May 4, 2018

Fiksi Terakhir


Aku mulai curiga temanku yang berpolitik sejak mahasiswa itu adalah politisi, atau paling tidak simpatisan Golkar ketika ia mengajakku ke tempat itu.

"Bukan! Itu nggak ada hubungannya! Hahaha!" katanya mengelak. Berlokasi di Cikini, sebenarnya aku sudah beberapa kali mampir atau sekadar lewat. Namun, tidak seperti biasanya sore itu dari mulai halaman hingga ke dalam-dalam gedung, semuanya ramai. "Sedang ada acara," kata mbak-mbak waitress memintaku menunggu terlebih dulu karena tempatnya penuh.

Aku kesal sebenarnya. Masa untuk makan saja harus menunggu? Ah tapi temanku juga tidak kunjung datang, jadi sambil melihat-lihat gedung yang sering kulewati setiap aku ke Cikini itu, aku memutuskan tetap di sana. Temanku bilang ia membawa motor, dan ia mengendarai motornya dari Bekasi, membawakan helm untukku.

"Oh kalo gitu aku nunggu aja deh ya," kataku agak tidak enak hati. Pasalnya aku tahu perjalanan dari Bekasi tidak pernah menyenangkan, apalagi di akhir pekan.

***

"Nggak ada putus baik-baik itu," katanya.
"Paling tidak yang setelah putus tidak ada konflik yang panjang. Ya kalau sakit hati ada, tapi memilih untuk diam-diam aja."

Kulihat dia diam sejenak sembari mengingat-ingat sesuatu. "Pernah," katanya. "Dulu waktu mau ke Jogja. Tapi alasannya cukup masuk akal, aku akan pergi jauh. Aku rasa kita susah kalau masih harus sama-sama, dan hal-hal semacam itu. Dan dia setuju. Asalkan kedua belah pihak saling setuju bahwa relasi itu harus selesai, aku pikir itu namanya putus baik-baik."

"Tapi, kalau masih cinta ya kenapa harus putus?"
"Ya pasti banyak alasannya. Bisa karena ragu, bisa karena terburu-buru mengambil keputusan, bisa juga karena mungkin orang perlu jeda terlebih dahulu."

Anginnya bertiup cukup kencang dan hari mulai gelap. Halaman Paradigma mulai tidak menyenangkan karena nyamuk dan panasnya Jakarta mulai terasa tidak ramah dengan pakaian yang kukenakan. Stelan serba hitam. Aku suka warna hitam, seperti kita musti berkabung setiap hari untuk mengingat setiap detik ini akan selalu ada orang yang menderita atau paling tidak bersedih. Lantas kita harus bersimpati pada mereka.

Ah, lupakan. Pikiranku cuma sedang ke mana-mana.



Bandung masih sama seperti hari-hari aku mengunjunginya. Atmosfernya menyenangkan. Setiap jalan-jalannya mengingatkanku pada Jogja, hanya orang-orangnya sedikit lebih apatis. Bandung seperti gadis tanggung yang disukai lelaki yang diam-diam dikaguminya; malu-malu tapi agresif. Dan hal-hal seperti itu, sayangnya tidak pernah berubah. Lucu sekaligus menyebalkan.

Di stasiun kereta ada banyak hal yang kuingan setidaknya dalam beberapa tahun terakhir. Drama menunggu, dimarah-marahin orang, hingga tertinggal kereta paling pagi menuju Jakarta. Bagiku tidak ada yang tidak kuingat, seperti setiap irisan kejadian yang pelan-pelan mulai kususun sebagai ingatan.

"Tapi itu mengganggu," katanya. "Aku tidak suka."

Aku tersenyum tipis. Belakangan aku suka wajahnya yang sedang pundung. Lucu seperti anak kecil yang merengek minta mainan.

"Kenapa?" tanyaku tak kalah menyebalkan. Sengaja.
"Ya nggak papa. Nggak suka aja."
"Oh.. tapi aku suka. Gimana dong?"
"Ya terserah," katanya sambil merangsek ke dalam selimutku. Setelahnya Bandung terasa hangat sekali. Dan aku belum pernah memiliki perasaan ketakutan sebesar ini jika ditinggal seseorang.

***

Pantai Manggar "Segara Sari" memiliki nama asli Pantai Segara Sari, namun warga lokal di sini menyebutnya Pantai Manggar. Mungkin karena lokasinya yang berada di Kelurahan Manggar, sebuah daerah kecil Kalimantan Timur, sekitar 9,5 km dari Bandara Sepinggan atau 20 km dari pusat kota. Ada beberapa pantai yang kuketahui ada di sini, namun entah kenapa paling banyak kuhabiskan di tempat ini.

Kurasa, bagi orang yang sejak kecil tinggal di daerah yang dekat dengan pegunungan, pantai apapun akan terlihat menarik. Namun, di sini aku tidak lebih merasa tempat ini menyenangkan hanya karena aku merasa rindu; pada semua hal yang jauh dan tidak terengkuh.

Lewat bertahun semenjak hari itu, namun rasanya masih banyak sekali hal yang tidak selesai. Aku cuma tidak menyangka akan seperti ini, pada akhirnya.

***

Di Jakarta aku merindukan banyak hal. Kantor berkubik-kubik di SCBD, hingga aroma nasi goreng pinggir jalan yang sekali atau dua kali pernah kutemui. Kuingat betul sebab cerita-ceritamu.

"Suka ya di Jakarta?" tanyaku.
"Mau jujur nggak nih?"
"Sejak kapan kamu jadi pembohong?"
"Okay.. kalau mau jujur, Bandung lebih menyenangkan."
"Oh ya? Kalau Jogja?"
"Jogja apalagi. Kenangan semua isinya!"

Sepersekian detik kemudian aku cuma memandangnya kosong.

"Eh?" Dia kikuk sendiri. Lalu tertawa basa-basi. Khas sekali jika mau berkelit.

Hari itu selepas menikmati makan malam di pinggir jalan kami memutuskan ke toko buku di Pacific Place. "Sengaja ya, ke sini pas udah kenyang? Biar nggak mahal bayarin aku makan? Haha!" selorohnya santai. Aku cuma tersenyum. Di hatiku ingin sekali menjerit bahwa kuajak ia ke sini sekadar memastikan tidak ada sedikitpun yang berubah di antara kami; bahwa kami masih menikmati makanan yang sama, membaca buku yang sama, melakukan hal-hal yang sama dan mungkin masih memiliki perasaan yang sama.

***

"Kau tahu? Aku suka dengan tempat ini," ujarnya ketika kopi pesanan kami datang. Aku duduk di hadapannya, menghadap secangkir kopi yang direkomendasikannya dan sepiring kudapan tradisional.

"Kenapa?" tanyaku. Dia kemudian menoleh.
"Di sini jendelanya besar sekali. Aku bisa melihat lalu-lalang orang. Kadang aku sendirian, dengan laptopku. Weekend paling sering. Kau tahu kan pekerjaan seperti aku ini tidak kenal waktu libur atau jam lembur kayak kamu."
"Jadi ini another place selain Starbucks?"
"Starbucksnya di situ," ujarnya sambil menunjuk ke seberang. Kami tertawa kecil.

Pukul 11 Kedai Tjikini sudah hampir tutup dan kami membayar pesanan kami di kasir. "Eh, biar aku saja," kataku mengeluarkan dompet.
"Wow wow wow! Ada apa nih?"
"Ya nggak papa. Jarang-jarang aku di Jakarta. Apalagi menculikmu jalan-jalan sehari semalam. Kapan lagi?"
"Bisa aja!"

Kami keluar dan sambil menunggu pesanan taksinya ia mengajakku berjalan menyusuri Jalan Cikini Raya yang masih ramai.

"Mungkin ada acara. Aku pesan di ujung jalan setelah TIM aja. Nggak papa kan, jalan?"
"Nggak papa. Aku yang khawatir karena kamu pakai sepatu hak tinggi."
"Santai. Perempuan karier sepertiku sehari-hari berkostum seperti ini. Kamu belum pernah lihat aku turun 10 lantai dengan sepatu macam ini karena panik ada gempa, kan?"

