Satu Tahun #EDSlife

by - March 10, 2017


Malam tadi secara random bersama Piyut dan Robin, kami nyanyi-nyanyi lagu-lagu The Panasdalam di teras EDS. Sebelumnya kami mengadakan meeting dengan salah satu rekanan untuk membahas project yang semoga aja akan segera kami eksekusi dalam waktu dekat ini... sambil mengerjakan skripsi tentu saja.

Secara random pula aku menulis post ini pukul 3 pagi sambil mengingat-ingat, sore harinya, dikejar deadline business proposal yang akan diserahkan ke klien, aku masih sempet-sempetnya berteori soal segitiga cinta kepada anak-anak iwak.me dan beberapa 'punggawa' startup EDS. Clara pun akhirnya mempatenkan kami, aku, dia, dan Rani sebagai trio sosial cangkeman di EDS, yang kebanyakan teori tapi minim di praktikal wkwk. Khas banget kan anak soshum. Iya, aku psikologi, mereka ilmu komunikasi. Kan cocok kan.

Aku jadi senyum-senyum sendiri pukul 3 pagi mendengarkan lagunya It's Amazing-nya Jem dan beberapa lagu milik musisi-musisi indie yang aslinya asik banget didengerin.

Oh ya, sembari kami menyanyi random lagu-lagu The Panasdalam, kami juga sempat berbincang soal psychedelic music dan membicarakan Tame Impala, bagaimana Bin Idris yang merupakan jelmaan dari Haikal Azizi bisa sedemikian bertransformasi jadi sosok yang beda ketika menggarap solo project ini, dan lain sebagainya. Oh ya, ayah Piyut ternyata adalah musisi yang gagal karena tidak mendapat restu orang tuanya dulu. So, nggak salah kalau dia juga sekarang jadi hipster yang meski jebolan Gontor ternyata juga penggemar The Panasdalam bahkan hafal lagu-lagunya.

***

Di tengah kerandoman itu aku tiba-tiba merasa bersyukur dikelilingi oleh orang-orang yang positif. Mereka yang nggak pernah galau abis putus atau nyetatus menye-menye karena patah hati. Meski aku nggak menampik beberapa tulisanku di blog ini sering dianggap receh dan galau, sebenarnya aku sudah sangat menguasai hati dan pikiranku untuk nggak berlarut-larut dalam kerecehan hal-hal semacam patah hati atau sebagainya.

Somehow, aku merasa bersyukur ikut IA. Kalau tidak salah aku masuk ke IA tepat setahun lalu, Maret 2016 dan selama setahun ini aku bener-bener merasa berproses.

Ngerti nggak sih dengan sesuatu yang dinamakan.. kalau jodoh nggak ke mana?

Nah, di sini aku bener-bener ngerasain itu. Aku melihat lagi foto Instagramku setahun lalu bersama tim pertama yang kukenal di Bootcamp. Ada Iman, Sita, Devi, dan satu anak Teknik Industri yang aku lupa namanya. Seingetku dari kami berlima, cuma si Anak Teknik Industri yang nggak lolos. Sisanya melaju ke tahap inkubasi dan semuanya punya tim dan sempat menggebu-gebu di sana.

Apesnya, nasibku yang nggak dateng di pitching day nggak dapet tim. Lalu dengan penuh muka tebal dan nggak tahu malu malah ngobrak-abrik tim orang wkwk sampai akhirnya 'dipungut' Piyut yang sebelumnya timnya udah kecer-kecer.

Selama setahun ini, ada banyak hal yang kualami. Dari pertama kenal startup itu apa, istilah-istilah asing sok tech savvy, ke acara-acara yang keren yang bagi anak soshum kayak aku tuh keren banget, ketemu orang-orang yang wow, sampai akhirnya ke Jakarta, dapat kesempatan belajar sama orang-orang di e-commerce, dan lain sebagainya. Kami juga akhirnya dipertemukan dengan Robin yang nggak nyangka banget jadi 'pelengkap' dari kekurangan-kekurangan kami selama ini di bidang finance.

***

Inget soal empat orang dari timku di bootcamp yang masuk inkubasi? Nah, sampai hari ini ketika aku masih sering ke EDS, aku nggak pernah ketemu mereka sama sekali.

Pada akhirnya dari seangkatan kami IA batch 3 cuma segelintir banget orang yang bener-bener masih 'nampak' di EDS dan di titik inilah yang kubilang 'jodoh'.

Dan enggak tahu kenapa aku merasa aku beruntung mendapatkan 'jodoh' orang-orang yang selalu ngasih semangat positif untuk tetap progresif. Orang-orang yang life goals-nya nggak cuma selesai skripsi biar cepet dilamar, orang-orang yang nggak gampang galau dan ngereceh di social media soal kegalauannya mengapa still single di usia 20an, orang-orang yang hidup dengan passionnya, orang-orang yang mau bekerja keras atas nama rasa syukur udah dikasih Tuhan kenikmatan di usia muda dengan mental dan fisik yang masih tangguh, orang-orang yang awalnya ngegosipin menantunya Amien Rais aja berakhir di forum semi-akademik membedah teori segitiga cinta-nya Stenberg, dan semua hal-hal random yang kami lalui sehari-hari di tengah kemelut skripsi dan dosen-dosen yang wow-hehehehe di kampus.

Dan... thank you so much God. Akhirnya aku merasa jalan ini nggak salah dan aku makin percaya Tuhan memang maha asoy!

You May Also Like

0 comments