Oct 11, 2018

Rehat

Ada sebuah fakta penuh paradoks di kalangan mahasiswa psikologi, yakni sebenarnya para mahasiswa psikologi sesungguhnya adalah orang yang sedang struggling dengan berbagai permasalahan dalam dirinya sendiri. Mungkin kalau mau dibuat riset beneran, para mahasiswa psikologilah yang mengalami paling banyak permasalahan yang pelik, sampai-sampai mereka merasa memerlukan 'ilmu' untuk memahami dirinya sendiri dan berjuang untuk menyelesaikannya. Yaaa paling tidak untuk mengatasi permasalahannya sendiri, dia sanggup gitu lah.

Aku mungkin juga demikian.

jangan takut, kamu tidak sendiri

Dalam semua hal yang selalu diupayakan menyenangkan, atau dilihat orang lain sebagai sesuatu yang menyenangkan, aku selalu percaya bahwa setiap orang memiliki permasalahan dengan kesehatan mentalnya masing-masing.

Ketika mempelajari psychological well-being, aku akhirnya paham bahwa krisis adalah sesuatu yang sifatnya lifetime. Artinya, sepanjang hidup manusia, sesungguhnya kita hanya sedang berupaya untuk bertahan hidup, melewati satu demi satu fase dalam perjalanan hidup berikut semua permasalahannya.

Ketika masih janin, seseorang berjuang untuk mengeluarkan diri di muka bumi. Ia merasakan sakit ketika katup paru-parunya yang selama ini nyaman tertutup dan hidup dalam cairan ketuban tiba-tiba tersentak udara bumi yang jahat. Berbulan kemudian seorang bayi berjuang melawan segala panas-demam-pusing tumbuh gigi. Ia lalu berusaha berjalan, berlari, mengeja, berhitung, menulis, dan hal-hal lain untuk memenuhi ekspektasi sebuah perkembangan dan pertumbuhan yang semestinya sebagai manusia.

Ketika ia beranjak dewasa, ia akan berhadapan dengan sesamanya yang ternyata tidak semuanya baik. Ia akan bertemu banyak orang jahat, orang culas, orang tidak punya hati, orang tidak berotak, dan masih banyak lainnya --yang secara paradoks sebenarnya juga sedang berjuang untuk dirinya masing-masing.

Setiap orang memiliki porsinya sendiri-sendiri untuk setiap perjuangan yang harus dilalui. Seorang anak buruh tani berjuang untuk urusan perutnya, seorang anak profesor berjuang untuk menemukan makna dari apa yang bisa dia upayakan sebagai sesuatu yang dianggap 'bernilai' oleh orang tuanya dalam urusan belajar dan meraih gelar pendidikan, seorang anak pengusaha konglomerat berjuang untuk mencapai apa lagi yang sekiranya dalam hidup belum ia rasakan.

Hampir tidak ada kepastian bahwa orang di taraf hidup tertentu bisa bebas dari permasalahan dengan dirinya sendiri. Meskipun aku nggak menampik, dalam kondisi sosial-ekonomi yang baik, seseorang akan terdukung secara lebih baik untuk mengatasi hal tersebut.

Namun, dari semua hal yang kupercaya dicemaskan oleh semua orang, aku pun selalu yakin bahwa akan selalu ada jalan keluar.
Dear.. tidak ada urusan yang selesai dengan diakhirinya hidup. Bahkan bagi orang yang beragama, mereka mempercayai bahwa kehidupan kekal yang sesungguhnya dimulai setelah orang mati. Jadi tidak ada gunanya bunuh diri. Aku pun yakin demikian.

Bertahun-tahun kuliah psikologi membuat aku percaya bahwa setiap permasalahan memiliki jalan keluar. Dan usaha paling sederhana yang bisa kita semua lakukan menuju jalan keluar tersebut adalah dengan mencintai dan menerima diri-sendiri, menerima semua yang terjadi sebagai bagian dari proses, dari sebuah perjalanan yang memerlukan usaha dan juga.. jeda.



Rehat.

Mungkin pada akhirnya semua orang memerlukan jeda dalam hidupnya. Manusia sudah berjuang bahkan sejak masih dalam rahim ibu yang hangat. Ketika semua hal terasa sangat menekan dan mengejar, maka yang bisa kita lakukan adalah beristirahat dan melebihkan cinta pada diri sendiri.

Oh dear..
Kamu yang semester dua digit dan masih berjuang untuk skripsinya..
Kamu yang sudah dua periode wisuda dan belum dapat pekerjaan pertama..
Kamu yang sedang struggling dengan kolega dan kliennya..
Kamu yang di usia 28 masih sendiri aja..
You will be okay.

Tenangkan hati
Semua ini bukan salahmu
Jangan berhenti
Yang kau takutkan tak kan terjadi
Terus berlari
Yang kau takutkan tak kan terjadi

Jika sesuatu terjadi tidak sesuai rencanamu, ini bukan semata-mata salahmu. Di balik perhitunganmu yang rapi, ada perhitungan-Nya yang tidak bisa dijangkau oleh akal manusia. Yang perlu kamu lakukan hanya duduk sejenak dan beristirahat. Lalu kembali berjalan, mengupayakan kembali sebisa-bisanya, sebaik-baiknya.

Kamu sudah melewati banyak hal dalam hidup dan ini adalah saatnya untuk mencintai dirimu sendiri lebih dalam. Bayangkan untuk semua hal yang telah kamu lewati sejak tumbuh gigi hingga akhirnya memakai toga wisuda, rasanya luar biasa bukan?



PS: Tulisan ini adalah bagian dari refleksi dan tanggung jawab penulis sebagai bagian dari agen psikologi yang mengupayakan kesehatan mental untuk semua orang. Selamat Hari Kesehatan Mental Sedunia!


Share: