Setengah Langkah

by - October 28, 2017

"Skripsi doang. Halah bisa lah."

Demi apapun aku nggak akan pernah ngomong hal kayak gini lagi meskipun aku juga nggak mau bilang kalau proses skripsian itu sulit. Skripsi itu mudah, serius. Proses untuk mendedikasikan waktu secara penuh inilah yang akhirnya kupahami sebagai bagian paling sulit dari sebuah skripsi. Makanya aku mengamini asisten profesorku yang mengatakan, "Kalau penelitian dengan Ibu yang penting prosesnya."

Skripsiku memasuki satu babak baru setelah dalam sebulan ini aku mendedikasikan 3/4 waktuku secara penuh. Akhirnya. Aku sampai di bagian ter-nganu dalam skripsian; menganalisis data. Somehow, skripsian kuantitatif (dan apalagi dengan tiga variabel menggunakan path analysis) bukanlah cita-citaku. Aku anak kualitatif sejak dulu, menyukai analisis deskriptif, mencintai psikologi sosial, dan ngefans berat dengan Pak Hadi Sutarmanto dan buku-buku Prof. Koentjoro tentang pelacuran dan isu gender. Meski dalam beberapa kuliahnya aku kurang setuju perihal pandangannya soal feminisme, tapi intinya aku suka dengan riset kualitatif, dengan isu-isu perempuan dan penyakit sosial yang pendekatannya sangat kualitatif untuk diteliti.

Namun akhirnya idealisme itu terbentur dengan kondisi di mana aku cuma mau lulus aja. Nggak peduli aku menulis skripsi tentang apa. Aku belajar logoterapi dan berharap akan menyinggungnya dalam skripsi sejak awal aku masuk psikologi. Aku membaca konsep kawruh jiwa dan berbagai pandangan indigenous sambil berharap kelak aku meneliti dengan sedikit-sedikit pendekatan antropologi. Duh, tapi ya udah. Sekarang aku cuma lulus aja.

***

Pada mulanya adalah niat mulia untuk lulus dengan segera.

"Cepet lulus, karena kuliah lama-lama nggak ada gunanya," kata Bachtiar. "Jangan pacaran."
"Nggak punya pacar Kak."
"Udah diputusin sama mas-mas ITB-nya Kak," sahut yang lain. Mereka paling jago ngebully orang.

"Ok, aku lulus cepet kok. Hehe hehe."

Lalu aku pulang ke Jogja, bersiap-siap untuk kuliah sambil berkemas-kemas di kosan yang baru. Cicik menjemputku di Tugu dan menceritakan betapa banyak hal yang berubah sejak aku pergi berbulan lalu, terutama soal kampus.

Hari-hari itu aku nggak kepikiran apapun. Aku sudah tidak patah hati, tidak galau, apalagi bersedih. Perasaanku flat bahkan buat sekadar nanggepin orang-orang baru yang mencoba "masuk lebih dalam" dan mengenal lebih jauh. Aku cuma mau lulus lalu pergi ke mana entah, yang jelas jangan lama-lama di sini.

***

Aku lupa bagaimana akhirnya. Tapi seingatku Bil menawariku sebuah project riset. Iseng aku mendaftar, menyatakan kesediaan. Dan hari itu untuk pertama kalinya kami berkumpul di depan ruangan Prof. Tina; membicarakan calon skripsi dan penelitian kami. Aku lupa kapan startnya, mungkin sekitar Februari atau awal Maret. Masih dengan Cicik, aku inget preliminary research pertama yang kulakukan di sebuah tempat di Kab. Temanggung.

Pagi buta kami berkendara dari Jogja. Itu hari-hari di mana aku merasa bugar lagi setelah berbulan-bulan mau ke mana-mana lemes. Ketika kami SMA, bersama anak-anak kelas, kami sering touring. Wkwk. Ada satu teman kami yang anak motor lalu entah berhalusinasi apa, ia sering merasa kami yang sebagian besar menaiki motor matic dengan dandanan super rapi ala anak mall, sering diajak touring lengkap dengan sirine-sirine dan aba-aba untuk ngasih jalan dan sebagainya. Oh ya rombongan anak kelas bahkan pernah nginep di pom bensin dalam perjalanan menuju Dieng.

Hari itu kami marathon karena baik aku ataupun Cicik sama-sama ada keperluan di Jogja. Jadi hari itu juga sore hari kami balik dari Temanggung. Kami masih menyempatkan makan dan main ke Artos kayak di Jogja udah nggak ada mall.

