Monday, August 6, 2018

Tentang Relasi dan Perempuan yang Gagal Memaknai Hidupnya


Fragmen Pertama

Ketika mendengar selentingan bahwa si Bunga --bukan nama sebenarnya-- memiliki suatu "romantisme" terlarang dengan --sebut saja-- Joko, hari itu aku cuma menganggapnya angin lalu. Meski di depan mataku sendiri, aku pernah menyaksikan "sikap tidak biasa" yang dilakukan oleh dua orang yang sudah sama-sama dewasa. Bagaimanapun, aku perempuan 20an tahun, aku bertahun-tahun kuliah psikologi, dan yang terpenting, aku pernah jatuh cinta dan memiliki suatu relasi intim dan romantis dengan lawan jenis. Aku bisa melihat dengan sangat jelas; ya, mereka memiliki relasi yang tidak biasa. Tapi.. masa sih? Bukannya si Joko sudah beristri dan punya anak?

"Memang gitu sisss!" Si pemilik informasi terlengkap di sana membuka suara. Hari itu kami sedang di jalan untuk makan malam di dekat kampus.
"Kamu serius?" tanyaku. Masih tidak percaya.
"Astaga! Ngapain aku bohong sama kamu tuh buat apa? Faedahnya apa buat aku tuh apa?"

Sepanjang makan malam kemudian, topik obrolan kami hanya berisi pertanyaan-pertanyaan yang bahkan sampai sekarang, lebih dari setahun berlalu semenjak hari itu, masih belum terjawab.

Sejujurnya, sebagai perempuan berumur 23 tahun, aku sampai sekarang bertanya-tanya, sebenarnya, bagaimana sih masa depan yang dibayangkan perempuan berumur 20an seperti kami, belum menikah, berpendidikan tinggi, dan memiliki pekerjaan yang membuat kami bisa bertahan hidup sebagai perempuan terhormat, memilih menyukai pria yang sudah berpasangan?

"Kira-kira apa ya, yang dipikirin orang-orang seperti Bunga itu? Jujur aja aku penasaran, karena logikaku sama sekali nggak masuk," ujarku jujur waktu itu.
"Entah."

***

Fragmen Kedua

Sejujurnya aku bersimpati dengan perempuan-perempuan yang menyukai lelaki milik orang. Kau tahu kenapa? Sebab laki-laki tidak mau disalahkan. Baginya, hal-hal yang seperti Bunga-Joko itu tidak akan terjadi kalau si perempuan tidak memulai duluan. Pada beberapa kasus, kadang lelakinya yang bangsat, namun, bahkan pada lelaki paling baik-baik sekalipun, hal itu bisa terjadi.

"Masa sih ceweknya yang mulai duluan?"
"Iya. Orang cowoknya ngebiarin aja kok. Nggak ngerespons."
"Braaay. Paham nggak sih, kalo ngebiarin aja itu berbeda dengan 'melarang dengan tegas' hm? Sekarang pertanyaanku, apakah si cowok sudah dalam usaha melarang dengan tegas?"

Orang di depanku diam saja. Aku tidak habis pikir bagaimana bisa posisi perempuan selalu serba salah seperti ini.

Dear lelaki, jika sampai kalian membaca tulisan ini, kalian masih tidak paham bagaimana psikologis perempuan seumuran kami. Begini, biar aku jelaskan.

Pertama-tama, kalian sudah bukan remaja. Jadi, itu yang harus kalian pahami. Ketika kalian sudah beranjak dewasa, percayalah relasi-relasi kalian akan semakin menyempit. Maka, sudah tentu kalian memahami dengan betul, bagaimana habit dari masing-masing orang di sekitar kalian.

Ketika kalian dewasa, ada dua jenis lingkaran pertemanan yang kalian punya. Satu jenis teman-teman yang memang sudah terikat waktu saking lamanya kalian berteman. Kedua, adalah teman-teman baru kalian yang kalian temui di tempat kerja. Dan tentu saja kalian tahu ya, relasi kolega itu "semestinya" seperti apa dan relasi pertemanan kalian yang sudah kelewat lama itu "normalnya" seperti apa.

Maka, ketika ada hal-hal yang tidak biasa, tolong jangan naif. Sudah tentu individu tersebut menaruh ekspektasi yang berbeda.

Bicara perihal ekspektasi inilah yang membahayakan. Dengar perdebatanku dengan orang barusan? Dibiarkan.

Sebagian laki-laki cukup baik dengan tidak menggubris hal-hal seperti ini, ketika mereka memiliki pasangan. Namun, demikian, jika tidak ditegaskan, itu artinya, kesempatan masih terbuka.

Ingat loh, ada perbedaan yang sangat besar antara "membiarkan tanpa menggubris" dengan "melarang dengan tegas" yang kemudian ditangkap oleh lawan jenis.

Dalam beberapa perbincanganku dengan teman-temanku, kami sepakat untuk menganggap manusia-manusia seperti ini sama sampahnya.

Bagi Lamia, misalnya, perempuan yang menyukai lelaki milik orang, atau laki-laki yang membiarkan perempuan seperti itu berseliweran di sekitarnya, dua-duanya sama-sama tidak tahu diri dan tidak punya harga diri. Si laki-laki tidak paham komitmen, dan si perempuan gagal memaknai kehidupannya. Menurut kami tentu saja hal yang sama terjadi juga pada laki-laki yang menyukai pasangan orang. Keduanya sama-sama tidak punya harga diri.

"Begitulah kalau tutup botol plastik dikasih nyawa."

Aku tertawa mendengar komentar Lamia, tapi aku setuju. Permasalahannya memang hanya orang-orang seperti kami tidak paham jalan pikiran mereka. Pun aku tidak pernah mengerti motivasi di baliknya. Mungkin tidak seperti mereka, kami masih mampu memaknai kehidupan kami dengan baik.

***

Fragmen Ketiga

Dalam perbincangan menuju ke bandara. Sesaat sebelum kembali ke Jakarta.

"Dalam relasi itu, ada laki-laki dan perempuan. Jika keduanya sudah sepakat untuk memiliki sebuah komitmen, maka keduanya wajib menjaga diri masing-masing, dan juga pasangannya. Nanti kalau kamu sudah dewasa, kamu akan tahu bagaimana caranya mempertahankan apa yang kamu miliki sebab itu hakmu. Percaya deh, sekeren-kerennya kamu menjadi perempuan, menjadi janda itu tetap bukan pilihan. Jadi menikah itu memang bukan sesuatu yang sederhana. Jangan sampai salah orang. Amit-amit."

Hari itu di ufuk timur Bandara Ahmad Yani Semarang yang baru, matahari mulai malu-malu muncul. Lalu-lalang orang mulai memadati bandara sepertiku menunggu pesawat pagi.

Sepanjang perjalanan dari Semarang ke Cengkareng, sampai di Menteng dan kembali ke kamar menyalakan AC dan melanjutkan tidur yang tertunda, aku berpikir keras. Benar juga ya. Menikah memang tidak sesederhana itu. Tetapi menjadi perempuan yang belum menikah juga ternyata tidak semudah itu.

Aku belum menikah. Di pikiranku saat ini, tidak ada sedikit pun terlintas bayangan bahwa aku menyukai lelaki milik orang. Bahkan pada beberapa teman lelakiku, jika pasangannya merasa kurang nyaman dengan pertemanan kami, aku mengalah untuk kebaikan kami semua. Aku bersumpah pada diriku sendiri, sekeren apapun orang itu, jika dia sudah jadi milik orang, maka tidak sedikit pun aku berhak atasnya. Tidak perlu jauh-jauh untuk mencari alasan mengapa harus begitu. Cukup pikirkan, bagaimana jika hal tersebut terjadi di kamu? Milikmu diambil orang, atau diganggu orang?

Alasan lain adalah kupikir sebagai perempuan, aku berhak memiliki kehidupan yang lebih baik dengan tanpa mengganggu atau menyakiti orang lain. Hal-hal yang kemudian bagi perempuan sepertiku, atau bahkan Lamia, diterjemahkan sebagai "pemaknaan atas hidup" kami yang harus diperjuangkan.

Perempuan yang menyukai lelaki milik orang adalah perempuan yang gagal memaknai hidupnya. Dan begitupun laki-laki yang menyukai perempuan milik orang lain. Mungkin akan lebih adil jika kubilang, orang yang menyukai milik orang lain, adalah mereka yang gagal memaknai hidupnya. Sebab mereka terlalu tidak berharga untuk sekadar menjaga harga diri dan kehormatannya, untuk, paling tidak, jangan mengganggu ketenangan dan kebahagiaan orang lain.

Friday, August 3, 2018

Ada Satu Hari


Ada satu hari di Bukit Ciumbuleuit. Waktu itu anginnya sejuk meski matahari terik membakar kulit. Kau dan aku duduk berdua, di bawah pohon rindang yang sesekali kita keluhkan daun-daun gugurnya. Tak jauh di sana, hamparan hijau sejuk dipandang mata. Kan, kubilang juga apa. Bandung jauh lebih menyenangkan daripada Jakarta.

Kau dan aku duduk berdua. Kita diam saja dan tidak tahu mau apa. Tapi kita duduk saja, berdua. Meresapi setiap sajak yang pernah ditulis Sapardi dalam puisi-puisinya.

Kita berdua saja, duduk.
Aku memesan ilalang panjang dan bunga rumput.
Kau entah memesan apa.
Tapi kita berdua saja, duduk.
Memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga. Sampai suatu hari kita lupa untuk apa. "Tapi yang fana adalah waktu, bukan?" tanyamu. Kita abadi.


Sunday, July 29, 2018

Tiga Cerita Laki-Laki yang Memilih Perempuannya


"Aku pernah diputusin," kata temanku membuka pembicaraan. Dua orang di depannya menaruh minumannya masing-masing. Tampak wajah kami mulai serius. "Katanya aku perempuan nggak baik," katanya lagi.
"Nggak baik tuh ukurannya apa?" temanku akhirnya tidak tahan untuk tidak membuka mulut.
"Pertanyaan yang sama," jawabku.
"Mungkin karena kamu suka pulang malam," temanku lagi menimpali.
"Like we are doing right now?" tanyanya.

Hahahaha!

Kami serempak tertawa. Mungkin menertawakan dirinya masing-masing. Kisah dengan laki-laki tidak pernah tidak absurd dalam ingatan kami. Setidaknya begitu yang aku tahu sejak pertama kali kami kenal ketika SMA.

Temanku yang pertama.

Aku paham apa yang mencegahnya dari semua hubungan dengan laki-laki yang mencoba mendekat. "Aku suka dengan dia, dan aku mau kita stay kayak gini," ujarnya mantab suatu hari.

Hari itu adalah tahun kesekian ia menjalin relasi entah apa itu namanya, dengan seorang laki-laki yang kami kenal dalam suatu pameran di SMA. Laki-laki yang tidak buruk; ia tampan, terlihat cukup kaya, berasal dari keluarga baik-baik, dan diprediksi memiliki masa depan yang cukup bagus, terlebih setelah ia masuk di sebuah sekolah perminyakan milik salah satu BUMN. Temanku, pada saat itu, amatlah yakin, orang ini pantas untuk ditunggu. Dalam bahasa kami; worth it.

Beberapa kali dalam sebulan ia berkunjung ke kota kami. Kisah-kisah manis terjadi setelahnya. Dinner bersama, nonton film favorit, hal-hal yang aku yakin membuat temanku terjebak untuk tidak ke mana-mana, untuk yakin bahwa lelakinya adalah yang paling tepat. Ditepisnya semua jantan yang mendekat. Ia biarkan masa putih abu-abu hingga semester akhir di kampusnya datar tanpa kisah merah jambu khas remaja.

"Tapi, bukannya selama ini dia tidak menyatakan sesuatu?" kataku sanksi.
"Mungkin dia bukan tipikal lelaki yang mengungkapkan?" temanku masih membelanya dengan senang hati.

Aku senang melihat temanku senang. Tapi bagaimanapun, laki-laki baik tidak membiarkan sesuatu tergantung selama bertahun-tahun. Pada suatu hari di musim hujan, ketika kota kami tengah diguyur hujan yang sangat deras, lelaki itu mengatakan pada temanku bahwa ia tidak ingin berhubungan dengan perempuan dulu sebelum ia siap menikah.

It was like.. What? Lah selama ini kamu ngapain?

Apakah temanku patah hati? Tentu saja. Bayangkan jika mungkin dia selama ini memilih satu aja dari sekian banyak jantan yang mencoba mendekat. Mungkin dia sudah menikah, atau berkeluarga, atau dikenalkan keluarganya dan membina hubungan yang serius, atau apalah. Temanku tadi tidak. Ia tidak ke mana-mana. Hatinya ditawan bertahun-tahun untuk kemudian dibuang. Hancur berkeping-keping.

Yang lebih tidak kami semua pahami adalah tidak lama kemudian laki-laki itu menjalin hubungan dengan perempuan lain. Tentu saja, mereka tidak menikah, karena memang kami semua paham, mereka tidak siap untuk itu.

Laki-laki pertama ini, tidak bisa memegang omongannya sendiri. Seharusnya kemarin-kemarin dia cukup bilang bahwa dia bosan. Itu saja sudah cukup.

***

Temanku kedua.

Aku tidak pernah berpikir bahwa temanku bukanlah perempuan baik-baik. Kami semua perempuan baik-baik, kami tidak melakukan tindakan kriminal, kami tidak menyakiti perasaan orang, dan kami hormat pada orang tua. Aku rasa itu sudah cukup. Jika kemudian lingkungan membuat kami gemar nongkrong hingga larut malam, atau berteman dengan banyak lelaki, aku pikir itu tidak bisa jadi patokan bahwa perempuan ini tidak baik.

Temanku adalah yang terpintar dan kami memprediksikan dia yang akan menjadi terbaik. Lelaki yang dipilih dan memilihnya pun tidak asal. Keduanya sudah bersama-sama sejak SMA, saling bahu-membahu sampai kemudian kuliah, dan sekarang bekerja.

Beberapa waktu sebelum keduanya lulus, semua orang dapat memprediksikan bagaimana masa depan karier keduanya; seorang engineer yang sangat terampil dan strategist hebat untuk berbagai masalah bisnis yang kompleks. Dua orang yang gemar berpikir dan mendebat satu sama lain. Hubungan mereka manis hingga tiba-tiba lelaki itu mengatakan relasi itu harus selesai.

Tidak banyak hal yang dikatakan, namun temanku menyimpulkan ia dinilai kurang baik. Alasan yang sangat tidak logis, dan tentu saja tidak beralasan. Temanku menyangkal, tapi logikanya lebih dahulu jalan. "Relasi itu dibentuk dua orang. Kalau salah satu sudah tidak mau, apapun alasannya, ya sudah," katanya.

Lalu ia selesai. Apakah temanku sakit hati? Tentu saja. Berbulan-bulan ia mengurung diri, melewati hari-harinya yang tidak mudah, berusaha melupakan semua hal yang telah disusunnya berdua. Kini dua langkah itu harus berjalan-jalan sendiri, karena lelakinya tidak mau dengan perempuan yang kurang baik.

Yang lucu setahun berselang dan lelaki itu akhirnya telah memilih perempuannya.

"Ini pacarnya?" kataku.
"Iya."
"Kayak gini aja?"
"Iya."
"Hmm ternyata dia nggak nyari perempuan baik-baik."
"Iya. Dia cuma tidak mau disaingi oleh perempuannya. Dia butuh seseorang yang berada di bawahnya, secara akademis, secara pekerjaan, secara apapun; agar dia merasa lebih superior."
"Bagus lah kamu putus."

***

Bagaimana denganku?

Hahaha. Aku hampir tidak bisa berkata apa-apa selain menertawakan diriku sendiri beberapa waktu ini. Aku perempuan 23 tahun, dan percayalah ini bukan cerita cinta pertamaku. Sebelumnya aku pernah dengan laki-laki yang kuputuskan karena memintaku berhubungan seksual bahkan ketika aku belum berusia 17 tahun. Lalu pernah juga aku dengan laki-laki yang menyudahi relasi kami di tengah jalan karena baginya kami telah memilih jalan yang berbeda.

Apapun alasannya, aku hanya berpikir, aku belum bertemu orang yang tepat. Karenanya ketika aku bertemu sekali lagi dengan laki-laki yang ingin menjalin relasi "serius" denganku, kupikir dialah orang yang tepat.

Aku melihat ada banyak hal yang mesti kami usahakan bersama sebab lelakiku ini memiliki jalan hidup yang tidak mudah. Tadinya, aku berpikir bersamanya berarti menata sesuatu dari dasar, membangun pondasi yang kuat, merintis dari nol, dan berusaha sampai titik darah penghabisan.

Sebulan. Dua bulan. Tiga bulan. Semuanya berjalanan sangat manis karena lelakiku adalah yang terbaik dalam hal mengusahakan apapun yang saat ini tidak dimilikinya. Bagiku, yang terpenting laki-laki harus memiliki effort. Apa yang saat ini tidak dimilikinya, kelak akan dipunyai, jika mau menaruh effort yang cukup.

Lelakiku adalah yang paling pandai mem-pukpuk perasaan orang dengan segenap janji manis, mengajakku sekuat hati bertahan dalam kondisi-kondisi kami yang buruk, bersamaku di saat senang dan susah, serta mengusahakan semua hal sebisa-bisanya, sebaik-baiknya.

Dulu.

Setahun berselang dan aku tidak tahu apa yang terjadi di antara kami. Banyak hal yang kami tidak pahami, tetapi lelakiku berubah. Tentu setelah setahun lebih kami bersama, ada banyak hal yang mengubah kami. Kami lebih cerdas, karier kami membaik, kondisi finansial kami membaik, tetapi sikap kami satu sama lain; tidak.

Aku tidak ingin tahu siapa yang salah di antara kami, tetapi yang kulihat lelakiku kehilangan effort. Aku tidak paham apakah baginya "yang segini" sudah cukup, atau seperti lelaki teman pertamaku, ia hanya bosan.

"Itu manusiawi. Orang kan cepat bosan," kata temanku suatu hari, berusaha menengahi dengan bijak.
"Aku tahu. Hanya saja jika kami begini karena bosan, aku tidak berekspektasi cara kami seperti ini untuk menghalau rasa bosan."

Banyak hal terjadi beberapa waktu belakangan ini; semua hal yang aku tidak pernah bayangkan bahwa aku akan benar-benar mengalaminya. Aku jatuh bangun seorang diri, susah-susah sendiri, mati-matian bertahan sendiri juga, namun di situlah aku sungguhan sadar, aku benar-benar kuat ternyata; secara fisik, secara mental. Kelak suatu hari aku pasti akan sangat bangga dengan kekuatanku sendiri --yang ternyata ada.

Setelah melewati itu semua, bagiku kini semuanya sudah jelas. Aku berhadapan dengan dua orang yang berbeda. Lelaki itu bukan yang dulu kukenal atau membersamaiku di saat-saat terburuk, bukan yang pernah sekuat hati mengajakku bertahan, bukan. Tempat ini menjadikan dia sosok yang lain, menjadikan kami benar-benar berbeda. Dan aku, telah bersumpah, bahwa aku tidak akan menjadi perempuan yang mengemis-ngemis afeksi, jadi kukatakan padanya, "Aku tidak akan mengusirmu pergi, tapi aku juga tidak akan mengemis untuk memintamu tetap di sini."

Lebih tragis dari cerita dua orang temanku, kini aku berada di titik antara hitam dan putih yang membuatku tidak bisa ke mana-mana, namun juga tidak punya tempat untuk kembali.

"Menurutmu pilihan dia akan jatuh ke perempuan seperti apa?" tanya temanku.
"Mmm nggak tahu. Yang pasti tidak banyak menuntut," kataku.
"Hwaaaa. Apakah harus perempuan baik-baik???"
"Apakah dia hanya tidak mau pacaran kalau belum siap menikah??"

Hahahaha!

Kami tertawa sekali lagi.

***

Bagaimanapun, Jakarta mendidik kami untuk melupakan sesuatu dengan mudah. Pikirkan saja hal-hal yang konkret dan jelas menurut perhitunganmu. Di Jakarta semua hal yang sangat mudah dihitung; bahkan beberapa kali aku akhirnya mempercayai kasih sayang adalah hubungan timbal-balik. Ketika kamu membuat prioritas akan seseorang, ternyata kamu akan memiliki ekspektasi untuk orang tersebut memperlakukanmu serupa.

Patah hati lama-lama semestinya sudah lewat dari fase kami saat ini, sebab kami perempuan 23 tahun dan kami memilih rasional. Tidak boleh ada banyak waktu yang terbuang untuk sesuatu yang percuma.

Jadi malam ini, kami memutuskan untuk mengubur luka-luka itu tanpa sisa.

"Jadi.. menurutmu kita mesti gimana?"
"Hahahaha! Jangan pulang malem yang penting."
"Tapi tempat ini tutup jam 11."
"Yah. Yaudah pindah yang 24 jam gimana? Biar nggak pulang malem; subuh maksudnya! Hahaha."
"Pengen, tapi masih ada kerjaan."
"Sama!"
"Huhu yaudah kapan-kapan aja."

Tuesday, July 24, 2018

Fragmen dari Kembang Merak 

Kami menyebut tempat itu Jalan Kembang Merak, tepatnya di Bulaksumur Blok B-21.

Dini hari yang sama, 2014.

Kau menghampiriku yang meringkuk kedinginan, duduk di sampingku, lalu diam. Tidak ada kata-kata. Selalu seperti itu belakangan ini. Aku bingung mengapa orang seatraktif dirimu bisa sedemikian aneh di saat begini.

Hening sesaat, sebuah kalimat kulontarkan dengan harapan akan mencairkan suasana. “Mukamu keliatan bego dengan kaca mata itu.”

Sebuah kalimat yang jujur. Juga pahit bagimu —mungkin. Kamu bilang jujur itu pahit dan kau ucapkan terima kasih. Kubilang, “Sama-sama.”

Kita kembali bisu dalam kebekuan. Aku tidak tahu harus bicara apa lagi. Orang di depan kita tidak juga mengajak kita bicara. Dia kemudian malah pergi. Tinggal kita. Mengapa aku tidak pergi saja menjauh darimu? Menyusul teman-teman yang bercengkerama di lincak di halaman?

Tidak, aku sedang benar-benar kedinginan dan aku berharap bisa hangat berselimutkan kain lusuh itu di dalam rumah, di ruang depan. Ruang-ruang lain sedang dipakai kerja dan aku tidak ingin mengganggu kerja-kerja mereka. Kuputuskan tetap di tempat itu, di sampingmu. Kupeluk kedua kakiku yang dingin —sedingin kita waktu itu.

