Sep 5, 2018

Tentang Memperlakukan Orang Lain


Aku sudah lama tidak punya musuh. Menurutku punya musuh melelahkan. Musuh menguras energi dan pikiranku untuk hanya fokus pada perasaan benci dan menyakiti. Lebih buruk jika musuhku punya kesempatan juga menyakitiku; akan ada dua sisi kesakitan yang dirasakan dari luar dan dari dalam.

Karenanya aku memilih jalan aman. Aku menghindari kerumunan chaos, aku memilih teman-teman terdekatku, dan aku berlaku baik pada siapapun sebatas pada kemampuanku berkelakuan baik.

Tentu aku tahu di luar sana aku memiliki orang yang tidak suka padaku, membicarakan hal-hal buruk tentangku, apapun. Tetapi paling tidak aku tidak berada di antara mereka.

Aku cukup senang dengan lingkaran-lingkaran kecilku yang sehat dan bisa kujaga dengan baik. Aku suka dengan mereka yang memperlakukanku dengan baik dan sebisa-bisanya aku tidak akan berlaku sangat buruk pada mereka.

Kurasa aku orang yang cukup tahu diri. Aku berlaku baik, mereka akan memperlakukanku dengan baik. Tentu aku tidak berekspektasi jika kuperlakukan mereka dengan sangat buruk, kumanipulasi, kukhianati, lalu mereka akan menyanyangiku dan semua hal baik-baik saja?

HAHAHAHA. Bodoh. Hukum alam tidak bekerja seperti itu dan manusia tidak berpikir demikian.
Jika kamu ingin orang berlaku baik padamu, perlakukan mereka juga dengan baik. Itu dulu. Itu cukup.


Sep 3, 2018

Pertemanan Sehat


Kepada adik-adik saya, satu hal yang selalu saya ajarkan sejak mereka kecil dan bergumul dengan peer groupnya adalah kalo punya temen tuh pilih-pilih. Bukan mengajarkan sombong, tetapi lebih kepada kamu memfilter lingkaran sosialmu agar membentuk dirimu seideal mungkin ke depannya.

Saya belajar banyak soal bagaimana lingkaran pertemanan ini berpengaruh sekali, misal pada abang saya di Jogja yang sejak dulu kukagumi lingkaran pertemanannya atau ketika di kerjaan sendiri saya melihat founder mendapatkan berbagai kesempatan bisnis ya dari orang-orang di sekitar, dari teman-temannya, dari circle terdekatnya. Therefore, I believe that #pertemanansehat works dan itu kemudian juga menjadi satu prinsip yang saya yakini sampai sekarang.

Saya bersyukur kuliah di UGM dan tinggal di Jogja selama bertahun-tahun. Bergaul dengan banyak orang yang meskipun "terbatas" namun bisa saya pastikan sangat berkualitas. Saya tidak punya banyak teman dari jurusan. Instead, saya membangun pertemanan saya justru dari anak-anak Fisipol, Hukum, hingga Ilmu Komputer. Dari mereka, tidak hanya kesempatan mengembangkan karier dan belajar hal-hal baru yg saya dapat, namun juga membentuk kepribadian saya untuk jadi orang yang lebih terbuka dan adaptif --dan tentu saja berkembang dari waktu ke waktu.

Saya bertemu orang berumur 27 tahun dan clueless kenapa urusan pertemanan menjadi sepenting ini; mengapa bergaul dengan mereka yg di usia 30an tapi tidak menampakkan peforma karier yang signifikan itu bahaya, atau kenapa bergaul dengan bapak-bapak yg punya anak perempuan peminum alkohol dibiarkan itu tidak baik. Ini soal pola pikir. Berada di suatu environment akan membentuk pola-pikir seseorang. Mungkin tidak disadari secara langsung, tapi pasti terbentuk. Entah dari perspektif melihat sesuatu, atau paradigma berpikir akan suatu fenomena.

Lebih dari itu, pertemanan menentukan pula penilaian orang terhadap kita. Setuju atau tidak, terserah. Pilihan masing-masing. Tapi, paling tidak sekarang paham kan, kenapa dalam setiap konflik yg bergesekan dengan teman-teman, saya mengedepankan mereka?

Karena teman-teman bagi saya adalah aset. Saat ini mungkin mereka hanya sebatas konco suwung ataupun teman yang dicari ketika buntu soal kerjaan atau hal-hal semacamnya. Namun, 10 tahun dari sekarang who knows kita akan punya bisnis bersama? Atau salah satu dari mereka adalah pemegang kebijakan? Atau malah investor yang akan membantu bisnis kita? Nobody knows about future tapi saya percaya pada proyeksi dari hal-hal yang terjadi pada masa kini. Terlebih proyeksi dari bagaimana pola pikir seseorang, bagaimana habit seseorang, dan lain sebagainya.