Apologi

by - May 07, 2017


Seperti Jogja, jalanan di Bandung seperti memiliki nyawa yang menyimpan satu per satu memori dari setiap fragmen yang terlalui oleh setiap manusia di sana. Orang-orangnya, kisahnya, semua hidup. Namun, pada suatu hari, aku merasa patah di tengah jalan dan tidak tahu bagaimana harus berdiri kembali.

Aku merasa tewas. Waktuku terhenti. Ingatanku terkunci. Benar-benar beku.

***

Potongan pertama..

Katanya, aku hanya sedang lari ---entah dari apa. Yang di pikiranku hanya pergi. Kalau bisa jauh dan lama, agar lupa.

Aku percaya memori adalah sesuatu yang tidak ajeg. Ia akan terus-menerus berubah seiring dengan peristiwa-peristiwa yang dialami oleh manusia. Memori disusun atas setiap kejadian dan manusia mengalami banyak sekali kejadian dalam hidupnya. Sebab itu memori seharusnya memang selalu berubah.

Tuhan sudah cukup adil membuat kita mampu mengingat, sekaligus melupakan. Agar pada hal-hal yang tak ingin kita ingat sama sekali, kita bisa menghapus dan mengganti ingatan. Namun, pada banyak hal, manusia dibuat tak berdaya oleh ingatan-ingatannya sendiri.

***

Pada mulanya adalah waktu.

Aku benci pada waktu. Waktu membuatku tidak bisa semudah itu menghapus ingatan. Waktu yang lama membuat banyak sekali kejadian. Waktu membentuk ingatan.

Tapi waktu, selalu datang terburu-buru. Dia tidak pernah mau menunggu saat yang tepat.

"Waktu menunggu waktu? Konsep macam apa itu?" katanya. "Kita yang membuat waktu. Kita subjeknya. Kita menentukan waktu ---kapan saatnya tepat."
"Waktu adalah sesuatu yang di luar batas kita. Kita tidak bisa mengendalikan jalannya waktu."
"Tapi, kita bisa menyesuaikan waktu."
"Kamu pikir itu mudah?"

Andai saja sajak ini sedikit lebih indah
akan kusampirkan di surat cintaku kepadamu,
cinta yang kepadanya seluruh rambut,
gigi, dan usiaku rela luruh berguguran.


Kata orang, momentum akan terjadi ketika kita bisa bertemu dengan orang yang tepat pada saat yang tepat. Kurasa itu saja tidak cukup. Kita perlu waktu yang tepat untuk bertemu dengan orang yang tepat pada kondisi dan peran yang sesuai.

***

Potongan kedua..

Aku menulis, karena kamu membaca.
Kamu membaca, maka aku berharap kamu tahu.

Aku mungkin harus bilang padamu, barangkali seharusnya kamu terlebih dahulu mengajariku bagaimana caranya melupakan. Alih-alih berceloteh tentang cerita lucu masa kecil atau kisah-kisah yang kamu pikir akan membuatku terkesan. Seharusnya kamu terlebih dulu mengajariku bagaimana caranya percaya. Alih-alih berusaha meyakinkan dengan banyak hal.

Heh, aku sudah tidak butuh dikesankan! Aku sudah terkesan dengan banyak hal.
"Seseorang mengatakan setiap hal di dunia ini memiliki hak, termasuk perasaan. Ketika kamu sedih, hak perasaanmu adalah menangis, maka menangislah. Ketika kamu bahagia, hak perasaanmu adalah tertawa. Maka tertawalah sekeras-kerasnya. Ketika hak-hak perasaanmu ini terpenuhi, maka hidupmu akan lebih baik. Dan seharusnya, aku menemukan sesuatu yang bisa kupercaya dan menjadi hak atas perasaanku ini untuk bisa percaya. Tapi, aku tidak bisa. Sebab, kamu tidak mengajariku sebelumnya."
Kamu salah memulai dan itu salahmu. Aku tidak mau tahu.
kenangan dan harapan, kata satu
penyair, dua negara yang tidak ada
di peta. kubawa keduanya ke mana-mana —
dan ingatan: paspor yang selalu minta
diperbarui.
dalam diriku: membentang jarak kedua
negara itu. dari sana hidup melimpahkan
sepi. di puisi ini kusimpan separuh untukmu
sebagai langit yang tidak tahu berubah warna
atau jendela atau buku cerita yang menghapus
kata-kata sendiri atau rumah tanpa penghuni.

***

Potongan ketiga..

Tidak sepertimu, aku percaya bahwa rasa adalah sesuatu yang tidak bisa diupayakan. Bagiku ia seperti legitimasi Tuhan atas kuasa-Nya, yang orang-orang seperti kita ini tidak bisa berbuat apa-apa. Ketika kita merasakan, ya kita akan terus merasakan, sampai kehendak Tuhan melalui waktu yang suka sekali dipermainkan-Nya ini, mengikis pelan-pelan.

Kita merasakan, lalu kita lupa. Begitu saja jika memang Dia mau. Pun sebaliknya.

Dan mengubah perasaan, bagiku sulit ---hampir mustahil. Tapi, kita tidak perlu khawatir karena Tuhan kita ---jika kamu masih percaya--- itu baik. Lagi-lagi ini hanya soal waktu dan keyakinan-keyakinan yang sangat bisa kita paksakan; bahwa manusia akan belajar, bahwa hidup akan berubah, ingatan akan berganti, dan mungkin juga perasaan-perasaan itu sendiri. 

Bagi orang yang hanya terlahir sebagai manusia, kita tahu apa sih soal masa depan? Aku tidak tahu apa-apa. Kamu juga.

Jadi, jangan pernah sekali-kali kamu menghakimi.

Aku tidak mau disalahkan, karena ini bukan salahku. Ini pembelaanku.
kau kata-kata yang takut aku tulis. kalimat
yang menggigit lidahku. aku ingin jadi alasan
kau tersenyum ketika berdiri di puncak
kesedihan. hasrat yang sama membunuhku
dengan cara berbeda setiap malam. aku
merasa lebih sebagai diri yang kupikirkan
daripada diriku sendiri. aku lebih butuh
merasakan daripada melihat
atau menyentuh

***



Dan tidak ada sastrawan paling romantis di masa kini, kecuali M. Aan Mansyur. Fragmen ini ditulis usai membaca dua syairnya, Sebelum Sendiri dan Sajak yang Tak Indah, sambil mengingat-ingat sesuatu.

You May Also Like

2 comments