May 16, 2017

Bagaimana Kalau Kamu Menjadi Aku?


Sini, biar aku beri tahu.

Sepi terlahir hanya untuk menemani sepi.
Sepasang sepi melayang-layang di jalanan kota pada pukul satu dini hari ini.
"Ada apa ini?"
Sepi bertanya-tanya pada diri mereka sendiri.
Tentang apa yang baru saja terjadi.
Namun, sepi hanyalah sepi.
Sunyi. Sendiri.

***

Sepasang sepi bertemu dalam ketidaksengajaan pada perjalanan mereka masing-masing; yang ingin lari entah dari apa; yang ingin pergi entah ke mana. Sepi bertemu pada suatu pagi dini hari yang amat sunyi. Yang saking sunyinya ia tak mampu mengenali dirinya sendiri.

Namun, sepi hanya terlahir untuk menemani sepi.

Sini, biar aku beri tahu.

Dua orang asing terjebak dalam pusaran sepi. Sepasang sepi melayang-layang pada pukul satu dini hari.
Dua orang asing saling tak mau dimiliki, namun merasa kehilangan ---atas apa?
Yang asing dan jauh, namun dekat.

May 12, 2017

Sebagai Kawan


"Aku? Hmm kamu tanya aku?"
"Iya," katanya.

Aku cuma tersenyum. Meringis. Dia pura-pura cemberut. Kedua alisnya yang tebal bertaut. Aku suka. Dia tidak memakai pensil alis seperti teman-temannya kebanyakan.

"Eh, kalau aku mencukur alisku juga seperti kamu, kira-kira gimana ya?" tanyaku tiba-tiba.
"Bodoh! Hahaha. Terserah!" Dia buang jauh wajah cemberutnya dan seketika tertawa. Kami tertawa. Aku suka. Dia mudah lupa dan teralihkan oleh hal-hal yang sangat random dan ya, begitu mudah tertawa bahkan oleh pertanyaan paling receh sekalipun.

Aku suka. Entah kenapa.

***

Dalam banyak hal, aku merasa kami ini sama. Kami serupa. Hanya saja aku terlahir sebagai laki-laki, sementara dia versi perempuannya. Kami suka mengumpat pada hal-hal yang kami rasa tolol, namun tingkah kami juga tak kalah idiot.

Pernah suatu hari cuma untuk meyakinkan bahwa penguasaan bahasa asingku bagus, kami bertaruh siapa yang bisa mengencani bule yang baru pertama kali ditemuinya di Malioboro. Aku memenangkan pertaruhan karena lebih dulu berhasil mengajak seorang perempuan dari Swedia untuk kencan bahkan ketika kami baru pertama kali bertemu. Meski setelah itu dia mendiamkanku seminggu karena dalam kencan itu aku akhirnya mabuk dan tidak sadarkan diri sampai harus diseret untuk pulang ke rumah.

Kami bodoh dan idiot. Namun begitu, aku suka. Entah kenapa.

***

"Aku mau pergi."
"Ke?"
"Ke mana aja."
"Ngapain pergi? Emang di sini kurang apa?" tanyaku.

Kami di Kedai Wedangan sore itu. Langit sedang bagus-bagusnya. Sambil memesan teh dan sepiring mendoan, kami duduk bersandar di bangku-bangku tua. Di selatan angin bertiup tenang membentuk buih-buih gelombang yang nampak dari tempat kami duduk. Cantik; seperti sore ini dan juga suasana hati kami.

"Di sini ada semuanya. Ada tempat secantik ini, langitnya bagus, di selatan ada laut, di utara ada pegunungan yang sejuk. Tempat ini sempurna," kataku.
"Iya, tapi saking sempurnanya aku tidak merasakan emosi apa-apa ketika ada di sini. Mungkin aku harus pergi, biar aku bisa rindu, mengenang, atau apa lah gitu."
"Tapi, tapi.. tapi kamu mau ke mana?"
"Ke mana aja. Ke Mars, ke bulan! Hahaha! Ke mana aja!"

Aku mengenalnya sejak lama dan aku tahu dia perempuan seperti apa.

"Tapi, aku nggak bisa pergi karena ada sesuatu yang harus kuselesaikan di sini," kataku tiba-tiba. Perasaanku mendadak sangat melankolis.

"Aku tahu."
"Lalu?"
"Ya udah. Stay aja di sini," katanya ringan. Dia tersenyum. Aku suka melihatnya tersenyum. Tapi, entah kenapa mendengar perkataannya aku jadi ragu pada senyum itu. Aku takut sebentar lagi aku nggak bisa melihatnya tersenyum lama-lama di dekatku.

Namun demikian aku turut tersenyum. Ingin sekali aku bilang padanya banyak hal, tapi tenggorokanku tercekat, lidahku kelu. Lalu, aku cuma bisa tersenyum. Ya, cuma tersenyum, sambil berharap mataku menceritakan padanya semuanya.



Jangan berdiri di depanku,
Karena ku bukan pengikut yang baik.
Jangan berdiri di belakangku,
Karena ku bukan pemimpin yang baik.
Berdirilah di sampingku sebagai kawan.

(Sebagai Kawan milik Banda Neira)

***



Sepotong fiksi yang ditulis sambil mendengarkan lagunya Banda Neira. Huhu sayang sekali Banda Neira sudah bubar sebelum aku sempat menonton konsernya dengan 'kawan terbaik' yang kupunya ---entah siapa.

May 7, 2017

Apologi


Seperti Jogja, jalanan di Bandung seperti memiliki nyawa yang menyimpan satu per satu memori dari setiap fragmen yang terlalui oleh setiap manusia di sana. Orang-orangnya, kisahnya, semua hidup. Namun, pada suatu hari, aku merasa patah di tengah jalan dan tidak tahu bagaimana harus berdiri kembali.

Aku merasa tewas. Waktuku terhenti. Ingatanku terkunci. Benar-benar beku.

***

Potongan pertama..

Katanya, aku hanya sedang lari ---entah dari apa. Yang di pikiranku hanya pergi. Kalau bisa jauh dan lama, agar lupa.

Aku percaya memori adalah sesuatu yang tidak ajeg. Ia akan terus-menerus berubah seiring dengan peristiwa-peristiwa yang dialami oleh manusia. Memori disusun atas setiap kejadian dan manusia mengalami banyak sekali kejadian dalam hidupnya. Sebab itu memori seharusnya memang selalu berubah.

Tuhan sudah cukup adil membuat kita mampu mengingat, sekaligus melupakan. Agar pada hal-hal yang tak ingin kita ingat sama sekali, kita bisa menghapus dan mengganti ingatan. Namun, pada banyak hal, manusia dibuat tak berdaya oleh ingatan-ingatannya sendiri.

***

Pada mulanya adalah waktu.

Aku benci pada waktu. Waktu membuatku tidak bisa semudah itu menghapus ingatan. Waktu yang lama membuat banyak sekali kejadian. Waktu membentuk ingatan.

Tapi waktu, selalu datang terburu-buru. Dia tidak pernah mau menunggu saat yang tepat.

"Waktu menunggu waktu? Konsep macam apa itu?" katanya. "Kita yang membuat waktu. Kita subjeknya. Kita menentukan waktu ---kapan saatnya tepat."
"Waktu adalah sesuatu yang di luar batas kita. Kita tidak bisa mengendalikan jalannya waktu."
"Tapi, kita bisa menyesuaikan waktu."
"Kamu pikir itu mudah?"

Andai saja sajak ini sedikit lebih indah
akan kusampirkan di surat cintaku kepadamu,
cinta yang kepadanya seluruh rambut,
gigi, dan usiaku rela luruh berguguran.


Kata orang, momentum akan terjadi ketika kita bisa bertemu dengan orang yang tepat pada saat yang tepat. Kurasa itu saja tidak cukup. Kita perlu waktu yang tepat untuk bertemu dengan orang yang tepat pada kondisi dan peran yang sesuai.

***

Potongan kedua..

Aku menulis, karena kamu membaca.
Kamu membaca, maka aku berharap kamu tahu.

Aku mungkin harus bilang padamu, barangkali seharusnya kamu terlebih dahulu mengajariku bagaimana caranya melupakan. Alih-alih berceloteh tentang cerita lucu masa kecil atau kisah-kisah yang kamu pikir akan membuatku terkesan. Seharusnya kamu terlebih dulu mengajariku bagaimana caranya percaya. Alih-alih berusaha meyakinkan dengan banyak hal.

Heh, aku sudah tidak butuh dikesankan! Aku sudah terkesan dengan banyak hal.
"Seseorang mengatakan setiap hal di dunia ini memiliki hak, termasuk perasaan. Ketika kamu sedih, hak perasaanmu adalah menangis, maka menangislah. Ketika kamu bahagia, hak perasaanmu adalah tertawa. Maka tertawalah sekeras-kerasnya. Ketika hak-hak perasaanmu ini terpenuhi, maka hidupmu akan lebih baik. Dan seharusnya, aku menemukan sesuatu yang bisa kupercaya dan menjadi hak atas perasaanku ini untuk bisa percaya. Tapi, aku tidak bisa. Sebab, kamu tidak mengajariku sebelumnya."
Kamu salah memulai dan itu salahmu. Aku tidak mau tahu.
kenangan dan harapan, kata satu
penyair, dua negara yang tidak ada
di peta. kubawa keduanya ke mana-mana —
dan ingatan: paspor yang selalu minta
diperbarui.
dalam diriku: membentang jarak kedua
negara itu. dari sana hidup melimpahkan
sepi. di puisi ini kusimpan separuh untukmu
sebagai langit yang tidak tahu berubah warna
atau jendela atau buku cerita yang menghapus
kata-kata sendiri atau rumah tanpa penghuni.

***

Potongan ketiga..

Tidak sepertimu, aku percaya bahwa rasa adalah sesuatu yang tidak bisa diupayakan. Bagiku ia seperti legitimasi Tuhan atas kuasa-Nya, yang orang-orang seperti kita ini tidak bisa berbuat apa-apa. Ketika kita merasakan, ya kita akan terus merasakan, sampai kehendak Tuhan melalui waktu yang suka sekali dipermainkan-Nya ini, mengikis pelan-pelan.

Kita merasakan, lalu kita lupa. Begitu saja jika memang Dia mau. Pun sebaliknya.

Dan mengubah perasaan, bagiku sulit ---hampir mustahil. Tapi, kita tidak perlu khawatir karena Tuhan kita ---jika kamu masih percaya--- itu baik. Lagi-lagi ini hanya soal waktu dan keyakinan-keyakinan yang sangat bisa kita paksakan; bahwa manusia akan belajar, bahwa hidup akan berubah, ingatan akan berganti, dan mungkin juga perasaan-perasaan itu sendiri. 

Bagi orang yang hanya terlahir sebagai manusia, kita tahu apa sih soal masa depan? Aku tidak tahu apa-apa. Kamu juga.

Jadi, jangan pernah sekali-kali kamu menghakimi.

Aku tidak mau disalahkan, karena ini bukan salahku. Ini pembelaanku.
kau kata-kata yang takut aku tulis. kalimat
yang menggigit lidahku. aku ingin jadi alasan
kau tersenyum ketika berdiri di puncak
kesedihan. hasrat yang sama membunuhku
dengan cara berbeda setiap malam. aku
merasa lebih sebagai diri yang kupikirkan
daripada diriku sendiri. aku lebih butuh
merasakan daripada melihat
atau menyentuh

***



Dan tidak ada sastrawan paling romantis di masa kini, kecuali M. Aan Mansyur. Fragmen ini ditulis usai membaca dua syairnya, Sebelum Sendiri dan Sajak yang Tak Indah, sambil mengingat-ingat sesuatu.

May 5, 2017

Semalam di Jakarta


Semalam di Jakarta aku bertemu dengan seseorang.

Jakarta tak pernah sepi. Jakarta selalu bising. Orang-orang sibuk, tak punya waktu untuk sekedar menikmati trotoar-trotar yang becek disapu hujan. Mungkin mereka ditunggu keluarganya di rumah, mungkin juga mereka lapar.

Di halte bus semua orang menunduk. Ada yang berjalan buru-buru, ada yang berbicara dengan orang-entah-siapa melalui telepon genggamnya, ada pula yang hanya sekadar membunuh waktu. Sebab Jakarta di malam hari adalah waktu di mana semua berlalu begitu cepat, sekaligus melambat. Seolah-olah bayang-bayang subuh esok hari tinggal sebentar lagi, sekaligus waktu yang sangat lambat untuk sekadar memastikan mereka sudah sampai rumah.

***

Semalam di Jakarta aku bertemu dengan seseorang. Seseorang yang sepertinya sama sekali tidak kuduga akan kutemui di sini.

"Kamu?" katanya. "Kok bisa ada di sini?"

Aku tidak berkata apa-apa, tapi aku yakin sorot mataku tidak akan berubah meski bertahun-tahun tak pernah melihat wajahnya. Seperti perasaan, mata adalah ekspresi yang paling tidak bisa dimanipulasi.

Lihatlah bunga di sana bersemi
Mekar meski tak sempat kau semai
Dan suatu hari badai menghampiri
Kau cari ke mana, dia masih di sana


Tugu Kunstkring Paleis adalah nama baru yang diberikan pada gedung tua peninggalan Hindia Belanda di masa Pemerintahan Gubernur Jenderal Frederick Idenburg ini. Dulunya ia bernama Gedung Kunstkring. Diresmikan sejak April 1914, bangunan tua yang sempat tak difungsikan ini, beberapa tahun lalu disulap menjadi sebuah restoran mewah dengan nuansa seni yang sangat tinggi di bilangan Menteng, Jakarta Pusat.

"Kok bisa ada di sini?"
"Dibawa oleh semesta."

Perempuan itu tersenyum tulus meski terlintas sebuah kegetiran. Seharusnya dia marah padaku, bukan tersenyum seperti ini.

***

"Jadi, kamu sekarang seniman?"
"Sejak dulu, kamu aja yang nggak tahu."

Aku membatalkan semua rencana kunjunganku ke tempat-tempat yang kurindukan di Jakarta karena pertemuanku dengan perempuan ini.

Pukul 1 dini hari adalah waktu paling romantis menikmati Jakarta, terlebih di Cikini. Kami tidak melihat kemacetan, bising kendaraan, atau polusi yang mengganggu.

"Kamu belum menjawab, kenapa bisa di Jakarta? Kenapa bisa ke Kunstkring?"
"Dibawa oleh semesta."
"Aku serius."
"Aku juga," jawabku sungguh-sungguh. "Aku ke Jakarta untuk urusan bisnis, lalu malam ini aku cuma mau jalan-jalan sebelum balik lagi dengan pesawat besok pagi. Aku nggak tahu kenapa aku ke Kunstkring. Aku cuma mencari tempat yang enak di Menteng, lalu beberapa temanku menyarankan ke sana. And yah, we meet each other."
"Hahaha! It's so weird."
"Aku serius."
"Ya ya, aku tahu."

Kami lalu diam.

"Kenapa aku mau di sini ya? Dengan kamu yang baru beberapa jam lalu kutemui setelah bertahun-tahun aku bahkan tidak tahu kamu masih hidup atau tidak. Hahaha." Dia tertawa meski aku tahu sesekali terdengar nada getir dalam tawanya.

Seharusnya ia memang marah padaku. Seharusnya ia marah pada waktu yang terbuang percuma hanya karena kami saling diam. Bukan. Aku yang diam. Ia pernah bilang. Namun, aku tidak melihat matanya, sehingga aku tidak percaya. Maka kuabaikan pesan-pesannya, kulewatkan kabar-kabarnya begitu saja. Hingga hari ini ketika Jakarta mempertemukan kami kembali dan aku punya kesempatan untuk sekali lagi melihat matanya.

Dengarlah kawan di sana bercerita
Pelan dia berbisik, pelan dia berkata-kata
Dan hari ini takkan kau menangkan
Bila kau tak berani mempertaruhkan

"Aku minta maaf."
"Untuk?"
"Semuanya."
"Dimaafkan sejak lama."

Kami diam lagi.

"Apa ada yang berubah?" tanyaku. Dia tersenyum.
"Tentu saja," katanya. "Aku harus pulang. Terima kasih untuk waktu jalan-jalannya. Have a safe flight tomorrow."

Walau tak semua tanya
Datang beserta jawaban
Dan tak semua harapan terpenuhi
Ketika bicara juga sesulit diam
Utarakan, utarakan, utarakan


***

Fragmen yang ditulis sambil mendengarkan "Utarakan" milik Banda Neira. Sangat direkomendasikan untuk juga mendengarkan sambil membaca.