Catatan Ringan dari Ingatan-ingatan yang Panjang

by - September 16, 2017



Jakarta, 2016.

Aku nggak selalu bisa melihat musim hujan yang menyenangkan di Jakarta. Kapan hari aku terpaku di atap bangunan tiga lantai dengan payung biru "Jokowi" yang dibawa temanku dari Depok ketika bertandang ke tempatku di Tebet. Langitnya jingga. Di ujung pandangan aku melihat sekelebat lintasan Kali Ciliwung.

Jauh sebelum memutuskan tinggal di sini, aku sering mendengar kabar tidak menyenangkan dari tempat yang kini kutempati --dan paling tidak aku akan menetap di sini untuk beberapa bulan ke depan. "Tapi udah nggak banjir kok, neng, sekarang," kata mbaknya ketika pertama kali aku berkunjung ke sini untuk melihat kamar yang akan kutempati.

Begitulah. Ingatan soal musim hujan di Jakarta tidak begitu menarik. Bahkan ketika suatu hari aku menikmatinya di Cikini.

"Lu sering ke sini?"
"Nggak juga. Gue kan bukan orang Jakarta. Harusnya gue sih yang nanya ke lu."
"Yaa tapi kan gue bukan orang Jakarta yang kayak gini."
"Kayak gini maksudnya?"

Cikini selalu meriah dengan segala hal yang ada di sana. Konser musik, pameran, festival makanan, hingga kedai-kedai kopi dengan bangunan bergaya arsitektur kolonial yang artsy.

Kami tidak melanjutkan pembicaraan. Anggap saja tadi masing-masing dari kami salah ucap. Lalu lupa.

***

Jakarta, 2017.

Semenjak beberapa bulan lalu, Jakarta menjadi akrab sekali dalam ingatanku untuk hal apapun. Aku terbiasa dengan asap knalpot, panas udara, umpatan orang-orang, dan sekarang aku nyaris paham sepenuhnya dan mencoba berempati pada frustasi setiap orang. Mungkin driver ojek online memang harus belingsatan tiap kali bawa penumpang demi kejar tutup poin hari itu. Sopir-sopir angkot di depan Pasar Jatinegara mungkin memang harus emosian demi kejar setoran. Penumpang di KRL itu mungkin memang harus bertingkah bangsat agar setidaknya perjalanan sebelum sampai di tempat kerja nggak lebih dulu menguras tenaganya. Pun pedagang asongan, ibu warteg deket kantor, atau orang-orang yang jualan di pasar deket Jalan H. Bahkan mungkin orang-orang di kantor. Setiap orang memiliki frustasinya masing-masing --yang mau tidak mau harus kita pahami.

Maka Jakarta mengajariku untuk sebaiknya jangan marah as long kamu bisa nggak marah. Marah hanya akan menguras energimu. Kalau kamu ingin misuh, misuh aja. Tapi ya bilang asu, anjing, fuck, shit, atau apapun itu tanpa disertai emosi yang berarti. Kalau perlu, teriaklah asuuu sambil ketawa-ketawa. Mungkin itu justru bisa menjadi media untuk merelease frustasi-frustasi yang kamu rasakan. Lagipula semua hal ini akhirnya menjadi lucu. So, instead of marah, kamu lebih asik banyak-banyak tertawa dan memelihara selera humor yang baik agar tidak gampang baper.

***

Semarang, 2013.

"Erv, kamu tuh bisa! Aku percaya kalau kamu bisa. Aku tahu kamu!"
"Tapi.."
"Nggak ada ruginya berbuat hal yang baik, Erv. Kalau kamu beda sama mereka, akan ada nilai-nilai lain yang kamu dapatkan dan mereka enggak. Percaya deh, sama aku."

***

Jogjakarta, 2017.

Aku nggak pernah merasa benar-benar diajari untuk menjadi seorang yang benar-benar baik. Itulah kenapa aku lebih suka menyebut diri-sendiri iblis. Sesimpel karena aku muak dengan orang-orang yang jualan "kebaikan-kebaikan" versi mereka sendiri. Bagiku baik atau tidak baik tidak perlu dijual seberlebihan itu. Nggak perlu jualan kisah-kisah heroik diri sendiri, apalagi orang lain, karena itu hanya akan membuat seseorang terlihat bodoh di mata orang-orang yang tahu. Dan lebih celakanya hal itu menyesatkan orang-orang yang bodoh lainnya untuk juga terjerat dalam lingkaran-lingkaran kebodohan yang dipelihara.

Ya ampun. Aku ternyata brengsek banget. Aku memang dari kecil tidak pernah diajari bagaimana menjadi orang baik. Seingatku aku cuma diajari kalau kamu punya makanan lebih dan temanmu lapar, kasih sedikit bagianmu. Kalau uang jajanmu lebih dan temanmu nggak bisa jajan, ya bagi aja seikhlasnya, atau berikan sedikit jajanan yang sudah kamu beli. Itu saja cukup. Nggak perlu kamu cerita-cerita ke orang lain bahwa kamu sudah memberikan setengah bekalmu. Lagipula suatu hari nanti kamu juga mungkin akan minta bekal orang lain. Begitulah seharusnya. Wajar saja. Jangan berlebihan.

***

Mau tidak mau aku bersyukur selama 22 tahun hidup aku pernah dipertemukan dengan orang-orang yang mengubah hidupku. Ada orang yang berhasil mengubah cara berpikirku dengan sangat drastis. Ada orang yang berhasil membuatku berpikir ulang apa saja yang kulakukan selama ini, membuatku memikirkan lagi masa depanku, cita-citaku. He was such an angel. Dan kayaknya ini bagian dari humorisnya Tuhan yang begitu aja membuat sebuah pertemuan-pertemuan yang sepedih apapun akhirnya, tetap saja berfaedah.

Then, thanks to God for everything.

Kau tahu, sangat tidak adil kalau suatu hari Tuhan menjadikan orang lain sebagai "media" untuk menolongmu dan lalu di lain waktu dengan sangat congkak kamu bilang tidak mau berbuat apapun untuk orang lain. Mulailah berpikir bahwa.. jika suatu hari kamu ditolong, mungkin itu artinya suatu hari kamu harus menolong. Sama halnya dengan jika suatu hari kamu berbuat baik kepada orang lain, suatu hari yang lain akan ada orang lain yang berbuat baik padamu. Ya ampun. Menjadi baik hanya sesimpel itu.

***

Note to yourself. Kamu nggak perlu jadi malaikat dulu atau bikin gerakan dulu atau bikin sekolah gratis dulu atau apapun yang dalam bayanganmu harus ndakik-ndakik. Sudahlah nggak usah ikutan ngayal jadi menteri pendidikan dan jualan kisah heroik yang nggak konkret. Sesimpel kamu berbuat baik pada dirimu sendiri, itu sudah cukup. Jika mau berusaha lebih, lihat satu dua orang di sekitarmu. Itu saja dulu. Nggak perlu ndakik-ndakik.

***

Jogjakarta, malam ini.

Aku mencoba mengingat semua potongan kejadian yang berceceran di mana-mana. Sebagian di Semarang, sebagian lagi mungkin di Jogja, di Bandung, atau mungkin di Jogja ini sendiri. Aku pernah sangat ingin lari dari apapun yang mengingatkanku pada tempat ini. Kataku, "Terlalu banyak ingatan di tempat ini. Aku mau pergi aja."

Lalu aku lari. Tapi percayalah lari nggak akan menyelesaikan masalah apapun.

Aku mencoba membuat catatan-catatan untuk diriku sendiri, bahwa:
  1. Setiap orang punya masalahnya sendiri-sendiri, apapun itu. Dan meski sebagian lagi memilih berjualan ceritanya, sebagian yang tidak kauketahui sesungguhnya juga tidak semenyenangkan itu. Jadi mulainya berhenti berpikir bahwa Tuhan tidak adil dan hidup tidak adil. Nggak. Kamu salah. Hidup ini adil karena Tuhan sangat adil.
  2. Sekali lagi, lari tidak menyelesaikan masalah. Selesaikan apa yang ada di meja rapat hanya berhenti di meja rapat. Pun dalam hidup. Mulailah untuk menghadapinya dengan tertawa karena setiap hal diciptakan Tuhan untuk menguji selera humormu.
  3. Mulailah lebih sering membaca buku lagi agar kamu berempati.
  4. Jangan melibatkan terlalu banyak emosi. Kalau marah, ya marah aja setelah itu lupakan. Jika terkesan, ya sewajarnya saja, setelah itu lupakan. Kalau sedih, ya kalau bisa menangis ya menangis secukupnya, setelah itu udah. Semua hal akan selesai pada waktunya dan semua hal akan dilupakan pada saatnya.
  5. Tidak ada yang lebih menyenangkan selain tidak merasakan apa-apa. Kamu nggak akan gampang marah dengan orang, kecewa dengan orang, sedih karena orang. Sebab seperti halnya dirimu sendiri yang tidak tertebak, orang lain pun begitu. Dan jangan pernah berekspektasi pada orang lain. Fana.
Namun aku Tuhan, belum pernah kecewa pada semua hal yang pernah aku minta pada-Mu. Jadi untuk kali ini, kalau sebegininya aku merasa begini, ya aku mencoba paham Kau hanya mau menaikkan level humorku. Agar aku menjadi orang yang lebih baik lagi. Itu saja cukup.

Aku belum lelah jadi iblis.

You May Also Like

0 comments