapi apakah setiap hari? Hmm kenapa aku bisa benar-benar lupa ya.

***

Pada ingatan manusia yang sangat pendek, beberapa hal yang kita lihat kecil akan sangat mudah dilupakan. Manusia mengalami peristiwa, manusia mengingat, manusia mengalami peristiwa baru, lalu manusia melupakan ingatan lama dan menggantinya dengan ingatan baru. Seperti itu kurang lebih ilmu pengetahuan menjelaskan bagaimana otak kita didesain seperti lemari penyimpanan dengan tukang arsip yang bekerja siang-malam tanpa henti untuk memilih dan memilah mana arsip yang penting dan tidak penting untuk disimpan.

Sayangnya pada hampir semua hal kecil, tukang arsip kita selalu mengatakan itu tidak penting. Misalnya pada apa yang terjadi selama puluhan aplikasi internshipku ditolak, mengapa aku tetap kekeuh dan tidak merasa gentar atau sedih? Atau, apa yang terjadi di kantorku dulu, mengapa meski secara bersamaan aku harus bekerja fulltime, kuliah, dan mengerjakan project, aku masih bahagia-bahagia aja? Yang paling bikin aku heran adalah dulu sebelum Angga ada dan karenanya aku jadi punya beberapa rutinitas baru, apa yang biasa aku lakukan?

Kita sering lupa pada suatu hal yang kita pikirkan tidak terlalu penting atau bisa dibilang bukan hal-hal besar. Hal itu membuat kita sering abai pada banyak sekali hal yang mestinya bisa membuat senang, bisa disyukuri, bisa dijadikan sebagai alasan untuk tetap hidup dan merasa hidup kita berarti.


Dua Tipe

The Melancholy-Choleric

Ketika menonton ulang film Gie, tiba-tiba saya terpikir tentang sebuah pertanyaan mendasar mengapa ada orang yang secara natural ingin selalu melawan. Padahal jika dipikir-pikir, hidupnya mungkin nggak lebih susah dari banyak orang lainnya --yang toh lebih memilih untuk fine-fine aja daripada harus ribut.

Beberapa orang memilih untuk damai, tidak suka ribut, tidak suka berkelahi, menerima banyak hal dengan mengupayakan sebaik-baiknya; meski kadang hal tersebut pahit. 

"Nggak bisa," ujar saya suatu hari pada pacar. "Kamu terlalu lame. Masa nggak pernah berantem sama orang sih?"

Dalam benak saya, entah kenapa saya nggak terima aja mengetahui fakta bahwa pacar saya setenang itu. Dia tidak suka keributan, tidak suka membuat masalah, bahkan sejak kecil. "Ya buat apa?" katanya.

Saya sebenarnya juga tidak paham buat apa. Sejak kecil rasanya saya menghabiskan sebagian besar waktu saya untuk menantang dan menentang orang lain. Waktu SD saya pernah memukuli seorang kawan lelaki saya dengan gagang sapu karena menaruh tempat sampah di kepala saya. Saya marah habis-habisan mengetahui pekerjaan ujian saya dijadikan 'bahan contekan' untuk teman-teman saya yang bodoh ketika ujian SD. 

Saya ribut dengan pembimbing OSN ketika SMP karena saya keluar dari program bimbingan dan memilih menulis naskah drama untuk pentas kelas. Saya menentang orang tua yang memaksa saya ikut program 'olimpiade' ketika SMA. Saya menentang guru SMA yang memaksa saya menggunakan jilbab putih untuk seragam OSIS sampai akhirnya diseret ke ruang kepala sekolah dan dipaksa membuat surat pernyataan. Saya menantang dosen dengan ekspresi datar ketika diancam diberi nilai C. Saya menantang pegawai akademik dengan nekat 'cabut' satu semester dari kampus tanpa status cuti, dan masih banyak lagi.

Ternyata seumur hidup, saya jarang sekali hidup baik-baik saja tanpa masalah --yang ternyata setelah saya pikir-pikir diakibatkan karena ulah saya sendiri yang selalu ingin melawan.

"Menurutku, aku cuma membela diri," ujar saya suatu hari. 

***

Sebagai seorang lulusan psikologi, jika ada satu hal yang membuat saya selalu merasa gagal --selain gagal cumlaude, adalah juga gagal memahami diri sendiri.

Ada waktu di mana sepertinya saya adalah seorang sanguinis. Saya banyak teman dan disukai oleh society. Saya anak yang pintar, langganan juara 1, siswa teladan dengan segudang prestasi dari mulai lomba mengaji sampai cerdas-cermat.