Kamu kembali mencoba membuka obrolan. Aku menanggapi. Kita lumayan bercerita banyak hal, tentang projekmu beberapa waktu ke depan, tentang tempat-tempat di kota kelahiranmu yang hampir setengah tahun tidak kukunjungi. Aku bercerita padamu suatu kali ketika aku diusir satpam di mall, lalu kamu tertawa terpingkal-pingkal. Aku benci dengan cara tertawa semacam itu. Kamu menanyakan di mana saja tempat-tempatku bermain bersama teman-teman semasa SMA, kuceritakan padamu tentang Kopi Miring, tentang kejadian absurd di Dapur Keju lengkap dengan ‘rumah princess’ impian di daerah Jl. Sultan Agung, tentang Pelangi, tentang Leker Paimo yang legendaris. Kamu bilang itu leker jahat dan aku tertawa saja mendengar alasanmu.

Kita bercerita cukup banyak dini hari itu, dan kamu —iya kamu— sedikit mengaburkan bayanganku tentang orang-orang sejenismu. Kamu barangkali berbeda dan itu cukup menyindirku. Saat kamu bilang, kami —aku dan teman-temanku— kaum ‘bobo’ yang berideologi bohemian namun bergaya hidup borjuis — entahlah, aku tidak menampik. Aku sering mendengar orang berkata seperti itu tentangku. Tapi jika yang menilai dirimu, aku tidak suka. Aku tidak tahu, tapi jujur aku tidak suka.

Ah lupakan saja waktu-waktu itu.

Katamu, masa lalu itu biar aja berlalu, kita melihat yang sekarang. Dan aku menginginkan kamu pun menilaiku yang sekarang. It’s okay lah, aku barangkali kamu nilai manja, mentel, nggak tahan banting, sukanya cuma hura-hura, dan sejenisnya, tapi hey! Seenggaknya aku sudah mencoba berubah dan kamu harus tahu bagaimana usahaku untuk itu! Please kali ini tolong hargai aku.

Dari ruang tengah editormu memanggil. Aku ke lincak menemui editorku, dia bilang sebaiknya aku tidur saja dulu.
***
“Bisa geser? Aku mau tidur dan kamarnya sedang dipakai,” ujarku. Kamu maju sedikit. Aku menawar, “Bisa geser lagi?”

“Gimana kalau kepalamu di pangkuanku aja?” ujarmu dengan mimik serius yang kutanggapi dengan seulas senyum —tidak, jangan sekarang, jangan di tempat seperti ini. Tapi akhirnya pun kamu mengalah, membiarkanku membaringkan tubuh di belakangmu sementara kamu masih asyik berkutat dengan tulisan di laptopmu.

Aku masih setengah sadar ketika teman-teman mengganggu tidurku, dan dengan nada kesal aku bilang jangan diganggu. “Bisa nggak lampunya dimatikan?” ujarku memerintah. Dan aku tidak tahu siapa yang kemudian bangkit mematikan saklar karena aku sadar cahaya lampu tidak sesilau sebelumnya.

Sepertinya kamu yang kembali berkorban editing di tengah ruangan yang remang-remang. Hmm mengapa kamu tidak pindah tempat saja sih? Di ruang depan toh bisa.

***

Begitu benar-benar bangun aku sadar kamu juga tertidur, dengan kepala di kasur, dan tubuh yang membentuk sudut sembilan puluh derajat denganku. Iya, tubuhmu ada di lantai yang dingin dengan sebuah kaos tipis yang melekat di badan. Saat kami semua sahur, kamu masih tertidur pulas dan kami membiarkanmu begitu saja.

Subuh menjelang, aku berencana pulang. Kucari tasku, ternyata sedang kamu pakai untuk bantal karena satu-satunya bantal kupakai sendirian tadi. Aku tidak tega membangunkanmu yang wajahnya tampak benar-benar lelah. Padahal, bukannya esoknya, maksudku, hari itu kamu akan menempuh perjalanan jauh ke ujung dunia?

“Bisa tolong kamu bangunin dia? Aku kok nggak tega,” ujarku pada seseorang. Dia menggoyangkan tubuhmu pelan, tetapi kamu tidak benar-benar sadar. Ya, wajahmu letih sekali.

“Diangkat aja kepalanya,” ujar orang itu. Aku menurutinya. Pelan kuangkat kepalamu untuk mengambil tas cokelat milikku. Kupandangi sebentar seuntai kalung yang kamu kenakan.

Hampir setahun aku di tempat ini, aku tidak pernah menyaksikanmu berpenampilan seperti itu. Kemarin ketika kita makan siang pun tidak ada kalung yang mengikat lehermu. Kalung itu — atau entah namanya rosario atau apa —begitu meresahkanku.

Entahlah, tapi waktu subuh itu, di sepanjang Gejayan aku begitu resah mengingat perihal sebuah kalung. Enggak tau kenapa.

Mungkin karena semenjak obrolan kita tentang iman, aku merasa ada yang benar-benar asing. Aku bukan seseorang dengan iman yang baik, kaupun begitu. Mengapa kita berubah sikap satu sama lain —hanya karena iman? Sebegitunyakah kita meyakini sesuatu atas nama iman?

***

Dini hari, masih tetap sama, 2018 — bertahun-tahun semenjak pukul satu dini hari itu di Kembang Merak.


Sudah sejak beberapa hari lalu setiap dini hari aku terbangun.

Kau tahu, belakangan ini aku diselimuti perasaan bersalah atas dosa-dosa yang kuperbuat sendiri. Jika kamu di sini, mungkin aku akan bercerita panjang lebar dan bisa saja seemosinal seperti yang dulu-dulu sering kamu lihat ketika aku memendam sesuatu —sebuah masalah.

Apa kabar imanmu hari ini? Imanku tetap sama —atau jika tidak bisa dibilang memburuk. Tidak tahu. Aku tidak paham apa yang terjadi padaku belakangan ini.

Namun hari-hari ini, aku mengingatmu sebab tiba-tiba aku mengamini kata-katamu.
“Oh sayangnya cinta itu tidak ada, Dek. Keinginan untuk memuaskan diri yang berkamuflase — itu yang kamu kira cinta. Perasaan cinta itu keyakinan terburuk yang pernah kamu percayai.” — suatu sore di Bulaksumur, 2014.
Kurasa orang memang tidak sungguhan memiliki perasaan suci bernama cinta itu. Kau benar kali ini. Aku ingin menemuimu untuk paling tidak mengatakan, kamu benar.Tapi mengingatmu juga menyadarkanku sesuatu, “Dan meskipun hanya kamuflase, tapi ingatlah bahwa dia yang paling peduli terhadapmu dan tidak pernah meninggalkanmu adalah dia yang paling pantas kamu yakini.”

Duh.

Aku salah dua kali. Pertama aku salah meyakini perasaan memuaskan diri yang ternyata berkamuflase itu. Kedua, aku salah meyakini orang.

Wednesday, July 11, 2018

Jakarta dan Kisah Setelahnya


Ini Selasa malam dan aku menghabiskan separuh soreku duduk di sebuah kedai kopi di daerah Pejaten. Di sebelahku barista yang kesepian memainkan gitar sementara cangkir-cangkir kopinya dibiarkan sepi. Ada dua orang pria duduk di meja depanku. Mereka berbincang urusan pekerjaan seperti halnya yang sering kulakukan sehari-hari. Tak jauh di luar, kendaraan padat merayap menunggu antrean untuk berjalan. Sesak. Jakarta tidak pernah ramah untuk fisik yang kelelahan, apalagi mental. Aku mengurung diri, memutuskan tidak pulang setidaknya sampai beberapa jam ke depan.

Di hadapanku sebuah laptop menyala. Persis ketika kutulis catatan ini, semestinya ada satu pekerjaan yang harus kuselesaikan; menulis report, menulis konten, membaca pekerjaan freelancer, banyak ternyata. Tidak hanya satu. Tapi aku lelah. Suhu tubuhku sudah mulai meninggi dan aku mungkin akan segera butuh paracetamol.

Aku tidak suka hari-hariku belakangan ini. Terlalu banyak pikiran kacau yang berkecamuk dalam benak. Namun, lebih daripada itu, aku ternyata hanya tidak suka merasa bodoh atas pilihan dan tindakanku sendiri.

Kau tahu, perempuan selalu punya intuisi. Ketika perempuan tidak yakin atas sesuatu, pastikan apakah ada sesuatu yang benar-benar salah dalam keputusan itu. Ketika perempuan tidak mempercayaimu, pastikan apakah kamu telah berkata sejujurnya atau tidak. Perempuan selalu punya intuisi. Dan itu intuisi itu, memberikan bisikan dari sesuatu yang terdalam, jujur, dan bagaimanapun, benar.

Lagu D'Masiv-Apa Salahku diputar. Astaga. Playlist Youtube-ku makin nggak karuan. Entah kenapa tiba-tiba aku ingat sesuatu. Aku teringat hari-hari ketika masih tinggal di rumah dinas, ingat Singkek, ingat Cicik, hingga hari-hari gitaran galau dengan Pak Agung yang dari jaman aku SMA sampai lulus S1 nggak tau jadinya udah lulus tesisnya atau belum. Aku melankolis sekali. Aku mengingat semua hal, terlebih teman-temanku.

Aku kangen.

Nggak pernah sekangen ini aku dengan mereka. Nggak pernah semelankolis ini aku mengingat suara berisik Okta dan Bakuh, pisuhan Hardi, wajah bego Dipta, hingga tengilnya Andre, atau muka preman Tania. Aku mengingat semuanya dan aku kangen. Sumpah demi apa.

Blog ini semestinya sudah aku tutup sejak aku memutuskan apply ke beberapa company yang (mungkin) akan mengevaluasi jejak digitalku. Aku menutup Instagram, bahkan Facebook. Aku alergi dengan beberapa hal, aku malas bertemu orang asing kecuali untuk urusan pekerjaan, dan aku malas untuk mengulang-ulang apapun.

Am I fool?

Kuulang-ulang dan berkecamuk di kepalaku. Selama ini aku ngapain? Kenapa aku melakukan ini?

Aku seperti menyusun puzzle seluas satu meter persegi yang rumitnya minta ampun. Aku paham puzzle ini mungkin baru diselesaikan secuil, mungkin baru sekitar lima centimeter di ujung. Tapi bahkan untuk menyusun itu aku berdarah-darah. Lalu tanpa sebab yang jelas, hasil berdarah-darah itu dirusak. Porak-poranda.

Rasanya kayak.. aku tahu mungkin memang sebaiknya puzzle serumit ini tidak perlu diselesaikan. Aku mungkin tidak perlu membuang waktuku terlalu lama. Tapi, bukannya paling tidak aku sudah berusaha untuk memulai dan bekerja keras untuk menyelesaikan --meski hasilnya belum seberapa?

Rasanya seperti tidak rela.

***
"Apa kamu bahagia denganku?"
"Iya"
"Tapi hidup tidak selalu baik-baik saja."
"Itu adalah hidup. Selama kamu nggak selingkuh, sepertinya hidup kita akan baik-baik saja."
"Nggak akan. Nggak akan."
"Itu cukup."
Di Jakarta kamu akan bisa dengan mudah untuk tidak bersyukur. Kamu akan melihat orang-orang bergelimang harta dan kesenangan. Open bottle dengan menghabiskan ratusan ribu rupiah. Dinner seharga jutaan. Ada sejuta alasan untuk selalu tidak bersyukur dan melihat hidupmu tragis; mengapa merk celanamu cuma Hardware sementara mereka bisa menikmati Uniqlo tanpa diskonan; mengapa tasmu bukan Hermes; mengapa untuk beli sepatu seharga dua juta saja harus berpikir jutaan kali sementara mereka bahkan beli sandal jepit seharga segitu?

