Nov 8, 2018

Melengkapi Fragmen Jakarta

Aku merangkum kembali seluruh ingatanku tentang mengapa aku mau ke tempat ini.

Dalam benakku Jakarta adalah segala hal yang kita butuhkan untuk lupa. Pernah suatu hari aku sakit hati sebegitunya dan Jakarta adalah tempat sempurna untuk pergi, menenggelamkan diri dalam rutinitas padat dan menuntut berpikir ekstra. Aku lalu lupa.

Di satu sisi Jakarta menawarkan hiburan yang meriah; konser murah, jam session gratisan, sampai pameran-pameran seni — dan semuanya bisa kamu nikmati seorang diri. Kamu mungkin tidak butuh orang lain untuk sekadar menikmati kelas-kelas di Bentara Budaya atau menonton konser di TIM.


Ini tahun pertamaku kembali lagi ke tempat ini. Dua tahun lalu ketika aku di sini emosiku melekat pada orang-orang yang kutemui; beberapa dari mereka mempengaruhi perspektifku hingga kini. Aku belajar banyak hal yang kini satu per satu ingin kuulangi.

Seingatku pertama kali aku bekerja secara profesional tahun 2014 dan waktu itu aku masih kuliah. Jadi aku ingat setiap pulang kampus aku ke kantor, menenteng laptop yang segede melon, begitu setiap hari bahkan di akhir pekan.

Karena aku tinggal di Concat, maka sudah pasti aku melewati derita dunia lampu merah Gejayan yang aduhay. Beberapa waktu kemudian aku menemukan sebuah kedai kopi di dekat kantor tempatku akhirnya banyak membaca buku-buku Ayu Utami dan beberapa penulis kenamaan lainnya. Maka aku memutuskan menghabiskan waktu senja di sana, menunggu Maghrib terlewat, bahkan sampai malam, hanya untuk bisa motoran dengan tenang.

Yes. Motoran sendiri. Sebelumnya ketika aktif di persma aku bahkan pulang melewati ringroad utara yang konon banyak klitih-nya seorang diri pukul satu dini hari. Saking seringnya aku pulang pukul satu ini, aku sampai punya sebuah prosa tentang sepasang roh yang berjalan-jalan pukul satu dini hari.

Setelahnya aku tidur dan besoknya kuliah setengah delapan pagi. Begitu setidaknya aku menghabiskan sepanjang tahun perkuliahan hingga awal 2016 aku memutuskan untuk resign untuk fokus KKN, skripsi — dan membuat startup wkwk.

“Aku mau seproduktif dulu sih, tapi dengan vibes Jakarta. Kayaknya asik deh. Soalnya di sini orang gerak serba cepat,” ujarku pada seorang kolega di kantor.
Maka dimulailah rutinitas ke kantor sebelum pukul sembilan.

Aku tetap pulang malam seperti biasa. Tapi paling tidak sekarang tidak pernah dugem atau pulang pagi — sudah setahun ini sepertinya, aku menghindari tempat-tempat beralkohol, dan juga teman-teman perokok.

Satu langkah progresif karena beberapa hari ini aku konsisten dengan tidak tidur pagi.

***

Apa yang membuat seseorang berubah?

Aku tidak tahu. Di pikiranku aku pernah melihat versi lebih baik dari diriku sendiri. Kini aku 20an tahun dan aku mungkin hampir punya segala hal yang menjadi standar apa saja yang harus dimiliki orang seumuranku; aku lulus dari kampus ternama, punya pekerjaan bagus, mandiri secara finansial, karierku progresif dan prospektif dalam beberapa tahun ke depan, teman-temanku baik, keluargaku menyenangkan, dan aku masih bisa ngereceh di Twitter — ini anugerah terbesar dalam hidup.

Satu-satunya yang kupikirkan memburuk adalah belakangan aku merasa aku terlepas dari otoritas akan diriku sendiri. Mungkin akhirnya aku menyadari aku terlalu bergantung pada orang lain.

“Nggak seindependen dulu,” komentar teman yang kukenal sejak SMA.

Akupun mulai berpikir hari-hari di mana aku hanya fokus pada belajar dan bekerja tanpa banyak drama yang bikin ambyarr semuanya.

“I have seen you better. Kamu orang yang di kafe sendirian, berjam-jam dengan laptop sama buku, ke mall sendirian, belanja sendirian, kamu blogger receh yang produktif, dan kamu sangat easy going,” katanya.

Ia meneruskan, “Kamu bahkan dicari temenmu pukul satu pagi untuk diajak ke burjo karena dia galau, dan kamu mau! You’re such a good friend! Di tengah vibes Jogja yang serba selo kamu bisa gerak cepet, temenmu cuma kuliah kamu udah milih kerja, temenmu di level LM kamu udah melenggang ke FORMAD. What does happen with you?”

“Hmm nggak tahu.”

***

Di benakku soal Jakarta kemarin-kemarin adalah sebuah upaya untuk lupa, sebuah tempat sempurna untuk hilang ingatan. Namun belakangan aku mulai membuka-buka kembali ingatan tentang mengapa sejak dulu kupikir tempat ini ideal untuk mendidikku ketika aku sudah cukup dewasa — membentukku dalam sebuah pribadi yang utuh.

Jakarta bergerak serba cebat dengan logikanya sendiri. Ia hampir tidak menyisakan ruang untuk semua rasa baper dan hal-hal yang tidak logis atasnya. Aku ingat tentang lelucon lebih baik tinggal di bekas kuburan tapi murah karena di Jakarta lebih serem nggak punya uang daripada ketemu setan.

“Di sini tuh kalau kamu cuma mau cari uang, asalkan kamu mau kerja, kamu akan punya uang — sesederhana itu. Dan kamu, kamu punya privilege untuk lebih dari sekadar punya uang dan kerja, kamu bisa mikir, otakmu encer. Yang penting jangan males!” — Kak Bachtiar dalam sesi habis Maghrib di kantor.
Terlepas dari banyaknya pandangan negatif yang kudengar soal mantan bossku itu — eh, ada banyak sekali hal yang ia katakan sangat relevan untukku pada akhirnya. Jangan males. Jakarta tidak punya ruang untuk orang males. Itu salah satu yang ternyata menarikku ke sini lagi.

Kedua — masih yang ia katakan dalam sesi habis Maghrib — adalah selalu berpikir logis pada apapun yang kita lakukan. Jakartan menerapkan itu dan sesederhana itu sebenarnya untuk menjalani segala hal lebih mudah di sini.

“Kamu di rapat dimaki-maki karena kerjaanmu buruk tapi habis itu makan siang bareng, dan ya udah, profesional kok.”

***

Gerak serba cepat, logis, dan selalu mengedepankan profesionalitas tanpa baper yang berlebih mungkin pada akhirnya menjadi alasan terbesar mengapa dulu aku mau ke sini. Pikirku akhirnya hidup ini adalah sebuah perjalanan panjang untuk bertahan dari segala apapun yang tidak menyenangkan.

Aku hampir punya semua hal yang menyenangkan — bagaimanapun harus disyukuri. Dan menurutku bentuk rasa syukur paling nyata adalah berupaya sebisa-bisanya, sebaik-baiknya untuk tetap menjadi versi terbaik dari diri-sendiri.

Bagiku akhirnya cara melengkapi fragmen Jakarta ini bukan dengan mengutuk kotanya yang kejam atau lalu-lintasnya yang buruk. Tempat ini mendidik orang untuk jadi setangguh mungkin mencapai versi terbaiknya tanpa harus bergantung pada orang lainnya. Kita bertanggung jawab atas diri kita sendiri, atas kebahagiaan, atas semua masalah — yang harus diperjuangkan. Segala hal diperhitungan logis dan tidak banyak baper yang menguras emosi.

I do my thing and you do your thing. I am not in this world to live up to your expectations, and you are not in this world to live up to mine. You are you, and I am I, and if by chance we find each other, it’s beautiful. If not, it can’t be helped. — Gestalt prayer.

Oct 14, 2018

Bermuara

Di benakku, pertanyaan masih selalu sama tentang bagaimana air menemukan muaranya atau bagaimana seorang pengelana memutuskan untuk berhenti dari perjalanan panjangnya.

Di benakku, pertanyaan masih selalu sama tentang bagaimana sebuah akhir akan dipilih atau tentang bagaimana kita memilih untuk mengakhiri sebuah cerita. Entah untuk selesai, atau berlanjut ke babak selanjutnya. Seperti air sungai yang menjadi asin di lautan atau tentang babak kedua dari cerita dengan alur yang bukan kita pemiliknya.



Ketika Khalifa bertemu dengan Laila, ia menjadi heran.

Katanya, "Qays menjadi Majnun karena kamu. Sungguh tidak masuk akal. Apa yang dia lihat darimu hingga dia tergila-gila. Kamu bukanlah wanita yang sangat cantik. Banyak wanita yang sama cantik bahkan lebih cantik darimu."

Layla menjawab, "Apa yang dilihat Majnun tidak bisa dilihat olehmu, karena kamu bukan Majnun."

Rasa.

Tentu saja Khalifah tidak akan paham sebab rasa itu hanya diciptakan bagi yang mencinta dan yang dicintai. Selebihnya tidak akan sama sepanjanglebar apapun orang mencoba memberikan pemahamannya.


Tapi, sayangku.. cerita ini milik kita kan?

Kau dan aku duduk berdua. Kita diam saja dan tidak tahu mau apa. Tapi kita duduk saja, berdua. Meresapi setiap sajak yang pernah ditulis Sapardi dalam puisi-puisinya.


Kita berdua saja, duduk.Aku memesan ilalang panjang dan bunga rumput. Kau entah memesan apa. Tapi kita berdua saja, duduk.
Memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga. Sampai suatu hari kita lupa untuk apa. "Tapi yang fana adalah waktu, bukan?" tanyamu. Kita abadi.


Oct 11, 2018

Rehat

Ada sebuah fakta penuh paradoks di kalangan mahasiswa psikologi, yakni sebenarnya para mahasiswa psikologi sesungguhnya adalah orang yang sedang struggling dengan berbagai permasalahan dalam dirinya sendiri. Mungkin kalau mau dibuat riset beneran, para mahasiswa psikologilah yang mengalami paling banyak permasalahan yang pelik, sampai-sampai mereka merasa memerlukan 'ilmu' untuk memahami dirinya sendiri dan berjuang untuk menyelesaikannya. Yaaa paling tidak untuk mengatasi permasalahannya sendiri, dia sanggup gitu lah.

Aku mungkin juga demikian.

jangan takut, kamu tidak sendiri

Dalam semua hal yang selalu diupayakan menyenangkan, atau dilihat orang lain sebagai sesuatu yang menyenangkan, aku selalu percaya bahwa setiap orang memiliki permasalahan dengan kesehatan mentalnya masing-masing.

Ketika mempelajari psychological well-being, aku akhirnya paham bahwa krisis adalah sesuatu yang sifatnya lifetime. Artinya, sepanjang hidup manusia, sesungguhnya kita hanya sedang berupaya untuk bertahan hidup, melewati satu demi satu fase dalam perjalanan hidup berikut semua permasalahannya.

Ketika masih janin, seseorang berjuang untuk mengeluarkan diri di muka bumi. Ia merasakan sakit ketika katup paru-parunya yang selama ini nyaman tertutup dan hidup dalam cairan ketuban tiba-tiba tersentak udara bumi yang jahat. Berbulan kemudian seorang bayi berjuang melawan segala panas-demam-pusing tumbuh gigi. Ia lalu berusaha berjalan, berlari, mengeja, berhitung, menulis, dan hal-hal lain untuk memenuhi ekspektasi sebuah perkembangan dan pertumbuhan yang semestinya sebagai manusia.

Ketika ia beranjak dewasa, ia akan berhadapan dengan sesamanya yang ternyata tidak semuanya baik. Ia akan bertemu banyak orang jahat, orang culas, orang tidak punya hati, orang tidak berotak, dan masih banyak lainnya --yang secara paradoks sebenarnya juga sedang berjuang untuk dirinya masing-masing.

Setiap orang memiliki porsinya sendiri-sendiri untuk setiap perjuangan yang harus dilalui. Seorang anak buruh tani berjuang untuk urusan perutnya, seorang anak profesor berjuang untuk menemukan makna dari apa yang bisa dia upayakan sebagai sesuatu yang dianggap 'bernilai' oleh orang tuanya dalam urusan belajar dan meraih gelar pendidikan, seorang anak pengusaha konglomerat berjuang untuk mencapai apa lagi yang sekiranya dalam hidup belum ia rasakan.

Hampir tidak ada kepastian bahwa orang di taraf hidup tertentu bisa bebas dari permasalahan dengan dirinya sendiri. Meskipun aku nggak menampik, dalam kondisi sosial-ekonomi yang baik, seseorang akan terdukung secara lebih baik untuk mengatasi hal tersebut.

Namun, dari semua hal yang kupercaya dicemaskan oleh semua orang, aku pun selalu yakin bahwa akan selalu ada jalan keluar.
Dear.. tidak ada urusan yang selesai dengan diakhirinya hidup. Bahkan bagi orang yang beragama, mereka mempercayai bahwa kehidupan kekal yang sesungguhnya dimulai setelah orang mati. Jadi tidak ada gunanya bunuh diri. Aku pun yakin demikian.

Bertahun-tahun kuliah psikologi membuat aku percaya bahwa setiap permasalahan memiliki jalan keluar. Dan usaha paling sederhana yang bisa kita semua lakukan menuju jalan keluar tersebut adalah dengan mencintai dan menerima diri-sendiri, menerima semua yang terjadi sebagai bagian dari proses, dari sebuah perjalanan yang memerlukan usaha dan juga.. jeda.



Rehat.

Mungkin pada akhirnya semua orang memerlukan jeda dalam hidupnya. Manusia sudah berjuang bahkan sejak masih dalam rahim ibu yang hangat. Ketika semua hal terasa sangat menekan dan mengejar, maka yang bisa kita lakukan adalah beristirahat dan melebihkan cinta pada diri sendiri.

Oh dear..
Kamu yang semester dua digit dan masih berjuang untuk skripsinya..
Kamu yang sudah dua periode wisuda dan belum dapat pekerjaan pertama..
Kamu yang sedang struggling dengan kolega dan kliennya..
Kamu yang di usia 28 masih sendiri aja..
You will be okay.

Tenangkan hati
Semua ini bukan salahmu
Jangan berhenti
Yang kau takutkan tak kan terjadi
Terus berlari
Yang kau takutkan tak kan terjadi

Jika sesuatu terjadi tidak sesuai rencanamu, ini bukan semata-mata salahmu. Di balik perhitunganmu yang rapi, ada perhitungan-Nya yang tidak bisa dijangkau oleh akal manusia. Yang perlu kamu lakukan hanya duduk sejenak dan beristirahat. Lalu kembali berjalan, mengupayakan kembali sebisa-bisanya, sebaik-baiknya.

Kamu sudah melewati banyak hal dalam hidup dan ini adalah saatnya untuk mencintai dirimu sendiri lebih dalam. Bayangkan untuk semua hal yang telah kamu lewati sejak tumbuh gigi hingga akhirnya memakai toga wisuda, rasanya luar biasa bukan?



PS: Tulisan ini adalah bagian dari refleksi dan tanggung jawab penulis sebagai bagian dari agen psikologi yang mengupayakan kesehatan mental untuk semua orang. Selamat Hari Kesehatan Mental Sedunia!


Oct 9, 2018

Tentang Sekolah Lagi dan Menjadi 'Master'

Seperti halnya semua mahasiswa Psikologi UGM, aku pernah punya cita-cita untuk langsung menempuh pendidikan master segera setelah lulus. Tahun 2018, aku menargetkan ke Belanda atau ke Inggris untuk mengambil master di bidang humanities atau studi psikologi sosial lainnya. Tapi serapi-rapinya matematika kita, tetep tidak akan bisa memprediksi matematika Tuhan yang luar biasa.

Di tengah-tengah proses kuliahku yang tadinya baik-baik aja, muncul masalah keluarga yang membuatku terlihat sangat egois kalau mau kekeuh untuk sekolah lagi segera setelah lulus. Pada waktu itu aku bahkan hanya berpikir studiku harus segera selesai, aku bisa punya uang sendiri, bertahan hidup sendiri, dan lain-lain --beberapa hal yang membawaku pada keputusan kerja bahkan sebelum aku lulus.


Pada akhirnya aku tidak pernah menyesali keputusanku untuk bekerja lebih awal pada saat itu. Aku mengubah "road map" dari semua hal yang kususun dengan baik ketika pertama kali aku masuk UGM. Sobat PPSMB pasti paham kan, tentang peta hidup 20 tahun ke depan yang diminta katingmu buat bikin waktu kamu OSPEK? WKWK. Aku juga punya.

Terlalu banyak yang berubah dalam tahun-tahun perkuliahan. Sesuatu yang kini kupahami sebagai dinamika kehidupan mahasiswa. Pada akhirnya kuliah S1 itu adalah sebuah "jeda" untuk berpikir dan menyusun kembali tujuan hidup. Hence, kamu perlu dukungan environment yang tepat agar kamu tidak keliru, atau paling tidak, nggak bingung ketika lulus.

Kembali pada tujuan sekolah lagi.

Biar aku jelaskan bahwa sebagai mantan 'inteleque' muda penghuni B21, aku sangat mengagumi isi pikiran seseorang. Aku melihat senior-seniorku menempuh studi dan menulis dengan sangat berkelas dan heroik. Logikanya tersusun rapi, cerdas, dan aduh pokoknya keren lah.

Jauh dalam pikiranku, ada sebuah ekspektasi yang 'lebih' pada mereka yang bergelar master. Because ya.. they are 'master' kan ya?

Dalam pikiran naifku, bergelar master akan sedikit mengubah perspektifku tentang suatu hal yang selama ini kupahami secara general. Katakanlah aku yang sekarang S.Psi, aku menyukai psikologi sosial, aku menyukai studi gender dan isu-isu seputar perempuan. Mungkin ketika aku studi master soal ini, aku akan sangat 'ndakik-ndakik' bicara ihwal topik tersebut. Bisa karena aku ketemu profesor-profesor baru, buku-buku baru, jurnal-jurnal baru, yang selama ini masih terbatas sebab yeah.. I'm just undergraduate gituh. Otomatis, dengan segala upgrading 'master' tersebut, segala hal yang kumiliki saat ini juga ikut terupgrade; cara berpikir, cara bekerja, kehidupan profesional, gaji?

Tadinya aku berpikir begitu.

"Kau tahu, studi master tidak seistimewa itu. Kalau tidak percaya, tinggallah dan bekerja di Jakarta."
Bagi orang-orang sepertiku, pendidikan adalah privilege. Tidak semua orang mendapatkan kesempatan sekolah yang bagus. Karenanya, orang-orang sepertiku memiliki ekspektasi yang lebih pada mereka yang sekolah lebih tinggi.

Namun, di Jakarta tidak begitu. Di sini banyak orang hidup dengan privilege sejak lahir. Jangankan buat sekolah sampe dapat gelar master ah elaaah, ibaratnya mereka pilek aja bisa kliniknya di Singapore gituh. Sejak kecil, orang-orang yang hidup dengan privilege mendapatkan banyak kemudahan dalam hidupnya, termasuk soal studi. Namun, dari sini, value dari menjadi seorang master itu tiba-tiba tergerus.

Kalau kamu ketemu orang yang gelarnya master, tapi kayaknya performa kerjanya B aja, banyak.
Kalau kamu ketemu orang yang gelarnya master, tapi logikanya kacau balau, banyak.
Kalau kamu ketemu orang yang gelarnya master, tapi goblok setengah mati, ya ada.

Simply because bagi mereka master ya adalah cuma master. Mau yang dalam negeri, luar negeri, banyak. Makanya ketika di Jakarta, aku lebih suka untuk menanyakan sesuatu dengan lebih detail. Misalnya, si A lulusan luar negeri. Luar negeri mana? Lebih jauh, kampusnya apa? Studi apa di sana? Atau kalau kepo banget aku akan nanya dulu tesisnya apa dan bagaimana metode penelitiannya.

Ada loh orang bergelar master degree dari salah satu universitas di Inggris yang tesisnya pakai metodologi yang bahkan di kampusku S1 ngajuin kayak gitu, buat beberapa dosen yang high level, mereka nggak ngebolehin karena terlalu sederhana dan datanya rawan bias. Ya jangan lah berekspektasi untuk mendapatkan analisis yang mendalam atau publikasi yang ciamik di jurnal internasional, lah level lulusnya aja sebatas yang-penting-lulus gitu.

So, it's not about the degree. Instead, it's all about yourself as an individual.

Aku belajar satu hal yang sangat mahal dari pertemuanku dengan 'orang-orang bergelar master' ini: sebelum sekolah lagi, tetapkan tujuan yang jelas mengapa mau sekolah lagi.

Gaesss. Studi master bukan karena kamu lulus S1 dan jobless berbulan-bulan lalu karena tertekan sama society kamu memilih sekolah lagi. Bukan juga karena kamu kerja tapi kok kayaknya B aja trus berharap dengan sekolah lagi akan membuat kariermu membaik. No, no, no.

"Jadi, lu nggak mau ambil master?" tanya seseorang akhirnya.
"Ya maulah pasti. Gila lu gamau haha. Tapi.."
"Tapi?"
"Tapi ada perhitungannya. Because I am on the right track being professional."

Yeah, I am a junior manager right now and my professional career is still growing. Melihat perhitungan pekerjaanku saat ini, naif kalau aku bilang aku akan melakukan apapun untuk mendapat gelar master.

"Eventho dapet beasiswa?"
"Iya. Unless itu beasiswa dari kantor mungkin, ya. Yang terus abis selesai sekolah gue dapet promosi jabatan gitu ya masuk sih itung-itungannya."
"Hmm ya juga ya."
"Iyalah. Kalau udah capek-capek kuliah, bayar mahal, tapi ujung-ujungnya harus memulai karier dari nol banget ya nyesek dong anjaay. ROI minus."

Return on Investment (ROI) menjadi bahan bercandaan yang paling santer aku dengar di kalangan teman-temanku. Maklum, sobat missqueen kayak kami yang di UGM kuliahnya cukup mengandalkan UKT bersubsidi masih menganggap biaya pendidikan kayak bentuk investasi. Ujung-ujungnya aku (dan mungkin teman-teman sepergaulan missqueenku) nggak menampik kalau tujuan bersekolah tinggi agar kemampuannya tinggi dan kemudian dihargai lebih tinggi.

Somehow aku masih percaya kalau kemampuan berpikir seseorang itu berbanding lurus dengan performa kariernya. Kan nggak lucu juga kalau tukang soto dipaksa jadi seniman mural atau tukang kayu dipaksa menjahit. Semua kemampuan ada porsi dan tempatnya masing-masing.

But again, it's not about the degree. It's about yourself as an individual.

Akhirnya aku percaya bahwa terlepas dari gelar apapun yang dimiliki seseorang, kualitas individu tetap tidak bisa berbohong. Mau nggak ada gelar apapun kalau emang basicnya udah ok ya bakal keliatan ok. Sebaliknya, mau gelarnya sepanjang apapun kalau otaknya B aja ya bakalan B aja dan itu keliatan kok di orang yang sudah dewasa.

"Jadi.. master udah nggak sakral?"
"Masih dong.."
"Lah bentukane 'itu' juga master loh.."

Wqwqwq.

Sekolah lagi masih menjadi keinginanku selain enhancing karier dan menjadi profesional di bidang bisnis digital saat ini. Entah untuk bergelar master, PhD, atau apapun, aku masih mencita-citakan sekolah lagi dan belajar hal baru sebagai sebuah tujuan dan proses sepanjang masa yang harus selalu dikejar dan diupayakan.


Sep 5, 2018

Tentang Memperlakukan Orang Lain


Aku sudah lama tidak punya musuh. Menurutku punya musuh melelahkan. Musuh menguras energi dan pikiranku untuk hanya fokus pada perasaan benci dan menyakiti. Lebih buruk jika musuhku punya kesempatan juga menyakitiku; akan ada dua sisi kesakitan yang dirasakan dari luar dan dari dalam.

Karenanya aku memilih jalan aman. Aku menghindari kerumunan chaos, aku memilih teman-teman terdekatku, dan aku berlaku baik pada siapapun sebatas pada kemampuanku berkelakuan baik.

Tentu aku tahu di luar sana aku memiliki orang yang tidak suka padaku, membicarakan hal-hal buruk tentangku, apapun. Tetapi paling tidak aku tidak berada di antara mereka.

Aku cukup senang dengan lingkaran-lingkaran kecilku yang sehat dan bisa kujaga dengan baik. Aku suka dengan mereka yang memperlakukanku dengan baik dan sebisa-bisanya aku tidak akan berlaku sangat buruk pada mereka.

Kurasa aku orang yang cukup tahu diri. Aku berlaku baik, mereka akan memperlakukanku dengan baik. Tentu aku tidak berekspektasi jika kuperlakukan mereka dengan sangat buruk, kumanipulasi, kukhianati, lalu mereka akan menyanyangiku dan semua hal baik-baik saja?

HAHAHAHA. Bodoh. Hukum alam tidak bekerja seperti itu dan manusia tidak berpikir demikian.
Jika kamu ingin orang berlaku baik padamu, perlakukan mereka juga dengan baik. Itu dulu. Itu cukup.


Sep 3, 2018

Pertemanan Sehat


Kepada adik-adik saya, satu hal yang selalu saya ajarkan sejak mereka kecil dan bergumul dengan peer groupnya adalah kalo punya temen tuh pilih-pilih. Bukan mengajarkan sombong, tetapi lebih kepada kamu memfilter lingkaran sosialmu agar membentuk dirimu seideal mungkin ke depannya.

Saya belajar banyak soal bagaimana lingkaran pertemanan ini berpengaruh sekali, misal pada abang saya di Jogja yang sejak dulu kukagumi lingkaran pertemanannya atau ketika di kerjaan sendiri saya melihat founder mendapatkan berbagai kesempatan bisnis ya dari orang-orang di sekitar, dari teman-temannya, dari circle terdekatnya. Therefore, I believe that #pertemanansehat works dan itu kemudian juga menjadi satu prinsip yang saya yakini sampai sekarang.

Saya bersyukur kuliah di UGM dan tinggal di Jogja selama bertahun-tahun. Bergaul dengan banyak orang yang meskipun "terbatas" namun bisa saya pastikan sangat berkualitas. Saya tidak punya banyak teman dari jurusan. Instead, saya membangun pertemanan saya justru dari anak-anak Fisipol, Hukum, hingga Ilmu Komputer. Dari mereka, tidak hanya kesempatan mengembangkan karier dan belajar hal-hal baru yg saya dapat, namun juga membentuk kepribadian saya untuk jadi orang yang lebih terbuka dan adaptif --dan tentu saja berkembang dari waktu ke waktu.

Saya bertemu orang berumur 27 tahun dan clueless kenapa urusan pertemanan menjadi sepenting ini; mengapa bergaul dengan mereka yg di usia 30an tapi tidak menampakkan peforma karier yang signifikan itu bahaya, atau kenapa bergaul dengan bapak-bapak yg punya anak perempuan peminum alkohol dibiarkan itu tidak baik. Ini soal pola pikir. Berada di suatu environment akan membentuk pola-pikir seseorang. Mungkin tidak disadari secara langsung, tapi pasti terbentuk. Entah dari perspektif melihat sesuatu, atau paradigma berpikir akan suatu fenomena.

Lebih dari itu, pertemanan menentukan pula penilaian orang terhadap kita. Setuju atau tidak, terserah. Pilihan masing-masing. Tapi, paling tidak sekarang paham kan, kenapa dalam setiap konflik yg bergesekan dengan teman-teman, saya mengedepankan mereka?

Karena teman-teman bagi saya adalah aset. Saat ini mungkin mereka hanya sebatas konco suwung ataupun teman yang dicari ketika buntu soal kerjaan atau hal-hal semacamnya. Namun, 10 tahun dari sekarang who knows kita akan punya bisnis bersama? Atau salah satu dari mereka adalah pemegang kebijakan? Atau malah investor yang akan membantu bisnis kita? Nobody knows about future tapi saya percaya pada proyeksi dari hal-hal yang terjadi pada masa kini. Terlebih proyeksi dari bagaimana pola pikir seseorang, bagaimana habit seseorang, dan lain sebagainya.


Aug 6, 2018

Tentang Relasi dan Perempuan yang Gagal Memaknai Hidupnya


Fragmen Pertama

Ketika mendengar selentingan bahwa si Bunga --bukan nama sebenarnya-- memiliki suatu "romantisme" terlarang dengan --sebut saja-- Joko, hari itu aku cuma menganggapnya angin lalu. Meski di depan mataku sendiri, aku pernah menyaksikan "sikap tidak biasa" yang dilakukan oleh dua orang yang sudah sama-sama dewasa. Bagaimanapun, aku perempuan 20an tahun, aku bertahun-tahun kuliah psikologi, dan yang terpenting, aku pernah jatuh cinta dan memiliki suatu relasi intim dan romantis dengan lawan jenis. Aku bisa melihat dengan sangat jelas; ya, mereka memiliki relasi yang tidak biasa. Tapi.. masa sih? Bukannya si Joko sudah beristri dan punya anak?

"Memang gitu sisss!" Si pemilik informasi terlengkap di sana membuka suara. Hari itu kami sedang di jalan untuk makan malam di dekat kampus.
"Kamu serius?" tanyaku. Masih tidak percaya.
"Astaga! Ngapain aku bohong sama kamu tuh buat apa? Faedahnya apa buat aku tuh apa?"

Sepanjang makan malam kemudian, topik obrolan kami hanya berisi pertanyaan-pertanyaan yang bahkan sampai sekarang, lebih dari setahun berlalu semenjak hari itu, masih belum terjawab.

Sejujurnya, sebagai perempuan berumur 23 tahun, aku sampai sekarang bertanya-tanya, sebenarnya, bagaimana sih masa depan yang dibayangkan perempuan berumur 20an seperti kami, belum menikah, berpendidikan tinggi, dan memiliki pekerjaan yang membuat kami bisa bertahan hidup sebagai perempuan terhormat, memilih menyukai pria yang sudah berpasangan?

"Kira-kira apa ya, yang dipikirin orang-orang seperti Bunga itu? Jujur aja aku penasaran, karena logikaku sama sekali nggak masuk," ujarku jujur waktu itu.
"Entah."

***

Fragmen Kedua

Sejujurnya aku bersimpati dengan perempuan-perempuan yang menyukai lelaki milik orang. Kau tahu kenapa? Sebab laki-laki tidak mau disalahkan. Baginya, hal-hal yang seperti Bunga-Joko itu tidak akan terjadi kalau si perempuan tidak memulai duluan. Pada beberapa kasus, kadang lelakinya yang bangsat, namun, bahkan pada lelaki paling baik-baik sekalipun, hal itu bisa terjadi.

"Masa sih ceweknya yang mulai duluan?"
"Iya. Orang cowoknya ngebiarin aja kok. Nggak ngerespons."
"Braaay. Paham nggak sih, kalo ngebiarin aja itu berbeda dengan 'melarang dengan tegas' hm? Sekarang pertanyaanku, apakah si cowok sudah dalam usaha melarang dengan tegas?"

Orang di depanku diam saja. Aku tidak habis pikir bagaimana bisa posisi perempuan selalu serba salah seperti ini.

Dear lelaki, jika sampai kalian membaca tulisan ini, kalian masih tidak paham bagaimana psikologis perempuan seumuran kami. Begini, biar aku jelaskan.

Pertama-tama, kalian sudah bukan remaja. Jadi, itu yang harus kalian pahami. Ketika kalian sudah beranjak dewasa, percayalah relasi-relasi kalian akan semakin menyempit. Maka, sudah tentu kalian memahami dengan betul, bagaimana habit dari masing-masing orang di sekitar kalian.

Ketika kalian dewasa, ada dua jenis lingkaran pertemanan yang kalian punya. Satu jenis teman-teman yang memang sudah terikat waktu saking lamanya kalian berteman. Kedua, adalah teman-teman baru kalian yang kalian temui di tempat kerja. Dan tentu saja kalian tahu ya, relasi kolega itu "semestinya" seperti apa dan relasi pertemanan kalian yang sudah kelewat lama itu "normalnya" seperti apa.

Maka, ketika ada hal-hal yang tidak biasa, tolong jangan naif. Sudah tentu individu tersebut menaruh ekspektasi yang berbeda.

Bicara perihal ekspektasi inilah yang membahayakan. Dengar perdebatanku dengan orang barusan? Dibiarkan.

Sebagian laki-laki cukup baik dengan tidak menggubris hal-hal seperti ini, ketika mereka memiliki pasangan. Namun, demikian, jika tidak ditegaskan, itu artinya, kesempatan masih terbuka.

Ingat loh, ada perbedaan yang sangat besar antara "membiarkan tanpa menggubris" dengan "melarang dengan tegas" yang kemudian ditangkap oleh lawan jenis.

Dalam beberapa perbincanganku dengan teman-temanku, kami sepakat untuk menganggap manusia-manusia seperti ini sama sampahnya.

Bagi Lamia, misalnya, perempuan yang menyukai lelaki milik orang, atau laki-laki yang membiarkan perempuan seperti itu berseliweran di sekitarnya, dua-duanya sama-sama tidak tahu diri dan tidak punya harga diri. Si laki-laki tidak paham komitmen, dan si perempuan gagal memaknai kehidupannya. Menurut kami tentu saja hal yang sama terjadi juga pada laki-laki yang menyukai pasangan orang. Keduanya sama-sama tidak punya harga diri.

"Begitulah kalau tutup botol plastik dikasih nyawa."

Aku tertawa mendengar komentar Lamia, tapi aku setuju. Permasalahannya memang hanya orang-orang seperti kami tidak paham jalan pikiran mereka. Pun aku tidak pernah mengerti motivasi di baliknya. Mungkin tidak seperti mereka, kami masih mampu memaknai kehidupan kami dengan baik.

***

Fragmen Ketiga

Dalam perbincangan menuju ke bandara. Sesaat sebelum kembali ke Jakarta.

"Dalam relasi itu, ada laki-laki dan perempuan. Jika keduanya sudah sepakat untuk memiliki sebuah komitmen, maka keduanya wajib menjaga diri masing-masing, dan juga pasangannya. Nanti kalau kamu sudah dewasa, kamu akan tahu bagaimana caranya mempertahankan apa yang kamu miliki sebab itu hakmu. Percaya deh, sekeren-kerennya kamu menjadi perempuan, menjadi janda itu tetap bukan pilihan. Jadi menikah itu memang bukan sesuatu yang sederhana. Jangan sampai salah orang. Amit-amit."

Hari itu di ufuk timur Bandara Ahmad Yani Semarang yang baru, matahari mulai malu-malu muncul. Lalu-lalang orang mulai memadati bandara sepertiku menunggu pesawat pagi.

Sepanjang perjalanan dari Semarang ke Cengkareng, sampai di Menteng dan kembali ke kamar menyalakan AC dan melanjutkan tidur yang tertunda, aku berpikir keras. Benar juga ya. Menikah memang tidak sesederhana itu. Tetapi menjadi perempuan yang belum menikah juga ternyata tidak semudah itu.

Aku belum menikah. Di pikiranku saat ini, tidak ada sedikit pun terlintas bayangan bahwa aku menyukai lelaki milik orang. Bahkan pada beberapa teman lelakiku, jika pasangannya merasa kurang nyaman dengan pertemanan kami, aku mengalah untuk kebaikan kami semua. Aku bersumpah pada diriku sendiri, sekeren apapun orang itu, jika dia sudah jadi milik orang, maka tidak sedikit pun aku berhak atasnya. Tidak perlu jauh-jauh untuk mencari alasan mengapa harus begitu. Cukup pikirkan, bagaimana jika hal tersebut terjadi di kamu? Milikmu diambil orang, atau diganggu orang?

Alasan lain adalah kupikir sebagai perempuan, aku berhak memiliki kehidupan yang lebih baik dengan tanpa mengganggu atau menyakiti orang lain. Hal-hal yang kemudian bagi perempuan sepertiku, atau bahkan Lamia, diterjemahkan sebagai "pemaknaan atas hidup" kami yang harus diperjuangkan.

Perempuan yang menyukai lelaki milik orang adalah perempuan yang gagal memaknai hidupnya. Dan begitupun laki-laki yang menyukai perempuan milik orang lain. Mungkin akan lebih adil jika kubilang, orang yang menyukai milik orang lain, adalah mereka yang gagal memaknai hidupnya. Sebab mereka terlalu tidak berharga untuk sekadar menjaga harga diri dan kehormatannya, untuk, paling tidak, jangan mengganggu ketenangan dan kebahagiaan orang lain.

Aug 3, 2018

Ada Satu Hari


Ada satu hari di Bukit Ciumbuleuit. Waktu itu anginnya sejuk meski matahari terik membakar kulit. Kau dan aku duduk berdua, di bawah pohon rindang yang sesekali kita keluhkan daun-daun gugurnya. Tak jauh di sana, hamparan hijau sejuk dipandang mata. Kan, kubilang juga apa. Bandung jauh lebih menyenangkan daripada Jakarta.

Kau dan aku duduk berdua. Kita diam saja dan tidak tahu mau apa. Tapi kita duduk saja, berdua. Meresapi setiap sajak yang pernah ditulis Sapardi dalam puisi-puisinya.

Kita berdua saja, duduk.
Aku memesan ilalang panjang dan bunga rumput.
Kau entah memesan apa.
Tapi kita berdua saja, duduk.
Memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga. Sampai suatu hari kita lupa untuk apa. "Tapi yang fana adalah waktu, bukan?" tanyamu. Kita abadi.


Jul 29, 2018

Tiga Cerita Laki-Laki yang Memilih Perempuannya


"Aku pernah diputusin," kata temanku membuka pembicaraan. Dua orang di depannya menaruh minumannya masing-masing. Tampak wajah kami mulai serius. "Katanya aku perempuan nggak baik," katanya lagi.
"Nggak baik tuh ukurannya apa?" temanku akhirnya tidak tahan untuk tidak membuka mulut.
"Pertanyaan yang sama," jawabku.
"Mungkin karena kamu suka pulang malam," temanku lagi menimpali.
"Like we are doing right now?" tanyanya.

Hahahaha!

Kami serempak tertawa. Mungkin menertawakan dirinya masing-masing. Kisah dengan laki-laki tidak pernah tidak absurd dalam ingatan kami. Setidaknya begitu yang aku tahu sejak pertama kali kami kenal ketika SMA.

Temanku yang pertama.

Aku paham apa yang mencegahnya dari semua hubungan dengan laki-laki yang mencoba mendekat. "Aku suka dengan dia, dan aku mau kita stay kayak gini," ujarnya mantab suatu hari.

Hari itu adalah tahun kesekian ia menjalin relasi entah apa itu namanya, dengan seorang laki-laki yang kami kenal dalam suatu pameran di SMA. Laki-laki yang tidak buruk; ia tampan, terlihat cukup kaya, berasal dari keluarga baik-baik, dan diprediksi memiliki masa depan yang cukup bagus, terlebih setelah ia masuk di sebuah sekolah perminyakan milik salah satu BUMN. Temanku, pada saat itu, amatlah yakin, orang ini pantas untuk ditunggu. Dalam bahasa kami; worth it.

Beberapa kali dalam sebulan ia berkunjung ke kota kami. Kisah-kisah manis terjadi setelahnya. Dinner bersama, nonton film favorit, hal-hal yang aku yakin membuat temanku terjebak untuk tidak ke mana-mana, untuk yakin bahwa lelakinya adalah yang paling tepat. Ditepisnya semua jantan yang mendekat. Ia biarkan masa putih abu-abu hingga semester akhir di kampusnya datar tanpa kisah merah jambu khas remaja.

"Tapi, bukannya selama ini dia tidak menyatakan sesuatu?" kataku sanksi.
"Mungkin dia bukan tipikal lelaki yang mengungkapkan?" temanku masih membelanya dengan senang hati.

Aku senang melihat temanku senang. Tapi bagaimanapun, laki-laki baik tidak membiarkan sesuatu tergantung selama bertahun-tahun. Pada suatu hari di musim hujan, ketika kota kami tengah diguyur hujan yang sangat deras, lelaki itu mengatakan pada temanku bahwa ia tidak ingin berhubungan dengan perempuan dulu sebelum ia siap menikah.

It was like.. What? Lah selama ini kamu ngapain?

Apakah temanku patah hati? Tentu saja. Bayangkan jika mungkin dia selama ini memilih satu aja dari sekian banyak jantan yang mencoba mendekat. Mungkin dia sudah menikah, atau berkeluarga, atau dikenalkan keluarganya dan membina hubungan yang serius, atau apalah. Temanku tadi tidak. Ia tidak ke mana-mana. Hatinya ditawan bertahun-tahun untuk kemudian dibuang. Hancur berkeping-keping.

Yang lebih tidak kami semua pahami adalah tidak lama kemudian laki-laki itu menjalin hubungan dengan perempuan lain. Tentu saja, mereka tidak menikah, karena memang kami semua paham, mereka tidak siap untuk itu.

Laki-laki pertama ini, tidak bisa memegang omongannya sendiri. Seharusnya kemarin-kemarin dia cukup bilang bahwa dia bosan. Itu saja sudah cukup.

***

Temanku kedua.

Aku tidak pernah berpikir bahwa temanku bukanlah perempuan baik-baik. Kami semua perempuan baik-baik, kami tidak melakukan tindakan kriminal, kami tidak menyakiti perasaan orang, dan kami hormat pada orang tua. Aku rasa itu sudah cukup. Jika kemudian lingkungan membuat kami gemar nongkrong hingga larut malam, atau berteman dengan banyak lelaki, aku pikir itu tidak bisa jadi patokan bahwa perempuan ini tidak baik.

Temanku adalah yang terpintar dan kami memprediksikan dia yang akan menjadi terbaik. Lelaki yang dipilih dan memilihnya pun tidak asal. Keduanya sudah bersama-sama sejak SMA, saling bahu-membahu sampai kemudian kuliah, dan sekarang bekerja.

Beberapa waktu sebelum keduanya lulus, semua orang dapat memprediksikan bagaimana masa depan karier keduanya; seorang engineer yang sangat terampil dan strategist hebat untuk berbagai masalah bisnis yang kompleks. Dua orang yang gemar berpikir dan mendebat satu sama lain. Hubungan mereka manis hingga tiba-tiba lelaki itu mengatakan relasi itu harus selesai.

Tidak banyak hal yang dikatakan, namun temanku menyimpulkan ia dinilai kurang baik. Alasan yang sangat tidak logis, dan tentu saja tidak beralasan. Temanku menyangkal, tapi logikanya lebih dahulu jalan. "Relasi itu dibentuk dua orang. Kalau salah satu sudah tidak mau, apapun alasannya, ya sudah," katanya.

Lalu ia selesai. Apakah temanku sakit hati? Tentu saja. Berbulan-bulan ia mengurung diri, melewati hari-harinya yang tidak mudah, berusaha melupakan semua hal yang telah disusunnya berdua. Kini dua langkah itu harus berjalan-jalan sendiri, karena lelakinya tidak mau dengan perempuan yang kurang baik.

Yang lucu setahun berselang dan lelaki itu akhirnya telah memilih perempuannya.

"Ini pacarnya?" kataku.
"Iya."
"Kayak gini aja?"
"Iya."
"Hmm ternyata dia nggak nyari perempuan baik-baik."
"Iya. Dia cuma tidak mau disaingi oleh perempuannya. Dia butuh seseorang yang berada di bawahnya, secara akademis, secara pekerjaan, secara apapun; agar dia merasa lebih superior."
"Bagus lah kamu putus."

***

Bagaimana denganku?

Hahaha. Aku hampir tidak bisa berkata apa-apa selain menertawakan diriku sendiri beberapa waktu ini. Aku perempuan 23 tahun, dan percayalah ini bukan cerita cinta pertamaku. Sebelumnya aku pernah dengan laki-laki yang kuputuskan karena memintaku berhubungan seksual bahkan ketika aku belum berusia 17 tahun. Lalu pernah juga aku dengan laki-laki yang menyudahi relasi kami di tengah jalan karena baginya kami telah memilih jalan yang berbeda.

Apapun alasannya, aku hanya berpikir, aku belum bertemu orang yang tepat. Karenanya ketika aku bertemu sekali lagi dengan laki-laki yang ingin menjalin relasi "serius" denganku, kupikir dialah orang yang tepat.

Aku melihat ada banyak hal yang mesti kami usahakan bersama sebab lelakiku ini memiliki jalan hidup yang tidak mudah. Tadinya, aku berpikir bersamanya berarti menata sesuatu dari dasar, membangun pondasi yang kuat, merintis dari nol, dan berusaha sampai titik darah penghabisan.

Sebulan. Dua bulan. Tiga bulan. Semuanya berjalanan sangat manis karena lelakiku adalah yang terbaik dalam hal mengusahakan apapun yang saat ini tidak dimilikinya. Bagiku, yang terpenting laki-laki harus memiliki effort. Apa yang saat ini tidak dimilikinya, kelak akan dipunyai, jika mau menaruh effort yang cukup.

Lelakiku adalah yang paling pandai mem-pukpuk perasaan orang dengan segenap janji manis, mengajakku sekuat hati bertahan dalam kondisi-kondisi kami yang buruk, bersamaku di saat senang dan susah, serta mengusahakan semua hal sebisa-bisanya, sebaik-baiknya.

Dulu.

Setahun berselang dan aku tidak tahu apa yang terjadi di antara kami. Banyak hal yang kami tidak pahami, tetapi lelakiku berubah. Tentu setelah setahun lebih kami bersama, ada banyak hal yang mengubah kami. Kami lebih cerdas, karier kami membaik, kondisi finansial kami membaik, tetapi sikap kami satu sama lain; tidak.

Aku tidak ingin tahu siapa yang salah di antara kami, tetapi yang kulihat lelakiku kehilangan effort. Aku tidak paham apakah baginya "yang segini" sudah cukup, atau seperti lelaki teman pertamaku, ia hanya bosan.

"Itu manusiawi. Orang kan cepat bosan," kata temanku suatu hari, berusaha menengahi dengan bijak.
"Aku tahu. Hanya saja jika kami begini karena bosan, aku tidak berekspektasi cara kami seperti ini untuk menghalau rasa bosan."

Banyak hal terjadi beberapa waktu belakangan ini; semua hal yang aku tidak pernah bayangkan bahwa aku akan benar-benar mengalaminya. Aku jatuh bangun seorang diri, susah-susah sendiri, mati-matian bertahan sendiri juga, namun di situlah aku sungguhan sadar, aku benar-benar kuat ternyata; secara fisik, secara mental. Kelak suatu hari aku pasti akan sangat bangga dengan kekuatanku sendiri --yang ternyata ada.

Setelah melewati itu semua, bagiku kini semuanya sudah jelas. Aku berhadapan dengan dua orang yang berbeda. Lelaki itu bukan yang dulu kukenal atau membersamaiku di saat-saat terburuk, bukan yang pernah sekuat hati mengajakku bertahan, bukan. Tempat ini menjadikan dia sosok yang lain, menjadikan kami benar-benar berbeda. Dan aku, telah bersumpah, bahwa aku tidak akan menjadi perempuan yang mengemis-ngemis afeksi, jadi kukatakan padanya, "Aku tidak akan mengusirmu pergi, tapi aku juga tidak akan mengemis untuk memintamu tetap di sini."

Lebih tragis dari cerita dua orang temanku, kini aku berada di titik antara hitam dan putih yang membuatku tidak bisa ke mana-mana, namun juga tidak punya tempat untuk kembali.

"Menurutmu pilihan dia akan jatuh ke perempuan seperti apa?" tanya temanku.
"Mmm nggak tahu. Yang pasti tidak banyak menuntut," kataku.
"Hwaaaa. Apakah harus perempuan baik-baik???"
"Apakah dia hanya tidak mau pacaran kalau belum siap menikah??"

Hahahaha!

Kami tertawa sekali lagi.

***

Bagaimanapun, Jakarta mendidik kami untuk melupakan sesuatu dengan mudah. Pikirkan saja hal-hal yang konkret dan jelas menurut perhitunganmu. Di Jakarta semua hal yang sangat mudah dihitung; bahkan beberapa kali aku akhirnya mempercayai kasih sayang adalah hubungan timbal-balik. Ketika kamu membuat prioritas akan seseorang, ternyata kamu akan memiliki ekspektasi untuk orang tersebut memperlakukanmu serupa.

Patah hati lama-lama semestinya sudah lewat dari fase kami saat ini, sebab kami perempuan 23 tahun dan kami memilih rasional. Tidak boleh ada banyak waktu yang terbuang untuk sesuatu yang percuma.

Jadi malam ini, kami memutuskan untuk mengubur luka-luka itu tanpa sisa.

"Jadi.. menurutmu kita mesti gimana?"
"Hahahaha! Jangan pulang malem yang penting."
"Tapi tempat ini tutup jam 11."
"Yah. Yaudah pindah yang 24 jam gimana? Biar nggak pulang malem; subuh maksudnya! Hahaha."
"Pengen, tapi masih ada kerjaan."
"Sama!"
"Huhu yaudah kapan-kapan aja."

Jul 24, 2018

Fragmen dari Kembang Merak 

Kami menyebut tempat itu Jalan Kembang Merak, tepatnya di Bulaksumur Blok B-21.

Dini hari yang sama, 2014.

Kau menghampiriku yang meringkuk kedinginan, duduk di sampingku, lalu diam. Tidak ada kata-kata. Selalu seperti itu belakangan ini. Aku bingung mengapa orang seatraktif dirimu bisa sedemikian aneh di saat begini.

Hening sesaat, sebuah kalimat kulontarkan dengan harapan akan mencairkan suasana. “Mukamu keliatan bego dengan kaca mata itu.”

Sebuah kalimat yang jujur. Juga pahit bagimu —mungkin. Kamu bilang jujur itu pahit dan kau ucapkan terima kasih. Kubilang, “Sama-sama.”

Kita kembali bisu dalam kebekuan. Aku tidak tahu harus bicara apa lagi. Orang di depan kita tidak juga mengajak kita bicara. Dia kemudian malah pergi. Tinggal kita. Mengapa aku tidak pergi saja menjauh darimu? Menyusul teman-teman yang bercengkerama di lincak di halaman?

Tidak, aku sedang benar-benar kedinginan dan aku berharap bisa hangat berselimutkan kain lusuh itu di dalam rumah, di ruang depan. Ruang-ruang lain sedang dipakai kerja dan aku tidak ingin mengganggu kerja-kerja mereka. Kuputuskan tetap di tempat itu, di sampingmu. Kupeluk kedua kakiku yang dingin —sedingin kita waktu itu.

Kamu kembali mencoba membuka obrolan. Aku menanggapi. Kita lumayan bercerita banyak hal, tentang projekmu beberapa waktu ke depan, tentang tempat-tempat di kota kelahiranmu yang hampir setengah tahun tidak kukunjungi. Aku bercerita padamu suatu kali ketika aku diusir satpam di mall, lalu kamu tertawa terpingkal-pingkal. Aku benci dengan cara tertawa semacam itu. Kamu menanyakan di mana saja tempat-tempatku bermain bersama teman-teman semasa SMA, kuceritakan padamu tentang Kopi Miring, tentang kejadian absurd di Dapur Keju lengkap dengan ‘rumah princess’ impian di daerah Jl. Sultan Agung, tentang Pelangi, tentang Leker Paimo yang legendaris. Kamu bilang itu leker jahat dan aku tertawa saja mendengar alasanmu.

Kita bercerita cukup banyak dini hari itu, dan kamu —iya kamu— sedikit mengaburkan bayanganku tentang orang-orang sejenismu. Kamu barangkali berbeda dan itu cukup menyindirku. Saat kamu bilang, kami —aku dan teman-temanku— kaum ‘bobo’ yang berideologi bohemian namun bergaya hidup borjuis — entahlah, aku tidak menampik. Aku sering mendengar orang berkata seperti itu tentangku. Tapi jika yang menilai dirimu, aku tidak suka. Aku tidak tahu, tapi jujur aku tidak suka.

Ah lupakan saja waktu-waktu itu.

Katamu, masa lalu itu biar aja berlalu, kita melihat yang sekarang. Dan aku menginginkan kamu pun menilaiku yang sekarang. It’s okay lah, aku barangkali kamu nilai manja, mentel, nggak tahan banting, sukanya cuma hura-hura, dan sejenisnya, tapi hey! Seenggaknya aku sudah mencoba berubah dan kamu harus tahu bagaimana usahaku untuk itu! Please kali ini tolong hargai aku.

Dari ruang tengah editormu memanggil. Aku ke lincak menemui editorku, dia bilang sebaiknya aku tidur saja dulu.
***
“Bisa geser? Aku mau tidur dan kamarnya sedang dipakai,” ujarku. Kamu maju sedikit. Aku menawar, “Bisa geser lagi?”

“Gimana kalau kepalamu di pangkuanku aja?” ujarmu dengan mimik serius yang kutanggapi dengan seulas senyum —tidak, jangan sekarang, jangan di tempat seperti ini. Tapi akhirnya pun kamu mengalah, membiarkanku membaringkan tubuh di belakangmu sementara kamu masih asyik berkutat dengan tulisan di laptopmu.

Aku masih setengah sadar ketika teman-teman mengganggu tidurku, dan dengan nada kesal aku bilang jangan diganggu. “Bisa nggak lampunya dimatikan?” ujarku memerintah. Dan aku tidak tahu siapa yang kemudian bangkit mematikan saklar karena aku sadar cahaya lampu tidak sesilau sebelumnya.

Sepertinya kamu yang kembali berkorban editing di tengah ruangan yang remang-remang. Hmm mengapa kamu tidak pindah tempat saja sih? Di ruang depan toh bisa.

***

Begitu benar-benar bangun aku sadar kamu juga tertidur, dengan kepala di kasur, dan tubuh yang membentuk sudut sembilan puluh derajat denganku. Iya, tubuhmu ada di lantai yang dingin dengan sebuah kaos tipis yang melekat di badan. Saat kami semua sahur, kamu masih tertidur pulas dan kami membiarkanmu begitu saja.

Subuh menjelang, aku berencana pulang. Kucari tasku, ternyata sedang kamu pakai untuk bantal karena satu-satunya bantal kupakai sendirian tadi. Aku tidak tega membangunkanmu yang wajahnya tampak benar-benar lelah. Padahal, bukannya esoknya, maksudku, hari itu kamu akan menempuh perjalanan jauh ke ujung dunia?

“Bisa tolong kamu bangunin dia? Aku kok nggak tega,” ujarku pada seseorang. Dia menggoyangkan tubuhmu pelan, tetapi kamu tidak benar-benar sadar. Ya, wajahmu letih sekali.

“Diangkat aja kepalanya,” ujar orang itu. Aku menurutinya. Pelan kuangkat kepalamu untuk mengambil tas cokelat milikku. Kupandangi sebentar seuntai kalung yang kamu kenakan.

Hampir setahun aku di tempat ini, aku tidak pernah menyaksikanmu berpenampilan seperti itu. Kemarin ketika kita makan siang pun tidak ada kalung yang mengikat lehermu. Kalung itu — atau entah namanya rosario atau apa —begitu meresahkanku.

Entahlah, tapi waktu subuh itu, di sepanjang Gejayan aku begitu resah mengingat perihal sebuah kalung. Enggak tau kenapa.

Mungkin karena semenjak obrolan kita tentang iman, aku merasa ada yang benar-benar asing. Aku bukan seseorang dengan iman yang baik, kaupun begitu. Mengapa kita berubah sikap satu sama lain —hanya karena iman? Sebegitunyakah kita meyakini sesuatu atas nama iman?

***

Dini hari, masih tetap sama, 2018 — bertahun-tahun semenjak pukul satu dini hari itu di Kembang Merak.


Sudah sejak beberapa hari lalu setiap dini hari aku terbangun.

Kau tahu, belakangan ini aku diselimuti perasaan bersalah atas dosa-dosa yang kuperbuat sendiri. Jika kamu di sini, mungkin aku akan bercerita panjang lebar dan bisa saja seemosinal seperti yang dulu-dulu sering kamu lihat ketika aku memendam sesuatu —sebuah masalah.

Apa kabar imanmu hari ini? Imanku tetap sama —atau jika tidak bisa dibilang memburuk. Tidak tahu. Aku tidak paham apa yang terjadi padaku belakangan ini.

Namun hari-hari ini, aku mengingatmu sebab tiba-tiba aku mengamini kata-katamu.
“Oh sayangnya cinta itu tidak ada, Dek. Keinginan untuk memuaskan diri yang berkamuflase — itu yang kamu kira cinta. Perasaan cinta itu keyakinan terburuk yang pernah kamu percayai.” — suatu sore di Bulaksumur, 2014.
Kurasa orang memang tidak sungguhan memiliki perasaan suci bernama cinta itu. Kau benar kali ini. Aku ingin menemuimu untuk paling tidak mengatakan, kamu benar.Tapi mengingatmu juga menyadarkanku sesuatu, “Dan meskipun hanya kamuflase, tapi ingatlah bahwa dia yang paling peduli terhadapmu dan tidak pernah meninggalkanmu adalah dia yang paling pantas kamu yakini.”

Duh.

Aku salah dua kali. Pertama aku salah meyakini perasaan memuaskan diri yang ternyata berkamuflase itu. Kedua, aku salah meyakini orang.

Jul 11, 2018

Jakarta dan Kisah Setelahnya


Ini Selasa malam dan aku menghabiskan separuh soreku duduk di sebuah kedai kopi di daerah Pejaten. Di sebelahku barista yang kesepian memainkan gitar sementara cangkir-cangkir kopinya dibiarkan sepi. Ada dua orang pria duduk di meja depanku. Mereka berbincang urusan pekerjaan seperti halnya yang sering kulakukan sehari-hari. Tak jauh di luar, kendaraan padat merayap menunggu antrean untuk berjalan. Sesak. Jakarta tidak pernah ramah untuk fisik yang kelelahan, apalagi mental. Aku mengurung diri, memutuskan tidak pulang setidaknya sampai beberapa jam ke depan.

Di hadapanku sebuah laptop menyala. Persis ketika kutulis catatan ini, semestinya ada satu pekerjaan yang harus kuselesaikan; menulis report, menulis konten, membaca pekerjaan freelancer, banyak ternyata. Tidak hanya satu. Tapi aku lelah. Suhu tubuhku sudah mulai meninggi dan aku mungkin akan segera butuh paracetamol.

Aku tidak suka hari-hariku belakangan ini. Terlalu banyak pikiran kacau yang berkecamuk dalam benak. Namun, lebih daripada itu, aku ternyata hanya tidak suka merasa bodoh atas pilihan dan tindakanku sendiri.

Kau tahu, perempuan selalu punya intuisi. Ketika perempuan tidak yakin atas sesuatu, pastikan apakah ada sesuatu yang benar-benar salah dalam keputusan itu. Ketika perempuan tidak mempercayaimu, pastikan apakah kamu telah berkata sejujurnya atau tidak. Perempuan selalu punya intuisi. Dan itu intuisi itu, memberikan bisikan dari sesuatu yang terdalam, jujur, dan bagaimanapun, benar.

Lagu D'Masiv-Apa Salahku diputar. Astaga. Playlist Youtube-ku makin nggak karuan. Entah kenapa tiba-tiba aku ingat sesuatu. Aku teringat hari-hari ketika masih tinggal di rumah dinas, ingat Singkek, ingat Cicik, hingga hari-hari gitaran galau dengan Pak Agung yang dari jaman aku SMA sampai lulus S1 nggak tau jadinya udah lulus tesisnya atau belum. Aku melankolis sekali. Aku mengingat semua hal, terlebih teman-temanku.

Aku kangen.

Nggak pernah sekangen ini aku dengan mereka. Nggak pernah semelankolis ini aku mengingat suara berisik Okta dan Bakuh, pisuhan Hardi, wajah bego Dipta, hingga tengilnya Andre, atau muka preman Tania. Aku mengingat semuanya dan aku kangen. Sumpah demi apa.

Blog ini semestinya sudah aku tutup sejak aku memutuskan apply ke beberapa company yang (mungkin) akan mengevaluasi jejak digitalku. Aku menutup Instagram, bahkan Facebook. Aku alergi dengan beberapa hal, aku malas bertemu orang asing kecuali untuk urusan pekerjaan, dan aku malas untuk mengulang-ulang apapun.

Am I fool?

Kuulang-ulang dan berkecamuk di kepalaku. Selama ini aku ngapain? Kenapa aku melakukan ini?

Aku seperti menyusun puzzle seluas satu meter persegi yang rumitnya minta ampun. Aku paham puzzle ini mungkin baru diselesaikan secuil, mungkin baru sekitar lima centimeter di ujung. Tapi bahkan untuk menyusun itu aku berdarah-darah. Lalu tanpa sebab yang jelas, hasil berdarah-darah itu dirusak. Porak-poranda.

Rasanya kayak.. aku tahu mungkin memang sebaiknya puzzle serumit ini tidak perlu diselesaikan. Aku mungkin tidak perlu membuang waktuku terlalu lama. Tapi, bukannya paling tidak aku sudah berusaha untuk memulai dan bekerja keras untuk menyelesaikan --meski hasilnya belum seberapa?

Rasanya seperti tidak rela.

***
"Apa kamu bahagia denganku?"
"Iya"
"Tapi hidup tidak selalu baik-baik saja."
"Itu adalah hidup. Selama kamu nggak selingkuh, sepertinya hidup kita akan baik-baik saja."
"Nggak akan. Nggak akan."
"Itu cukup."
Di Jakarta kamu akan bisa dengan mudah untuk tidak bersyukur. Kamu akan melihat orang-orang bergelimang harta dan kesenangan. Open bottle dengan menghabiskan ratusan ribu rupiah. Dinner seharga jutaan. Ada sejuta alasan untuk selalu tidak bersyukur dan melihat hidupmu tragis; mengapa merk celanamu cuma Hardware sementara mereka bisa menikmati Uniqlo tanpa diskonan; mengapa tasmu bukan Hermes; mengapa untuk beli sepatu seharga dua juta saja harus berpikir jutaan kali sementara mereka bahkan beli sandal jepit seharga segitu?

Ada jutaan alasan untuk selalu tidak bersyukur dan sejuta kemampuan untuk melihat hidup kita sangat tragis.

Namun, di Jakarta pula, kamu akan mudah bersyukur ketika kamu masih bisa makan siang di Setiabudi One dan di jalan menuju kantor kamu melihat bapak setengah baya dengan gerobaknya. Matanya kuyu, tubuhnya kurus, dan kotor. Kamu akan melihat betapa bahagia hidupmu ketika melewati jembatan penyeberangan di Karet Kuningan, atau bahkan ketika duduk di kedai kopi dan memandang jendela keluar. Di sana akan kamu lihat abang-abang berseragam ojek online berdesakan mencari makan, menerjang lalu-lintas ibukota untuk sesuap nasi. Kamu akan melihat bagaimana bahagianya hidupmu masih bekerja di ruang AC dengan baju rapi dan mendapatkan bayaran setiap bulan, sekaligus akan melihat, bagaimana seseorang berjuang untuk orang-orang yang disayanginya.

Aku masih menonton film pendek dari Pijaru tentang sepasang kakek-nenek renta yang mempertanyakan kehidupannya selama ini, "Apakah kamu bahagia denganku meski hidup tidak baik-baik saja?"

Tentu saja hidup tidak akan selamanya baik. Akan ada waktu di mana hidup pasti tidak baik-baik saja. Tapi kamu meresponsnya bagaimana? Merenung? Marah? Menyesali? Atau apa?

Playlistnya semakin tidak karuan.

***

Di kedai kopi perempatan Jalan Pejaten Barat ini tadinya aku cuma berpikir aku akan butuh sendiri. Aku harus banyak bersyukur atas apapun yang selama ini aku punya; orang tua, teman-teman yang baik, dan support system yang menyenangkan.

Aku melankolis sekali dan aku merasa harus ada keputusan besar yang diambil, jadi aku perlu berpikir logis.

Orang boleh bodoh dan melakukan kesalahan. Tapi yang harus dipikirkan bukannya masa depan? Masa depanmu masih panjang, kan?

Jun 13, 2018

Dari Belakang


Aku pernah membaca sebuah cerita yang mengisahkan dua orang petualang yang dipertemukan dalam sebuah perjalanan. Dua orang yang sebelumnya asing satu sama lain. Dua orang yang tidak pernah bicara pada masing-masing.

Barangkali cerita itu demikian indahnya. Hingga satu per satu detail kejadian seolah terekam dalam ingatanku. Bagaimana mereka berkenalan melalui milis. Bagaimana sebuah perjalanan tanpa sengaja mempertemukan mereka yang sama-sama suka bepergian. Terakhir, aku mengingat persis bagaimana pada hari-hari usai mereka bertemu, bahkan tak ada sedikitpun pembicaraan. Keduanya hanya sempat menengok wajah masing-masing satu kali, lalu setelah itu sepi.

Hari demi hari. Minggu demi minggu. Tak seorang pun tahu bahwa satu di antara mereka pada akhirnya memutuskan menjadi pengintai. Yang mengintai jauh di belakang, menjaga jarak, menikmati setiap pemandangan punggung, dan tawa kecil-kecil yang muncul dari kelompok manusia yang melibatkan keduanya di sana.

Tak ada sapaan ramah, apalagi tatapan. Hanya punggung. Kubilang orang itu adalah seseorang yang mengintai dari belakang. Ya, hanya dari belakang. Menikmati punggung seolah dengan itulah dia jatuh cinta.
"Aku jatuh cinta pada seseorang yang bahkan aku tidak tahu warna matanya. Mungkin hijau. Mungkin juga cokelat muda."
Teori Sternberg memberiku keyakinan bahwa jatuh cinta yang demikian tidak ada. Itu infatuation. Bukan literally love. Infatuation akan menghilang seiring dengan waktu. Infatuation akan kedaluwarsa. Begitulah kira-kira.


Namun, hari ini adalah berminggu, berbulan, bahkan bertahun semenjak hari itu seseorang memutuskan jatuh cinta dari belakang. Hanya punggung yang terekam. Sesekali suara gelak tawa. Hanya itu. Sudah.

Jun 2, 2018

Off Her Love Letter


"Saya senang kita telah berjalan jauh sekali sampai di titik ini. Saya senang pernah dikenalkan dengan sesuatu yang menjadi titik balik dalam hidup saya. Saya senang dinasihati tentang kejujuran, tentang value dari sebuah integritas, tentang menjadi orang baik, dan tentang menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. Saya senang pernah berbagi cita-cita dan bertukar cerita mengenai rencana-rencana. Meski pada akhirnya apa yang saya dan mungkin kita semua jalani sangat-sangat jauh dari apa yang pernah kita idam-idamkan dulu. Hahaha." --kutipan blog post Maret 2017.
Rasanya sudah lama sekali tidak menyebut diri sendiri dengan 'saya' seperti yang dulu kerap saya lakukan ketika bicara dengan seseorang. Oh ya, maaf, saya mengingatnya lagi malam ini.

Beberapa hari ini saya merasa agak tidak sehat. Setiap kali selesai berbuka, perut saya mual dan entah sedikit atau banyak, pasti muntah, entah kenapa. Saya cerita ke Angga. Dia tanya kenapa, saya juga tidak tahu. Saya panik, sedikit. Kalo Angga saya tidak tahu --mungkin khawatir, mungkin juga enggak.

Oh ya, saya teringat seseorang malam ini karena barusan saya membuka-buka catatan lama saya tentang banyak hal. Mungkin juga karena beberapa waktu kemarin seorang teman menggoda saya dengan 'acara liburan di Jogja dalam rangka mengenang Ervina' yang sangat Instagramable. Saya tertawa tentu saja.

"Apa sih? Udah bahagia dengan jalan masing-masing kok," jawab saya kalem. Meski ketika menjawab begitu, saya pun bertanya-tanya, iya po kita sudah bahagia dengan jalan masing-masing?

***

Dalam hidup ini, ada begitu banyak peristiwa yang kita lewati. Saya melewati banyak hal, dengan atau tanpa orang yang berkesan. Saya memiliki teman-teman dan orang-orang yang saya cintai, yang dengan mereka saya memiliki cerita, baik itu senang, sedih, lucu. Di antara peristiwa-peristiwa itu, kini setelah saya ingat-ingat, ada hal-hal yang pasti sangat saya sesali. Kini Ervina yang 23 tahun berpikir, kenapa dulu sebodoh itu? Coba dulu begini, maka sekarang mungkin begini, begitu, dan seterusnya.

Tapi yang sudah terjadi, seperti yang kita semua ketahui, sama sekali tidak bisa diulangi. Kini saya paham kenapa orang-orang berfantasi mengenai mesin waktu. Sebab saya yakin setiap orang pernah menyesali hidupnya di masa lalu. Dan kini, di masa ini, banyak dari mereka yang ingin mengubahnya; setidaknya ke dalam versi yang lebih baik.

***

Saya marah pada apapun yang tidak saya kehendaki. Bagi saya sesuatu harus seperti keinginan saya; sejak dulu dan mungkin sampai sekarang. Ini yang kemudian saya sadari bahwa ini membuat saya sulit berkompromi pada orang lain. Orang-orang di sekitar saya? Saya tidak tahu. Bisa jadi tidak, bisa jadi juga begitu.

Oh ya, maaf, saya mengingatnya lagi malam ini. Saya tiba-tiba teringat, mungkinkah seperti ini yang dia rasakan dulu? Kecewa ya? Marah? Kenapa tidak bisa sabar? Bukannya seharusnya dia tahu, saya memang 'berbeda' dengan dia. Toh, dia bilang bahwa kerja keras itu tidak mengkhianati. Mengapa dulu tidak bekerja keras untuk hal ini? Untuk agar semuanya baik-baik saja?

Ah, tapi ya sudah. Toh kita tahu kan, kita semua pernah menyesali hal-hal yang terjadi dulu. Dan jika saja ada mesin waktu, kita pasti akan kembali untuk mengubahnya ke dalam versi yang lebih baik. Tapi sayangnya mesin waktu tidak ada. Masa lalu tidak bisa diulangi dan satu-satunya yang bisa kita upayakan adalah menjadi versi yang lebih baik saat ini, dan ke depannya, bersama orang-orang yang kita miliki sekarang.

Saya pun demikian.

Ya ampun, saya akhirnya tidak tahu bagaimana harus berterima kasih untuk perjalanan yang sangat panjang ini. Terima kasih pernah mengajari saya menjadi orang baik, untuk menjadi orang yang selalu menemukan versi lebih baik dari dirinya di masa lalu. Terima kasih. Terima kasih sekali.

***

It's a love letter. Written with the tears.
But believe me, she is so happy. She found herself.
She has been getting so lost in her journey finding herself.
But believe me, she never wants to go back.
"Menemukanmu mungkin seperti menemukan versi terbaik dari diri saya sendiri. Versi terbaik dari sabar, dari memaafkan, dari menerima, dari semuanya."
Kita semua pernah memiliki masa lalu yang membuat kita berharap ada mesin waktu. Tapi ya sudahlah. Toh tanpa masa lalu itu, perjalanan kita tidak akan sampai hari ini. Tanpa yang pernah kita lalui dulu, kita mungkin tidak bertemu. Tanpa kesalahan-kesalahan sebelumnya, kita mungkin tidak tahu sekarang yang baik itu seperti apa dan kita harus berbuat apa untuk meraihnya. Tanpa yang sudah terjadi, kita tidak bisa belajar.

Menemukanmu seperti menemukan versi terbaik dari diri saya sendiri. Versi terbaik dari sabar, dari memaafkan, dari menerima, dari semuanya. Saya berharap kamu juga demikian, meski sekali lagi, ini tidak bisa dipaksakan.

Seseorang menasihati saya, untuk apapun yang terjadi, tetaplah berusaha menjadi versi lebih baik dari sebelumnya. Jika orang-orang yang kamu miliki saat ini tidak bisa dipertahankan, tetaplah menjadi lebih baik. Karena orang baik kelak akan dipertemukan dengan orang baik pula.

Jika kita bertemu karena suatu peristiwa, berterima kasihlah sebab mungkin setelahnya kita akan menemukan pelajaran dari pertemuan. Jika suatu hari ini selesai pun, tetaplah berterima kasih, sebab mungkin itu waktunya diri kita sendiri untuk upgrading. Mungkin setelahnya kita akan bertemu dengan orang-orang baru lagi, mengalami peristiwa-peristiwa baru lagi, dan tentu saja mengubah diri kita ke versi baru lagi, yang lebih baik dari sebelumnya sebab kita telah belajar.

Sedih berkepanjangan tidak ada, seperti halnya bahagia terus-menerus. Ini hanya fase. Fase akan terlewati pada waktunya. Yang kita perlukan cuma sabar dan memaafkan, iya itu dulu. Yang lain menyusul.


Jakarta, 2 Juni 2018 tengah malam.
Hujannya tidak ada sebab hujan bulan Juni adalah yang malu-malu menyatakan rintiknya pada pohon berbunga itu. Kita jangan, ya?

May 31, 2018

Sunday Dinner Forgotten


Ibu perempuan yang memaafkan. Pada apapun yang dicintainya ia memaafkan. Ibu memaafkan anaknya yang tidak bisa menjadi orang baik. Ibu memaafkan pasangannya yang kerap menyakiti. Ibu memaafkan orang-orang yang berbuat buruk dan jahat padanya.

Ibu perempuan yang mencintai segala sesuatu seperti air. Jernih, bersih, menyegarkan, dan sabar. Ia memecah batu dengan tetes-tetes yang lembut, ia membersihkan tangan-tangan yang kotor, ia membasuh dan memberikan perasaan tenang, menghilangkan dahaga. Hal-hal yang tidak kupunya semuanya. Ketika kutanya mengapa demikian, katanya karena begitulah semestinya perempuan.

Aku perempuan juga. Tapi aku tidak bisa seperti itu. Aku pendendam. Aku mengingat semua hal yang tidak menyenangkan. Aku tidak memaafkan orang-orang. Aku membenci sesuatu yang tidak kukehendaki.

Bagiku selalu perlu waktu lebih lama untuk tidak apa-apa.

Di luar sana aku tidak tahu apakah lebih banyak perempuan-perempuan setipe aku atau Ibu. Semoga seperti Ibu.

May 25, 2018

Mencari Partikel yang Cocok


Semua orang aku yakin pernah mengalami kisah sedih ihwal patah hati, atau dibuat kecewa oleh sesuatu. Namun, aku juga yakin bahwa masing-masing orang punya porsinya sendiri-sendiri untuk mendapatkan pelajaran mahal. Paling tidak, dalam hal percaya-tidak percaya ini, ada sebuah pelajaran khusus yang akhirnya mungkin akan kuingat seumur hidupku: jangan mudah percaya pada orang, termasuk dirimu sendiri.



Kata orang, perasaan itu hadir karena proses. Mungkin karena sifat baik yang membuat luluh, mungkin juga karena terbiasa bersama sehingga jika salah satu menghilang, rasanya tidak utuh.

Namun, aku lebih suka menyebut bahwa orang jatuh cinta memang karena mereka diciptakan untuk jatuh cinta. Tidak ada proses. Proses hanya untuk menguatkan, atau mengikis pelan-pelan. Semacam, dua orang yang diciptakan untuk hidup bersama memang memiliki semacam partikel yang cocok dalam tubuhnya, sesuatu yang mengalir dalam darahnya, bersama detak jantung dan helaan napas.
In the middle of the heat, you have made my heart chills
Just like what they always say, love will come eventually
Bagaimana seseorang bertemu dengan pasangannya? Bagaimana mengetahui bahwa memang ada "partikel yang cocok" di antara mereka?

Akan ada seseorang yang membuatmu selalu merasa pulang dan memiliki rumah. Seperti menemukan butiran salju di tengah musim panas. Froze the tears, froze the fear, slow, and still.. and as the wind blows and the sun showers down the warmth of love.

Yah, please take me home, to your warm and peace..

May 18, 2018

Unrequited Love

ervina lutfi blog

Bagiku tidak ada yang abu-abu. Jika tidak hitam, maka putih. Jika tidak terang, maka gelap. Jadi aku tidak paham ketika ia mengatakan padaku bahwa mungkin kami bisa lebih dekat, namun tidak terlalu dekat.

Suara Bonnie Raitt mengalun di kepalaku.
Don't patronize me
'Cause I can't make you love me if you don't
Seumur hidup belum pernah aku merasa sebegininya disakiti orang. Jadi hari itu aku memilih pulang.

Berhari-hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan. Aku hampir lupa sudah bertahun-tahun lewat semenjak hari itu, tapi rasanya kepalaku masih dipenuhi tanda tanya.

***

Kata orang, jika kita merasa lama menemukan pasangan hidup kita, kita sebenarnya mungkin pernah sekali atau dua kali berpapasan atau bahkan bertemu dan berinteraksi dengannya; hanya waktunya yang tidak tepat. Seseorang mungkin akan 'batal' menjadi pasanganmu jika kalian tidak bertemu di waktu yang tepat.

Menunggu dan menunggu. Namun, ketika 'waktu yang tepat' dirasa sudah datang, "kondisi" yang memungkinkan semuanya berubah.

Hmm.
Kalau untuk pergi, kenapa harus kembali?
Kalau tidak tinggal, kenapa datang lagi?

May 4, 2018

Fiksi Terakhir


Aku mulai curiga temanku yang berpolitik sejak mahasiswa itu adalah politisi, atau paling tidak simpatisan Golkar ketika ia mengajakku ke tempat itu.

"Bukan! Itu nggak ada hubungannya! Hahaha!" katanya mengelak. Berlokasi di Cikini, sebenarnya aku sudah beberapa kali mampir atau sekadar lewat. Namun, tidak seperti biasanya sore itu dari mulai halaman hingga ke dalam-dalam gedung, semuanya ramai. "Sedang ada acara," kata mbak-mbak waitress memintaku menunggu terlebih dulu karena tempatnya penuh.

Aku kesal sebenarnya. Masa untuk makan saja harus menunggu? Ah tapi temanku juga tidak kunjung datang, jadi sambil melihat-lihat gedung yang sering kulewati setiap aku ke Cikini itu, aku memutuskan tetap di sana. Temanku bilang ia membawa motor, dan ia mengendarai motornya dari Bekasi, membawakan helm untukku.

"Oh kalo gitu aku nunggu aja deh ya," kataku agak tidak enak hati. Pasalnya aku tahu perjalanan dari Bekasi tidak pernah menyenangkan, apalagi di akhir pekan.

***

"Nggak ada putus baik-baik itu," katanya.
"Paling tidak yang setelah putus tidak ada konflik yang panjang. Ya kalau sakit hati ada, tapi memilih untuk diam-diam aja."

Kulihat dia diam sejenak sembari mengingat-ingat sesuatu. "Pernah," katanya. "Dulu waktu mau ke Jogja. Tapi alasannya cukup masuk akal, aku akan pergi jauh. Aku rasa kita susah kalau masih harus sama-sama, dan hal-hal semacam itu. Dan dia setuju. Asalkan kedua belah pihak saling setuju bahwa relasi itu harus selesai, aku pikir itu namanya putus baik-baik."

"Tapi, kalau masih cinta ya kenapa harus putus?"
"Ya pasti banyak alasannya. Bisa karena ragu, bisa karena terburu-buru mengambil keputusan, bisa juga karena mungkin orang perlu jeda terlebih dahulu."

Anginnya bertiup cukup kencang dan hari mulai gelap. Halaman Paradigma mulai tidak menyenangkan karena nyamuk dan panasnya Jakarta mulai terasa tidak ramah dengan pakaian yang kukenakan. Stelan serba hitam. Aku suka warna hitam, seperti kita musti berkabung setiap hari untuk mengingat setiap detik ini akan selalu ada orang yang menderita atau paling tidak bersedih. Lantas kita harus bersimpati pada mereka.

Ah, lupakan. Pikiranku cuma sedang ke mana-mana.



Bandung masih sama seperti hari-hari aku mengunjunginya. Atmosfernya menyenangkan. Setiap jalan-jalannya mengingatkanku pada Jogja, hanya orang-orangnya sedikit lebih apatis. Bandung seperti gadis tanggung yang disukai lelaki yang diam-diam dikaguminya; malu-malu tapi agresif. Dan hal-hal seperti itu, sayangnya tidak pernah berubah. Lucu sekaligus menyebalkan.

Di stasiun kereta ada banyak hal yang kuingan setidaknya dalam beberapa tahun terakhir. Drama menunggu, dimarah-marahin orang, hingga tertinggal kereta paling pagi menuju Jakarta. Bagiku tidak ada yang tidak kuingat, seperti setiap irisan kejadian yang pelan-pelan mulai kususun sebagai ingatan.

"Tapi itu mengganggu," katanya. "Aku tidak suka."

Aku tersenyum tipis. Belakangan aku suka wajahnya yang sedang pundung. Lucu seperti anak kecil yang merengek minta mainan.

"Kenapa?" tanyaku tak kalah menyebalkan. Sengaja.
"Ya nggak papa. Nggak suka aja."
"Oh.. tapi aku suka. Gimana dong?"
"Ya terserah," katanya sambil merangsek ke dalam selimutku. Setelahnya Bandung terasa hangat sekali. Dan aku belum pernah memiliki perasaan ketakutan sebesar ini jika ditinggal seseorang.

***

Pantai Manggar "Segara Sari" memiliki nama asli Pantai Segara Sari, namun warga lokal di sini menyebutnya Pantai Manggar. Mungkin karena lokasinya yang berada di Kelurahan Manggar, sebuah daerah kecil Kalimantan Timur, sekitar 9,5 km dari Bandara Sepinggan atau 20 km dari pusat kota. Ada beberapa pantai yang kuketahui ada di sini, namun entah kenapa paling banyak kuhabiskan di tempat ini.

Kurasa, bagi orang yang sejak kecil tinggal di daerah yang dekat dengan pegunungan, pantai apapun akan terlihat menarik. Namun, di sini aku tidak lebih merasa tempat ini menyenangkan hanya karena aku merasa rindu; pada semua hal yang jauh dan tidak terengkuh.

Lewat bertahun semenjak hari itu, namun rasanya masih banyak sekali hal yang tidak selesai. Aku cuma tidak menyangka akan seperti ini, pada akhirnya.

***

Di Jakarta aku merindukan banyak hal. Kantor berkubik-kubik di SCBD, hingga aroma nasi goreng pinggir jalan yang sekali atau dua kali pernah kutemui. Kuingat betul sebab cerita-ceritamu.

"Suka ya di Jakarta?" tanyaku.
"Mau jujur nggak nih?"
"Sejak kapan kamu jadi pembohong?"
"Okay.. kalau mau jujur, Bandung lebih menyenangkan."
"Oh ya? Kalau Jogja?"
"Jogja apalagi. Kenangan semua isinya!"

Sepersekian detik kemudian aku cuma memandangnya kosong.

"Eh?" Dia kikuk sendiri. Lalu tertawa basa-basi. Khas sekali jika mau berkelit.

Hari itu selepas menikmati makan malam di pinggir jalan kami memutuskan ke toko buku di Pacific Place. "Sengaja ya, ke sini pas udah kenyang? Biar nggak mahal bayarin aku makan? Haha!" selorohnya santai. Aku cuma tersenyum. Di hatiku ingin sekali menjerit bahwa kuajak ia ke sini sekadar memastikan tidak ada sedikitpun yang berubah di antara kami; bahwa kami masih menikmati makanan yang sama, membaca buku yang sama, melakukan hal-hal yang sama dan mungkin masih memiliki perasaan yang sama.

***

"Kau tahu? Aku suka dengan tempat ini," ujarnya ketika kopi pesanan kami datang. Aku duduk di hadapannya, menghadap secangkir kopi yang direkomendasikannya dan sepiring kudapan tradisional.

"Kenapa?" tanyaku. Dia kemudian menoleh.
"Di sini jendelanya besar sekali. Aku bisa melihat lalu-lalang orang. Kadang aku sendirian, dengan laptopku. Weekend paling sering. Kau tahu kan pekerjaan seperti aku ini tidak kenal waktu libur atau jam lembur kayak kamu."
"Jadi ini another place selain Starbucks?"
"Starbucksnya di situ," ujarnya sambil menunjuk ke seberang. Kami tertawa kecil.

Pukul 11 Kedai Tjikini sudah hampir tutup dan kami membayar pesanan kami di kasir. "Eh, biar aku saja," kataku mengeluarkan dompet.
"Wow wow wow! Ada apa nih?"
"Ya nggak papa. Jarang-jarang aku di Jakarta. Apalagi menculikmu jalan-jalan sehari semalam. Kapan lagi?"
"Bisa aja!"

Kami keluar dan sambil menunggu pesanan taksinya ia mengajakku berjalan menyusuri Jalan Cikini Raya yang masih ramai.

"Mungkin ada acara. Aku pesan di ujung jalan setelah TIM aja. Nggak papa kan, jalan?"
"Nggak papa. Aku yang khawatir karena kamu pakai sepatu hak tinggi."
"Santai. Perempuan karier sepertiku sehari-hari berkostum seperti ini. Kamu belum pernah lihat aku turun 10 lantai dengan sepatu macam ini karena panik ada gempa, kan?"

Aku tertawa. Di sepanjang jalan dia berjalan di sampingku. Tidak membiarkan aku duluan, atau dia yang tertinggal di belakang.

"Re?" kataku.
"Ya?"
"Aku minta maaf."

Dia menoleh ke arahku sebentar. Aku menghentikan langkah.

***

Bagi Azur, sahabatku, putus baik-baik itu tidak ada. Orang putus memang karena tidak saling cinta lagi. Sebab itu mereka putus karena tidak ada yang harus dipertahankan.

"Untuk alasan apapun, Re. Nggak ada yang namanya orang masih cinta, tapi pergi," katanya. Aku diam. Sudah berbulan-bulan perasaan tidak nyaman seperti ini menghantui. Azur mungkin menjadi salah satu yang terganggu atas kekalutan-kekalutanku. "Gini deh, Re. Gue nih, temen lo. Gue ada di sini, lo tau kenapa?"

Aku menggeleng.

"Ya karena gue care. Gue bela-belain loh, naik motor dari Bekasi lo tau sendiri segimana bangsatnya yekan weekend gini. Gue nih, Re, temen lo, dan gue care dengan apa yang lo alamin, gue berusaha membantu sebisa-bisanya gue. Kalo ada cowok, nggak bisa melakukan hal yang lebih dari apa yang gue lakuin, ya itu artinya dia sesimpel nggak peduli sama lo sih."

Kupandangi wajah sahabatku lurus.

"Lo boleh punya seribu satu alasan buat pergi. Tapi gue harap lo punya satu aja alasan untuk tetep stay sih."

***

Di Pantai Manggar segala hal tenang seperti halnya aku melihat laut. Ombak yang bergemuruh, angin yang mendesir-desir, dan segala sesuatu yang ingin kubuang begitu saja. Andai ingatan ini berbentuk, aku lebih rela membuangnya jauh-jauh. Mungkin lebih menyenangkan jika kukubur dalam pasir, atau kularung di laut bersama ombak-ombak hingga ke pulau seberang.

***

"Minta maaf untuk apa?" tanyanya.
"Semuanya," jawabku. Raut wajahnya berubah. Dia tertawa pedih.
"Dimaafkan kok. Kamu selalu dimaafkan dan aku akan selalu memaafkan."
"Aku minta maaf, Re."
"Aku tahu kamu harus minta maaf."

Kami diam. Jalanan di Cikini mendadak terasa lengang sekali. Sepintas Jakarta melambat seperti detik-detik sebelum kami berpamitan untuk pergi.

"Re," kataku. Orang yang kupanggil berdiri sejengkal di depanku. Aku merengkuhnya. Kupeluk seperti yang selalu kuinginkan selama ini. Dia pasrah. Aku cuma merasakan nafasnya yang hangat di leherku. "Sejak dulu aku sebenarnya aku ingin memeluk kamu seperti ini. Tapi aku nggak berani. Maafkan, Re."

Perempuan itu diam. Beberapa detik kemudian dia meresponsku. Dilingkarkannya tangannya di pinggangku. Aku merasakan sesuatu di jari manisnya.

***
Kekasihku, jika kamu membaca surel ini, aku berharap kamu sudah belajar untuk melupakan seperti ketika kau kecil semua orang memaksamu belajar mengeja. Kamu harus bisa, sebab kamu bisa.
Mulailah untuk tidak mengingat Jakarta seperti malam-malam ketika kita menghabiskan waktu bersama, dan Bandung atau Jogjakarta yang setengah benci dan setengah rindu.
Aku ingin kamu menghargai keputusan yang kuambil dan juga tidak akan kusesali. Atas nama bara api cinta yang pernah menyala dan membakar habis dalam hati kita masing-masing, yang telah kita titipkan pada debur ombak seperti ikal rambutmu.
Tapi, kekasihku, biarkan aku mencintaimu, dalam diam.