Catatan-catatan Menuju yang Ke-22

by - April 29, 2017


Yang ke-22 hampir tiba dan seperti semesta memberikan 'kado' istimewanya, belakangan saya mengalami banyak sekali hal. Sesuatu yang bikin naik-turun dan meluap-luap. Satu-satunya yang saya syukuri adalah, Thanks God, I'm still alive.

"Cita-cita terbesarku sebagai mahasiswa psikologi bukan untuk bisa asesmen klinis pada klien dengan 1-2 pertemuan, atau mampu mengetes Binet/WAIS tanpa buku petunjuk, atau mencari pasangan dan berumah tangga berpedoman family system framework theory, atau bisa merawat anakku nanti dengan basic ilmu life-span development, atau bahkan berhasil menemukan jenis asesmen neurosains untuk sebuah gangguan mental yang disebabkan oleh kerusakan jaringan otak tertentu. Bukan. Bukan. Nggak se-ndakik-ndakik itu. Cita-cita terbesarku sebagai orang yang bertahun-tahun belajar psikologi adalah mengubah pola pikir orang. Dari yang conventional menjadi unconventional, dari yang pesimis menjadi optimis, dari yang kolot menjadi lebih moderat, dan perubahan-perubahan lain yang lebih baik, setidaknya menurutku, termasuk soal pola pikir mengenai pasangan, menikah, dan semacamnya. Dan barangkali aku juga nggak akan se-ndakik-ndakik itu menginginkan rombakan pola pikir ini terjadi pada semua orang. Paling tidak ini akan kunyatakan berhasil ketika aku bisa mengubah pola pikirku sendiri. Seharusnya."


Saya menulis catatan itu setahun lalu ketika saya baru saja berumur 21 tahun. Barangkali, hadiah terbesar saya ketika berusia 21 adalah saya diberi kesempatan untuk bertemu lebih banyak orang. Mulanya adalah bertemu Yohan yang entah kenapa sangat melekat sekali di ingatan saya. Lalu saya bertemu Bachtiar dan Ryan dan mungkin mas-mas barista yang menyajikan kopi untuk saya ketika sering berjam-jam di Crematology. Hehe.

Pada akhirnya saya harus bersyukur karena saya bertambah umur dan saya bertambah dewasa. Meski kemudian masalah-masalah dalam diri saya juga ikut bertambah, tapi kini saya memiliki kemampuan sedikit lebih baik untuk mengatasinya.

***

Hal aneh itu datang lagi untuk kesekian kalinya dalam hidup saya. Dari mulai susah tidur, overthinking, bermasalah dengan orang-orang di sekitar, semuanya. Saya kacau ketika di satu sisi saya memiliki tanggung jawab peran yang harus diselesaikan, namun di sisi lain saya memiliki masalah-masalah personal yang tidak semestinya dicampuradukkan.

Ya, saya sok-sokan. Sok kuat, sok tabah, sok profesional ---apapun. Padahal ya nggak gitu-gitu juga.

Somehow saya juga perempuan, mengalami life-quarter crisis, mengalami jatuh cinta, patah hati, dan segala kerecehan perempuan-perempuan sebaya. Saya juga tidak jarang bentrok dengan orang lain, bahkan orang tua saya sendiri. Saya bukan anak perempuan yang disekolahkan agar cuma pintar lalu bisa mengurus bisnis keluarga. Atau bahkan disekolahkan agar memenuhi ekspektasi society lalu dijodohkan dengan anak dari keluarga kaya raya. Wqwq. 

Saya disekolahkan untuk bisa hidup dengan diri saya sendiri. Saya tidak diberi fasilitas-fasilitas mewah dari orang tua, karena mereka maunya saya bisa kerja keras dan berharga atas diri sendiri ---bukan dari mereka atau orang-orang di sekitar saya. Kalau mau, ya usaha! Kalau nggak bisa usaha ya udah, terima aja, nggak usah ngeluh! So, kalau ada yang berpikir bahwa saya segila ini karena orang lain, no, kamu salah. Saya begini untuk diri sendiri.

***

"Ipen, aku kayaknya mulai gila deh," ujar saya membuka telpon. Pukul 12 malam. Lalu sebagai sarjana psikologi yang menghayati kode etik psikologi dengan baik, Ipen pun mendengar ceracauan saya yang panjang.

Ipen mungkin jadi satu-satunya teman saya di psikologi yang bisa saya percayai untuk menjadi 'psikolog'. Paling tidak, saya tahu Ipen tidak hanya bagus di teori dengan lulus cum laude. Tapi dia juga mendapatkan banyak pelajaran real dari apapun yang telah dialami dalam hidupnya selama ini.

Sebagai psikolog, Ipen memberikan saran-saran yang semuanya masuk akal menjawab permasalahan saya. Meski demikian dia akhirnya tetap bilang, "Kamu mungkin sudah cerita semuanya, tapi pasti ada yang masih kamu sembunyikan dan kamu tidak bisa jujur, bahkan ke diri sendiri. Nah, kamu harus berdamai dengan hal itu. Selesaikan yang itu dulu. Lalu masalah-masalah kecil di belakangnya akan mengikuti untuk diselesaikan. Karena sebenarnya selama ini ada yang kamu sembunyikan. Dan yang kecil-kecil ini sebenarnya cuma percikan-percikan yang bisa menyulut api yang lebih besar."

Ipen benar. Saya punya sesuatu yang bahkan ke diri sendiri, saya tidak mau jujur.

