Yang Tidak Dibicarakan Orang dari Pernikahan

In Buddhism, the lotus symbolizes the journey of enlightenment, with its petals unfolding to represent the path from attachment and desire to clarity and purity.

Seperti halnya jadi orang tua, menjadi pasangan juga aku rasa nggak ada ilmu pastinya. Psikologi pernikahan ada sih, tapi seingetku itu nggak lebih dari nasihat-nasihat normatif mengenai peran suami, peran istri --yang sangat dipengaruhi konstruksi sosial. Beberapa kadang tidak terlalu relevan dan tidak kusetujui, kurasa. Sisanya hanya bualan soal cinta, kedekatan, dan komitmen.

Konon katanya, semua pasangan pernah sangat mencintai, tapi waktu pasti pelan-pelan mengikis rasa cinta itu. Sisanya tinggal kedekatan, dan jika menikah, maka pasangan akan punya komitmen --dan ini yang membedakan mereka yang memutuskan menikah dan tidak menikah.

Aduh, komitmen. Aneh sekali aku mencerna hal yang satu ini.

Kemarin di obrolanku dengan seorang teman sambil makan siang, kubilang, karena sudah memutuskan menikah, aku mau merawat pernikahanku, tapi jujur aja aku nggak punya figur yang benar-benar kudambakan kisah pernikahannya dan kumintai advise soal pernikahan. Bahkan orang tuaku sendiri yang sudah menikah lebih dari tiga puluh tahun. Maksudku, meski mereka bertahan selama itu, dan keluarga kami relatif 'baik-baik aja', tapi aku sendiri nggak mau kalau harus berada di pernikahan seperti orang tuaku. Agak sulit kujelaskan, tapi intinya aku nggak mau aja.

Dalam cerita lain, aku mengenal seorang laki-laki, seorang suami, yang isi kepalanya hanya selangkangan. Laki-laki ini kulabeli 100% bajingan, bukan karena dia menelantarkan anak-istrinya, tapi karena kurasa dia memberiku gambaran yang mengerikan soal pernikahan dan komitmen. Sebagai seorang istri juga, aku sulit percaya kalau istrinya, di rumah, tidak tahu bahwa isi kepala suaminya tidak jauh-jauh dari tetek perempuan lain, atau bahkan terang-terangan berfantasi ingin main bertiga dengan dua kolega perempuannya di kantor.

Kayaknya hampir nggak mungkin sih, istrinya nggak tahu. Aku rasa istrinya tahu. Tapi laki-laki itu adalah suami yang 'berkomitmen' pada pernikahannya. Ia bekerja untuk keluarganya, sayang ke anak-anaknya, bahkan ke istrinya --wow foto profilnya mereka berdua sedang dinner, romantis sekali.

Jadi meskipun tahu otak suaminya ada di kontol, tapi aku rasa istrinya juga sedang berkomitmen pada pernikahan mereka yang mungkin berusia 10 tahunan --seusia anak mereka.

***

Aku kadang-kadang menyalahkan society atas kerancuan pikiranku dan segala skeptisisme soal apapun, termasuk soal pernikahan. Di umurku yang segini dan di usia pernikahanku yang hampir lima tahun ini, aku bahkan belum memutuskan akan punya anak atau enggak, simply karena aku skeptis, bahkan ke diriku sendiri. Kayak.. aku masih bertanya-tanya apakah itu keputusan masuk akal, atau jangan-jangan malah nanti kami semua menyesal, termasuk anakku.

Aku sudah melihat banyak orang di sekitarku, bahkan teman-teman seusiaku yang akhirnya memilih untuk menyudahi pernikahannya. Beberapa di antaranya punya anak, yang kemudian tumbuh tanpa konsep keluarga yang normatif. I don't know what happens to their kids, but they seem to be fine.. Ini kayak sekali lagi ngasih gambaran yang beda banget dari generasi orang terdahulu yang menganggap anak adalah pengunci final dari langgengnya ikatan pernikahan dan bahwa sekali lagi, keberadaan anak nggak menjadi penentu keberadaan pernikahan.

