Ketika Ditegur

by - July 22, 2017



Setiap tubuh memiliki batasnya masing-masing, dan sakit mungkin adalah pertanda dari Tuhan bahwa tubuhmu sudah mendekati batas kemampuannya. Konon katanya, sakit itu menghapus dosa. Aku tidak tahu perkara dosa dan semacamnya — itu urusan-Nya. Tapi yang kutahu, sakit memberi waktu untuk lebih banyak diam dan berpikir. Tentang siapa saja yang ada di sekitarmu, tentang siapa saja yang mau memberikan waktunya padamu, dan tentang mereka yang berharga.

Hm aku akhirnya sakit lagi. Kali ini agak serius, karena aku udah dua kali ke dokter. Sebenarnya kalau merasa tidak sehat, aku sering. Mungkin sejak puasa dulu. Beberapa kali aku mengeluh 'nggak begitu sehat' tapi ya nggak sakit juga. Aku cuma sering merasa pusing, atau tidak tahan kalau kena angin malam-malam. Padahal semua orang tahu aku 'anak malam' hahaha.

Sekitar minggu lalu aku juga merasa agak nggak sehat, meski nggak sakit juga. Tapi aku punya masalah dengan gigiku. Jadi, aku pikir itu cuma efek impaksi yang kebetulan mau kambuh atau karena bracket di gigi seriku lepas, jadi aku sering ngilu dan pusing. Tapi kayaknya aku masih sehat, masih bisa main sampai malam, meski beneran menggigil bahkan cuma di Kaliurang. Setelahnya aku masih ngantor, masih ngurusin banyak hal untuk event Telkom, masih bisa ke Jakarta, nenteng-nenteng barang yang cukup berat jalan ke pesawat dan mengurus semua hal seorang diri. Oh ya, di Jakarta aku bahkan masih sempet main sampai pagi, menenggak banyak sekali soda dan kopi. Dan tentu saja.. kurang tidur.

Fix. Aku ambruk setibanya di Jogja.

Kukira akhir pekan ini jadwalku adalah ke klinik gigi melanjutkan periksa kemarin. Rencananya aku akan ke Parahita dan setelah itu ke Seturan untuk ketemu dengan dokter giginya serta membuat janji kapan untuk bisa melakukan penanganan. Aku memutuskan untuk akhirnya harus berani operasi untuk impaksi, tapi lebih dulu mau membereskan urusan bracket. HAHA. Entahlah kenapa urusan gigi saja bisa serumit ini. Aku benci.

***

Sakit memberi kita jeda untuk tidak melakukan apa-apa.

Setidaknya begitu yang selalu aku yakini. Dengan sakit, aku bisa cuma tiduran. Aku nggak mikir kerjaan, nggak mikir skripsi, bahkan aku menulis blog saking selonya. Sakit juga membawaku pada ingatan-ingatan tentang rumah dan orang-orang yang selama ini ada di sekitarku. Siapa saja mereka? Siapa saja yang peduli di titikku nggak bisa ngapa-ngapain? Siapa yang mau membawakan makanan? Siapa yang mau mengantar ke dokter? Siapa yang cukup selo nelpon atau chat cuma untuk nanya apakah sudah baikan atau belum? Siapa yang menawarkan bantuan? Dan masih banyak lagi.

Sudah tentu aku kangen dengan rumah. Lebih tepatnya aku kangen menjadi anak kecil lagi.

***

Aku suwung dan dari tadi cuma ngerusuhin Cicik dan Okta. Tania kalau di saat-saat seperti ini nggak banget buat dihubungi karena dia akan memberikan saran-saran yang nggak relevan.

"Coba kamu dirawat sama *menyebut satu nama* pasti cepet sembuh."
"Kamu harusnya punya pacar di Jogja yo, Errr."

Dan masih banyak lagi kalimat-kalimatnya yang nggak sepatutnya dikatakan sebagai nasihat pada orang yang mengeluh sakit.

"Gini lho, Tan, masalahnya di saat seperti ini aku lebih butuh orang-orang kek Cicik daripada pacar."

Masalahnya lagi adalah Cicik besok Senin sidang [akhirnya wkwkwkwk]. Cicik lagi sensitifi disuruh-suruh, bahkan waktu aku sekarat kek gini. Wkwk. Jadi dia ngomongnya ke mana-mana.

"Dedek-dedekmu lah sana disuruh ah."
"Iiih mereka tuh nggak ada yang tau kosanku, Cik."
"Ya dikasih tau makanya."
"Ya nggak bisa tetepan. Kosanku tuh cowok nggak boleh masuk. Mereka nggak bisa kek kamu yang leluasa bawa makanan sampai kamar dan aku juga nggak perlu repot-repot pakai baju yang bener."
"Gaya banget biasanya juga buka pasang jilbab."
"Yee bukan cuma jilbab. Jilbab mah selo aja. Tapi ya itu. You know kan, maksudku?"
"Alah, ngerepoti."
"Alah, udah! Buruan yak. Thanks!"

Lalu Cicik beneran dateng ke kost membawa serta barang-barang yang kusebutin.

Cicik ternyata bener-bener serius mau sidang. Aku pikir cuma bercanda. Jadi, dia ke kost cuma mengantar pesananku dan lalu ya udah. Dia pulang.

Seusai Cicik pulang, aku nggak langsung tidur karena Ujik akan ke kost mengambil kamera. Oh ya, kenapa tadi nggak titip ke Ujik aja ya? Aku berharap Cicik nggak sadar dan ngomel-ngomel.

***

Meski sakit memberi banyak waktu untuk nggak ngapa-ngapain, nyatanya aku memang nggak suka nggak ngapa-ngapain. Aku tuh minimal harus ke luar rumah dan ngapain gitu. Aku bisa mati suwung kalau disuruh bedrest.

Aku rusuh lagi ke orang-orang. Saking suwungnya, aku bahkan ngechat Dipta. Udah berbulan-bulan nggak ketemu Dipta meski kami sama-sama di Jogja. Kesel juga kalau ada orang sok sibuk meski sebenarnya aku juga tak kalah menyebalkan kalau ditanya soal kesibukan. Wkwk.

Dengan Okta aku malah akhirnya bicara random dan seperti biasa kami ngetawain orang. Selalu ada orang yang jadi bahan tertawaan kami, dan di titik ini aku merasa berdosa. Dan itu secara random kuungkapkan pada Tania.

"Kayaknya aku kebanyakan dosa deh, Tan. Ya dosa sama Tuhan, sama manusia. Aku berdosa sama orang yang jahat sama aku, bahkan aku berdosa ke orang yang baik sama aku."

Dan meski urusan dosa-dosa seperti ini adalah urusan-Nya, bagaimanapun aku masih percaya Dia ada. Dia tahu apa yang aku lakukan, Dia tahu bagaimana aku bersikap ke orang-orang, dan semuanya. Dia tahu semuanya. Dia Maha Tahu.

***

Setiap tubuh memiliki batasnya masing-masing, dan sakit mungkin adalah pertanda dari Tuhan bahwa tubuhmu sudah mendekati batas kemampuannya. Konon katanya, sakit itu menghapus dosa. Aku tidak tahu perkara dosa dan semacamnya — itu urusan-Nya. Tapi yang kutahu, sakit memberi waktu untuk lebih banyak diam dan berpikir. Tentang apa saja yang harus kamu sesali, apa yang seharusnya kamu lakukan, dan apa yang tidak seharusnya kamu lakukan.

Aku selalu percaya Tuhan Maha Asik. Bahkan mungkin diberi sakit seperti ini adalah cara terasik untuk menegurku. Paling tidak agar setelah ini, aku bisa bertindak dan bersikap lebih baik, pada semuanya.

Duh, maaf ya.

You May Also Like

0 comments