Jakarta dan Kisah Setelahnya


Ini Selasa malam dan aku menghabiskan separuh soreku duduk di sebuah kedai kopi di daerah Pejaten. Di sebelahku barista yang kesepian memainkan gitar sementara cangkir-cangkir kopinya dibiarkan sepi. Ada dua orang pria duduk di meja depanku. Mereka berbincang urusan pekerjaan seperti halnya yang sering kulakukan sehari-hari. Tak jauh di luar, kendaraan padat merayap menunggu antrean untuk berjalan. Sesak. Jakarta tidak pernah ramah untuk fisik yang kelelahan, apalagi mental. Aku mengurung diri, memutuskan tidak pulang setidaknya sampai beberapa jam ke depan.

Di hadapanku sebuah laptop menyala. Persis ketika kutulis catatan ini, semestinya ada satu pekerjaan yang harus kuselesaikan; menulis report, menulis konten, membaca pekerjaan freelancer, banyak ternyata. Tidak hanya satu. Tapi aku lelah. Suhu tubuhku sudah mulai meninggi dan aku mungkin akan segera butuh paracetamol.

Aku tidak suka hari-hariku belakangan ini. Terlalu banyak pikiran kacau yang berkecamuk dalam benak. Namun, lebih daripada itu, aku ternyata hanya tidak suka merasa bodoh atas pilihan dan tindakanku sendiri.

Kau tahu, perempuan selalu punya intuisi. Ketika perempuan tidak yakin atas sesuatu, pastikan apakah ada sesuatu yang benar-benar salah dalam keputusan itu. Ketika perempuan tidak mempercayaimu, pastikan apakah kamu telah berkata sejujurnya atau tidak. Perempuan selalu punya intuisi. Dan itu intuisi itu, memberikan bisikan dari sesuatu yang terdalam, jujur, dan bagaimanapun, benar.

Lagu D'Masiv-Apa Salahku diputar. Astaga. Playlist Youtube-ku makin nggak karuan. Entah kenapa tiba-tiba aku ingat sesuatu. Aku teringat hari-hari ketika masih tinggal di rumah dinas, ingat Singkek, ingat Cicik, hingga hari-hari gitaran galau dengan Pak Agung yang dari jaman aku SMA sampai lulus S1 nggak tau jadinya udah lulus tesisnya atau belum. Aku melankolis sekali. Aku mengingat semua hal, terlebih teman-temanku.

Aku kangen.

Nggak pernah sekangen ini aku dengan mereka. Nggak pernah semelankolis ini aku mengingat suara berisik Okta dan Bakuh, pisuhan Hardi, wajah bego Dipta, hingga tengilnya Andre, atau muka preman Tania. Aku mengingat semuanya dan aku kangen. Sumpah demi apa.

Blog ini semestinya sudah aku tutup sejak aku memutuskan apply ke beberapa company yang (mungkin) akan mengevaluasi jejak digitalku. Aku menutup Instagram, bahkan Facebook. Aku alergi dengan beberapa hal, aku malas bertemu orang asing kecuali untuk urusan pekerjaan, dan aku malas untuk mengulang-ulang apapun.

Am I fool?

Kuulang-ulang dan berkecamuk di kepalaku. Selama ini aku ngapain? Kenapa aku melakukan ini?

Aku seperti menyusun puzzle seluas satu meter persegi yang rumitnya minta ampun. Aku paham puzzle ini mungkin baru diselesaikan secuil, mungkin baru sekitar lima centimeter di ujung. Tapi bahkan untuk menyusun itu aku berdarah-darah. Lalu tanpa sebab yang jelas, hasil berdarah-darah itu dirusak. Porak-poranda.

Rasanya kayak.. aku tahu mungkin memang sebaiknya puzzle serumit ini tidak perlu diselesaikan. Aku mungkin tidak perlu membuang waktuku terlalu lama. Tapi, bukannya paling tidak aku sudah berusaha untuk memulai dan bekerja keras untuk menyelesaikan --meski hasilnya belum seberapa?

Rasanya seperti tidak rela.