Lalu tiba di mana suatu hari semua perkataan saya menjadi salah. Saya menjadi [tanpa sadar] melukai banyak orang dan berbondong-bondong setelah itu, mereka berkonsolidasi untuk membenci dan menjatuhkan saya. Bahkan ucapan untuk "jangan wudhu di sini" menjadi salah. Katanya, "Masa mau wudhu aja lho nggak boleh."

"Bukan nggak boleh, di sana airnya sedang mati. Kami semua perlu air untuk mandi dan lain-lain, kamu bisa ambil wudhu di tempat lain," jawab saya, tapi hanya dalam hati. Sebab pada orang yang sudah benci dan sakit hati, apa gunanya semua ucapan dan pembelaan? Toh di mata mereka saya akan tetap salah.

Sejak itu saya merasa saya tidak perlu memaksa orang menyukai saya. Kalau mereka tidak suka pada saya, saya tidak rugi. Pun jika mereka menyukai saya, tidak ada untungnya buat saya.

Saya menjadi sangat selektif dengan pertemanan, atau memilih menjadi lapisan demi lapisan untuk setiap orang yang saya temui. Ada orang yang mendapat bagian terluar dari diri saya, ada yang mendapat selapis lebih dalam, ada yang benar-benar sampai di inti --beberapa, dan kini bisa dihitung jari.

Awalnya saya pikir fase itu hanya sementara, namanya juga remaja. Tapi siapa sangka itu bertahan.. hingga kini dan sepertinya menjadi bagian dari personality saya sekarang --yang saya juga nggak ngerti harus gimana.

"Lu tipe C banget sih."

"Menurut gue lebih tipe D."

"Menurut gue dua-duanya."

***

The Melancholy-Choleric combination is driven by two temperament needs. The primary temperament need is to do things right. The secondary need is to get results. Either need may dominate behavior depending on the situation.

When the Melancholy and the Choleric natural tendencies are combined, it produces a detail-oriented person who pushes to get results. They have a strong drive to tell others what they know, and what to do.  This combination naturally likes to teach or train others what they know.

The Melancholy-Choleric is a systematic and precise thinker. They follow self-imposed, strict procedures in both their business and personal lives. The Melancholy-Choleric has a firm, serious expressions, and they rarely smile.

They not only want to do things right and get results, they strive to figure out what is right. The Melancholy-Choleric is, therefore, more pushy and blunt than the other Melancholy combinations. They can be abrasive and offensive when communicating with others. The Melancholy-Choleric is attentive to details and push to have things done correctly according to their standards. They have high standards for themselves and others. They can be a perfectionist about some things. They will resist change until the reasons are explained, defended, and accepted.

They are sensitive and conscientious. They can behave in a diplomatic manner, except when it comes to deviating from their standards. The Melancholy-Choleric can be too forceful in insisting the right way (or their way) be followed.

They are not socially active, preferring work and privacy to being with people. The Melancholy-Choleric may have some difficulty in relationships because they are not flexible, and they have a brief, direct, sometimes blunt manner of communication.

The Melancholy-Choleric tends to make decisions slowly because of their need to collect and analyze information (several times) until they are sure of the right and best course of action. The Melancholy-Choleric is not a frequently found combination.


Di Bali dan Bangkok pada Suatu Hari

source: unsplash.com

Di Bali, Setahun Setelah Hari Itu

Tadinya aku berpikir kedatanganku ke tempat ini akan disambut sedikit meriah. Bukan oleh siapa-siapa, cukup kenangan dan hal-hal lain yang tidak menyedihkan.

Paling tidak di kepalaku, ada beberapa hal yang mati-matian kuingat: adegan kesurupan di dalam mobil yang membawa rombongan, pesanan fast food pukul dua pagi, teman lelakimu yang ngotot merebus air untuk menghabiskan sisa gas di villa sebelum kita pindah tempat menginap, juga villa itu.. yang kita sewa di tengah hutan. Ah, apa namanya? Shit. Aku lupa bagian itu. Tapi sisanya aku hampir ingat semuanya.

Hari itu di ujung tempat tidurku, kamu menarik-narik selimut mencoba membangunkanku yang rasanya sudah tidak kuat membuka mata. “Ih ayo bangun. Apa gunanya sampai sini kalau cuma tidur?” ujarmu setengah berteriak. Tapi semakin kamu berteriak-teriak, aku semakin menggulung tubuhku di balik selimut.

“Ya kan tadi udah seharian bangun. Ini waktunya tidur. Udah lewat dini hari juga," kataku. Jujur aku tidak pernah paham energi apa yang kalian miliki untuk selalu aktif 24 jam. Kalaupun tidak bergerak, mulut kalian terus bergerak, bicara apa saja, menertawakan apapun.

“Nggak seru.”

“Udah tidur aja, Han. Mau sini?” Aku menawarkan tempat di sisiku tapi kamu malah melemparkan bantal karena kesal. Aku tersenyum sebelum akhirnya benar-benar pulas malam itu.

Sebenarnya sejak hari itu aku bertekad suatu hari nanti kita akan kembali ke sini berdua saja. Kita akan punya waktu lebih banyak berpelukan di kamar yang cantik ini sambil mendengarkan lagu-lagu indie kesukaanmu, lalu terlelap dalam dekapan satu sama lain. Terserah kamu mau bicara apa, aku akan selalu di sebelahmu untuk berkomentar seperlunya, mengangguk atau tertawa kadang-kadang.

Tentu semuanya kupikirkan jauh sebelum banyak hal terjadi pada kita —mengacaukan rencana yang telah kususun rapi dan matang— di kemudian hari.

Hhh.

Seandainya kamu —atau aku— sedikit lebih sabar, mungkin ceritanya tidak akan begini. Aku tidak tahu perasaan apa yang mengikatmu hingga sedemikian kamu ingin berontak. Bisa jadi kita berubah. Bisa jadi kamu. Bisa jadi aku.

“Sunscreen huh?”

Lamunanku pecah mendengar suara perempuan di depanku. Dengan tergagap aku menerima uluran botol kecil dari tangan perempuan itu. Sial. Bahkan pada adegan sepersekian menit ini, aku bisa ingat bagaimana kamu dulu selalu konsisten memaksaku menggunakan sunscreen setiap kali kita ke pantai.

“Bukan masalahnya hitamnya duh! Katanya pinter masa urusan kesehatan kulit aja mesti dijelaskan,” katamu.

“Iyaaaa. Pakein,” kataku sambil mengulurkan kedua tangan. Meski sedikit kesal, kamu toh masih sabar mengaplikasikan cairan lengket itu di kulitku. Selalu begitu sepanjang ingatanku mampu merekam bagaimana setelahnya kamu akan mengutuki air laut yang merusak rambut serta kulitmu.

Ada terlalu banyak hal yang bisa kuingat, seakan setiap butiran pasir di hamparan pantai ini menyimpan semua fragmen dan memori tentang apa saja yang pernah terjadi di antara kita —hal-hal yang membuatku gusar, sekaligus kadang sedih. Sebab sejauh apapun ingatanku mampu mengumpulkan semua kenangan yang pernah terjadi, waktu menghadapkanku pada kenyataan di saat ini ketika hal itu semua sebatas masa lalu dalam ingatanku.

Sungguh aku masih selalu berharap waktu akan mengulang banyak hal yang telah terjadi sembari memberiku kesempatan dan ruang-ruang untuk menurunkan sedikit saja ego sebagai laki-laki.

Di Bangkok, Tiga Tahun Setelah Hari Itu

Perjalanan pertamaku bulan ini dan entah kekuatan apa yang membuatku memutuskan pilihanku jatuh pada tempat ini. Sekuat tenaga aku menghalau apa yang telah terjadi pada kita sangat mempengaruhiku dalam mengambil keputusan, tetapi rasanya sia-sia.

Aku sedih, Han. Untuk pertama kalinya aku mengakui perasaan yang merundungku berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun ini.

Di Bangkok tidak ada yang spesial seperti yang selalu kamu katakan padaku setiap kali kita merencanakan bepergian ke sana. “Negaranya sama aja kayak di sini. Kenapa tidak sekalian ke Scotland atau Timur Tengah yang vibesnya totally beda?”

“Kamu nggak diizinin ke sana sama aku.”

“Ke mana aja nggak akan diizinin kalau kita cuma berdua.”

“Nggak usah minta izin kalau kamu udah jadi istriku.”

“Yee malu sama TA yang mulai aja belom.”

“Ih memangnya menikah harus menunggu TA-ku kelar gitu?”

“Iyalah. Kan kita mesti lulus dulu, kerja dulu, beres dulu urusannya sama diri-sendiri.”

“Bisa diurus sambil menikah sih itu."

“Nggaaak.”

Aku selalu tertawa melihat ekspresi wajahmu setiap kali kita membahas pernikahan. Rasanya saat itu lucu membayangkan kita sungguhan menikah. Dan lucu juga melihat bagaimana kamu mati-matian menolak setiap kali aku melontarkan ide bahwa sebaiknya kita menikah saja.

Aku sama sekali tidak berpikir bahwa hal-hal yang sedemikian lucu waktu itu, ternyata berubah menjadi momok yang menerorku. Apakah memang sejak dulu kamu tidak mencintaiku? Apa memang sejak saat itu, kamu tidak pernah yakin bahwa aku seserius itu ingin menikahimu?

Di Bangkok pikiranku tak tentu arah. Sejak kemarin aku hanya mengitari seisi kota dan mencoba apa saja yang terlihat memberikan rasa pada lidahku. Tapi aku sudah mati rasa, Han. Tidak peduli apakah ini di Bangkok atau di manapun.


