Mar 23, 2018

Pertemuan Rumit di Kedai Kopi


Di tepi Danau Munksjon, kami kerap berbincang banyak hal dan hanya pada seorang kawanku itu kerumitan-kerumitan yang kualami selama ini akhirnya terurai satu persatu.

"Kamu tau kan, sekarang, kenapa aku selalu takut menjadi psikolog?"
"I knew udah sejak lama," katanya enteng.

Seseorang mengenalkanku pada laki-laki asing yang tidak pernah kutemui dalam hidupku, namun aku selalu berkeyakinan aku pernah mengenal orang ini --entah di mana. Caranya memandangku, raut wajah manis manjanya, gesturnya yang kikuk, dan caranya yang luar biasa canggung memulai pembicaraan seperti tidak asing. Ini pertama kalinya kutemui orang ini, dan begitu pula dia. Namun, jauh di dalam pikiran kami masing-masing yang rumit dan penuh, aku yakin kami merasa saling kenal. Sangat dekat.

Tak heran jika setelahnya diceritakanlah pada orang-orang betapa ia menyukai hari pertemuan itu.

"Aku belum pernah sesuka ini pada seseorang," katanya pada setiap orang, seolah mereka peduli apa yang dirasakan. Laki-laki itu salah. Tidak ada seorang pun yang peduli. Baginya dan juga setiap orang, ia adalah pria yang rumit. Hanya satu orang yang akan selalu peduli pada seberapa rumit laki-laki yang dihadapinya itu; aku.

"Terima kasih sudah mau datang," katanya sambil menunduk malu-malu. Aku dibuatnya tersipu --entah kenapa.
"Sama-sama. Aku suka membantu orang," kataku.

Malam itu waktu berjalan pelan sekali dan bagi kami, secara tidak sengaja ada satu buah babak baru yang kami mulai. Sebuah cerita rumit yang ditulis oleh dua orang rumit yang dipertemukan dalam ketidaksengajaan, di waktu yang kurang tepat.

***



Sepotong lagi. Nanti dilanjutin kalau tidak malas menulis~
Share: