Wednesday, June 13, 2018

Dari Belakang


Aku pernah membaca sebuah cerita yang mengisahkan dua orang petualang yang dipertemukan dalam sebuah perjalanan. Dua orang yang sebelumnya asing satu sama lain. Dua orang yang tidak pernah bicara pada masing-masing.

Barangkali cerita itu demikian indahnya. Hingga satu per satu detail kejadian seolah terekam dalam ingatanku. Bagaimana mereka berkenalan melalui milis. Bagaimana sebuah perjalanan tanpa sengaja mempertemukan mereka yang sama-sama suka bepergian. Terakhir, aku mengingat persis bagaimana pada hari-hari usai mereka bertemu, bahkan tak ada sedikitpun pembicaraan. Keduanya hanya sempat menengok wajah masing-masing satu kali, lalu setelah itu sepi.

Hari demi hari. Minggu demi minggu. Tak seorang pun tahu bahwa satu di antara mereka pada akhirnya memutuskan menjadi pengintai. Yang mengintai jauh di belakang, menjaga jarak, menikmati setiap pemandangan punggung, dan tawa kecil-kecil yang muncul dari kelompok manusia yang melibatkan keduanya di sana.

Tak ada sapaan ramah, apalagi tatapan. Hanya punggung. Kubilang orang itu adalah seseorang yang mengintai dari belakang. Ya, hanya dari belakang. Menikmati punggung seolah dengan itulah dia jatuh cinta.
"Aku jatuh cinta pada seseorang yang bahkan aku tidak tahu warna matanya. Mungkin hijau. Mungkin juga cokelat muda."
Teori Sternberg memberiku keyakinan bahwa jatuh cinta yang demikian tidak ada. Itu infatuation. Bukan literally love. Infatuation akan menghilang seiring dengan waktu. Infatuation akan kedaluwarsa. Begitulah kira-kira.


Namun, hari ini adalah berminggu, berbulan, bahkan bertahun semenjak hari itu seseorang memutuskan jatuh cinta dari belakang. Hanya punggung yang terekam. Sesekali suara gelak tawa. Hanya itu. Sudah.
Share:

0 comments:

Post a Comment