Setelah Hampir Empat Tahun di Kampus

by - March 30, 2017


Setelah dua dari kami menjadi sarjana, setelah hampir empat tahun kuliah di psikologi, akhirnya agenda dolan bareng kami kejadian juga. Seingetku wacana mau main tuh dari habis PRK (semacam Ospek di fakultasku) selesai. Tapi, karena kesibukan masing-masing menjadi mahasiswa aktif (katanya! katanya!) rencana itu tinggal wacana.

Baru setelah kami selesai KKN, kami mulai lebih sering berinteraksi. Mungkin karena kami lebih selo. Atau mungkin karena salah satu teman kami udah jadi selebgram, khususnya bagian Instagram Story. Makanya kami sering berbalas komentar di Instagram untuk ngajak main. Tapi itu berbulan lalu. Waktu aku masih di Jakarta.

Setibaku di Jogja, rencana itu juga nggak jadi-jadi. Alasannya klasik, ada yang mau sidang.

***

Kami awalnya kenal di PRK. Saragosa nama kelompoknya. Harusnya ada sembilan orang kalau tidak salah. Selain aku, Trisna yang jadi ketua, Ipen, Hafid, ada juga Rista, Bunga, Mega, Fani, dan Vivi. Aku nggak ngerti kenapa akhirnya cuma empat nama pertama yang pergi main bareng. Aku taunya tiba-tiba ada chatgroup yang memasukkan kontakku dan semua orang menentukan tanggal. Jadi, karena kebetulan Selasa kemarin tanggal merah dan aku juga lagi nggak ngapa-ngapain, kami sepakat main.

Nggak ada yang spesial. Cuma makan-makan di Panties Pizza sambil iuran beli cheese cake dan tiup lilin nggak jelas. Ceritanya syukuran rapelan sekaligus doa bersama karena Ipen dan Trisna habis ulang tahun (bulan lalu) dan Hafid serta Ipen udah resmi jadi sarjana. Doa bersamanya buat aku dan Trisna yang semester ini baru mulai skripsi.

Sereceh-recehnya kami, aku sulit percaya akhirnya Trisna mengambil penelitian eksperimen dan aku sendiri ngambil penelitian kuantitatif dengan tiga variabel.

Aku sangat bersyukur mendapat dosen seorang profesor baik hati yang bener-bener ngebimbing skripsiku dari aku nggak paham apapun sampe... ya agak paham dikit lah. Seenggaknya aku udah dapet logicnya buat riset ini dan mulai nulis Bab 1 yang kurencanakan selesai minggu depan (aamiin). Sementara, Trisna baru saja revisi design eksperimennya dari awal dan di obrolan selo  sambil makan di Flamboyan hari sebelumnya, dia bertanya aku melakoni ibadah apa kok bisa dapet dosen kayak gitu.

Aku nggak tahu. Kayaknya aku tipikal yang ibadahnya standar-standar aja. Tapi mungkin doa ibu bener-bener berpengaruh dalam kehidupanku selama ini. Jadi, aku memasrahkan urusan perdoa-doaan kepada ibu. Aku cukup mensupportnya.

***

Sore itu juga kami ke Watu Lumbung dengan modal nekat. Karena kantongnya udah tipis, jadi di sana kami cuma beli sepiring tempe mendoan dan teh jahe. Meski begitu semesta kelihatan banget berpihak pada kami karena hari itu langitnya baguuuuuusss banget. Sunsetnya perfect! Dan kami masih sempat menikmati pemandangan laut pantai selatan dari atas bukit.

***

Akhirnya aku ngobrol banyak lagi sama mereka setelah hampir empat tahun. Dan meski nggak ada satupun dari PRK yang mengesankan, tapi aku bakal selalu inget bego-begonya kita dikerjain panitia. Pulang tengah malem dan ternyata kunci kost ketinggalan. Terpaksa jam setengah 1 balik sendirian ke Kalasan. Telat di hari pertama, benerin dasinya Trisna (yang bisa-bisanya nggak ngerti caranya pakai dasi!), dihukum, dan berakhir bubar sendiri-sendiri.

Selama empat tahun, ternyata di antara kami ada yang jadi aktivis di BEM, ada yang suka ikut proyekan, ada juga yang jadi selebgram. Hahahaha.

***

Aku bersyukur dari pertama kenal yang kita masih lekat dengan identitas anak SMA sampai sekarang beberapa jadi sarjana, nggak pernah punya relasi yang drama dengan mereka. Pada akhirnya aku menikmati pertemanan harusnya seperti ini; dijalani sewajarnya. Bisa main ya ayo main, enggak ya udah. Nggak harus maksain kita begini atau begitu, apalagi hingga berekspektasi tinggi-tinggi. Nggak didatengi sidangnya ya udah, dikasih kue pas nggak ulang tahun juga diterima-terima aja. Pokoknya sewajarnya.

Sebagai orang yang sudah sama-sama dewasa, seharusnya kita emang harus siap menerima semua kemungkinan. Termasuk jika harus dikecewakan, dibuat berkesan, oleh apapun yang nggak pernah kita duga sebelumnya.

You May Also Like

0 comments