Merangkak ke Fase yang Berbeda

by - May 03, 2017


Aku menikmati usiaku yang 22 tahun ini dengan rutinitas ke kantor dan ke kampus. Juga karena ulang tahun, beberapa orang akhirnya membuka pembicaraan denganku.

Di kantor tadi Mas Evan menggodaku nggak masuk kantor kemarin karena mengadakan party. Haha. Setelah kemarin ditagih pizza sama anak-anak di kantor, hari ini kami membeli pizza juga atas inisiatif Mas Niwang. Nggak cuma bosku yang mengucapkan pertama kali (karena mungkin beliau paling aktif di LinkedIn), dua founder yang lain juga memberi ucapan selamat. Haha. Thank you so much.

"Kukira memang pada usia 20 manusia diciptakan untuk merasakan kesendirian. Mereka dibuat merasakan sepi agar mereka tahu apa itu sunyi. Mereka dibuat merasakan sendiri, agar mereka tahu apa itu teman sejati. Mereka dibuat sedemikian rupa, agar segera mencari pasangan untuk mengisi kekosongannya." --post dua tahun lalu yang sudah dihapus dari blog ini.

Sejauh ingatanku bisa direcall, seingatku, aku pertama kali merayakan kemeriahan ulang tahun di usia keempat. Sejak empat tahun itu, setiap tahunnya ulang tahunku istimewa. Terlebih setelah aku masuk SD. Pagi-pagi semua orang mengadakan upacara. Tak jarang dalam perayaan itu beberapa siswa berprestasi dipanggil lengkap dengan piala-piala yang diraihnya selama setahun ini. Aku ada di sana. Biasanya tersenyum sombong dan menganggap aku yang paling beruntung di antara semuanya. Hahaha. Biasanya setelah kemeriahan di sekolah, beberapa sahabat dekatku akan mengadakan acara surprise-surprise kampret ala anak SD yang siram-siraman tepung nggak mutu. Kemudian, sore harinya di rumah aku mengundang mereka dalam perhelatan yang disiapkan oleh ibu dan bapak sebagai kado ulang tahun. See? Menjadi anak-anak enak bukan?

Tapi, meski demikian, masa SD tak semenyenangkan masa SMA. Aku mau SMA lagi.

***

Di usia 22, aku nggak nyangka selebrasi ulang tahun akan sekanak-kanak ini. Temanku datang ke Jogja, membawakan kue dan ada acara tiup lilin di kostku. Sebelumnya, orang yang mengucapkan adalah bapak akademik melalui sistem SMS di akademik yang tiap tahun selalu jadi yang pertama ngucapin sejak aku kuliah di psikologi. Kedua adalah bosku di kantor, disusul anak-anak kantor lainnya. Berbondong-bondong kemudian baru teman-temanku. Tanteku mengucapkan selamat via message di Facebook meski notifikasinya sudah kumatikan. Bapak dan ibu mengirim pesan WhatsApp terlebih dulu apakah aku bisa ditelpon atau enggak. Wkwk.

Fara dan anak-anak di Kofera menelpon dari Jakarta, menyampaikan salam dari Kak Ferry dan semua founder yang lagi sibuk parah nyiapin launching product.

Ada yang ngucapin karena memang mereka ingat ini hari ulang tahunku. Namun, banyak juga yang karena notifikasi di social media.

Fak yu Path dan LinkedIn yang lupa belum kumatiin notifikasinya.

Aku benci notifikasi social media, karena itu membuatku tidak bisa membedakan mana orang yang mengingat hari lahirku dan mana yang ingat karena kebiasaannya membuka social media.

