Minggu-minggu Belakangan Ini

by - April 20, 2017


Hehe.

Jadi, hampir dua minggu aku bekerja dengan orang Singapore yang kalau bicara Bahasa Indonesia, "Saya bisa speaking in Bahasa, tapi tidak bagus." Jadi, mau tidak mau kini aku mulai merapikan grammar yang selama ini.. aduh nggak usah ditanya. Haha.

***

Selama beberapa minggu belakangan ini, ada banyak hal yang terjadi dalam hidupku.

Pertama, kebiasaan tidur selepas subuh entah kenapa muncul lagi dan aku mulai dihantui ketakutan pada hal-hal yang tidak bisa kupikirkan dan kujangkau.

Kedua, aku menunjukkan progress yang cukup baik dalam ranah akademik karena tugas-tugasku terurus dengan baik, aku mengerjakan skripsi sesuai timeline, dan berhasil membentuk relasi yang baik dengan anak-anak sekelompokku di kelas yang beda angkatan.

Ketiga, aku mulai menjalin komunikasi yang intens dengan beberapa teman lamaku dan itu membuat aku merasakan sedikit hal yang berbeda ---terutama terkait sense of friendship yang gini-gini aja selama ini. Aku juga memiliki rencana-rencana dengan Hardi dan Okta untuk ke Bandung atau ke Bali. Atau Tania yang mungkin harus dipaksa ke Jogja. Paling tidak sebenarnya aku ingin liburan dengan mereka mengenang masa-masa suwung kita naik motor sampai Temanggung, kedinginan menggigil di kaki Gunung Sumbing, dan hal-hal goblok-random lainnya. Oh ya, aku ingin ngopi dan bicara banyak dengan mereka.

Keempat, aku merasa tersanjung sekaligus takut pada hal-hal yang baru saya sadari belakangan. Aku merasakan semacam mourning, sebuah perasaan sedih yang muncul karena emosi yang ambivalent. Antara ingin membenci atau mencintai sekaligus. Antara ingin sekali berempati sekaligus berpikir logis. Ketika ingin jauh sekaligus dekat. Ketika ingin membangun jembatan menuju orang yang memilih meninggikan tembok. Ketika ingin mungkin dekat, namun tidak terlalu dekat.

Kelima, aku ingin balik ke masa SMA.

***

Beberapa hari lalu, Bakuh ke Jogja dan menyempatkan ngopi di Demangan denganku dan Kholiq, rekan kami yang anak minyak UPN. Bakuh baru aja selesai pelatihan militer-militer di Jakarta dan mendapatkan liburan seminggu sebelum kembali lagi ke habitatnya di perbatasan Indonesia-Malaysia sana. HAHAHAHA.

Somehow, aku kasihan sekaligus bangga dengannya. Kasihan karena mengingat cita-cita lamanya masuk AKMIL nggak terwujud. Namun, juga bangga karena meski nggak di AKMIL dia akhirnya mendapatkan apa yang dicari. HAHAHAHAHAHA.

Dalam obrolanku dengan Bakuh, aku bilang padanya, "Kuh mau SMA lagi, Kuh!"
Lalu dengan kalemnya dia jawab, "SMA enak sih, tapi kita nggak punya duit."
Kujawab, "Tapi segitu jaman SMA udah cukup, hidup bersahaja apa adanya. HAHAHA."

Padahal sih enggak juga. I mean, waktu SMA kami kerjaannya malakin orang tua dan nggak ngerti segimana perihnya orang kerja. So, kalau Bakuh bilang jaman SMA nggak punya duit, sebenarnya enggak juga. Lebih tepatnya, jaman SMA kami nggak ngerti bagaimana cara menghargai duit.

***

Bagaimanapun aku pengin balik ke masa SMA. Paling tidak ketika SMA, aku nggak capek-capek mikir perasaan orang lain. Aku biasa ribut dengan siapapun tanpa harus peduli apakah aku perlu minta maaf atau tidak. Waktu SMA, relasi dengan orang juga lebih sederhana. Mau jadi temanku, ikutin gayaku, terima temen-temenku, dan kalau nggak suka, syuh! jauh-jauh sana.

Sekarang semuanya berbeda.

***

Tania bilang overthinking ini terjadi salah satunya karena kita ingin dewasa. Basicly, aku nggak mau dewasa, tapi segala hal menuntutku untuk dewasa. Adik-adikku yang mulai tumbuh remaja mulai menjadikanku acuan dan perbandingan-perbandingan. Meski aku benci penilaian dan ekspektasi-ekspektasi keluargaku, paling tidak aku selalu ingin mengimprove diriku sendiri.

