Friday, May 12, 2017

Sebagai Kawan


"Aku? Hmm kamu tanya aku?"
"Iya," katanya.

Aku cuma tersenyum. Meringis. Dia pura-pura cemberut. Kedua alisnya yang tebal bertaut. Aku suka. Dia tidak memakai pensil alis seperti teman-temannya kebanyakan.

"Eh, kalau aku mencukur alisku juga seperti kamu, kira-kira gimana ya?" tanyaku tiba-tiba.
"Bodoh! Hahaha. Terserah!" Dia buang jauh wajah cemberutnya dan seketika tertawa. Kami tertawa. Aku suka. Dia mudah lupa dan teralihkan oleh hal-hal yang sangat random dan ya, begitu mudah tertawa bahkan oleh pertanyaan paling receh sekalipun.

Aku suka. Entah kenapa.

***

Dalam banyak hal, aku merasa kami ini sama. Kami serupa. Hanya saja aku terlahir sebagai laki-laki, sementara dia versi perempuannya. Kami suka mengumpat pada hal-hal yang kami rasa tolol, namun tingkah kami juga tak kalah idiot.

Pernah suatu hari cuma untuk meyakinkan bahwa penguasaan bahasa asingku bagus, kami bertaruh siapa yang bisa mengencani bule yang baru pertama kali ditemuinya di Malioboro. Aku memenangkan pertaruhan karena lebih dulu berhasil mengajak seorang perempuan dari Swedia untuk kencan bahkan ketika kami baru pertama kali bertemu. Meski setelah itu dia mendiamkanku seminggu karena dalam kencan itu aku akhirnya mabuk dan tidak sadarkan diri sampai harus diseret untuk pulang ke rumah.

Kami bodoh dan idiot. Namun begitu, aku suka. Entah kenapa.

***

"Aku mau pergi."
"Ke?"
"Ke mana aja."
"Ngapain pergi? Emang di sini kurang apa?" tanyaku.

Kami di Kedai Wedangan sore itu. Langit sedang bagus-bagusnya. Sambil memesan teh dan sepiring mendoan, kami duduk bersandar di bangku-bangku tua. Di selatan angin bertiup tenang membentuk buih-buih gelombang yang nampak dari tempat kami duduk. Cantik; seperti sore ini dan juga suasana hati kami.

"Di sini ada semuanya. Ada tempat secantik ini, langitnya bagus, di selatan ada laut, di utara ada pegunungan yang sejuk. Tempat ini sempurna," kataku.
"Iya, tapi saking sempurnanya aku tidak merasakan emosi apa-apa ketika ada di sini. Mungkin aku harus pergi, biar aku bisa rindu, mengenang, atau apa lah gitu."
"Tapi, tapi.. tapi kamu mau ke mana?"
"Ke mana aja. Ke Mars, ke bulan! Hahaha! Ke mana aja!"

Aku mengenalnya sejak lama dan aku tahu dia perempuan seperti apa.

"Tapi, aku nggak bisa pergi karena ada sesuatu yang harus kuselesaikan di sini," kataku tiba-tiba. Perasaanku mendadak sangat melankolis.

"Aku tahu."
"Lalu?"
"Ya udah. Stay aja di sini," katanya ringan. Dia tersenyum. Aku suka melihatnya tersenyum. Tapi, entah kenapa mendengar perkataannya aku jadi ragu pada senyum itu. Aku takut sebentar lagi aku nggak bisa melihatnya tersenyum lama-lama di dekatku.

Namun demikian aku turut tersenyum. Ingin sekali aku bilang padanya banyak hal, tapi tenggorokanku tercekat, lidahku kelu. Lalu, aku cuma bisa tersenyum. Ya, cuma tersenyum, sambil berharap mataku menceritakan padanya semuanya.



Jangan berdiri di depanku,
Karena ku bukan pengikut yang baik.
Jangan berdiri di belakangku,
Karena ku bukan pemimpin yang baik.
Berdirilah di sampingku sebagai kawan.

(Sebagai Kawan milik Banda Neira)

***



Sepotong fiksi yang ditulis sambil mendengarkan lagunya Banda Neira. Huhu sayang sekali Banda Neira sudah bubar sebelum aku sempat menonton konsernya dengan 'kawan terbaik' yang kupunya ---entah siapa.
Share:

1 comment: