Desember

by - December 01, 2017


Welcome, December! Will be the last of this year. Fyuhh.

Entah kenapa setiap mengenang Desember aku selalu inget Back to December-nya Taylor Swift. Bukan cuma karena musim hujan yang secara saintifik memang membawa ingatan kita ke dalam banyak hal, tapi juga karena memang Desember punya banyak sekali cerita. Aku rasa buat semua orang.

I'd go back to December, turn around, and make it alright..

Seharusnya malam ini ada yang lebih bisa kukerjakan selain ngeblog. Aku masih punya tanggungan beresin skripsi untuk diprint jadi empat bundel, ngumpulin berkas-berkas, atau bahkan rapiin kerjaan. Aku juga harus membaca karena perlu bikin outline yang sekarang jadi KPI di kerjaanku. Terlalu banyak yang dikerjain dan aku sampai di titik memilih untuk nggak ngapa-ngapain.

***

Tadi siang aku sarapan dirapel lunch dengan Wira dan Irwan. Irwan ke Jakarta malam ini dan Wira besok Senin udah ke Jakarta juga. Kami nggak mau menyebut itu sebagai farewell, tapi memang udah kelamaan nggak pernah ketemu dan ngobrol, jadi itu hanya alasan aja biar kita ketemu.

Episode dengan mereka sepertinya punya cerita sendiri. Sekitar 2015 akhir kami kenal dan mengerjakan project bareng. Dulu masih ada beberapa orang lain, ada Kak Nima yang sekarang udah jadi istri orang, Dias yang udah jadi CEO dan sibuk jadi speaker di banyak event, sampe Kiky yang sejak istiqomah jadi ukhti-ukhti jadi susah diajak main. Wkwk. Lalu ketambahan personel baru kayak Inggil, Zul, Dona, dkk. Aku masih inget kita pertama ketemu di WS Jakal, pertama bikin acara di Woodstock, menembus hujan badai demi perhelatan yang diadain bulan November pas Jogja lagi banjir-banjirnya, ngurusin jemput anak-anak panti dari Bantul, karaokean bareng, BBQan di rumah Dona yang diwarnai tragedi nyalain api, hingga meeting-meeting gila sampe jam 3 pagi. In the end aku seneng karena dari semua itu kita jadi belajar untuk paling tidak, kenal satu sama lain dan mengetahui proses masing-masing.

Apa yang lebih menyenangkan daripada melihat sebuah proses?

Sebagai seorang terpelajar, aku berusaha berbuat adil sejak dalam pikiran. Jika begini maka harus begitu. Jika begitu maka demikian. Semua hal harus dipikirkan secara adil, termasuk menilai orang. Tidak seperti beberapa perempuan yang bermimpi utopis menjadi princess, sebenarnya aku selalu berpikir aku akan jadi "a woman behind the scene" yang ada di balik proses orang-orang yang bersamaku. Aku akan jauh lebih bangga dan lebih merasa berarti ketika aku tahu bagaimana melihat prosesnya. Tentu agar aku bisa menilainya adil sejak dalam pikiran.

***

Desember, kau tahu, memberiku ingatan tentang banyak hal yang disebut proses. Dia menjadi penutup dari sebelas bulan yang kulalui sebelumnya, sekaligus pembuka untuk bulan-bulan berikutnya di tahun yang baru. Desember menjadi transisi untuk banyak hal. Menjadi akhir sekaligus awal, menjadi penutup sekaligus pembuka proses.

Somehow, aku selalu ingin kembali ke Desember untuk mengutarakan banyak hal, tentu saja. Banyak yang belum selesai. Banyak pertanyaan yang belum terjawab. Tapi Desember akan selalu ada terus. Waktu tidak berhenti.

Seperti kataku tadi pada Irwan dan Wira, "Mungkin ini gentian waktuku sih. Dan someday, either kita bakal kayak gini terus atau engga, aku percaya kita udah lebih bijak lah. I couldn't say anything but thanks. Udah sampai di fase ini luar biasa banget sih."

There's someone. You know.

***

Thank you ya. Aku hampir lulus. Sebentar lagi. Dari kampus yang dulu selalu kuceritain kalau kita mulai share planning dan cita-cita. Would you please call me 'Bu Psikolog' like you did before? I just miss you. So much.

Aku tahu bagaimana di posisimu sekarang. Aku tahu bagaimana harus berbuat adil bahkan sejak dalam pikiran. Terima kasih sudah menemani proses sampai sini. Sekarang aku akan menemani yang lain berproses.

You May Also Like

0 comments