Akan berlanjut —jika tidak malas menulisnya.


Surat Pengantar Perjalanan Patah Hati

source: unplash.com

Seperti halnya kamu dan semua orang, aku juga pernah patah hati. Aku rasa benar, bahwa perjalanan-perjalanan jauh dan panjang adalah obat terbaik untuk semua perasaan benci dan kecewa yang sesaat segera setelah kamu patah hati, akan muncul. Lalu pelan-pelan tetapi pasti, perasaan itu berubah, bergumul dengan emosi-emosi lain dalam dirimu, menciptakan suatu hal yang aneh; aku tidak menemukan padanan lain yang tepat.

Rasanya seperti saat itu kamu bersedih, namun juga benci, marah, apapun itu. Rasanya seperti semua berkumpul, sesak memenuhi rongga dada, mengisi celah-celah syaraf di otakmu. Lalu sebentar-sebentar kamu limbung, menanyakan apa yang salah dengan dirimu, apa yang salah dengan keputusan-keputusan yang telah kamu buat, dan masih banyak lainnya.

Perjalanan adalah memang sebaik-baiknya obat. Percaya saja apa kataku, karena toh, kepadamu aku tidak pernah berbohong. Entah jika kamu terhadapku.

Sebab jika iya, aku semakin memahami bagaimana rasanya nyeri dan sesak di dadamu.

Aku tidak ke mana-mana; tidak sampai, tidak juga hilang. Sebab kau tahu, kita tahu, bersama setiap hening yang kau bangun di belakang rumahmu dalam sepersekian waktu perjalananmu melewati laut, pulau, dan samuderadan dalam setiap perihnya udara yang menyapu lembut wajahmu, akan selalu ada yang berusaha sekeras mungkin kamu ingat-ingat; dulu, saat itu.

Hanya saja dalam banyak hal, Matematika Tuhan memang berbeda dari perhitunganmu. Kamu salah. Kita salah. Namun, tak apa. Manusia memang tempat dari segala kesalahan bermula.

Biar kuberi tahu kau sesuatu, barangkali ini akan menjadi nasihat paling menarik sepanjang kau berkelana, "Mestinya kau bertemu dengan seseorang yang mencintaimu lebih dulu. Akan jauh lebih mudah seperti itu. Karena, kau tahu, mengatur perasaan orang lain terhadapmu, ternyata jauh lebih sulit daripada mengatur perasaan diri sendiri."

Semoga udara sendu di sepanjang Canggu memelukmu dengan hangat. Dan semoga, kesedihan memperlakukanmu dengan cukup baik.

Jika ada seseorang yang terlanjur menyentuh inti jantungmu, mereka yang datang kemudian hanya akan menemukan kemungkinan-kemungkinan.


Privilege yang Membuat Tidak Relate dengan Banyak Hal


Suatu hari dalam obrolan dengan orang; entah di Twitter, entah di Instagram, entah secara langsung aku lupa, aku pernah nanya, "NKCTHI kok sampai difilmin emang bagus ya?"

Dan ada orang menjawab, "Nggak usah nonton deh. Nggak relate kamu." Lalu ia mengelaborasi ke-tidak-relate-anku dengan cerita di film itu yang digambarkan sebagai sebuah film yang menceritakan permasalahan keluarga kelas menengah di Jakarta yang orang sepertiku mungkin memang nggak relate.

Baru-baru ini ketika film itu muncul di Netflix dan aku mulai kehabisan tontonan, aku memutuskan menontonnya.. dan.. shit, beneran nggak relate ternyata.

***

Ini mungkin bukan kali pertama aku menumpahkan uneg-uneg tentang betapa aku nggak relate dengan permasalahan warga kelas menengah, terutama di Jakarta. Meski sebagian mengatakan dengan usiaku sekarang, pekerjaan, dan pergaulanku di Jakarta, aku mungkin jadi satu di antara mereka, tetep aja ada terlalu banyak hal yang aku nggak relate.

Dulu ketika aku SMA, ada seorang temanku yang cerita bahwa kakak kelas kami yang bapaknya baru ditangkap KPK suka update sedih karena puasa ini harus sahur tanpa bapaknya, lalu dia merasa kasihan. Tentu sebagai anak kost yang mau puasa atau nggak puasa makan tetep sendirian aku sama sekali nggak relate dengan perasaan kasihan itu. Apalagi dengan fakta bahwa bapaknya 'terpaksa' nggak bisa puasa di rumah karena ditangkap KPK. Who the hell can relate with these fucking people huh?

Baru-baru ini aku juga menyadari bahwa aku mengalami shock culture karena budaya mengirim parcel hampers pas lebaran.