***

Dari semua ucapan yang kuperoleh, rata-rata ada tiga hal yang mereka doakan padaku: segera lulus, ketemu jodoh, dan hidupnya lebih berfaedah dikit karena udah 22 tahun hidup tetep nggak berfaedah. Wkwk. Yang berdoa dengan sangat jujur cuma Hardi yang menyemogakan aku untuk kurang-kurangin ngomongin orang, kurang-kurangin taitu, tambah bangsat, dan tambah bajingan. Wkwk. Sisanya rata-rata sama. Namun, ada juga yang membuat tulisan panjang yang untuk menelaah wacananya aku kayaknya butuh partner diskusi. Ngalah-ngalahin tulisan isu di Balairung. Wkwk. Canda deng.

Intinya aku terharu. Haha. Aku baper karena kayaknya baru bulan-bulan kemarin aku didatangi 'temanku yang lain' dan menganggap semua orang bajingan dan jahat. Tapi, aku memang belum pernah kecewa dalam doa yang kuminta pada Tuhan. Makanya, kali ini, Dia pun nggak akan ngecewain aku.

***

Suatu hari aku bicara dengan Tania, "Kenapa ya, Tan, Tuhan tu kayak ngajak bercanda gitu? Ada yang kayak aku tuh pengin banget, nggak dikasih. Tapi, pada apa aku nggak pengin bahkan kuhindarin, tau-tau disodorin, berlebihan bahkan."

"Soalnya Tuhan lebih ngerti mana yang paling baik buat kita, Er."

"Iya sih," kataku sambil mengingat-ingat apa saja yang pernah terjadi dalam hidupku selama ini. Seingatku dulu aku menolak masuk SMANSA sampai depresi, tapi ya akhirnya happy ending. Masa SMA-ku bahagia banget. Lebih lama lagi, aku pernah kesel dipaksa ikut kompetisi bahkan ketika aku udah kelas 3 SMP. Alhasil bersama Arno, kami kayak orang iseng aja jauh-jauh ke ITS cuma buat ndagel ngerjain soal kelinci beranak. Eh taunya malah hasilnya keren. Trus dari sana aku dapat tawaran-tawaran yang membuatku mau tidak mau harus bersyukur.

See? Aku belum pernah kecewa dalam setiap apa yang diberikan Tuhan sebenarnya. Tapi ya gitu, cara-Nya aneh. Dan seringnya nggak masuk akal.

***

Ketika usiaku 22 tahun, aku bersyukur, galauku soal masa depan, terutama tentang kampus dan karier sudah sedikit terlewati. Paling tidak aku sekarang udah nggak takut lulus, aku udah tahu mau apa setelah ini, aku udah belajar mandiri secara finansial sejak tahun lalu, dan aku sudah menetapkan cita-citaku secara lebih konkret dan berhasil mengkomunikasikannya dengan bapak dan ibu sehingga aku tidak perlu melewati perdebatan-perdebatan nggak berfaedah pasca aku jadi sarjana. Aku udah nggak dipaksa jadi psikolog atau masuk fakultas kedokteran seperti tahun-tahun lalu. Wkwk.

Maka, seperti dijelaskan dalam hierarki kebutuhannya Maslow, aku pun beranjak ke tahap yang lebih tinggi, yakni love/belonging.

Dulu sekali aku pernah sangat ingin menikah muda. Iya. Dulu tuh cita-citaku masuk psikologi biar nikahnya cepet. Soalnya, mitosnya kalau kamu cewek trus kuliah psikologi, kamu lebih cepat matang dan dianggap bisa untuk memulai hidupnya sendiri dengan orang lain. Apalagi sejak aku lulus SMA, beneran ada orang yang emang mau serius gitu. Jadi, ya aku mikirnya usia-usia 20 atau 21 gitu ya udah bisa lah ya nikah.

Tapi itu dulu.

Dulu sekali waktu aku masih berpikir bahwa menikah adalah semata-mata menghabiskan hidupku dengan orang lain yang aku suka dan kami saling suka. Udah gitu aja.

***

Tuhan rupanya memang sangat sayang sama aku karena mengijinkan aku untuk menikmati hidupku lebih lama sebelum membuat keputusan yang sangat berdampak pada hidupku seterusnya ---selamanya!

