Kalau Tuhan Lagi Bercanda

by - September 12, 2017


Akhirnya menulis lagi!

Pikiranku sedang penuh-penuhnya dan banyak sekali hal terjadi belakangan ini; yang besar, yang kecil, yang mudah, yang sulit. Terlalu kompleks pada akhirnya. Aku perlu menulis. Paling tidak bagi aku menulis di sini seperti aku menemukan seorang teman yang bisa benar-benar aku percaya.

You know. Aku nggak punya siapapun lagi yang seperti itu sekarang. Semua orang mengancam.

***

Pukul 12 malam Uber yang kutumpangi sampai di sebuah rumah di Jalan Anggrek Serat.

"Yakin ya, Mbak, ini rumahnya?"
"Iya kok, Pak. Makasih ya. Maaf muter-muter tadi."
"Iya, Mbak, nggak papa. Saya tunggu aja kalau-kalau salah."
"Oh nggak usah. Udah bener kok."

Lalu aku turun. Kamar yang kupesan ada di lantai 5.

"Seriusan naik tangga?" tanyaku agak sedikit nggak percaya. Tapi dari uang jaminan 200 ribu yang diminta, di dompet hanya tersisa 100 ribu dan tempat ini tidak menerima transaksi Debit, dan dia menerima. Kenapa tinggal naik tangga aja harus protes?

Aku kelelahan, banyak pikiran, dan sakit kepala.

Maka setibanya di kamar aku langsung rebahan. Aku teringat pekerjaan yang harus rampung. Sialnya begitu membuka tas aku segera sadar laptopku nggak ada di sana. Panik. Aku telpon Uber. Nggak ada di mobil. Fix. Di bandara. Aku telpon CS bandara, nggak diangkat. Pusing. Aku buka semua jendela di kamar. Angin di BSD jahat. Aku tutup lagi.

Aku ambruk. Nangis sejadi-jadinya. Keluarlah semua capek, pusing, dan nggak punya siapa-siapa. Everything sucks. Kenapa kerjaanku banyak? Kenapa kuliahku nggak selesai-selesai? Kenapa project ini sucks? Kenapa aku harus ke BSD? Kenapa Halim Perdanakusuma Airport tuh jauh dari BSD? Kenapa laptopku harus ilang? Kenapa tadi nggak dimasukin tas? Kenapa tadi naik Uber? Kenapa tadi ambil ATM? Kenapa ambil penerbangan malam? Kenapa aku hidup sih yaampun.

Kalau aku nggak pernah menghadapi hal-hal yang lebih sucks sebelumnya, aku mungkin milih give up. Tapi aku udah 22 tahun dan hal-hal yang lebih tai dan menguras emosi dan tenagaku pernah kuhadapin sebelumnya. Jadi aku mutusin buat nangis aja. Toh aku udah lama nggak nangis.

Aku pusing. Aku telpon teman. Nggak begitu membantu.

Aku nangis lagi.

***

Tidak seperti kebanyakan perempuan yang ekspresif, aku sebenarnya sedih karena aku terlalu flat. Aku nggak gampang dikesankan, nggak gampang suka sesuatu, nggak gampang membenci sesuatu, nggak gampang menaruh emosi-emosi yang berlebihan pada apapun.

Kalau aku terkesan sama orang, ya terkesan semenit dua menit. Habis itu udah.
Kalau aku suka sama orang, ya suka semenit dua menit. Habis itu udah.
Kalau aku marah sama orang, ya marah semenit dua menit. Habis itu udah.

Semuanya jadi flat semakin lama aku beranjak dewasa. Aku nggak ngerti ini bagus atau enggak. Bisa jadi bagus, karena aku jadi lebih nggak reaktif terhadap apapun. Tapi bisa jadi nggak, karena aku nggak bisa mengeluarkan emosiku dengan baik. Sesedih apapun dan semarah apapun. Apalagi emosi sedih. Yaampun aku bahkan bisa menghitung dalam setahun terakhir aku nangis berapa kali.

Makanya aku akhirnya merasa lega karena malam itu aku bisa nangis sampai mataku bengkak dan sakit kepala. Aku mungkin butuh lebih banyak menangis atau jatuh cinta atau terkesan atau marah, atau apapun itu yang melibatkan afeksi lebih banyak instead of biasa-aja-sih kayak yang selama ini aku rasain. You should believe, I'm struggling with it.

***

In the end, aku pulang ke Jogja lagi keesokan harinya dengan kondisi yang babak-belur. Tapi ya masih hidup dan mau nggak mau harus bersyukur.

Pertama, laptopku nggak jadi ilang. Seseorang nemuin di mesin ATM dan berinisiatif membukanya lalu menemukan akunku dan dia mencoba menghubungiku dan teman-temanku via social media.

Kedua, pertemuanku dengan orang-orang di BSD nggak sesucks yang kubayangkan. Again, aku harus berterima kasih karena aku punya emosi yang seflat ini. Aku bahkan belum membenci siapapun dari mereka terlepas dari mulutku yang jahat ke semua orang.

Ketiga, aku masih sampai Jogja sebelum bener-bener pagi meski pesawatnya delay luar biasa.

***

Di usiaku yang baru 22 tahun ini, aku merasa aku harus bersyukur atas semua hal yang aku punya, termasuk sedafuq-dafuqnya. Apapun. Menurutku, Tuhan baik, cuma sedang bercanda aja.

Tuhan bercanda karena di tempat kayak Jakarta, masih ada orang yang peduli untuk balikin laptop orang lain yang ketinggalan di ATM suatu bandara.

Tuhan bercanda karena di tengah project yang menguras seluruh tenaga dan pikiran, yang membuat kita capek dan bokek, ada teman-teman yang masih gigih mengerjakan. Ada orang-orang yang masih bisa diajak bercanda padahal kita nyaris kehilangan semuanya. Ada orang-orang yang masih bisa diajak ngelucu padahal mungkin habis ini kita akan terlibat war dengan para VP di suatu korporat terkemuka di Indonesia. And we said, "I just don't care with your politics."

Ya kita mungkin lagi bodoh atau apes aja.

Tuhan lagi bercanda karena di tengah pikiranku yang merasa semua hal yang kulakukan bodoh, nyatanya ada lebih banyak orang bodoh di luar sana. Orang-orang bodoh yang nggak bisa dikasih tahu. Orang-orang bodoh yang ngerasa keren. Orang-orang bodoh yang berhasil menjebak orang-orang bodoh lainnya. Orang-orang bodoh yang menjebakkan dirinya dalam lingkaran setan yang sulit dipahami lagi level kebodohannya.

***

Orang-orang bodoh hanya akan berkumpul dengan sesama orang bodoh. Iblis selamanya akan jadi iblis. Dan ketika kamu lagi apes kejebak di antaranya, entah di antara iblis atau orang bodoh, anggaplah Tuhan hanya lagi bercanda.

Dia mau menguji level humormu seberapa. And that's all what He did to me. So thanks God for everything. I know that You know best.

You May Also Like

0 comments