Monday, September 3, 2018

Pertemanan Sehat


Kepada adik-adik saya, satu hal yang selalu saya ajarkan sejak mereka kecil dan bergumul dengan peer groupnya adalah kalo punya temen tuh pilih-pilih. Bukan mengajarkan sombong, tetapi lebih kepada kamu memfilter lingkaran sosialmu agar membentuk dirimu seideal mungkin ke depannya.

Saya belajar banyak soal bagaimana lingkaran pertemanan ini berpengaruh sekali, misal pada abang saya di Jogja yang sejak dulu kukagumi lingkaran pertemanannya atau ketika di kerjaan sendiri saya melihat founder mendapatkan berbagai kesempatan bisnis ya dari orang-orang di sekitar, dari teman-temannya, dari circle terdekatnya. Therefore, I believe that #pertemanansehat works dan itu kemudian juga menjadi satu prinsip yang saya yakini sampai sekarang.

Saya bersyukur kuliah di UGM dan tinggal di Jogja selama bertahun-tahun. Bergaul dengan banyak orang yang meskipun "terbatas" namun bisa saya pastikan sangat berkualitas. Saya tidak punya banyak teman dari jurusan. Instead, saya membangun pertemanan saya justru dari anak-anak Fisipol, Hukum, hingga Ilmu Komputer. Dari mereka, tidak hanya kesempatan mengembangkan karier dan belajar hal-hal baru yg saya dapat, namun juga membentuk kepribadian saya untuk jadi orang yang lebih terbuka dan adaptif --dan tentu saja berkembang dari waktu ke waktu.

Saya bertemu orang berumur 27 tahun dan clueless kenapa urusan pertemanan menjadi sepenting ini; mengapa bergaul dengan mereka yg di usia 30an tapi tidak menampakkan peforma karier yang signifikan itu bahaya, atau kenapa bergaul dengan bapak-bapak yg punya anak perempuan peminum alkohol dibiarkan itu tidak baik. Ini soal pola pikir. Berada di suatu environment akan membentuk pola-pikir seseorang. Mungkin tidak disadari secara langsung, tapi pasti terbentuk. Entah dari perspektif melihat sesuatu, atau paradigma berpikir akan suatu fenomena.

Lebih dari itu, pertemanan menentukan pula penilaian orang terhadap kita. Setuju atau tidak, terserah. Pilihan masing-masing. Tapi, paling tidak sekarang paham kan, kenapa dalam setiap konflik yg bergesekan dengan teman-teman, saya mengedepankan mereka?

Karena teman-teman bagi saya adalah aset. Saat ini mungkin mereka hanya sebatas konco suwung ataupun teman yang dicari ketika buntu soal kerjaan atau hal-hal semacamnya. Namun, 10 tahun dari sekarang who knows kita akan punya bisnis bersama? Atau salah satu dari mereka adalah pemegang kebijakan? Atau malah investor yang akan membantu bisnis kita? Nobody knows about future tapi saya percaya pada proyeksi dari hal-hal yang terjadi pada masa kini. Terlebih proyeksi dari bagaimana pola pikir seseorang, bagaimana habit seseorang, dan lain sebagainya.


Share: