Tentang Bersyukur dan Belajar Tidak Menyia-nyiakan


Di antara hal-hal yang kupikirkan di umurku ke-22 yang hampir berganti ini, salah satunya adalah bagaimana relasiku dengan orang-orang di sekitar. Berjarak semakin jauh, kini aku merasa semakin dekat dengan Bapak dan Ibu karena menurutku pada akhirnya memang merekalah yang menerimaku tanpa syarat. Segimanapun bentukanku, seasu apapun kelakukanku, itu cuma mereka yang bisa paling rapoponan dan tidak akan pernah merasa salah.

Kedua adalah lingkaran-lingkaran pertemanan yang makin ke sini semakin menyempit :')

I must say that yesss, I have very limited friends. Mungkin kalau ada orang-orang yang benar-benar berarti sebagai teman, yang itu artinya adalah mengetahui luar-dalam, kupercayai dan mempercayaiku dalam banyak hal, dan tidak ada rasa seganku untuk ngapain aja sama mereka, jumlahnya sangat sedikit. Tetapi dari jumlah yang sedikit itu, aku merasa bersyukur bahwa aku memiliki mereka.

Jika ada yang paling kuinginkan dari usiaku yang baru nanti, aku ingin bersyukur atas apapun yang kumiliki. Pekerjaan, teman, keluarga, atau mungkin pasangan kalau kelak aku yakin aku akan berpasangan dan itu artinya benar-benar 'berpasangan' ya, bukan lucu-lucuan. Aku ingin bersyukur dengan apapun yang kumiliki dan mereka yang ada di sekitarku. Mereka yang mau kutelpon dini hari padahal besoknya harus ngantor, mereka yang mau membagi "porsinya" padaku meskipun kadang-kadang jumlahnya terbatas, dan mereka yang juga bersikap seperti aku ini juga sangat berharga di mata mereka. Aku ingin bersyukur dengan kami yang bangga dengan pertemanan kami dan orang-orang di sekitar kami dan ada upaya untuk membuat satu sama lain bahagia.

Bagiku, dalam relasi apapun, kerja, berteman, orang tua dan anak, semuanya memerlukan timbal-balik. Dan hubungan timbal-balik ini, harus setara.

***
"Kamu tahu kenapa aku putus sama dia?"
"Kenapa?"
"Karena dia bikin aku sedih dan dia nyia-nyiain aku. Karena dia pikir, perempuan itu kayak Ujian Nasional. Dikejar mati-matian, tapi kalo udah ya udah."
Selama kuliah, aku telah menyaksikan banyak sekali drama patah hati, dari mulai digantung berbulan-bulan, hingga putus karena perselingkuhan sampai salah satunya stress dan berat badannya hilang 10 kg. Hmm bagus sih kalo cuma kurus aja. Yang parah kan kalo stressnya itu sampai mengganggu kehidupan sosialnya, kuliahnya, dll.

Maka atas nama 'belajar dari pengalaman orang-orang di sekitar', aku kini mewanti-wanti diriku untuk jangan berlarut-larut dalam kechaosan yang kamu buat-buat sendiri, apalagi kalau posisinya kamu tuh punya orang-orang yang sayang sama kamu, kenapa harus ada satu makhluk yang segini suka nyari gara-gara dan kamu biarin aja?

Maka seperti layaknya salah satu temanku yang usai patah hati memilih resign dan enhance kariernya dengan gaji berkali-lipat, aku merasa jika ada apa-apa aku juga harus rasional.
"Jangan pernah mau dengan orang yang menyia-nyiakan kamu."
Bagiku kini kalimat temanku itu relevan. Jangan mau sama orang yang tidak menginginkan kamu, atau menginginkanmu, tapi baginya kamu tidak berharga.

Kamu bukan barang yang bisa dimiliki trus bebas diapa-apain. Barang aja, yang benda mati, kalau kamu sayang dengan barang itu dan merasa itu berharga dan mendapatkannya perlu effort, kamu akan merasa itu sangat berarti. Sesimpel kayak ponsel busukku yang udah dua tahunan ini nggak ganti ya karena dulu menurutku aku beli itu pake uangku sendiri, jadi kayak value lain meskipun barangnya sebenernya nggak berharga, tapi menurutku ia sangat istimewa.

Kita semua dalam berelasi mestinya juga demikian.

Oleh karena itu aku ingin lebih banyak bersyukur, agar aku lebih bisa menghargai orang-orang di sekitarku dan juga agar aku bisa membuat mereka semua yang sangat baik padaku itu merasa berarti, dan berharga.

Agar aku tidak menyia-nyiakan mereka.

Sebaliknya, mereka yang tidak bisa bersikap sama untuk menghargaimu dan membuatmu merasa berarti, sebaiknya memang dikeluarkan dari lingkaran-lingkaran pertemanan. Karena relasi kalian tidak setara, dan itu namanya toxic.

0 comments:

Post a Comment

My Instagram