Off Her Love Letter

"Saya senang kita telah berjalan jauh sekali sampai di titik ini. Saya senang pernah dikenalkan dengan sesuatu yang menjadi titik balik dalam hidup saya. Saya senang dinasihati tentang kejujuran, tentang value dari sebuah integritas, tentang menjadi orang baik, dan tentang menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. Saya senang pernah berbagi cita-cita dan bertukar cerita mengenai rencana-rencana. Meski pada akhirnya apa yang saya dan mungkin kita semua jalani sangat-sangat jauh dari apa yang pernah kita idam-idamkan dulu. Hahaha." --kutipan blog post Maret 2017.
Rasanya sudah lama sekali tidak menyebut diri sendiri dengan 'saya' seperti yang dulu kerap saya lakukan ketika bicara dengan seseorang. Oh ya, maaf, saya mengingatnya lagi malam ini.

Beberapa hari ini saya merasa agak tidak sehat. Setiap kali selesai berbuka, perut saya mual dan entah sedikit atau banyak, pasti muntah, entah kenapa. Saya cerita ke Angga. Dia tanya kenapa, saya juga tidak tahu. Saya panik, sedikit. Kalo Angga saya tidak tahu --mungkin khawatir, mungkin juga enggak.

Oh ya, saya teringat seseorang malam ini karena barusan saya membuka-buka catatan lama saya tentang banyak hal. Mungkin juga karena beberapa waktu kemarin seorang teman menggoda saya dengan 'acara liburan di Jogja dalam rangka mengenang Ervina' yang sangat Instagramable. Saya tertawa tentu saja.

"Apa sih? Udah bahagia dengan jalan masing-masing kok," jawab saya kalem. Meski ketika menjawab begitu, saya pun bertanya-tanya, iya po kita sudah bahagia dengan jalan masing-masing?

***

Dalam hidup ini, ada begitu banyak peristiwa yang kita lewati. Saya melewati banyak hal, dengan atau tanpa orang yang berkesan. Saya memiliki teman-teman dan orang-orang yang saya cintai, yang dengan mereka saya memiliki cerita, baik itu senang, sedih, lucu. Di antara peristiwa-peristiwa itu, kini setelah saya ingat-ingat, ada hal-hal yang pasti sangat saya sesali. Kini Ervina yang 23 tahun berpikir, kenapa dulu sebodoh itu? Coba dulu begini, maka sekarang mungkin begini, begitu, dan seterusnya.

Tapi yang sudah terjadi, seperti yang kita semua ketahui, sama sekali tidak bisa diulangi. Kini saya paham kenapa orang-orang berfantasi mengenai mesin waktu. Sebab saya yakin setiap orang pernah menyesali hidupnya di masa lalu. Dan kini, di masa ini, banyak dari mereka yang ingin mengubahnya; setidaknya ke dalam versi yang lebih baik.

***

Saya marah pada apapun yang tidak saya kehendaki. Bagi saya sesuatu harus seperti keinginan saya; sejak dulu dan mungkin sampai sekarang. Ini yang kemudian saya sadari bahwa ini membuat saya sulit berkompromi pada orang lain. Orang-orang di sekitar saya? Saya tidak tahu. Bisa jadi tidak, bisa jadi juga begitu.

Oh ya, maaf, saya mengingatnya lagi malam ini. Saya tiba-tiba teringat, mungkinkah seperti ini yang dia rasakan dulu? Kecewa ya? Marah? Kenapa tidak bisa sabar? Bukannya seharusnya dia tahu, saya memang 'berbeda' dengan dia. Toh, dia bilang bahwa kerja keras itu tidak mengkhianati. Mengapa dulu tidak bekerja keras untuk hal ini? Untuk agar semuanya baik-baik saja?

Ah, tapi ya sudah. Toh kita tahu kan, kita semua pernah menyesali hal-hal yang terjadi dulu. Dan jika saja ada mesin waktu, kita pasti akan kembali untuk mengubahnya ke dalam versi yang lebih baik. Tapi sayangnya mesin waktu tidak ada. Masa lalu tidak bisa diulangi dan satu-satunya yang bisa kita upayakan adalah menjadi versi yang lebih baik saat ini, dan ke depannya, bersama orang-orang yang kita miliki sekarang.

Saya pun demikian.

Ya ampun, saya akhirnya tidak tahu bagaimana harus berterima kasih untuk perjalanan yang sangat panjang ini. Terima kasih pernah mengajari saya menjadi orang baik, untuk menjadi orang yang selalu menemukan versi lebih baik dari dirinya di masa lalu. Terima kasih. Terima kasih sekali.

***

It's a love letter. Written with the tears.
But believe me, she is so happy. She found herself.
She has been getting so lost in her journey finding herself.
But believe me, she never wants to go back.
"Menemukanmu mungkin seperti menemukan versi terbaik dari diri saya sendiri. Versi terbaik dari sabar, dari memaafkan, dari menerima, dari semuanya."
Kita semua pernah memiliki masa lalu yang membuat kita berharap ada mesin waktu. Tapi ya sudahlah. Toh tanpa masa lalu itu, perjalanan kita tidak akan sampai hari ini. Tanpa yang pernah kita lalui dulu, kita mungkin tidak bertemu. Tanpa kesalahan-kesalahan sebelumnya, kita mungkin tidak tahu sekarang yang baik itu seperti apa dan kita harus berbuat apa untuk meraihnya. Tanpa yang sudah terjadi, kita tidak bisa belajar.

Menemukanmu seperti menemukan versi terbaik dari diri saya sendiri. Versi terbaik dari sabar, dari memaafkan, dari menerima, dari semuanya. Saya berharap kamu juga demikian, meski sekali lagi, ini tidak bisa dipaksakan.

Seseorang menasihati saya, untuk apapun yang terjadi, tetaplah berusaha menjadi versi lebih baik dari sebelumnya. Jika orang-orang yang kamu miliki saat ini tidak bisa dipertahankan, tetaplah menjadi lebih baik. Karena orang baik kelak akan dipertemukan dengan orang baik pula.

Jika kita bertemu karena suatu peristiwa, berterima kasihlah sebab mungkin setelahnya kita akan menemukan pelajaran dari pertemuan. Jika suatu hari ini selesai pun, tetaplah berterima kasih, sebab mungkin itu waktunya diri kita sendiri untuk upgrading. Mungkin setelahnya kita akan bertemu dengan orang-orang baru lagi, mengalami peristiwa-peristiwa baru lagi, dan tentu saja mengubah diri kita ke versi baru lagi, yang lebih baik dari sebelumnya sebab kita telah belajar.

Sedih berkepanjangan tidak ada, seperti halnya bahagia terus-menerus. Ini hanya fase. Fase akan terlewati pada waktunya. Yang kita perlukan cuma sabar dan memaafkan, iya itu dulu. Yang lain menyusul.


Jakarta, 2 Juni 2018 tengah malam.
Hujannya tidak ada sebab hujan bulan Juni adalah yang malu-malu menyatakan rintiknya pada pohon berbunga itu. Kita jangan, ya?

0 comments:

Post a Comment

My Instagram