"Kok orang-orang ini temen-temennya pada baik-baik banget ya kek bisa tiap hari ngasih-ngasih bingkisan ke temennya gitu? Ya sih cuma makanan, tapi itu mayan ga sih, harganya. Kan ga mungkin ngasih cuma ke satu orang?"
"Ya maintainnya juga mahal kali. Tapi bukannya temenmu banyak yang suka gitu, ya?"
"Iya, tapi aku kalo dikasih udah lebih dari 3, aku bungkus ulang, terus kukirim saling-silang gitu sih."

Jujur aku nggak relate dengan orang-orang yang mengirim hampers seperti beberapa orang nggak relate dengan ketabahanku yang setahun ini nggak pulang ke rumah.

***

Ketika menjadi anggota pers mahasiswa UGM, aku berkesempatan mewawancarai salah satu petinggi kampus. Saat itu, aku sempat melontarkan protes adanya iuran di luar UKT yang entah kenapa setiap semester ditagih oleh ketua angkatan di fakultas.

"UKT kita tuh udah mahal, Pak, masa masih mau ditambah iuran-iuran lagi," kataku.

Lalu dengan 'bijaknya' si Bapak menjawab, "Ya gimana, ya, Mbak? UKT ini sebenarnya kita tidak terlalu setuju juga. Wong dengan sistem sebelumnya setiap tahunnya sumbangan kita bisa jauh lebih banyak dari ini. Ya sekarang kamu bayangin, ada anak yang orang tuanya gaji 10 juta, bayar UKT sama dengan anak yang gaji orang tuanya 100 juta. Sementara di kampus kita, di angkatanmu itu, orang tua yang gajinya di atas 100 juta itu banyak jumlahnya."

Untuk beberapa detik aku harus diam mencerna jawaban si Bapak. Hmm pantesan aku sering nggak relate dengan teman-temanku, ternyata karena aku terlalu 'miskin' di kampus ini. Ckck.

***

Kepada pacarku, aku selalu bilang bahwa semua pilihan yang ia ambil ketika sekolah dan kuliah itu nggak ada cerdas-cerdasnya. Bodoh kalo boleh kubilang. Gimana enggak bodoh? Orang kalau merasa nggak punya uang ya kerja, bukan ngegeng, ngewibu, naik gunung, atau piknik.

"Kerja, ndes, kerja!"
"Iya, tapi dulu tuh aku nggak dibolehin kerja."
"Kecuali kamu akan dikasih warisan tambang batu bara atau perkebunan sawit, jangan percaya sama orang yang nyuruh kamu jangan kerja. Orang harus kerja, harus punya uang, kalo nggak cukup, ya berlebih. Nggak boleh kurang."

***

Setelah aku 25 tahun, aku baru menyadari salah satu penyebab terlalu banyak hal yang aku nggak bisa relate adalah karena aku merasa aku nggak punya banyak privilege dibanding beberapa orang di sekitarku.

Hidup ini seperti paradoks. Ketika aku berkesempatan sekolah di luar kota, aku mungkin jadi satu dari sekian orang paling berprivilege yang pernah kukenal dalam hidup. Teman-temanku tidak sedikit yang putus sekolah, menikah, melahirkan di usia muda, menggantungkan hidupnya pada laki-laki yang bekerja serabutan. Sementara, aku dapat memiliki kesempatan belajar di sekolah cukup elit, kuliah di kampus yang jadi idam-idaman dan mimpi banyak orang, bahkan di jurusan yang terkenal kehidupan makmurnya. Namun, pada titik itu juga aku menjadi orang yang paling tidak punya privilege.

Aku dulu sering berpikir, seandainya aku memiliki lebih banyak pilihan karena privilegeku, mungkin waktu SMA aku juga akan ikut program sister school di Aussie. Mungkin alih-alih kuliah di UGM, aku akan ambis untuk ikut program kuliah di Jerman atau di mana di luar negeri yang banyak diikuti teman-teman sekolahku.

Mungkin alih-alih memutuskan bekerja dan fokus membebaskan urusan finansial, aku bisa lebih fokus pada ambisi akademisku. Aku mungkin sudah menjuarai MUN, ikut banyak konferensi paper internasional karena aku suka menulis, atau mungkin ikut pertukaran mahasiswa, atau melanjutkan studi master ke luar negeri seperti yang selalu aku pikirkan sejak dulu?

Tapi itu semua kelewat karena pilihan yang aku miliki ternyata nggak sebanyak itu. Bahkan untuk mengulur-ulur waktu lulus aja aku nggak sebebas itu. Aku akhirnya lulus 9 semester setelah melewati perdebatan dan pertengkaran panjang dengan Bapak. Juga struggling yang luar biasa memaksa bekerja fulltime, mengambil project di luar kantor, sekaligus mengerjakan skripsi yang kutarget akan lolos di salah satu jurnal akademik berskala internasional.

***

Privilege itu nyata. Ia bahkan memiliki lapisan kelas dan menjelma seperti paradoks yang tadi kuceritakan. Ketika kamu melepas satu lapis ketidakberuntungan dan merasa memiliki privilege, akan ada lapisan ketidakberuntungan lain yang menunggu setelahnya. Mungkin itulah sebabnya setiap orang merasa, "Ah elah emang lo pikir karena gue punya privilege, gue jadi nggak punya masalah?"

Nah. Memang setiap orang akan menghadapi ketidakberuntungan dan masalah dalam kelasnya sendiri-sendiri. Sama seperti Angkasa bersaudara di NKCTHI, atau teman-teman kayaku di UGM atau di SMA. Mereka pasti punya masalah.

Tapi ya itu tadi, privilege 'hanya' memberi lebih banyak pilihan. Angkasa bersaudara mungkin 'sedih' dan 'kecewa' dengan sifat protektif dan kehipokritan si Ayah, tapi paling nggak, dia nggak pernah ngerasain kepikiran mesti lulus cepet-cepet karena udah nggak ada duit buat bayar UKT dan nggak tahu mesti minjem ke siapa lagi.

Angkasa dan adik-adiknya juga nggak kepikiran gimana sedihnya para sarjana yang orang tuanya udah jualan harta benda di kampung, tapi pas lulus ada pandemi corona dan mereka jadi makin susah dapat kerja. Intinya meski sama-sama 'malang' dan merasa sedih akan hidupnya, tingkatannya pasti beda.

Dan di usia segini, aku memutuskan untuk fokus aja pada kemalangan-kemalangan yang lebih bersahaja. Aku memutuskan percaya bahwa bekerja dan memiliki lebih banyak materi akan membawa lapisan privilege yang lebih banyak pada hidupku, pada hidup anak-anakku ke depannya nanti.

Paling nggak, aku ingin mereka nanti bisa relate dengan jenis kesedihan 'nggak bisa makan bersama keluarga' dibandingkan sedihnya orang 'nggak bisa makan'. Aku juga mau mereka sedih karena 'terpaksa jual mobil buat kuliah S2 di luar negeri' daripada mesti 'sedih' dan nangis-nangis minta dikuliahin setelah SMA.

Syukur-syukur kalau mereka bisa jadi motivator dan enterpreneur muda atau bisa bekerja untuk membuat impact alih-alih cuma mengumpulkan pundi-pundi Rupiah untuk menyambung hidup. Siapa tahu mereka bisa buat buku dan diundang ngisi seminar sambil menceritakan perjuangannya membangun bisnis? Lebih menarik kan, daripada orang-orang basic dengan siklus sekolah-kuliah-kerja-bertahan hidup-mati?


Sejauh dan Sedekat Kamar Saya

Saya nggak menyangka kalau keputusan untuk disiplin social distancing akan sebegininya. Hampir sebulan saya tidak bertemu teman-teman, tidak juga Angga, karena saya melarang keras semua jenis interaksi sejak Jakarta dinyatakan sebagai red-zone. Sebagai orang yang kebetulan kantornya punya privilege, kami semua kerja di rumah sejak awal Maret lalu.


Ada banyak hal yang membuat saya sedih, tetapi tidak sedikit juga yang masih saya syukuri. Termasuk dalam bekerja, industri dan posisi yang strategis, hingga teman-teman dan keluarga yang tidak henti-hentinya mendukung satu sama lain. Saya telah membatalkan seluruh rencana perjalanan, termasuk juga untuk mudik. Jadi lebaran ini untuk pertama kalinya saya tidak di rumah dan bertemu dengan banyak orang.

Kakek dari Bapak meninggal tahun ini dan itu berarti, seperti tahun-tahun sebelumnya, mestinya di hari ketigapuluh Ramadhan saya berziarah ke makam orang-orang yang mendahului saya dan melihat betapa hidup akhirnya cuma begitu saja. Saya sering melankoli setiap kali mengunjungi makam. Pertanyaan saya tak henti-hentinya seputar, "Bagaimana orang-orang ini berdamai dengan waktu jika, katakanlah, memang ada hari akhir di mana mereka mestinya akan dibangkitkan?"

***

Jika ada satu dari sekian banyak hal yang membuat saya masih bersyukur selama pandemi ini adalah saya akhirnya memasak. Investasi beberapa barang untuk membuat kosan rasa apartemen rasanya nggak percuma karena saya jadi lebih memahami lidah saya yang selama ini tidak cocok dengan segala makanan yang saya makan. Ini kurang asin, ini kurang pedas, ini daunnya terlalu layu, batangnya kurang matang, dan lain-lain.

Saya memulai perjalanan memasak yang selalu saya katakan hanyalah perihal skill bertahan hidup. Sekali gagal, dua kali membaik, seterusnya saya rasa lebih baik dari makanan-makanan yang sering saya beli.

"Nanti kalo pandeminya udah selesai, kalo weekend kita masak. Aku udah bisa masak enak!"
"Beb nanti kalo pandeminya udah kelar kita Bandung atau Jogja yuk!"

"Hmm habis ini kita nikah aja yuk?"

Tentu saya tidak berpikir ajakan menikah via Whatsapp ini serius. Angga terlalu sering mengajak saya menikah tapi selalu katakan bahwa mungkin saya akan membuat keputusan-keputusan besar dalam hidup saya setelah usia 25 tahun dan itu masuk akal.

Lagipula di tengah anjuran untuk tidak ke mana-mana seperti ini, seperti semua orang, saya pun merasakan kesepian yang luar biasa dan mulai mengganggu psikologis saya akhir-akhir ini. Namun, menikah bukan perkara cuma biar nggak kesepian, kan?

***

Selama berminggu-minggu di kamar, saya merasakan perjalanan yang jauh menembus dimensi-dimensi lain lewat beragam buku yang saya baca atau lewat film-film yang saya tonton. Rasanya belum pernah sedekat ini saya mengikuti perjalanan orang-orang asing yang tidak saya kenal.

Ke mana saja saya selama ini? Apakah pekerjaan ini benar-benar mengganggu?

Jakarta mengubah banyak hal dalam hidup saya. Lalu di masa pandemi ini, banyak hal yang membawa saya pada diri saya yang menghabiskan waktu seorang diri, membaca, menulis, menonton sinema, meresensi, mengapresiasi musik dan karya seni. Mengapa Jakarta menjauhkan saya dari diri saya sendiri? Atas nama pekerjaan dan menjadi dewasa?

***

Praktis setelah kami saling mengenal dan intens berkomunikasi, Angga mungkin jadi satu-satunya orang yang padanya saya tidak sungkan untuk menghubungi setiap waktu dan begitupun dia kepada saya. Saya tidak tahu apakah selama ini dia menghubungi orang-orang lain selain saya atau tidak, tapi saya tidak. Saya bisa menelepon dia jam 5 pagi, jam 10 malam, jam 1 dini hari, kadang-kadang saya menelpon dengan video. Saya menghubunginya untuk tertawa, untuk kesal, untuk menangis, dan apa saja. Dia pun begitu. Seperti semalam ketika dia menelepon saya tengah malam dari kamar mandi.

"Ngapain kamu?"
"Mandi."
"Yaudah mandi sana, aku dah mau tidur."
"Bubye. Bilang apa?"
"..."

Ingatan saya bekerja sangat keras mengingat apa yang biasa saya lakukan ketika saya belum mengenal dia. Ya, saya masih sibuk kuliah sepertinya. Sesekali saya bekerja part-time, freelance, tapi apa lagi? Seingat saya, satu-satunya laki-laki yang padanya saya mau berinvestasi waktu dan perasaan cuma seseorang di Bandung. Itupun tidak sesering itu kami berkomunikasi karena kami 'sibuk' membangun masa depan masing-masing. Teman saya tidak sebanyak sekarang di Jakarta ketika teman-teman SMA saya justru berkumpul di sini. Bertemu anak EDS pun baru pada medium 2016.

Lalu biasanya saya ngapain? Yang saya ingat ke mana-mana saya bisa pergi seorang diri. Saya bisa pulang dini hari melewati ringroad utara yang terkenal banyak klitih, saya ngopi sendirian dengan laptop sambil bekerja, belanja di mall sendiri, ke salon sendiri, apa-apa sendiri.

Bagaimanapun ingatan itu sangat related dengan apa yang saya alami selama masa isolasi. Apakah hidup memang sejatinya seorang diri seperti ini?

***

Seperti pertemuan saya dengan Angga yang mengubah banyak hal dalam hidup saya, setelah pandemi ini pun saya yakin ada diri berbeda yang akan saya hadapi dan menjadi rutin. Ada banyak perjalanan panjang selama berminggu-minggu saya diam sendiri. Beberapa hal yang akhirnya membuat saya untuk lebih belajar mengenal diri dan menyayangi orang-orang yang dimiliki.


2020 dan Semua Hal yang Bercanda di Umur 25

Bagian satu dari catatan-catatan pengingat menuju usia 25 tahun.

Beberapa tahun lalu gue pernah berjanji pada diri gue sendiri bahwa di umur segini gue harus jadi individu yang "selesai" dengan dirinya sendiri, sehingga gue bisa memutuskan hal-hal lebih besar yang berkaitan dengan orang lain.

