Mar 3, 2018

Pergi Jauh


Berjam-jam sebelum ini, yang kupikirkan hanyalah aku mau pergi. Yang jauh.

Di luar hujannya mulai turun. Besar kemungkinan penerbangan kali ini terlambat. Aku seumur hidup tinggal di Indonesia, rasanya sangat biasa menghadapi keterlambatan; hidup kita memang diciptakan terlambat atas banyak hal. Kita terlambat tahu perasaan, kita terlambat tahu emosi, kita terlambat tahu hal-hal yang semestinya sudah kita ketahui dari dulu. Namun, aku, aku membiasakan diri dengan keterlambatan itu. Semuanya.

Segelas kopi dari merk yang cukup terkenal. Kopinya pahit sekali. Dan encer tentu saja.

Seseorang menelponku.

"Kamu di mana?" Pertanyaan bodoh.
"Menurutmu, kalau aku masih mengangkat telpon, itu artinya aku masih ada di mana?"
"Jadi kamu belum berangkat? Hmm okay, nggak perlu dijawab. Kacau! Kacau tau nggak?!"
"Apanya yang kacau?"
"Dia tau kamu pergi, Re. Mbok bilang tu lho, jangan bikin orang panik kayak gitu," ujarnya penuh sesal. Tapi aku perempuan 22 tahun dan di tanganku sudah ada tiket dan paspor yang membawaku akan sangat jauh dari tempat perempuan itu menyesali banyak hal, juga tempatku duduk saat ini. Aku pasti bisa berpikir rasional.
"Sudahlah. Nggak usah terlalu terbawa perasaan. Aku tutup ya teleponnya. Aku chat nanti sesampainya di sana. Anyway, thanks yah semuanya! I'll miss you so much!"
"Tiati ya. Jangan suka ngerepotin orang. Hiks. Kok aku yang mewek sih."
"Lebay."
"Bodo."

***

Sebelumnya aku hanya berpikir bahwa aku akan pergi. Ada sebuah tempat di Skandinavia yang menarikku untuk datang. Bertahun lalu di Jakarta aku menemui seseorang yang meyakinkan aku bahwa ada sebuah tempat yang menyenangkan untuk tinggal.

"Aku perlu apa buat bisa ke sana?"
"Perlu niat aja sih buat pergi, karena kotamu sekarang lebih dari sekadar nyaman."

Pertemuan kami di Jakarta bukan kali pertama. Jauh sebelumnya aku telah mengenalnya bertahun-tahun di Jogja; di sebuah kota yang konon katanya nyaman dan serba ada. Semuanya serba murah dan orang-orangnya bahagia. Bagiku sendiri, selain menyimpan semua ingatan masa kecil, Jogja juga adalah rumah; tempatku pulang dan bertemu banyak orang yang menerimaku dalam kondisi apapun. Tidak ada yang semenyenangkan Jogja, sampai kemudian kehidupan orang dewasa menamparku begitu keras. Jogja bukan lagi tentang jatuh cinta dan segala hal yang menyenangkan. Seiring dengan itu, ia pelan-pelan menjadi kota yang menyimpan terlalu banyak ingatan, membuatku tidak bisa ke mana-mana, dan terjebak tentu saja.

"Kamu rumit," katanya suatu hari.
"Aku tahu."
"Aku capek sama pikiran-pikiranmu yang rumit."
"Kamu bisa bayangkan aku bagaimana?"

Berminggu-minggu, berbulan-bulan sebelumnya, kami hanya sibuk memperdebatkan sesuatu yang rumit dan tidak bisa kami pecahkan. Aku 22 tahun, dan ini untuk kali pertama aku memiliki emosi dalam tubuhku yang sekompleks ini.

Mengapa kita tidak jadi anak kecil saja, yang setelah semua terlewat, 5 menit kemudian lupa?
Mengapa kita tidak pura-pura menjadi tuli saja, menjadi bisu? Tidak usah lah memulai pembicaraan apapun. Sebab semakin kita bicara, semakin semua hal rumit.

Dua orang yang rumit bertemu dalam satu pusaran konflik dan aku kehabisan akal bagaimana harus mengurainya satu per satu. Aku menyerah. Kita mungkin menyerah.

Hari-hari setelahnya yang kupikirkan hanyalah danau-danau yang mengitari kota serta musim dingin yang janggal seperti yang sering diceritakan temanku.

"Namanya Jonkoping. Tidak sebesar kalau kamu bicara Stockholm atau kota-kota lain di Skandinavia. Tempatnya dingin dan mencekam, cocok buat orang dengan kepribadian aneh kayak kamu. Hahaha."

Aku cuma tersenyum tipis setiap kali dia menggodaku seperti itu. Tapi hari itu dia tidak menggodaku lagi. Semua orang pantas bahagia untuk kepergianku kecuali orang-orang tertentu yang sepenuhnya paham bahwa kepergianku kali ini memang hanya agar aku menghilang. Temanku mungkin juga demikian.

Jadi meski ketika pertama kali mengajakku jalan-jalan di Danau Vattern yang cantik dan kelabu, dia tidak sebegitunya ingin suasana di antara kami begitu bersuka cita.

"Kamu ingat Pras?"
"Teman kita di kampus?"
"Ya," katanya. "Dia di Leeds sekarang."
"UK?"
"Heem. Menyusul Nia yang sebelumnya sudah lebih dulu di sana."
"Oh, bagus dong."
"Belum tentu."
"Kenapa?"
"Kamu tau apa yang terjadi sebelumnya?"
"Apa?"
"Mereka putus. Orang tua Nia nggak setuju."
"Oh ya?"
"Iya."

Aku tidak tahu dari mana temanku ini tahu hal-hal seperti itu. Terakhir ia ke Indonesia adalah sewaktu di Jakarta menemuiku. Selebihnya ia tidak pernah pulang. Dan orang-orang yang ia bicarakan tadi, Pras, Nia, adalah teman-teman kami di kampus. Secara logis, harusnya aku yang lebih tahu apa yang terjadi pada mereka. Setidaknya karena kami sama-sama di Jogja. Entah mengapa bisa begitu.

"Kenapa kamu tiba-tiba cerita kayak gitu?" Aku mengernyit diikuti lengkungan karet dari bibir temanku.
"Aku mau bilang aja, ke kamu, kalau sometimes, hal-hal yang buruk terjadi pada kita, nggak selalu semuanya berakhir buruk. Kadang, hal-hal yang buruk itu, justru menjadi semacam gerbang pembuka untuk hal-hal baik yang kita nggak pernah terpikirkan sama sekali."
"Apa hubungannya?"
"Cerita Nia dan Pras menjadi salah satu contoh, kalau kadang, putus adalah suatu pilihan yang paling baik untuk kita melanjutkan mimpi-mimpi kita yang selama ini ketunda. Can you imagine kalau mereka nggak berkonflik dengan keluarga Nia dulu, Nia nggak akan nekat pergi ke UK. Pras, juga nggak akan semati-matian itu nyari beasiswa untuk juga bisa pergi. Ya meskipun mereka nggak satu kota sih. Dan yaa mereka nggak balikan juga akhirnya."
"Jadi?"
"Jadi, kadang-kadang, kita mungkin butuh sesuatu yang ngetrigger aja untuk kita ngelakuin sesuatu yang lebih. Dan sesuatu yang ngetrigger itu, bisa aja kadang hal yang buruk. Who knows?"
"Aku belum putus loh."
"Ya.. yaudah."

Kami diam lagi.

___

Bersambung ke bagian kedua kalau tidak malas menulisnya~
Share: