Pikiran-pikiran Random

by - July 16, 2017


Semenjak kali pertama kedatanganku, musik Payung Teduh diputar berulang-ulang. Ini bagian yang aku suka dari Kronology. Sesimpel karena mereka nggak pernah muter musik yang nggak asik. Tempat lain adalah Blanco. Tapi aku sudah mengenalkan Blanco pada semua orang, dan di sana seperti jadi unofficial markasnya Skripsi-Skripsi Club untuk ngerjain skripsi. Bahkan kadang mereka ke sana meski nggak ada aku yang biasanya maksa-maksa untuk skripsian di tempat asik.

Kronology tidak. Aku belum banyak mengajak teman-temanku ke sini. Rasanya ini kayak masih jadi tempat yang asik untuk sendirian. Aku duduk di pojok favoritku dengan laptop dan berbagai kerjaan yang menyusul harus diselesaikan karena satu dan lain hal sebelum aku ke Jakarta hari Selasa.

Aku bingung sih. Harusnya aku ngerjain skripsi dan punya target untuk selesai, paling tidak merangkum bacaan untuk bagian psychological well-being pada perempuan dalam konteks budaya Barat dan di Indonesia. Aku baru selesai dengan bacaan bagaimana perempuan Muslim Timur Tengah yang hidup di US dan bagaimana self-esteem mereka sebagai orang Timur Tengah mempengaruhi psychological well-being. Aku mandek di perdebatan paham feminis liberal yang menganggap paham agama, khususnya Islam, yang sangat patriarki itu, tidak sesuai untuk psychological well-being perempuan dan bagaimana sains menjelaskan korelasi religiusitas dan psychological well-being ---yang ternyata di beberapa konteks berhubungan positif.

Anyway, bacaan itu harusnya masuk di risetnya Nuri, salah satu teman serisetku yang mengambil aspek religiusitas. Tapi demi mempelajari konteks, kurasa aku perlu juga membaca itu. Aku mulai menyadari seharusnya aku banyak diskusi dengan mereka yang seriset denganku, karena semestinya mereka juga menemukan bacaan-bacaan yang menarik, yang mungkin akan berkaitan dengan risetku. Tapi aku bingung bagaimana caranya. Seumur-umur aku belum pernah diskusi serius dengan anak psikologi, dan di sini aku merasa bingung.

Waktu sendiri

Akhirnya aku membuat keputusan untuk paling tidak minggu-minggu ini aku harus sendirian. Membaca sendiri, berpikir sendiri, doing everything by myself. Semenjak libur lebaran aku jadi manja banget. Aku mager ngapa-ngapain, bahkan ke mana-mana aku minta dianter, nebeng, atau ngegojek. Pupy baru kusentuh hari ini berkat bantuan Cicik dan dia udah kayak artefak yang penuh debu dan usang.

Aku merasa chaos lagi. Bahkan untuk urusan tiket pesawat dan hotel tadi aku nyaris bentrok dengan Niwang. Lagi-lagi aku hampir menyalahkan kerjaan, padahal ini hanya aku yang nggak bisa mengelola diri sendiri. Makanya, aku merasa aku butuh sendiri. Paling tidak agar aku bisa berpikir jernih untuk mengambil keputusan dan tetap rileks di bawah banyak tekanan.

Mengingat saran Kak Linggar dalam perbicangan kami beberapa waktu lalu, di saat seperti ini aku nggak boleh berpikir macam-macam. "Kalau aku selalu nyalahin PMS sih," katanya.

Iya juga sih. Selain jerawatku akan muncul di saat mens, moodku juga lebih kacau. Dan mungkin menganggap seperti itu akan jauh lebih menenangkan, alih-alih berpikir aneh-aneh. Ini cuma PMS dan PMS akan selesai pada saatnya.

***

Rekonsiliasi

"Kamu tahu, aku sebenarnya kangen Balairung," kataku dalam perbincangan dengan seorang teman.

Aku kangen Balairung. Serius. Aku kangen masa-masaku aktif di persma dan aku sebenarnya ingin ketemu banyak orang dari sana. Aku berencana ngajak Mas Ipin main karena besok aku mau ke Jakarta, aku kangen mukul-mukulin Dias kayak dulu setiap kali kita ketemu atau main, aku kangen tiba-tiba dateng ke B21 dan ngajak mereka makan, bahkan aku kangen dipanggil "Bun" sama anak-anak. Wqwq.

"Pengen aku screenshot trus masukin Instagram Story," jawab temenku.
"Wkwk. Ya nggak papa. You know kenapa aku kangen? Sesimpel karena ternyata cuma Balairung satu-satunya kenangan masa kuliahku dan sekarang aku mau lulus, kalian juga beberapa udah lulus."

Aku nggak punya ingatan apapun soal kampus kecuali B21 meski nggak semuanya menyenangkan. Tapi aku menghubungi orang yang salah. Karena bahkan dia nggak mau ketemu siapapun dari angkatan kami, kecuali aku mungkin. Wkwk.

Aku memutuskan berdamai dengan apapun di B21 pada akhirnya dan melupakan semua drama yang pernah terjadi di sana. Seperti kubilang, sesimpel karena Balairung ternyata satu-satunya kenanganku soal kampus. Tanpa cerita di sana, aku nggak punya ingatan apapun soal masa kuliah. Di psikologi aku nggak punya teman, nggak pernah punya cerita berkesan dengan siapapun, terlalu flat.

Beda dengan B21. Aku pernah nggak tidur 2 hari cuma untuk editing, aku pernah nggak mandi dan cuma cuci muka di masjid kampus karena harus UTS dan sekaligus mimpin rapat yang berlangsung nyaris 24 jam! Aku menemukan orang-orang yang suka baca buku dan diskusi di sana. Aku merasa selalu goblok dan karenanya butuh belajar juga dari sana. Aku merasa ketemu orang-orang yang sangat berkelas dari bacaannya, sekaligus tolol karena kelakuannya. Aku pernah ngarang cerita dan hidup di dunia khayalan bersama Deddy dan Obos bahwa kami adalah mahasiswa kedokteran. Aku berkali-kali jatuh sendiri dari motor karena banyak pikiran. Aku sering jalan-jalan pukul satu dini hari di kompleks Bulaksumur, ngeburjo deket bunderan, nyari penyetan yang masih buka tengah malam karena itu adalah "makan malam" kami yang ketunda revisian, hingga pengalaman pulang sendiri melewati ringroad pukul dua atau tiga pagi.

Rasanya tanpa Balairung, aku cuma akan jadi anak psikologi yang kuliah mulai setengah 8 dan pulang pukul 4 sore, lalu kembali ke kost dan belajar untuk kuliah besok serta mengerjakan tugas-tugas kampus. Somehow Balairung membuat masa kuliahku berwarna. Aku jadi tahu banyak hal dan terlibat banyak masalah dari sana. Dan yang paling penting adalah.. aku pernah sangat "idealis" dan pernah sangat mahasiswa.

***

"Aku pun sama kayak kamu, Erv, satu-satunya ingatanku soal kampus cuma Balairung. And I hate the way I realized all my memories about my college life is about Balairung. Because, at the same time, it was bring bad memories too. So much bad memories," katanya.

"Aku pernah kayak kamu sih, dulu. Tapi sekarang udah nggak. Yang ada aku kangen," kataku lagi.

Somehow aku adalah orang yang percaya bahwa waktu adalah elemen penting untuk setiap fragmen kehidupan manusia. Waktu membuat kita memiliki banyak ingatan, sekaligus melupakan.

"Waktu yang akan nyembuhin sih. Tapi mungkin memang setiap orang butuh jeda. Kamu butuh jeda."

***

Musiknya masih Payung Teduh..

Kali ini Berdua Saja. Sejak dulu aku ingin sekali mendengarkan Berdua Saja dengan seseorang, yang aku tidak tahu siapa. Aku membayangkan kami cuma diam, merasakan hembusan angin, mungkin tersenyum-senyum sendiri. Tapi memang kami cukup berdua saja. Ada banyak hal yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata kalau kami cuma berdua saja.

Aku orang yang menyebalkan, aku cangkeman, dan tidak betah diam lama-lama. Bahkan sekalipun aku tidak punya lawan bicara yang sepadan, aku bisa monolog. Tapi suatu saat nanti aku ingin ketemu orang yang padanya aku bisa diam, paling tidak aku mau menuruti maunya untuk diam, nggak membangkang. Agar kami punya lebih banyak waktu mendengar desir-desir angin dan mengatasi gemuruh di dada masing-masing, mungkin. Lalu kami cuma diam. Berdua saja. Begitu.

You May Also Like

0 comments