Sunday, July 29, 2018

Tiga Cerita Laki-Laki yang Memilih Perempuannya


"Aku pernah diputusin," kata temanku membuka pembicaraan. Dua orang di depannya menaruh minumannya masing-masing. Tampak wajah kami mulai serius. "Katanya aku perempuan nggak baik," katanya lagi.
"Nggak baik tuh ukurannya apa?" temanku akhirnya tidak tahan untuk tidak membuka mulut.
"Pertanyaan yang sama," jawabku.
"Mungkin karena kamu suka pulang malam," temanku lagi menimpali.
"Like we are doing right now?" tanyanya.

Hahahaha!

Kami serempak tertawa. Mungkin menertawakan dirinya masing-masing. Kisah dengan laki-laki tidak pernah tidak absurd dalam ingatan kami. Setidaknya begitu yang aku tahu sejak pertama kali kami kenal ketika SMA.

Temanku yang pertama.

Aku paham apa yang mencegahnya dari semua hubungan dengan laki-laki yang mencoba mendekat. "Aku suka dengan dia, dan aku mau kita stay kayak gini," ujarnya mantab suatu hari.

Hari itu adalah tahun kesekian ia menjalin relasi entah apa itu namanya, dengan seorang laki-laki yang kami kenal dalam suatu pameran di SMA. Laki-laki yang tidak buruk; ia tampan, terlihat cukup kaya, berasal dari keluarga baik-baik, dan diprediksi memiliki masa depan yang cukup bagus, terlebih setelah ia masuk di sebuah sekolah perminyakan milik salah satu BUMN. Temanku, pada saat itu, amatlah yakin, orang ini pantas untuk ditunggu. Dalam bahasa kami; worth it.

Beberapa kali dalam sebulan ia berkunjung ke kota kami. Kisah-kisah manis terjadi setelahnya. Dinner bersama, nonton film favorit, hal-hal yang aku yakin membuat temanku terjebak untuk tidak ke mana-mana, untuk yakin bahwa lelakinya adalah yang paling tepat. Ditepisnya semua jantan yang mendekat. Ia biarkan masa putih abu-abu hingga semester akhir di kampusnya datar tanpa kisah merah jambu khas remaja.

"Tapi, bukannya selama ini dia tidak menyatakan sesuatu?" kataku sanksi.
"Mungkin dia bukan tipikal lelaki yang mengungkapkan?" temanku masih membelanya dengan senang hati.

Aku senang melihat temanku senang. Tapi bagaimanapun, laki-laki baik tidak membiarkan sesuatu tergantung selama bertahun-tahun. Pada suatu hari di musim hujan, ketika kota kami tengah diguyur hujan yang sangat deras, lelaki itu mengatakan pada temanku bahwa ia tidak ingin berhubungan dengan perempuan dulu sebelum ia siap menikah.

It was like.. What? Lah selama ini kamu ngapain?

Apakah temanku patah hati? Tentu saja. Bayangkan jika mungkin dia selama ini memilih satu aja dari sekian banyak jantan yang mencoba mendekat. Mungkin dia sudah menikah, atau berkeluarga, atau dikenalkan keluarganya dan membina hubungan yang serius, atau apalah. Temanku tadi tidak. Ia tidak ke mana-mana. Hatinya ditawan bertahun-tahun untuk kemudian dibuang. Hancur berkeping-keping.

Yang lebih tidak kami semua pahami adalah tidak lama kemudian laki-laki itu menjalin hubungan dengan perempuan lain. Tentu saja, mereka tidak menikah, karena memang kami semua paham, mereka tidak siap untuk itu.

Laki-laki pertama ini, tidak bisa memegang omongannya sendiri. Seharusnya kemarin-kemarin dia cukup bilang bahwa dia bosan. Itu saja sudah cukup.

***

Temanku kedua.

Aku tidak pernah berpikir bahwa temanku bukanlah perempuan baik-baik. Kami semua perempuan baik-baik, kami tidak melakukan tindakan kriminal, kami tidak menyakiti perasaan orang, dan kami hormat pada orang tua. Aku rasa itu sudah cukup. Jika kemudian lingkungan membuat kami gemar nongkrong hingga larut malam, atau berteman dengan banyak lelaki, aku pikir itu tidak bisa jadi patokan bahwa perempuan ini tidak baik.

Temanku adalah yang terpintar dan kami memprediksikan dia yang akan menjadi terbaik. Lelaki yang dipilih dan memilihnya pun tidak asal. Keduanya sudah bersama-sama sejak SMA, saling bahu-membahu sampai kemudian kuliah, dan sekarang bekerja.

Beberapa waktu sebelum keduanya lulus, semua orang dapat memprediksikan bagaimana masa depan karier keduanya; seorang engineer yang sangat terampil dan strategist hebat untuk berbagai masalah bisnis yang kompleks. Dua orang yang gemar berpikir dan mendebat satu sama lain. Hubungan mereka manis hingga tiba-tiba lelaki itu mengatakan relasi itu harus selesai.

Tidak banyak hal yang dikatakan, namun temanku menyimpulkan ia dinilai kurang baik. Alasan yang sangat tidak logis, dan tentu saja tidak beralasan. Temanku menyangkal, tapi logikanya lebih dahulu jalan. "Relasi itu dibentuk dua orang. Kalau salah satu sudah tidak mau, apapun alasannya, ya sudah," katanya.

Lalu ia selesai. Apakah temanku sakit hati? Tentu saja. Berbulan-bulan ia mengurung diri, melewati hari-harinya yang tidak mudah, berusaha melupakan semua hal yang telah disusunnya berdua. Kini dua langkah itu harus berjalan-jalan sendiri, karena lelakinya tidak mau dengan perempuan yang kurang baik.

Yang lucu setahun berselang dan lelaki itu akhirnya telah memilih perempuannya.

"Ini pacarnya?" kataku.
"Iya."
"Kayak gini aja?"
"Iya."
"Hmm ternyata dia nggak nyari perempuan baik-baik."
"Iya. Dia cuma tidak mau disaingi oleh perempuannya. Dia butuh seseorang yang berada di bawahnya, secara akademis, secara pekerjaan, secara apapun; agar dia merasa lebih superior."
"Bagus lah kamu putus."

***

Bagaimana denganku?

Hahaha. Aku hampir tidak bisa berkata apa-apa selain menertawakan diriku sendiri beberapa waktu ini. Aku perempuan 23 tahun, dan percayalah ini bukan cerita cinta pertamaku. Sebelumnya aku pernah dengan laki-laki yang kuputuskan karena memintaku berhubungan seksual bahkan ketika aku belum berusia 17 tahun. Lalu pernah juga aku dengan laki-laki yang menyudahi relasi kami di tengah jalan karena baginya kami telah memilih jalan yang berbeda.

Apapun alasannya, aku hanya berpikir, aku belum bertemu orang yang tepat. Karenanya ketika aku bertemu sekali lagi dengan laki-laki yang ingin menjalin relasi "serius" denganku, kupikir dialah orang yang tepat.

Aku melihat ada banyak hal yang mesti kami usahakan bersama sebab lelakiku ini memiliki jalan hidup yang tidak mudah. Tadinya, aku berpikir bersamanya berarti menata sesuatu dari dasar, membangun pondasi yang kuat, merintis dari nol, dan berusaha sampai titik darah penghabisan.

Sebulan. Dua bulan. Tiga bulan. Semuanya berjalanan sangat manis karena lelakiku adalah yang terbaik dalam hal mengusahakan apapun yang saat ini tidak dimilikinya. Bagiku, yang terpenting laki-laki harus memiliki effort. Apa yang saat ini tidak dimilikinya, kelak akan dipunyai, jika mau menaruh effort yang cukup.

Lelakiku adalah yang paling pandai mem-pukpuk perasaan orang dengan segenap janji manis, mengajakku sekuat hati bertahan dalam kondisi-kondisi kami yang buruk, bersamaku di saat senang dan susah, serta mengusahakan semua hal sebisa-bisanya, sebaik-baiknya.

Dulu.

Setahun berselang dan aku tidak tahu apa yang terjadi di antara kami. Banyak hal yang kami tidak pahami, tetapi lelakiku berubah. Tentu setelah setahun lebih kami bersama, ada banyak hal yang mengubah kami. Kami lebih cerdas, karier kami membaik, kondisi finansial kami membaik, tetapi sikap kami satu sama lain; tidak.

Aku tidak ingin tahu siapa yang salah di antara kami, tetapi yang kulihat lelakiku kehilangan effort. Aku tidak paham apakah baginya "yang segini" sudah cukup, atau seperti lelaki teman pertamaku, ia hanya bosan.

"Itu manusiawi. Orang kan cepat bosan," kata temanku suatu hari, berusaha menengahi dengan bijak.
"Aku tahu. Hanya saja jika kami begini karena bosan, aku tidak berekspektasi cara kami seperti ini untuk menghalau rasa bosan."

Banyak hal terjadi beberapa waktu belakangan ini; semua hal yang aku tidak pernah bayangkan bahwa aku akan benar-benar mengalaminya. Aku jatuh bangun seorang diri, susah-susah sendiri, mati-matian bertahan sendiri juga, namun di situlah aku sungguhan sadar, aku benar-benar kuat ternyata; secara fisik, secara mental. Kelak suatu hari aku pasti akan sangat bangga dengan kekuatanku sendiri --yang ternyata ada.

Setelah melewati itu semua, bagiku kini semuanya sudah jelas. Aku berhadapan dengan dua orang yang berbeda. Lelaki itu bukan yang dulu kukenal atau membersamaiku di saat-saat terburuk, bukan yang pernah sekuat hati mengajakku bertahan, bukan. Tempat ini menjadikan dia sosok yang lain, menjadikan kami benar-benar berbeda. Dan aku, telah bersumpah, bahwa aku tidak akan menjadi perempuan yang mengemis-ngemis afeksi, jadi kukatakan padanya, "Aku tidak akan mengusirmu pergi, tapi aku juga tidak akan mengemis untuk memintamu tetap di sini."

Lebih tragis dari cerita dua orang temanku, kini aku berada di titik antara hitam dan putih yang membuatku tidak bisa ke mana-mana, namun juga tidak punya tempat untuk kembali.

"Menurutmu pilihan dia akan jatuh ke perempuan seperti apa?" tanya temanku.
"Mmm nggak tahu. Yang pasti tidak banyak menuntut," kataku.
"Hwaaaa. Apakah harus perempuan baik-baik???"
"Apakah dia hanya tidak mau pacaran kalau belum siap menikah??"

Hahahaha!

Kami tertawa sekali lagi.

***

Bagaimanapun, Jakarta mendidik kami untuk melupakan sesuatu dengan mudah. Pikirkan saja hal-hal yang konkret dan jelas menurut perhitunganmu. Di Jakarta semua hal yang sangat mudah dihitung; bahkan beberapa kali aku akhirnya mempercayai kasih sayang adalah hubungan timbal-balik. Ketika kamu membuat prioritas akan seseorang, ternyata kamu akan memiliki ekspektasi untuk orang tersebut memperlakukanmu serupa.

Patah hati lama-lama semestinya sudah lewat dari fase kami saat ini, sebab kami perempuan 23 tahun dan kami memilih rasional. Tidak boleh ada banyak waktu yang terbuang untuk sesuatu yang percuma.

Jadi malam ini, kami memutuskan untuk mengubur luka-luka itu tanpa sisa.

"Jadi.. menurutmu kita mesti gimana?"
"Hahahaha! Jangan pulang malem yang penting."
"Tapi tempat ini tutup jam 11."
"Yah. Yaudah pindah yang 24 jam gimana? Biar nggak pulang malem; subuh maksudnya! Hahaha."
"Pengen, tapi masih ada kerjaan."
"Sama!"
"Huhu yaudah kapan-kapan aja."

Tuesday, July 24, 2018

Fragmen dari Kembang Merak 

Kami menyebut tempat itu Jalan Kembang Merak, tepatnya di Bulaksumur Blok B-21.

Dini hari yang sama, 2014.

Kau menghampiriku yang meringkuk kedinginan, duduk di sampingku, lalu diam. Tidak ada kata-kata. Selalu seperti itu belakangan ini. Aku bingung mengapa orang seatraktif dirimu bisa sedemikian aneh di saat begini.

Hening sesaat, sebuah kalimat kulontarkan dengan harapan akan mencairkan suasana. “Mukamu keliatan bego dengan kaca mata itu.”

Sebuah kalimat yang jujur. Juga pahit bagimu —mungkin. Kamu bilang jujur itu pahit dan kau ucapkan terima kasih. Kubilang, “Sama-sama.”

Kita kembali bisu dalam kebekuan. Aku tidak tahu harus bicara apa lagi. Orang di depan kita tidak juga mengajak kita bicara. Dia kemudian malah pergi. Tinggal kita. Mengapa aku tidak pergi saja menjauh darimu? Menyusul teman-teman yang bercengkerama di lincak di halaman?

Tidak, aku sedang benar-benar kedinginan dan aku berharap bisa hangat berselimutkan kain lusuh itu di dalam rumah, di ruang depan. Ruang-ruang lain sedang dipakai kerja dan aku tidak ingin mengganggu kerja-kerja mereka. Kuputuskan tetap di tempat itu, di sampingmu. Kupeluk kedua kakiku yang dingin —sedingin kita waktu itu.

Kamu kembali mencoba membuka obrolan. Aku menanggapi. Kita lumayan bercerita banyak hal, tentang projekmu beberapa waktu ke depan, tentang tempat-tempat di kota kelahiranmu yang hampir setengah tahun tidak kukunjungi. Aku bercerita padamu suatu kali ketika aku diusir satpam di mall, lalu kamu tertawa terpingkal-pingkal. Aku benci dengan cara tertawa semacam itu. Kamu menanyakan di mana saja tempat-tempatku bermain bersama teman-teman semasa SMA, kuceritakan padamu tentang Kopi Miring, tentang kejadian absurd di Dapur Keju lengkap dengan ‘rumah princess’ impian di daerah Jl. Sultan Agung, tentang Pelangi, tentang Leker Paimo yang legendaris. Kamu bilang itu leker jahat dan aku tertawa saja mendengar alasanmu.

Kita bercerita cukup banyak dini hari itu, dan kamu —iya kamu— sedikit mengaburkan bayanganku tentang orang-orang sejenismu. Kamu barangkali berbeda dan itu cukup menyindirku. Saat kamu bilang, kami —aku dan teman-temanku— kaum ‘bobo’ yang berideologi bohemian namun bergaya hidup borjuis — entahlah, aku tidak menampik. Aku sering mendengar orang berkata seperti itu tentangku. Tapi jika yang menilai dirimu, aku tidak suka. Aku tidak tahu, tapi jujur aku tidak suka.

Ah lupakan saja waktu-waktu itu.

Katamu, masa lalu itu biar aja berlalu, kita melihat yang sekarang. Dan aku menginginkan kamu pun menilaiku yang sekarang. It’s okay lah, aku barangkali kamu nilai manja, mentel, nggak tahan banting, sukanya cuma hura-hura, dan sejenisnya, tapi hey! Seenggaknya aku sudah mencoba berubah dan kamu harus tahu bagaimana usahaku untuk itu! Please kali ini tolong hargai aku.

Dari ruang tengah editormu memanggil. Aku ke lincak menemui editorku, dia bilang sebaiknya aku tidur saja dulu.
***
“Bisa geser? Aku mau tidur dan kamarnya sedang dipakai,” ujarku. Kamu maju sedikit. Aku menawar, “Bisa geser lagi?”

“Gimana kalau kepalamu di pangkuanku aja?” ujarmu dengan mimik serius yang kutanggapi dengan seulas senyum —tidak, jangan sekarang, jangan di tempat seperti ini. Tapi akhirnya pun kamu mengalah, membiarkanku membaringkan tubuh di belakangmu sementara kamu masih asyik berkutat dengan tulisan di laptopmu.

Aku masih setengah sadar ketika teman-teman mengganggu tidurku, dan dengan nada kesal aku bilang jangan diganggu. “Bisa nggak lampunya dimatikan?” ujarku memerintah. Dan aku tidak tahu siapa yang kemudian bangkit mematikan saklar karena aku sadar cahaya lampu tidak sesilau sebelumnya.

Sepertinya kamu yang kembali berkorban editing di tengah ruangan yang remang-remang. Hmm mengapa kamu tidak pindah tempat saja sih? Di ruang depan toh bisa.

***

Begitu benar-benar bangun aku sadar kamu juga tertidur, dengan kepala di kasur, dan tubuh yang membentuk sudut sembilan puluh derajat denganku. Iya, tubuhmu ada di lantai yang dingin dengan sebuah kaos tipis yang melekat di badan. Saat kami semua sahur, kamu masih tertidur pulas dan kami membiarkanmu begitu saja.

Subuh menjelang, aku berencana pulang. Kucari tasku, ternyata sedang kamu pakai untuk bantal karena satu-satunya bantal kupakai sendirian tadi. Aku tidak tega membangunkanmu yang wajahnya tampak benar-benar lelah. Padahal, bukannya esoknya, maksudku, hari itu kamu akan menempuh perjalanan jauh ke ujung dunia?

“Bisa tolong kamu bangunin dia? Aku kok nggak tega,” ujarku pada seseorang. Dia menggoyangkan tubuhmu pelan, tetapi kamu tidak benar-benar sadar. Ya, wajahmu letih sekali.

“Diangkat aja kepalanya,” ujar orang itu. Aku menurutinya. Pelan kuangkat kepalamu untuk mengambil tas cokelat milikku. Kupandangi sebentar seuntai kalung yang kamu kenakan.

Hampir setahun aku di tempat ini, aku tidak pernah menyaksikanmu berpenampilan seperti itu. Kemarin ketika kita makan siang pun tidak ada kalung yang mengikat lehermu. Kalung itu — atau entah namanya rosario atau apa —begitu meresahkanku.

Entahlah, tapi waktu subuh itu, di sepanjang Gejayan aku begitu resah mengingat perihal sebuah kalung. Enggak tau kenapa.

Mungkin karena semenjak obrolan kita tentang iman, aku merasa ada yang benar-benar asing. Aku bukan seseorang dengan iman yang baik, kaupun begitu. Mengapa kita berubah sikap satu sama lain —hanya karena iman? Sebegitunyakah kita meyakini sesuatu atas nama iman?

***

Dini hari, masih tetap sama, 2018 — bertahun-tahun semenjak pukul satu dini hari itu di Kembang Merak.


Sudah sejak beberapa hari lalu setiap dini hari aku terbangun.

Kau tahu, belakangan ini aku diselimuti perasaan bersalah atas dosa-dosa yang kuperbuat sendiri. Jika kamu di sini, mungkin aku akan bercerita panjang lebar dan bisa saja seemosinal seperti yang dulu-dulu sering kamu lihat ketika aku memendam sesuatu —sebuah masalah.

Apa kabar imanmu hari ini? Imanku tetap sama —atau jika tidak bisa dibilang memburuk. Tidak tahu. Aku tidak paham apa yang terjadi padaku belakangan ini.

Namun hari-hari ini, aku mengingatmu sebab tiba-tiba aku mengamini kata-katamu.
“Oh sayangnya cinta itu tidak ada, Dek. Keinginan untuk memuaskan diri yang berkamuflase — itu yang kamu kira cinta. Perasaan cinta itu keyakinan terburuk yang pernah kamu percayai.” — suatu sore di Bulaksumur, 2014.
Kurasa orang memang tidak sungguhan memiliki perasaan suci bernama cinta itu. Kau benar kali ini. Aku ingin menemuimu untuk paling tidak mengatakan, kamu benar.Tapi mengingatmu juga menyadarkanku sesuatu, “Dan meskipun hanya kamuflase, tapi ingatlah bahwa dia yang paling peduli terhadapmu dan tidak pernah meninggalkanmu adalah dia yang paling pantas kamu yakini.”

Duh.

Aku salah dua kali. Pertama aku salah meyakini perasaan memuaskan diri yang ternyata berkamuflase itu. Kedua, aku salah meyakini orang.

Wednesday, July 11, 2018

Jakarta dan Kisah Setelahnya


Ini Selasa malam dan aku menghabiskan separuh soreku duduk di sebuah kedai kopi di daerah Pejaten. Di sebelahku barista yang kesepian memainkan gitar sementara cangkir-cangkir kopinya dibiarkan sepi. Ada dua orang pria duduk di meja depanku. Mereka berbincang urusan pekerjaan seperti halnya yang sering kulakukan sehari-hari. Tak jauh di luar, kendaraan padat merayap menunggu antrean untuk berjalan. Sesak. Jakarta tidak pernah ramah untuk fisik yang kelelahan, apalagi mental. Aku mengurung diri, memutuskan tidak pulang setidaknya sampai beberapa jam ke depan.

Di hadapanku sebuah laptop menyala. Persis ketika kutulis catatan ini, semestinya ada satu pekerjaan yang harus kuselesaikan; menulis report, menulis konten, membaca pekerjaan freelancer, banyak ternyata. Tidak hanya satu. Tapi aku lelah. Suhu tubuhku sudah mulai meninggi dan aku mungkin akan segera butuh paracetamol.

Aku tidak suka hari-hariku belakangan ini. Terlalu banyak pikiran kacau yang berkecamuk dalam benak. Namun, lebih daripada itu, aku ternyata hanya tidak suka merasa bodoh atas pilihan dan tindakanku sendiri.

Kau tahu, perempuan selalu punya intuisi. Ketika perempuan tidak yakin atas sesuatu, pastikan apakah ada sesuatu yang benar-benar salah dalam keputusan itu. Ketika perempuan tidak mempercayaimu, pastikan apakah kamu telah berkata sejujurnya atau tidak. Perempuan selalu punya intuisi. Dan itu intuisi itu, memberikan bisikan dari sesuatu yang terdalam, jujur, dan bagaimanapun, benar.

Lagu D'Masiv-Apa Salahku diputar. Astaga. Playlist Youtube-ku makin nggak karuan. Entah kenapa tiba-tiba aku ingat sesuatu. Aku teringat hari-hari ketika masih tinggal di rumah dinas, ingat Singkek, ingat Cicik, hingga hari-hari gitaran galau dengan Pak Agung yang dari jaman aku SMA sampai lulus S1 nggak tau jadinya udah lulus tesisnya atau belum. Aku melankolis sekali. Aku mengingat semua hal, terlebih teman-temanku.

Aku kangen.

Nggak pernah sekangen ini aku dengan mereka. Nggak pernah semelankolis ini aku mengingat suara berisik Okta dan Bakuh, pisuhan Hardi, wajah bego Dipta, hingga tengilnya Andre, atau muka preman Tania. Aku mengingat semuanya dan aku kangen. Sumpah demi apa.

Blog ini semestinya sudah aku tutup sejak aku memutuskan apply ke beberapa company yang (mungkin) akan mengevaluasi jejak digitalku. Aku menutup Instagram, bahkan Facebook. Aku alergi dengan beberapa hal, aku malas bertemu orang asing kecuali untuk urusan pekerjaan, dan aku malas untuk mengulang-ulang apapun.

Am I fool?

Kuulang-ulang dan berkecamuk di kepalaku. Selama ini aku ngapain? Kenapa aku melakukan ini?

Aku seperti menyusun puzzle seluas satu meter persegi yang rumitnya minta ampun. Aku paham puzzle ini mungkin baru diselesaikan secuil, mungkin baru sekitar lima centimeter di ujung. Tapi bahkan untuk menyusun itu aku berdarah-darah. Lalu tanpa sebab yang jelas, hasil berdarah-darah itu dirusak. Porak-poranda.

Rasanya kayak.. aku tahu mungkin memang sebaiknya puzzle serumit ini tidak perlu diselesaikan. Aku mungkin tidak perlu membuang waktuku terlalu lama. Tapi, bukannya paling tidak aku sudah berusaha untuk memulai dan bekerja keras untuk menyelesaikan --meski hasilnya belum seberapa?

Rasanya seperti tidak rela.

***
"Apa kamu bahagia denganku?"
"Iya"
"Tapi hidup tidak selalu baik-baik saja."
"Itu adalah hidup. Selama kamu nggak selingkuh, sepertinya hidup kita akan baik-baik saja."
"Nggak akan. Nggak akan."
"Itu cukup."
Di Jakarta kamu akan bisa dengan mudah untuk tidak bersyukur. Kamu akan melihat orang-orang bergelimang harta dan kesenangan. Open bottle dengan menghabiskan ratusan ribu rupiah. Dinner seharga jutaan. Ada sejuta alasan untuk selalu tidak bersyukur dan melihat hidupmu tragis; mengapa merk celanamu cuma Hardware sementara mereka bisa menikmati Uniqlo tanpa diskonan; mengapa tasmu bukan Hermes; mengapa untuk beli sepatu seharga dua juta saja harus berpikir jutaan kali sementara mereka bahkan beli sandal jepit seharga segitu?

Ada jutaan alasan untuk selalu tidak bersyukur dan sejuta kemampuan untuk melihat hidup kita sangat tragis.

Namun, di Jakarta pula, kamu akan mudah bersyukur ketika kamu masih bisa makan siang di Setiabudi One dan di jalan menuju kantor kamu melihat bapak setengah baya dengan gerobaknya. Matanya kuyu, tubuhnya kurus, dan kotor. Kamu akan melihat betapa bahagia hidupmu ketika melewati jembatan penyeberangan di Karet Kuningan, atau bahkan ketika duduk di kedai kopi dan memandang jendela keluar. Di sana akan kamu lihat abang-abang berseragam ojek online berdesakan mencari makan, menerjang lalu-lintas ibukota untuk sesuap nasi. Kamu akan melihat bagaimana bahagianya hidupmu masih bekerja di ruang AC dengan baju rapi dan mendapatkan bayaran setiap bulan, sekaligus akan melihat, bagaimana seseorang berjuang untuk orang-orang yang disayanginya.

Aku masih menonton film pendek dari Pijaru tentang sepasang kakek-nenek renta yang mempertanyakan kehidupannya selama ini, "Apakah kamu bahagia denganku meski hidup tidak baik-baik saja?"

Tentu saja hidup tidak akan selamanya baik. Akan ada waktu di mana hidup pasti tidak baik-baik saja. Tapi kamu meresponsnya bagaimana? Merenung? Marah? Menyesali? Atau apa?

Playlistnya semakin tidak karuan.

***

Di kedai kopi perempatan Jalan Pejaten Barat ini tadinya aku cuma berpikir aku akan butuh sendiri. Aku harus banyak bersyukur atas apapun yang selama ini aku punya; orang tua, teman-teman yang baik, dan support system yang menyenangkan.

Aku melankolis sekali dan aku merasa harus ada keputusan besar yang diambil, jadi aku perlu berpikir logis.

Orang boleh bodoh dan melakukan kesalahan. Tapi yang harus dipikirkan bukannya masa depan? Masa depanmu masih panjang, kan?