Memulai yang Baru

by - April 06, 2017


Lebih dari 100 post di blog ini kembali ke draft dan diarsipkan. Sebelumnya, aku menonaktifkan akun Instagramku dan mengunci timeline Twitterku. Bisa dikatakan ini modusku sembunyi yang paling parah kulakukan selama hampir 22 tahun aku hidup. Seingatku dulu aku mengunci akun Instagram karena ketahuan ada hater yang stalking sampe post di bawah-bawah. Lalu, Twitterku sering digembok sejak SMA demi menghindari pertikaian-pertikaian yang tidak penting juga dengan orang yang nggak suka dengan aku. Terakhir, pada 2014 lalu aku menutup blog lamaku karena dibully di B21.

Aku memutuskan untuk memagari lagi banyak bagian dari kehidupanku yang selama ini kubiarkan dilihat orang. Mungkin ada banyak peristiwa yang melatarbelakangi. Namun, jika boleh kugaris-bawahi, yang jelas adalah karena aku harus memulai satu pekerjaan baru yang menuntut untuk melakukan branding. Mungkin juga alasan lain adalah nantinya aku akan mengurus banyak hal melalui media sosial dan jika milikku tidak dirapikan, itu akan membuatku chaos karena banjir informasi yang tidak relevan.

***

Beberapa hari lalu aku dikontak Mas Delta, CEO sekaligus founder dari startup yang para foundernya berasal dari NTU, Singapore. Aku ditawari satu posisi sebagai Product Manager melalui pesan yang dikirim di LinkedIn. Namun, aku mengaku jujur bahwa meski aku pernah berstatus sebagai COO di startup yang kini sudah bubar, aku sama sekali nggak paham pekerjaan teknis. Akupun menjelaskan bahwa sebenarnya aku lebih prefer untuk mengisi posisi business development atau digital marketing secara khusus. Lalu, secara kebetulan mereka juga membutuhkan orang untuk mengisi posisi itu dan jadilah aku diminta untuk mengirim CV.

Nggak lama berselang aku menerima email dari COO startup tersebut dan mengundangku untuk online interview karena posisinya berada di Singapore. Jadilah aku melakukan interview pagi-pagi dengan muka giting karena bangun tidur dan nggak sepenuhnya siap melakukan interview. Meski demikian aku bilang padanya secara jujur bahwa aku bukanlah morning person, jadi aku minta maaf jika hasilnya tidak maksimal.

Lalu sehari setelahnya aku menerima offering letter. Negosiasiku berhasil. Another milestone in my life has just began. Alhamdulillah.

***

Dalam hidup ini aku percaya bahwa kita hidup ini seperti menjalani satu buah skenario TV series yang panjang dengan banyak sekali episode dan session. Dalam masing-masing session, ada bagian di mana kita sebagai lakon yang mengikuti alur cerita dihadapkan pada sebuah akhir. Kadang ceritanya seneng, kadang sedih. Tapi session ini sebenarnya bukanlah benar-benar akhir dari cerita TV series yang kita perankan. Akan ada session selanjutnya. Juga dengan banyak sekali episode.

***

Aku memulai yang baru dengan pertama-tama membentuk pagar yang memisah-misahkan urusan secara personal dan pekerjaan. Kedua, aku menghindari kechaosan dalam pikiranku karena aku mulai tidak stabil akhir-akhir ini. Aku berat mengakuinya, tetapi kuliah empat tahun psikologi ternyata belum cukup bisa membantuku mengatasi permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan mental.

Aku baru saja memulai keributan dengan orang asing yang mungkin mulai detik itu langsung akan melihatku sebagai sosok yang benar-benar lain. Sosok yang aneh barangkali. Tapi, ya sudahlah. Toh ya sudah terjadi dan aku sudah meminta maaf serta mengakui bahwa aku yang salah.

Di titik ini aku memutuskan untuk memulai yang baru. Tentu saja dalam setiap hal yang baru, yang dalam cerita ini mungkin adalah satu session dalam TV series yang kuperankan, akan selalu ada konflik-konflik yang melibatkan aku, orang-orang di sekitarku, dan semuanya. Tapi aku sadar ini bukan kali pertama terjadi. Jadi aku harus belajar untuk paling tidak, tidak mengulangi kesalahan yang sama.

You May Also Like

0 comments