Sebuah Ruang

by - June 11, 2017


Aku percaya kita hidup di sebuah ruang yang sangat besar dengan setiap orang diberi anugerah berupa ruang kecil untuk hidupnya masing-masing. Dalam ruang yang sangat besar itu, ada kotak-kotak lagi yang berisikan ruang-ruang milik setiap orang dan orang lainnya. Singkatnya, ruangku mungkin akan beririsan dengan ruang milik orang lain, dan begitupun seterusnya.

Sebagai makhluk sosial, kita mau tidak mau harus berbagi ruang itu. Dan pembagian-pembagian ini akan sangat berbeda pada satu orang dan lainnya. Tergantung intensi, kedekatan emosi, maupun preferensi. Aku sendiri mungkin akan berbagi ruang dalam porsi beberapa untuk semua orang yang kukenal. Pada orang-orang yang lain, aku mau berbagi porsi itu lebih banyak, dua kali lipat mungkin. Dan begitu seterusnya. Setiap orang berbagi. Mereka memberi dan mendapatkan sesuatu.

Namun, ada masanya ketika semua hal sudah dibagikan, kita harus kembali pada ruang masing-masing seorang diri. Kita butuh sendiri.

***

Saat kita memutuskan ingin sendiri, seharusnya orang-orang lain harus paham mengapa orang butuh sendiri. Dan mereka, sebenarnya tidak punya hak untuk melarang keinginan orang lainnya untuk sendiri. Sebab seperti yang kubilang tadi, dalam ruang yang sangat besar ini, masing-masing dari kita punya ruang-ruang kecil untuk hidupnya masing-masing.

Ketika seseorang memutuskan kembali ke ruang kecilnya, bukan berarti dia sedang marah, malu, kecewa, atau benci pada sesuatu. Dia hanya butuh ruangnya sendiri. Dan setiap orang, pasti memiliki alasan masing-masing, mengapa di waktu-waktu tertentu orang butuh untuk kembali ke ruang kecilnya masing-masing.

Setiap orang memiliki cara untuk mengekspresikan perasaan. Dan ekspresi itu, bisa dilakukan dengan berbagai cara, yang mungkin pada tiap-tiap orang bisa berbeda. Termasuk pada ekspresi yang muncul dari perasaan seseorang yang ingin kembali pada ruang kecilnya masing-masing.

***

Aku, sebagai perempuan berumur 22 tahun, tidak terlalu mempermasalahkan jika seseorang baru membalas pesanku setelah dua hari, atau tidak mau menemuiku selama seminggu, karena aku meyakini adanya ruang-ruang ini. Bagiku, itu mungkin salah satu cara mengekspresikan keinginannya untuk 'kembali' pada ruang personalnya tanpa mau untuk membaginya padaku. And I'm okay. Unless itu hal yang penting banget ya. Tapi kurasa, jika penting sekali, aku akan melakukan effort yang lebih. Misalnya saja aku mungkin akan menelponnya, atau di pesanku, secara khusus kubilang ini penting, tolong dibalas. Atau mungkin aku menemuinya, tapi dengan catatan dia mau.

Kalau memang dia sedang benar-benar butuh ruangnya sendiri, ya aku paham.

I do my things and you do your things.

Aku tidak tahu apa yang sedang orang lain kerjakan, apa yang dia pikirkan, apa yang menjadi prioritasnya, dan terlebih, apa yang sebenarnya dia rasakan. Jadi aku berusaha paham bahwa kita memang hidup sendiri-sendiri dan karenanya kita tidak bisa memaksakan jika memang orang lain tidak mau berbagi ruangnya pada kita.

You May Also Like

0 comments