Aku tidak suka dinilai karena aku anak siapa atau dari keluarga mana atau apapun yang intinya aku bernilai karena orang lain. Aku mau aku bernilai atas diriku, atas pilihan-pilihanku sendiri, atas apa yang telah kutekuni, kukerjakan, dan semuanya.

Beberapa hari ini adik sepupuku menghubungiku dan dia bercerita panjang lebar ihwal masalahnya. Aku sampai di titik nggak suka jadi anak psikologi karena hal-hal seperti ini. Namun, karena secara umur aku paling tua di antara mereka, aku mencoba paham. Aku susah payah memahami perspektifnya, susah payah merasakan empati agar aku tahu bagaimana ada di posisinya. Meski akhirnya gagal.

***

Terakhir aku banyak bicara dengan temanku ihwal penerimaan diri sendiri. Self-acceptance. Pada beberapa kasus, aku merasa konsep self-acceptance ini banyak diabuse sembarangan oleh orang-orang bodoh yang tidak bisa membedakan self-acceptance dengan bentuk penyerahan.

Self-acceptance adalah bentuk penerimaan diri secara utuh, untuk akhirnya paham apa yang bisa diubah dan apa yang tidak bisa diubah. Jika mengenal ajaran Islam, mungkin konsep ini akan sedikit mirip dengan tawakkal, yakni konsep penyerahan diri pada apapun hasilnya setelah didahului dengan ikhtiar dan doa. Artinya, harus ada unsur usaha sebelum akhirnya memutuskan untuk, "Aku memang begini."

Dan bagiku, selama kita muda, kita harus berusaha apapun yang bisa kita usahakan. Semata-mata sebagai bentuk rasa syukur, bahwa kita masih dikaruniai tubuh yang sehat, mental yang tangguh, dan kehidupan yang luar biasa. Sampai sini, aku tidak setuju konsep 'menerima apa adanya' yang banyak digaungkan orang-orang.

Menerima tuh setelah usaha. Kalau nggak ada usaha, namanya pasrah. Orang pasrah harus terima nasib.

***

Beberapa teman mulai menuduhku pencitraan. Namun, ada juga yang katanya menerimaku apa adanya. Ya, paling tidak mereka tahu aku sedikit nggak waras di beberapa waktu. Aku punya gangguan-gangguan aneh yang sulit dipahami awam dan aku sangat keras kepala, jutek, galak, apapun yang tidak layak disandang oleh perempuan baik-baik pemenuh ekspektasi masyarakat.

***

Aku sudah enam bulan tidak pulang ke rumah yang semestinya. Aku memilih tinggal di kost menghindari interaksi-interaksi dengan orang-orang yang katanya masih memiliki pertalian darah denganku ---kecuali dia kemari atau menghubungiku.

Aku merasa aneh. Namun, juga takut. Terutama karena aku belakangan tidur selepas subuh dan aku sering gelisah pada hal-hal yang tidak ingin kupikirkan.

***

Terakhir, aku bertemu dengan orang-orang asing yang cukup aneh. Ada orang asing yang sangat menyebalkan. Ada pula orang asing yang sangat insightful. Beberapa dari mereka biasa saja. Beberapa lagi mengagumkan.

Namun, belakangan aku dibuat heran, semata-mata karena ada di antaranya yang merasa seolah-olah mengenalku dan tahu aku. Lalu, dia membuat penilaian-penilaian atasku yang tidak bisa kupahami. Ada hal-hal yang tidak konkret ---tidak sama antara apa yang dikatakan dan apa yang akhirnya dilakukan. Namun, orang memang begitu.

***

Aku merasakan waktu memainkan peranan penting dalam hidupku. Ada orang-orang yang dipertemukan dalam waktu yang sesuai, namun mereka hadir sebagai sosok yang tidak tepat. Ada pula orang-orang yang sesuai, namun bertemu dalam waktu yang tidak tepat.

Waktu dan figur ini mungkin semacam unsur wajib yang harus dipenuhi untuk menciptakan momentum. Namun, sebenarnya, jika momentum itu belum datang ketika kita hadir dan bertemu, kita bisa menunggu hingga waktu yang tepat. Sayangnya memang beberapa orang tidak memiliki keseimbangan yang baik antara Id, Ego, maupun Superego-nya, sehingga akhirnya mereka melakukan hal-hal bodoh yang tidak semestinya terjadi.

Namun, lagi-lagi kesempatan kedua selalu ada, jika ada waktu yang tepat. Paling tidak jika waktunya kurang tepat, kita bisa menjadi sosok yang tepat.

***

Aku mulai merasa pusing membaca tulisanku sendiri. Sekian.

You May Also Like

0 comments