Passion(?)

by - March 20, 2017


Barangkali aku termasuk salah satu jenis orang yang menghabiskan banyak sekali waktu dalam hidupnya untuk sesuatu yang 'absurd' bernama passion. Kata passion sendiri mungkin baru kukenal dewasa ini. Dulu aku tahunya aku mencari sesuatu yang aku suka aja ngelakuinnya.

Kalau aku mengingat-ingat, pencarian akan sesuatu yang absurd bernama passion ini menggelikan sekali. Bertahun-tahun lalu ketika aku masih duduk di bangku SMP, aku hampir kehilangan masa remaja yang berhargaku untuk mengejar hal absurd bernama 'olimpiade matematika'. Mengikuti bimbingan pulang sekolah, les di lebih dari satu tempat, bahkan hampir seluruh libur semesternya dihabiskan di salah satu rumah guru matematika untuk hal yang kuanggap sakral dan berharga bernama 'les matematika'. Demi cita-cita mulia pengin dapet medali di olimpiade. Sungguh absurd.

Lalu setelah dua tahun bertingkah sinting kayak gitu, aku mulai menyadari kalau apa yang aku lakukan ini menyebalkan, berarti ini bukan passion. Akupun banting setir punya cita-cita ingin jadi sastrawan. Hampir tiap hari mengarang-ngarang cerita konyol, menulis puisi-puisi, dan kebanyakan hidup dalam imajinasi agar totalitas jadi seniman kata-katanya. Bahkan seingetku sebelum aku punya laptop sendiri, aku sering menulis cerita-cerita itu di atas kertas dan membundelnya. Semuanya kulakukan dengan senang hati dan bahagia demi cita-cita mulia ingin jadi penulis dan punya buku suatu hari nanti.

Beranjak SMA, hidupku jauh lebih absurd. Antara terjebak idealisme pengin jadi penulis, tuntutan label 'anak olim' yang memaksa belajar matematika meski merasa udah bego banget, sampai berada di tengah teman-teman yang bahkan nggak ngerti bedanya penggunaan kata "di" yang dipisah dan digabung. Aku merasa mulai kehilangan sesuatu bernama passion, sehingga aku susah payah mencarinya dari awal.

Dari mulai ikut lomba debat hukum dan politik, ikut organisasi sosial dan kepemudaan sampai mengidolakan Iman Usman, ikut jadi anggota tim Karya Ilmiah Remaja, penulis majalah sekolah salah gaul, sampai gabung di komunitas kayak Forum Lingkar Pena. Sumpah demi apapun aku pernah ikut campnya FLP dan aku jadi satu-satunya cewek yang pakai celana selama tiga hari di sana.

Rasanya absurd banget, dan di usiaku yang hampir 22 tahun sekarang aku suka ketawa-ketawa membayangkan kegoblokanku semasa SMA. Tapi yah gimana? Menurutku itu bagian dari mencari passion. Dan hal itu nggak berhenti juga sampai aku lulus SMA.

Oh ya, aku bahkan mempertaruhkan statusku sebagai anak IPA yang SNMPTN-nya didaftarin ke jurusan soshum semua demi mengejar passion. Demi keyakinan bahwa aku tuh nggak bisa jadi anak eksakta, aku harus masuk jurusan sosial. Passionku tuh kuliah di jurusan soshum.

Sampai tiga bulan setelah kuliah, lagi-lagi aku ngerasa ini tuh salah, passion tuh nggak kayak gini. Lalu sekali lagi aku mengorbankan banyak sekali waktuku untuk sesuatu bernama passion. Lagi. Ikut di pers mahasiswa yang kerjanya lebih dari seorang buruh. Menghabiskan waktu berharganya yang seharusnya bisa dipakai belajar dan mengejar IPK dengan acara liputan, nonton orang demo, ngikutin sidang sengketa lahan, nungguin pejabat rektorat yang bangke itu buat diwawancara, dan hal-hal lain yang kadang sekarang aku ngerasa itu tuh nggak jelas. Tapi itu passion. Dan waktu itu seingetku aku merasa passionate banget di sana.

Sampai tiba waktunya aku bosan.

Lari-larian ke sana-sini lagi. Aku bahkan ikut komunitas Hipwee, sebuah media yang paling dinyinyirin anak-anak di persma tempatku dulu mengejar passion, media paling dijancuk-jancukke karena kontennya yang woh-subhanallah. Aku nggak ngerti juga apa yang ngebuat aku bisa sampai sana. Tapi seingetku alasan terbesar adalah aku pengin belajar dan kenal dengan orang-orangnya yang bisa bikin media baru bisa begitu viral dalam waktu singkat. Meski kemudian aku tahu viralitas itu memang didukung oleh traffic jadi-jadian. Dan aku juga jadi tahu kalau ada kekuatan besar di balik semua itu: digital marketing.

Aku lalu terdampar di Innovative Academy ---hingga saat ini. Belajar sesuatu yang paling nge-hype di kalangan millennial sepertiku: startup. Yang paling bodoh lagi-lagi aku mengorbankan waktu berhargaku untuk belajar dan mengejar IPK dengan lebih memilih ikut workshop-workshop ataupun conference yang bahkan sangat menguras kantong dan tenaga. Wkwk.

Terakhir aku mengorbankan satu semester berhargaku di kampus untuk merasakan internship sebagai digital marketing di salah satu perusahaan partner Google di Jakarta. Jujur aku kehilangan banyak hal, mengorbankan banyak hal. Yang paling terasa adalah di semester delapan ini aku kuliah dengan adik tingkat, kerja kelompok dengan mereka, siap-siap UTS sekaligus ngejar target skripsi, dan nggak ikut foto bersama di buku angkatan. Wkwkwk.

Aku menghabiskan banyak sekali waktuku untuk mengejar sesuatu yang bernama passion. Dan orang-orang sejenisku ini, sepertinya kurang kerjaan, dan mungkin agak sinting dikit. Beberapa orang juga mungkin akan menilaiku nggak rasional, kutu loncat, nggak jelas, anak kagetan, dan semacamnya. Terserah.

***

Jadi, apakah kalian pikir aku menyesal?

Enggak.

Sama sekali.

Aku senang selama ini telah menghabiskan banyak waktuku untuk mencari sesuatu yang bernama passion. Meski aku pernah dan sering tersesat di banyak tempat. Meski aku sering zonk dan merasa bego dengan keputusan-keputusan yang kubuat sendiri. Meski mungkin aku melewatkan banyak hal yang normalnya teman-temanku dapatkan.

Kau tahu? Aku bahkan sampai nggak punya teman akrab di kampus saking aku punya banyak identitas dengan berbagai kelompok orang yang berbeda. Aku nggak punya geng cantik yang bisa kuajak nongkrong atau sekadar ngasih surprise kalau aku ulang tahun. Aku terbiasa ngopi seorang diri. Aku terbiasa ngomongin sesuatu yang membuatku dinilai aneh dan aku juga terbiasa bertingkah menyebalkan dan nggak kooperatif.

Paling tidak kalaupun aku menyesal, aku menyesal setelah aku tahu dan merasakan. Aku tahu rasanya menjadi orang paling baik sekaligus paling jahat. Aku tahu rasanya jadi paling bego di antara orang-orang intelektuil, yang baca Das Kapital dari jaman mereka remaja. Aku tahu rasanya salah gaul sama anak-anak di sekre Gamaband. Aku tahu rasanya sekali meeting di cafe paling hits di Jogja dengan budget minimal 50 ribu. Aku tahu rasanya tinggal 3 hari sama ukhti. Aku tahu gimana diajak diskusi konflik agraria, berbusa-busa mengutuk kapitalis. Aku tahu zonknya itu kayak gimana.

Dan aku senang karena aku kehilangan banyak waktuku untuk mencoba banyak hal, merasa keliru dengan banyak jalan, di usia yang belum ada 22 tahun.

***

Sore tadi aku berbicara dengan temanku yang dibuat galau sebab ketika interview kerja, calon CEO-nya menanyakan apa passion dia dan dia kebingungan. Aku tidak mau menjudge sebab aku tidak tahu jalan hidup temanku tadi dan apa saja yang sudah dia lalui selama ini.

Tapi dari ceritanya setidaknya aku belajar bersyukur, karena mungkin kalau suatu hari aku ditanya apa passionku, aku bisa jawab. Passionku adalah passion itu sendiri. Aku bergairah pada segala hal yang kukerjakan dan aku berani melakukan apapun untuk apa yang aku lakukan saat ini. Aku mau totalitas. Aku mau belajar dari titik terbegoku sampai aku bisa dan jago.

Tapi kalau kamu memintaku untuk kembali punya passion sebagai anak matematika, sebagai sastrawan, wartawan, atau bahkan calon psikolog, aku nggak mau. Aku udah pernah nyoba itu dan hasilnya nihil. Tapi jangan khawatir. Setidaknya dari sana aku sudah belajar menyusun satu per satu 'puzzle' yang kini mulai kukonkretkan menjadi hal-hal yang biasa dilakukan orang dewasa pada umumnya; memiliki keahlian profesional, bekerja, menghasilkan karya, memiliki kemampuan finansial, memiliki value dalam dirinya sendiri, mandiri, dan berharga.

Dan itu adalah alasan kenapa aku nggak pernah menyesal untuk sekian waktu yang terbuang demi hal bernama passion. Aku yakin aku nggak bingung. Aku tahu ke mana harus melangkah. Aku tahu kapan waktunya diam, berlari, atau jalan santai, dan itu karena sesuatu yang bernama passion.

***

So, aku selalu meyakini orang harus punya passion. Sebanyak apapun passion yang pernah dimiliki dalam hidupnya. Apapun passionnya. Nggak harus untuk mencapai prestasi atau karier tertentu. Paling tidak untuk arah dia berjalan. Sebab tanpa 'passion' orang nggak akan melangkah. Dia nggak akan ngerti harus apa dan gimana karena nggak punya sesuatu yang harus dan bener-bener pengin dilakukan.




Photo Source

You May Also Like

0 comments