Kalau suatu hari aku punya anak dan dia membaca arsip tulisan ini, percaya deh, kalau kamu sampai bisa baca tulisan ini, kelahiranmu sungguh sebuah hasil pemikiran matang dan cinta yang seluas jagat raya. Kayak kalau kamu sampai ada di dunia yang sedang rusak ini, berarti sebegitunya aku mencintai dan menginginkanmu. Kamu bukan hasil tuntutan society atau karena biar aku bertahan di 'komitmen' pernikahan dengan ayahmu, enggak. 

Kalau kamu sampai ada, artinya aku sebegitunya menginginkanmu.

Aku rasa secara general aku merasa senang dan menikmati 'journey' pernikahanku. Karena bersama suamiku hampir 10 tahun sejak aku mengenalnya, aku merasakan sekali bagaimana kami bertumbuh dan berproses menjadi lebih baik --dalam hal apapun.

Banyak hal yang kami lewati untuk pertama kali dan bahkan setelah hampir sepuluh tahun mengenal satu sama lain, selalu ada yang pertama kali --yang kadang-kadang bikin aku nggak habis pikir ini emang serius ya menikah itu harus kayak gini?

***

Katakanlah aku cukup beruntung dalam hidup ini, aku nggak menampik itu. Tapi, pasti kita juga berpikir, jika keberuntungan datang setepat waktu itu, hal paling nggak masuk akal apa yang bisa terjadi dalam hidup untuk mengimbanginya?

Apakah sepadan, misalnya, keberuntungan dalam bentuk materi berlimpah dibarengi dengan suami yang otaknya di selangkangan? Kalau di kasus orang itu, kayaknya aku nggak sanggup sih. Kayak membayangkannya aja aku nggak sanggup, segimana frustasinya jadi istri yang suaminya sangat terobsesi dengan tetek teman sekantornya.

Tapi ya, bisa juga aku berpikir begini karena aku lahir dan besar dengan nggak punya apa-apa yang harus kupertahankan kecuali harga diri dan diriku sendiri. Jadi kupikir bahwa dalam pernikahan pun aku nggak akan 'mempertahankan' sebegitunya, toh itu cuma pernikahan.

Beda halnya kalau misalnya aku dari keluarga konglomerat yang terhormat, yang padaku melekat segala status, wibawa, dan nama baik, yang hanya akan tetap melekat jika aku bertahan pada nilai-nilai yang dianggap normatif di masyakarat, bahwa perempuan yang baik adalah yang bertahan pada pernikahan, berkorban untuk keluarga, dan menjadi pakaian yang menutup aib suaminya.

Aku dan suamiku kan.. miskin ya, jadi ya, lucu aja ngebayanginnya. WKWK.

Pada akhirnya aku tetap percaya pada teori Maslow, memang ada tiga fondasi dalam cinta itu; hasrat, kedekatan, dan komitmen. Tapi aku menolak komitmen sebagai hal yang final. Menurutku ketiganya harus tetap ada, harus balance. Pernikahan tanpa komitmen, bukan lagi pernikahan. Pun pernikahan tanpa hasrat dan kedekatan.

Tentu ini cuma berlaku di aku ya. Psikologi kan sangat individual. Dan sekali lagi nggak ada ilmu pasti yang bisa mengajarkannya dengan precise.

Tiga Puluh Tahun

Bloom with grace, courage, and resilience, and inspire others to do the same.

Beberapa waktu lalu ketika ke Singapore, aku berkesempatan ketemu dengan mantan atasanku; salah satu orang terpenting yang membentukku secara pribadi dan profesional seperti sekarang. Dalam pertemuan kami yang singkat itu — karena beliau luar biasa sibuk, dia menanyakan kabarku dan kubilang bahwa saat ini aku sedang ‘living the best time of my life’.

Tentu bukan tanpa alasan aku bicara demikian, karena nampaknya, setelah 30 tahun aku hidup, aku merasa aku baru bisa memaknai hidupku sebaik ini.

Ah, 30 tahun. Angka genap yang sempurna.

Di usia 30 tahun, aku merasa energiku sebaik ketika aku 20 tahun. Namun, di masa ini, psikisku berkembang jauh lebih baik. Aku jadi kalem dengan segala hal, melihat tragedi jadi komedi, dan aku lebih rileks untuk semua hal yang nampaknya tidak bisa kukontrol. Secara penuh pula, aku merasa lebih mencintai diriku — yang seumur hidup kupertanyakan apakah aku cukup baik, apakah cukup layak dicintai, apakah cukup pintar, apakah cukup menarik?

Barangkali karena hal-hal yang dulunya ingin kuvalidasi, sekarang sudah tidak lagi — atau mungkin sudah?

Sesederhana pertanyaan soal pasangan. Dulu di usia 20, aku kerap bertanya-tanya apakah aku sungguhan akan ketemu orang yang dengannya aku bisa menikah dan membangun keluarga? Pada saat itu, di lingkaranku yang terbatas, aku merasa tidak terlalu tertarik dengan laki-laki lebih dari teman. Kalaupun ada satu dua yang membuatku tertarik, itu sebatas rasa penasaran. Artinya, untuk jangka 10–20 tahun pun aku tidak melihat bagaimana jalannya kami bisa bareng.


Hal kedua adalah soal pekerjaan. Di usia 30 ini, aku akhirnya sadar sudah 10 tahun aku bekerja. Memang sih, kerja fulltimeku baru mulai sekitar 8 tahun lalu, tapi secara profesional, sebenarnya aku sudah mulai bekerja sejak 2015 ketika mengambil project-project di kampus ataupun freelance di berbagai tempat.

Sebagai lulusan psikologi yang iseng masuk ke tech company, mengambil role jadi marketer, lalu ke product, aku selalu mempertanyakan ke diriku sendiri apakah bekerja memang sudah seperti ini yang benar?

Kerja itu.. sangat kompleks. Berbeda dengan sekolah atau kuliah yang punya kurikulum jelas, ada batas waktu dan nilai yang jelas, dalam bekerja, itu semua abu-abu. Terlebih aku memilih bekerja di industri yang terhitung baru. Di pekerjaan yang kugeluti sekarang, aku merasa tidak ada orang yang 100% expert. Orang dengan banyak pengalaman, mungkin banyak, namun yang sungguhan expert, kurasa tidak ada.

Pertemuanku dengan mantan bosku di Singapore beberapa waktu lalu menjadi pengingat penting, betapa dulu, ketika aku masih bekerja dengan dia, aku kerap bertanya-tanya, “Kerjaanku kayak gini ini udah bener nggak, sih?” Lalu, dia yang notabene 10 tahun lebih awal bekerja, dengan bijak bilang, “There’s no such an expert in our industry.”

Jawaban seperti itu, somehow, dulu kupandang sebagai kegamangan, membuatku tidak yakin apakah tempat ini sungguh tempat yang benar untuk belajar atau aku cuma sekadar main-main menghabiskan waktu?


Hari ini berarti sekitar 8 tahun sejak aku bingung-bingung menceritakan kecemasanku, mencari validasi dari atasanku, bingung gimana menjelaskan dengan Bahasa Inggris yang terbatas, atau bingung memenuhi ekspektasi dan cara kerjanya yang Singapore banget!

Lucunya aku sekarang masih kerja dengan orang Singapore, di kantor yang culturenya Singapore banget — surprisingly mereka ini kolega yang aku bisa kerja seanteng itu saking nggak adanya drama dan unggah-ungguh bullshit. Aku ternyata sudah bekerja selama itu dan alih-alih merasa expert, aku justru merasa makin ingin belajar lagi dan makin ‘malu’ untuk koar-koar soal keahlian atau pekerjaanku meski produkku digunakan lebih dari 15 juta orang — selain memang kantorku sangat membatasi kami untuk bicara soal pekerjaan wqwq.

Bisa dibilang, soal pekerjaan, aku sudah tidak lagi sibuk memvalidasi. Ini bukan berarti aku sudah puas, ya. Tapi, aku sampai di titik yang merasa bahwa bekerja itu seperti halnya orang marathon, bukan sprint. Mungkin kecepatan tinggi matters, tapi itu bukan yang utama. Karena yang terpenting adalah pace untuk sampai finish yang sangat jauh dan lama. Bayangkan jika aku pensiun di umur 60 tahun, berarti aku masih punya 30 tahun lagi untuk ‘lari’.

Aku mulai mengurangi keteganganku dengan hal-hal yang kurang perlu, terlebih jika menyangkut pekerjaan. Karena, yah, bekerja akan masih sangat lama bagiku. Hal terpenting saat ini adalah tetap membuka diri untuk belajar, stay hungry, stay foolish — untuk ini aku setuju kata-kata orang kaya.


Terakhir, barangkali ini yang paling penting, di umur 30 tahun aku mencintai diriku secara menyeluruh. Aku merayakan semuanya. Aku memastikan tubuhku sehat lahir dan batin. Aku berolahraga rutin, setidaknya seminggu sekali aku yoga, ke gym paling nggak tiap 2 hari sekali. Belakangan bahkan aku ikut kelas renang agar opsi olahraga cardio-ku bertambah setelah aku cedera dan nggak bisa lari.

Seumur hidup tumbuh jadi perempuan Jawa berkulit gelap, aku berada di fase yang se-tidak-masalah itu dengan warna kulit. Tentu bekerja dengan kolega yang 96% Chinese, baik itu Indonesian-Chinese, Malaysian-Chinese, Singaporean-Chinese, ataupun Chinese yang beneran dari Mainland, membuatku sadar, sia-sia belaka mengupayakan kulit terang. HAHAHA.

Ternyata, orang memang tidak menilaiku dari warna kulitku, sukuku, asal rasku, bahkan orang tidak melihatku lulus sekolah dari mana — somehow lulusan kampus Slemat at some point membuatku inferior setengah mati di antara lulusan kampus-kampus Singapore, Aussie, ataupun dari US. Dan hal-hal itu, somehow membuatku lebih bisa menertawakan hal-hal yang dulu kuanggap sebagai tragedi.

Aku kini santai aja membicarakan kedua orang tuaku yang tidak pernah kuliah. Aku bahkan terang-terangan mengatakan kami miskin. Alih-alih menutupi akar, dan berpura-pura datang dari keluarga bangsawan kabupaten, aku lebih ingin menjuntaikan cabang-cabangku semakin jauh, semakin lebar, dan ke mana-mana.

Aku bahkan mulai mencari waktu untuk mengajak kedua orang tuaku ke Singapore agar mereka juga melihat kota yang selama ini kugadang-gadang sebagai tempat yang ideal untuk sekolah anakku kalau suatu hari aku punya anak. Aku mau membagi hal-hal yang sekarang terlihat sederhana bagiku, tetapi bagi orang tuaku mungkin jadi pengalaman luar biasa. Orang tuaku yang nggak pernah kuliah, yang punya paspor pertama kali di umur 50an — itupun cuma kepakai karena pergi haji, yang hidup dan mimpinya sangat sederhana; bisa menghadiri wisuda anaknya di UGM.

Tentu aja mereka nggak akan kepikiran kalau anak dan menantunya kalau kerja sekarang harus full kemenggres dan bahkan anaknya sekarang lagi struggling menghafal hanzi biar kalau tinggal di hotel di Chinatown lagi, lalu ketemu orang yang hanya bisa Bahasa Mandarin, nggak bingung harus ngomong pakai Google Translate. HAHA.

Aku mencintai diriku sepenuhnya dan aku mengupayakan perayaan-perayaan untuk diriku yang mau sabar dan belajar. Tentu saja sangat manusiawi kalau ada satu dua hal yang aku sesali, terutama kenapa aku sangat khawatir Tuhan nggak adil padahal belum pernah sekalipun Ia tidak menjawab permintaanku — meski kadang membingungkan.

Selamat ulang tahun, Ervina. Semoga di umur ini, kamu terus bertumbuh dan tetap bertumbuh.


Tulisan dipublikasikan juga di Medium.