Kabar Menikah

by - March 01, 2017


Temanku akan menikah. Dalam waktu dekat.

Kabar seperti ini sebenarnya bukan baru pertama atau kedua kalinya kudengar. Sudah sering. Seingatku sudah sejak SMA aku sering dapet undangan ke kawinan atas namaku sendiri. Ya meski sebagian besar aku nggak dateng hehe.

Bukan apa-apa. Masalahnya hidupku terlalu nomaden. Aku sampai lupa di mana aja rumah teman-teman masa kecilku, seperti apa mukanya, dan lain sebagainya. Beda kayak yang dari kecil sampe gede tinggal di satu tempat, bisa jadi temen SDnya itu ya temen SMP, SMA, bahkan sampai kuliah. Nah aku nggak gitu. Dari SD, SMP, SMA, sampai kuliah, aku selalu di daerah yang beda.

Jadi, sorry kalau misalnya kamu ngundang aku ke nikahanmu terus aku nggak dateng. Bisa jadi karena aku memang lupa kamu siapa, atau aku nggak inget rumahmu di mana, atau aku nggak bisa karena ada urusan-urusan lain yang harus diselesaikan. Tapi insyaallah aku selalu ngedoain yang terbaik untuk siapa saja yang menikah.

***

Sebagai perempuan yang hampir 22 tahun, sampai sekarang aku selalu bertanya-tanya, apa yang membuat perempuan mau menikah.

Apakah perempuan mau menikah karena dipinang?
Apakah perempuan mau menikah karena bertemu dengan orang yang dipercaya sebagai suaminya?
Apakah perempuan mau menikah karena itu life goalnya dia?
Atau apa?

Aku nggak ngerti sih, karena sampai sekarang aku belum ketemu jawabannya. Mungkin karena aku masih merasa masa remajaku nggak cukup. Wkwk. Atau mungkin karena aku belum melihat keputusan menikah membawa kebahagiaan bagi orang yang memutuskannya.

Percayalah sampai sekarang aku belum pernah mendapatkan gambaran orang bahagia dari keputusannya untuk menikah, bahkan di keluargaku sendiri. Oh enggak. Keluarga kami menyenangkan. Hanya saja aku selalu berusaha memahami pikiran ibu, jika mungkin dia bisa kembali ke masa-masa dua puluhan tahun lalu, mungkin dia tidak akan mengambil keputusan menikah terlalu cepat, meninggalkan pekerjaannya di Jakarta, dan bersedia diboyong ke rumah untuk sepenuhnya menjadi istri dan ibu.

Kurasa ibu tidak menyesal melahirkan aku dan adik atau menyesal telah menikah dengan bapak. Tapi mungkin ibu menyesal karena mengambil keputusan itu terlalu cepat. Kurasa begitu.

***

Ibu memiliki beberapa adik perempuan dan percayalah pikiran mereka masih sangat konservatif. Di keluargaku bisa dibilang menikah muda memang menjadi semacam tradisi. Ibu kalau nggak salah nikah di umur 23 (usiaku setahun lagi!) dan begitupun adik-adik perempuannya. Rata-rata umur segitu. Makanya waktu aku bilang aku belum punya pikiran menikah sekarang, tante lumayan panik. Ibu sih sepertinya panik, tapi nggak panik-panik banget. Mungkin seperti yang kubilang sebelumnya, dia tidak ingin aku mengambil keputusan terlalu cepat lalu menyesal 20 tahun kemudian.

Tapi tante tidak. Tante panik. Percaya deh waktu suatu hari dia menemukan seikat bunga layu di rak sepatuku dia langsung nanya, "Itu bunga dari siapaaaa?!" Tante mungkin berpikir aku tipe perempuan yang di hari-hari tertentu seneng dikasih bunga. Tapi dia sepertinya kecewa karena aku bilang itu bunganya temenku yang tempo hari mau KKN, lalu dibawain bunga untuk properti foto-foto. Hm kalau kalian penasaran bisa lihat Instagramku setahunan lalu soal pelepasan KKN yang dikasih bunga. Hehe.

Suatu hari mulutku yang rusak pernah bicara ngawur sama tante, "Kenapa sih harus buru-buru mengambil keputusan untuk sesuatu yang akhirnya disesali nantinya?"

Lalu tante menceramahiku panjang lebar tentang takdir, jodoh, kodrat perempuan, dan lain sebagainya. Sesuatu yang sampai sekarang membuatku nggak habis pikir. Tapi demi menyudahi obrolan kami, aku mengiyakan semuanya.

***

Temanku akan menikah dan kebetulan aku tahu keduanya. Menurutku mereka cocok. Setidaknya menurut pengamatanku sebagai penonton. Satunya akademisi, satunya jiwanya akademisi meski belum jadi akademisi.

Cerita temanku lainnya yang menikah beda lagi. Mereka sama-sama disatukan dalam nama 'hijrah' jadi kupikir mereka cocok. Seenggaknya mereka bisa kompakan ngajak orang-orang lain hijrah juga melalui akun social medianya.

Lantas aku mencoba berpikir sembari mencocok-cocokkan ucapan tanteku dengan kejadian-kejadian yang kuketahui.

Oh, mungkin benar orang menikah memang ketika sudah bertemu jodohnya.
Oh, mungkin benar yang dimaksud jodoh itu orang yang 'sama'.
Oh, mungkin benar kalau keputusan yang diambil dengan sangat sadar itu sebenarnya adalah bagian dari takdir.
Mungkin.

Ya, aku nggak ngerti sih. Gimana bisa ngerti dengan keputusan orang mau menikah, kalau di sekitarku cowoknya masih nggak paham apa bedanya seks dan gender? Yang mana kodrat dan yang mana cuma konstruksi sosial? Yang kalo misuhi sesama temen cowoknya bilang, "Ah kayak cewek lo!"

Hah?
Kayak cewek tuh maksudnya gimanaaa? Bisa mens juga gitu? Apa bisa hamil juga?
Kan, bingung, kan?

Tapi semoga saja nanti pada saatnya aku udah mulai ngerti aku juga akan ketemu dengan orang yang sama. Paling enggak dia masih mau diajak makan di pinggir jalan sambil main Story di Instagram, nyobain jajanan di tempat-tempat yang katanya ngehits, mengutuk kapitalisme sambil nikmatin promo Starbucks buy one get one free, ngedebatin teori postmodern, datang ke pameran seni, nonton konser band indie sambil nyanyi-nyanyi atau ke pentas teater sesekali. Hehehehe.

Ya kenapa, sih?
Nggak ada salahnya, kan?

***

So, akhirnya seperti sebelum-sebelumnya, aku kali ini juga mendoakan temanku yang menikah untuk tetap bahagia dengan keputusannya. Semoga mendapatkan apa yang terbaik karena aku tahu banget keputusan ini harganya mahal jadi harus dibayar dengan sesuatu yang benar-benar worth it.

Dan buat orang-orang yang sampai sekarang masih bertanya-tanya mengapa perempuan mau menikah, emm selamat terus bertanya-tanya yah. Jangan lupa tetap ambis dan ngejar apapun yang memang kamu penginin selama kamu bahagia denga pilihan itu.

Dan semoga juga kamu nggak langsung menganggap menikah adalah keputusan yang paling tepat di tengah skripsi yang tidak kunjung selesai. Eh, kalo ini self reminder sih. Ahahahahaha.

You May Also Like

0 comments