Ada jutaan alasan untuk selalu tidak bersyukur dan sejuta kemampuan untuk melihat hidup kita sangat tragis.

Namun, di Jakarta pula, kamu akan mudah bersyukur ketika kamu masih bisa makan siang di Setiabudi One dan di jalan menuju kantor kamu melihat bapak setengah baya dengan gerobaknya. Matanya kuyu, tubuhnya kurus, dan kotor. Kamu akan melihat betapa bahagia hidupmu ketika melewati jembatan penyeberangan di Karet Kuningan, atau bahkan ketika duduk di kedai kopi dan memandang jendela keluar. Di sana akan kamu lihat abang-abang berseragam ojek online berdesakan mencari makan, menerjang lalu-lintas ibukota untuk sesuap nasi. Kamu akan melihat bagaimana bahagianya hidupmu masih bekerja di ruang AC dengan baju rapi dan mendapatkan bayaran setiap bulan, sekaligus akan melihat, bagaimana seseorang berjuang untuk orang-orang yang disayanginya.

Aku masih menonton film pendek dari Pijaru tentang sepasang kakek-nenek renta yang mempertanyakan kehidupannya selama ini, "Apakah kamu bahagia denganku meski hidup tidak baik-baik saja?"

Tentu saja hidup tidak akan selamanya baik. Akan ada waktu di mana hidup pasti tidak baik-baik saja. Tapi kamu meresponsnya bagaimana? Merenung? Marah? Menyesali? Atau apa?

Playlistnya semakin tidak karuan.

***

Di kedai kopi perempatan Jalan Pejaten Barat ini tadinya aku cuma berpikir aku akan butuh sendiri. Aku harus banyak bersyukur atas apapun yang selama ini aku punya; orang tua, teman-teman yang baik, dan support system yang menyenangkan.

Aku melankolis sekali dan aku merasa harus ada keputusan besar yang diambil, jadi aku perlu berpikir logis.

Orang boleh bodoh dan melakukan kesalahan. Tapi yang harus dipikirkan bukannya masa depan? Masa depanmu masih panjang, kan?

Wednesday, June 13, 2018

Dari Belakang


Aku pernah membaca sebuah cerita yang mengisahkan dua orang petualang yang dipertemukan dalam sebuah perjalanan. Dua orang yang sebelumnya asing satu sama lain. Dua orang yang tidak pernah bicara pada masing-masing.

Barangkali cerita itu demikian indahnya. Hingga satu per satu detail kejadian seolah terekam dalam ingatanku. Bagaimana mereka berkenalan melalui milis. Bagaimana sebuah perjalanan tanpa sengaja mempertemukan mereka yang sama-sama suka bepergian. Terakhir, aku mengingat persis bagaimana pada hari-hari usai mereka bertemu, bahkan tak ada sedikitpun pembicaraan. Keduanya hanya sempat menengok wajah masing-masing satu kali, lalu setelah itu sepi.

Hari demi hari. Minggu demi minggu. Tak seorang pun tahu bahwa satu di antara mereka pada akhirnya memutuskan menjadi pengintai. Yang mengintai jauh di belakang, menjaga jarak, menikmati setiap pemandangan punggung, dan tawa kecil-kecil yang muncul dari kelompok manusia yang melibatkan keduanya di sana.

Tak ada sapaan ramah, apalagi tatapan. Hanya punggung. Kubilang orang itu adalah seseorang yang mengintai dari belakang. Ya, hanya dari belakang. Menikmati punggung seolah dengan itulah dia jatuh cinta.
"Aku jatuh cinta pada seseorang yang bahkan aku tidak tahu warna matanya. Mungkin hijau. Mungkin juga cokelat muda."
Teori Sternberg memberiku keyakinan bahwa jatuh cinta yang demikian tidak ada. Itu infatuation. Bukan literally love. Infatuation akan menghilang seiring dengan waktu. Infatuation akan kedaluwarsa. Begitulah kira-kira.


Namun, hari ini adalah berminggu, berbulan, bahkan bertahun semenjak hari itu seseorang memutuskan jatuh cinta dari belakang. Hanya punggung yang terekam. Sesekali suara gelak tawa. Hanya itu. Sudah.

Saturday, June 2, 2018

Off Her Love Letter


"Saya senang kita telah berjalan jauh sekali sampai di titik ini. Saya senang pernah dikenalkan dengan sesuatu yang menjadi titik balik dalam hidup saya. Saya senang dinasihati tentang kejujuran, tentang value dari sebuah integritas, tentang menjadi orang baik, dan tentang menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. Saya senang pernah berbagi cita-cita dan bertukar cerita mengenai rencana-rencana. Meski pada akhirnya apa yang saya dan mungkin kita semua jalani sangat-sangat jauh dari apa yang pernah kita idam-idamkan dulu. Hahaha." --kutipan blog post Maret 2017.
Rasanya sudah lama sekali tidak menyebut diri sendiri dengan 'saya' seperti yang dulu kerap saya lakukan ketika bicara dengan seseorang. Oh ya, maaf, saya mengingatnya lagi malam ini.

Beberapa hari ini saya merasa agak tidak sehat. Setiap kali selesai berbuka, perut saya mual dan entah sedikit atau banyak, pasti muntah, entah kenapa. Saya cerita ke Angga. Dia tanya kenapa, saya juga tidak tahu. Saya panik, sedikit. Kalo Angga saya tidak tahu --mungkin khawatir, mungkin juga enggak.

Oh ya, saya teringat seseorang malam ini karena barusan saya membuka-buka catatan lama saya tentang banyak hal. Mungkin juga karena beberapa waktu kemarin seorang teman menggoda saya dengan 'acara liburan di Jogja dalam rangka mengenang Ervina' yang sangat Instagramable. Saya tertawa tentu saja.

"Apa sih? Udah bahagia dengan jalan masing-masing kok," jawab saya kalem. Meski ketika menjawab begitu, saya pun bertanya-tanya, iya po kita sudah bahagia dengan jalan masing-masing?

***

Dalam hidup ini, ada begitu banyak peristiwa yang kita lewati. Saya melewati banyak hal, dengan atau tanpa orang yang berkesan. Saya memiliki teman-teman dan orang-orang yang saya cintai, yang dengan mereka saya memiliki cerita, baik itu senang, sedih, lucu. Di antara peristiwa-peristiwa itu, kini setelah saya ingat-ingat, ada hal-hal yang pasti sangat saya sesali. Kini Ervina yang 23 tahun berpikir, kenapa dulu sebodoh itu? Coba dulu begini, maka sekarang mungkin begini, begitu, dan seterusnya.

Tapi yang sudah terjadi, seperti yang kita semua ketahui, sama sekali tidak bisa diulangi. Kini saya paham kenapa orang-orang berfantasi mengenai mesin waktu. Sebab saya yakin setiap orang pernah menyesali hidupnya di masa lalu. Dan kini, di masa ini, banyak dari mereka yang ingin mengubahnya; setidaknya ke dalam versi yang lebih baik.

***

Saya marah pada apapun yang tidak saya kehendaki. Bagi saya sesuatu harus seperti keinginan saya; sejak dulu dan mungkin sampai sekarang. Ini yang kemudian saya sadari bahwa ini membuat saya sulit berkompromi pada orang lain. Orang-orang di sekitar saya? Saya tidak tahu. Bisa jadi tidak, bisa jadi juga begitu.

Oh ya, maaf, saya mengingatnya lagi malam ini. Saya tiba-tiba teringat, mungkinkah seperti ini yang dia rasakan dulu? Kecewa ya? Marah? Kenapa tidak bisa sabar? Bukannya seharusnya dia tahu, saya memang 'berbeda' dengan dia. Toh, dia bilang bahwa kerja keras itu tidak mengkhianati. Mengapa dulu tidak bekerja keras untuk hal ini? Untuk agar semuanya baik-baik saja?

Ah, tapi ya sudah. Toh kita tahu kan, kita semua pernah menyesali hal-hal yang terjadi dulu. Dan jika saja ada mesin waktu, kita pasti akan kembali untuk mengubahnya ke dalam versi yang lebih baik. Tapi sayangnya mesin waktu tidak ada. Masa lalu tidak bisa diulangi dan satu-satunya yang bisa kita upayakan adalah menjadi versi yang lebih baik saat ini, dan ke depannya, bersama orang-orang yang kita miliki sekarang.

Saya pun demikian.

Ya ampun, saya akhirnya tidak tahu bagaimana harus berterima kasih untuk perjalanan yang sangat panjang ini. Terima kasih pernah mengajari saya menjadi orang baik, untuk menjadi orang yang selalu menemukan versi lebih baik dari dirinya di masa lalu. Terima kasih. Terima kasih sekali.

***

It's a love letter. Written with the tears.
But believe me, she is so happy. She found herself.
She has been getting so lost in her journey finding herself.
But believe me, she never wants to go back.
"Menemukanmu mungkin seperti menemukan versi terbaik dari diri saya sendiri. Versi terbaik dari sabar, dari memaafkan, dari menerima, dari semuanya."
Kita semua pernah memiliki masa lalu yang membuat kita berharap ada mesin waktu. Tapi ya sudahlah. Toh tanpa masa lalu itu, perjalanan kita tidak akan sampai hari ini. Tanpa yang pernah kita lalui dulu, kita mungkin tidak bertemu. Tanpa kesalahan-kesalahan sebelumnya, kita mungkin tidak tahu sekarang yang baik itu seperti apa dan kita harus berbuat apa untuk meraihnya. Tanpa yang sudah terjadi, kita tidak bisa belajar.

Menemukanmu seperti menemukan versi terbaik dari diri saya sendiri. Versi terbaik dari sabar, dari memaafkan, dari menerima, dari semuanya. Saya berharap kamu juga demikian, meski sekali lagi, ini tidak bisa dipaksakan.

Seseorang menasihati saya, untuk apapun yang terjadi, tetaplah berusaha menjadi versi lebih baik dari sebelumnya. Jika orang-orang yang kamu miliki saat ini tidak bisa dipertahankan, tetaplah menjadi lebih baik. Karena orang baik kelak akan dipertemukan dengan orang baik pula.

Jika kita bertemu karena suatu peristiwa, berterima kasihlah sebab mungkin setelahnya kita akan menemukan pelajaran dari pertemuan. Jika suatu hari ini selesai pun, tetaplah berterima kasih, sebab mungkin itu waktunya diri kita sendiri untuk upgrading. Mungkin setelahnya kita akan bertemu dengan orang-orang baru lagi, mengalami peristiwa-peristiwa baru lagi, dan tentu saja mengubah diri kita ke versi baru lagi, yang lebih baik dari sebelumnya sebab kita telah belajar.

Sedih berkepanjangan tidak ada, seperti halnya bahagia terus-menerus. Ini hanya fase. Fase akan terlewati pada waktunya. Yang kita perlukan cuma sabar dan memaafkan, iya itu dulu. Yang lain menyusul.


Jakarta, 2 Juni 2018 tengah malam.
Hujannya tidak ada sebab hujan bulan Juni adalah yang malu-malu menyatakan rintiknya pada pohon berbunga itu. Kita jangan, ya?

Thursday, May 31, 2018

Sunday Dinner Forgotten


Ibu perempuan yang memaafkan. Pada apapun yang dicintainya ia memaafkan. Ibu memaafkan anaknya yang tidak bisa menjadi orang baik. Ibu memaafkan pasangannya yang kerap menyakiti. Ibu memaafkan orang-orang yang berbuat buruk dan jahat padanya.

Ibu perempuan yang mencintai segala sesuatu seperti air. Jernih, bersih, menyegarkan, dan sabar. Ia memecah batu dengan tetes-tetes yang lembut, ia membersihkan tangan-tangan yang kotor, ia membasuh dan memberikan perasaan tenang, menghilangkan dahaga. Hal-hal yang tidak kupunya semuanya. Ketika kutanya mengapa demikian, katanya karena begitulah semestinya perempuan.

Aku perempuan juga. Tapi aku tidak bisa seperti itu. Aku pendendam. Aku mengingat semua hal yang tidak menyenangkan. Aku tidak memaafkan orang-orang. Aku membenci sesuatu yang tidak kukehendaki.

Bagiku selalu perlu waktu lebih lama untuk tidak apa-apa.

Di luar sana aku tidak tahu apakah lebih banyak perempuan-perempuan setipe aku atau Ibu. Semoga seperti Ibu.

Friday, May 25, 2018

Mencari Partikel yang Cocok


Semua orang aku yakin pernah mengalami kisah sedih ihwal patah hati, atau dibuat kecewa oleh sesuatu. Namun, aku juga yakin bahwa masing-masing orang punya porsinya sendiri-sendiri untuk mendapatkan pelajaran mahal. Paling tidak, dalam hal percaya-tidak percaya ini, ada sebuah pelajaran khusus yang akhirnya mungkin akan kuingat seumur hidupku: jangan mudah percaya pada orang, termasuk dirimu sendiri.



Kata orang, perasaan itu hadir karena proses. Mungkin karena sifat baik yang membuat luluh, mungkin juga karena terbiasa bersama sehingga jika salah satu menghilang, rasanya tidak utuh.

Namun, aku lebih suka menyebut bahwa orang jatuh cinta memang karena mereka diciptakan untuk jatuh cinta. Tidak ada proses. Proses hanya untuk menguatkan, atau mengikis pelan-pelan. Semacam, dua orang yang diciptakan untuk hidup bersama memang memiliki semacam partikel yang cocok dalam tubuhnya, sesuatu yang mengalir dalam darahnya, bersama detak jantung dan helaan napas.
In the middle of the heat, you have made my heart chills
Just like what they always say, love will come eventually
Bagaimana seseorang bertemu dengan pasangannya? Bagaimana mengetahui bahwa memang ada "partikel yang cocok" di antara mereka?

Akan ada seseorang yang membuatmu selalu merasa pulang dan memiliki rumah. Seperti menemukan butiran salju di tengah musim panas. Froze the tears, froze the fear, slow, and still.. and as the wind blows and the sun showers down the warmth of love.

Yah, please take me home, to your warm and peace..

Friday, May 18, 2018

Unrequited Love

ervina lutfi blog

Bagiku tidak ada yang abu-abu. Jika tidak hitam, maka putih. Jika tidak terang, maka gelap. Jadi aku tidak paham ketika ia mengatakan padaku bahwa mungkin kami bisa lebih dekat, namun tidak terlalu dekat.

Suara Bonnie Raitt mengalun di kepalaku.
Don't patronize me
'Cause I can't make you love me if you don't
Seumur hidup belum pernah aku merasa sebegininya disakiti orang. Jadi hari itu aku memilih pulang.

Berhari-hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan. Aku hampir lupa sudah bertahun-tahun lewat semenjak hari itu, tapi rasanya kepalaku masih dipenuhi tanda tanya.

***

Kata orang, jika kita merasa lama menemukan pasangan hidup kita, kita sebenarnya mungkin pernah sekali atau dua kali berpapasan atau bahkan bertemu dan berinteraksi dengannya; hanya waktunya yang tidak tepat. Seseorang mungkin akan 'batal' menjadi pasanganmu jika kalian tidak bertemu di waktu yang tepat.

Menunggu dan menunggu. Namun, ketika 'waktu yang tepat' dirasa sudah datang, "kondisi" yang memungkinkan semuanya berubah.

Hmm.
Kalau untuk pergi, kenapa harus kembali?
Kalau tidak tinggal, kenapa datang lagi?

Friday, May 4, 2018

Fiksi Terakhir


Aku mulai curiga temanku yang berpolitik sejak mahasiswa itu adalah politisi, atau paling tidak simpatisan Golkar ketika ia mengajakku ke tempat itu.

"Bukan! Itu nggak ada hubungannya! Hahaha!" katanya mengelak. Berlokasi di Cikini, sebenarnya aku sudah beberapa kali mampir atau sekadar lewat. Namun, tidak seperti biasanya sore itu dari mulai halaman hingga ke dalam-dalam gedung, semuanya ramai. "Sedang ada acara," kata mbak-mbak waitress memintaku menunggu terlebih dulu karena tempatnya penuh.

Aku kesal sebenarnya. Masa untuk makan saja harus menunggu? Ah tapi temanku juga tidak kunjung datang, jadi sambil melihat-lihat gedung yang sering kulewati setiap aku ke Cikini itu, aku memutuskan tetap di sana. Temanku bilang ia membawa motor, dan ia mengendarai motornya dari Bekasi, membawakan helm untukku.

"Oh kalo gitu aku nunggu aja deh ya," kataku agak tidak enak hati. Pasalnya aku tahu perjalanan dari Bekasi tidak pernah menyenangkan, apalagi di akhir pekan.

***

"Nggak ada putus baik-baik itu," katanya.
"Paling tidak yang setelah putus tidak ada konflik yang panjang. Ya kalau sakit hati ada, tapi memilih untuk diam-diam aja."

Kulihat dia diam sejenak sembari mengingat-ingat sesuatu. "Pernah," katanya. "Dulu waktu mau ke Jogja. Tapi alasannya cukup masuk akal, aku akan pergi jauh. Aku rasa kita susah kalau masih harus sama-sama, dan hal-hal semacam itu. Dan dia setuju. Asalkan kedua belah pihak saling setuju bahwa relasi itu harus selesai, aku pikir itu namanya putus baik-baik."

"Tapi, kalau masih cinta ya kenapa harus putus?"
"Ya pasti banyak alasannya. Bisa karena ragu, bisa karena terburu-buru mengambil keputusan, bisa juga karena mungkin orang perlu jeda terlebih dahulu."

Anginnya bertiup cukup kencang dan hari mulai gelap. Halaman Paradigma mulai tidak menyenangkan karena nyamuk dan panasnya Jakarta mulai terasa tidak ramah dengan pakaian yang kukenakan. Stelan serba hitam. Aku suka warna hitam, seperti kita musti berkabung setiap hari untuk mengingat setiap detik ini akan selalu ada orang yang menderita atau paling tidak bersedih. Lantas kita harus bersimpati pada mereka.

Ah, lupakan. Pikiranku cuma sedang ke mana-mana.



Bandung masih sama seperti hari-hari aku mengunjunginya. Atmosfernya menyenangkan. Setiap jalan-jalannya mengingatkanku pada Jogja, hanya orang-orangnya sedikit lebih apatis. Bandung seperti gadis tanggung yang disukai lelaki yang diam-diam dikaguminya; malu-malu tapi agresif. Dan hal-hal seperti itu, sayangnya tidak pernah berubah. Lucu sekaligus menyebalkan.

Di stasiun kereta ada banyak hal yang kuingan setidaknya dalam beberapa tahun terakhir. Drama menunggu, dimarah-marahin orang, hingga tertinggal kereta paling pagi menuju Jakarta. Bagiku tidak ada yang tidak kuingat, seperti setiap irisan kejadian yang pelan-pelan mulai kususun sebagai ingatan.

"Tapi itu mengganggu," katanya. "Aku tidak suka."

Aku tersenyum tipis. Belakangan aku suka wajahnya yang sedang pundung. Lucu seperti anak kecil yang merengek minta mainan.

"Kenapa?" tanyaku tak kalah menyebalkan. Sengaja.
"Ya nggak papa. Nggak suka aja."
"Oh.. tapi aku suka. Gimana dong?"
"Ya terserah," katanya sambil merangsek ke dalam selimutku. Setelahnya Bandung terasa hangat sekali. Dan aku belum pernah memiliki perasaan ketakutan sebesar ini jika ditinggal seseorang.

***

Pantai Manggar "Segara Sari" memiliki nama asli Pantai Segara Sari, namun warga lokal di sini menyebutnya Pantai Manggar. Mungkin karena lokasinya yang berada di Kelurahan Manggar, sebuah daerah kecil Kalimantan Timur, sekitar 9,5 km dari Bandara Sepinggan atau 20 km dari pusat kota. Ada beberapa pantai yang kuketahui ada di sini, namun entah kenapa paling banyak kuhabiskan di tempat ini.

Kurasa, bagi orang yang sejak kecil tinggal di daerah yang dekat dengan pegunungan, pantai apapun akan terlihat menarik. Namun, di sini aku tidak lebih merasa tempat ini menyenangkan hanya karena aku merasa rindu; pada semua hal yang jauh dan tidak terengkuh.

Lewat bertahun semenjak hari itu, namun rasanya masih banyak sekali hal yang tidak selesai. Aku cuma tidak menyangka akan seperti ini, pada akhirnya.

***

Di Jakarta aku merindukan banyak hal. Kantor berkubik-kubik di SCBD, hingga aroma nasi goreng pinggir jalan yang sekali atau dua kali pernah kutemui. Kuingat betul sebab cerita-ceritamu.

"Suka ya di Jakarta?" tanyaku.
"Mau jujur nggak nih?"
"Sejak kapan kamu jadi pembohong?"
"Okay.. kalau mau jujur, Bandung lebih menyenangkan."
"Oh ya? Kalau Jogja?"
"Jogja apalagi. Kenangan semua isinya!"

Sepersekian detik kemudian aku cuma memandangnya kosong.

"Eh?" Dia kikuk sendiri. Lalu tertawa basa-basi. Khas sekali jika mau berkelit.

Hari itu selepas menikmati makan malam di pinggir jalan kami memutuskan ke toko buku di Pacific Place. "Sengaja ya, ke sini pas udah kenyang? Biar nggak mahal bayarin aku makan? Haha!" selorohnya santai. Aku cuma tersenyum. Di hatiku ingin sekali menjerit bahwa kuajak ia ke sini sekadar memastikan tidak ada sedikitpun yang berubah di antara kami; bahwa kami masih menikmati makanan yang sama, membaca buku yang sama, melakukan hal-hal yang sama dan mungkin masih memiliki perasaan yang sama.

***

"Kau tahu? Aku suka dengan tempat ini," ujarnya ketika kopi pesanan kami datang. Aku duduk di hadapannya, menghadap secangkir kopi yang direkomendasikannya dan sepiring kudapan tradisional.

"Kenapa?" tanyaku. Dia kemudian menoleh.
"Di sini jendelanya besar sekali. Aku bisa melihat lalu-lalang orang. Kadang aku sendirian, dengan laptopku. Weekend paling sering. Kau tahu kan pekerjaan seperti aku ini tidak kenal waktu libur atau jam lembur kayak kamu."
"Jadi ini another place selain Starbucks?"
"Starbucksnya di situ," ujarnya sambil menunjuk ke seberang. Kami tertawa kecil.

Pukul 11 Kedai Tjikini sudah hampir tutup dan kami membayar pesanan kami di kasir. "Eh, biar aku saja," kataku mengeluarkan dompet.
"Wow wow wow! Ada apa nih?"
"Ya nggak papa. Jarang-jarang aku di Jakarta. Apalagi menculikmu jalan-jalan sehari semalam. Kapan lagi?"
"Bisa aja!"

Kami keluar dan sambil menunggu pesanan taksinya ia mengajakku berjalan menyusuri Jalan Cikini Raya yang masih ramai.

"Mungkin ada acara. Aku pesan di ujung jalan setelah TIM aja. Nggak papa kan, jalan?"
"Nggak papa. Aku yang khawatir karena kamu pakai sepatu hak tinggi."
"Santai. Perempuan karier sepertiku sehari-hari berkostum seperti ini. Kamu belum pernah lihat aku turun 10 lantai dengan sepatu macam ini karena panik ada gempa, kan?"

Aku tertawa. Di sepanjang jalan dia berjalan di sampingku. Tidak membiarkan aku duluan, atau dia yang tertinggal di belakang.

"Re?" kataku.
"Ya?"
"Aku minta maaf."

Dia menoleh ke arahku sebentar. Aku menghentikan langkah.

***

Bagi Azur, sahabatku, putus baik-baik itu tidak ada. Orang putus memang karena tidak saling cinta lagi. Sebab itu mereka putus karena tidak ada yang harus dipertahankan.

"Untuk alasan apapun, Re. Nggak ada yang namanya orang masih cinta, tapi pergi," katanya. Aku diam. Sudah berbulan-bulan perasaan tidak nyaman seperti ini menghantui. Azur mungkin menjadi salah satu yang terganggu atas kekalutan-kekalutanku. "Gini deh, Re. Gue nih, temen lo. Gue ada di sini, lo tau kenapa?"

Aku menggeleng.

"Ya karena gue care. Gue bela-belain loh, naik motor dari Bekasi lo tau sendiri segimana bangsatnya yekan weekend gini. Gue nih, Re, temen lo, dan gue care dengan apa yang lo alamin, gue berusaha membantu sebisa-bisanya gue. Kalo ada cowok, nggak bisa melakukan hal yang lebih dari apa yang gue lakuin, ya itu artinya dia sesimpel nggak peduli sama lo sih."

Kupandangi wajah sahabatku lurus.

"Lo boleh punya seribu satu alasan buat pergi. Tapi gue harap lo punya satu aja alasan untuk tetep stay sih."

***

Di Pantai Manggar segala hal tenang seperti halnya aku melihat laut. Ombak yang bergemuruh, angin yang mendesir-desir, dan segala sesuatu yang ingin kubuang begitu saja. Andai ingatan ini berbentuk, aku lebih rela membuangnya jauh-jauh. Mungkin lebih menyenangkan jika kukubur dalam pasir, atau kularung di laut bersama ombak-ombak hingga ke pulau seberang.

***

"Minta maaf untuk apa?" tanyanya.
"Semuanya," jawabku. Raut wajahnya berubah. Dia tertawa pedih.
"Dimaafkan kok. Kamu selalu dimaafkan dan aku akan selalu memaafkan."
"Aku minta maaf, Re."
"Aku tahu kamu harus minta maaf."

Kami diam. Jalanan di Cikini mendadak terasa lengang sekali. Sepintas Jakarta melambat seperti detik-detik sebelum kami berpamitan untuk pergi.

"Re," kataku. Orang yang kupanggil berdiri sejengkal di depanku. Aku merengkuhnya. Kupeluk seperti yang selalu kuinginkan selama ini. Dia pasrah. Aku cuma merasakan nafasnya yang hangat di leherku. "Sejak dulu aku sebenarnya aku ingin memeluk kamu seperti ini. Tapi aku nggak berani. Maafkan, Re."

Perempuan itu diam. Beberapa detik kemudian dia meresponsku. Dilingkarkannya tangannya di pinggangku. Aku merasakan sesuatu di jari manisnya.

***
Kekasihku, jika kamu membaca surel ini, aku berharap kamu sudah belajar untuk melupakan seperti ketika kau kecil semua orang memaksamu belajar mengeja. Kamu harus bisa, sebab kamu bisa.
Mulailah untuk tidak mengingat Jakarta seperti malam-malam ketika kita menghabiskan waktu bersama, dan Bandung atau Jogjakarta yang setengah benci dan setengah rindu.
Aku ingin kamu menghargai keputusan yang kuambil dan juga tidak akan kusesali. Atas nama bara api cinta yang pernah menyala dan membakar habis dalam hati kita masing-masing, yang telah kita titipkan pada debur ombak seperti ikal rambutmu.
Tapi, kekasihku, biarkan aku mencintaimu, dalam diam.


Saturday, April 14, 2018

Tentang Bersyukur dan Belajar Tidak Menyia-nyiakan


Di antara hal-hal yang kupikirkan di umurku ke-22 yang hampir berganti ini, salah satunya adalah bagaimana relasiku dengan orang-orang di sekitar. Berjarak semakin jauh, kini aku merasa semakin dekat dengan Bapak dan Ibu karena menurutku pada akhirnya memang merekalah yang menerimaku tanpa syarat. Segimanapun bentukanku, seasu apapun kelakukanku, itu cuma mereka yang bisa paling rapoponan dan tidak akan pernah merasa salah.

Kedua adalah lingkaran-lingkaran pertemanan yang makin ke sini semakin menyempit :')

I must say that yesss, I have very limited friends. Mungkin kalau ada orang-orang yang benar-benar berarti sebagai teman, yang itu artinya adalah mengetahui luar-dalam, kupercayai dan mempercayaiku dalam banyak hal, dan tidak ada rasa seganku untuk ngapain aja sama mereka, jumlahnya sangat sedikit. Tetapi dari jumlah yang sedikit itu, aku merasa bersyukur bahwa aku memiliki mereka.

Jika ada yang paling kuinginkan dari usiaku yang baru nanti, aku ingin bersyukur atas apapun yang kumiliki. Pekerjaan, teman, keluarga, atau mungkin pasangan kalau kelak aku yakin aku akan berpasangan dan itu artinya benar-benar 'berpasangan' ya, bukan lucu-lucuan. Aku ingin bersyukur dengan apapun yang kumiliki dan mereka yang ada di sekitarku. Mereka yang mau kutelpon dini hari padahal besoknya harus ngantor, mereka yang mau membagi "porsinya" padaku meskipun kadang-kadang jumlahnya terbatas, dan mereka yang juga bersikap seperti aku ini juga sangat berharga di mata mereka. Aku ingin bersyukur dengan kami yang bangga dengan pertemanan kami dan orang-orang di sekitar kami dan ada upaya untuk membuat satu sama lain bahagia.

Bagiku, dalam relasi apapun, kerja, berteman, orang tua dan anak, semuanya memerlukan timbal-balik. Dan hubungan timbal-balik ini, harus setara.

***
"Kamu tahu kenapa aku putus sama dia?"
"Kenapa?"
"Karena dia bikin aku sedih dan dia nyia-nyiain aku. Karena dia pikir, perempuan itu kayak Ujian Nasional. Dikejar mati-matian, tapi kalo udah ya udah."
Selama kuliah, aku telah menyaksikan banyak sekali drama patah hati, dari mulai digantung berbulan-bulan, hingga putus karena perselingkuhan sampai salah satunya stress dan berat badannya hilang 10 kg. Hmm bagus sih kalo cuma kurus aja. Yang parah kan kalo stressnya itu sampai mengganggu kehidupan sosialnya, kuliahnya, dll.

Maka atas nama 'belajar dari pengalaman orang-orang di sekitar', aku kini mewanti-wanti diriku untuk jangan berlarut-larut dalam kechaosan yang kamu buat-buat sendiri, apalagi kalau posisinya kamu tuh punya orang-orang yang sayang sama kamu, kenapa harus ada satu makhluk yang segini suka nyari gara-gara dan kamu biarin aja?

Maka seperti layaknya salah satu temanku yang usai patah hati memilih resign dan enhance kariernya dengan gaji berkali-lipat, aku merasa jika ada apa-apa aku juga harus rasional.
"Jangan pernah mau dengan orang yang menyia-nyiakan kamu."
Bagiku kini kalimat temanku itu relevan. Jangan mau sama orang yang tidak menginginkan kamu, atau menginginkanmu, tapi baginya kamu tidak berharga.

Kamu bukan barang yang bisa dimiliki trus bebas diapa-apain. Barang aja, yang benda mati, kalau kamu sayang dengan barang itu dan merasa itu berharga dan mendapatkannya perlu effort, kamu akan merasa itu sangat berarti. Sesimpel kayak ponsel busukku yang udah dua tahunan ini nggak ganti ya karena dulu menurutku aku beli itu pake uangku sendiri, jadi kayak value lain meskipun barangnya sebenernya nggak berharga, tapi menurutku ia sangat istimewa.

Kita semua dalam berelasi mestinya juga demikian.

Oleh karena itu aku ingin lebih banyak bersyukur, agar aku lebih bisa menghargai orang-orang di sekitarku dan juga agar aku bisa membuat mereka semua yang sangat baik padaku itu merasa berarti, dan berharga.

Agar aku tidak menyia-nyiakan mereka.

Sebaliknya, mereka yang tidak bisa bersikap sama untuk menghargaimu dan membuatmu merasa berarti, sebaiknya memang dikeluarkan dari lingkaran-lingkaran pertemanan. Karena relasi kalian tidak setara, dan itu namanya toxic.

Perihal Gigi dan Gaya Hidup di Jakarta

Belakangan ini selain mengalami penurunan nafsu makan, mimpi buruk, dan mudah capek, aku juga mengalami masalah-masalah kesehatan fisik yang kubuat-buat sendiri. Misalnya ide untuk mencabut gigi yang semula sehat hanya demi 'nggak papa sih sekalian udah 6 tahun coy pake kawat gigi' dan akhirnya aku kepedean untuk cabut sana sini bahkan di kondisi yang mungkin nggak begitu baik untuk pencabutan.


Pada umumnya mencabut empat buah gigi ternyata tidak dilakukan satu kali. Sekali dicabut di sebelah kanan, lalu sebulan kemudian di sebelah kiri. Atas bawah bersamaan. Tadinya setelah pencabutan pertama dokter sudah memberitahuku sebaiknya kalau aku mau cabut gigi diusahakan kondisi tubuhnya fit, udah makan dengan bener, dan tidak dalam bepergian. Di pencabutan pertama, aku terpaksa makan dulu di Dirty Chick depan klinik sebelum akhirnya mencabut. Tapi dua jam kemudian aku udah lepas kassa dan makan eskrim dan beraktivitas seperti biasa. Jadinya aku pikir dokternya aja yang berlebihan.

Hingga di masa pencabutan kedua entah karena aku sok-sokan atau apa, hari itu aku cuma jajan-jajan lucu dan makan nasi pada pagi harinya. Padahal pencabutan itu akan berlangsung sore hari dan mungkin sampai keesokan harinya aku nggak bisa makan. Praktis aku bakal cuma makan sekali. Tapi lagi-lagi karena aku bego, yaudah diiya-iyain aja. Cabut. Sejam, dua jam, nggak papa. Di jam ketiga baru berasa kok udah dipakai makan es krim dan diminumin air tetep berdarah terus. Akhirnya aku nggak tahan, aku pake kassa lagi biar pendarahannya nggak makin parah.

Sialnya lagi malam itu juga aku ada flight ke Jakarta :')

Di pesawat aku menggigit kassa sambil menahan mual. Aku nggak ngebayangin kalau seandainya aku beneran muntah aih betapa noraknya aku yang naik pesawat aja mabok wkwkwk.

Sesampainya di Jakarta baru aku ke toilet lagi dan bener, aku muntah-muntah kecil di wastafel ketika kassanya kulepas. Huhu. Darahnya masih keluar. Tapi biar nggak manja, aku nggak pakein kassanya lagi. Di luar udah ada yang menjemputku dan aku minta tolong sama dia beliin air es dan makanan lunak yang bisa kumakan. Akhirnya makan dan minum, lalu di jalan aku udah ambruk aja sepanjang Halim sampai ke Menteng. Aku tidur beneran di mobil.

***

Sampai tadi malam aku merasa gigiku tidak ada masalah. Tapi tetep, mencabut empat gigi pada akhirnya menurunkan seleraku makan nggak kayak biasanya. Tidak lain karena dipake ngunyah rasanya nggak enak, juga karena sekarang aku cepet mual kayak ibu-ibu hamil muda. Kalau dengan nggak nafsu makan aku cuma kurus sih gapapa yah, masalahnya ini ngefek sampe ke kesehatan, kayak misalnya tekanan darahnya rendah, atau ada gangguan lambung. Shit happens.

Sekitar pukul 8 malam aku masih di kantor karena kini kami tinggal bertiga dan ada beberapa kerjaan sisa sprint minggu ini yang belum kelar jadi harus dikelarin. Tiba-tiba mulutku rasanya asin. Hmm aku minum air es. Ilang. Eh berasa asin lagi. Aku minumin air lagi.

Beberapa kali berasa gitu sampai akhirnya aku cek pake tissue dan bener.. berdarah. Wow. Aku ke toilet buat kumur-kumur. Bukannya berhenti malah makin menjadi. Aku akhirnya nyari es batu di pantry. Aku kompres sesuai saran dokter kalau terjadi pendarahan. Nggak mempan. Malah makin banyak tu aku nggak keitung minum berapa darahku sendiri huhu.

Karena panik dan dua rekanku panik juga, aku akhirnya ke dokter di Tebet yang baru beberapa waktu lalu aku daftar jadi member di sana biar dapat harga murah karena dokter gigi di Jakarta harganya agak nggak manusiawi. Selama di jalan kejebak macet aku udah mau nangis aja rasanya karena mulutku penuh liur bercampur darah dan aku udah nggak sanggup nelen karena kalo aku telen aku bisa langsung muntah di jalan.

Untung si abangnya pinter milih jalan dan untung aku nggak sok-sokan naik mobil jadi bisa nyelip-nyelip di jalan tikus dan nembus macet di Pancoran. Setelah sampai di dokter, bahkan nggak sampe masuk ke klinik aku udah langsung muntah dan ya Allah aku baru sekali itu liat darahku seserem itu. Huhuhu. Warnanya kehitaman dan menggumpal-gumpal saking banyaknya. Aku udah mau pingsan rasanya.

Masuk ke klinik mbaknya ternyata masih ngenalin aku dan sambil aku elap-elap sisa darahnya, aku minta tolong ini dicepetin ke dokter siapa aja yang available karena ini urgent anjinggg darahnya kek gini. Tapi aku masih disuruh nunggu sambil bersih-bersih di wastafel.

Sekitar 15 menitan dokternya available dan aku diperiksa. Guess what happened? Darahnya berenti. Dokter kemudian suruh aku kumur-kumur dan dicek ternyata lukanya di gusi nggak papa. Ya memang kebuka sih, tapi dikit aja karena mungkin kesenggol sesuatu yang aku nggak sadar. Tapi sekarang lukanya udah pulih.

Antara aku, dokter, dan perawatnya sama-sama bingung. Akhirnya aku cuma dikasih kasa dan dikasih resep just in case muncul kasus kayak tadi lagi. Aku bingung harus ngomong apa, tapi ya udahlah. Aku kemudian malah ke 90 degrees yang berada di sebelah klinik gigi itu dan di sana sampai malem. Dan ya, aku nggak papa.

***

Bicara soal masalah gigi sebenernya hal-hal kayak gini bukanlah suatu hal yang mengejutkan. Dulu juga karena kesalahanku sendiri (yang nggak buka tambalan non-permanen di gigi, karena kirain toh udah ditambal), aku jadi sampe harus dibedah-bedah gusinya dan seminggu sekali ke dokter gigi. Lalu urusan kawat gigi juga sebenarnya adalah kesalahanku sendiri yang nggak rutin check up jadi rencana dokternya berantakan dan yang rugi jadi aku sendiri karena susunan giginya jadi rusak.

Tetapi hidup di Jakarta dengan kondisi-kondisi seperti itu paling tidak memberitahuku untuk jangan mudah panik. Dan, agar bisa selalu mengandalkan diri-sendiri. Mengandalkan diri-sendiri berarti juga harus menyayangi diri-sendiri, karena di saat-saat kayak gitu nggak ada yang bisa nolong selain kita sendiri.

Aku berniat hidup sehat kembali, membawa bekal ke kantor, makan rutin, dan makan sehat. Aku juga mengurangi intensitas minum kopi, lebih banyak minum air putih, juga mungkin sesekali aku harus olahraga yang beneran olahraga. Tinggal di Menteng harusnya enak kalau cuma mau jogging pagi-pagi atau ke taman buat jalan-jalan. Selain itu mungkin aku perlu mengonsumsi vitamin dan obat-obatan untuk daya tahan.

Semoga loh ya.

Thursday, April 12, 2018

Siang Tadi di Trafique

Ketika aku menulis post ini, aku sudah memutuskan untuk sepenuhnya kembali pada diriku yang kubayangkan paling menyenangkan. Aku menghidupkan kembali blog ini, mendandaninya dengan tampilan baru, dan mungkin akan menulis receh-receh lagi. Oh ya, aku berniat menutup akun Mediumku. Tapi ada beberapa tulisan di draft maupun yang telah terpublikasi yang belum dipindah. Jadi, mungkin akan terealisasi beberapa waktu ke depan ketika aku cukup selow.

Jadi, apakah sekarang aku cukup selow? Not really.

Tapi at least aku mencoba memahami mengapa aku harus setidaknya menikmati ke-tidak-selow-an ini dengan bahagia dan penuh rasa syukur. Sejak pagi tadi aku di Trafique. Sebuah kedai kopi unik di daerah Senayan yang sangat recommended untuk kerja dan berlama-lama. Sayangnya kalau kamu pakai Debit Mandiri, kamu minimal harus spend 100 ribu. Sementara, kalau BCA 50 ribu. Cashless society bgst.

Maaf ya, aku suka misuh-misuh dan ngomong kasar. Aku sepertinya memang begitu. Tapi percayalah aku nggak pernah ngomong kasar di depan anak kecil sebagai etika. Kedua, aku nggak pernah ngomong kasar ketika aku sedang marah. Satu dua orang paham. Beberapa yang lain masih belum, atau bahkan tidak paham sama sekali. Tapi ya sudah, aku biarin aja karena mengklarifikasi banyak hal yang terkait dengan penilaian orang terhadapku kayaknya terlalu wagu buat saat ini.

Pagi tadi salah satu temanku menyusulku ke Trafique. Dia menagih satu judul novel yang pernah kupinjam untuk kubaca beberapa bulan lalu, sekaligus membawa novel baru lagi. Nggak main-main. Novel yang dipinjamkan padaku adalah Cantik Itu Luka-nya Eka Kurniawan. Adapun novel yang dibawanya tadi pagi adalah Burung-burung Manyar karya Y.B. Mangunwijaya. Kataku padanya, "Aku kangen punya banyak waktu lagi baca-baca buku seperti ini. Kangen bisa berjam-jam di kedai kopi seperti ini sambil nulis. Pengen kayak gitu lagi."

Ya, aku memang sering nongkrong ataupun ngopi belakangan ini. Namun, itu antara nongkrong dengan perasaan kesel, atau nongkrong sambil dikejar deadline. Jadi aku menenteng laptop ke mana-mana.

***

Sesungguhnya kedatangan temanku tadi bukan semata-mata mengambil kembali novelnya, namun juga salam perpisahan karena minggu depan dia sudah tidak di Jakarta.

"Kenapa?" tanyaku.
"Pulang."

Ada banyak alasan untuk pulang, namun awalnya kupikir karena Jakarta memang tidak menyenangkan untuk tinggal.

"Tapi aku nyaman banget lho tinggal di Jakarta. Aku suka di sini. Justru menurutku di sini tuh ya aku kabur dari perasaan-perasaan tidak nyaman yang kualami di rumah. Kayak aku udah nggak punya 'rumah' dalam arti sebagai tempat pulang di sana."
"Kalo aku kebalikan," ujarku.

Lalu kukatakan bahwa sebenarnya Jakarta adalah kota yang sangat tidak nyaman. Satu-satunya kenapa aku suka ada di sini adalah karena aku bisa dengan mudah melupakan banyak hal. Jakarta adalah kota untuk mereka yang mau hilang ingatan. Tapi tidak ada rasa nyaman.

"Kok bisa?" tanyanya.
"Aku nggak tahu. Mungkin karena di sini aku nggak punya temen."

Bagaimana mungkin orang kayak Ervina nggak punya temen?

"Iya, karena definisi pertemananku cukup sulit untuk terealisasi di sini," kataku.

Sepanjang ingatanku, aku sudah singgah dan menetap di berbagai kota untuk waktu yang cukup lama. Pada masing-masing kota itu, ada beberapa kota yang kemudian membuatku tinggal seorang diri. Di Semarang selama kurang lebih 2 tahun hidup jadi anak kost, lalu di Jogja 4 tahun lebih hidup di kost juga.

Ketika pertama merasakan tinggal sendiri, yang terpikir adalah siapa kira-kira orang terdekatku. Tentu komunikasiku dengan orang tua sampai detik ini berjalan dengan baik. Namun, ada yang aku perlukan keberadaannya secara fisik juga. Yang sigap kalo aku kenapa-kenapa, yang tahu keseharianku, dan bersamaku dalam banyak hal. Mereka kemudian kusebut sebagai teman.

Aku punya banyak teman dari aku SMA di Semarang hingga aku di Jogja. Relasiku dengan mereka inilah yang membuat aku akhirnya kesulitan menemukan teman-teman baru, karena yang telah bertahun-tahun kukenal rasanya terlalu susah buat diulangi lagi dengan orang baru saat ini.

"Aku baru nyadar di sini aku nggak punya teman ketika kemarin aku pulang ke Jogja," kataku. "Ya aku punya teman di sini, tapi mereka semua sibuk. Mungkin seperti aku juga, dan seperti orang-orang di Jakarta pada umumnya."

Temanku diam menyimak. Kali terakhir kami bertemu memang ketika aku berkunjung ke tempatnya awal-awal aku di Jakarta, mungkin sekitar Januari lalu.

"Aku tuh ngelihat kayak kemarin aku di Jogja. Aku nggak punya kendaraan, ada orang yang mau antar-jemput aku. Aku nggak punya tempat tinggal yang mudah dijangkau karena rumahku jauh, ada orang yang bersedia ngasih tumpangan untuk aku tidur. Bahkan aku flight malem pun, ada yang mau nungguin dan bahkan nganterin aku ke bandara. Meskipun nggak jadi sih karena ujan dan aku nggak enak nyuruh dia ujan-ujanan jadi akhirnya aku naik taksi," ujarku memulai cerita.

Padanya juga aku bilang kalau hal yang sama terjadi di Semarang. Aku inget bagaimana setiap kali ke sana aku merepotkan banyak orang. Ada yang jemput di Sukun, ada yang anterin ke sana-sini. Bahkan suatu hari ketika aku naik kereta dari Semarang, aku dianterin rombongan sirkus sampe ke peron. Orang-orang ini juga yang selalu ada sejak aku SMA. Ketika motorku mogok kena banjir, ketika sakit dan butuh obat dan makanan karena gabisa ke mana-mana. Bahkan dulu aku sering diantar-jemput nebeng ke sekolah atau sekadar 'ada' karena dulu aku punya kelainan berupa nggak bisa makan sendirian. Harus ada temennya.

Kelak pada anak-anakku aku akan cerita dan menasihati, jadilah teman-teman yang baik seperti teman-teman Ibu karena hal-hal itu ternyata membekas sedemikian dalam pada ingatan orang tentang betapa berartinya orang-orang di sekelilingmu. Agar kelak ia akan lebih menghargai apapun yang ia miliki, dan agar ia tidak menyia-nyiakan orang-orang baik di sekelilingnya. Sebab mungkin suatu hari, ketika dia sendirian di tengah arus hilir-mudik orang-orang di Ibu Kota, ia akan rindu dengan kebaikan-kebaikan itu. Seperti yang kurasain sekarang.

Oke, aku mulai baper.

"Di Jakarta nggak bisa?"
"Nggak. Semua orang sibuk. Just like we did, kita semua sibuk. Ketemu aja kita jarang kan?" kataku retoris.

***

Tadinya aku berpikir orang-orang di sini mengecewakan. Namun, setelah aku pikir-pikir, bukan mereka yang mengecewakan, tetapi ekspektasiku. Jakarta mungkin akan mengajari kita, khususnya aku sih, untuk benar-benar dewasa, untuk tidak berekspektasi apapun pada orang lain, dan untuk bisa melakukan segala hal seorang diri.

Di Jakarta kamu harus bisa ngapa-ngapain sendiri. Kamu harus bisa memenuhi kebutuhanmu sendiri, makan sendiri, ke kantor sendiri, ke dokter sendiri, belanja sendiri. Mungkin kamu juga perlu mencari hiburan sendiri kayak nonton sendiri atau main ke kafe sendiri. Jangan mengandalkan orang lain bahkan di saat kamu paling membutuhkan orang lain.

Because too much expectation means too much disappointment.

Jadi, demi menjaga kewarasan diri sendiri, sebaiknya jangan berekspektasi banyak. Aku belajar itu di Jakarta.

Another thing is, belakangan aku mulai sadar bahwa mungkin semakin kita dewasa kita mungkin memang dituntut untuk semakin bisa mengandalkan diri sendiri. Sama kayak proses perkembangan orang secara alami sebenarnya. Misalnya ketika kecil, hal paling privat kayak buang air aja kita perlu orang lain. Dulu kita waktu kecil mandi aja perlu orang lain. Tapi, lama-lama kita juga terbiasa untuk melakukan itu sendiri. Dan ada fasenya ketika kita harus bener-bener bisa.

Itu mungkin fase perkembangan yang cukup signifikan dan bisa terlihat jelas, sebab berkaitan dengan fungsi fisik. Sementara hal-hal yang kusebutkan di atas mungkin sifatnya lebih psikologis, sehingga tidak banyak dibahas. Akan tetapi, mau tidak mau ya memang harus terjadi. Akan ada fasenya ketika segala hal yang kita hadapi memang harus dihadapi seorang diri. Bahkan ketika kamu punya orang-orang yang bisa diandalkan pun, kamu tetap harus melakukannya seorang diri.

Mengapa demikian?

Hmm mungkin karena kita nggak pernah tahu udah seberapa besar porsi yang kita ambil dari orang lain.

Begini, biar kujelaskan. Sebenarnya, kalau boleh jujur, aku masih punya orang-orang yang sangat bisa kuandalkan. Mereka yang kalo aku butuh apa-apa kucariin, kalau aku stress bisa digalauin, hal-hal semacam itu. Tapi belakangan aku tahu kalau setiap dari kita memiliki porsinya masing-masing, untuk seneng, sedih, dan bertahan dari perasaan-perasaan tidak enak yang mengganggu.

Ketika kita bercerita pada orang lain, kita mungkin secara tidak sadar mengambil 'porsi' dia untuk diri kita. Yang seharusnya dia punya masalahnya sendiri dan diselesaiin sendiri, jadi ikut keseret-seret di masalah kita. Percayalah, mereka adalah orang-orang tidak pernah menolakmu. Seburuk apapun kondisi mereka, serapuh apapun. Teman-teman dalam lingkaranku adalah mereka yang kupikir tidak pernah menolak bahkan di titik terendahnya.

Itu yang kemudian membuat aku berpikir ulang, haruskah aku melibatkan mereka?

Nggak. Aku rasa aku bisa menyelesaikan ini sendiri. Setiap aku punya masalah, sekarang aku mikirnya kayak gitu.

***

Sekitar tahun 2015 lalu, ketika di rumah sedang gonjang-ganjing masalah internal, aku menemukan sesuatu yang akhirnya menarik untuk kupelajari. Mindfulness namanya. Tidak lama berselang, akupun berkenalan dengan ajaran indigenous psychology dari Jawa bernama kawruh jiwa. Sebagai orang yang (mengaku-aku) suka membaca, akupun mencari banyak literatur terkait itu. Akupun menjadi akrab dengan jurnal-jurnal maupun buku yang berkaitan dengan itu. Sebab sebagai mahasiswa psikologi, yang juga adalah kaum terpelajar karena bagaimanapun aku lulus dari kampus yang digadang-gadang memiliki tingkat intelektualitas yang tinggi, aku mencoba mencari celah paling praktis dari semua teori yang pernah aku tahu.

Hasilnya tidak mengecewakan. Sedikit-sedikit aku belajar mengaplikasikan dan memahami konteks yang sebenarnya, meskipun demi apa, susahnya minta ampun. Misalnya ketika dalam ajaran kawruh jiwa dikatakan bahwa keinginan manusia tidak akan ada habisnya atau disebut dengan istilah mulur-mungkret.

Maknanya kurang lebih adalah ketika kita punya keinginan lalu tercapai, pikiran kita tersetting untuk nggak akan cukup karena keinginan itu pasti akan naik dan naik seperti yang juga diceritakan oleh Maslow dalam teori hierarki kebutuhan. Hal ini dalam kawruh jiwa disebut mulur. Sebaliknya, ketika kita punya keinginan yang tidak tercapai, kita mungkin akan kecewa. Namun, sebenarnya kita punya semacam respons alami untuk menurunkan standar demi juga mencapai kepuasan. Artinya, keinginan kita secara tidak sadar akan tereduksi dengan sendirinya (mungkret) dan dengan demikian kita akan merasa cukup dan bahagia.

Konsep ini terlalu ideal. Percayalah tidak semudah itu menghalau keinginan-keinginan lebih, begitu pula berkompromi untuk hal-hal yang tidak kita sukai. Tidak pernah mudah.

Namun, sebagai orang terpelajar, lulus dengan gelar S.Psi, dan aku alumni UGM, ehm, ya mau tidak mau harus belajar.

***

Berkompromi bagiku adalah sebuah pelajaran baru dalam hal apapun. Pekerjaan, pertemanan, diri-sendiri, dan kehidupan berpasangan. Dalam hal apapun, kita memang dituntut untuk berkompromi.

Aku lalu teringat dengan sebuah novel yang kubaca dari jaman SMA dan akhirnya aku curi dari perpus sekolah karena udah nggak ada di toko buku. Judulnya Musim Hujan Kali Ini karangan Kalpata123. Novel picisan, receh, tentang seorang gadis yang dipaksa menikah dan dijodohkan dengan pria asing yang tidak ia sukai.

Ketika aku SMA aku suka membaca novel-novel kayak gitu, makanya kehidupanku nggak sehat. Wkwk. Tapi percayalah dari novel yang receh dan bgst itu, ada sebuah hal sampai sekarang aku ingat dan menjadi sangat relevan pada akhirnya. Yakni ketika si tokoh, si perempuan itu, pada akhirnya menemukan makna dari sebuah relasi bernama pernikahan, dan bagaimana 'cinta' yang sebenarnya tidak melulu mirip dengan khayalan atau cerita-cerita princess.

Baginya, cinta itu seperti setengah lingkaran asimetris dengan diameternya itu menggambarkan sifat-sifat manusia yang selalu dinamis. Ketika orang mencari pasangan, ia akan mencari setengah lingkarannya lagi, yang juga sama-sama memiliki garis diameter asimetris. Ketika berpasangan dan berharap akan mendapatkan satu lingkaran yang utuh, rasanya mustahil. Sebab, bagaimanapun menentukan setengah lingkaran lagi yang memiliki pola yang cocok dan pas dengan pola yang kita miliki pada setengah lingkaran satunya, adalah hal yang tidak mungkin, mengingat pola-pola itu, yakni sifat-sifat kita sendiri, akan selalu berubah seiring dengan waktu. Begitu pula pasangan kita.

Jadi, mencari dan menunggu hingga ada setengah lingkaran yang pas untuk mencapai satu buah lingkaran penuh adalah hal yang sia-sia. Satu-satunya yang bisa kita lakukan adalah berpasangan, lalu melakukan penyesuaian-penyesuaian. Sesuatu yang akhirnya kini aku paham bahwa itu adalah sebuah kompromi.

garis merah menggambarkan sifat-sifat manusia yang dinamis sehingga bentuknya berubah-ubah

Tidak akan ada pasangan yang sempurna.

Namun, aku juga tidak setuju bahwa kita harus mencintai seseorang apa adanya. Nggak seperti itu. Bagiku untuk mencapai sebuah lingkaran yang pas, paling tidak dibutuhkan usaha-usaha dari kedua belah pihak, yang kemudian diiringi dengan kompromi pada hal-hal yang tidak bisa kita upayakan sama sekali dan menjadikan itu sebagai pemakluman.

Contoh gampangnya misalnya begini. Ada orang yang jobless, suka mabuk-mabukan, buang-buang uang untuk merokok, dan masa depannya nggak punya tujuan. Jelas ketika menerima orang yang seperti ini "apa adanya" ya itu goblok namanya. Bagaimanapun sebagai calon pasangannya, kita berhak menuntut untuk at least, misalnya kalau aku nggak suka orang mabuk atau merokok ya harus stop. Itu nggak bisa ditolerir lagi. Harus nyari kerja, karena bagaimanapun aku expect kalo aku punya laki-laki sebagai pasanganku ya dia harus bertanggung jawab, termasuk secara materiil. Adapun hal-hal yang bisa dikompromikan misalnya adalah ketika mungkin pekerjaan dia tidak sewow yang kita bayangkan atau misalnya ia perlu proses untuk mencapai standar-standar yang tinggi. Tenggat waktu kemudian menjadi kompromi.

Penggambaran lain dari bagaimana pasangan yang kudapatkan dari membaca novel itu tentu adalah pengetahuan bahwa kita dan pasangan mungkin tidak akan selamanya sama. Kompromi pada pasangan itu digambarkan sebagai diagram venn. Ada bagian yang beririsan dan ada bagian lainnya yang tidak. Itu menurutku wajar, dan bisa dikompromi.

salah satu contoh diagram venn pasangan

Hal lain yang akhir-akhir ini aku pahami juga adalah bahwa kompromi ini adalah sesuatu yang terjadi sepanjang hidup, dalam hal apapun. Berteman, bekerja, berpasangan, semua akan membutuhkan kompromi. Sebab bagaimanapun individual differences juga mengajariku untuk membedakan satu orang dengan orang lainnya, termasuk kita dan pasangan kita.

***

"Enak to ngomong doang? Aku bisa nek cuma nulis kayak gitu di blog," kataku pada temanku. Memang berteori sangatlah mudah. Sebab itu dream jobku adalah menjadi penulis atau motivator. Biar aku mendapatkan bayaran untuk hal-hal yang cuma bisa kupikirkan, namun belum tentu bisa kulakukan.

Dan aku pikir semua orang juga akhirnya seperti itu.