Nyatanya, selama empat tahun aku kuliah, ada banyak sekali yang berubah dalam kehidupanku maupun orang-orang di sekitarku. Ada orang-orang yang dulu kayaknya keren banget, sekarang ya lihatnya biasa aja. Ada yang kayaknya dulu biasa aja, trus jadi keren banget sekarang.

Yang paling kurasakan berubah adalah diriku sendiri, terutama terkait bagaimana aku menilai orang, memaknai sebuah hubungan, dan melihat segala sesuatu dari berbagai sisi. Aku menyebutnya, ini sebagai 'bertambahnya perspektif' karena kita semakin dewasa dan bertemu lebih banyak orang.

***

Seorang temanku yang ambis dan berprestasi, sebut saja Irwan, pernah berseloroh bahwa aku ini feminis yang bahkan menolak menikah.

"Kata siapa sih, aku nggak mau nikah?! Eh, aku bukan feminis tau."

Aku membaca pemikiran soal feminisme, tapi bukan berarti aku feminis. Karena dari apa yang kupelajari, bahkan sesama feminis pun, mereka bisa saling bertentangan pemikirannya. Aku bukan feminis, meskipun beberapa hal dalam feminisme aku memang setuju. Namun demikian, banyak juga yang tidak. Mungkin karena buku-buku yang kubaca sebagian berkonteks kehidupan perempuan di Barat yang bagaimanapun berbeda dengan aku yang sejak lahir dan segede ini berada di lingkungan orang Jawa.

"Konsep tradisionalis masyarakat kita menghendaki perempuan ini sebagai 'konco wingking' di mana perannya memang terbatas pada pekerjaan-pekerjaan domestik, berkaitan dengan fisiknya yang memang berbeda dengan laki-laki. Makanya, di Jawa ini perempuan seolah menjadi warga kelas dua, bahkan sebutan wanita pada diri mereka itu berasal dari asal kata 'wani ditata' yang artinya berani diatur."

Kata siapa?! Kamu harus baca buku sejarah trus kamu tahu bahwa di abad ke-6, masyarakat Jawa sudah dipimpin oleh seorang raja perempuan bernama Ratu Shima.

"Masa kepemimpinan Ratu Shima menjadi masa keemasan bagi Kalingga sehingga membuat Raja-raja dari kerajaan lain segan, hormat, kagum sekaligus penasaran. Masa-masa itu adalah masa keemasan bagi perkembangan kebudayaan apapun. Agama Budha juga berkembang secara harmonis, sehingga wilayah di sekitar kerajaan Ratu Shima juga sering disebut Di Hyang (tempat bersatunya dua kepercayaan Hindu Budha)."

Aku benci laki-laki di sekitarku, bahkan bapakku sendiri yang sering menganggap kalau perempuan adalah sebatas urusan-urusan domestik. Menurutku bapak cuma suka politik dan hukum, tapi dia nggak baca sejarah. Pada abad ke-6 perempuan sudah jadi raja dan kepemimpinannya diakui oleh banyak orang. Kenapa tahun 2017 masih ada orang berpikir bahwa perempuan adalah konco wingking? Kenapa 2017 masih ada orang yang berpikir kita ini perempuan harus lulus cepet biar segera dilamar? Itu maunya apa sih?

***

Irwan mengatakan orang kayak aku ini nggak mau dimiliki, makanya dia sering bersoloroh menuduhku nggak mau menikah. Aku nggak ngerti ini dia bercanda apa beneran bego wkwk. Harusnya calon Sarjana Ilmu Politik UGM yang katanya belajar politik gender dan mapres nomor dua ini nggak mungkin lah punya pikiran sehina itu. Tapi dia dan beberapa teman lelakiku memang terlalu kampret mengusili kehidupan asmaraku yang katanya flat. Wkwk.

Nggak cuma teman-teman laki-lakiku, Cicik Indra sebagai salah satu teman perempuan yang paling 'tau' aku luar dalam pun kerap berpikir demikian. Cicik tahu selama ini siapa yang 'menahanku' untuk nggak bisa suka orang lain. Cicik tahu apa alasan paling tersembunyiku meninggalkan Jogja dan memilih nggak pulang sama sekali selama berbulan-bulan. Cicik tahu. Katanya, "Semoga yang terbaik yo, ndes!"

***

"Aku bukan sok jual mahal juga sih. Malahan, kadang-kadang aku tuh recehan tau nggak sih, karena godain semua orang. Hahaha. Tapi ya kamu tahu lah, itu bercanda. Kalau serius, aku nggak berani kayak gitu."

"Kurang-kurangin bercandanya lah."

"Iya sih. Kamu udah bilang begitu entah berapa juta kali."

Menurutku, bagian paling berat untuk memasukkan 'satu orang baru' ke dalam kehidupanku adalah tentang seberapa mampu dia menerima teman-temanku dan segala keidiotannya. Nggak cuma karena aku dianggap anak psikologi yang bisa ditelpon pagi hari bangun tidur dalam keadaan kayak orang giting dan langsung diberondong masalah dan berharap kubantu menguraikannya, tapi juga karena bersama banyak orang, tingkahku sering idiot.

"Aku nggak bisa dimiliki, dan akupun nggak mau. Emang aku barang harus ada pemiliknya?"
"Ya tapi konsep kepemilikan dalam pasangan tu kayak gitu."
"Itu konsep kepemilikan macam apa sih?"

***

Beberapa waktu lalu, dosen muda idaman di kampusku akhirnya menjatuhkan pilihannya pada seorang gadis. Ia menikah. Mereka menikah. Aku mengenal keduanya. Dan gadis itu, kamu tahu, sangat-sangat tidak kusangka akan menjadi pasangan si dosen itu.

"Kok bisa sama dia ya?" Pertanyaan itu seketika menyebar di seantero angkatan, bahkan mungkin di kalangan dosen-dosen. Usut punya usut, ada satu fakta menarik, mengapa si dosen yang sangat digilai oleh perempuan-perempuan di kampus dari level mahasiswa sampai dosen dan karyawan tata usaha, justru memilih seorang gadis yang bener-bener di luar radar.

"Banyak orang yang suka sama dosen itu, tapi cuma si gadis itu yang menurut si dosen tidak memiliki ambisi untuk memiliki. Perempuan-perempuan lain yang berusaha mendekatinya bahkan terang-terangan, sebenarnya hanya sedang memuaskan egonya. Mereka cuma mau memiliki si dosen itu. Sementara si gadis yang sekarang jadi istrinya, seperti nggak punya keinginan itu. Tulus gitu loh!" Obrolan remang-remang kami akhirnya berfaedah ketika mulai menggossipkan orang.

Aku sedang bersama anak-anak kampus yang terhubung dalam jaringan gossip underground yang kalau punya berita suka nggak main-main.

"Kalau menurutku ya bisa-bisa aja. Keduanya cocok kok, sama-sama suka kuliah, akademisi lah jiwanya," kataku. Tapi meski demikian aku mengamini apa yang dikatakan temanku. Dan ya, itu cukup menarik.

Aku juga jadi berpikir bahwa apa yang dipikirkan dosenku ada benarnya. Banyak orang berusaha masuk ke lingkaran kita, mendekat ke dalam batas-batas personal yang telah kita ciptakan, dengan harapan diterima atau bahkan dengan senang hati dimasukkan ke dalam lingkaran personal itu dan menjadi bagian darinya. Jadi, ada sebagian dari kita yang adalah bagian dari mereka.

Terserah kemudian kalian menerjemahkan itu sebagai apa. Namun, jika aku, aku suka menyebutnya sebagai partner. Orang yang seharusnya mengisi apa yang kurang dari dalam diriku dan sebaliknya, aku mengisi apa yang kurang dari dalam dirinya. Kami akan menjadi support system dan itu untuk diri kami masing-masing. Dalam relasi kami, tidak ada yang merasa berkorban atau dikorbankan. Kita sama-sama oportunis untuk tujuan yang sama.

Sayangnya, sebagian besar orang yang berusaha mendekat ini tidak semata-mata ingin menjadi bagian dari kita. Lebih jauh, mereka sebenarnya ingin menguasai apa yang ada dalam diri kita. Mereka berupaya memiliki apa yang seharusnya tidak dimiliki oleh mereka.

"Kok bisa gitu?"
"Ya bisa aja. Kenapa enggak?"
"Itu tuduhanmu aja sih."
"Ya sekarang gini deh. Kalau ada orang bilang suka, deketin kamu, bilang sayang lah, apa lah, yang bullshit-bullshit gitu, terus kamu tanya, dia maunya apa? Maunya ya cuma satu aslinya, kamu jadi punya dia. Entah itu dikatakan tersurat atau tersirat. Nah, coba sekarang kamu bilang kalau kamu nggak mau sama dia, atau minimal kamu bilang, kamu nggak punya feeling yang sama kayak dia, terus dia melipir, apa itu namanya? Dia sayang gitu, cinta gitu, suka? Enggak kan? Dia cuma mau memiliki kamu. Buktinya, ketika kamu nggak mau dimiliki, ya dia pergi. Hilang lah tadi sayangnya lah, cintanya lah, apa itu lah yang bullshit-bullshit gitu."
"Wait.. itu kan bentuk penegasan?"
"Penegasan untuk apa dulu?"

Kami diam.

***

Aku bicara di telpon dengan Tania. Nampaknya dia menarik ucapannya mengenai 'laki-laki yang ditemukan dari Tinder' tempo hari.

"Demi apapun, aku nggak bakal mainan Tinder. Aku nggak berekspektasi sama laki-laki yang mainan Tinder! Sama sekali."
"Nggak buat serius. Ya cuma ngobrol aja."
"Tania, nggak ada satupun cowok yang memulai relasi dengan cewek tanpa ekspektasi. Apalagi cowok Tinder."

Nggak semua yang kubilang benar, tapi Tania pelan-pelan mulai ngerasain bahwa konsep 'cuma ngobrol aja' ini nggak akan diterima oleh laki-laki yang dikenal dari Tinder.

"Kadang-kadang kok aku mikirnya mereka cuma mau menguasai kita sebagai cewek gitu ya?"
"Kan, kan?"
"Ya kadang kesel juga yah. Padahal kan kalau mau sekadar sayang ya udah sok atuh sayang mah sayang aja. Orang nggak salah juga kan yah, sayang sama orang?"
"Ya karena tujuannya beda sih."

***

Sebagian perempuan yang kukenal beranggapan bahwa menemani pasangan dari nol adalah konsep paling ideal dalam sebuah relasi. Emm kalau aku setuju nggak setuju sih. Tergantung dari mana startnya dan bagaimana kedua orang tersebut memaknainya.

Perempuan-perempuan dalam keluargaku, kurasa adalah perempuan-perempuan yang luar biasa. Mereka merelakan apa saja dalam hidupnya, cuma demi pasangan dan keluarganya. Ada yang sudah bekerja dan punya karier mentereng di Jakarta mau diajak 'pulang' untuk sepenuhnya jadi istri dan ibu yang baik untuk anak-anaknya. Lebih kerennya lagi, mereka mau diajak berproses dari nol.

Sebagai anak perempuannya yang dianggap sudah dewasa, ibu pun juga sering bilang, bahwa aku tidak boleh mematok standar mapan dan mewah pada pasangan untuk kemudian baru boleh masuk ke kehidupan kita. Menemani prosesnya dari awal lebih baik. Ya, aku setuju-setuju aja sih. Tapi, ada syaratnya, yakni dari titik mana dia berasal.

Menurutku aku bukan cewek cengeng yang nggak bisa nggetih untuk hal-hal yang diinginkannya. Aku terbiasa kerja keras dan dididik ambis kalau penginin sesuatu. Aku diajari untuk jangan banyak ngeluh hanya karena kamu perempuan. Kalau cuma nggak tidur dua hari aja aku rasa aku masih bisa. Jadi, meski aku cah dandan, dan aku suka ke salon, aku bukan perempuan yang cuma bisa manis-manis doang tanpa tahu pahit-pahitnya orang kerja keras.

Cuma, aku juga menolak kalau konsep menemani dari nol ini berarti menerima semua kepasrahan laki-laki yang nggak punya apa-apa, bahkan dalam bentuk keinginan untuk berusaha, untuk masuk ke kehidupan kita. Perempuan-perempuan sepertiku ini, kurasa tidak bisa untuk dimiliki, kami maunya ditemani. Kita ini partner, posisi kita setara. Bukan aku milikmu atau kamu milikku. Paling tidak, kalau menurutku sendiri, bagian paling berharga dari setiap orang asing yang akan masuk ke dalam lingkaran personalku adalah menyamakan effort.

***

Suatu hari di EDS..

EDS sepi semenjak IA 4 bubar karena ego masing-masing. Malam itu tersisa aku, Rani, Kakak Al, Fajar, dan Mas El. Aku lupa kami bicara apa awalnya. Namun, pembicaraan kami akhirnya sampai di pertanyaan, "Mas El, kenapa menikah?"

Bagi Mas El yang telah menikah, konon katanya, ia melakukan itu untuk ibadah. Dan yang namanya ibadah, pastinya ada berkahnya ---entah dalam bentuk apa. Wow. Mas El sangat religius kurasa.

Aku belum berpikir menikah itu semata-mata untuk ibadah. Kurasa nanti kalau aku menikah ya karena aku menemukan pasanganku, makanya kami menikah. Biar ada status yang jelas dan diakui baik dalam konteks sosial, negara, maupun agama. Namun, permasalahannya adalah bagaimana menemukan pasangan yang kemudian padanya kita yakin mau menikah?

"Yang baik lah," kataku. Jawaban yang diplomatis. Aku sendiri kurang tahu baik itu seperti apa. Lama-lama aku kayak Inur yang suka orang karena dia baik. Tapi baik itu gimana? Kurasa cuma aku yang punya ukurannya. Lagipula yang nikah aku, kan, kenapa harus cerita-cerita soal ukuran ini ke mereka ---dan berusaha membuat mereka paham?

***

Akhirnya di usiaku yang ke-22 ini aku mulai merasa, sebenarnya aku ingin segera menemukan pasanganku dan padanya aku yakin bahwa aku mau menikah.

"Baiklah kita tunggu aja undangan Ervina ya habis ini."
"Eh, serius, beb, habis lulus?"
"Ya mana aku tau? Kalau aku tahu, aku akan jauh merasa lebih aman karena aku udah tahu. Minimal aku tahu pasangannya yang mana. Entah ketemunya sekarang, tahun depan, lima tahun lagi, nggak masalah. Masalahnya kan nggak tahu, trus gimana dong? Hahaha!"

Aku memang mulai berpikir untuk paling tidak tahu pasanganku. Karena entah kenapa aku mulai takut aku akan bertemu pasangan yang bener-bener di luar ekspektasiku atau bahkan sangat kuhindari untuk saat ini. Aku takut kalau kita dipertemukan seperti Tuhan sedang bercanda kayak biasanya.

Tapi aku belum kecewa dalam setiap doaku pada Tuhan. Jadi, aku yakin Tuhan bisa kasih yang paling baik.

Gitu.

You May Also Like

0 comments