"Kalau saranku kamu juga harus menjauh sementara dari orang-orang yang nggak relevan untuk hal ini," katanya lagi. Maka, setelahnya saya menutup semua akses yang kira-kira orang berpeluang untuk mengganggu. Saya harus menjauh dari kerumunan. Saya cuma mau bicara dengan orang yang mau saya ajak bicara, paling tidak untuk dua atau tiga hari.

Saya pun menelpon satu per satu orang yang belakangan sering ngerusuh tapi sebenarnya nggak relevan untuk masalah saya saat ini. Saya bilang ke mereka bahwa mereka akan saya block kontaknya untuk sementara. Pada beberapa orang saya katakan bahwa saya hanya tidak mau bicara dengan mereka. Sementara, pada beberapa lagi saya bilang, saya merasa tidak enak dan bersalah, karena melibatkan mereka ke dalam hal-hal yang seharusnya mereka tidak terlibat. Lalu, saya menutup Instagram untuk sementara.

***

Di tengah tumpukan pekerjaan, saya masih berusaha berpikir untuk bagaimana saya berdamai dengan pikiran saya sendiri. Saya mencoba tidur lebih awal dan saya hanya bicara pada hal-hal yang perlu dan orang-orang yang padanya saya mau bicara. Selebihnya saya memilih diam. Nggak ke mana-mana, nggak ngapa-ngapain.

Lalu, setelah lebih tenang, saya memulai pembicaraan dengan orang-orang yang terlibat dengan masalah-masalah yang minor. Pertama, saya terbuka ihwal keresahan saya pada teman-teman riset skripsi. Kedua, saya bicara pada CEO saya terkait hal-hal yang meresahkan selama hampir sebulan ini di kantor. Ketiga, saya memperbaiki pola komunikasi dengan atasan saya yang selama ini bekerja remote dengan saya. Keempat, saya menyelesaikan semuanya satu per satu.

Seperti gumpalan benang kusut, semakin dipaksa akan semakin runyam. Saya memilih mengurainya satu per satu agar bisa diselesaikan. Kalau tidak semuanya, paling tidak satu-satu dulu.

***

Saya mulai terbiasa berdebat dengan atasan saya dan dari sana saya menemukan pola komunikasi yang paling cocok untuk kami. Somehow, dia akhirnya cuma butuh penjelasan. Mungkin sama seperti saya, dia berpikir semuanya juga harus clear. Terutama karena mungkin kami bekerja jarak jauh dan berkomunikasi tanpa melihat ekspresi satu sama lain.

Semalam setelah kesekian kalinya ditagih report, akhirnya saya menyelesaikan report yang diminta. Saya berencana menambah reportnya hari ini dan paling tidak saya senang karena dia menerima ide-ide saya dan memahami bahwa ini semuanya butuh proses. Pekerjaan saya di kantor sama rumitnya dengan problem saya personal. So, harus diurai satu-satu dan itu butuh waktu serta kesabaran.

"Yap understand the obstacles and I am pleased that you take these obstacles very well. Alhamdulillah. Keep up the good work Ervina. Appreciate your effort." ---Quip pagi ini.

Lalu, ketika pagi ini saya membuka Quip dan menemukan komentarnya yang akhirnya nggak nyacati kerjaan, saya bisa bernapas lega. Okay, satu masalah minor selesai.

***

Saya berencana membuka blokir orang-orang yang beberapa hari lalu saya blokir dan mungkin saya akan meneleponnya satu per satu. Ini weekend panjang sebelum saya akhirnya 22 tahun. Saya punya rencana-rencana untuk menyelesaikan target skripsi minggu ini, merapikan report seperti yang telah saya janjikan, ke toko buku, ke supermarket, meeting dengan freelancer, ketemu Geng Bobo, dan jangan lupa, ngopi.

Pada akhirnya di usia ini saya berpikir saya tidak memiliki keinginan yang jauh berbeda seperti ketika saya berusia 21 tahun kemarin. Saya ingin mengubah pola pikir dari yang tidak baik menjadi lebih baik, paling tidak dalam ukuran saya, dan ke diri saya sendiri. Sebab, pada akhirnya saya percaya bahwa segala sesuatu tidak akan benar-benar terjadi sebelum kita tuntas dengan diri sendiri.

Saya sudah berhenti untuk bermimpi mengubah dunia, menyelesaikan permasalahan di Indonesia, dan lain-lainnya yang nggak konkret sejak lama, tepatnya sejak saya berhenti jadi aktivis wkwk. Saya cuma mau mengubah diri saya sendiri dulu, karena saya masih sangat cupu dan saya harus belajar.

Dan, dengan masalah ini saya juga jadi belajar banyak, ternyata kuliah psikologi ada gunanya. Setidaknya sekarang untuk menyelesaikan problem seperti ini saya cuma butuh sekian hari berdiam diri. Nggak sampai berminggu-minggu atau berbulan-bulan. Sip. Terus belajar Ervina! Kamu harus jadi keren, kamu akan ketemu orang-orang yang juga keren.

Dan buat yang mau ke Harvard, take care, stay safe!😊 Thanks untuk semua ceritanya selama ini. Saya selalu bangga sama kamu, dari dulu. Tetap jadi orang baik. Kalau beruntung, kita akan bertemu orang baik atau ditemukan orang baik, right? Haha.


Duri yang menghunjam tentu kan meninggalkan luka
Tapi bukan berarti kau tak lah berdaya
Tak akan cukup waktu untuk memahami segalanya
Karena kita hanya manusia
Segala yang kau beri kelak kembali padamu
Dan segala usik pasti kan berlalu
(Sajak lagu milik Haikal Azizi Bin Idris)

You May Also Like

0 comments