Klub Buku dan Hal-hal Yang Terjadi Belakangan Ini


Belakangan ini, karena aku lagi sering ikut ngumpul sama anak-anak di klub buku, yang banyak di antaranya ternyata adalah so-called influencer, beberapa temanku menggoda dengan bilang bahwa aku mau jadi influencer buku juga. Sebagian bahkan menuduhku resign dari kerjaanku sekarang karena aku mau fokus jadi influencer. WKWK.

Bukan bermaksud pick me, tapi aku sepertinya nggak cocok bekerja di bidang pekerjaan yang terlalu dikenal orang. Selama beberapa tahun terakhir, aku menerima dengan baik pekerjaanku yang lebih banyak ada di balik layar. Di tempat umum, di antara orang-orang yang tidak kukenal maupun mengenalku, aku akan menikmati obrolan wasweswos mereka sambil manggut-manggut. Kadang sembari mendengar omongan mereka, aku susah payah mengatur ekspresiku. Sebab meski mulutku diam, mukaku kadang ada subtitlenya.

Itulah kenapa aku nggak nyaman kalau pekerjaanku sampai mengharuskanku dikenal orang –sebagai apapun.

Sampai sejauh ini, aku masih menikmati pekerjaanku yang membabu pada kapitalis mentok. Kalau boleh jujur, seandainya aku terlahir lebih kaya, aku sebenarnya sangat tidak ingin kerja. Seandainya keluargaku adalah pembabat hutan untuk perkebunan sawitnya, atau mafia tambang, aku pasti lebih memilih jadi ukhti religius yang menceramahi orang-orang tentang betapa duniawinya impian mereka. Akan kuhabiskan hari-hariku membaca buku sambil mengeloka kafe yang tidak terlalu kupedulikan berapapun omzetnya. Toh, bapakku sudah kaya?

Sayangnya di kehidupanku yang cuma sekali ini, aku tidak lahir sebagai anak pembabat hutan atau bos tambang. Jadi, seperti kebanyakan orang, aku harus bekerja.

Membaca (fiksi) adalah aktivitas yang kupertahankan sebagai katarsis dari duniaku sebagai pekerja kantoran yang membosankan. Oh, don't get me wrong. Aku nggak bego di kerjaan. Sejujurnya aku cukup senang ada di posisi ini di usiaku yang segini. Menurutku itu sedikit proof bahwa dalam hal yang kuanggap membosankan pun, aku perform dengan baik jika aku mau.

***

Saat mengikuti klub buku, itu bukan karena aku FOMO baca buku. Aku adalah pembaca yang baik sejak kecil. Setidaknya aku punya 300 judul buku lebih yang terkurasi dengan baik dari berbagai belahan dunia dengan topik-topik yang beragam. Sejak remaja aku aktif dalam berbagai komunitas sastra di Semarang ataupun Yogyakarta. Hanya saja hidup sebagai pekerja kantoran di Jakarta sungguh menyita waktuku. Belakangan, setelah 10 tahun lebih, aku memutuskan berkomunitas lagi karena aku mau ketemu dengan orang-orang baru.

Mungkin banyak dari kalian yang sepemikiran denganku, tapi hidup di rezim Prabowo sungguh menyedihkan. Bisa dibilang, aku hampir tidak punya harapan bahwa segala hal akan membaik. Tentu aku melihatnya dari kacamata sistemik. Karena jika aku cuma melihat dari diriku sendiri, aku akan sama bodohnya dengan orang-orang yang menghitung ekonomi suatu negara dari banyaknya orang yang nonton konser atau membeli iPhone.

Berkumpul dengan orang-orang di klub pembaca, bisa jadi adalah upayaku menumbuhkan harapan. Di antara mereka, aku melihat keinginan yang cukup besar untuk membawa perubahan terutama dari sisi literasi. Menurut mereka, kalau kita mengajak semakin banyak orang membaca buku, dunia akan bergerak ke arah yang lebih baik.

Entahlah. Aku sendiri nggak tahu gimana caranya menginfluence orang baca buku. Sebab yang aku pahami, orang-orang bukan nggak mau baca, mereka nggak punya waktu, dan akses terhadap buku.

Meski demikian aku yakin aku tetap bisa bersenang-senang di antara pembaca buku. Dan atas alasan itu, aku tetap datang ke klub buku, mendengarkan obrolan wasweswos orang-orang sambil manggut-manggut. Well, itu sangat jauh dari tuduhan orang-orang bahwa aku mau merintis karier menjadi influencer wkwk.

***

Beberapa waktu lalu saat mengulas topik mengenai Tragedi 65, ke sebuah klub pembaca, aku membawa buku berjudul "Dua Wajah Dipa Nusantara". Buku itu pada dasarnya adalah sebuah kumpulan liputan mengenai DN Aidit dari jurnalis Tempo yang kemudian dibukukan. Dalam ulasanku, atau lebih tepatnya cuplikanku terhadap secuil isi buku itu, aku mengatakan bahwa sesuai judulnya buku ini menceritakan 'dua wajah' DN Aidit yang selama ini digambarkan dengan tidak adil, terlebih di film propaganda yang itu.

Sesuai prediksi, konten itu ramai. Hingga saat aku menulis post ini, post tersebut udah dibagikan lebih dari 100x dan ada lebih dari 750 komentar yang sebagian besar adalah tuduhan bahwa orang-orang sepertiku cucu PKI atau antek China untuk menyebarkan komunisme. WKWK.

Tentu nggak semua komentarnya seperti itu. Sebagian lagi ada yang bertanya di mana mendapatkan buku ini (konon buku ini sekarang 'dilarang' beredar) dan sebagian lagi menambahkan poin-poin menarik mengenai asal-usul Aidit, dan pengalaman mereka membaca kisah-kisah Tregedi 65 lainnya dari point of view yang tidak 'terverifikasi' rezim.

Diskusi terjadi, tapi lebih banyak perang komentar yang terjadi. Sampai sini, aku merasa makin sedih hidup rezim Prabowo yang tidak serius mengupayakan orang-orang Indonesia lebih pintar atau minimal lebih banyak membaca buku.

***

Saat menulis post ini, aku sedang bersantai di sebuah toko buku sekaligus perpustakaan, dan kafe. Belakangan dengan maraknya influencer di bidang literasi, toko buku memang jadi semacam lifestyle. Aku melihat orang-orang ngepost konten soal buku, bergaya sedang membaca buku dengan berbagai macam angle di depan kamera, intinya kafe-kafe buku semakin semarak, terlepas dari mereka melakukan apa di sana.

Tapi aku sendiri suka, dan sangat tidak masalah dengan setiap tingkah laku orang-orang.

Kan tadi kubilang, kalau aku lebih kaya, aku juga nggak ingin kerja kantoran yang membosankan. Aku akan membuka toko buku, perpustakaan, atau kafe buku untuk memenuhi dahaga orang-orang akan konten estetik atau tentang buku itu sendiri.

Sayangnya di kehidupanku yang hanya sekali ini, bapakku bukan bos sawit ataupun owner tambang. Jadi mungkin tidak sekarang, ya.