Siang Tadi di Trafique

Ketika aku menulis post ini, aku sudah memutuskan untuk sepenuhnya kembali pada diriku yang kubayangkan paling menyenangkan. Aku menghidupkan kembali blog ini, mendandaninya dengan tampilan baru, dan mungkin akan menulis receh-receh lagi. Oh ya, aku berniat menutup akun Mediumku. Tapi ada beberapa tulisan di draft maupun yang telah terpublikasi yang belum dipindah. Jadi, mungkin akan terealisasi beberapa waktu ke depan ketika aku cukup selow.

Jadi, apakah sekarang aku cukup selow? Not really.

Tapi at least aku mencoba memahami mengapa aku harus setidaknya menikmati ke-tidak-selow-an ini dengan bahagia dan penuh rasa syukur. Sejak pagi tadi aku di Trafique. Sebuah kedai kopi unik di daerah Senayan yang sangat recommended untuk kerja dan berlama-lama. Sayangnya kalau kamu pakai Debit Mandiri, kamu minimal harus spend 100 ribu. Sementara, kalau BCA 50 ribu. Cashless society bgst.

Maaf ya, aku suka misuh-misuh dan ngomong kasar. Aku sepertinya memang begitu. Tapi percayalah aku nggak pernah ngomong kasar di depan anak kecil sebagai etika. Kedua, aku nggak pernah ngomong kasar ketika aku sedang marah. Satu dua orang paham. Beberapa yang lain masih belum, atau bahkan tidak paham sama sekali. Tapi ya sudah, aku biarin aja karena mengklarifikasi banyak hal yang terkait dengan penilaian orang terhadapku kayaknya terlalu wagu buat saat ini.

Pagi tadi salah satu temanku menyusulku ke Trafique. Dia menagih satu judul novel yang pernah kupinjam untuk kubaca beberapa bulan lalu, sekaligus membawa novel baru lagi. Nggak main-main. Novel yang dipinjamkan padaku adalah Cantik Itu Luka-nya Eka Kurniawan. Adapun novel yang dibawanya tadi pagi adalah Burung-burung Manyar karya Y.B. Mangunwijaya. Kataku padanya, "Aku kangen punya banyak waktu lagi baca-baca buku seperti ini. Kangen bisa berjam-jam di kedai kopi seperti ini sambil nulis. Pengen kayak gitu lagi."

Ya, aku memang sering nongkrong ataupun ngopi belakangan ini. Namun, itu antara nongkrong dengan perasaan kesel, atau nongkrong sambil dikejar deadline. Jadi aku menenteng laptop ke mana-mana.

***

Sesungguhnya kedatangan temanku tadi bukan semata-mata mengambil kembali novelnya, namun juga salam perpisahan karena minggu depan dia sudah tidak di Jakarta.

"Kenapa?" tanyaku.
"Pulang."

Ada banyak alasan untuk pulang, namun awalnya kupikir karena Jakarta memang tidak menyenangkan untuk tinggal.

"Tapi aku nyaman banget lho tinggal di Jakarta. Aku suka di sini. Justru menurutku di sini tuh ya aku kabur dari perasaan-perasaan tidak nyaman yang kualami di rumah. Kayak aku udah nggak punya 'rumah' dalam arti sebagai tempat pulang di sana."
"Kalo aku kebalikan," ujarku.

Lalu kukatakan bahwa sebenarnya Jakarta adalah kota yang sangat tidak nyaman. Satu-satunya kenapa aku suka ada di sini adalah karena aku bisa dengan mudah melupakan banyak hal. Jakarta adalah kota untuk mereka yang mau hilang ingatan. Tapi tidak ada rasa nyaman.

"Kok bisa?" tanyanya.
"Aku nggak tahu. Mungkin karena di sini aku nggak punya temen."

Bagaimana mungkin orang kayak Ervina nggak punya temen?

"Iya, karena definisi pertemananku cukup sulit untuk terealisasi di sini," kataku.

Sepanjang ingatanku, aku sudah singgah dan menetap di berbagai kota untuk waktu yang cukup lama. Pada masing-masing kota itu, ada beberapa kota yang kemudian membuatku tinggal seorang diri. Di Semarang selama kurang lebih 2 tahun hidup jadi anak kost, lalu di Jogja 4 tahun lebih hidup di kost juga.

Ketika pertama merasakan tinggal sendiri, yang terpikir adalah siapa kira-kira orang terdekatku. Tentu komunikasiku dengan orang tua sampai detik ini berjalan dengan baik. Namun, ada yang aku perlukan keberadaannya secara fisik juga. Yang sigap kalo aku kenapa-kenapa, yang tahu keseharianku, dan bersamaku dalam banyak hal. Mereka kemudian kusebut sebagai teman.

Aku punya banyak teman dari aku SMA di Semarang hingga aku di Jogja. Relasiku dengan mereka inilah yang membuat aku akhirnya kesulitan menemukan teman-teman baru, karena yang telah bertahun-tahun kukenal rasanya terlalu susah buat diulangi lagi dengan orang baru saat ini.

"Aku baru nyadar di sini aku nggak punya teman ketika kemarin aku pulang ke Jogja," kataku. "Ya aku punya teman di sini, tapi mereka semua sibuk. Mungkin seperti aku juga, dan seperti orang-orang di Jakarta pada umumnya."

Temanku diam menyimak. Kali terakhir kami bertemu memang ketika aku berkunjung ke tempatnya awal-awal aku di Jakarta, mungkin sekitar Januari lalu.

"Aku tuh ngelihat kayak kemarin aku di Jogja. Aku nggak punya kendaraan, ada orang yang mau antar-jemput aku. Aku nggak punya tempat tinggal yang mudah dijangkau karena rumahku jauh, ada orang yang bersedia ngasih tumpangan untuk aku tidur. Bahkan aku flight malem pun, ada yang mau nungguin dan bahkan nganterin aku ke bandara. Meskipun nggak jadi sih karena ujan dan aku nggak enak nyuruh dia ujan-ujanan jadi akhirnya aku naik taksi," ujarku memulai cerita.

Padanya juga aku bilang kalau hal yang sama terjadi di Semarang. Aku inget bagaimana setiap kali ke sana aku merepotkan banyak orang. Ada yang jemput di Sukun, ada yang anterin ke sana-sini. Bahkan suatu hari ketika aku naik kereta dari Semarang, aku dianterin rombongan sirkus sampe ke peron. Orang-orang ini juga yang selalu ada sejak aku SMA. Ketika motorku mogok kena banjir, ketika sakit dan butuh obat dan makanan karena gabisa ke mana-mana. Bahkan dulu aku sering diantar-jemput nebeng ke sekolah atau sekadar 'ada' karena dulu aku punya kelainan berupa nggak bisa makan sendirian. Harus ada temennya.

Kelak pada anak-anakku aku akan cerita dan menasihati, jadilah teman-teman yang baik seperti teman-teman Ibu karena hal-hal itu ternyata membekas sedemikian dalam pada ingatan orang tentang betapa berartinya orang-orang di sekelilingmu. Agar kelak ia akan lebih menghargai apapun yang ia miliki, dan agar ia tidak menyia-nyiakan orang-orang baik di sekelilingnya. Sebab mungkin suatu hari, ketika dia sendirian di tengah arus hilir-mudik orang-orang di Ibu Kota, ia akan rindu dengan kebaikan-kebaikan itu. Seperti yang kurasain sekarang.

Oke, aku mulai baper.

"Di Jakarta nggak bisa?"
"Nggak. Semua orang sibuk. Just like we did, kita semua sibuk. Ketemu aja kita jarang kan?" kataku retoris.

***

Tadinya aku berpikir orang-orang di sini mengecewakan. Namun, setelah aku pikir-pikir, bukan mereka yang mengecewakan, tetapi ekspektasiku. Jakarta mungkin akan mengajari kita, khususnya aku sih, untuk benar-benar dewasa, untuk tidak berekspektasi apapun pada orang lain, dan untuk bisa melakukan segala hal seorang diri.

Di Jakarta kamu harus bisa ngapa-ngapain sendiri. Kamu harus bisa memenuhi kebutuhanmu sendiri, makan sendiri, ke kantor sendiri, ke dokter sendiri, belanja sendiri. Mungkin kamu juga perlu mencari hiburan sendiri kayak nonton sendiri atau main ke kafe sendiri. Jangan mengandalkan orang lain bahkan di saat kamu paling membutuhkan orang lain.

Because too much expectation means too much disappointment.

Jadi, demi menjaga kewarasan diri sendiri, sebaiknya jangan berekspektasi banyak. Aku belajar itu di Jakarta.

Another thing is, belakangan aku mulai sadar bahwa mungkin semakin kita dewasa kita mungkin memang dituntut untuk semakin bisa mengandalkan diri sendiri. Sama kayak proses perkembangan orang secara alami sebenarnya. Misalnya ketika kecil, hal paling privat kayak buang air aja kita perlu orang lain. Dulu kita waktu kecil mandi aja perlu orang lain. Tapi, lama-lama kita juga terbiasa untuk melakukan itu sendiri. Dan ada fasenya ketika kita harus bener-bener bisa.

Itu mungkin fase perkembangan yang cukup signifikan dan bisa terlihat jelas, sebab berkaitan dengan fungsi fisik. Sementara hal-hal yang kusebutkan di atas mungkin sifatnya lebih psikologis, sehingga tidak banyak dibahas. Akan tetapi, mau tidak mau ya memang harus terjadi. Akan ada fasenya ketika segala hal yang kita hadapi memang harus dihadapi seorang diri. Bahkan ketika kamu punya orang-orang yang bisa diandalkan pun, kamu tetap harus melakukannya seorang diri.

Mengapa demikian?

Hmm mungkin karena kita nggak pernah tahu udah seberapa besar porsi yang kita ambil dari orang lain.

Begini, biar kujelaskan. Sebenarnya, kalau boleh jujur, aku masih punya orang-orang yang sangat bisa kuandalkan. Mereka yang kalo aku butuh apa-apa kucariin, kalau aku stress bisa digalauin, hal-hal semacam itu. Tapi belakangan aku tahu kalau setiap dari kita memiliki porsinya masing-masing, untuk seneng, sedih, dan bertahan dari perasaan-perasaan tidak enak yang mengganggu.

Ketika kita bercerita pada orang lain, kita mungkin secara tidak sadar mengambil 'porsi' dia untuk diri kita. Yang seharusnya dia punya masalahnya sendiri dan diselesaiin sendiri, jadi ikut keseret-seret di masalah kita. Percayalah, mereka adalah orang-orang tidak pernah menolakmu. Seburuk apapun kondisi mereka, serapuh apapun. Teman-teman dalam lingkaranku adalah mereka yang kupikir tidak pernah menolak bahkan di titik terendahnya.

Itu yang kemudian membuat aku berpikir ulang, haruskah aku melibatkan mereka?

Nggak. Aku rasa aku bisa menyelesaikan ini sendiri. Setiap aku punya masalah, sekarang aku mikirnya kayak gitu.

***

Sekitar tahun 2015 lalu, ketika di rumah sedang gonjang-ganjing masalah internal, aku menemukan sesuatu yang akhirnya menarik untuk kupelajari. Mindfulness namanya. Tidak lama berselang, akupun berkenalan dengan ajaran indigenous psychology dari Jawa bernama kawruh jiwa. Sebagai orang yang (mengaku-aku) suka membaca, akupun mencari banyak literatur terkait itu. Akupun menjadi akrab dengan jurnal-jurnal maupun buku yang berkaitan dengan itu. Sebab sebagai mahasiswa psikologi, yang juga adalah kaum terpelajar karena bagaimanapun aku lulus dari kampus yang digadang-gadang memiliki tingkat intelektualitas yang tinggi, aku mencoba mencari celah paling praktis dari semua teori yang pernah aku tahu.

Hasilnya tidak mengecewakan. Sedikit-sedikit aku belajar mengaplikasikan dan memahami konteks yang sebenarnya, meskipun demi apa, susahnya minta ampun. Misalnya ketika dalam ajaran kawruh jiwa dikatakan bahwa keinginan manusia tidak akan ada habisnya atau disebut dengan istilah mulur-mungkret.

Maknanya kurang lebih adalah ketika kita punya keinginan lalu tercapai, pikiran kita tersetting untuk nggak akan cukup karena keinginan itu pasti akan naik dan naik seperti yang juga diceritakan oleh Maslow dalam teori hierarki kebutuhan. Hal ini dalam kawruh jiwa disebut mulur. Sebaliknya, ketika kita punya keinginan yang tidak tercapai, kita mungkin akan kecewa. Namun, sebenarnya kita punya semacam respons alami untuk menurunkan standar demi juga mencapai kepuasan. Artinya, keinginan kita secara tidak sadar akan tereduksi dengan sendirinya (mungkret) dan dengan demikian kita akan merasa cukup dan bahagia.

Konsep ini terlalu ideal. Percayalah tidak semudah itu menghalau keinginan-keinginan lebih, begitu pula berkompromi untuk hal-hal yang tidak kita sukai. Tidak pernah mudah.

Namun, sebagai orang terpelajar, lulus dengan gelar S.Psi, dan aku alumni UGM, ehm, ya mau tidak mau harus belajar.

***

Berkompromi bagiku adalah sebuah pelajaran baru dalam hal apapun. Pekerjaan, pertemanan, diri-sendiri, dan kehidupan berpasangan. Dalam hal apapun, kita memang dituntut untuk berkompromi.

Aku lalu teringat dengan sebuah novel yang kubaca dari jaman SMA dan akhirnya aku curi dari perpus sekolah karena udah nggak ada di toko buku. Judulnya Musim Hujan Kali Ini karangan Kalpata123. Novel picisan, receh, tentang seorang gadis yang dipaksa menikah dan dijodohkan dengan pria asing yang tidak ia sukai.

Ketika aku SMA aku suka membaca novel-novel kayak gitu, makanya kehidupanku nggak sehat. Wkwk. Tapi percayalah dari novel yang receh dan bgst itu, ada sebuah hal sampai sekarang aku ingat dan menjadi sangat relevan pada akhirnya. Yakni ketika si tokoh, si perempuan itu, pada akhirnya menemukan makna dari sebuah relasi bernama pernikahan, dan bagaimana 'cinta' yang sebenarnya tidak melulu mirip dengan khayalan atau cerita-cerita princess.

Baginya, cinta itu seperti setengah lingkaran asimetris dengan diameternya itu menggambarkan sifat-sifat manusia yang selalu dinamis. Ketika orang mencari pasangan, ia akan mencari setengah lingkarannya lagi, yang juga sama-sama memiliki garis diameter asimetris. Ketika berpasangan dan berharap akan mendapatkan satu lingkaran yang utuh, rasanya mustahil. Sebab, bagaimanapun menentukan setengah lingkaran lagi yang memiliki pola yang cocok dan pas dengan pola yang kita miliki pada setengah lingkaran satunya, adalah hal yang tidak mungkin, mengingat pola-pola itu, yakni sifat-sifat kita sendiri, akan selalu berubah seiring dengan waktu. Begitu pula pasangan kita.

Jadi, mencari dan menunggu hingga ada setengah lingkaran yang pas untuk mencapai satu buah lingkaran penuh adalah hal yang sia-sia. Satu-satunya yang bisa kita lakukan adalah berpasangan, lalu melakukan penyesuaian-penyesuaian. Sesuatu yang akhirnya kini aku paham bahwa itu adalah sebuah kompromi.

garis merah menggambarkan sifat-sifat manusia yang dinamis sehingga bentuknya berubah-ubah

Tidak akan ada pasangan yang sempurna.

Namun, aku juga tidak setuju bahwa kita harus mencintai seseorang apa adanya. Nggak seperti itu. Bagiku untuk mencapai sebuah lingkaran yang pas, paling tidak dibutuhkan usaha-usaha dari kedua belah pihak, yang kemudian diiringi dengan kompromi pada hal-hal yang tidak bisa kita upayakan sama sekali dan menjadikan itu sebagai pemakluman.

Contoh gampangnya misalnya begini. Ada orang yang jobless, suka mabuk-mabukan, buang-buang uang untuk merokok, dan masa depannya nggak punya tujuan. Jelas ketika menerima orang yang seperti ini "apa adanya" ya itu goblok namanya. Bagaimanapun sebagai calon pasangannya, kita berhak menuntut untuk at least, misalnya kalau aku nggak suka orang mabuk atau merokok ya harus stop. Itu nggak bisa ditolerir lagi. Harus nyari kerja, karena bagaimanapun aku expect kalo aku punya laki-laki sebagai pasanganku ya dia harus bertanggung jawab, termasuk secara materiil. Adapun hal-hal yang bisa dikompromikan misalnya adalah ketika mungkin pekerjaan dia tidak sewow yang kita bayangkan atau misalnya ia perlu proses untuk mencapai standar-standar yang tinggi. Tenggat waktu kemudian menjadi kompromi.

Penggambaran lain dari bagaimana pasangan yang kudapatkan dari membaca novel itu tentu adalah pengetahuan bahwa kita dan pasangan mungkin tidak akan selamanya sama. Kompromi pada pasangan itu digambarkan sebagai diagram venn. Ada bagian yang beririsan dan ada bagian lainnya yang tidak. Itu menurutku wajar, dan bisa dikompromi.

salah satu contoh diagram venn pasangan

Hal lain yang akhir-akhir ini aku pahami juga adalah bahwa kompromi ini adalah sesuatu yang terjadi sepanjang hidup, dalam hal apapun. Berteman, bekerja, berpasangan, semua akan membutuhkan kompromi. Sebab bagaimanapun individual differences juga mengajariku untuk membedakan satu orang dengan orang lainnya, termasuk kita dan pasangan kita.

***

"Enak to ngomong doang? Aku bisa nek cuma nulis kayak gitu di blog," kataku pada temanku. Memang berteori sangatlah mudah. Sebab itu dream jobku adalah menjadi penulis atau motivator. Biar aku mendapatkan bayaran untuk hal-hal yang cuma bisa kupikirkan, namun belum tentu bisa kulakukan.

Dan aku pikir semua orang juga akhirnya seperti itu.

0 comments:

Post a Comment

My Instagram