Deus ex Machina

by - October 01, 2017

Sebuah Intro

Tiba-tiba aku mulai merasa menulis surat cinta itu jauh lebih romantis dari apapun. Lebih romantis dari sekadar ucapan selamat malam atau sudah makan via aplikasi messenger, karangan bunga dari tukang kembang pinggir jalan, kegiatan menikmati kopi bersama, apalagi cuma pelukan, atau kissing barangkali. Nggak ada artinya. Sama sekali.

Segala hal terasa hambar dan aku hampir nggak bisa merasakan apa-apa selain pusing dan chaos.

***

Dalam pementasan Yunani Kuno, kerap kali sebuah lakon ditampilkan dengan cerita yang sungguh tidak masuk akal. Pembuat cerita biasanya tidak punya ide lagi atas kerumitan alur yang dibuatnya sendiri. Pada saat itulah si tokoh akan terjepit dalam suasana yang sulit. Namun, karena ia adalah tokoh utama dalam pentas, entah bagaimanapun caranya ia akan terselamatkan.

Sesosok dewa atau Tuhan atau penyelamat yang lain biasanya akan muncul dari atas panggung dengan sebuah mesin seperti kerekan. Dari sinilah istilah deus ex machina kemudian muncul. Secara harfiah, kata ini berarti 'Tuhan yang muncul dari mesin'. Namun, pada perkembangannya, bisa juga diartikan sebagai pertolongan yang datang mendadak. Yang entah bagaimanapun caranya pasti akan datang seperti dewa-dewa dalam pertunjukan Yunani Kuno yang bisa dengan tiba-tiba datang  dari langit-langit atau dari bawah panggung pementasan.

Sama halnya seperti aku menyukai berbagai mitos-mitos atas dewa Yunani, aku juga mempercayai hal-hal seperti deus ex machina ini benar-benar ada dalam kehidupan nyata, dalam cerita yang kualami setidaknya.

***

Masih Sebuah Intro

Sebagai anak psikologi, aku mengimani Freud seperti halnya aku meyakini bahwa dalam diriku ini ada Id, Ego, dan Superego yang komposisinya diatur sedemikian rupa agar aku bertahan hidup sampai detik ini. Dan kini ketiganya sedang berperang satu sama lain.

Tapi deus ex machina pasti ada. Aku yakin pasti ada.

You May Also Like

0 comments