***
"Apa kamu bahagia denganku?"
"Iya"
"Tapi hidup tidak selalu baik-baik saja."
"Itu adalah hidup. Selama kamu nggak selingkuh, sepertinya hidup kita akan baik-baik saja."
"Nggak akan. Nggak akan."
"Itu cukup."
Di Jakarta kamu akan bisa dengan mudah untuk tidak bersyukur. Kamu akan melihat orang-orang bergelimang harta dan kesenangan. Open bottle dengan menghabiskan ratusan ribu rupiah. Dinner seharga jutaan. Ada sejuta alasan untuk selalu tidak bersyukur dan melihat hidupmu tragis; mengapa merk celanamu cuma Hardware sementara mereka bisa menikmati Uniqlo tanpa diskonan; mengapa tasmu bukan Hermes; mengapa untuk beli sepatu seharga dua juta saja harus berpikir jutaan kali sementara mereka bahkan beli sandal jepit seharga segitu?

Ada jutaan alasan untuk selalu tidak bersyukur dan sejuta kemampuan untuk melihat hidup kita sangat tragis.

Namun, di Jakarta pula, kamu akan mudah bersyukur ketika kamu masih bisa makan siang di Setiabudi One dan di jalan menuju kantor kamu melihat bapak setengah baya dengan gerobaknya. Matanya kuyu, tubuhnya kurus, dan kotor. Kamu akan melihat betapa bahagia hidupmu ketika melewati jembatan penyeberangan di Karet Kuningan, atau bahkan ketika duduk di kedai kopi dan memandang jendela keluar. Di sana akan kamu lihat abang-abang berseragam ojek online berdesakan mencari makan, menerjang lalu-lintas ibukota untuk sesuap nasi. Kamu akan melihat bagaimana bahagianya hidupmu masih bekerja di ruang AC dengan baju rapi dan mendapatkan bayaran setiap bulan, sekaligus akan melihat, bagaimana seseorang berjuang untuk orang-orang yang disayanginya.

Aku masih menonton film pendek dari Pijaru tentang sepasang kakek-nenek renta yang mempertanyakan kehidupannya selama ini, "Apakah kamu bahagia denganku meski hidup tidak baik-baik saja?"

Tentu saja hidup tidak akan selamanya baik. Akan ada waktu di mana hidup pasti tidak baik-baik saja. Tapi kamu meresponsnya bagaimana? Merenung? Marah? Menyesali? Atau apa?

Playlistnya semakin tidak karuan.

***

Di kedai kopi perempatan Jalan Pejaten Barat ini tadinya aku cuma berpikir aku akan butuh sendiri. Aku harus banyak bersyukur atas apapun yang selama ini aku punya; orang tua, teman-teman yang baik, dan support system yang menyenangkan.

Aku melankolis sekali dan aku merasa harus ada keputusan besar yang diambil, jadi aku perlu berpikir logis.

Orang boleh bodoh dan melakukan kesalahan. Tapi yang harus dipikirkan bukannya masa depan? Masa depanmu masih panjang, kan?

Unrequited Love

Bagiku tidak ada yang abu-abu. Jika tidak hitam, maka putih. Jika tidak terang, maka gelap. Jadi aku tidak paham ketika ia mengatakan padaku bahwa mungkin kami bisa lebih dekat, namun tidak terlalu dekat.

ervina lutfi blog

Suara Bonnie Raitt mengalun di kepalaku.
Don't patronize me
'Cause I can't make you love me if you don't
Seumur hidup belum pernah aku merasa sebegininya disakiti orang. Jadi hari itu aku memilih pulang.

Berhari-hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan. Aku hampir lupa sudah bertahun-tahun lewat semenjak hari itu, tapi rasanya kepalaku masih dipenuhi tanda tanya.

***

Kata orang, jika kita merasa lama menemukan pasangan hidup kita, kita sebenarnya mungkin pernah sekali atau dua kali berpapasan atau bahkan bertemu dan berinteraksi dengannya; hanya waktunya yang tidak tepat. Seseorang mungkin akan 'batal' menjadi pasanganmu jika kalian tidak bertemu di waktu yang tepat.

Menunggu dan menunggu. Namun, ketika 'waktu yang tepat' dirasa sudah datang, "kondisi" yang memungkinkan semuanya berubah.

Hmm.
Kalau untuk pergi, kenapa harus kembali?
Kalau tidak tinggal, kenapa datang lagi?

Berakhir pada Sebuah Tanya


"Apa yang paling menyenangkan dari tinggal di suatu tempat?"
"Hmm apa ya? Orangnya?"

Hari itu kami terjebak badai yang menghalangi makan malam bersama keluarga di rumah. Hujannya deras sekali dan berkali-kali pesanan taksi onlineku tidak membuahkan hasil. Aku memutuskan menutup laptop, meletakkan ponsel, dan lalu duduk memandangi titik-titik air yang turun di jendela kaca.

"Cokelat mau?" Seseorang duduk di atas kursi di seberang meja.
"Air putih lebih sehat," jawabku setengah bercanda.
"Kalo orangnya, mana yang paling mengesankan di antara orang-orang yang kamu temui sebelum ini?" tanyanya lagi. Aku mengernyit sebentar.
"Sepanjang ingatanku di Semarang. Kotanya panas sih, tapi orang-orangnya hangat. Suka misuh sih, ngomongnya kasar, tapi atmosfernya baik sekali."
"Kalau Jogja?"
"Jogja menyenangkan karena ceritanya. Orang-orangnya lebih banyak dan lebih beragam, tapi terlalu ekstrem."
"Ekstrem?"
"Kalau nggak hitam banget, putih banget. Nggak ada abu-abu. Antara yang menyenangkan sekali atau yang menyedihkan sekali. Ekstrem."
"Hahaha! Trus kalau Jakarta?"
"Flat. Aku nggak merasakan apa-apa."

***

Di Jakarta setiap orang memiliki porsinya masing-masing. Mereka yang tinggal di gerobak akan berbagi hidup dengan para anggota dewan, pejabat pemerintah, hingga para pimpinan perusahaan beromzet triliunan setiap bulannya. Mereka yang lahir, tinggal, dan jatuh cinta, akan berbagi tempat dengan para pendatang yang suka, ataupun orang-orang yang terpaksa atau setengah terpaksa. Yang memuja akan berbagi tempat dengan mereka yang mengutuki Jakarta. Setiap orang akan punya bagiannya, dan begitu pula aku di sini.

Tak heran jika semuanya menjadi lebih tidak peduli. Apa yang harus dipedulikan? Toh setiap orang akan punya bagiannya sendiri-sendiri. Apa yang mesti dipikirkan? Toh setiap orang akan punya masalahnya sendiri-sendiri. Hal-hal ini yang entah kenapa membuat orang-orang sepertiku merasa Jakarta adalah tempat yang ideal, untuk menghilang.

***

Kita tak pernah bosan memikirkan luasnya tata kosmik
Tapi di situlah kau dan aku luput memikirkan jagad diri kita masing-masing

Selamanya kita mungkin akan menjadi orang yang tidak mengenal diri kita sendiri. Dan selamanya pula, kita akan menjadi orang yang paling asing untuk orang-orang yang paling dekat keberadaannya. Itulah kenapa tidak mengherankan jika ada orang yang menghubungi gebetannya lebih sering dibanding orang tuanya. Akan ada orang yang rela menyisihkan uang untuk buka bersama atau memberikan cokelat Valentine pada koleganya, tetapi perincian untuk hadiah ulang tahun ibunya.

Sebab sayang pada orang-orang terdekat sudah terlalu biasa sehingga tidak ada lagi penghargaan yang berlebih untuk itu. Sebab berbuat baik pada orang-orang terdekat sudah terlalu sering, sehingga tidak ada nilainya. Kita akan selalu asing pada kedekatan-kedekatan yang kita ciptakan, dan pada orang-orang yang kita miliki. Namun begitulah kita, orang-orang yang terlalu sibuk memikirkan luasnya tata kosmik, namun luput pada jagat diri kita masing-masing.

***

Lampu-lampu berkedipan di Jakarta yang sepi
kota kita berdua, yang tua dan terlena dalam mimpinya
Kau dan aku berbicara tanpa kata, tanpa suara
ketika malam yang basah menyelimuti Jakarta kita
Apakah kau masih akan berkata
"Kudengar derap jantungmu.."
Kita begitu berbeda dalam semua
kecuali dalam cinta.

Jakarta yang sepi membisiki telinga kita dengan sebuah bahasa yang tidak kita mengerti untuk mengutarakan hal-hal yang tidak kita pahami. Ketika kau, aku, dan semua orang di sini terbius dan dilumat egonya masing-masing. Tapi Jakarta akan selalu seperti itu; asing dalam kedekatan, tak acuh dalam kata kepedulian yang sudah tidak ada harganya. Semuanya memiliki porsinya masing-masing.

Tapi aku, aku bersyukur.

Setidaknya aku tidak merasakan apa-apa.

***

Akhirnya semua akan tiba pada suatu hari yang biasa
pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui.
Apakah kau masih berbicara selembut dahulu
memintaku minum susu dan tidur yang lelap?
Sambil membenarkan letak leher kemejaku.

Kabut tipis pun turun perlahan-lahan
di lembah kasih, Lembah Mendalawangi.
Kau dan aku tegak berdiri
melihat hutan-hutan yang menjadi suram
meresapi belaian angin yang menjadi dingin.

Apakah kau masih membelaiku semesra dulu?
Ketika kudekap kau
dekaplah lebih mesra, lebih dekat

Hari pun menjadi malam
Kulihat semuanya menjadi muram
Wajah-wajah yang tidak kita kenal berbicara
dalam bahasa yang kita tidak mengerti
seperti kabut pagi itu.*



*puisi "Sebuah Tanya" oleh Soe Hok Gie

Dari Mana Datangnya Asmara?


Aku potong dini hari ini seukuran kartu pos. Tentu agar kamu melihatnya sendiri tanpa aku harus susah-susah bercerita.

Oh ya, dari mana datangnya asmara?

Aku bertanya pada langit yang jingga, yang ungu, yang biru, tapi semuanya diam. Dari yang terang hingga gelap gulita. Anginnya sepoi-sepoi membelai tengkuk dan ujung-ujung rambut yang kugelung ke atas. Dingin.

Kamu begitu padaku.

***

Jogjakarta, beberapa tahun silam.

Dari mana datangnya asmara?

Aku kerap bertanya-tanya demikian belakangan. Tentu karena aku sendiri tidak bisa merasakan apa-apa, kecuali bahagia, bahkan saat melihat ujung-ujung rambutmu atau bagaimana caramu tertawa malu-malu.

Kau tahu, aku ingin cerita.

Pada suatu ketika, aku pergi menyusuri bibir sungai yang jernih. Airnya tenang, mengalir dari hulu ke hilir, menyapu batu-batuan. Sesekali kulihat ada ikan. Aku berdiri atas jembatan. Di bawah aku melihat bayang-bayang. Ada diriku sendiri di sana.

Hei, apa yang kau lihat dariku?

Aku tidak menarik, tidak cantik, bukan putri dari seorang ayah yang punya kerajaannya sendiri, tidak pintar, sangat biasa, seperti rata-rata. Apa yang kau lihat dariku? Dan bagaimana kamu melihatku? Katakan, karena aku bukan cenayang yang bisa membaca pikiranmu.

***

"Heh, main-main kamu! Hati-hati! Witing trisno jalaran seko mesakno."

Aku sering dengar pepatah Jawa itu, tapi tidak demikian.

"Eh, kok jadi gitu?"
"Ya iya. Bisa aja. Hehehe."

Anomali Coffee masih ramai. Pukul 10 malam. Cikini basah selepas hujan. Kuhirup kopiku dalam-dalam. Beberapa orang duduk sendiri dengan laptop di depannya, beberapa seperti kami; duduk berdua. Ada yang berdua lalu sibuk dengan laptop masing-masing, ada yang berdua lalu saling bicara. Tapi mereka semua menyukai kopi. Kurasa. Makanya mereka datang ke sini.

Semenjak aku tinggal di Seminyak dulu, Anomali menjadi destinasi favorit. Aku tidak begitu paham kopi seperti beberapa temanku yang lain. Bagiku mencecap kopi cuma agar aku paham betapa masih banyak hal-hal yang tidak nyaman, namun tetap kunikmati dalam hidup. Kopi mungkin salah satunya. Rasanya asam, pahit, dan merusak lambung. Dokter juga berkali-kali mengingatkan agar aku berhenti ngopi setiap kali aku cek kesehatan. Aku sering mengeluh tidak bisa tidur, sakit kepala, dan dokter mengatakan salah satunya mungkin karena aku kebanyakan mengonsumsi kopi.

Namun, suatu hari, sepulangku dari liburan ke Aceh, kuundang dokter kesayanganku itu ke Prapanca, ke apartemenku.

"Jadi, kamu mengundang ke sini, cuma untuk mengajakku ngopi? Udah berapa kali kubilang, kopi itu tidak baik untuk kesehatan."
"Ya ya, aku tahu. Tapi dokter harus coba ini. Ini salah satu kopi yang paling sulit membuatku move on, dok. Dokter harus coba."

Mulanya ia mengira aku mungkin menaruh racun atau sejenisnya di dalam secangkir Kopi Gayo yang kusajikan seperti kejahatan-kejahatan lain yang kerap kulakukan sejak kami SMA.

"Nggak beracun, astaga!" kataku akhirnya. Dia minum seteguk.
"Pahit ya?"
"You don't say!"

Tapi diminum juga akhirnya. Temanku yang dokter ini sungguh baik. Lalu seperti biasanya kami bercerita banyak hal. Mulanya kukatakan bahwa ini adalah salah satu single origin terbaik yang kucoba. Kopinya banyak tumbuh di dataran tinggi Tanah Gayo, Aceh Tengah. Sebab itu dinamakan Kopi Gayo. Menurutku sendiri Kopi Gayo adalah yang paling tidak pahit. Tidak seperti kopi pada umumnya menyisakan rasa pekat di lidah, Kopi Gayo hampir tidak menyisakan rasa apapun. Bahkan beberapa temanku menyebutkan kopi ini mengalahkan citarasa Blue Mountain dari Jamaika.

"So, how's the taste?"
"Hmm menarik-menarik."

Dan sejak saat itu aku tidak perlu susah-susah ke kliniknya dan mencium bau karbol rumah sakit yang menusuk hidung setiap kali ingin bicara banyak. Aku mengajaknya ke kedai kopi yang banyak sekali ada di Jakarta. Beberapa kali kuajak ia ke Kopikina di Tebet, ke Crematology Coffee Roaster di Kebayoran Baru, ke Woodpecker di Melawai, ke Sinou, hingga akhirnya paling sering di Anomali Coffee Menteng. Sebagai sesama orang yang pernah sama-sama menikmati Jogja, Cikini adalah tempat paling 'rumah' di Jakarta. Meski sesekali aku merasa tinggal di Tebet seperti dibawa kembali ke masa-masa kuliahku tinggal di Demangan, atau bahkan ketika ke Kemang aku seperti mengingat masa-masaku jadi mahasiswa baru yang tinggal di Seturan. Di beberapa hal, Jakarta memiliki wajah yang hampir sama dengan Jogja. Tapi, paling tidak, di Jakarta aku bisa melupakan.

"Hati-hati," katanya lagi memecah lamunanku.
"Ya gimana sih, jadi manusia. Simpati pasti ada lah," kataku akhirnya.
"Hati-hati," temanku dokter yang cantik itu cuma bilang begitu berkali-kali.

***

Aku selalu berpikir Jakarta adalah kota melupakan. Ketika aku patah hati, aku memilih ke Jakarta agar aku lupa. Ketika aku sedih, aku memilih ke Jakarta, agar panas dan macetnya lagi-lagi membuat aku lupa kesedihanku sendiri. Pun ketika aku mungkin jatuh cinta, namun aku takut pada perasaanku sendiri, aku memilih ke Jakarta. Agar aku lupa.

Kami telah melewati serangkaian drama selama beberapa waktu terakhir dan aku selalu berpikir ini harus diakhiri. Maka aku memutuskan hidupku sendiri. Aku sungguhan pergi. Kutinggalkan Jogja untuk hal-hal yang aku tidak tahu apa dan kenapa. Tapi sebuah universitas di Swedia menerimaku menjadi mahasiswanya, jadi aku terbang ke Jonkoping. Setahun lamanya aku di sana. Menikmati hidup di salah satu negara dengan musim dingin paling ekstrem. Kota yang cantik dengan danau-danau yang memenuhi sebagian areanya. Aku ke Jonkoping beach, ke museum-museum seperti Vetlanda dan Huskvarna, berkemah di Visingso, dan benar-benar menikmati diriku selama tinggal dan menjadi bagian dari masyarakat di Swedia.

Setelah aku lulus dari studi yang hanya kurang lebih setahun, seorang teman yang kukenal sewaktu tinggal di Jogjakarta dulu menawariku sebuah project di Bali. Aku lalu tinggal di sana beberapa waktu, menghabiskan hari-hari di Seminyak selama hampir dua bulan. Lalu memilih untuk tinggal di Ubud, mengelola salah satu coworking space paling terkenal di Indonesia, berkenalan dengan orang-orang yang sangat menikmati Bali, para digital nomad yang telah berkeliling jauh dari negaranya untuk menikmati hidup yang cuma dihabiskan dengan botol-botol alkohol dan aktivitas party serta berselancar di Canggu. Dari sanalah aku bertemu orang yang menjadi bossku sekarang. Dibawanya aku ke Jakarta. Beberapa waktu menghabiskan hidup di Tebet. Lalu ketika kantor kami pindah ke Pejaten, aku mendapatkan sewa apartemen murah di Prapanca. Dan tinggallah aku di sana sampai sekarang.

Aku belum pernah berpikir untuk pindah sampai beberapa minggu lalu, seseorang menghubungiku melalui resepsionis apartemen. Aku tidak membagi alamat tempat tinggalku pada klien, jadi kupikir dia salah satu temanku. Aku turun ke lobby, menemuinya, dan demi apapun itu adalah hal paling kusesali sampai saat ini.

"Hai, long time no see."

***

Aku selalu ingat raut wajahnya, dan terutama matanya, yang kerap menceritakan banyak hal yang tidak pernah sanggup dia katakan padaku. Hampir dua tahun aku tidak bertemu dengan raut wajah itu. Bukan tidak mungkin, hanya karena memang aku tidak ingin.

"Kok tau aku tinggal di sini?"
"Aku selalu tau kamu di mana," katanya. "Masih ada yang tertinggal di sini," katanya lagi. Ia menunjuk dadanya. Aku tersenyum seperti karet yang direnggangkan susah payah.

Gelas-gelas dari kopi yang kami nikmati mulai kosong. Kami duduk di balkon. Di bawah lalu lintas Jakarta terlihat masih ramai meski ini beranjak tengah malam. Ini kedatangan pertamanya di apartemenku dan selama ini aku tidak pernah membawa laki-laki menginap di sini. Bagaimanapun aku harus mengusirnya.

"Pulang sana. Udah malem," kataku.
"Nggak."
"Kok nggak sih?"
"Terakhir kali kamu menyuruhku pulang, aku benar-benar pulang, tapi setelah itu kamu pergi dan bertahun-tahun tidak menghubungiku lagi, sampai hari ini."
"Astagaaa! Ya kondisinya beda!" Kepalaku nyaris meledak berhadapan dengan orang ini. Kami diam beberapa menit. "Ya terus maunya apa?" tanyaku lagi.

Dia tidak menjawab.

"Ya gitu aja terus sampai kiamat."

***

"Kita ini, dok, kan sudah bukan anak-anak lagi ya. Segala hal, harusnya lebih jelas," kataku. Kali ini kami di PIM, berburu parfum, lalu berhenti di Street Gallery. Kami kenyang dan cuma butuh hiburan dari lalu-lalang orang di sini.

"Ya itu aku setuju juga," katanya. "Tapi.. harusnya, semua hal sudah jelas sejak bertahun-tahun lalu. Sejak kita semua masih di Jogja."
"Maksudnya?"
"Ya iya. I mean.. everything was clear, waktu itu."
"Nggak paham."
"Gini.. basa basi adalah suatu tanda orang boleh bertamu, duduk, bahkan dikasih minum. Kalau suka ya, dia akan datang lagi, dan lagi, dan lagi, lagi, lagi, lagi, sampai jadi serumah. Jadi, bukan jadi tamu lagi. Hahaha!"
"Hah?" Aku bengong.
"Aduh, kok kamu jadi bego gini sih." Dia membenarkan letak kacamatanya.
"Kamu ngomongnya gitu sih ah, sok-sokan."
"Aku serius. Maksudku, emm.. kamu tu udah basa-basi waktu itu. Ibaratnya, ada orang bertamu dan kamu mempersilakan masuk, bahkan menyuguhinya minum. Dan lalu dia suka. That's why dia datang lagi, dan lagi. Tapi.. pada kedatangannya yang kesekian, kamu tiba-tiba menutup semua pintu, mengunci pagar, dan bahkan kamu pergi dari rumahmu sendiri. Itu bodoh sih."
"Okay, sekarang gini. Kamu melihat orang di seberang rumahmu dalam kondisi basah kuyup, dan di luar hujan deras sekali, sementara tidak ada tempat berteduh lain. Kamu memintanya masuk agar dia tidak bertambah kuyup dan menawarinya teh, sebagai bentuk etika. Lagipula kamu sudah dikenal sebagai orang yang murah hati. Kamu terbiasa mengajak anak-anak di sekitar rumahmu untuk datang sekadar mencicipi kue atau menonton film terbaru dan bermain di kolam renang ada di belakang rumahmu. Sesederhana itu."
"Nah, ini yang kubilang sebagai.. witing tresno jalaran seko mesakno. Hahaha."
"No, it's totally different."

Aku mengenal ini sebagai transference dalam buku-buku milik Sigmund Freud yang pernah kubaca. Umumnya dialami oleh seseorang yang berlaku sebagai 'klien/pasien' dengan orang yang diekspektasikan akan 'menyembuhkan' masalahnya. Transference muncul karena urusan-urusan di masa lalu yang tidak selesai, kemudian pada orang yang ditemuinya di masa kini, ia berhasil menyalurkan hal-hal tersebut. Ia memproyeksikan perasaan-perasaannya terhadap suatu figur kepada orang ini. Jika ingin menyelesaikan hal-hal tersebut, orang ini adalah medium yang paling tepat. Orang ini akan menjadi semacam jembatan yang menghubungkan ia dengan masa lalunya, untuk diselesaikan. Namun, di titik-titik tertentu, niat baik pada orang ini untuk membantu orang lain, akan menjadi masalah, ketika orang tersebut tidak mampu memberi batas, mana hal-hal yang boleh ia lewati, mana yang tidak.

Dan entah aku atau orang tersebut, atau bahkan kami berdua, sama-sama melanggarnya.

***

"You saved my life," katanya suatu ketika.
"Hm hm ya, makasih."
"Aku yang berterima kasih."
"Oke, sama-sama."

***
Kita tak pernah bosan memikirkan luasnya tata kosmik
Tapi di situlah kau dan aku luput memikirkan jagad diri kita masing-masing
Atau memang tiap dari kita selalu takut berimajinasi mengenai seberapa bergetar hati kita berdua kala meratapi gemintang di satu malam itu
Atau tidakkah detak jantung kita memompa hawa panas pada tiap-tiap berahi kita?

(Sajak milik Muhajir M.A.)

***

Sejak malam itu ada yang benar-benar berbeda di antara kami. Dan buatku sendiri, ada yang berbeda dalam diriku. Semacam ketakutan-ketakutan pada perasaan sendiri. Lalu seperti halnya pengecut, aku memutuskan untuk pergi. Lari entah ke mana, entah dari apa.

Tapi bukankah memang aku sudah terbiasa lari dari apapun yang tidak kuingini ---dan diapun demikian?

Tidak ada yang salah. Hanya kemudian, padanya, jawaban itu mampu ditemukan. Sementara aku bertahun-tahun setelahnya, bahkan masih bertanya-tanya. Dari mana datangnya asmara? Mengapa orang jatuh cinta? Kapan waktu yang tepat untuk orang jatuh cinta dan menjatuhkan pilihannya? Bagaimana cinta bisa melupakan ---dan dilupakan?

Semalam di Jakarta


Semalam di Jakarta aku bertemu dengan seseorang.

Jakarta tak pernah sepi. Jakarta selalu bising. Orang-orang sibuk, tak punya waktu untuk sekedar menikmati trotoar-trotar yang becek disapu hujan. Mungkin mereka ditunggu keluarganya di rumah, mungkin juga mereka lapar.

Di halte bus semua orang menunduk. Ada yang berjalan buru-buru, ada yang berbicara dengan orang-entah-siapa melalui telepon genggamnya, ada pula yang hanya sekadar membunuh waktu. Sebab Jakarta di malam hari adalah waktu di mana semua berlalu begitu cepat, sekaligus melambat. Seolah-olah bayang-bayang subuh esok hari tinggal sebentar lagi, sekaligus waktu yang sangat lambat untuk sekadar memastikan mereka sudah sampai rumah.

***

Semalam di Jakarta aku bertemu dengan seseorang. Seseorang yang sepertinya sama sekali tidak kuduga akan kutemui di sini.

"Kamu?" katanya. "Kok bisa ada di sini?"

Aku tidak berkata apa-apa, tapi aku yakin sorot mataku tidak akan berubah meski bertahun-tahun tak pernah melihat wajahnya. Seperti perasaan, mata adalah ekspresi yang paling tidak bisa dimanipulasi.

Lihatlah bunga di sana bersemi
Mekar meski tak sempat kau semai
Dan suatu hari badai menghampiri
Kau cari ke mana, dia masih di sana


Tugu Kunstkring Paleis adalah nama baru yang diberikan pada gedung tua peninggalan Hindia Belanda di masa Pemerintahan Gubernur Jenderal Frederick Idenburg ini. Dulunya ia bernama Gedung Kunstkring. Diresmikan sejak April 1914, bangunan tua yang sempat tak difungsikan ini, beberapa tahun lalu disulap menjadi sebuah restoran mewah dengan nuansa seni yang sangat tinggi di bilangan Menteng, Jakarta Pusat.

"Kok bisa ada di sini?"
"Dibawa oleh semesta."

Perempuan itu tersenyum tulus meski terlintas sebuah kegetiran. Seharusnya dia marah padaku, bukan tersenyum seperti ini.

***

"Jadi, kamu sekarang seniman?"
"Sejak dulu, kamu aja yang nggak tahu."

Aku membatalkan semua rencana kunjunganku ke tempat-tempat yang kurindukan di Jakarta karena pertemuanku dengan perempuan ini.

Pukul 1 dini hari adalah waktu paling romantis menikmati Jakarta, terlebih di Cikini. Kami tidak melihat kemacetan, bising kendaraan, atau polusi yang mengganggu.

"Kamu belum menjawab, kenapa bisa di Jakarta? Kenapa bisa ke Kunstkring?"
"Dibawa oleh semesta."
"Aku serius."
"Aku juga," jawabku sungguh-sungguh. "Aku ke Jakarta untuk urusan bisnis, lalu malam ini aku cuma mau jalan-jalan sebelum balik lagi dengan pesawat besok pagi. Aku nggak tahu kenapa aku ke Kunstkring. Aku cuma mencari tempat yang enak di Menteng, lalu beberapa temanku menyarankan ke sana. And yah, we meet each other."
"Hahaha! It's so weird."
"Aku serius."
"Ya ya, aku tahu."

Kami lalu diam.

"Kenapa aku mau di sini ya? Dengan kamu yang baru beberapa jam lalu kutemui setelah bertahun-tahun aku bahkan tidak tahu kamu masih hidup atau tidak. Hahaha." Dia tertawa meski aku tahu sesekali terdengar nada getir dalam tawanya.

Seharusnya ia memang marah padaku. Seharusnya ia marah pada waktu yang terbuang percuma hanya karena kami saling diam. Bukan. Aku yang diam. Ia pernah bilang. Namun, aku tidak melihat matanya, sehingga aku tidak percaya. Maka kuabaikan pesan-pesannya, kulewatkan kabar-kabarnya begitu saja. Hingga hari ini ketika Jakarta mempertemukan kami kembali dan aku punya kesempatan untuk sekali lagi melihat matanya.

Dengarlah kawan di sana bercerita
Pelan dia berbisik, pelan dia berkata-kata
Dan hari ini takkan kau menangkan
Bila kau tak berani mempertaruhkan

"Aku minta maaf."
"Untuk?"
"Semuanya."
"Dimaafkan sejak lama."

Kami diam lagi.

"Apa ada yang berubah?" tanyaku. Dia tersenyum.
"Tentu saja," katanya. "Aku harus pulang. Terima kasih untuk waktu jalan-jalannya. Have a safe flight tomorrow."

Walau tak semua tanya
Datang beserta jawaban
Dan tak semua harapan terpenuhi
Ketika bicara juga sesulit diam
Utarakan, utarakan, utarakan


***

Fragmen yang ditulis sambil mendengarkan "Utarakan" milik Banda Neira. Sangat direkomendasikan untuk juga mendengarkan sambil membaca.