***

Ketika akhirnya aku mendapat tawaran untuk bekerja full-time, berbagai hal buruk mulai terjadi. Aku ternyata bener-bener ninggalin skripsi. Hampir 3 bulan nggak kesentuh dan nggak ada satupun yang ngejar-ngejar karena kami semua salah paham. Profesor kami mengira kami KKN dan kami anak-anaknya yang bangke ini mengira proyek riset payung hanya isapan jempol belaka. Wkwk.

***

Beberapa waktu sebelumnya, aku menulis soal Deus ex machina yang aku kira akan benar-benar ada dalam ceritaku mengerjakan skripsi ini. Percayalah Deus ex machina beneran ada.

"Okay, Ervina, kamu cuma punya waktu sekitar 3 hari untuk data ini harus tersebar semua dan pastikan juga semuanya kembali setelah kerjaanmu di Jakarta selesai. Andai kamu bisa membelah diri, Ervina."

Aku mulai self-talk di depan cermin kamarku sambil mikir strategi apa yang bisa dilakukan untuk bergerak cepat dan masif. Aku nggak punya kapasitas untuk bayarin orang saat ini karena proyek dengan Telkomsigma hampir membuatku jadi fakir miskin. Tapi aku punya teman. Sangat banyak. Aku mulai mengontak mereka satu per satu. Aku bahkan meminta bantuan Ibuk untuk mengontak teman-temannya.

***

Pada akhirnya aku bersyukur pernah menjadi orang yang hidup di mana-mana dan pada setiap tempat di mana aku pernah tinggal, aku punya teman. Aku juga beruntung aku belum pernah bermusuhan atau melakukan perbuatan jahat pada mereka. Jadi orang-orang itu, aku yakin, tidak punya alasan untuk menjahatiku. Mereka semua membantuku dengan proses yang sangat mudah. Mereka mendukungku untuk segera lulus. Wkwk.

Aku hampir nggak percaya proses pengumpulan dataku bisa berjalan secepat itu. Mungkin kurang dari 2 minggu termasuk proses data entrynya yang mau nggak mau harus kukerjakan sendiri. Sampai sini aku masih percaya di antara semua iblis yang ngaku-ngaku jadi orang baik, selalu ada orang-orang yang beneran baik tanpa perlu pengumuman.

***

"Kamu tau nggak sih? Aku tuh mulai menjiwai risetku ini."
"Oya? Kenapa?"
"Aku.. udah nemuin value, kalo kayak kata anak startup."
"Hahaha! Mamam tuh value!"

Di sebuah kedai kopi aku berbincang dengan temanku yang sudah lebih dulu sarjana. Kuceritakan padanya aku mulai menemukan value dari apa yang kuteliti berbulan-bulan dan nggak kunjung selesai ini. Pada mulanya aku terpesona dengan penjelasan Ryff yang mengulas tentang bagaimana itu psychological well-being, lalu apa itu work-life balance yang sesungguhnya, terakhir adalah konsep harga diri yang dikemukakan oleh Rosenberg.

***

Suatu hari di kedai kopi yang hampir tiap weekend kudatangi, aku pernah memberi seseorang sepucuk surat. Kutujukan pada temanku, seorang laki-laki. Dalam surat itu kutulis selamat menempuh hidup baru pasca jadi sarjana and go find your woman soon!

"Why should a woman? I don't wanna get married soon."
"Hmm. I know. Bukan untuk dinikahi cepat. Hanya temukan perempuan yang tepat yang membantumu menemukan tujuan."

Awalnya aku kira persoalan purpose in life hanya menjadi krisis anak-anak seumuran kami, yang lagi galau kerjaan, galau pasangan. Baru kemudian dalam prosesku mengerjakan skripsi ini aku benar-benar menyadari bahwa persoalan tujuan hidup ini menjadi krisis bagi setiap orang di sepanjang hidupnya. A life-time crisis. Mengerikan karena tanpa tujuan hidup ternyata ada yang kurang dalam diri kita.

Lain lagi soal work-life balance. Konsep yang dipaparkan Greenhaus kemudian kupahami bahwa keseimbangan ini bukan hanya soal waktu seimbang yang dialokasikan untuk dua peran. Lebih dari itu, ada sebuah keterlibatan yang juga penuh. That is why aku sangat menghargai orang-orang yang kalau sedang bersamaku mau meninggalkan semua hal, atau paling tidak ponselnya. Karena kita sama-sama tahu, kita semua sibuk. Jadi bukan lagi masalah seberapa banyak waktu yang bisa kami alokasikan, namun bagaimana kami menghargai kualitas waktu tersebut.

Yang paling mengena dari ketiga variabel yang kuteliti itu tentu saja soal harga diri dari Rosenberg. Ah ya, apa yang kamu pikirkan soal harga diri?

Aku nggak tahu apa yang membuatku memutuskan untuk akhirnya menggunakan teori ini sebagai acuan. Rosenberg menarik. Dalam mengukur harga diri, dia tidak pernah spesifik menyebutkan aspek apa saja yang diukur. Tidak dalam jurnal-jurnal bahkan bukunya. Namun dari semua pemaparannya, hal yang paling digarisbawahi dari Rosenberg adalah ternyata harga diri itu ditentukan oleh diri kita sendiri. Ternyata harga diri itu ditentukan oleh bagaimana kita bisa mengapresiasi diri sendiri dan menerima segala hal yang ada dalam diri kita. Terdengar egois, tapi make sense kalo ngelihat kondisi akhir-akhir ini dimana society begitu shitty ngurusin kehidupan kita padahal mereka nggak tahu apa-apa.

***

Meski dataku baru keentry dan belum dianalisis lebih jauh. Aku baru saja menemukan fakta yang cukup menarik dari respondenku.

Aku meneliti ibu-ibu. Mereka bekerja dan punya anak. Sebelumnya dengan Prof. Tina kami sudah membuat perjanjian, bahwa tanpa menikah pun, seseorang bisa berstatus sebagai ibu. Lagipula ketika laki-laki memang nggak berfaedah, kenapa perempuan harus mempertahankan status berpasangan? Tidak ada pasangannya pun perempuan itu masih bisa hidup, memenuhi kebutuhannya, dan lain-lain.

Aku hanya heran dengan respondenku yang sebagian besar lulusan S1 itu ternyata semuanya memilih menikah. Lebih heran lagi ternyata banyak di antara mereka yang suaminya tidak bekerja. Can you imagine? Seorang perempuan berpendidikan dan memiliki karier memilih menikah dengan laki-laki yang bahkan tidak memiliki pendapatan?

"Kok bisa gini sih, Buk?" Aku protes pada Ibuk.
"Ya bisa. Kan ada yang orang tuanya udah kaya, jadi dia di rumah aja. Kerjanya mancing, miara burung."
"Trus ngapain coba kawin sama laki-laki kek gini."
"Ya orang kan harus menikah."

Aku akan memulai perdebatan yang alot kalau sudah membicarakan ihwal pernikahan dengan Ibuk. Somehow Ibuk sudah berharap di umur-umurku yang segini aku sudah punya seseorang yang mungkin padanya aku punya keinginan untuk menikah. Sayangnya sampai sekarang aku belum kepikiran soal itu. Belum. Hanya belum.

Kata Ibuk seseorang harus menikah. Entah untuk tujuan apa. Yang jelas normalnya orang memang harus menikah. Orang akan mempertanyakan jika seseorang tidak menikah, society akan menilainya dengan berbagai hal yang sebagian besar nggak bener. Lebih jauh, dan jahat tentu saja, seseorang dianggap nggak berharga kalau tidak menikah. Makanya orang ya nikah-nikah aja. Meski sebagian besar berakhir menyedihkan, meski akhirnya harus ngorbanin anak-anak hasil pernikahan itu, pokoknya yang penting orang menikah agar ia dipandang berharga. Karena kalau orang nggak nikah, mungkin dia nggak laku, atau sejenis itu. Sad banget.

Mempelajari Rosenberg dan skripsi ini membuatku untuk bisa mengapresiasi diriku sendiri; apapun pilihan hidupku. Proses yang baru setengah langkah ini rasanya ngajarin aku banyak sekali hal; untuk kembali lagi punya cita-cita dan selalu punya cita-cita, untuk lebih menghargai waktu dan orang-orang di sekitarku, dan yang terpenting untuk mengapresiasi diriku sendiri.

Iya, ini baru setengah langkah. Aku harus melalui proses paling sad dari skripsi kuantitatif; proses menganalisis data menggunakan psikometri. Aku kembali bersentuhan dengan buku-bukunya Prof. Azwar dan mau tidak mau berhadapan dengan angka-angka dalam Excel.

Tapi, ngomong-ngomong, pintar membaca data sekarang kayaknya lagi ngehype. Apalagi yang dikombinasikan dengan wawasan sosiohumaniora. Politik? Menarik. Okay. Jadi habis ini pengen jadi apa? Konsultan komunikasi bisnis? Atau corporate strategic partnership gitu? Menarik sih.

You May Also Like

0 comments