Aku tertawa. Di sepanjang jalan dia berjalan di sampingku. Tidak membiarkan aku duluan, atau dia yang tertinggal di belakang.

"Re?" kataku.
"Ya?"
"Aku minta maaf."

Dia menoleh ke arahku sebentar. Aku menghentikan langkah.

***

Bagi Azur, sahabatku, putus baik-baik itu tidak ada. Orang putus memang karena tidak saling cinta lagi. Sebab itu mereka putus karena tidak ada yang harus dipertahankan.

"Untuk alasan apapun, Re. Nggak ada yang namanya orang masih cinta, tapi pergi," katanya. Aku diam. Sudah berbulan-bulan perasaan tidak nyaman seperti ini menghantui. Azur mungkin menjadi salah satu yang terganggu atas kekalutan-kekalutanku. "Gini deh, Re. Gue nih, temen lo. Gue ada di sini, lo tau kenapa?"

Aku menggeleng.

"Ya karena gue care. Gue bela-belain loh, naik motor dari Bekasi lo tau sendiri segimana bangsatnya yekan weekend gini. Gue nih, Re, temen lo, dan gue care dengan apa yang lo alamin, gue berusaha membantu sebisa-bisanya gue. Kalo ada cowok, nggak bisa melakukan hal yang lebih dari apa yang gue lakuin, ya itu artinya dia sesimpel nggak peduli sama lo sih."

Kupandangi wajah sahabatku lurus.

"Lo boleh punya seribu satu alasan buat pergi. Tapi gue harap lo punya satu aja alasan untuk tetep stay sih."

***

Di Pantai Manggar segala hal tenang seperti halnya aku melihat laut. Ombak yang bergemuruh, angin yang mendesir-desir, dan segala sesuatu yang ingin kubuang begitu saja. Andai ingatan ini berbentuk, aku lebih rela membuangnya jauh-jauh. Mungkin lebih menyenangkan jika kukubur dalam pasir, atau kularung di laut bersama ombak-ombak hingga ke pulau seberang.

***

"Minta maaf untuk apa?" tanyanya.
"Semuanya," jawabku. Raut wajahnya berubah. Dia tertawa pedih.
"Dimaafkan kok. Kamu selalu dimaafkan dan aku akan selalu memaafkan."
"Aku minta maaf, Re."
"Aku tahu kamu harus minta maaf."

Kami diam. Jalanan di Cikini mendadak terasa lengang sekali. Sepintas Jakarta melambat seperti detik-detik sebelum kami berpamitan untuk pergi.

"Re," kataku. Orang yang kupanggil berdiri sejengkal di depanku. Aku merengkuhnya. Kupeluk seperti yang selalu kuinginkan selama ini. Dia pasrah. Aku cuma merasakan nafasnya yang hangat di leherku. "Sejak dulu aku sebenarnya aku ingin memeluk kamu seperti ini. Tapi aku nggak berani. Maafkan, Re."

Perempuan itu diam. Beberapa detik kemudian dia meresponsku. Dilingkarkannya tangannya di pinggangku. Aku merasakan sesuatu di jari manisnya.

***
Kekasihku, jika kamu membaca surel ini, aku berharap kamu sudah belajar untuk melupakan seperti ketika kau kecil semua orang memaksamu belajar mengeja. Kamu harus bisa, sebab kamu bisa.
Mulailah untuk tidak mengingat Jakarta seperti malam-malam ketika kita menghabiskan waktu bersama, dan Bandung atau Jogjakarta yang setengah benci dan setengah rindu.
Aku ingin kamu menghargai keputusan yang kuambil dan juga tidak akan kusesali. Atas nama bara api cinta yang pernah menyala dan membakar habis dalam hati kita masing-masing, yang telah kita titipkan pada debur ombak seperti ikal rambutmu.
Tapi, kekasihku, biarkan aku mencintaimu, dalam diam.


Share: