Mar 23, 2018

Pertemuan Rumit di Kedai Kopi


Di tepi Danau Munksjon, kami kerap berbincang banyak hal dan hanya pada seorang kawanku itu kerumitan-kerumitan yang kualami selama ini akhirnya terurai satu persatu.

"Kamu tau kan, sekarang, kenapa aku selalu takut menjadi psikolog?"
"I knew udah sejak lama," katanya enteng.

Seseorang mengenalkanku pada laki-laki asing yang tidak pernah kutemui dalam hidupku, namun aku selalu berkeyakinan aku pernah mengenal orang ini --entah di mana. Caranya memandangku, raut wajah manis manjanya, gesturnya yang kikuk, dan caranya yang luar biasa canggung memulai pembicaraan seperti tidak asing. Ini pertama kalinya kutemui orang ini, dan begitu pula dia. Namun, jauh di dalam pikiran kami masing-masing yang rumit dan penuh, aku yakin kami merasa saling kenal. Sangat dekat.

Tak heran jika setelahnya diceritakanlah pada orang-orang betapa ia menyukai hari pertemuan itu.

"Aku belum pernah sesuka ini pada seseorang," katanya pada setiap orang, seolah mereka peduli apa yang dirasakan. Laki-laki itu salah. Tidak ada seorang pun yang peduli. Baginya dan juga setiap orang, ia adalah pria yang rumit. Hanya satu orang yang akan selalu peduli pada seberapa rumit laki-laki yang dihadapinya itu; aku.

"Terima kasih sudah mau datang," katanya sambil menunduk malu-malu. Aku dibuatnya tersipu --entah kenapa.
"Sama-sama. Aku suka membantu orang," kataku.

Malam itu waktu berjalan pelan sekali dan bagi kami, secara tidak sengaja ada satu buah babak baru yang kami mulai. Sebuah cerita rumit yang ditulis oleh dua orang rumit yang dipertemukan dalam ketidaksengajaan, di waktu yang kurang tepat.

***



Sepotong lagi. Nanti dilanjutin kalau tidak malas menulis~

Mar 12, 2018

Berakhir pada Sebuah Tanya


"Apa yang paling menyenangkan dari tinggal di suatu tempat?"
"Hmm apa ya? Orangnya?"

Hari itu kami terjebak badai yang menghalangi makan malam bersama keluarga di rumah. Hujannya deras sekali dan berkali-kali pesanan taksi onlineku tidak membuahkan hasil. Aku memutuskan menutup laptop, meletakkan ponsel, dan lalu duduk memandangi titik-titik air yang turun di jendela kaca.

"Cokelat mau?" Seseorang duduk di atas kursi di seberang meja.
"Air putih lebih sehat," jawabku setengah bercanda.
"Kalo orangnya, mana yang paling mengesankan di antara orang-orang yang kamu temui sebelum ini?" tanyanya lagi. Aku mengernyit sebentar.
"Sepanjang ingatanku di Semarang. Kotanya panas sih, tapi orang-orangnya hangat. Suka misuh sih, ngomongnya kasar, tapi atmosfernya baik sekali."
"Kalau Jogja?"
"Jogja menyenangkan karena ceritanya. Orang-orangnya lebih banyak dan lebih beragam, tapi terlalu ekstrem."
"Ekstrem?"
"Kalau nggak hitam banget, putih banget. Nggak ada abu-abu. Antara yang menyenangkan sekali atau yang menyedihkan sekali. Ekstrem."
"Hahaha! Trus kalau Jakarta?"
"Flat. Aku nggak merasakan apa-apa."

***

Di Jakarta setiap orang memiliki porsinya masing-masing. Mereka yang tinggal di gerobak akan berbagi hidup dengan para anggota dewan, pejabat pemerintah, hingga para pimpinan perusahaan beromzet triliunan setiap bulannya. Mereka yang lahir, tinggal, dan jatuh cinta, akan berbagi tempat dengan para pendatang yang suka, ataupun orang-orang yang terpaksa atau setengah terpaksa. Yang memuja akan berbagi tempat dengan mereka yang mengutuki Jakarta. Setiap orang akan punya bagiannya, dan begitu pula aku di sini.

Tak heran jika semuanya menjadi lebih tidak peduli. Apa yang harus dipedulikan? Toh setiap orang akan punya bagiannya sendiri-sendiri. Apa yang mesti dipikirkan? Toh setiap orang akan punya masalahnya sendiri-sendiri. Hal-hal ini yang entah kenapa membuat orang-orang sepertiku merasa Jakarta adalah tempat yang ideal, untuk menghilang.

***

Kita tak pernah bosan memikirkan luasnya tata kosmik
Tapi di situlah kau dan aku luput memikirkan jagad diri kita masing-masing

Selamanya kita mungkin akan menjadi orang yang tidak mengenal diri kita sendiri. Dan selamanya pula, kita akan menjadi orang yang paling asing untuk orang-orang yang paling dekat keberadaannya. Itulah kenapa tidak mengherankan jika ada orang yang menghubungi gebetannya lebih sering dibanding orang tuanya. Akan ada orang yang rela menyisihkan uang untuk buka bersama atau memberikan cokelat Valentine pada koleganya, tetapi perincian untuk hadiah ulang tahun ibunya.

Sebab sayang pada orang-orang terdekat sudah terlalu biasa sehingga tidak ada lagi penghargaan yang berlebih untuk itu. Sebab berbuat baik pada orang-orang terdekat sudah terlalu sering, sehingga tidak ada nilainya. Kita akan selalu asing pada kedekatan-kedekatan yang kita ciptakan, dan pada orang-orang yang kita miliki. Namun begitulah kita, orang-orang yang terlalu sibuk memikirkan luasnya tata kosmik, namun luput pada jagat diri kita masing-masing.

***

Lampu-lampu berkedipan di Jakarta yang sepi
kota kita berdua, yang tua dan terlena dalam mimpinya
Kau dan aku berbicara tanpa kata, tanpa suara
ketika malam yang basah menyelimuti Jakarta kita
Apakah kau masih akan berkata
"Kudengar derap jantungmu.."
Kita begitu berbeda dalam semua
kecuali dalam cinta.

Jakarta yang sepi membisiki telinga kita dengan sebuah bahasa yang tidak kita mengerti untuk mengutarakan hal-hal yang tidak kita pahami. Ketika kau, aku, dan semua orang di sini terbius dan dilumat egonya masing-masing. Tapi Jakarta akan selalu seperti itu; asing dalam kedekatan, tak acuh dalam kata kepedulian yang sudah tidak ada harganya. Semuanya memiliki porsinya masing-masing.

Tapi aku, aku bersyukur.

Setidaknya aku tidak merasakan apa-apa.

***

Akhirnya semua akan tiba pada suatu hari yang biasa
pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui.
Apakah kau masih berbicara selembut dahulu
memintaku minum susu dan tidur yang lelap?
Sambil membenarkan letak leher kemejaku.

Kabut tipis pun turun perlahan-lahan
di lembah kasih, Lembah Mendalawangi.
Kau dan aku tegak berdiri
melihat hutan-hutan yang menjadi suram
meresapi belaian angin yang menjadi dingin.

Apakah kau masih membelaiku semesra dulu?
Ketika kudekap kau
dekaplah lebih mesra, lebih dekat

Hari pun menjadi malam
Kulihat semuanya menjadi muram
Wajah-wajah yang tidak kita kenal berbicara
dalam bahasa yang kita tidak mengerti
seperti kabut pagi itu.*



*puisi "Sebuah Tanya" oleh Soe Hok Gie

Mar 3, 2018

Pergi Jauh


Berjam-jam sebelum ini, yang kupikirkan hanyalah aku mau pergi. Yang jauh.

Di luar hujannya mulai turun. Besar kemungkinan penerbangan kali ini terlambat. Aku seumur hidup tinggal di Indonesia, rasanya sangat biasa menghadapi keterlambatan; hidup kita memang diciptakan terlambat atas banyak hal. Kita terlambat tahu perasaan, kita terlambat tahu emosi, kita terlambat tahu hal-hal yang semestinya sudah kita ketahui dari dulu. Namun, aku, aku membiasakan diri dengan keterlambatan itu. Semuanya.

Segelas kopi dari merk yang cukup terkenal. Kopinya pahit sekali. Dan encer tentu saja.

Seseorang menelponku.

"Kamu di mana?" Pertanyaan bodoh.
"Menurutmu, kalau aku masih mengangkat telpon, itu artinya aku masih ada di mana?"
"Jadi kamu belum berangkat? Hmm okay, nggak perlu dijawab. Kacau! Kacau tau nggak?!"
"Apanya yang kacau?"
"Dia tau kamu pergi, Re. Mbok bilang tu lho, jangan bikin orang panik kayak gitu," ujarnya penuh sesal. Tapi aku perempuan 22 tahun dan di tanganku sudah ada tiket dan paspor yang membawaku akan sangat jauh dari tempat perempuan itu menyesali banyak hal, juga tempatku duduk saat ini. Aku pasti bisa berpikir rasional.
"Sudahlah. Nggak usah terlalu terbawa perasaan. Aku tutup ya teleponnya. Aku chat nanti sesampainya di sana. Anyway, thanks yah semuanya! I'll miss you so much!"
"Tiati ya. Jangan suka ngerepotin orang. Hiks. Kok aku yang mewek sih."
"Lebay."
"Bodo."

***

Sebelumnya aku hanya berpikir bahwa aku akan pergi. Ada sebuah tempat di Skandinavia yang menarikku untuk datang. Bertahun lalu di Jakarta aku menemui seseorang yang meyakinkan aku bahwa ada sebuah tempat yang menyenangkan untuk tinggal.

"Aku perlu apa buat bisa ke sana?"
"Perlu niat aja sih buat pergi, karena kotamu sekarang lebih dari sekadar nyaman."

Pertemuan kami di Jakarta bukan kali pertama. Jauh sebelumnya aku telah mengenalnya bertahun-tahun di Jogja; di sebuah kota yang konon katanya nyaman dan serba ada. Semuanya serba murah dan orang-orangnya bahagia. Bagiku sendiri, selain menyimpan semua ingatan masa kecil, Jogja juga adalah rumah; tempatku pulang dan bertemu banyak orang yang menerimaku dalam kondisi apapun. Tidak ada yang semenyenangkan Jogja, sampai kemudian kehidupan orang dewasa menamparku begitu keras. Jogja bukan lagi tentang jatuh cinta dan segala hal yang menyenangkan. Seiring dengan itu, ia pelan-pelan menjadi kota yang menyimpan terlalu banyak ingatan, membuatku tidak bisa ke mana-mana, dan terjebak tentu saja.

"Kamu rumit," katanya suatu hari.
"Aku tahu."
"Aku capek sama pikiran-pikiranmu yang rumit."
"Kamu bisa bayangkan aku bagaimana?"

Berminggu-minggu, berbulan-bulan sebelumnya, kami hanya sibuk memperdebatkan sesuatu yang rumit dan tidak bisa kami pecahkan. Aku 22 tahun, dan ini untuk kali pertama aku memiliki emosi dalam tubuhku yang sekompleks ini.

Mengapa kita tidak jadi anak kecil saja, yang setelah semua terlewat, 5 menit kemudian lupa?
Mengapa kita tidak pura-pura menjadi tuli saja, menjadi bisu? Tidak usah lah memulai pembicaraan apapun. Sebab semakin kita bicara, semakin semua hal rumit.

Dua orang yang rumit bertemu dalam satu pusaran konflik dan aku kehabisan akal bagaimana harus mengurainya satu per satu. Aku menyerah. Kita mungkin menyerah.

Hari-hari setelahnya yang kupikirkan hanyalah danau-danau yang mengitari kota serta musim dingin yang janggal seperti yang sering diceritakan temanku.

"Namanya Jonkoping. Tidak sebesar kalau kamu bicara Stockholm atau kota-kota lain di Skandinavia. Tempatnya dingin dan mencekam, cocok buat orang dengan kepribadian aneh kayak kamu. Hahaha."

Aku cuma tersenyum tipis setiap kali dia menggodaku seperti itu. Tapi hari itu dia tidak menggodaku lagi. Semua orang pantas bahagia untuk kepergianku kecuali orang-orang tertentu yang sepenuhnya paham bahwa kepergianku kali ini memang hanya agar aku menghilang. Temanku mungkin juga demikian.

Jadi meski ketika pertama kali mengajakku jalan-jalan di Danau Vattern yang cantik dan kelabu, dia tidak sebegitunya ingin suasana di antara kami begitu bersuka cita.

"Kamu ingat Pras?"
"Teman kita di kampus?"
"Ya," katanya. "Dia di Leeds sekarang."
"UK?"
"Heem. Menyusul Nia yang sebelumnya sudah lebih dulu di sana."
"Oh, bagus dong."
"Belum tentu."
"Kenapa?"
"Kamu tau apa yang terjadi sebelumnya?"
"Apa?"
"Mereka putus. Orang tua Nia nggak setuju."
"Oh ya?"
"Iya."

Aku tidak tahu dari mana temanku ini tahu hal-hal seperti itu. Terakhir ia ke Indonesia adalah sewaktu di Jakarta menemuiku. Selebihnya ia tidak pernah pulang. Dan orang-orang yang ia bicarakan tadi, Pras, Nia, adalah teman-teman kami di kampus. Secara logis, harusnya aku yang lebih tahu apa yang terjadi pada mereka. Setidaknya karena kami sama-sama di Jogja. Entah mengapa bisa begitu.

"Kenapa kamu tiba-tiba cerita kayak gitu?" Aku mengernyit diikuti lengkungan karet dari bibir temanku.
"Aku mau bilang aja, ke kamu, kalau sometimes, hal-hal yang buruk terjadi pada kita, nggak selalu semuanya berakhir buruk. Kadang, hal-hal yang buruk itu, justru menjadi semacam gerbang pembuka untuk hal-hal baik yang kita nggak pernah terpikirkan sama sekali."
"Apa hubungannya?"
"Cerita Nia dan Pras menjadi salah satu contoh, kalau kadang, putus adalah suatu pilihan yang paling baik untuk kita melanjutkan mimpi-mimpi kita yang selama ini ketunda. Can you imagine kalau mereka nggak berkonflik dengan keluarga Nia dulu, Nia nggak akan nekat pergi ke UK. Pras, juga nggak akan semati-matian itu nyari beasiswa untuk juga bisa pergi. Ya meskipun mereka nggak satu kota sih. Dan yaa mereka nggak balikan juga akhirnya."
"Jadi?"
"Jadi, kadang-kadang, kita mungkin butuh sesuatu yang ngetrigger aja untuk kita ngelakuin sesuatu yang lebih. Dan sesuatu yang ngetrigger itu, bisa aja kadang hal yang buruk. Who knows?"
"Aku belum putus loh."
"Ya.. yaudah."

Kami diam lagi.

___

Bersambung ke bagian kedua kalau tidak malas menulisnya~