Saturday, April 14, 2018

Tentang Bersyukur dan Belajar Tidak Menyia-nyiakan


Di antara hal-hal yang kupikirkan di umurku ke-22 yang hampir berganti ini, salah satunya adalah bagaimana relasiku dengan orang-orang di sekitar. Berjarak semakin jauh, kini aku merasa semakin dekat dengan Bapak dan Ibu karena menurutku pada akhirnya memang merekalah yang menerimaku tanpa syarat. Segimanapun bentukanku, seasu apapun kelakukanku, itu cuma mereka yang bisa paling rapoponan dan tidak akan pernah merasa salah.

Kedua adalah lingkaran-lingkaran pertemanan yang makin ke sini semakin menyempit :')

I must say that yesss, I have very limited friends. Mungkin kalau ada orang-orang yang benar-benar berarti sebagai teman, yang itu artinya adalah mengetahui luar-dalam, kupercayai dan mempercayaiku dalam banyak hal, dan tidak ada rasa seganku untuk ngapain aja sama mereka, jumlahnya sangat sedikit. Tetapi dari jumlah yang sedikit itu, aku merasa bersyukur bahwa aku memiliki mereka.

Jika ada yang paling kuinginkan dari usiaku yang baru nanti, aku ingin bersyukur atas apapun yang kumiliki. Pekerjaan, teman, keluarga, atau mungkin pasangan kalau kelak aku yakin aku akan berpasangan dan itu artinya benar-benar 'berpasangan' ya, bukan lucu-lucuan. Aku ingin bersyukur dengan apapun yang kumiliki dan mereka yang ada di sekitarku. Mereka yang mau kutelpon dini hari padahal besoknya harus ngantor, mereka yang mau membagi "porsinya" padaku meskipun kadang-kadang jumlahnya terbatas, dan mereka yang juga bersikap seperti aku ini juga sangat berharga di mata mereka. Aku ingin bersyukur dengan kami yang bangga dengan pertemanan kami dan orang-orang di sekitar kami dan ada upaya untuk membuat satu sama lain bahagia.

Bagiku, dalam relasi apapun, kerja, berteman, orang tua dan anak, semuanya memerlukan timbal-balik. Dan hubungan timbal-balik ini, harus setara.

***
"Kamu tahu kenapa aku putus sama dia?"
"Kenapa?"
"Karena dia bikin aku sedih dan dia nyia-nyiain aku. Karena dia pikir, perempuan itu kayak Ujian Nasional. Dikejar mati-matian, tapi kalo udah ya udah."
Selama kuliah, aku telah menyaksikan banyak sekali drama patah hati, dari mulai digantung berbulan-bulan, hingga putus karena perselingkuhan sampai salah satunya stress dan berat badannya hilang 10 kg. Hmm bagus sih kalo cuma kurus aja. Yang parah kan kalo stressnya itu sampai mengganggu kehidupan sosialnya, kuliahnya, dll.

Maka atas nama 'belajar dari pengalaman orang-orang di sekitar', aku kini mewanti-wanti diriku untuk jangan berlarut-larut dalam kechaosan yang kamu buat-buat sendiri, apalagi kalau posisinya kamu tuh punya orang-orang yang sayang sama kamu, kenapa harus ada satu makhluk yang segini suka nyari gara-gara dan kamu biarin aja?

Maka seperti layaknya salah satu temanku yang usai patah hati memilih resign dan enhance kariernya dengan gaji berkali-lipat, aku merasa jika ada apa-apa aku juga harus rasional.
"Jangan pernah mau dengan orang yang menyia-nyiakan kamu."
Bagiku kini kalimat temanku itu relevan. Jangan mau sama orang yang tidak menginginkan kamu, atau menginginkanmu, tapi baginya kamu tidak berharga.

Kamu bukan barang yang bisa dimiliki trus bebas diapa-apain. Barang aja, yang benda mati, kalau kamu sayang dengan barang itu dan merasa itu berharga dan mendapatkannya perlu effort, kamu akan merasa itu sangat berarti. Sesimpel kayak ponsel busukku yang udah dua tahunan ini nggak ganti ya karena dulu menurutku aku beli itu pake uangku sendiri, jadi kayak value lain meskipun barangnya sebenernya nggak berharga, tapi menurutku ia sangat istimewa.

Kita semua dalam berelasi mestinya juga demikian.

Oleh karena itu aku ingin lebih banyak bersyukur, agar aku lebih bisa menghargai orang-orang di sekitarku dan juga agar aku bisa membuat mereka semua yang sangat baik padaku itu merasa berarti, dan berharga.

Agar aku tidak menyia-nyiakan mereka.

Sebaliknya, mereka yang tidak bisa bersikap sama untuk menghargaimu dan membuatmu merasa berarti, sebaiknya memang dikeluarkan dari lingkaran-lingkaran pertemanan. Karena relasi kalian tidak setara, dan itu namanya toxic.

Perihal Gigi dan Gaya Hidup di Jakarta

Belakangan ini selain mengalami penurunan nafsu makan, mimpi buruk, dan mudah capek, aku juga mengalami masalah-masalah kesehatan fisik yang kubuat-buat sendiri. Misalnya ide untuk mencabut gigi yang semula sehat hanya demi 'nggak papa sih sekalian udah 6 tahun coy pake kawat gigi' dan akhirnya aku kepedean untuk cabut sana sini bahkan di kondisi yang mungkin nggak begitu baik untuk pencabutan.


Pada umumnya mencabut empat buah gigi ternyata tidak dilakukan satu kali. Sekali dicabut di sebelah kanan, lalu sebulan kemudian di sebelah kiri. Atas bawah bersamaan. Tadinya setelah pencabutan pertama dokter sudah memberitahuku sebaiknya kalau aku mau cabut gigi diusahakan kondisi tubuhnya fit, udah makan dengan bener, dan tidak dalam bepergian. Di pencabutan pertama, aku terpaksa makan dulu di Dirty Chick depan klinik sebelum akhirnya mencabut. Tapi dua jam kemudian aku udah lepas kassa dan makan eskrim dan beraktivitas seperti biasa. Jadinya aku pikir dokternya aja yang berlebihan.

Hingga di masa pencabutan kedua entah karena aku sok-sokan atau apa, hari itu aku cuma jajan-jajan lucu dan makan nasi pada pagi harinya. Padahal pencabutan itu akan berlangsung sore hari dan mungkin sampai keesokan harinya aku nggak bisa makan. Praktis aku bakal cuma makan sekali. Tapi lagi-lagi karena aku bego, yaudah diiya-iyain aja. Cabut. Sejam, dua jam, nggak papa. Di jam ketiga baru berasa kok udah dipakai makan es krim dan diminumin air tetep berdarah terus. Akhirnya aku nggak tahan, aku pake kassa lagi biar pendarahannya nggak makin parah.

Sialnya lagi malam itu juga aku ada flight ke Jakarta :')

Di pesawat aku menggigit kassa sambil menahan mual. Aku nggak ngebayangin kalau seandainya aku beneran muntah aih betapa noraknya aku yang naik pesawat aja mabok wkwkwk.

Sesampainya di Jakarta baru aku ke toilet lagi dan bener, aku muntah-muntah kecil di wastafel ketika kassanya kulepas. Huhu. Darahnya masih keluar. Tapi biar nggak manja, aku nggak pakein kassanya lagi. Di luar udah ada yang menjemputku dan aku minta tolong sama dia beliin air es dan makanan lunak yang bisa kumakan. Akhirnya makan dan minum, lalu di jalan aku udah ambruk aja sepanjang Halim sampai ke Menteng. Aku tidur beneran di mobil.

***

Sampai tadi malam aku merasa gigiku tidak ada masalah. Tapi tetep, mencabut empat gigi pada akhirnya menurunkan seleraku makan nggak kayak biasanya. Tidak lain karena dipake ngunyah rasanya nggak enak, juga karena sekarang aku cepet mual kayak ibu-ibu hamil muda. Kalau dengan nggak nafsu makan aku cuma kurus sih gapapa yah, masalahnya ini ngefek sampe ke kesehatan, kayak misalnya tekanan darahnya rendah, atau ada gangguan lambung. Shit happens.

Sekitar pukul 8 malam aku masih di kantor karena kini kami tinggal bertiga dan ada beberapa kerjaan sisa sprint minggu ini yang belum kelar jadi harus dikelarin. Tiba-tiba mulutku rasanya asin. Hmm aku minum air es. Ilang. Eh berasa asin lagi. Aku minumin air lagi.

Beberapa kali berasa gitu sampai akhirnya aku cek pake tissue dan bener.. berdarah. Wow. Aku ke toilet buat kumur-kumur. Bukannya berhenti malah makin menjadi. Aku akhirnya nyari es batu di pantry. Aku kompres sesuai saran dokter kalau terjadi pendarahan. Nggak mempan. Malah makin banyak tu aku nggak keitung minum berapa darahku sendiri huhu.

Karena panik dan dua rekanku panik juga, aku akhirnya ke dokter di Tebet yang baru beberapa waktu lalu aku daftar jadi member di sana biar dapat harga murah karena dokter gigi di Jakarta harganya agak nggak manusiawi. Selama di jalan kejebak macet aku udah mau nangis aja rasanya karena mulutku penuh liur bercampur darah dan aku udah nggak sanggup nelen karena kalo aku telen aku bisa langsung muntah di jalan.

Untung si abangnya pinter milih jalan dan untung aku nggak sok-sokan naik mobil jadi bisa nyelip-nyelip di jalan tikus dan nembus macet di Pancoran. Setelah sampai di dokter, bahkan nggak sampe masuk ke klinik aku udah langsung muntah dan ya Allah aku baru sekali itu liat darahku seserem itu. Huhuhu. Warnanya kehitaman dan menggumpal-gumpal saking banyaknya. Aku udah mau pingsan rasanya.

Masuk ke klinik mbaknya ternyata masih ngenalin aku dan sambil aku elap-elap sisa darahnya, aku minta tolong ini dicepetin ke dokter siapa aja yang available karena ini urgent anjinggg darahnya kek gini. Tapi aku masih disuruh nunggu sambil bersih-bersih di wastafel.

Sekitar 15 menitan dokternya available dan aku diperiksa. Guess what happened? Darahnya berenti. Dokter kemudian suruh aku kumur-kumur dan dicek ternyata lukanya di gusi nggak papa. Ya memang kebuka sih, tapi dikit aja karena mungkin kesenggol sesuatu yang aku nggak sadar. Tapi sekarang lukanya udah pulih.

Antara aku, dokter, dan perawatnya sama-sama bingung. Akhirnya aku cuma dikasih kasa dan dikasih resep just in case muncul kasus kayak tadi lagi. Aku bingung harus ngomong apa, tapi ya udahlah. Aku kemudian malah ke 90 degrees yang berada di sebelah klinik gigi itu dan di sana sampai malem. Dan ya, aku nggak papa.

***

Bicara soal masalah gigi sebenernya hal-hal kayak gini bukanlah suatu hal yang mengejutkan. Dulu juga karena kesalahanku sendiri (yang nggak buka tambalan non-permanen di gigi, karena kirain toh udah ditambal), aku jadi sampe harus dibedah-bedah gusinya dan seminggu sekali ke dokter gigi. Lalu urusan kawat gigi juga sebenarnya adalah kesalahanku sendiri yang nggak rutin check up jadi rencana dokternya berantakan dan yang rugi jadi aku sendiri karena susunan giginya jadi rusak.

Tetapi hidup di Jakarta dengan kondisi-kondisi seperti itu paling tidak memberitahuku untuk jangan mudah panik. Dan, agar bisa selalu mengandalkan diri-sendiri. Mengandalkan diri-sendiri berarti juga harus menyayangi diri-sendiri, karena di saat-saat kayak gitu nggak ada yang bisa nolong selain kita sendiri.

Aku berniat hidup sehat kembali, membawa bekal ke kantor, makan rutin, dan makan sehat. Aku juga mengurangi intensitas minum kopi, lebih banyak minum air putih, juga mungkin sesekali aku harus olahraga yang beneran olahraga. Tinggal di Menteng harusnya enak kalau cuma mau jogging pagi-pagi atau ke taman buat jalan-jalan. Selain itu mungkin aku perlu mengonsumsi vitamin dan obat-obatan untuk daya tahan.

Semoga loh ya.

Thursday, April 12, 2018

Siang Tadi di Trafique

Ketika aku menulis post ini, aku sudah memutuskan untuk sepenuhnya kembali pada diriku yang kubayangkan paling menyenangkan. Aku menghidupkan kembali blog ini, mendandaninya dengan tampilan baru, dan mungkin akan menulis receh-receh lagi. Oh ya, aku berniat menutup akun Mediumku. Tapi ada beberapa tulisan di draft maupun yang telah terpublikasi yang belum dipindah. Jadi, mungkin akan terealisasi beberapa waktu ke depan ketika aku cukup selow.

Jadi, apakah sekarang aku cukup selow? Not really.

Tapi at least aku mencoba memahami mengapa aku harus setidaknya menikmati ke-tidak-selow-an ini dengan bahagia dan penuh rasa syukur. Sejak pagi tadi aku di Trafique. Sebuah kedai kopi unik di daerah Senayan yang sangat recommended untuk kerja dan berlama-lama. Sayangnya kalau kamu pakai Debit Mandiri, kamu minimal harus spend 100 ribu. Sementara, kalau BCA 50 ribu. Cashless society bgst.

Maaf ya, aku suka misuh-misuh dan ngomong kasar. Aku sepertinya memang begitu. Tapi percayalah aku nggak pernah ngomong kasar di depan anak kecil sebagai etika. Kedua, aku nggak pernah ngomong kasar ketika aku sedang marah. Satu dua orang paham. Beberapa yang lain masih belum, atau bahkan tidak paham sama sekali. Tapi ya sudah, aku biarin aja karena mengklarifikasi banyak hal yang terkait dengan penilaian orang terhadapku kayaknya terlalu wagu buat saat ini.

Pagi tadi salah satu temanku menyusulku ke Trafique. Dia menagih satu judul novel yang pernah kupinjam untuk kubaca beberapa bulan lalu, sekaligus membawa novel baru lagi. Nggak main-main. Novel yang dipinjamkan padaku adalah Cantik Itu Luka-nya Eka Kurniawan. Adapun novel yang dibawanya tadi pagi adalah Burung-burung Manyar karya Y.B. Mangunwijaya. Kataku padanya, "Aku kangen punya banyak waktu lagi baca-baca buku seperti ini. Kangen bisa berjam-jam di kedai kopi seperti ini sambil nulis. Pengen kayak gitu lagi."

Ya, aku memang sering nongkrong ataupun ngopi belakangan ini. Namun, itu antara nongkrong dengan perasaan kesel, atau nongkrong sambil dikejar deadline. Jadi aku menenteng laptop ke mana-mana.

***

Sesungguhnya kedatangan temanku tadi bukan semata-mata mengambil kembali novelnya, namun juga salam perpisahan karena minggu depan dia sudah tidak di Jakarta.

"Kenapa?" tanyaku.
"Pulang."

Ada banyak alasan untuk pulang, namun awalnya kupikir karena Jakarta memang tidak menyenangkan untuk tinggal.

"Tapi aku nyaman banget lho tinggal di Jakarta. Aku suka di sini. Justru menurutku di sini tuh ya aku kabur dari perasaan-perasaan tidak nyaman yang kualami di rumah. Kayak aku udah nggak punya 'rumah' dalam arti sebagai tempat pulang di sana."
"Kalo aku kebalikan," ujarku.

Lalu kukatakan bahwa sebenarnya Jakarta adalah kota yang sangat tidak nyaman. Satu-satunya kenapa aku suka ada di sini adalah karena aku bisa dengan mudah melupakan banyak hal. Jakarta adalah kota untuk mereka yang mau hilang ingatan. Tapi tidak ada rasa nyaman.

"Kok bisa?" tanyanya.
"Aku nggak tahu. Mungkin karena di sini aku nggak punya temen."

Bagaimana mungkin orang kayak Ervina nggak punya temen?

"Iya, karena definisi pertemananku cukup sulit untuk terealisasi di sini," kataku.

Sepanjang ingatanku, aku sudah singgah dan menetap di berbagai kota untuk waktu yang cukup lama. Pada masing-masing kota itu, ada beberapa kota yang kemudian membuatku tinggal seorang diri. Di Semarang selama kurang lebih 2 tahun hidup jadi anak kost, lalu di Jogja 4 tahun lebih hidup di kost juga.

Ketika pertama merasakan tinggal sendiri, yang terpikir adalah siapa kira-kira orang terdekatku. Tentu komunikasiku dengan orang tua sampai detik ini berjalan dengan baik. Namun, ada yang aku perlukan keberadaannya secara fisik juga. Yang sigap kalo aku kenapa-kenapa, yang tahu keseharianku, dan bersamaku dalam banyak hal. Mereka kemudian kusebut sebagai teman.

Aku punya banyak teman dari aku SMA di Semarang hingga aku di Jogja. Relasiku dengan mereka inilah yang membuat aku akhirnya kesulitan menemukan teman-teman baru, karena yang telah bertahun-tahun kukenal rasanya terlalu susah buat diulangi lagi dengan orang baru saat ini.

"Aku baru nyadar di sini aku nggak punya teman ketika kemarin aku pulang ke Jogja," kataku. "Ya aku punya teman di sini, tapi mereka semua sibuk. Mungkin seperti aku juga, dan seperti orang-orang di Jakarta pada umumnya."

Temanku diam menyimak. Kali terakhir kami bertemu memang ketika aku berkunjung ke tempatnya awal-awal aku di Jakarta, mungkin sekitar Januari lalu.

"Aku tuh ngelihat kayak kemarin aku di Jogja. Aku nggak punya kendaraan, ada orang yang mau antar-jemput aku. Aku nggak punya tempat tinggal yang mudah dijangkau karena rumahku jauh, ada orang yang bersedia ngasih tumpangan untuk aku tidur. Bahkan aku flight malem pun, ada yang mau nungguin dan bahkan nganterin aku ke bandara. Meskipun nggak jadi sih karena ujan dan aku nggak enak nyuruh dia ujan-ujanan jadi akhirnya aku naik taksi," ujarku memulai cerita.

Padanya juga aku bilang kalau hal yang sama terjadi di Semarang. Aku inget bagaimana setiap kali ke sana aku merepotkan banyak orang. Ada yang jemput di Sukun, ada yang anterin ke sana-sini. Bahkan suatu hari ketika aku naik kereta dari Semarang, aku dianterin rombongan sirkus sampe ke peron. Orang-orang ini juga yang selalu ada sejak aku SMA. Ketika motorku mogok kena banjir, ketika sakit dan butuh obat dan makanan karena gabisa ke mana-mana. Bahkan dulu aku sering diantar-jemput nebeng ke sekolah atau sekadar 'ada' karena dulu aku punya kelainan berupa nggak bisa makan sendirian. Harus ada temennya.

Kelak pada anak-anakku aku akan cerita dan menasihati, jadilah teman-teman yang baik seperti teman-teman Ibu karena hal-hal itu ternyata membekas sedemikian dalam pada ingatan orang tentang betapa berartinya orang-orang di sekelilingmu. Agar kelak ia akan lebih menghargai apapun yang ia miliki, dan agar ia tidak menyia-nyiakan orang-orang baik di sekelilingnya. Sebab mungkin suatu hari, ketika dia sendirian di tengah arus hilir-mudik orang-orang di Ibu Kota, ia akan rindu dengan kebaikan-kebaikan itu. Seperti yang kurasain sekarang.

Oke, aku mulai baper.

"Di Jakarta nggak bisa?"
"Nggak. Semua orang sibuk. Just like we did, kita semua sibuk. Ketemu aja kita jarang kan?" kataku retoris.

***

Tadinya aku berpikir orang-orang di sini mengecewakan. Namun, setelah aku pikir-pikir, bukan mereka yang mengecewakan, tetapi ekspektasiku. Jakarta mungkin akan mengajari kita, khususnya aku sih, untuk benar-benar dewasa, untuk tidak berekspektasi apapun pada orang lain, dan untuk bisa melakukan segala hal seorang diri.

Di Jakarta kamu harus bisa ngapa-ngapain sendiri. Kamu harus bisa memenuhi kebutuhanmu sendiri, makan sendiri, ke kantor sendiri, ke dokter sendiri, belanja sendiri. Mungkin kamu juga perlu mencari hiburan sendiri kayak nonton sendiri atau main ke kafe sendiri. Jangan mengandalkan orang lain bahkan di saat kamu paling membutuhkan orang lain.

Because too much expectation means too much disappointment.

Jadi, demi menjaga kewarasan diri sendiri, sebaiknya jangan berekspektasi banyak. Aku belajar itu di Jakarta.

Another thing is, belakangan aku mulai sadar bahwa mungkin semakin kita dewasa kita mungkin memang dituntut untuk semakin bisa mengandalkan diri sendiri. Sama kayak proses perkembangan orang secara alami sebenarnya. Misalnya ketika kecil, hal paling privat kayak buang air aja kita perlu orang lain. Dulu kita waktu kecil mandi aja perlu orang lain. Tapi, lama-lama kita juga terbiasa untuk melakukan itu sendiri. Dan ada fasenya ketika kita harus bener-bener bisa.

Itu mungkin fase perkembangan yang cukup signifikan dan bisa terlihat jelas, sebab berkaitan dengan fungsi fisik. Sementara hal-hal yang kusebutkan di atas mungkin sifatnya lebih psikologis, sehingga tidak banyak dibahas. Akan tetapi, mau tidak mau ya memang harus terjadi. Akan ada fasenya ketika segala hal yang kita hadapi memang harus dihadapi seorang diri. Bahkan ketika kamu punya orang-orang yang bisa diandalkan pun, kamu tetap harus melakukannya seorang diri.

Mengapa demikian?

Hmm mungkin karena kita nggak pernah tahu udah seberapa besar porsi yang kita ambil dari orang lain.

Begini, biar kujelaskan. Sebenarnya, kalau boleh jujur, aku masih punya orang-orang yang sangat bisa kuandalkan. Mereka yang kalo aku butuh apa-apa kucariin, kalau aku stress bisa digalauin, hal-hal semacam itu. Tapi belakangan aku tahu kalau setiap dari kita memiliki porsinya masing-masing, untuk seneng, sedih, dan bertahan dari perasaan-perasaan tidak enak yang mengganggu.

Ketika kita bercerita pada orang lain, kita mungkin secara tidak sadar mengambil 'porsi' dia untuk diri kita. Yang seharusnya dia punya masalahnya sendiri dan diselesaiin sendiri, jadi ikut keseret-seret di masalah kita. Percayalah, mereka adalah orang-orang tidak pernah menolakmu. Seburuk apapun kondisi mereka, serapuh apapun. Teman-teman dalam lingkaranku adalah mereka yang kupikir tidak pernah menolak bahkan di titik terendahnya.

Itu yang kemudian membuat aku berpikir ulang, haruskah aku melibatkan mereka?

Nggak. Aku rasa aku bisa menyelesaikan ini sendiri. Setiap aku punya masalah, sekarang aku mikirnya kayak gitu.

***

Sekitar tahun 2015 lalu, ketika di rumah sedang gonjang-ganjing masalah internal, aku menemukan sesuatu yang akhirnya menarik untuk kupelajari. Mindfulness namanya. Tidak lama berselang, akupun berkenalan dengan ajaran indigenous psychology dari Jawa bernama kawruh jiwa. Sebagai orang yang (mengaku-aku) suka membaca, akupun mencari banyak literatur terkait itu. Akupun menjadi akrab dengan jurnal-jurnal maupun buku yang berkaitan dengan itu. Sebab sebagai mahasiswa psikologi, yang juga adalah kaum terpelajar karena bagaimanapun aku lulus dari kampus yang digadang-gadang memiliki tingkat intelektualitas yang tinggi, aku mencoba mencari celah paling praktis dari semua teori yang pernah aku tahu.

Hasilnya tidak mengecewakan. Sedikit-sedikit aku belajar mengaplikasikan dan memahami konteks yang sebenarnya, meskipun demi apa, susahnya minta ampun. Misalnya ketika dalam ajaran kawruh jiwa dikatakan bahwa keinginan manusia tidak akan ada habisnya atau disebut dengan istilah mulur-mungkret.

Maknanya kurang lebih adalah ketika kita punya keinginan lalu tercapai, pikiran kita tersetting untuk nggak akan cukup karena keinginan itu pasti akan naik dan naik seperti yang juga diceritakan oleh Maslow dalam teori hierarki kebutuhan. Hal ini dalam kawruh jiwa disebut mulur. Sebaliknya, ketika kita punya keinginan yang tidak tercapai, kita mungkin akan kecewa. Namun, sebenarnya kita punya semacam respons alami untuk menurunkan standar demi juga mencapai kepuasan. Artinya, keinginan kita secara tidak sadar akan tereduksi dengan sendirinya (mungkret) dan dengan demikian kita akan merasa cukup dan bahagia.

Konsep ini terlalu ideal. Percayalah tidak semudah itu menghalau keinginan-keinginan lebih, begitu pula berkompromi untuk hal-hal yang tidak kita sukai. Tidak pernah mudah.

Namun, sebagai orang terpelajar, lulus dengan gelar S.Psi, dan aku alumni UGM, ehm, ya mau tidak mau harus belajar.

***

Berkompromi bagiku adalah sebuah pelajaran baru dalam hal apapun. Pekerjaan, pertemanan, diri-sendiri, dan kehidupan berpasangan. Dalam hal apapun, kita memang dituntut untuk berkompromi.

Aku lalu teringat dengan sebuah novel yang kubaca dari jaman SMA dan akhirnya aku curi dari perpus sekolah karena udah nggak ada di toko buku. Judulnya Musim Hujan Kali Ini karangan Kalpata123. Novel picisan, receh, tentang seorang gadis yang dipaksa menikah dan dijodohkan dengan pria asing yang tidak ia sukai.

Ketika aku SMA aku suka membaca novel-novel kayak gitu, makanya kehidupanku nggak sehat. Wkwk. Tapi percayalah dari novel yang receh dan bgst itu, ada sebuah hal sampai sekarang aku ingat dan menjadi sangat relevan pada akhirnya. Yakni ketika si tokoh, si perempuan itu, pada akhirnya menemukan makna dari sebuah relasi bernama pernikahan, dan bagaimana 'cinta' yang sebenarnya tidak melulu mirip dengan khayalan atau cerita-cerita princess.

Baginya, cinta itu seperti setengah lingkaran asimetris dengan diameternya itu menggambarkan sifat-sifat manusia yang selalu dinamis. Ketika orang mencari pasangan, ia akan mencari setengah lingkarannya lagi, yang juga sama-sama memiliki garis diameter asimetris. Ketika berpasangan dan berharap akan mendapatkan satu lingkaran yang utuh, rasanya mustahil. Sebab, bagaimanapun menentukan setengah lingkaran lagi yang memiliki pola yang cocok dan pas dengan pola yang kita miliki pada setengah lingkaran satunya, adalah hal yang tidak mungkin, mengingat pola-pola itu, yakni sifat-sifat kita sendiri, akan selalu berubah seiring dengan waktu. Begitu pula pasangan kita.

Jadi, mencari dan menunggu hingga ada setengah lingkaran yang pas untuk mencapai satu buah lingkaran penuh adalah hal yang sia-sia. Satu-satunya yang bisa kita lakukan adalah berpasangan, lalu melakukan penyesuaian-penyesuaian. Sesuatu yang akhirnya kini aku paham bahwa itu adalah sebuah kompromi.

garis merah menggambarkan sifat-sifat manusia yang dinamis sehingga bentuknya berubah-ubah

Tidak akan ada pasangan yang sempurna.

Namun, aku juga tidak setuju bahwa kita harus mencintai seseorang apa adanya. Nggak seperti itu. Bagiku untuk mencapai sebuah lingkaran yang pas, paling tidak dibutuhkan usaha-usaha dari kedua belah pihak, yang kemudian diiringi dengan kompromi pada hal-hal yang tidak bisa kita upayakan sama sekali dan menjadikan itu sebagai pemakluman.

Contoh gampangnya misalnya begini. Ada orang yang jobless, suka mabuk-mabukan, buang-buang uang untuk merokok, dan masa depannya nggak punya tujuan. Jelas ketika menerima orang yang seperti ini "apa adanya" ya itu goblok namanya. Bagaimanapun sebagai calon pasangannya, kita berhak menuntut untuk at least, misalnya kalau aku nggak suka orang mabuk atau merokok ya harus stop. Itu nggak bisa ditolerir lagi. Harus nyari kerja, karena bagaimanapun aku expect kalo aku punya laki-laki sebagai pasanganku ya dia harus bertanggung jawab, termasuk secara materiil. Adapun hal-hal yang bisa dikompromikan misalnya adalah ketika mungkin pekerjaan dia tidak sewow yang kita bayangkan atau misalnya ia perlu proses untuk mencapai standar-standar yang tinggi. Tenggat waktu kemudian menjadi kompromi.

Penggambaran lain dari bagaimana pasangan yang kudapatkan dari membaca novel itu tentu adalah pengetahuan bahwa kita dan pasangan mungkin tidak akan selamanya sama. Kompromi pada pasangan itu digambarkan sebagai diagram venn. Ada bagian yang beririsan dan ada bagian lainnya yang tidak. Itu menurutku wajar, dan bisa dikompromi.

salah satu contoh diagram venn pasangan

Hal lain yang akhir-akhir ini aku pahami juga adalah bahwa kompromi ini adalah sesuatu yang terjadi sepanjang hidup, dalam hal apapun. Berteman, bekerja, berpasangan, semua akan membutuhkan kompromi. Sebab bagaimanapun individual differences juga mengajariku untuk membedakan satu orang dengan orang lainnya, termasuk kita dan pasangan kita.

***

"Enak to ngomong doang? Aku bisa nek cuma nulis kayak gitu di blog," kataku pada temanku. Memang berteori sangatlah mudah. Sebab itu dream jobku adalah menjadi penulis atau motivator. Biar aku mendapatkan bayaran untuk hal-hal yang cuma bisa kupikirkan, namun belum tentu bisa kulakukan.

Dan aku pikir semua orang juga akhirnya seperti itu.