Chaos

by - August 14, 2017

Jogjakarta, hari-hari ini.

Aku menuruti saran Kak Linggar untuk menyalahkan PMS aja untuk semua hal yang terjadi belakangan ini. "Udah, salahin PMS aja, lebih simpel," katanya.

Ya ya. Itu logis. Menyalahkan PMS akan jauh lebih simpel karena PMS akan selesai pada saatnya. Jangan nyalahin kerjaan, kuliah, apalagi orang-orang di sekitar. Satu-satunya hal yang paling masuk akal dilakukan adalah menjauhi kerumunan, mendekap bantal erat-erat, spa, creambath, atau ngapain aja yang bikin rileks.

Seharusnya ketika seperti ini aku main, nonton, karaoke, atau melakukan hal-hal random, tapi dengan orang yang tepat. Sementara di sekitarku saat ini orang-orang juga sedang chaos dengan dirinya sendiri-sendiri.

Begitulah dewasa. Penuh masalah dan nggak enak.

***

Di Bandung beberapa hari lalu.

Aku ketemu Tania meski cuma beberapa menit. Kami membeli seblak dan sate taichan sambil mengutuki diri sendiri.

"Kok lu bentar banget sih di Bandungnya."
"Ih iya, Tan, kepaksa ini mah. Harusnya udah balik dari Jakarta kemarin malem."

Kami diam lagi.

"Kok kita kalau ketemu suasananya jadi galau ya?"
"Ya lu mancing-mancing sih," jawabku. "Aku tuh udah nggak punya waktu buat galau sekarang."
"Hmm gitu ya."

Di Braga Punya Cerita, semua hal seperti dibawa kembali ke masa lalu. Fragmen-fragmen tempo dulu disajikan dalam lukisan-lukisan dan bingkai foto. Lengkap dengan cerita-ceritanya. Di salah satu fragmen itu, barangkali aku atau Tania sama-sama punya sesuatu yang tersisa. Sesuatu yang kadang-kadang menarik-narik ingatan kami untuk sebentar-sebentar mengingat dan lalu mikir betapa anehnya diri kami sendiri.

***

Semarang, beberapa tahun lalu.

Kami berlima. Ada aku, Okta, dan sisanya laki-laki. Di antara mereka, Evans mungkin termasuk pria yang paling sering sakit hati dengan semua hal yang dilakukan dua teman ceweknya. Maka sebagai bentuk balas dendam, dengan siapapun kami dekat atau berusaha mendekat dan didekati, Evans menjadi satu orang yang nyacatin paling kenceng.

"Kok kamu nggak minta jemput itu sih, siapa tuh yang jalannya kayak bebek," ujarnya ke aku sewaktu aku meminta menjemput ketika aku ke Semarang.
"Hah?"
"Itu yang adek kelas."
"Hah?"

Aku syok. Pasalnya orang yang dimaksud Evans adalah dedek brondong jaman SMA yang kini jadi taruna Akpol dan gantengnya dari dulu berlebihan tapi sayang untuk dekat sama dia, harus saingan sama homo.

"Kok bebek sih? Dia tuh anak Akpol! Hih, kamu tuh nggak ada apa-apanya ya!"

Kali lain dia cerita kemarin habis nemenin Okta ketemu dengan seorang cowok yang didekati dari jaman SMA tapi mandeg di yaudah-kita-temen-aja-nggak-lebih. Mereka bertiga dengan Darryl. Aku nggak habis pikir kenapa di kencan pertamanya Okta justru mengajak manusia-manusia sampah itu ikut serta.

"Halah kayak gitu aja. Ya mending aku lah," katanya mengomentari.
"Heh, singkek! Ngaca woy, ngaca!"
"Seenggaknya aku tuh nggak lemah. Cowok-cowok kayak gitu tuh lemah. Nanti tuh dicubit aja bilangnya KDRT, laporan ke Komnas HAM."
"Hih emange kowe!"
"Enggak. Aku nggak selemah itu."

Dan meski sangat menyebalkan, nyatanya Evans memang pria yang paling setia pada kami, meski akhirnya di kondisi dia sudah punya pacar sekalipun. Evans masih mau antar-jemput Okta ke kampus, disuruh-suruh fotokopi, antar-jemput aku kalo ke Semarang, dan masih bisa direpotin untuk banyak hal.

***

Di Braga selepas hujan. Beberapa hari lalu.

"Kalo dari sini ke stasiun, butuh berapa menit ya?"
"Deket kok. Paling 10 menit nggak nyampe deh."
"Ya udah kalau gitu baliknya ntar aja."

Kami diam.

"Kamu diburu-buru suruh nikah nggak sih?"
"Hah?"
"Serius."
"Kalau diburu-buru sih enggak. Tapi kalau ditanya-tanya ya udah. Apalagi kan semehku taunya ya sekarang aku tuh lagi kosong gitu. Dan kayak nggak punya interest apapun ke orang lain. Hahahaha."
"Sama banget, Errr!"
"Masalahnya ya cowok-cowok di sekitarku tuh sekarang nggak-banget semuanya."
"Sama banget."
"Tapi mungkin aku harus reuni ke SMANSA sih. Atau balik lagi ke kampus untuk ketemu orang-orang yang dulu pernah sekali dua kali dikenal di kampus. Since kayaknya mereka lebih potensial dan mending banget."
"Kalau aku tuh.. nggak tau ya. Mungkin karena dulu tuh kita ya dikelilinginya orang-orang kayak Andre, Arul.."
"Darryl, Singkek bahkan.."
"Jauh beda banget."
"Banget."
"Sekarang tuh semua orang ada maunya gitu."
"Nah!"

***

Masih di Bandung. Awal 2017, beberapa minggu sebelum kembali ke Jogja.

Di mobil dalam perjalanan dari Dago menuju tempat ngopi favorit kami, Tania cerita banyak hal mengenai pandangan-pandangannya tentang relasi. Dalam banyak hal, aku merasa kami punya kemiripan perspektif. Barangkali karena kami sama-sama tinggal jauh dari orang tua dan ngerasain segimana pedihnya harus hidup sendiri, dituntut mandiri secara finansial, dan hal-hal lain yang mungkin belum dirasakan perempuan-perempuan seumuran kami.

"Kalo menurutku, bagian paling sulit buatku sekarang untuk menilai cowok ya nyamain effort. I mean, aku butuh orang yang effortnya sama sih. Kemarin-kemarin tuh setelah tak pikir-pikir, effortnya kita nggak sama."
"Maksudnya?"
"Ya ampun, aku tuh orang sebebas ini gitu. Pilihan hidupku tuh bebas, nggak mau dikekang sama aturan-aturan yang kamu cewek lah, harus gini, harus gitu. Aku pergi ke mana aja bebas, aku ngapain aja bebas. Tapi buat itu ya aku nggak dapetin cuma-cuma. Ada effort yang sepadan. Harus berani nggetih dan lebih nekat. Masa ya effort yang segitu disamain sama orang yang bahkan baru ngerasain pergi dari rumah tiga hari aja homesick. Itu dia pergi di kondisi yang sangat nyaman loh. Dia tinggal di tempat yang enak, fasilitas ada, teman-teman banyak. Duh, beda!"
"Aku paham sih. Kadang aku juga ngerasa gitu sih dengan beberapa orang."

Some of people mungkin khawatir cewek-cewek matre kayak kami ini nggak siap diajak susah. Padahal justru mungkin cewek-cewek matre di luar sana punya pikiran yang sama kayak aku atau Tania; khawatir laki-laki yang punya relasi dengan kami justru nggak punya effort yang sepadan dengan semua hal yang kami lakukan selama ini untuk diri kami sendiri.

Jadi sepulangku dari Jakarta, aku merasa ada hal-hal yang harus dipikirkan matang-matang untuk menilai seseorang; menyamakan effort.

***

Jogjakarta, hari-hari ini.

I push people away dan memilih menjaga jarak aman ke semua orang. Membiarkan semuanya dalam status kosong tanpa ada tendensi ke siapapun. Semuanya sama, setara relasinya. Sepertinya itu pilihan paling rasional yang bisa diambil di saat-saat seperti ini.

Di mobil dalam perjalanan Jakarta-Bandung kemarin, aku bicara beberapa hal dengan Lucgu dan sekali lagi aku menemukan laki-laki di sekitarku yang nggak setuju dengan sikapku.

"Loh? Ya kalo semua cowok kayak kamu, perjalanan kita hari ini nggak ada, Luc," kataku. "Ya kamu nggak adil dong, kamu aja boleh loh ke luar kota sama temen-temen cewekmu, nggak harus ke mana-mana dibuntutin dia, masa kalau dia yang gitu, kamu nggak boleh? Nggak fair dong."
"Ya nggak lah, tetep beda. Susah cewek-cewek kayak kamu nggak bisa diatur."
"Aturan yang mana dulu nih? Relasimu itu baru pacaran lho, kamu bukan siapa-siapanya dia. Bahkan kalau kalian menikah pun, kompromi itu tetep perlu."
"Duh, susah dijelasinnya."
"Ya kalau nggak mau kompromi ya jangan punya relasi sama orang. Sama kaktus aja, apa pohon, guci, vas bunga. Bebas itu kamu atur-atur sesukamu."

Kami nggak meneruskan karena berdebat soal hal ini nggak ada selesainya. Lagipula kami memang beda dan itu sebabnya kami berteman baik tanpa melibatkan perasaan apa-apa meski ke orang-orang kayak Lucgu aku bisa punya sikap yang jauh lebih manis dari sikapku pada cowok manapun. Padanya aku justru mau mengambilkan minum, menyiapkan makanan, tempat tinggal, memastikan semua keperluannya beres, menemaninya ngobrol biar nggak ngantuk di perjalanan; hal-hal yang kayaknya mustahil kulakukan pada orang-orang yang justru mencoba mendekat atau memiliki relasi denganku.

***

Aku masih tiduran dan mulai capek sendiri. Rasanya nggak cuma fisik, mental juga terkuras sekali di saat-saat seperti ini.

"Jangan salahkan siapapun, salahin aja PMS." Kata-kata Kak Linggar membayang terus di kepalaku dan itu sepertinya masuk akal. Jangan salahin siapapun karena yang salah adalah pikiran dan dirimu sendiri. Cukup salahkan PMS, karena dengan begitu semuanya akan lebih simpel. Sebab PMS akan selesai dan hilang pada saatnya pun semua chaos, kalut, dan kejenuhan pikiranku belakangan ini.

It's too much and I feel annoyed.

You May Also Like

0 comments