Saturday, April 14, 2018

Perihal Gigi dan Gaya Hidup di Jakarta

Belakangan ini selain mengalami penurunan nafsu makan, mimpi buruk, dan mudah capek, aku juga mengalami masalah-masalah kesehatan fisik yang kubuat-buat sendiri. Misalnya ide untuk mencabut gigi yang semula sehat hanya demi 'nggak papa sih sekalian udah 6 tahun coy pake kawat gigi' dan akhirnya aku kepedean untuk cabut sana sini bahkan di kondisi yang mungkin nggak begitu baik untuk pencabutan.


Pada umumnya mencabut empat buah gigi ternyata tidak dilakukan satu kali. Sekali dicabut di sebelah kanan, lalu sebulan kemudian di sebelah kiri. Atas bawah bersamaan. Tadinya setelah pencabutan pertama dokter sudah memberitahuku sebaiknya kalau aku mau cabut gigi diusahakan kondisi tubuhnya fit, udah makan dengan bener, dan tidak dalam bepergian. Di pencabutan pertama, aku terpaksa makan dulu di Dirty Chick depan klinik sebelum akhirnya mencabut. Tapi dua jam kemudian aku udah lepas kassa dan makan eskrim dan beraktivitas seperti biasa. Jadinya aku pikir dokternya aja yang berlebihan.

Hingga di masa pencabutan kedua entah karena aku sok-sokan atau apa, hari itu aku cuma jajan-jajan lucu dan makan nasi pada pagi harinya. Padahal pencabutan itu akan berlangsung sore hari dan mungkin sampai keesokan harinya aku nggak bisa makan. Praktis aku bakal cuma makan sekali. Tapi lagi-lagi karena aku bego, yaudah diiya-iyain aja. Cabut. Sejam, dua jam, nggak papa. Di jam ketiga baru berasa kok udah dipakai makan es krim dan diminumin air tetep berdarah terus. Akhirnya aku nggak tahan, aku pake kassa lagi biar pendarahannya nggak makin parah.

Sialnya lagi malam itu juga aku ada flight ke Jakarta :')

Di pesawat aku menggigit kassa sambil menahan mual. Aku nggak ngebayangin kalau seandainya aku beneran muntah aih betapa noraknya aku yang naik pesawat aja mabok wkwkwk.

Sesampainya di Jakarta baru aku ke toilet lagi dan bener, aku muntah-muntah kecil di wastafel ketika kassanya kulepas. Huhu. Darahnya masih keluar. Tapi biar nggak manja, aku nggak pakein kassanya lagi. Di luar udah ada yang menjemputku dan aku minta tolong sama dia beliin air es dan makanan lunak yang bisa kumakan. Akhirnya makan dan minum, lalu di jalan aku udah ambruk aja sepanjang Halim sampai ke Menteng. Aku tidur beneran di mobil.

***

Sampai tadi malam aku merasa gigiku tidak ada masalah. Tapi tetep, mencabut empat gigi pada akhirnya menurunkan seleraku makan nggak kayak biasanya. Tidak lain karena dipake ngunyah rasanya nggak enak, juga karena sekarang aku cepet mual kayak ibu-ibu hamil muda. Kalau dengan nggak nafsu makan aku cuma kurus sih gapapa yah, masalahnya ini ngefek sampe ke kesehatan, kayak misalnya tekanan darahnya rendah, atau ada gangguan lambung. Shit happens.

Sekitar pukul 8 malam aku masih di kantor karena kini kami tinggal bertiga dan ada beberapa kerjaan sisa sprint minggu ini yang belum kelar jadi harus dikelarin. Tiba-tiba mulutku rasanya asin. Hmm aku minum air es. Ilang. Eh berasa asin lagi. Aku minumin air lagi.

Beberapa kali berasa gitu sampai akhirnya aku cek pake tissue dan bener.. berdarah. Wow. Aku ke toilet buat kumur-kumur. Bukannya berhenti malah makin menjadi. Aku akhirnya nyari es batu di pantry. Aku kompres sesuai saran dokter kalau terjadi pendarahan. Nggak mempan. Malah makin banyak tu aku nggak keitung minum berapa darahku sendiri huhu.

Karena panik dan dua rekanku panik juga, aku akhirnya ke dokter di Tebet yang baru beberapa waktu lalu aku daftar jadi member di sana biar dapat harga murah karena dokter gigi di Jakarta harganya agak nggak manusiawi. Selama di jalan kejebak macet aku udah mau nangis aja rasanya karena mulutku penuh liur bercampur darah dan aku udah nggak sanggup nelen karena kalo aku telen aku bisa langsung muntah di jalan.

Untung si abangnya pinter milih jalan dan untung aku nggak sok-sokan naik mobil jadi bisa nyelip-nyelip di jalan tikus dan nembus macet di Pancoran. Setelah sampai di dokter, bahkan nggak sampe masuk ke klinik aku udah langsung muntah dan ya Allah aku baru sekali itu liat darahku seserem itu. Huhuhu. Warnanya kehitaman dan menggumpal-gumpal saking banyaknya. Aku udah mau pingsan rasanya.

Masuk ke klinik mbaknya ternyata masih ngenalin aku dan sambil aku elap-elap sisa darahnya, aku minta tolong ini dicepetin ke dokter siapa aja yang available karena ini urgent anjinggg darahnya kek gini. Tapi aku masih disuruh nunggu sambil bersih-bersih di wastafel.

Sekitar 15 menitan dokternya available dan aku diperiksa. Guess what happened? Darahnya berenti. Dokter kemudian suruh aku kumur-kumur dan dicek ternyata lukanya di gusi nggak papa. Ya memang kebuka sih, tapi dikit aja karena mungkin kesenggol sesuatu yang aku nggak sadar. Tapi sekarang lukanya udah pulih.

Antara aku, dokter, dan perawatnya sama-sama bingung. Akhirnya aku cuma dikasih kasa dan dikasih resep just in case muncul kasus kayak tadi lagi. Aku bingung harus ngomong apa, tapi ya udahlah. Aku kemudian malah ke 90 degrees yang berada di sebelah klinik gigi itu dan di sana sampai malem. Dan ya, aku nggak papa.

***

Bicara soal masalah gigi sebenernya hal-hal kayak gini bukanlah suatu hal yang mengejutkan. Dulu juga karena kesalahanku sendiri (yang nggak buka tambalan non-permanen di gigi, karena kirain toh udah ditambal), aku jadi sampe harus dibedah-bedah gusinya dan seminggu sekali ke dokter gigi. Lalu urusan kawat gigi juga sebenarnya adalah kesalahanku sendiri yang nggak rutin check up jadi rencana dokternya berantakan dan yang rugi jadi aku sendiri karena susunan giginya jadi rusak.

Tetapi hidup di Jakarta dengan kondisi-kondisi seperti itu paling tidak memberitahuku untuk jangan mudah panik. Dan, agar bisa selalu mengandalkan diri-sendiri. Mengandalkan diri-sendiri berarti juga harus menyayangi diri-sendiri, karena di saat-saat kayak gitu nggak ada yang bisa nolong selain kita sendiri.

Aku berniat hidup sehat kembali, membawa bekal ke kantor, makan rutin, dan makan sehat. Aku juga mengurangi intensitas minum kopi, lebih banyak minum air putih, juga mungkin sesekali aku harus olahraga yang beneran olahraga. Tinggal di Menteng harusnya enak kalau cuma mau jogging pagi-pagi atau ke taman buat jalan-jalan. Selain itu mungkin aku perlu mengonsumsi vitamin dan obat-obatan untuk daya tahan.

Semoga loh ya.
Share:

0 comments:

Post a Comment