Menjadi Manusia yang Baik

by - April 04, 2017

Sekitar setahun lalu, aku mendapatkan kesempatan untuk menemani seorang Google Developer Expert selama 3 hari dalam sebuah acara di Jogja. Dan dalam 3 hari tersebut, kami banyak bicara satu sama lain. Selain dia adalah orang yang sangat pintar, ada banyak hal lain yang sangat menarik darinya secara personal, salah satunya karena pekerjaannya menuntutnya ke mana-mana, traveling. Dalam salah satu sesi pembicaraan kami, sore hari di bawah langit Jogja yang cantik sekali, dia mengatakan padaku kalau, setiap orang harus traveling, agar ia ketemu orang yang lainnya, yang berbeda, agar ia dan orang lainnya tersebut sama-sama belajar.

So, ketika setelah tiga hari tersebut aku menyadari orang yang kuguide itu benar-benar matang dan bagus perspektifnya, itu sangat wajar. Dia pasti telah bertemu banyak orang dengan beragam perspektif. Jadi, ketika ia bertemu dengan orang baru yang sempat membuatnya mengalami kejadian-kejadian absurd nan chaos dalam kedatangan pertamanya ke Jogja, ia menyikapinya dengan sangat bijak, dan dewasa.

Pertemuanku dengan orang itu, banyak mengubah perspektifku sendiri, terutama pada mereka yang memiliki kesempatan untuk lebih banyak jalan-jalan, alih-alih mengutuk tugas-tugas kuliahnya yang memaksanya untuk tidak tidur sebelum pukul 3 pagi. Tapi, aku percaya, semua orang memiliki masanya masing-masing.

"Manusia yang baik, tidak akan membuat bahan tertawaan atas manusia yang lainnya, dalam tujuan apapun, baik atau buruk."
Aku memahami konsep bullying sebagai sesuatu yang salah, terutama karena aku kuliah psikologi. Belakangan juga aku mengakui, aku adalah orang yang sulit sekali berempati. Tapi aku janji mencobanya. Setidaknya itu kukatakan beberapa waktu lalu pada salah satu temanku, ketika kami sedang menikmati sore yang cantik sekali di Kedai Wedangan Watu Lumbung.

"Ya, tapi sekarang kamu mendingan lah. Dulu tu kamu, ya Allah, wesss jyaaan!"
"Oh ya? Alhamdulillah. Padahal aku baru-baru ini aja merasa aku makin nggak punya empati."
"Lho justru karena sekarang kamu udah merasa, artinya kemajuan. Kalau dulu kan nggak ngerasain sama sekali."

Hmm benar juga. Setidaknya meskipun aku belum punya kesempatan untuk lebih banyak jalan-jalan dan menemui banyak perspektif di usiaku yang hampir 22 tahun, aku mulai sedikit-sedikit paham bagaimana rasanya menjadi orang lain, bagaimana berada di posisinya, dan bagaimana ia merasakan atas sikapku atau perlakuanku terhadapnya.

***

Manusia yang baik akan berusaha untuk bersikap baik sebisa ia bisa melakukan. Tentu saja ukuran baik dan buruk ini sangat tergantung pada perspektif dan persepsi masing-masing orang. Namun, aku yakin, kebaikan memiliki nilai universal. Paling tidak, jangan berbuat bodoh pada orang lain, membuatnya ditertawakan banyak orang dan menghadapi situasi-situasi yang sulit serta tidak menyenangkan karena perbuatanmu. Karena dalih atas nama kebaikan apapun, tidak akan pernah menjadi baik, jika tidak dilakukan dengan cara yang baik.

You May Also Like

0 comments