Wednesday, July 11, 2018

Jakarta dan Kisah Setelahnya


Ini Selasa malam dan aku menghabiskan separuh soreku duduk di sebuah kedai kopi di daerah Pejaten. Di sebelahku barista yang kesepian memainkan gitar sementara cangkir-cangkir kopinya dibiarkan sepi. Ada dua orang pria duduk di meja depanku. Mereka berbincang urusan pekerjaan seperti halnya yang sering kulakukan sehari-hari. Tak jauh di luar, kendaraan padat merayap menunggu antrean untuk berjalan. Sesak. Jakarta tidak pernah ramah untuk fisik yang kelelahan, apalagi mental. Aku mengurung diri, memutuskan tidak pulang setidaknya sampai beberapa jam ke depan.

Di hadapanku sebuah laptop menyala. Persis ketika kutulis catatan ini, semestinya ada satu pekerjaan yang harus kuselesaikan; menulis report, menulis konten, membaca pekerjaan freelancer, banyak ternyata. Tidak hanya satu. Tapi aku lelah. Suhu tubuhku sudah mulai meninggi dan aku mungkin akan segera butuh paracetamol.

Aku tidak suka hari-hariku belakangan ini. Terlalu banyak pikiran kacau yang berkecamuk dalam benak. Namun, lebih daripada itu, aku ternyata hanya tidak suka merasa bodoh atas pilihan dan tindakanku sendiri.

Kau tahu, perempuan selalu punya intuisi. Ketika perempuan tidak yakin atas sesuatu, pastikan apakah ada sesuatu yang benar-benar salah dalam keputusan itu. Ketika perempuan tidak mempercayaimu, pastikan apakah kamu telah berkata sejujurnya atau tidak. Perempuan selalu punya intuisi. Dan itu intuisi itu, memberikan bisikan dari sesuatu yang terdalam, jujur, dan bagaimanapun, benar.

Lagu D'Masiv-Apa Salahku diputar. Astaga. Playlist Youtube-ku makin nggak karuan. Entah kenapa tiba-tiba aku ingat sesuatu. Aku teringat hari-hari ketika masih tinggal di rumah dinas, ingat Singkek, ingat Cicik, hingga hari-hari gitaran galau dengan Pak Agung yang dari jaman aku SMA sampai lulus S1 nggak tau jadinya udah lulus tesisnya atau belum. Aku melankolis sekali. Aku mengingat semua hal, terlebih teman-temanku.

Aku kangen.

Nggak pernah sekangen ini aku dengan mereka. Nggak pernah semelankolis ini aku mengingat suara berisik Okta dan Bakuh, pisuhan Hardi, wajah bego Dipta, hingga tengilnya Andre, atau muka preman Tania. Aku mengingat semuanya dan aku kangen. Sumpah demi apa.

Blog ini semestinya sudah aku tutup sejak aku memutuskan apply ke beberapa company yang (mungkin) akan mengevaluasi jejak digitalku. Aku menutup Instagram, bahkan Facebook. Aku alergi dengan beberapa hal, aku malas bertemu orang asing kecuali untuk urusan pekerjaan, dan aku malas untuk mengulang-ulang apapun.

Am I fool?

Kuulang-ulang dan berkecamuk di kepalaku. Selama ini aku ngapain? Kenapa aku melakukan ini?

Aku seperti menyusun puzzle seluas satu meter persegi yang rumitnya minta ampun. Aku paham puzzle ini mungkin baru diselesaikan secuil, mungkin baru sekitar lima centimeter di ujung. Tapi bahkan untuk menyusun itu aku berdarah-darah. Lalu tanpa sebab yang jelas, hasil berdarah-darah itu dirusak. Porak-poranda.

Rasanya kayak.. aku tahu mungkin memang sebaiknya puzzle serumit ini tidak perlu diselesaikan. Aku mungkin tidak perlu membuang waktuku terlalu lama. Tapi, bukannya paling tidak aku sudah berusaha untuk memulai dan bekerja keras untuk menyelesaikan --meski hasilnya belum seberapa?

Rasanya seperti tidak rela.

***
"Apa kamu bahagia denganku?"
"Iya"
"Tapi hidup tidak selalu baik-baik saja."
"Itu adalah hidup. Selama kamu nggak selingkuh, sepertinya hidup kita akan baik-baik saja."
"Nggak akan. Nggak akan."
"Itu cukup."
Di Jakarta kamu akan bisa dengan mudah untuk tidak bersyukur. Kamu akan melihat orang-orang bergelimang harta dan kesenangan. Open bottle dengan menghabiskan ratusan ribu rupiah. Dinner seharga jutaan. Ada sejuta alasan untuk selalu tidak bersyukur dan melihat hidupmu tragis; mengapa merk celanamu cuma Hardware sementara mereka bisa menikmati Uniqlo tanpa diskonan; mengapa tasmu bukan Hermes; mengapa untuk beli sepatu seharga dua juta saja harus berpikir jutaan kali sementara mereka bahkan beli sandal jepit seharga segitu?

Ada jutaan alasan untuk selalu tidak bersyukur dan sejuta kemampuan untuk melihat hidup kita sangat tragis.

Namun, di Jakarta pula, kamu akan mudah bersyukur ketika kamu masih bisa makan siang di Setiabudi One dan di jalan menuju kantor kamu melihat bapak setengah baya dengan gerobaknya. Matanya kuyu, tubuhnya kurus, dan kotor. Kamu akan melihat betapa bahagia hidupmu ketika melewati jembatan penyeberangan di Karet Kuningan, atau bahkan ketika duduk di kedai kopi dan memandang jendela keluar. Di sana akan kamu lihat abang-abang berseragam ojek online berdesakan mencari makan, menerjang lalu-lintas ibukota untuk sesuap nasi. Kamu akan melihat bagaimana bahagianya hidupmu masih bekerja di ruang AC dengan baju rapi dan mendapatkan bayaran setiap bulan, sekaligus akan melihat, bagaimana seseorang berjuang untuk orang-orang yang disayanginya.

Aku masih menonton film pendek dari Pijaru tentang sepasang kakek-nenek renta yang mempertanyakan kehidupannya selama ini, "Apakah kamu bahagia denganku meski hidup tidak baik-baik saja?"

Tentu saja hidup tidak akan selamanya baik. Akan ada waktu di mana hidup pasti tidak baik-baik saja. Tapi kamu meresponsnya bagaimana? Merenung? Marah? Menyesali? Atau apa?

Playlistnya semakin tidak karuan.

***

Di kedai kopi perempatan Jalan Pejaten Barat ini tadinya aku cuma berpikir aku akan butuh sendiri. Aku harus banyak bersyukur atas apapun yang selama ini aku punya; orang tua, teman-teman yang baik, dan support system yang menyenangkan.

Aku melankolis sekali dan aku merasa harus ada keputusan besar yang diambil, jadi aku perlu berpikir logis.

Orang boleh bodoh dan melakukan kesalahan. Tapi yang harus dipikirkan bukannya masa depan? Masa depanmu masih panjang, kan?
Share: