Pilih-Pilih Teman

by - June 11, 2017


Dulu ketika aku SMA, pernah ada suatu keributan di kelas yang melibatkan aku sebagai salah satu orang yang dibicarakan. Seorang teman, sebut saja si X, memprotes, kenapa aku suka pilih-pilih teman. Aku syok mendengarnya, mengingat selama ini, di antara 11 cewek di kelas, menurutku aku termasuk yang paling bisa berteman dengan siapa aja, termasuk si X. Oh ya, si X ini cowok.

Aku protes. Kubilang padanya ini nggak masuk akal. Nggak kayak cewek-cewek lain yang jutek mengarah ke jijik, menurutku aku paling biasa aja menanggapi si X. Beberapa kali bahkan aku ngobrol dan dengerin cerita si X. Tapi lalu si X berkilah bahwa selama kami berteman, aku membeda-bedakan perlakuanku padanya dan pada beberapa orang teman kami lainnya, salah satunya Bakuh.

Aku bengong. Masih nggak habis pikir dan nggak masuk akal. Dia membandingkan pertemananku dengan Bakuh dengan pertemananku dan dia?

Well. Rasanya nggak cuma aku yang nggak habis pikir, tapi pasti semua orang. Bakuh teman dekatku sejak kelas 1 SMA. Kami bahkan punya geng unyu dengan satu orang temanku cewek. Kami bertiga adalah temen suwung sejak kelas 1 SMA. Bakuh termasuk orang yang baru kukenal di SMA dan sukses menjadi sahabat paling dekatku selain Darryl. Kalau Evans mungkin udah jadi temenku sejak SMP. Jadi, wajar kalau kami memang deket.

Balik ke si X. Menurutku dia ngelunjak dan nggak tahu diri. Dia bilang kenapa aku membeda-bedakan teman? Aku membedakan Bakuh dengan dia. Lalu, aku pengen ketawa keras-keras saking ini nggak masuk akalnya. Tapi akhirnya aku cuma bilang, "Ya aku berteman dengan semua orang, tapi porsinya pasti beda-beda."

***

Kita memang harus pilih-pilih teman.

Sampai sekarang ketika akhirnya aku pindah kota, kuliah, ngerasain magang di Jakarta, sampai mau lulus dan ketemu dengan banyak sekali orang baru dan lingkungan baru, aku masih mengimani itu. Berteman harus pilih-pilih, meski mengenal mereka tidak harus selektif. Maksudku, aku bisa aja terbuka dengan semua orang. Aku bukan orang yang sucks ketika pertama kali kenal. Aku berusaha ramah, bahkan ke orang paling asing sekalipun. Ketika aku kerja sebagai marketing person, aku dituntut ketemu dan kenal banyak orang baru. Pada mereka, jelas aku berusaha bersikap baik. Tapi apakah semuanya akan jadi teman dekatku? Enggak. Ini hal yang harusnya dulu dipahami oleh si X ketika membandingkan perlakuanku padanya dan Bakuh.

Bakuh adalah temanku sejak kelas 1 SMA dan kami berteman dekat sekali. Bakuh adalah cowok pertama yang kukenal di SMA, yang padanya aku bisa cerita hal-hal paling emotional-touching sekalipun. Sebaliknya, dia bahkan pernah nangis di depanku karena suatu hal. Kami berteman dekat. Dan kalau ditanya mengapa, ya pasti aku maupun dia punya alasan-alasan kenapa kami berteman dekat. Bagiku aku mau berteman dekat dengan dia ya karena dia baik dan aku cukup merasa tidak terancam ketika ada di dekatnya.

Sementara si X adalah teman sekelasku juga dari kelas 1 SMA. Kami berteman, tapi jelas porsinya jauh berbeda jika dibandingkan dengan Bakuh. Jika ditanya kenapa, ya pasti aku punya alasan-alasan juga kenapa kami cuma teman sekelas biasa aja dan udah sampai di sana aja. Mungkin karena pada beberapa hal aku merasa aku kurang suka dengan dia. Maka, aku mau berteman dengan dia, namun tidak terlalu dekat.

Kita memang harus pilih-pilih teman.

Sesimpel karena teman adalah support system paling ideal kita untuk melewati banyak hal. Sekarang ketika aku 22 tahun, aku merasa lingkaran pertemananku menyempit, namun semakin berkualitas. Aku menemukan teman yang bisa mendukung penuh cita-citaku, bisa mengajariku banyak hal yang aku tidak tahu, dan menemaniku berproses untuk kita sama-sama jadi keren.

Sebab itu aku harus selektif. Aku harus milih-milih teman, terutama teman yang bener-bener bisa kumasukkan ke dalam lingkaran pertemananku yang lebih personal. Caranya? Sesimpel kami memiliki nilai-nilai yang sama dan padanya aku tidak merasa terancam. Aku tidak peduli dia beragama apa, bagaimana latar belakang keluarganya, dan bagaimana hubungan dia dengan Tuhannya, karena itu urusan masing-masing. Aku cuma peduli pada bagaimana dia bersikap padaku dan hal-hal lain yang beririsan dengan lingkaran-lingkaran personalku, terutama soal nilai.

***

Beberapa waktu lalu aku diprotes seseorang. Katanya aku seolah memaksakan dia menjadi orang yang sesuai dengan nilai-nilai yang kupegang. Itu lucu. Mengingat sebelumnya, dikatakan olehnya padaku, bahwa ia ingin jadi temanku. Dan aku, bukan anak kecil bodoh yang tidak bisa membaca gesture, sikap, maupun intensi orang lain atas perlakuannya padaku. Aku tahu. Aku tahu semuanya.

Sebab itu aku merasa ini lucu. Bagaimana tidak? Ada seseorang yang ingin masuk ke dalam lingkaran pertemanku yang lebih personal, tanpa dia mau peduli bagaimana nilai-nilai yang ada pada setiap pilihanku membentuk relasi pertemanan dengan orang-orang yang telah lama kukenal maupun yang asing.

Aku pilih-pilih teman. Terutama karena sekarang aku 22 tahun dan struggling dengan banyak hal, yang karenanya aku butuh #pertemanansehat yang bisa mendukungku untuk melewatinya dengan baik. Aku nggak suka pertemanan yang memakan waktu untuk hal-hal yang tidak berguna dan aku juga tidak suka pertemanan yang mengancam banyak hal dalam hidupku. Apakah sulit?

Enggak. Cukup jika kita punya value yang sama, dan tiap-tiap orang mau mematuhi 'rules' dalam pertemanan ini, yah sok atuh, kita berteman dengan baik. Kalau enggak, ya udah, just get away from me. As simple as that. Nothing to lose.

You May Also Like

2 comments

  1. Kenapa sih baca ini jadi senyum-senyum sendiri anjir:)

    ReplyDelete