Daftar Lagu-lagu Roekmana

by - June 12, 2017


Ketika kemarin aku buka puasa dengan Ucig, satu hal yang kuingat adalah bulan puasa tiga tahun lalu. Saat itu aku masih aktif di Balairung. Puasa tiga tahun lalu sangat berkesan, tak lain karena itu untuk pertama kalinya aku mendedikasikan tahun pertamaku puasa di Jogja sepenuhnya. Seingetku, aku baru mudik menjelang lebaran. Prinsipnya adalah selesaikan yang ada di Jogja, setelah itu libur nggak papa. Terserah aja.

Kami mengerjakan project Balkon Edisi Spesial Mahasiswa Baru 2014. Semacam selebrasi dari anak-anak di pers mahasiswa untuk 'menyambut' dedek-dedek yang lagi seneng-senengnya jadi maba. Nggak lupa, lengkap dengan slogan paling sakit dan nyinyir berbunyi, "Selamat datang mahasiswa biasa di kampus yang biasa-biasa saja!"

Iya. Kalau aku sekarang cacat kayak gini ngomongnya, salah satunya karena kedidik di Balairung. Wkwk.

Aku kebagian kolom Apresiasi ---seperti biasa. Di tahun pertamaku menulis untuk Balairung, aku menghabiskan hampir separo waktuku untuk belajar menulis feature. Makanya aku suka kebagian kolom Apresiasi ---salah satu kolom dengan tulisan feature paling ciamik di Balairung waktu itu. Ini bukan feature pertamaku meski ini baru pertama kali aku menulis untuk Balkon Edisi Spesial. Tidak seperti biasanya pula, kali ini aku mendapat editor Ucig. Lagi-lagi, ini bukan kali pertamaku menulis dengan Ucig. Sebelumnya aku pernah menulis dengannya juga di kolom Apresiasi. Aku berpartner dengan Agdzhur merampungkan satu tulisan feature mengenai sebuah konser yang digelar oleh GMCO.

***

Aku suka menulis feature karena kesan tulisannya yang lebih lembut dibandingkan tulisan-tulisan lain di Balairung. Kedua, aku suka menulis Apresiasi, karena kebanyakan editor di sini setuju untuk mengapresiasi karya seni. Jadi, aku menulis soal seni yang mau tidak mau membuatku harus belajar keras memahami apa itu karya seni dan mengapa si seniman membuat karya itu serta memamerkannya pada khalayak. Ketiga, aku suka menulis Apresiasi, karena kedalaman tulisan yang menuntut untuk lebih banyak membaca. Setidaknya, dari menulis Apresiasi ini aku memang akhirnya jadi paham berbagai konteks mengenai karya seni milik berbagai seniman, aku jadi paham teori ndakik-ndakik yang tidak kudapatkan di kampus. Lebih jauh, aku merasakan experience berbagai hal untuk sekadar ngerti bagaimana sebuah ide itu tercipta; untuk memahami konteks.

Maka aku pernah berhari-hari melakukan riset mengenai perempuan Jawa dan definisi kekuasaan dalam konteks budaya patriarki. Aku pernah melakukan ritual 'ngalap berkah' yang banyak dilakukan di Makam Raja Kotagede, berziarah, mewawancara beberapa abdi dalem keraton, bahkan secara khusus aku beberapa kali ngopi dan nongkrong asyik di sebuah kedai kopi di Jalan Pramuka yang dibilang Inur sebagai "tempat yang tersegmen untuk anak-anak pesantren di sekitar Kotagede" untuk kumpul dengan sebuah komunitas yang menasbihkan dirinya sebagai 'pecinta budaya Mataram'.

Ketika menulis Apresiasi, aku sudah mencoba banyak sekali jenis karya seni. Dari mulai pameran lukisan, pameran foto, pertunjukan teater, hingga konser musik. So far, tantangan terbesar adalah ketika menulis soal musik. Tidak lain karena musik memerlukan kepekaan tersendiri. Dan lagi, aku bahkan nggak tau nada, nggak ngerti nama alat musik, dan asing dengan semua istilah permusikan. Lagipula beberapa musik yang memang berkonteks dan karenanya pantas untuk diapresiasi adalah musik-musik antimainstream yang agak sulit didengarkan maupun dipahami.

Oke, sampai sini mungkin kalian akhirnya paham kenapa aku bahkan sampai sekarang menyukai musik-musik indie dengan irama aneh dan nggak jelas. Aku pernah hidup berhari-hari untuk memahami 'konteks' karya seni mereka.

***

Di tulisanku sebelumnya, aku sempat menceritakan mengenai 'pengalaman spiritualku' menikmati Jason Ranti dan album barunya yang berjudul "Akibat Pergaulan Blues" yang ternyata adalah sebuah judul lagu cinta tidak biasa.

Beberapa hari ini aku membuka playlist lawas, dan aku kembali menemukan Tigapagi dengan albumnya yang cetaaaaar banget berjudul "Roekmana's Repertoire". Sebenernya ini album cukup lawas. Kalau nggak salah 2013. Dulu sempat ingin kuapresiasi, tapi aku terlalu bodoh untuk memahami konteks kenapa lagu Alang-Alang yang menjadi single andalan mereka dirilis di Hari Tani? Dan kenapa pula lagu ini dimaksudkan bernuansa sangat '65 dan bahkan dirilis di tanggal 'merah' 30 September?

Aku terlalu bodoh untuk memahami irama dalam musik Sunda yang kental banget di dalam lagu-lagu band yang digawangi jajaka-jajaka Bandung ini. Jadi, akhirnya aku batal menulis. Hehe.

Tapi belakangan aku memutar full album ini berkali-kali dan lalu timbul sedikit penyesalan kenapa dulu aku nggak jadi mengapresiasinya. Ini band yang keren luar biasa, musiknya menghipnotis. Bagiku levelnya hampir sama dengan Haikal Azizi dengan Sigmun atau Bin Idris-nya.

***

Roekmana's Repertoire. Seperti halnya yang tertulis dalam judul, album ini memang berisi daftar lagu-lagu Roekmana. Entah siapa itu Roekmana, tapi yang jelas menurutku dia adalah tokoh yang hadir dari masa lalu. Belakangan aja setelah aku meluangkan waktu untuk browsing lebih jauh, aku baru tahu bahwa Roekmana adalah nama guru gitar Sunda yang mungkin menginspirasi Sigit dan kawan-kawan merampungkan album ini. Bisa jadi.

Ada 14 tracks dalam list. Dibuka dengan lagu "Alang-Alang" yang dulu sulit sekali kupahami konteksnya dan ditutup dengan lagu "Tertidur". Tidak hanya berisi suara Sigit, di album ini, Tigapagi sepertinya berkolaborasi dengan beberapa musisi lain. Aku tidak tahu siapa saja, tapi pas banget lah.

Tigapagi menjadi satu lagi musisi yang membuatku ingin tinggal di Bandung setelah Thepanasdalam dan Sigmun. WKWK. Dari dulu aku selalu penasaran dengan kehidupan di Bandung dan bagaimana Bandung bisa segitu hipster ngalah-ngalahin Jogja atau bahkan Jakarta. Mungkin di Jakarta memang semua hal ada, tapi percaya deh yang lucu-lucu dari Jakarta ya aslinya dibentuk dan lahir dari Bandung. Jadi, aku penasaran untuk beberapa hal ini. Someday lah ya, tinggal di Bandung.

***

Lagu "Tangan Hampa dan Kaki Telanjang" adalah yang paling menghinotisku, terutama kalau aku nggak bisa tidur hingga waktu sahur. Kuputar berulang-ulang, ada kesedihan sekaligus kepasrahan. Hampa. Mirip banget dengan yang kurasain belakangan; hampa, kosong, dan butuh isi atau diisi.

Maka selain An Invisible Bridge Above the Ocean, produk lokal milik Tigapagi ini juga cukup kecih untuk didengarkan pukul satu dini hari. Rekomendasi lain adalah Erika, lalu Batu Tua juga oke, dan juga Pasir. Kalau penasaran banget, kalian bisa beli albumnya. Aku merekomendasikan untuk beli album karena musisi-musisi indie akan gampang sekarat tanpa kita beli album mereka. Ya atau minimal merchandise atau apa gitu. Nonton konsernya kek atau apa. Pokoknya mengapresiasi mereka dengan lebih pasti, salah satunya dengan mengeluarkan beberapa rupiah untuk menikmati apa yang mereka buat.

Sebab, mengutip tulisan di Mojok, selama senar gitar masih dibeli pakai uang, selama itulah musisi indie masih butuh makan. Haha.

You May Also Like

0 comments