Tuesday, July 24, 2018

Fragmen dari Kembang Merak 

Kami menyebut tempat itu Jalan Kembang Merak, tepatnya di Bulaksumur Blok B-21.

Dini hari yang sama, 2014.

Kau menghampiriku yang meringkuk kedinginan, duduk di sampingku, lalu diam. Tidak ada kata-kata. Selalu seperti itu belakangan ini. Aku bingung mengapa orang seatraktif dirimu bisa sedemikian aneh di saat begini.

Hening sesaat, sebuah kalimat kulontarkan dengan harapan akan mencairkan suasana. “Mukamu keliatan bego dengan kaca mata itu.”

Sebuah kalimat yang jujur. Juga pahit bagimu —mungkin. Kamu bilang jujur itu pahit dan kau ucapkan terima kasih. Kubilang, “Sama-sama.”

Kita kembali bisu dalam kebekuan. Aku tidak tahu harus bicara apa lagi. Orang di depan kita tidak juga mengajak kita bicara. Dia kemudian malah pergi. Tinggal kita. Mengapa aku tidak pergi saja menjauh darimu? Menyusul teman-teman yang bercengkerama di lincak di halaman?

Tidak, aku sedang benar-benar kedinginan dan aku berharap bisa hangat berselimutkan kain lusuh itu di dalam rumah, di ruang depan. Ruang-ruang lain sedang dipakai kerja dan aku tidak ingin mengganggu kerja-kerja mereka. Kuputuskan tetap di tempat itu, di sampingmu. Kupeluk kedua kakiku yang dingin —sedingin kita waktu itu.

Kamu kembali mencoba membuka obrolan. Aku menanggapi. Kita lumayan bercerita banyak hal, tentang projekmu beberapa waktu ke depan, tentang tempat-tempat di kota kelahiranmu yang hampir setengah tahun tidak kukunjungi. Aku bercerita padamu suatu kali ketika aku diusir satpam di mall, lalu kamu tertawa terpingkal-pingkal. Aku benci dengan cara tertawa semacam itu. Kamu menanyakan di mana saja tempat-tempatku bermain bersama teman-teman semasa SMA, kuceritakan padamu tentang Kopi Miring, tentang kejadian absurd di Dapur Keju lengkap dengan ‘rumah princess’ impian di daerah Jl. Sultan Agung, tentang Pelangi, tentang Leker Paimo yang legendaris. Kamu bilang itu leker jahat dan aku tertawa saja mendengar alasanmu.

Kita bercerita cukup banyak dini hari itu, dan kamu —iya kamu— sedikit mengaburkan bayanganku tentang orang-orang sejenismu. Kamu barangkali berbeda dan itu cukup menyindirku. Saat kamu bilang, kami —aku dan teman-temanku— kaum ‘bobo’ yang berideologi bohemian namun bergaya hidup borjuis — entahlah, aku tidak menampik. Aku sering mendengar orang berkata seperti itu tentangku. Tapi jika yang menilai dirimu, aku tidak suka. Aku tidak tahu, tapi jujur aku tidak suka.

Ah lupakan saja waktu-waktu itu.

Katamu, masa lalu itu biar aja berlalu, kita melihat yang sekarang. Dan aku menginginkan kamu pun menilaiku yang sekarang. It’s okay lah, aku barangkali kamu nilai manja, mentel, nggak tahan banting, sukanya cuma hura-hura, dan sejenisnya, tapi hey! Seenggaknya aku sudah mencoba berubah dan kamu harus tahu bagaimana usahaku untuk itu! Please kali ini tolong hargai aku.

Dari ruang tengah editormu memanggil. Aku ke lincak menemui editorku, dia bilang sebaiknya aku tidur saja dulu.
***
“Bisa geser? Aku mau tidur dan kamarnya sedang dipakai,” ujarku. Kamu maju sedikit. Aku menawar, “Bisa geser lagi?”

“Gimana kalau kepalamu di pangkuanku aja?” ujarmu dengan mimik serius yang kutanggapi dengan seulas senyum —tidak, jangan sekarang, jangan di tempat seperti ini. Tapi akhirnya pun kamu mengalah, membiarkanku membaringkan tubuh di belakangmu sementara kamu masih asyik berkutat dengan tulisan di laptopmu.

Aku masih setengah sadar ketika teman-teman mengganggu tidurku, dan dengan nada kesal aku bilang jangan diganggu. “Bisa nggak lampunya dimatikan?” ujarku memerintah. Dan aku tidak tahu siapa yang kemudian bangkit mematikan saklar karena aku sadar cahaya lampu tidak sesilau sebelumnya.

Sepertinya kamu yang kembali berkorban editing di tengah ruangan yang remang-remang. Hmm mengapa kamu tidak pindah tempat saja sih? Di ruang depan toh bisa.

***

Begitu benar-benar bangun aku sadar kamu juga tertidur, dengan kepala di kasur, dan tubuh yang membentuk sudut sembilan puluh derajat denganku. Iya, tubuhmu ada di lantai yang dingin dengan sebuah kaos tipis yang melekat di badan. Saat kami semua sahur, kamu masih tertidur pulas dan kami membiarkanmu begitu saja.

Subuh menjelang, aku berencana pulang. Kucari tasku, ternyata sedang kamu pakai untuk bantal karena satu-satunya bantal kupakai sendirian tadi. Aku tidak tega membangunkanmu yang wajahnya tampak benar-benar lelah. Padahal, bukannya esoknya, maksudku, hari itu kamu akan menempuh perjalanan jauh ke ujung dunia?

“Bisa tolong kamu bangunin dia? Aku kok nggak tega,” ujarku pada seseorang. Dia menggoyangkan tubuhmu pelan, tetapi kamu tidak benar-benar sadar. Ya, wajahmu letih sekali.

“Diangkat aja kepalanya,” ujar orang itu. Aku menurutinya. Pelan kuangkat kepalamu untuk mengambil tas cokelat milikku. Kupandangi sebentar seuntai kalung yang kamu kenakan.

Hampir setahun aku di tempat ini, aku tidak pernah menyaksikanmu berpenampilan seperti itu. Kemarin ketika kita makan siang pun tidak ada kalung yang mengikat lehermu. Kalung itu — atau entah namanya rosario atau apa —begitu meresahkanku.

Entahlah, tapi waktu subuh itu, di sepanjang Gejayan aku begitu resah mengingat perihal sebuah kalung. Enggak tau kenapa.

Mungkin karena semenjak obrolan kita tentang iman, aku merasa ada yang benar-benar asing. Aku bukan seseorang dengan iman yang baik, kaupun begitu. Mengapa kita berubah sikap satu sama lain —hanya karena iman? Sebegitunyakah kita meyakini sesuatu atas nama iman?

***

Dini hari, masih tetap sama, 2018 — bertahun-tahun semenjak pukul satu dini hari itu di Kembang Merak.


Sudah sejak beberapa hari lalu setiap dini hari aku terbangun.

Kau tahu, belakangan ini aku diselimuti perasaan bersalah atas dosa-dosa yang kuperbuat sendiri. Jika kamu di sini, mungkin aku akan bercerita panjang lebar dan bisa saja seemosinal seperti yang dulu-dulu sering kamu lihat ketika aku memendam sesuatu —sebuah masalah.

Apa kabar imanmu hari ini? Imanku tetap sama —atau jika tidak bisa dibilang memburuk. Tidak tahu. Aku tidak paham apa yang terjadi padaku belakangan ini.

Namun hari-hari ini, aku mengingatmu sebab tiba-tiba aku mengamini kata-katamu.
“Oh sayangnya cinta itu tidak ada, Dek. Keinginan untuk memuaskan diri yang berkamuflase — itu yang kamu kira cinta. Perasaan cinta itu keyakinan terburuk yang pernah kamu percayai.” — suatu sore di Bulaksumur, 2014.
Kurasa orang memang tidak sungguhan memiliki perasaan suci bernama cinta itu. Kau benar kali ini. Aku ingin menemuimu untuk paling tidak mengatakan, kamu benar.Tapi mengingatmu juga menyadarkanku sesuatu, “Dan meskipun hanya kamuflase, tapi ingatlah bahwa dia yang paling peduli terhadapmu dan tidak pernah meninggalkanmu adalah dia yang paling pantas kamu yakini.”

Duh.

Aku salah dua kali. Pertama aku salah meyakini perasaan memuaskan diri yang ternyata berkamuflase itu. Kedua, aku salah meyakini orang.
Share:

0 comments:

Post a Comment