Pekerjaan dan corona yang [kirain] sebatas bercanda aja

Biar gue inget-inget. Awal tahun gue dikabarin bakal punya boss baru. Hari itu — bukan bermaksud rasis — gue sedikit was-was karena si calon boss berasal dari Shanghai. I mean di sana lagi chaos-chaosnya ga sih?! Gimana kalau dia carrier? Wow.

Ternyata itu cuma pikiran di kepala gue — dan jokes anak-anak kantor soal corona — sampai akhirnya urusan pekerjaan menghajar kami hingga babak belur dan nggak nyisain sedikit pun panik kecuali pada target-target yang terancam nggak achieved. Literally, nggak achieved.. semuanya.

Belum pernah sesedih ini gue bekerja.
But life must go on. Paling nggak itu gue rasain sampai akhirnya pemerintah ngumumin udah dua orang positif corona dan VP gue nyaris batalin meeting untuk.. belanja. Meski begitu, gue masih sempet bercanda dengan Ageng soal kalopun kita mati kayaknya nggak ada yang nangisin.

Bercandaan yang menurut gue bener-bener nggak serius. Karena tiba-tiba untuk pertama kalinya gue ngerasain yang namanya khawatir.. bukan sama diri gue, tapi orang-orang lain. Gue khawatir karena Bapak nggak bisa stay di rumah karena mesti kerja, gue khawatir karena Ibu nggak sepenuhnya paham gimana cuci tangan, gimana social distance, gimana membatasi kontak dengan orang lain. Even gue khawatir karena Angga selalu commute naik busway dari kantor ke kosannya.

Di titik ini, gue tahu sepertinya ada yang berubah di psikologis gue, sebuah perubahan cukup mendasar karena ternyata gue bukan anak kecil ataupun kelompok dewasa muda lainnya yang hidupnya sebatas yang-penting-gue-aman.

Menjadi nakal yang tidak pernah membanggakan

Beberapa hal menyebalkan meski ada lebih banyak yang mesti disyukuri, salah satunya adalah umur gue hampir 25 tahun dan amazing. Gimana enggak? Gue lepas dari urusan financial yang mengganggu usia 20an gue menjadi nggak seceria anak-anak di kampus, punya kerjaan yang nyenengin, teman-teman menarik, dan pasangan yang manis —kan?

Semakin ke sini, gue semakin memasuki fase membenci orang-orang yang lebih muda. Oh bukan lagi millennial. Lebih tepatnya Gen Z yang di mata gue entah kenapa tololnya nggak habis-habis. Gue makin worry dengan masa depan jikalau misalnya gue punya anak dan gue ga bisa ngedidik mereka dengan bener.

Gue khawatir dengan cewek-cewek tolol yang bisa-bisanya mau diajak cuddling padahal baru kenal tadi siang di Twitter. Gue khawatir dengan predator yang bahkan memangsa anak-anak. Even gue makin parno dengan wibu berkat sebuah kasus di Jakarta kemarin! Can you imagine kalo orang-orang itu adalah orang terdekat lo hah?

Sejak kecil gue selalu dididik dengan baik, jadi anak olim matematika yang bikin masa remaja gue nyaris gapernah punya kisah romansa, ambis di banyak hal, disuruh ngaji dan beragama biar hidupnya bener. Lalu di umur 25 tahun ini gue bener-bener ngeliat di mana orang-orang dengan bangganya memaksa jadi nakal.

Mungkin ini waktu yang paling tepat untuk gue harus bilang bahwa gue bangga jadi anak pinter dan baik-baik. 
Paling nggak itu satu-satunya yang menolong gue di saat-saat terburuk —dan semoga terus ke depannya.

Murah, jangan?

Jangan.

Jangan pernah jadi murah. Jadilah yang mahal, berkelas, nggak gampang. Peristiwa dengan mantan rekan sekantor Angga dulu membuat gue punya sumpah dalam hati untuk gue dan perempuan-perempuan dalam keturunan gue ke depan jangan sampe jadi murah, apalagi sampai membalas chat lelaki dengan: ih kok nggak dibales sih, kzl.

Jangan. Pernah. Begitu.

Pun ketiga seorang teman gue cerita bahwa rekan sekantornya mencoba flirting padahal dia sudah beristri. "Jangan!" kata gue.
"Nggak mau mengganggu rumah tangga orang."

Bukan masalah mengganggu rumah tangga orang, tapi harga diri.
Prinsip untuk jangan pernah jadi lonte sama kuatnya dengan jangan pernah ada lonte di antara kita. Teman-teman gue tidak ada yang boleh jadi lonte.

Cukup mbaknya aja.


Anyway, ada yang sudah menikah akhirnya. Oya, ngomong-ngomong seberapa besar sih lo percaya sama wibu yang lo temuin dari Tinder? Hehe.